3.Kategori 3 Prosedur analisis untuk penetapan karakteristik kinerja sediaan Obat (misalnya disolusi, pelepasan Obat). Sebagai contoh: - penetapan zat terlarut hasil uji disolusi kapsul tramadol hidroklorida menggunakan metode Spektrofotometri Ultraviolet di Suplemen I FI edisi VI - penetapan zat terlarut hasil uji disolusi tablet zolpidem menggunakan metode KCKT di Suplemen I FI edisi VI
4.Kategori 4 Prosedur analisis untuk memastikan identitas suatu analit dalam sampel (uji identifikasi). Pengujian dilakukan dengan membandingkan suatu sifat dari sampel dengan baku pembanding yang sesuai (misalnya, spektrum, profil kromatogram, reaksi kimia, dan lain-lain). Untuk pengujian identifikasi pada monografi yang mempersyaratkan uji cemaran baik kuantitatif/batas, maka pengujian cemaran termasuk ke dalam Kategori 2, sedangkan identifikasi analit termasuk ke dalam Kategori 4. Sebagai contoh: - uji identifikasi misoprostol menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) - uji identifikasi tablet misoprostol menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) di Suplemen I FI edisi VI Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan verifikasi Metode Analisis, yaitu:
1.Verifikasi Metode Analisis harus dilakukan oleh personel yang terkualifikasi. Personel dipastikan memiliki pengalaman dan pengetahuan, serta telah mengikuti pelatihan secara memadai.
2.Verifikasi seharusnya menilai Metode Analisis baku sesuai untuk Bahan Obat dan/atau sediaan Obat, dengan mempertimbangkan jalur sintesis Bahan Obat dan/atau metode pembuatan sediaan Obat.
3.Verifikasi seharusnya mencakup penilaian unsur-unsur seperti efek matriks terhadap perolehan kembali cemaran dan Bahan Obat dari matriks sediaan Obat, serta kesesuaian kondisi dan kolom kromatografi, kesesuaian respons sinyal detektor, dan lain-lain. Sebagai contoh, penilaian spesifisitas adalah parameter utama dalam memverifikasi bahwa prosedur farmakope sesuai untuk digunakan dalam menguji Bahan Obat dan sediaan Obat. Misalnya, keberterimaan spesifisitas untuk metode kromatografi dapat diverifikasi melalui pemenuhan terhadap persyaratan resolusi dalam kesesuaian sistem (jika tercantum dalam prosedur).
4.Bahan Obat dari produsen yang berbeda dapat memiliki profil cemaran yang berbeda yang tidak termasuk dalam ruang lingkup prosedur uji farmakope. Demikian juga dengan bahan tambahan Obat pada sediaan Obat dapat bervariasi dari berbagai produsen dan dapat berpotensi mengganggu prosedur analisis atau menyebabkan pembentukan cemaran yang tidak tercakup dalam prosedur uji farmakope (validasi Metode Analisis).
5.Sediaan Obat mengandung berbagai bahan tambahan Obat, seperti antioksidan, dapar, atau komponen dari wadah yang dapat mempengaruhi perolehan kembali Bahan Obat dari matriks sediaan. Dalam hal ini, penilaian lebih menyeluruh terhadap efek matriks dapat diperlukan untuk menunjukkan kesesuaian prosedur untuk Bahan Obat atau sediaan Obat tertentu.
6.Karakteristik kinerja analitik lain seperti penilaian batas deteksi atau batas kuantitasi dan presisi untuk pengujian cemaran dapat berguna dalam menunjukkan kesesuaian prosedur farmakope pada kondisi penggunaan aktual.
7.Selama melakukan verifikasi Metode Analisis, personel bertanggung jawab untuk menunjukkan data stabilitas larutan (larutan baku, larutan uji, larutan kesesuaian sistem, dan lain-lain) yang disesuaikan dengan studi yang dilakukan dan kondisi penyimpanan khususnya untuk larutan yang berpotensi tidak stabil selama waktu yang dibutuhkan untuk pengujian. Informasi untuk menunjukkan bahwa prosedur analisis farmakope sesuai digunakan untuk sediaan Obat atau Bahan Obat harus tercantum dalam protokol verifikasi Metode Analisis. Protokol verifikasi Metode Analisis mencakup, tetapi tidak terbatas pada:
1.metode farmakope yang akan diverifikasi dengan kriteria keberterimaannya; dan
2.rincian metode (kesesuaian reagen, peralatan, komponen/suku cadang, kondisi kromatografi, kolom, jenis detektor, sensitivitas respons sinyal detektor, kesesuaian sistem, penyiapan sampel, stabilitas, dan lain-lain). Verifikasi Metode Analisis tidak dipersyaratkan untuk prosedur uji farmakope dasar yang dilakukan rutin jika alat sudah terkalibrasi dan personel sudah terlatih. Verifikasi dapat diperlukan pada pengujian bahan untuk pertama kali dengan penanganan sampel atau penyiapan larutan yang berbeda dan indikasi bahwa prosedur farmakope tersebut tidak sesuai dengan bahan yang diuji. Beberapa contoh prosedur uji farmakope dasar, tetapi tidak terbatas pada, yaitu susut pengeringan, sisa pemijaran, beberapa prosedur uji reaksi kimia seperti bilangan asam, dan metode pengukuran dengan instrumen sederhana seperti pH. B. Parameter Uji Verifikasi Metode Analisis Tabel di bawah ini memuat parameter uji verifikasi Metode Analisis yang minimum harus dilakukan untuk setiap kategori Metode Analisis yang tercantum dalam Bab II, parameter lain dapat ditambahkan tergantung dari karakteristik pengujian. Tabel 1. Parameter Uji pada Verifikasi Metode Analisis untuk Kategori 1 No. Karakteristik Kinerja Analitik Syarat Verifikasi Pelaksanaan Verifikasi Keterangan
1.Spesifisitas Ya Pelaksanaan spesifisitas mengacu pada Bab IV. Perbedaan matriks sampel dan instrumentasi dapat mempengaruhi spesifisitas. Tidak - Untuk penetapan kadar Bahan Obat berupa bahan murni tanpa ada gangguan matriks dan metode didasarkan pada prinsip dasar (reaksi kimia, seperti reaksi Ag dan Cl yang menghasilkan endapan), yang dijelaskan dalam kajian.
2.Akurasi Ya Untuk penetapan kadar Bahan Obat atau sediaan Obat, lakukan analisis larutan akurasi* pada minimum 1 (satu) konsentrasi. Untuk penetapan kadar pengawet dengan rentang konsentrasi yang lebar, lakukan analisis larutan akurasi* pada konsentrasi rendah, sedang, tinggi. - Untuk penetapan kadar Bahan Obat berupa bahan campuran dan sediaan Obat, matriks dapat mempengaruhi analisis. - Konsentrasi yang lebar adalah variasi konsentrasi pengawet lebih dari 10 kali. Pada rentang konsentrasi yang lebar, akurasi dan No. Karakteristik Kinerja Analitik Syarat Verifikasi Pelaksanaan Verifikasi Keterangan presisi dapat bervariasi sehingga diperlukan verifikasi pada tingkat konsentrasi yang berbeda. Tidak - Untuk penetapan kadar Bahan Obat berupa bahan murni tanpa ada gangguan matriks yang umumnya melibatkan penyiapan larutan uji yang sederhana (penimbangan, pelarutan, dan/atau pengenceran), yang dijelaskan dalam kajian.
3.Presisi Ya Untuk penetapan kadar Bahan Obat atau sediaan Obat, lakukan uji ripitabilitas pada minimum 1 (satu) konsentrasi larutan uji. Untuk penetapan kadar pengawet dengan rentang konsentrasi yang lebar, uji ripitabilitas dilakukan pada larutan uji dengan konsentrasi rendah, sedang, dan tinggi. - Konsentrasi yang lebar adalah variasi konsentrasi pengawet lebih dari 10 kali. - Pada rentang konsentrasi yang lebar, akurasi dan presisi dapat bervariasi sehingga diperlukan verifikasi pada tingkat konsentrasi yang berbeda. - Jika dilakukan presisi antara (antar analis), agar dipastikan analis telah terlatih dan mampu melakukan pengujian dengan tepat. * Larutan akurasi: larutan baku yang ditambahkan ke dalam larutan uji (larutan spiked) atau larutan baku yang ditambahkan ke dalam plasebo (larutan baku pembanding) atau larutan yang berisi bahan rujukan bersertifikat. Tabel 2. Parameter Uji pada Verifikasi Metode Analisis untuk Kategori 2a No. Karakteristik Kinerja Analitik Syarat Verifikasi Pelaksanaan Verifikasi Keterangan
1.Spesifisitas Ya Pelaksanaan spesifisitas mengacu pada Bab IV. Perbedaan matriks sampel dan instrumentasi dapat mempengaruhi spesifisitas.
2.Akurasi Ya Lakukan analisis larutan akurasi* pada konsentrasi rendah, sedang, dan tinggi. Untuk uji kuantitatif cemaran pada sediaan Obat. Pada rentang konsentrasi yang lebar, akurasi dan presisi dapat bervariasi sehingga diperlukan verifikasi pada tingkat konsentrasi yang berbeda. No. Karakteristik Kinerja Analitik Syarat Verifikasi Pelaksanaan Verifikasi Keterangan Tidak - Untuk uji kuantitatif cemaran pada Bahan Obat tanpa ada gangguan matriks, yang dijelaskan dalam kajian.
3.Presisi Ya Lakukan uji ripitabilitas pada minimum 1 (satu) konsentrasi larutan uji. Jika dilakukan presisi antara (antar analis), agar dipastikan analis telah terlatih dan mampu melakukan pengujian dengan tepat.
4.Sensitivitas Ya Lakukan penetapan batas kuantitasi pada larutan uji pada konsentrasi yang dilaporkan sebagai nilai/konsentrasi batas kuantitasi. Untuk uji kuantitatif, sensitivitas metode ditunjukkan dari batas kuantitasi. Batas kuantitasi bersifat sangat spesifik untuk matriks dan instrumen tertentu. * Larutan akurasi: larutan baku yang ditambahkan ke dalam larutan uji (larutan spiked) atau larutan baku yang ditambahkan ke dalam plasebo (larutan baku pembanding) atau larutan yang berisi bahan rujukan bersertifikat. Tabel 3. Parameter Uji pada Verifikasi Metode Analisis untuk Kategori 2b No. Karakteristik Kinerja Analitik Syarat Verifikasi Pelaksanaan Verifikasi Keterangan
1.Spesifisitas Ya Pelaksanaan spesifisitas mengacu pada BAB IV. Perbedaan matriks sampel dan instrumentasi dapat mempengaruhi spesifisitas. Tidak - Untuk uji batas cemaran pada Bahan Obat berupa bahan murni tanpa ada gangguan matriks dan metode didasarkan pada prinsip dasar (reaksi kimia, seperti reaksi Ag dan Cl yang menghasilkan endapan), yang dijelaskan dalam kajian
2.Sensitivitas Ya Lakukan penetapan batas deteksi pada larutan uji pada konsentrasi yang dilaporkan sebagai nilai/konsentrasi batas deteksi. Untuk uji batas, sensitivitas metode ditunjukkan dari batas deteksi. Batas deteksi bersifat sangat spesifik untuk matriks dan instrumen tertentu. Tabel 4. Parameter Uji pada Verifikasi Metode Analisis untuk Kategori 3 No. Karakteristik Kinerja Analitik Syarat Verifikasi Pelaksanaan Verifikasi Keterangan
1.Spesifisitas Ya Pelaksanaan spesifisitas mengacu pada Bab IV. Perbedaan matriks sampel dan instrumentasi dapat mempengaruhi spesifisitas. No. Karakteristik Kinerja Analitik Syarat Verifikasi Pelaksanaan Verifikasi Keterangan
2.Akurasi Ya Lakukan analisis larutan akurasi* pada minimum 1 (satu) konsentrasi. Untuk penetapan zat terlarut hasil uji disolusi dengan perlakuan/ penyiapan larutan uji yang khusus, contoh ekstraksi, derivatisasi, dan lain-lain. Tidak - Untuk penetapan zat terlarut hasil uji disolusi tanpa perlakuan/ penyiapan larutan uji yang khusus, contoh ekstraksi, derivatisasi, dan lain-lain, yang dijelaskan dalam kajian.
3.Presisi Ya Lakukan uji ripitabilitas pada minimum 1 (satu) konsentrasi larutan uji. Jika dilakukan presisi antara (antar analis), agar dipastikan analis telah terlatih dan mampu melakukan pengujian dengan tepat. * Larutan akurasi: larutan baku yang ditambahkan ke dalam larutan uji (larutan spiked) atau larutan baku yang ditambahkan ke dalam plasebo (larutan baku pembanding) atau larutan yang berisi bahan rujukan bersertifikat. Tabel 5. Parameter Uji pada Verifikasi Metode Analisis untuk Kategori 4 No. Karakteristik Kinerja Analitik Syarat Verifikasi Pelaksanaan Verifikasi Alasan Verifikasi
1.Spesifisitas Ya Pelaksanaan spesifisitas mengacu pada BAB IV. Perbedaan matriks sampel dan instrumentasi dapat mempengaruhi spesifisitas. Tidak - Untuk identifikasi Bahan Obat berupa bahan murni tanpa ada gangguan matriks dan metode didasarkan pada prinsip dasar (reaksi kimia, seperti reaksi Ag dan Cl yang menghasilkan endapan), yang dijelaskan dalam kajian
1.Definisi Spesifisitas adalah kemampuan suatu metode untuk menilai secara tegas suatu analit dengan adanya komponen lain atau yang diperkirakan ada seperti cemaran, produk degradasi, dan matriks. Beberapa otoritas internasional lainnya lebih memilih definisi “selektivitas”, dan menggunakan istilah “spesifisitas” untuk prosedur yang benar-benar selektif. Baik spesifisitas maupun selektivitas, keduanya memberikan gambaran tentang keandalan Metode Analisis. Namun, beberapa pustaka memberikan definisi yang berbeda untuk kedua istilah tersebut. Istilah “spesifik” umumnya mengacu pada metode yang menghasilkan respons terhadap satu analit saja, sedangkan istilah “selektif” digunakan untuk metode yang menghasilkan respons terhadap entitas kimia atau analit berbeda. Suatu metode disebut selektif jika responsnya dapat dibedakan dari semua respons lainnya. Dalam hal ini, metode ini mampu mengukur analit secara akurat dengan adanya gangguan. Spesifisitas dan selektivitas pada prinsipnya mencerminkan karakteristik yang sama dan berkaitan sangat erat satu sama lain. Istilah lain yang terkait adalah konfirmasi identitas, yang merupakan bukti bahwa sinyal pengukuran yang dikaitkan dengan analit, hanya disebabkan oleh analit dan bukan karena adanya sesuatu yang serupa secara kimia atau fisik atau muncul secara kebetulan. Suatu metode pertama-tama harus menunjukkan spesifisitas yang tinggi sebelum kuantifikasi yang sebenarnya dapat dilakukan. Untuk pengujian berikut, definisi sebagaimana yang dijelaskan di atas, memiliki implikasi sebagai berikut: