(100)29 (100 ) 23 (100 ) 22 (100%) 20 (100%) 3 Cakupan pelayanan bencana kebakaran kabupaten/kota 78 Desa 189 Desa 61 Desa 10 Desa 20 Desa 4 Tingkat waktu tanggap (response time rate) Daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) 15 Menit 15 Menit 15 Menit 15 Menit 15 Menit 5 Persentase Penegakan PERDA 100% 100% 100% 100% 100% 100% Sumber: Satuan Polisi Pamong Praja & BPBD Kabupaten Balangan, 2023 Indikator ketentraman dan ketertiban umum selain terkait disiplin Perda maupun perlindungan masyarakat dalam ranah ketaatan ketertiban umum, terkait juga dengan kebencanaan. Tahun 2021 untuk Kebakaran Hutan dan Lahan (KARHUTLA) terdapat 29 kejadian. Tahun 2020 sebanyak 42 kejadian, dan 2019 160 kejadian. Perkembangan pada tahun 2019 hingga 2021 terlihat angka penurunan kejadian, hal ini dipengaruhi oleh adanya peraturan membakar lahan di tahun 2020. Pada tahun 2022 kembali terdapat peningkatan sejumlah 10 desa, kejadian bencana kebakaran yang terjadi pada tahun 2022 didominasi oleh faktor human error. Respon Time Rate selama 15 menit dapat dijangkau didukung beberapa faktor, diantaranya jarak tempuh yang tidak terlalu jauh, lokasi yang mudah dijangkau, dan adanya akses pendukung menuju tempat kejadian. Tingkat waktu tanggap (response time rate) manajemen pada wilayah kebakaran pada tahun 2018 hingga 2022 selama 15 menit dari lokasi kantor menuju lokasi bencana kebakaran. Pada tahun 2022 waktu tanggap juga masih dapat dipenuhi selama 15 menit dikarenakan masih terjangkaunya lokasi kejadian dengan basecamp Damkar. Selanjutnya, urusan pemerintahan Umum merupakan pelaksanaan urusan pemerintahan umum yang dilaksanakan oleh kesatuan bangsa dan politik. Untuk mencapai tujuan terwujudnya kerukunan dan toleransi dalam Masyarakat ditargetkan tidak ada konflik sosial bernuansa SARA . Pada tahun 2018 -2023 tidak ada konflik yang terjadi walaupun potensi konflik yang berkaitan dengan Politik, Ekonomi, Sosial Budaya dan Agama bisa muncul akan tetapi dapat ditindaklanjuti dan diselesaikan dengan kerjasama semua sektor dan pihak. Tabel 2. 45. Capaian Kinerja Pemerintahan Umum Tahun 2018-2023 NO Indikator Tahun 2018 2019 2020 2021 2022 2023 1 Angka Konflik Sosial Bernuansa SARA 0 0 0 0 0 0 2 Persentase Daerah Rawan Konflik yang Terpetakan - - - 100% 100% 100 3 Rasio Tempat Ibadah (Per 10.000 Penduduk) - - - 42 44 4 Persentase Ormas yang Aktif - - - 100% 100% 100% 5 Persentase Parpol yang Aktif - - - 81% 100% 100% 6 Tingkat Partisipasi politik masyarakat - - - 1,2% 2,9% 7,8% Sumber: Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Balangan, 2023 Pemerintah Kabupaten Balangan telah berkomitmen untuk mempertahankan angka konflik sosial bernuansa SARA dalam posisi 0 (nol) konflik, dengan menindaklanjuti dan menyelesaikan semua potensi konflik yang muncul dan melakukan pemetaan terhadap Daerah rawan konflik sebanyak 8 (delapan) Kecamatan dengan capaian 100%. Selain itu juga dengan meningkatkan rasio tempat Ibadah yaitu untuk tahun 2021 dan 2022 dimana ada 42 dan 44 tempat ibadah untuk 10.000 penduduk, dengan terus bertambahnya tempat ibadah yang ada di Kabupaten Balangan diharapkan akan meningkatkan kerukunan umat beragama sehingga potensi konflik yang muncul bisa berkurang, selain itu juga akan meningkatkan peran dan fungsi Ormas dan Parpol untuk mendukung program pemerintah. Untuk capaian tingkat partisipasi politik masyarakat di Kabupaten Balangan masih rendah, dikarenakan masih rendahnya Sosialisasi tentang Politik dan Pemerintahan Umum oleh Kesbangpol Kabupaten Balangan terlihat dari capaian kinerja pada Tahun 2021 dan 2022. Sehingga diperlukan terobosan dan Inovasi program dalam rangka melaksanakan fungsi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik dalam pendidikan politik Masyarakat dan pembinaan serta pengawasan Ormas. F. Urusan Sosial Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) terdiri dari 26 Jenis dan untuk di Kabupaten Balangan hanya menangangi 9 jenis PPKS yang totalnya pada 2023 berjumlah 60.942 orang. Jumlah PPKS di Kabupaten Balangan yang terdiri dari Anak Terlantar 59 orang, Anak Berlawanan dengan Hukum 8 orang, Lanjut Usia 3.701 orang, Penyandang Disabilitas 1.129 orang, Korban Bencana Alam 21 orang, Korban Bencana Sosial 37 orang, Perempuan/Wanita Rawan Sosial Ekonomi (WRSE) 62 orang, Fakir miskin 54.289 orang dan Komunitas Adat Terpencil (KAT) 1.636 Orang. Untuk dapat melihat secara terperinci dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. 46. PPKS Yang Tertangani Tahun 2023 No PPKS Jumlah PPKS (orang) Jumlah PPKS yang Tertangani (orang) 1 Anak Terlantar 59 33 2 Anak yang Berhadapan dengan Hukum 8 8 3 Lanjut Usia 3.701 284 4 Penyandang Disabilitas 1,129 39 5 Korban Bencana Alam 21 21 6 Korban Bencana Sosial 37 37 7 Perempuan Rawan Sosial dan Ekonomi 62 52 No PPKS Jumlah PPKS (orang) Jumlah PPKS yang Tertangani (orang) 8 Fakir Miskin 54.289 35.578 9 Komunitas Adat Terpencil (KAT) 1.636 150 Jumlah 60.942 36.202 Sumber: Dinsos P3A PMD, 2023 Berdasarkan data yang disajikan pada tabel diatas, dapat diperoleh informasi dari 9 Jenis PPKS yang ada di Kabupaten Balangan dengan Jumlah PPKS per tahun 2023 adalah 60.942 orang dan Jumlah PPKS yang ditangani per tahun 2022 berjumlah 36.202 orang. Pencapaian pelayanan terhadap Persentase PPKS yang Tertangani pada Dinas Sosial, P3A, PMD Kabupaten Balangan pada tahun 2023 sebesar 59,40% dari target 70,95%. Hal ini sudah mencakup 36.202 Orang PPKS atau 59.40% dari keseluruhan sembilan jumlah PPKS yang ada dengan rincian 33 orang Anak Terlantar, 8 orang Anak yang Berhadapan dengan Hukum, Lanjut Usia 284 orang, Penyandang Disabilitas 39 orang, Korban Bencana Alam 21 orang, Korban Bencana Sosial 37 Orang, dan Perempuan/Wanita Rawan Sosial Ekonomi 52 orang. PPKS yang semua terlayani hanya korban bencana alam, korban bencana social, dan anak yang berhadapan dengan hukum. Meskipun masih belum bisa mencakup pada pelayanan seluruh 9 jenis PPKS yang ada di Kabupaten Balangan, terdapat penurunan capaian kinerja dari 68,72% menjadi 59,40% atau kenaikannya sebesar 9,32%. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan pada pelayanan PPKS diantaranya adanya kemudahan melalui upaya Inovasi aplikasi “Layar si Balang”. Inovasi tersebut memudahkan pelaporan dan keterbukaan bagi masyarakat yang mengetahui untuk melaporkan atau ingin mengajukan pendaftaran DTKS dan berdampak pada berfungsinya pelayanan yang optimal. Selain adanya optimalisasi pelayanan yang hadir karena Inovasi, hal yang bersifat pelayanan rutin seperti pemberian bantuan alat bantu, sembako, dan pelayanan lainnya terhadap PPKS dapat berjalan optimal didorong adanya keterlibatan Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan dan Kementerian Sosial dalam kuota tambahan pemberian alat bantu untuk disabilitas dan lansia dan kemudahan akses kepada PPKS pemerlu panti rehabilitasi sosial. Tabel 2. 47. Capaian Indikator Sosial Kabupaten Balangan Tahun 2018–2023 No Indikator Tahun 2018 2019 2020 2021 2022 2023 1 Persentase PPKS yang tertangani 58,89% 65,84% 40,92% 54,91% 68,72% 59,40% 2 Persentase korban bencana yang menerima bantuan sosial selama masa tanggap darurat 100% 100% 100% 100% 100% 100% 3 Persentase penyandang cacat fisik dan mental, serta lanjut usia tidak potensial yang telah menerima jaminan sosial 100% 100% 100% 100% 100% 4 Jumlah PPKS (Jiwa) 18,458 18,286 47,523 96.059 68.334 60.942 5 Jumlah Penerima Bantuan (PKH & BPNT) 9,775 9,694 9,818 10.790 10.356 11.984 Sumber: Dinsos P3A PMD, 2023 Mengacu pada data yang disajikan pada tabel diatas terkait Jumlah PPKS di Kabupaten Balangan dari tahun 2018-2023 mengalami kenaikan setiap tahunnya dan Jumlah PPKS terbanyak pada tahun 2021 dan pada tahun 2022 jumlah PPKS mengalami penurunan. Hal tersebut terjadi disebabkan salah satu jenis PPKS yaitu Korban Bencana Alam pada tahun 2021 terjadi peningkatan dari segi jumlah, penyebabnya dikarenakan pada tahun 2021 Kabupaten Balangan mengalami peristiwa bencana alam yang besar dan berdampak luas. Selain itu, dalam rangka pengentasan kemiskinan ekstrem 0% pada tahun 2024 juga sangat dibutuhkan kemudahan dalam mengakses data dan kriteria penerima bantuan sosial sesuai dengan karakteristik di lingkup Kabupaten Balangan. Ketika pemerintah Daerah telah memiliki secara mandiri data masyarakat miskin tersebut, maka SKPD yang berkaitan maupun pihak pemanfaat lainnya akan mudah melakukan analisis untuk penentuan kebijakan dan perencanaan pada pengelolaan kesejahteraan sosial. Langkah-langkah untuk mencapai kesiapan data tersebut masih terhitung panjang, perlunya sumber daya manusia yang mumpuni terkait data dan koordinasi yang baik harus segera dipersiapkan dengan menyusun timeline target pencapaian di masing-masing kegiatan yang mendukung pada Bidang Sosial. Koordinasi dan apabila diperlukan terjalinnya kerjasama dengan SKPD yang bersinggungan maupun dengan eksternal yang mendukung keberlangsungan database kemiskinan Daerah. Selanjutnya penyebab belum optimalnya jangkauan PPKS juga dikarenakan lokasi penjangkauan yang tidak mudah untuk dijangkau dikarenakan kondisi topografi beberapa wilayah di Kabupaten Balangan yang cukup sulit untuk di jangkau. Meskipun capaian cakupan pelayanan PPKS pada Bidang Sosial sudah menunjukkan realisasi yang positif, masih diperlukan kerja keras dari Bidang Sosial terkait pengelolaan data dan pemenuhan standar. Pemenuhan cakupan SPM juga masih belum optimal, Kabupaten Balangan belum tersedianya rumah singgah atau shelter untuk menaungi PPKS di luar panti yang nantinya dipenuhi kebutuhan dasarnya seperti sandang, makanan, dan medis kejiwaannya selama maksimal tujuh hari sesuai standar yang ditetapkan. Karena belum terpenuhinya rumah singgah lingkup Kabupaten Balangan, beberapa pelayanan yang bersifat luar panti masih belum bisa optimal. Jenis PPKS yang mendapatkan layanan rumah singgah adalah pelayanan ODGJ setelah dilaksanakan perawatan di rumah sakit, anak dan lansia terlantar, gelandangan dan pengemis di luar panti. Tabel 2. 48. Rekapitulasi Potensi Dan Sumber Kesejahteraan Sosial Kabupaten Balangan Tahun 2022 NO PSKS JUMLAH 1 Pekerja Sosial Profesional - 2 Pekerja Sosial Masyarakat 45 3 Taruna Siaga Bencana (TAGANA) 38 4 Lembaga Kesejahteraan Sosial 8 5 Karang Taruna 2.431 6 Satuan Bhakti Pekerja Sosial 1 7 Keluarga Pioner - 8 Wahana Kesejahteraan Sosial Keluarga Berbasis Masyarakat - 9 Wanita Pemimpin Kesejahteraan Sosial 10 10 Penyuluh Sosial 4 11 Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan 8 12 Dunia Usaha 6 JUMLAH 2.551 Sumber: Dinsos P3A PMD, 2023 2.4.2. Urusan Wajib Non Pelayanan Dasar A. Urusan Tenaga Kerja Capaian indikator urusan tenaga kerja dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. 49. Capaian Indikator Tenaga Kerja Kabupaten Balangan Tahun 2018–2022 No. Indikator Tahun 2018 2019 2020 2021 2022 1 Angka sengketa pengusaha-pekerja per tahun 4 4 9 7 3 2 Besaran kasus yang diselesaikan dengan Perjanjian Bersama (PB) 4 4 4 5 2 No. Indikator Tahun 2018 2019 2020 2021 2022 4 Besaran Pencari Kerja Terdaftar 2136 3001 705 2331 2137 5 Besaran Lowongan kerja/ Permintaan Tenaga Kerja Terdaftar - - 696 1006 259 6 Besaran pencari kerja yang terdaftar yang ditempatkan 1,690 2,989 453 164 770 7 Besaran pekerja/buruh yang menjadi peserta program Jamsostek 3,005 2,931 5,898 2931 2931 8 Besaran Pemeriksaan Perusahaan 15 18 7 8 9 9 Besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis Kompetensi 592 544 192 192 224 10 Besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis Masyarakat 300 60 128 160 48 11 Besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan Kewirausahaan - 350 32 - 48 12 Besaran serapan Tenaga Kerja di Sektor Tambang dan penggalian - - - - 4675 Sumber: DPMPTSPTTK Kabupaten Balangan, 2022 Angka sengketa pengusaha-pekerja untuk tahun 2022 berjumlah 3 kasus/sengketa, dengan rincian sebagai berikut : 1 Kasus dari PT. Kerabat Putera Balangan, 2 Kasus dari PT. SIS Site Sera. Besaran pencari kerja kerja terdaftar tidak sebanding dengan besaran kesempatan kerja/ lowongan kerja terdaftar di sektor formal setiap tahunnya terlihat juga dari besaran data penempatan tenaga kerja yang ada. Selanjutnya, dari segi besaran pelatihan yang dilaksanakan masih lebih fokus untuk pemenuhan kesempatan kerja Formal/Industri, sementara pelatihan yang mendukung penyerapan Tenaga Kerja sektor Non Formal yang potensi lebih besar belum optimal. Besaran kasus yang diselesaikan dengan Perjanjian Bersama (PB) berjumlah 1 kasus. Besaran pekerja/buruh yang menjadi peserta program Jamsostek, berdasarkan hasil laporan perusahaan di Kabupaten Balangan melalui Wajib Lapor Ketenagakerjaan Perusahaan secara online pada www.wajiblapor.kemnaker.go.id terdapat 2.931 orang karyawan perusahaan yang, didaftarkan oleh perusahaan pada BPJS Ketenagakerjaan. Pada tahun 2022 jumlah tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kompetensi berjumlah 244 orang, dan tenaga kerja yang mendapatkan berbasis kemasyarakatan berjumlah 58 orang. Serapann Tenaga Kerja pada Sektor Pertambangan dan Penggalian masih jauh kalah disbanding besaran serapan Tenaga Kerja di Sektor laiinnya seperti Non Formal,, padahal sektor Pertambangan adalah penyumbang terbesar terhadap PDRb kabupaten/ pertumbuhan ekonomi kabupaten. Tabel 2. 50. Jumlah Penduduk Bekerja Berdasarkan Sektor Tahun 2022 Sektor Jumlah A. Pertanian. Perkebunan. Kehutanan. Perburuan & Perikanan 31.174 B. Pertambangan dan Penggalian 4.675 C. Industri Pengolahan 2.307 D. Pengadaan Listrik dan Gas 0 E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang 463 F. Konstruksi 2.752 G. Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor 8.255 H. Transportasi dan Pergudangan 759 I. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 3.434 J. Informasi dan Komunikasi 334 Sektor Jumlah K. Jasa Keuangan dan Asuransi 253 L. Real Estate 75 M,N. Jasa Perusahaan 1.933 O. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 5.021 P. Jasa Pendidikan 4.986 Q. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 1.350 R,S,T,U. Jasa Lainnya 2.166 Kosong / Diluar range 174 Total 70.111 Sumber: DPMPTSPTTK Kabupaten Balangan, 2022 B. Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak secara umum telah mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut adalah keterlibatan dalam upaya Kabupaten dalam Kota Layak Anak, yang dimana Kabupaten Balangan mendapatkan Penghargaan Kabupaten Layak Anak yang sebelumnya tingkat pratama menjadi tingkat madya di tahun 2022 bulan Agustus lalu. Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) merupakan muara sistem pembangunan berbasis hak anak melalui pengintegrasiaan komitmen dan sumber daya pemerintah, masyarakat, serta dunia usaha, yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program, kegiatan untuk menjamin terpenuhinya hak dan perlindungan anak. Tingkat Kabupaten/Kota Layak Anak berdasarkan Evaluasi KLA terdiri dari a. KLA Tingkat Pratama (nilai 500- 600), b. KLA Tingkat Madya (nilai 601-700), c. KLA Tingkat Nindya (nilai 701-800) d. KLA Tingkat Utama (nilai 801-900) dan KLA (nilai 901-1000). Guna mencapai kategori nindya, pemerintah Daerah perlu melakukan sinergi dengan menggandeng perangkat Daerah, kelompok media, dan dunia usaha. Tabel 2. 51. Capaian Indikator Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Balangan Tahun 2018–2022 No. Indikator Tahun 2018 2019 2020 2021 2022 1 Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah 80,8% 80,2% 94,88% 94,92% 80,43% 2 Pekerja Perempuan dilembaga pemerintah - - - 1477 1521 3 Jumlah pekerja Perempuan (SWASTA+PEMERINTAH) - - - 1556 1891 4 Proporsi kursi yang diduduki perempuan di DPR 12% 16% 16% 16% 16% 5 Jumlah kursi DPRD perempuan 3 4 4 4 4 6 Total kursi anggota dewan 25 25 25 25 25 7 Partisipasi perempuan di lembaga swasta 19,1% 19,8% 5,12% 5,08% 19,57 8 Rasio KDRT 0,09% 0,01% 0,01% 0,02% 0,02% 9 Data Kekerasan Anak 13 Anak 17 Anak 16 Anak 14 Anak 13 Anak 10 Partisipasi angkatan kerja perempuan 68,33% 57,12% 44,85% 65,55% 61,66% 11 Jumlah KK Perempuan 8882 KK 8982 KK 9082 KK 9358 KK 10061 KK 12 Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan penanganan 100% 100% 100% 100% 100% No. Indikator Tahun 2018 2019 2020 2021 2022 pengaduan oleh petugas terlatih di dalam unit pelayanan terpadu 13 Jumlah pengaduan perempuan dan anak korban kekerasan 13 14 16 21 19 14 Jumlah perempuan dan anak yang dilayani 13 14 16 21 19 15 Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan kesehatan oleh tenaga kesehatan terlatih di Puskesmas mampu tatalaksana KtP/A dan PPT/PKT di Rumah Sakit 100% 100% 100% 100% 100% 16 Jumlah korban kekerasan terhadap Perempuan dan anak yg harusnya mendapatkan pelayanan di puskesmas/rs 5 9 9 11 9 17 Jumlah korban kekerasan terhadap Perempuan dan anak yg mendapatkan pelayanan di puskesmas/RS 5 9 9 11 9 18 Cakupan layanan rehabilitasi sosial yang diberikan oleh petugas rehabilitasi sosial terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu. 100% 100% 100% 100% 100% 19 Jumlah korban kekerasan yg memperoleh layanan rehabsos 8 14 16 21 19 20 Jumlah korban kekerasan yg membutuhkan layanan rehabsos 8 14 16 21 19 21 Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus- kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak 100% 100% 100% 100% 100% 22 Jumlah perkara yg diputuskan dipengadilan yg berkaitan dg kekerasan thd anak dan perempuan 6 7 9 8 10 23 Jumlah perkara perempuan dan anak yang disidangkan 6 7 9 8 10 24 Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan bantuan hukum 100% 100% 100% 100% 100% 25 Jumlah korban mendapatkan layanan bantuan hukum 6 9 8 10 8 26 Jumlah korban yang membutuhkan anggaran hukum 6 9 8 10 8 27 Cakupan layanan reintegrasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan 100% 100% 100% 100% 100% No. Indikator Tahun 2018 2019 2020 2021 2022 28 Jumlah perempuan dan anak korban kekerasan disatukan kembali ke keluarga/keluarga pengganti 1 1 1 1 0 29 Jumlah korban yg membutuhakn reintegrasi sosial 1 1 1 1 0 Sumber: Dinsos P3APMD Kabupaten Balangan, 2022 Berdasarkan tabel di atas pada tahun 2022, didapatkan informasi Menurunnya Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah dari 94,92% ditahun 2021 menjadi hanya 80,43% pada tahun 2023, hal tersebut dapat dilihat pada tabel diatas bahwa dari segi Jumlah Pekerja Perempuan dalam bidang swasta dan pemerintahan pada tahun 2022 mengalami peningkatan dan terkhusus Pekerja Perempuan di lembaga pemerintahan pada tahun 2022 tidak mengalami peningkatan sehingga setelah dilakukan perhitungan persentase capaiannya lebih rendah dari pada hasil capaian tahun 2021. Selanjutnya dalam perkembanganya adanya dinamika positif yang terjadi dari partisipasi perempuan dilembaga swasta, jika melihat data pada tabel diatas partisipasi perempuan mengalami peningkatan daris segi jumlah hal tersebut dapat dilihat pada data terakhir pada tahun 2022 dengan capaian 19,57% dimana mengalami peningkatan yang signifikan jika dibandingkan pada tahun 2021 dengan 5,08%. Hal tersebut menjadi gambaran bahwa pada era sekarang dengan adanya kebijakan-kebijakan yang dihadirkan yang mulai memperhatikan keterwakilan perempuan dalam lembaga swasta dan para perempuan yang aktif untuk mau terlibat di dalam lembaga swasta dengan jumlah perempuan dilembaga swasta adalah 414 orang. Indikator lainnya yang tidak kalah penting dan ini juga yang masih sangat menjadi perhatian terkait Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Berdasarkan data yang ada dalam hal ini Data Kekerasan Anak dari tahun ke tahun mengalami trend naik turun namun dari jumlahnya tidak signifikan. Data kekerasan anak yang diperoleh berdasarkan laporan yang masuk pada tahun 2022 ada 13 anak yang mengalami kasus kekerasan. Kasus kekerasan yang terjadi adalah para anak-anak tersebut mengalami pelecehan seksual. Beberapa hal yang dapat dijadikan faktor terjadinya kasus kekerasan tersebut baik dari segi sektor ekonomi , sosial serta segala kemudahan dengan adanya kemajuan teknologi dan mobilisasi yang begitu cepat yang tanpa kita sadari menjadi fakto-faktor lainnya sehingga kasus kekerasan masih berlangsung. Mengacu pada indikator yang lainnya dalam hal ini cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan penanganan pengaduan oleh petugas terlatih didalam unit pelayanan terpadu dari data yang diperoleh terkait jumlah pengaduan perempuan dan anak korban kekerasan dari tahun 2021 ke tahun 2022 mengalami penurunan dari 21 ke 19 yang melakukan pengaduaan perempuan dan anak korban kekerasan. Berdasarkan data masih adanya laporan pengaduan terkait kekerasan yang terjadi terhadap perempuan dan anak menjadi bukti bahwa masih sering terjadinya tindak kekerasan tersebut.Namun yang menjadi permasalahan keterbukaan yang ada terkait tindak kekerasan yang terjadi dalam hal ini jika adanya peristiwa tersebut untuk dilaporkan ke pihak yang berwajib sehingga para pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat mempertanggung jawabkan dan diberikan sanksi yang patas atas perbuatan tersebut. Jenis-jenis laporan pengaduan yang dilaporkan kebanyakan kasus anak didominasi dengan kekerasan seksual yaitu sebanyak 7 kasus dari 9 kasus. Sedangkan untuk kasus kekerasan terhadap perempuan didominasi dengan kekerasan fisik yang terjadi di dalam rumah tangga (KDRT) yaitu 6 kasus dari 7 kasus kekerasan terhadap perempuan. Saat ini yang perlu menjadi perhatian penting ketika adanya laporan pengaduan yang masuk dalam hal ini pihak berwajib Kepolisian akan berkoordinasi dengan bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan perempuan terkait adanya kasus kekerasan perempuan dan anak, namun adanya keterbatasan yang kami memiliki dikarenakan sampai saat ini di Kabupaten Balangan belum memiliki tenaga konselor dan psikolog klinis yang dapat membantu dalam memberikan pendampingan secara klinis terkait peristiwa tindakan kekerasan yan dialami. Sedangkan untuk cakupan penanganan korban yang mendapatkan layanan kesehatan oleh tenaga kesehatan terlatih di Puskesmas mampu tatalaksana KtP/A dan PPT/PKT di Rumah Sakit pada tahun 2022 sebanyak 9 korban, yang terdiri dari pemeriksaan visum bagi korban kekerasan. Layanan rehabilitasi bagi korban kekerasan yaitu sebanyak pada tahun 2022 berjumlah 19 korban yang merupakan layanan pemulihan dari gangguan baik kondisi fisik, psikis maupun sosial agar dapat melaksanakan perannya kembali secara wajar, layanan ini berupa konseling terhadap korban, keluarga ataupun masyarakat sekitar. Selanjutnya terkait Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, dari Jumlah perkara yang diputuskan dipengadilan yang berkaitan dengan kekerasan terhadap anak dan perempuan pada tahun 2022 sebanyak 10 perkara dan telah disidangkan. Hal lain yang berkaitan dengan tersebut berkaiatan dengan cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan bantuan hukum dimana jumlah korban mendapatkan layanan hukum pada tahun 2022 adalah 8 korban dan sisa korbannya diselesaikan secara kekeluargaan/ damai. Pendampingan telah diberikan dalam memberikan dukungan terhadap korban kekerasan tersebut namun yang masih perlu menjadi perhatian belum tersedianya tenaga ahli bidang hukum (paragel) dan Advokat yang bisa membantu pendampingan dalam proses bantuan hukum yang terjadi . Cakupan reintegrasi sosial sebanyak 1 korban, dengan mencarikan orangtua/keluarga pengganti yang bisa memberikan perlindungan bagi anak. Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, upaya telah dilakukan terhadap para korban kekerasaan perempuan dan anak dimana adanya MOU yang dilakukan dengan Kabupaten tetangga terkait Tenaga Konselor dan Psikolog Klinis dalam memberikan layanan pendampingan dalam hal klinis. Tabel 2. 52. Capaian Indikator Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Balangan Tahun 2018-2022 No. Indikator Tahun 2018 2019 2020 2021 2022 1 Persentase ARG terhadap Belanja Langsung APBD 4,8% 7,25% 12,35% 18,01% 28,65% 2 Persentase Perkawinan Usia Anak 0,7% 1% 1,48% 1,01% 0,64% Sumber: Dinsos P3APMD Kabupaten Balangan, 2022 Perencanaan penganggaran yang responsive gender merupakan upaya pengarusutamaan gender dalam pembangunan sebagaimana telah tersirat dalam RPJMN serta dalam upaya pencapaian kesejahteraan gender yang tercantum dalam salah satu butir SDG’s. Jika melihat data yang telah disajikan diatas Persentase ARG terhadap Belanja Langsung APBD setiap tahunya capaiannya mengalami kenaikan dimana pada tahu 2021 persentase berada pada 18,01% dan tahun 2022 28,65%. Anggaran Responsif Gender (ARG) mengakomodasi keadilan bagi perempuan dan laki-laki dalam memperoleh akses, manfaat, berpartisipasi dalam mengambil keputusan dan mengontrol sumber-sumber daya serta kesetaraan terhadap kesempatan dan peluang dalam menikmati hasil pembangunan. Saat ini yang menjadi permasalahan yakni kurangnya pemahaman dalam mengenai Konsep Rensponsif Gender dalam PPRG (Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender). Perkawinan Usia Anak adalah pernikahan yang terjadi sebelum anak berusia 18 tahun serta belum memiliki kematangan fisik, fisiologis, dan psikologis untuk mempertanggungjawabkan pernikahan dan anak hasil pernikahan tersebut serta sah menurut agama dan negara. Jika melihat capaian pada tahun 2021 Persentase perkawinan usia anak berada pada 1,01% dan pada tahun 2022 0,64%. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa dari segi persentase mengalami penurunan walaupun tidak signifikan. Dari segi perlindungan perempuan dan anak telah melaksanakan sosialiasi terkait pencegahan usia anak sebagai bentuk upaya agar masyarakat dapat mengetahui dampak-dampak yang timbul dari pernikahan usia anak yang terjadi. Per tahun 2022 terdapat 12 dispensasi nikah yang masuk melalui Kementerian Agama Kabupaten Balangan. Saat ini permasalahan usia anak menjadi perhatian penting dikarenakan masih kuatnya ideologi, serta tradisi dan budaya setempat, strategi kemiskinan dan keberlangsungan hidup ekonomi, kontrol atas seksualitas dan melindungi kehormatan keluarga yang terkadang tidak selaras dengan tujuan dari pemerintah pusat dan Daerah bahwa pernikahan usia anak itu harus dicegah. Pencatatan dispensasi nikah masih terkendala pada belum selarasnya pendataan, baik dari Kemenag Kabupaten Balangan maupun Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Beberapa factor yang mempengaruhi, masih belum tersedianya pendataan dispensasi nikah terhadap pengajuan yang berasal dari selain agama islam, terbenturnya aturan pada pencatatan sipil dari segi usia sehingga belum bisa memiliki akta nikah maupun dokumen sejenis yang dapat mengakomodir. Kemudian belum selarasnya indikator yang melatar belakangi pada pencatatan ini. Sehingga kedepannya masih diperlukan koordinasi dan diskusi lebih jauh untuk mencapai keselarasan dan kesepakatan sehingga kedepannya dapat memudahkan analisis kebijakan dan perencanaan pencegahan terhadap perkawinan anak usia dini yang ada di Kabupaten Balangan. C. Urusan Pangan Ketahanan Pangan didefinisikan sebagai kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif dan produktif secara berkelanjutan. Ruang lingkup ketahanan pangan meliputi akses, ketersediaan, pemanfaatan dan stabilitas. Beberapa indikator terkait ketahanan pangan yang menggambarkan kondisi pangan di Kabupaten Balangan disajikan pada tabel di bawah. Indikator skor PPH konsumsi menunjukkan kecenderungan meningkat, yang juga diikuti dengan meningkatnya skor PPH ketersediaan. Tabel 2. 53. Capaian Kinerja Ketahanan Pangan Kabupaten Balangan Tahun 2018-2023 No Indikator Tahun 2018 2019 2020 2021 2022 2023 1 Skor PPH Konsumsi 83,2 86,0 87,2 86,5 89,1 89,6 0 2 Skor PPH Ketersediaan 85,14 85,18 83,48 83,22 85,06 85,7 8 3 Perkembangan Desa Rentan Pangan 45 35 29 23 18 17 4 Prevalensi Ketidakcukupan Konsumsi Pangan 4,05 3,35 3,45 2,96 4,65 6,04 Sumber: Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan Kabupaten Balangan dan BPS RI, 2023 Prevalensi Ketidakcukupan Konsumsi Pangan (Prevalence of Undernourishment/PoU) merupakan estimasi proporsi konsumsi energi seseorang sehari-hari dari makanan tidak cukup memenuhi energi yang dibutuhkan untuk hidup normal, aktif dan sehat. Semakin tinggi prevalensi ketidakcukupan pangan maka makin tinggi persentase penduduk yang mengonsumsi makanan tapi kurang dari kebutuhan energinya. Data pada tabel di atas menunjukkan Prevalensi Ketidakcukupan Konsumsi Pangan di Balangan meningkat signifikan dari tahun 2021 ke 2023. Hal ini tentu saja perlu menjadi perhatian agar tidak terjadi kerawanan pangan dan gizi.Tabel 2.58 Tabel 2. 54. Capaian Ketahanan Pangan Kabupaten Balangan Tahun 2018-2022 Komoditi Ketersediaan Produksi (Ton) Kebutuhan Tahun (Ton) Surplus/ Defisit (Ton) 2018 2019 2020 2021 2022 2018 2019 2020 2021 2018 2019 2020 20 eras 117.345 96.558103.633 100.088 74,741 13.980 14.450 14.64314.740 103.365 82.108 88.990 85 ula Pasir* 1.238 1.253 1.248 1.256 1,401 1.176 1.216 1.232 1.240 62 37 16 1 inyak oreng* 1.256 1.255 1.315 1.273 1272 1.202 1.242 1.259 1.267 54 13 56 awangMerah* 452 453 471 460 663 417 431 437 440 35 22 34 2 abai erah/rawit 14.321 15.125 15.432 14.752 798 13.980 14.450 14.64314.740 341 675 789 1 aging Sapi 276 207 248 225 5,232 228 236 239 240 48 (29) 9 (1 aging Ayam 1.121 1.088 1.410 1.785 76,983 903 934 946 952 218 154 464 8 elur Ayam as 1.032 1.268 1.281 1.189 83,202 898 929 941 947 134 339 340 2 gung 54.068 94.683 16.374 38.660 16,815 162,87 194,25 896,33 159 53.905,13 94.488,75 15.477,67 38 acangKedelai 7.809,45 325,54 306,70 - 61 712,25 712,25 479 321 7.097,2 (386,71) (172,3) (3 acang Hijau 33,48 37,30 93 - - 369,76 12,75 40 (336,28) 24,55 (4 acang Tanah 392,11 293,90 199,07 41,02 - 497,26 129,5 212 (105,15) 164,4 (17 bi Kayu 3.403 5.963 2.396 490 478 513,681.359,75 373 2.889,32 4.603,25 1 bi Jalar 915 915 275 - - 63,75 777 185 851,25 138 (1 Sumber: Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan Kabupaten Balangan, 2023 Capaian ketersediaan pangan Kabupaten Balangan pada tahun 2018-2021 cukup baik namun di tahun 2022 ada beberapa komoditas yang mengalami penurunan maupun kenaikan yang signifikan. Komoditi yang mengalami surplus terbesar adalah daging ayam dan telor ayam ras. Komoditi yang mengalami defisit terbesar yaitu cabe merah/rawit. Untuk komoditi Daging Sapi yang pada tahun 2019 mengalami kekurangan di tahun 2022 sudah meningkat signifikan dan mencukupi kebutuhan di Kabupaten Balangan. Belum tercukupinya bahan asal pangan masyarakat pada bulan- bulan tertentu seperti Beras, Cabe, ubi kayu, disebabkan waktu tanam yang masih tergantung air hujan/musim. Hal tersebut dikarenakan sistem tata kelola air yang belum optimal. Akibatnya ada waktu waktu tertentu yang dijadikan sebagai tahap permulaan menanam atau musim tanam, yang bersamaan. Sehingga menyebabkan menurunnya jumlah produksi pertanian. Masih lemahnya tata niaga pertanian dan panjangnya rantai distribusi pertanian, dari hasil produksi pertanian di Kab Balangan - di luar dari konsumsi keluarga- selebihnya di jual petani ke distributor luar kab sehingga aliran rantai distribusi pertanian menjadi panjang, juga masih rendahnya tingkat harga yang diterima petani, harga di tingkat petani selalu turun di puncak-puncak panen, dan besarnya biaya transportasi dan akomodasi. Masih adanya residu zat kimia terhadap bahan asal pangan, karena selama pola pertanian masih menggunakan bahan kimia, berupa pupuk, herbisida, pestisida, fungisida, zat pengatur tumbuh, dll sehingga mempengaruhi hasil yang di panen mengandung residu zat kimia, dr pengujian PSAT menunjukkan adanya residu zat kimia terhadap bahan asal tumbuhan. D. Urusan Bidang Pertanahan Selama lima tahun terakhir, kinerja pemerintah di bidang pertanahan cukup baik yang ditunjukkan dengan capaian beberapa indikator. Hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah. Tabel 2. 55. Capaian Kinerja Pertanahan 2018-2022 N o Indikator 2018 2019 2020 2021 2022 1 Persentase luas lahan bersertifikat (%) 7.51% 7,84% 9,39% 10,69% 17,00% 2 Status tanah tidak bermasalah 48 34 19 32 38 3 Status tanah bermasalah 2 4 2 1 3 Sumber:Dinas Pertanahan dan LH Kabupaten Balangan, 2023 Pada Tahun 2022, dari keseluruhan asset tanah Pemerintah Kabupaten Balangan yang sebanyak 1.544 persil, baru terdapat 160 persil yang bersertifikat dan 102 persil tanah yang diproses untuk didaftarkan ke Kantor Pertanahan Kabupaten Balangan. Gambar 2. 30. Sertifikasi Tanah Pemda Tahun 2022 Sumber:Dinas Pertanahan dan LH Kabupaten Balangan, 2023 Hingga Tahun 2022, dari 183 persil aset tanah Pemerintah Kabupaten Balangan yang dilakukan inventarisasi oleh Bidang Pertanahan, terdapat 12 persil tanah yang dikategorikan bermasalah. Bermasalah dalam konteks ini adalah persil tanah tersebut diklaim sebagai tanah milik oleh masyarakat dan tidak dihibahkan sebelumnya kepada Pemerintah Daerah. 2.5 Produk Unggulan Daerah Produk unggulan Daerah merujuk pada komoditas atau barang yang dihasilkan oleh suatu Daerah yang memiliki potensi tinggi dan nilai ekonomis signifikan. Produk- produk ini biasanya merupakan hasil dari keunggulan sumber daya alam, keahlian lokal, atau kekayaan budaya yang dapat dipasarkan baik untuk kebutuhan lokal maupun ekspor. PUD dimiliki oleh suatu wilayah, dengan nilai ekonomi yang tinggi dan kemampuan bersaing, serta mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Produk ini dihasilkan berdasarkan kelayakan teknis seperti ketersediaan bahan baku dan pasar, serta memanfaatkan talenta lokal dan dukungan kelembagaan, termasuk teknologi, sumber daya manusia, infrastruktur, serta kondisi sosial budaya. Pengembangan ekonomi lokal bertujuan untuk membangun dialog dan kemitraan di antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, guna memperkenalkan potensi Daerah yang belum terekspos. Dalam rangka upaya pembangunan ekonomi Daerah, inventarisasi potensi wilayah/masyarakat/Daerah mutlak diperlukan agar dapat ditetapkan kebijakan pola pengebangan baik secara sektoral maupun secara multisektoral. Salah satu langkah inventarisasi/identifikasi potensi ekonomi Daerah adalah dengan mengidentifikasi produk-produk potensial, andalan dan unggulan Daerah pada tiap-tiap sub sektor. Produk unggulan Daerah menggambarkan kemampuan Daerah menghasilkan produk, menciptakan nilai, memanfaatkan sumberdaya secara nyata, memberi kesempatan kerja, mendatangkan pendapatan bagi masyarakat maupun pemerintah, memiliki prospek untuk meningkatkan produktivitas dan investasinya. Sebuah produk dikatakan unggul jika memiliki daya saing sehingga mampu untuk menangkal produk pesaing di pasar domestic dan /atau menembus pasar ekspor (Sudarsono, 2001). Sebagai suatu strategi pembangunan, terutama terkait otonomi Daerah, pengembangan produk unggulan dinilai mempunyai kelebihan karena dianggap bahwa suatu Daerah yang menerapkan ini relatif lebih mandiri dalam pengembangan ekonomi. Pengembangan produk unggulan dan pengembangan UKM dapat merupakan strategi yang efektif dalam pengembangan ekonomi Daerah. Esensi atas penciptaan produk- produk unggulan di Daerah menjadi sangat penting terlebih lagi di Daerah tertinggal atau mempunyai ketimpangan ekonomi terhadap Daerah lain, termasuk juga Daerah perbatasan (Asmara, 2004). Dasar penentuan sektor basis dan/atau unggulan adalah PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Tahun 2010 pada level sektor/lapangan usaha. Dengan demikian, hasil analisis sektor yang terpilih adalah bersifat indikatif karena tidak sepenuhnya menggambarkan kinerja keseluruhan dari subsektor yang ada masing-masing sektor. Analisis Symmetric Location Quotient(SymLQ)secara prinsip sama dengan Location Quotient (LQ), yaitu untuk menganalisis sektor unggulan dari suatu wilayah yang dapat dikembangkan. Analisis SymLQ ini digunakan karena penggunaan metode LQ selama ini menghasilkan nilai indeks yang tidak simetris, jika dilakukan analisis lebih lanjut maka cenderung tidak memenuhi uji normalitas. SymLQ merupakan modifikasi sederhana dari rumus Location Quotient (LQ) dengan membuat indeks LQ simetrik di sekitar angka nol berdasarkan rumus Revealed Symmetric Compoarative Advantage (RSCA) yang dikembangkan oleh Dalum dkk. pada tahun 1998. SymLQ akan lebih memudahkan dalam melakukan mapping sektor-sektor yang mempunyai keunggulan komparatif karena dibuat dalam skala -1 s.d. 1 (-1≤SymLQij≤1), sehingga simetris. Jika nilai SymLQ >0 (positif), maka sektor tersebut merupakan sektor basis/mempunyai keunggulan komparatif, demikian sebaliknya jika sektor tersebut: Keterangan: PDRB^R = Total PDRB Kab.Kota (atau Daerah yang ingin dicari) PDRBi^R = PDRB Kab.Kota (atau Daerah yang ingin dicari) sektor i PDRB^N = Total PDRB Provinsi (atau Daerah referensi/satu tingkat lebih tinggi dari saerah yang ingin dicari) PDRBi^N = PDRB Provinsi sektor I (atau Daerah referensi/satu tingkat lebih tinggi dari saerah yang ingin dicari) Kabupaten Balangan, yang terletak di Kalimantan Selatan, memiliki berbagai produk unggulan Daerah yang mencerminkan kekayaan alam serta potensi ekonomi lokal. Produk-produk ini berasal dari sektor pertanian, perkebunan, pertambangan, hingga kerajinan tangan, yang menjadi sumber penghidupan utama bagi masyarakat. Berikut adalah beberapa produk unggulan Daerah Kabupaten Balangan: Tabel 2. 56. PDRB Kabupaten Balangan SEKTOR PDRB PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah) 2021 2022 2023 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Rp1.027,02 Rp1.030,66 Rp1.071,80 Pertambangan dan Penggalian Rp6.379,57 Rp6.774,16 Rp7.019,43 Industri Pengolahan Rp146,76 Rp153,47 Rp158,90 Pengadaan Listrik dan Gas Rp2,65 Rp2,85 Rp3,09 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Rp21,38 Rp22,03 Rp22,68 Konstruksi Rp342,18 Rp356,72 Rp382,85 Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Rp412,95 Rp435,79 Rp464,84 Transportasi dan Pergudangan Rp147,55 Rp156,52 Rp166,70 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Rp27,64 Rp29,15 Rp31,80 Informasi dan Komunikasi Rp128,69 Rp135,69 Rp143,44 𝐿𝑄 = 𝑃𝐷𝑅𝐵𝑖 𝑅 /𝑃𝐷𝑅𝐵 𝑅 𝑃𝐷𝑅𝐵 𝑖 𝑁 /𝑃𝐷𝑅𝐵 𝑁 SEKTOR PDRB PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah) 2021 2022 2023 Jasa Keuangan dan Asuransi Rp25,86 Rp26,27 Rp27,95 Real Estate Rp86,25 Rp89,43 Rp94,38 Jasa Perusahaan Rp5,51 Rp5,91 Rp6,41 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib Rp332,17 Rp341,82 Rp360,56 Jasa Pendidikan Rp271,28 Rp286,14 Rp299,85 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Rp78,70 Rp83,75 Rp88,88 Jasa lainnya Rp41,69 Rp44,30 Rp47,04 PDRB Rp9.477,83 Rp9.974,65 Rp10.390,60 PDRB Tanpa Migas Tabel di atas menyajikan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2010 menurut lapangan usaha di suatu Daerah untuk tahun 2021, 2022, dan 2023, dalam satuan miliar rupiah. Terdapat berbagai sektor ekonomi yang tercantum, seperti Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang menunjukkan nilai PDRB sebesar Rp 1.027,02 miliar pada tahun 2021, meningkat menjadi Rp 1.071,80 miliar pada tahun 2023. Sektor Pertambangan dan Penggalian juga menunjukkan pertumbuhan signifikan, dari Rp 6.379,57 miliar pada tahun 2021 menjadi Rp 7.019,43 miliar pada tahun 2023. Industri Pengolahan mengalami kenaikan dari Rp 146,76 miliar di tahun 2021 menjadi Rp 168,90 miliar di tahun 2023. Sektor Konstruksi mencatatkan nilai PDRB Rp 342,18 miliar pada tahun 2021, dengan sedikit peningkatan menjadi Rp 362,85 miliar pada tahun 2023. Selain itu, total PDRB di Daerah tersebut menunjukkan tren pertumbuhan yang positif, dari Rp 9.477,83 miliar pada tahun 2021 menjadi Rp 10.300,60 miliar pada tahun 2023. Tabel ini mencerminkan kinerja ekonomi yang semakin baik di berbagai sektor, menandakan adanya perkembangan dan pertumbuhan ekonomi yang positif dalam periode tersebut. Tabel 2. 57. PDRB Provinsi Kalimantan Selatan SEKTOR PDRB PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah) 2021 2022 2023 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Rp18.614,34 Rp18.911,08 Rp19.510,14 Pertambangan dan Penggalian Rp33.226,73 Rp35.078,57 Rp36.171,09 Industri Pengolahan Rp17.277,92 Rp17.850,34 Rp18.387,03 Pengadaan Listrik dan Gas Rp171,40 Rp184,86 Rp199,86 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Rp601,69 Rp630,96 Rp660,54 Konstruksi Rp10.364,04 Rp10.791,13 Rp11.469,97 Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Rp12.320,82 Rp13.202,32 Rp14.017,15 Transportasi dan Pergudangan Rp7.919,63 Rp9.304,10 Rp10.344,24 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Rp2.705,83 Rp2.966,30 Rp3.241,51 Informasi dan Komunikasi Rp5.908,86 Rp6.319,21 Rp6.734,37 Jasa Keuangan dan Asuransi Rp4.367,68 Rp4.384,93 Rp4.762,90 Real Estate Rp3.318,73 Rp3.513,45 Rp3.735,36 Jasa Perusahaan Rp835,41 Rp898,30 Rp966,41 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib Rp7.144,27 Rp7.182,47 Rp7.391,99 Jasa Pendidikan Rp6.211,32 Rp6.429,09 Rp6.656,62 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Rp2.893,56 Rp3.047,17 Rp3.220,53 Jasa lainnya Rp1.542,36 Rp1.646,94 Rp1.761,26 SEKTOR PDRB PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah) 2021 2022 2023 PDRB Rp135.424,59 Rp142.341,22 Rp149.230,96 PDRB Tanpa Migas Tabel 2. 58. Tabel LQ Tambang Kabupaten Balangan SEKTOR PDRB PDRB Kabupaten Balangan (Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah)) PDRB Provinsi Kalimantan Selatan (Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah)) Location Quotient (LQ) Keterangan 2022 2023 2022 2023 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Rp1.030,66 Rp1.071,80 Rp18.911,08 Rp19.510,14 0,78899032 Sektor Non Basis Pertambangan dan Penggalian Rp6.774,16 Rp7.019,43 Rp35.078,57 Rp36.171,09 2,78713855 Sektor Basis Industri Pengolahan Rp153,47 Rp158,90 Rp17.850,34 Rp18.387,03 0,12411681 Sektor Non Basis Pengadaan Listrik dan Gas Rp2,85 Rp3,09 Rp184,86 Rp199,86 0,22205006 Sektor Non Basis Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Rp22,03 Rp22,68 Rp630,96 Rp660,54 0,49313092 Sektor Non Basis Konstruksi Rp356,72 Rp382,85 Rp10.791,13 Rp11.469,97 0,47938526 Sektor Non Basis Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Rp435,79 Rp464,84 Rp13.202,32 Rp14.017,15 0,47627971 Sektor Non Basis Transportasi dan Pergudangan Rp156,52 Rp166,70 Rp9.304,10 Rp10.344,24 0,231449 Sektor Non Basis Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Rp29,15 Rp31,80 Rp2.966,30 Rp3.241,51 0,1408958 Sektor Non Basis Informasi dan Komunikasi Rp135,69 Rp143,44 Rp6.319,21 Rp6.734,37 0,30590855 Sektor Non Basis Jasa Keuangan dan Asuransi Rp26,27 Rp27,95 Rp4.384,93 Rp4.762,90 0,0842808 Sektor Non Basis Real Estate Rp89,43 Rp94,38 Rp3.513,45 Rp3.735,36 0,36288233 Sektor Non Basis Jasa Perusahaan Rp5,91 Rp6,41 Rp898,30 Rp966,41 0,09526095 Sektor Non Basis SEKTOR PDRB PDRB Kabupaten Balangan (Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah)) PDRB Provinsi Kalimantan Selatan (Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah)) Location Quotient (LQ) Keterangan 2022 2023 2022 2023 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib Rp341,82 Rp360,56 Rp7.182,47 Rp7.391,99 0,70054249 Sektor Non Basis Jasa Pendidikan Rp286,14 Rp299,85 Rp6.429,09 Rp6.656,62 0,64694684 Sektor Non Basis Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Rp83,75 Rp88,88 Rp3.047,17 Rp3.220,53 0,39636473 Sektor Non Basis Jasa lainnya Rp44,30 Rp47,04 Rp1.646,94 Rp1.761,26 0,38358547 Sektor Non Basis PDRB Rp9.974,65 Rp10.390,60 Rp142.341,22 Rp149.230,96 1 PDRB Tanpa Migas Tabel di atas membandingkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Balangan dengan PDRB Provinsi Kalimantan Selatan untuk tahun 2022 dan 2023, dengan data yang disajikan dalam satuan miliar rupiah, di mana setiap sektor PDRB dari kedua Daerah tersebut dicantumkan untuk memberikan gambaran tentang kinerja ekonomi yang berbeda; misalnya, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan di Kabupaten Balangan memiliki nilai PDRB sebesar Rp 1.030,66 miliar pada tahun 2022, yang meningkat menjadi Rp 1.071,80 miliar pada tahun 2023, sementara pada sektor Pertambangan dan Penggalian, Kabupaten Balangan mencatatkan PDRB sebesar Rp 6.774,16 miliar pada tahun 2022 dan meningkat menjadi Rp 7.019,43 miliar pada tahun 2023, sedangkan Provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan nilai yang jauh lebih tinggi pada sektor yang sama, yakni Rp 35.078,57 miliar pada tahun 2022 dan Rp 36.171,09 miliar pada tahun 2023, yang menandakan bahwa sektor ini merupakan sektor basis yang penting bagi perekonomian Kabupaten Balangan dengan koefisien basis mencapai 2,78713856, sementara sektor lainnya dalam tabel sebagian besar dikategorikan sebagai sektor non-basis, dengan nilai PDRB di sektor Industri Pengolahan yang meningkat dari Rp 153,47 miliar pada tahun 2022 menjadi Rp 158,90 miliar pada tahun 2023, dan sektor Pengadaan Listrik dan Gas yang menunjukkan peningkatan dari Rp 2,85 miliar menjadi Rp 3,09 miliar dalam periode yang sama, di mana semua informasi ini dapat memberikan wawasan penting bagi perencanaan dan pengembangan ekonomi Daerah dengan melihat potensi pertumbuhan di masing-masing sektor. Tabel 2. 59. Tabel LQ Tanpa Tambang Kabupaten Balangan SEKTOR PDRB PDRB Kabupaten Balangan (Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah)) PDRB Provinsi Kalimantan Selatan (Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah)) Location Quotient (LQ) Keterangan 2022 2023 2022 2023 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Rp1.030,66 Rp1.071,80 Rp18.911,08 Rp19.510,14 1,84238842 Sektor Basis Industri Pengolahan Rp153,47 Rp158,90 Rp17.850,34 Rp18.387,03 0,289827867 Sektor Non Basis SEKTOR PDRB PDRB Kabupaten Balangan (Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah)) PDRB Provinsi Kalimantan Selatan (Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah)) Location Quotient (LQ) Keterangan 2022 2023 2022 2023 Pengadaan Listrik dan Gas Rp2,85 Rp3,09 Rp184,86 Rp199,86 0,518513926 Sektor Non Basis Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Rp22,03 Rp22,68 Rp630,96 Rp660,54 1,151520719 Sektor Basis Konstruksi Rp356,72 Rp382,85 Rp10.791,13 Rp11.469,97 1,119422928 Sektor Basis Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Rp435,79 Rp464,84 Rp13.202,32 Rp14.017,15 1,112171085 Sektor Basis Transportasi dan Pergudangan Rp156,52 Rp166,70 Rp9.304,10 Rp10.344,24 0,540461597 Sektor Non Basis Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Rp29,15 Rp31,80 Rp2.966,30 Rp3.241,51 0,329008852 Sektor Non Basis Informasi dan Komunikasi Rp135,69 Rp143,44 Rp6.319,21 Rp6.734,37 0,714333687 Sektor Non Basis Jasa Keuangan dan Asuransi Rp26,27 Rp27,95 Rp4.384,93 Rp4.762,90 0,196805929 Sektor Non Basis Real Estate Rp89,43 Rp94,38 Rp3.513,45 Rp3.735,36 0,847374396 Sektor Non Basis Jasa Perusahaan Rp5,91 Rp6,41 Rp898,30 Rp966,41 0,222445919 Sektor Non Basis Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib Rp341,82 Rp360,56 Rp7.182,47 Rp7.391,99 1,635851975 Sektor Basis Jasa Pendidikan Rp286,14 Rp299,85 Rp6.429,09 Rp6.656,62 1,510699606 Sektor Basis Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Rp83,75 Rp88,88 Rp3.047,17 Rp3.220,53 0,925559889 Sektor Non Basis Jasa lainnya Rp44,30 Rp47,04 Rp1.646,94 Rp1.761,26 0,895718758 Sektor Non Basis PDRB Tanpa Tambang Rp3.200,49 Rp3.371,17 Rp107.262,65 Rp113.059,87 1 PDRB Tanpa Tambang dan Migas 91 Tabel 2. 60. Tabel Shift Share Kabupaten Balangan SEKTOR PDRB PDRB Kabupaten Balangan (Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah)) PDRB Provinsi Kalimantan Selatan (Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah)) Shift Share 2022 (awal penelitian) 2023 (akhir penelitian) 2022 (awal penelitian) 2023 (akhir penelitian) PR (Proportional Regional) / Pendorong atau Penghambat Ekonomi PS (Proportional Shift) / Cepat atau Lambatnya Pertumbuhan DS (Differential Shift) / Daya Saing SS Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Rp1.030,66 Rp1.071,80 Rp18.911,08 Rp19.510,14 Rp55,70 -Rp23,06 Rp8,49 Rp41,14 Industri Pengolahan Rp153,47 Rp158,90 Rp17.850,34 Rp18.387,03 Rp8,29 -Rp3,68 Rp0,82 Rp5,43 Pengadaan Listrik dan Gas Rp2,85 Rp3,09 Rp184,86 Rp199,86 Rp0,15 Rp0,08 Rp0,01 Rp0,24 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Rp22,03 Rp22,68 Rp630,96 Rp660,54 Rp1,19 -Rp0,16 -Rp0,38 Rp0,65 Konstruksi Rp356,72 Rp382,85 Rp10.791,13 Rp11.469,97 Rp19,28 Rp3,16 Rp3,69 Rp26,13 Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Rp435,79 Rp464,84 Rp13.202,32 Rp14.017,15 Rp23,55 Rp3,34 Rp2,15 Rp29,05 Transportasi dan Pergudangan Rp156,52 Rp166,70 Rp9.304,10 Rp10.344,24 Rp8,46 Rp9,04 -Rp7,32 Rp10,18 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Rp29,15 Rp31,80 Rp2.966,30 Rp3.241,51 Rp1,58 Rp1,13 -Rp0,05 Rp2,65 Informasi dan Komunikasi Rp135,69 Rp143,44 Rp6.319,21 Rp6.734,37 Rp7,33 Rp1,58 -Rp1,16 Rp7,75 Jasa Keuangan dan Asuransi Rp26,27 Rp27,95 Rp4.384,93 Rp4.762,90 Rp1,42 Rp0,84 -Rp0,58 Rp1,68 Real Estate Rp89,43 Rp94,38 Rp3.513,45 Rp3.735,36 Rp4,83 Rp0,81 -Rp0,70 Rp4,95 Jasa Perusahaan Rp5,91 Rp6,41 Rp898,30 Rp966,41 Rp0,32 Rp0,13 Rp0,05 Rp0,50 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib Rp341,82 Rp360,56 Rp7.182,47 Rp7.391,99 Rp18,47 -Rp8,50 Rp8,77 Rp18,74 92 SEKTOR PDRB PDRB Kabupaten Balangan (Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah)) PDRB Provinsi Kalimantan Selatan (Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah)) Shift Share 2022 (awal penelitian) 2023 (akhir penelitian) 2022 (awal penelitian) 2023 (akhir penelitian) PR (Proportional Regional) / Pendorong atau Penghambat Ekonomi PS (Proportional Shift) / Cepat atau Lambatnya Pertumbuhan DS (Differential Shift) / Daya Saing SS Jasa Pendidikan Rp286,14 Rp299,85 Rp6.429,09 Rp6.656,62 Rp15,46 -Rp5,34 Rp3,58 Rp13,71 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Rp83,75 Rp88,88 Rp3.047,17 Rp3.220,53 Rp4,53 Rp0,24 Rp0,37 Rp5,13 Jasa lainnya Rp44,30 Rp47,04 Rp1.646,94 Rp1.761,26 Rp2,39 Rp0,68 -Rp0,34 Rp2,74 PDRB Tanpa Tambang Rp3.200,49 Rp3.371,17 Rp107.262,65 Rp113.059,87 PDRB Tanpa Tambang dan Migas 93 Tabel 2. 61. Tabel Shift Share Kabupaten Balangan 2021 2022 2023 2022 2023 2022 2023 2021 2022 2023 2022 2023 2022 2023 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Rp1.027,02 Rp1.030,66 Rp1.071,80 0,4% 3,8% 2,1% 32,2% 31,8% 32,0% Rp18.614,34 Rp18.911,08 Rp19.510,14 1,6% 3,1% 2,3% 17,6% 17,3% 17,4% Industri Pengolahan Rp146,76 Rp153,47 Rp158,90 4,4% 3,4% 3,9% 4,8% 4,7% 4,8% Rp17.277,92 Rp17.850,34 Rp18.387,03 3,2% 2,9% 3,1% 16,6% 16,3% 16,5% Pengadaan Listrik dan Gas Rp2,65 Rp2,85 Rp3,09 7,0% 7,8% 7,4% 0,1% 0,1% 0,1% Rp171,40 Rp184,86 Rp199,86 7,3% 7,5% 7,4% 0,2% 0,2% 0,2% Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Rp21,38 Rp22,03 Rp22,68 3,0% 2,9% 2,9% 0,7% 0,7% 0,7% Rp601,69 Rp630,96 Rp660,54 4,6% 4,5% 4,6% 0,6% 0,6% 0,6% Konstruksi Rp342,18 Rp356,72 Rp382,85 4,1% 6,8% 5,5% 11,1% 11,4% 11,3% Rp10.364,04 Rp10.791,13 Rp11.469,97 4,0% 5,9% 4,9% 10,1% 10,1% 10,1% Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Rp412,95 Rp435,79 Rp464,84 5,2% 6,2% 5,7% 13,6% 13,8% 13,7% Rp12.320,82 Rp13.202,32 Rp14.017,15 6,7% 5,8% 6,2% 12,3% 12,4% 12,4% Transportasi dan Pergudangan Rp147,55 Rp156,52 Rp166,70 5,7% 6,1% 5,9% 4,9% 4,9% 4,9% Rp7.919,63 Rp9.304,10 Rp10.344,24 14,9% 10,1% 12,5% 8,7% 9,1% 8,9% Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Rp27,64 Rp29,15 Rp31,80 5,2% 8,3% 6,8% 0,9% 0,9% 0,9% Rp2.705,83 Rp2.966,30 Rp3.241,51 8,8% 8,5% 8,6% 2,8% 2,9% 2,8% Informasi dan Komunikasi Rp128,69 Rp135,69 Rp143,44 5,2% 5,4% 5,3% 4,2% 4,3% 4,2% Rp5.908,86 Rp6.319,21 Rp6.734,37 6,5% 6,2% 6,3% 5,9% 6,0% 5,9% Jasa Keuangan dan Asuransi Rp25,86 Rp26,27 Rp27,95 1,6% 6,0% 3,8% 0,8% 0,8% 0,8% Rp4.367,68 Rp4.384,93 Rp4.762,90 0,4% 7,9% 4,2% 4,1% 4,2% 4,2% Real Estate Rp86,25 Rp89,43 Rp94,38 3,6% 5,2% 4,4% 2,8% 2,8% 2,8% Rp3.318,73 Rp3.513,45 Rp3.735,36 5,5% 5,9% 5,7% 3,3% 3,3% 3,3% Jasa Perusahaan Rp5,51 Rp5,91 Rp6,41 6,8% 7,8% 7,3% 0,2% 0,2% 0,2% Rp835,41 Rp898,30 Rp966,41 7,0% 7,0% 7,0% 0,8% 0,9% 0,8% Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib Rp332,17 Rp341,82 Rp360,56 2,8% 5,2% 4,0% 10,7% 10,7% 10,7% Rp7.144,27 Rp7.182,47 Rp7.391,99 0,5% 2,8% 1,7% 6,7% 6,5% 6,6% Jasa Pendidikan Rp271,28 Rp286,14 Rp299,85 5,2% 4,6% 4,9% 8,9% 8,9% 8,9% Rp6.211,32 Rp6.429,09 Rp6.656,62 3,4% 3,4% 3,4% 6,0% 5,9% 5,9% Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Rp78,70 Rp83,75 Rp88,88 6,0% 5,8% 5,9% 2,6% 2,6% 2,6% Rp2.893,56 Rp3.047,17 Rp3.220,53 5,0% 5,4% 5,2% 2,8% 2,8% 2,8% Jasa lainnya Rp41,69 Rp44,30 Rp47,04 5,9% 5,8% 5,9% 1,4% 1,4% 1,4% Rp1.542,36 Rp1.646,94 Rp1.761,26 6,3% 6,5% 6,4% 1,5% 1,6% 1,5% PDRB Tanpa Tambang Rp3.098,26 Rp3.200,49 Rp3.371,17 3,2% 5,1% 4,1% 100,0% 100,0% 100,0% Rp102.197,86 Rp107.262,65 Rp113.059,87 4,7% 5,1% 4,9% 100,0% 100,0% 100,0% PDRB Tanpa Tambang dan Migas Rata-rata Pertumbuhan Kab. Balangan (%) - Perbandingan dengan tahun sebelumnya Kontribusi Sektor Kabupaten Balangan Rata-rata Kontribusi Kab. Balangan (%) Laju Pertumbuhan (%) Provinsi Kalimantan Selatan Rata-rata Pertumbuhan Prov.Kalimantan Selatan (%) SEKTOR PDRB PDRB Kabupaten Balangan (Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah)) Laju Pertumbuhan (%) Kabupaten Balangan Kontribusi Sektor Provinsi Kalimantan Selatan Rata-rata Kontribusi Prov. Kalimantan Selatan (%) PDRB Provinsi Kalimantan Selatan (Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah)) 94 Tabel sekotor non tambah dapat dilihat pada tabel 2.7. Pada tabel di atas menampilkan perbandingan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Balangan dan PDRB Provinsi Kalimantan Selatan, menggunakan data harga konstan 2010 dalam satuan miliar rupiah, untuk tahun 2022 dan 2023. Selain itu, tabel ini juga menyertakan nilai Location Quotient (LQ) yang menunjukkan apakah suatu sektor ekonomi merupakan sektor basis atau non-basis di Kabupaten Balangan. Tabel di atas menggambarkan analisis ekonomi Kabupaten Balangan dalam kaitannya dengan sektor-sektor ekonomi yang berkontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kabupaten tersebut. Tabel ini juga membandingkan kontribusi PDRB Kabupaten Balangan dengan Provinsi Kalimantan Selatan, serta memperlihatkan nilai Location Quotient (LQ) yang menunjukkan apakah suatu sektor termasuk dalam kategori sektor basis atau sektor non-basis di Kabupaten Balangan. Sektor basis adalah sektor yang kontribusinya lebih besar di suatu Daerah dibandingkan dengan kontribusi sektor yang sama di wilayah yang lebih luas (dalam hal ini, Provinsi Kalimantan Selatan). Sebaliknya, sektor non-basis adalah sektor yang kontribusinya di Daerah tersebut relatif lebih kecil dibandingkan dengan wilayah yang lebih luas. Pada tahun 2022 dan 2023, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan di Kabupaten Balangan menunjukkan peran penting dalam perekonomian Daerah ini. Dengan PDRB mencapai Rp 1.030,66 miliar pada tahun 2022 dan meningkat menjadi Rp 1.071,80 miliar pada tahun 2023, sektor ini menjadi salah satu motor penggerak ekonomi kabupaten. Nilai Location Quotient (LQ) sebesar 1,84238842 mengindikasikan bahwa sektor ini termasuk sektor basis, yang artinya kontribusinya di Balangan jauh lebih besar dibandingkan kontribusinya di Provinsi Kalimantan Selatan secara keseluruhan. Selain sektor pertanian, sektor Konstruksi juga memberikan kontribusi yang cukup signifikan. Pada tahun 2022, sektor ini menyumbang Rp 356,72 miliar terhadap PDRB Balangan, dan pada tahun 2023 meningkat menjadi Rp 382,85 miliar. Nilai LQ 1,119422928 menunjukkan bahwa sektor konstruksi merupakan sektor basis, menunjukkan bahwa pertumbuhan pembangunan fisik dan infrastruktur sangat penting di Daerah ini. Menariknya, sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib juga merupakan sektor yang kuat di Kabupaten Balangan. Dengan kontribusi sebesar Rp 334,62 miliar pada tahun 2022 dan Rp 360,56 miliar pada tahun 2023, sektor ini mendapatkan nilai LQ sebesar 1,635851975, menjadikannya sektor basis. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintahan lokal memainkan peran yang signifikan dalam menciptakan lapangan kerja dan mendukung stabilitas ekonomi. Selain itu, sektor Jasa Pendidikan juga memiliki peran besar dalam membangun sumber daya manusia di Kabupaten Balangan. Dengan PDRB Rp 286,14 miliar pada 2022 dan Rp 299,85 miliar pada 2023, sektor ini terus berkembang dengan nilai LQ 1,510699606, yang berarti sektor pendidikan juga menjadi sektor basis di Balangan. Namun, tidak semua sektor di Kabupaten Balangan adalah sektor basis. Beberapa sektor seperti Industri Pengolahan dan Pengadaan Listrik dan Gas termasuk dalam kategori sektor non-basis. Sebagai contoh, sektor industri pengolahan hanya memiliki nilai LQ 0,289827867, yang menunjukkan bahwa sektor ini belum menjadi andalan utama dalam perekonomian Balangan, meskipun sektor ini sangat penting di tingkat provinsi. Selain itu, sektor-sektor lain seperti Transportasi dan Pergudangan, Informasi dan Komunikasi, serta Jasa Keuangan dan Asuransi juga tergolong sebagai sektor non-basis, meskipun sektor-sektor ini memiliki potensi besar untuk berkembang lebih lanjut di masa depan. 95 Tabel 2. 62. Tabel Perbandingan Sektor LQ Tanpa Tambang SS TK Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Pengadaan Listrik dan Gas Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Konstruksi Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Transportasi dan Pergudangan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Informasi dan Komunikasi Jasa Keuangan dan Asuransi Real Estate Jasa Perusahaan Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib Jasa Pendidikan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Jasa lainnya PDRB PDRB Tanpa Migas Keterangan : Subsektor Prima Kuadran I Subsektor Berkembang Kuadran II Subsektor Potensial Kuadran III Warna kuning di beberapa sel, seperti di sektor Pertanian, Industri Pengolahan, Pengadaan Air, Konstruksi, Perdagangan, dan lainnya, menunjukkan sektor-sektor dengan LQ yang signifikan. Artinya, sektor-sektor ini memiliki spesialisasi yang kuat dalam ekonomi lokal tanpa memperhitungkan sektor tambang. LQ (Location Quotient) adalah ukuran spesialisasi sektor ekonomi suatu wilayah dibandingkan dengan standar nasional atau regional. Kolom ini menggambarkan seberapa besar kontribusi suatu sektor tanpa memperhitungkan tambang. Tabel ini memberikan wawasan yang mendalam tentang kondisi ekonomi Daerah dengan mengidentifikasi sektor-sektor mana yang paling dominan dan sektor mana yang masih membutuhkan dorongan. Penggunaan tiga indikator utama (LQ Tanpa Tambang, SS, dan TK) memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai peran sektor-sektor dalam ekonomi: 1) Sektor Pertanian dan Perdagangan terlihat kuat dalam hal tenaga kerja dan LQ, menunjukkan bahwa mereka adalah sektor utama dalam ekonomi wilayah ini. 96 2) Pengadaan Air dan Pengelolaan Sampah memiliki kekuatan struktural dan juga potensi besar untuk berkembang lebih lanjut. 3) Sektor Pertambangan, meskipun penting, tampaknya menghadapi tantangan dalam hal kontribusi terhadap tenaga kerja. Gambar ini secara keseluruhan menunjukkan analisis ekonomi yang fokus pada diversifikasi sektor tanpa memperhitungkan pertambangan, serta bagaimana sektor-sektor non-tambang dapat dikembangkan lebih lanjut. Keterangan mengenai kuadran memberikan wawasan tentang sektor mana yang harus difokuskan untuk investasi dan dukungan tambahan. Pembangunan itu sendiri haruslah merupakan suatu proses belajar, yaitu maksudnya peningkatan kemampuan masyarakat, baik secara individual maupun kolektif yang tidak hanya menyesuaikan diri pada perubahan, melainkan juga untuk mengarahkan perubahan itu sehingga sesuai dengan tujuannya sendiri. Tujuan pembangunan guna untuk meningkatkan sektor bidang di setiap Daerah atau wilayah yang ada di negara Indonesia dengan kata lain pembangunan menjadi cara untuk dapat menghasilkan Inovasi-Inovasi yang baik bagi negara Indonesia. Manfaat dalam pembangunan Inovasi desa untuk memberikan kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat serta meningkatkan SDM dan mutu Daerah agar dapat menjadikan negara Indonesia memiliki potensi yang dapat terus dikembangkan Pembangunan Daerah juga melibatkan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, dengan memperhatikan perlindungan alam, konservasi sumber daya alam, mitigasi perubahan iklim, pengelolaan limbah, dan pelestarian ekosistem. Dalam rangka mencapai pembangunan Daerah yang sukses, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, dan lembaga internasional sangat penting. Dengan pendekatan partisipatif dan holistik, pembangunan Daerah dapat menciptakan dampak positif yang berkelanjutan bagi penduduk di suatu wilayah. 97 Pembangunan Daerah dan Inovasi saling terkait erat, di mana Inovasi dapat menjadi pendorong utama bagi pembangunan Daerah, dan sebaliknya, pembangunan Daerah yang baik menciptakan lingkungan yang kondusif bagi munculnya Inovasi. Peran Riset dan Inovasi sangat penting dalam percepatan pertumbuhan ekonomi Daerah. Riset dan Inovasi memiliki potensi untuk menghasilkan solusi baru, teknologi yang lebih efisien, dan produk atau layanan yang inovatif. Hal ini dapat mendorong pertumbuhan sektor ekonomi yang berbasis pengetahuan dan meningkatkan daya saing Daerah. Melalui Riset, Daerah dapat mengidentifikasi peluang ekonomi yang potensial, menganalisis kebutuhan pasar, dan mengembangkan strategi pengembangan ekonomi yang tepat. Riset juga memungkinkan Daerah untuk memahami perubahan tren pasar, memprediksi perkembangan masa depan, dan merumuskan kebijakan yang relevan. Data dan analisis yang diperoleh melalui Riset dapat membantu pemangku kepentingan lokal membuat keputusan yang lebih baik dan berdasarkan bukti. 3.1. Tantangan Permasalahan pembangunan di Kabupaten Balangan disajikan ke dalam 5 (lima) kelompok permasalahan, yakni permasalahan bidang infrastruktur dan lingkungan hidup, permasalahan bidang ekonomi, permasalahan pengembangan sumber daya manusia, permasalahan tata kelola pemerintahan dan permasalahan sosial budaya. 3.1.1. Pengembangan Infrastruktur Belum Optimal dan Merata Pengembangan infrastruktur perdesaan dan perkotaan ditunjukkan dengan indikator indeks infrastruktur wilayah dan indeks kualitas lingkungan hidup dimana terdapat dua tujuan yaitu meningkatnya infrastruktur wilayah perdesaan dan perkotaan serta meningkatnya kualitas lingkungan hidup. Dalam pelaksanaannya sendiri pengembangan infrastruktur saat ini masih harus dimaksimalkan perannya sehingga bisa optimal dan merata guna mendukung pertumbuhan dan penggerak perekonomian Daerah. Kondisi saat ini terkait infrastruktur yang perlu terus ditingkatkan diantaranya persentase jaringan jalan dalam kondisi mantap, dimana pada tahun 2018 hingga tahun 2021 persentasenya terus mengalami peningkatan, namun pada tahun 2022 persentase jaringan jalan dalam kondisi mantap mengalami penurunan menjadi hanya 53,47%. Selanjutnya meskipun terjadi kenaikan persentase jaringan jalan dalam kondisi mantap pada tahun 2023, namun persentasenya masih lebih rendah dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2021 yang mencapai 65,24%, tidak adanya penambahan persentase tersedianya fasilitas penyelenggaraan terminal penumpang angkutan tipe C, Dimana sejak tahun 2018 hingga tahun 2022 masih sama yaitu hanya sebesar 58 persen, Persentase Pemenuhan Perlengkapan Jalan pada tahun 2022 dan 2023 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2021, namun persentasenya masih lebih rendah dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2019 dan 2020 yang mencapai 42,84 persen, Jumlah Titik Parkir di Kabupaten Balangan masih minim yaitu masih sebanyak 14 titik, masih rendahnya persentase panjang infrastruktur pengendali banjir yaitu sebesar 19,98% di tahun 2023, masih rendahnya Persentase Luas jaringan Daerah irigasi permukaan kewenangan Daerah dalam kondisi baik yaitu hanya sebesar 33,28% di tahun 2023, masih rendahnya Persentase jumlah sampah yang terkurangi melalui 3R yaitu hanya sebesar 22,04% di tahun 2022 dan tidak adanya penambahan Luasan RTH publik sebesar 20% dari luas wilayah kota/kawasan, dimana sejak tahun 2018 hingga tahun 2022 hanya sebesar 3,91%. 98 Konsep pembangunan berkelanjutan juga harus menjadi perhatian bersama guna menciptakan lingkungan yang mampu diwariskan dan berkelanjutan untuk masa depan. Berdasarkan pengukuran pada kualitas lingkungan hidup di Balangan pada tiga aspek air, udara dan lahan hanya kualitas udara yang memiliki kategori sangat baik sementara air dan lahan pada kategori sedang. Permasalahan yang perlu diatasi yaitu kualitas air dimana parameter Fecal Coli masih tinggi karena masih banyak masyarakat yang Buang Air Besar (BAB) ke sungai dan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan air sungai serta kualitas lahan yang masih dikategori sedang karena belum ada penambahan lokasi ruang terbuka hijau. 3.1.2. Menurunnya Laju Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Balangan serta Perekonomian masih Didominasi oleh Sektor Pertambangan Peningkatan Perekonomian berbasis pertanian, perikanan, dan pariwisata serta ekonomi kreatif ditunjukkan dengan indikator angka pertumbuhan ekonomi dan angka pengangguran terbuka dimana terdapat dua tujuan yaitu meningkatnya pertumbuhan ekonomi berkelanjutan serta menurunnya angka pengangguran terbuka. Berdasarkan data grafik yang dicatat Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Kabupaten Balangan pada tahun 2019hingga tahun 2023 mengalami fluktuasi dimana pada tahun 2020 mengalami penurunan yang drastis hingga -2,47 persen, dibanding tahun 2019 yang berada pada angka 3,16 persen, lalu pada tahun selanjutnya mengalami peningkatan hingga menjadi 5,24 persen di tahun 2022,namunpada tahun 2023 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Balangan kembali mengalami penurunan hingga menjadi 4,17 persen atau turun sebesar 1,07 persen dibandingkan dengan tahun 2022. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Balangan pada tahun 2023 juga lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Selatan yang mencapai 4,84 persen. Dalam pelaksanaannya sendiri pertumbuhan ekonomi Balangan masih sangat ditopang oleh Pertambangan khususnya batu bara. Terdapat kecenderungan meningkatnya peranan komoditas pertambangan, data tahun 2019 menunjukkan kontribusi 60,58 persen naik menjadi 73,73 persen pada tahun 2023 atau mengalami peningkatan sebesar 13,15 persen dalam 5 (lima) tahun terakhir. Masih tingginya kontribusi sektor pertambangan dan penggalian harus menjadi perhatian mengingat sektor tersebut merupakan sektor yang tidak dapat diperbaharui sumber dayanya. sehingga perlu kebijakan riil terkait transformasi strukturekonomi ke sektor lain seperti Industri, Perdagangan, Pertanian dan Pariwisata serta Ekonomi Kreatif dalam rangka mempertahankan kinerja perekonomian Daerah untuk kedepannya. Kondisi saat ini terkait perekonomian non pertambangan yang perlu terus dibenahi diantaranya persentase kontribusi PDRB sektor pertanian dan perikanan, dimana sejak tahun 2019 hingga tahun 2023 persentasenya mengalami fluktuasi dan cenderung menurun menjadi hanya 7,68 persen pada tahun 2023 atau lebih rendah dibandingkan dengan capaian pada tahun 2020 yang mencapai 12,23 persen, persentase kontribusi PDRB sektor Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor juga demikian, meskipun pada tahun 2023 persentasenya mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun 2022, namun capaiannya masih lebih rendah dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2020 yang mencapai5,97 persen, begitu pula dengan persentase kontribusi PDRB sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, meskipun pada tahun 2023 mengalami kenaikan 99 dibandingkan tahun sebelumnya, namun capaiannya masih lebih rendah dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2020 yang mencapai 0,38 persen. 3.1.3. Masih adanya Pengangguran dan Kemiskinan Upaya penurunan angka pengangguran terbuka di Balangan masih perlu kerja keras dan upaya lebih besar lagi meskipun Tingkat Pengangguran di Kabupaten Balangan pada tahun 2023 mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2022, namun capaiannya masih lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2019 yang hanya sebesar 2,28 persen. Permasalahan lainnya yaitu Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja pada tahun 2023 mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2022, namun capaiannya masih lebih rendah apabila dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2020 yang mencapai 76,50. Berbagai upaya untuk terus menekan angka pengangguran dilakukan oleh Pemerintah kabupaten Balangan melalui serangkaian pelatihan kerja yang dirancang berdasarkan analisis kebutuhan industri. Masalah lain yang erat kaitannya dengan pengangguran yaitu kemiskinan. Tingkat kemiskinan di Kabupaten Balangan pada tahun 2023 berada pada 5,22 persen, berarti turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 5,83 persen. Walaupun menunjukkan penurunan, namun sejak tahun 2019 hingga tahun 2023 Tingkat Kemiskinan di Kabupaten Balangan selalu lebih tinggi dibandingkan dengan Tingkat Kemiskinan di Provinsi Kalimantan Selatan. Begitu pula bila dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Provinsi Kalimantan Selatan, tingkat kemiskinan di Balangan berada pada urutan 4 tertinggi setelah Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, dan Tabalong. Pemerintah Kabupaten Balangan secara bertahap terus melakukan upaya Inovasi untuk percepatan penanggulangan kemiskinan melalui sejumlah program prioritas diantaranya dengan melakukan penambahan lapangan kerja, mengadakan pelatihan kerja, serta mengoptimalkan potensi yang ada di Kabupaten Balangan. 3.1.4. Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Masih Rendah di Regional Kalimantan Selatan Kualitas sumber daya manusia (SDM) sangat mempengaruhi kemajuan pembangunan sebuah wilayah. Oleh sebab itu, sejak dahulu pembangunan SDM selalu menjadi prioritas dan menjadi tolok ukur kemajuan Daerah. Indikator yang umum digunakan untuk menggambarkan kualitas SDM sebuah Daerah yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Indikator IPM di Kabupaten Balangan menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun berdasarkan data beberapa tahun terakhir. Kondisi terkini tahun 2023 menunjukkan IPM Kabupaten Balangan mencapai 72,97, meningkat dari tahun sebelumnya yang berada pada angka 72,20 di tahun 2022. Walaupun mengalami peningkatan, namun sejak tahun 2019 hingga tahun 2023 IPM di Kabupaten Balangan selalu lebih rendah dibandingkan dengan IPM Provinsi Kalimantan Selatan dan Nasinal. Begitu pula bila dibandingkan dengan kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan masih berada pada urutan 5 terendah. Dengan kemampuan ekonomi dan keuangan Daerah semestinya pembangunan SDM di Kabupaten Balangan dapat lebih ditingkatkan. Berbicara mengenai IPM, maka tidak lengkap bila tidak melihat sampai ke komponen pembentuknya yakni kondisi pendidikan, kondisi kesehatan, dan standar hidup layak. Peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan ditunjukkan dengan indikator angka rata- rata lama sekolah dan angka harapan lama sekolah serta usia harapan hidup. Dalam pelaksanaannya sendiri untuk kualitas pendidikan jika dilihat pada IPM secara umum 100 kualitas pembangunan manusia di Balangan semakin membaik dari tahun ke tahun. Namun jika dibandingkan dengan kabupaten/kota se Kalsel Balangan masih berada di urutan ke-9 dan perlu upaya yang lebih optimal untuk sejajar dengan Daerah lainnya. Pada tahun 2023 angka rata-rata lama sekolah capaiannya 8,03 naik sekitar 0,18 dari tahun 2022 sedangkan harapan lama sekolah capaiannya 12,82 naik sekitar 0,21 dari tahun 2022. Selanjutnya, untuk kualitas kesehatan masyarakat Balangan dalam rangka mewujudkan peningkatan usia harapan hidup secara umum sudah menujukkan taraf kesehatan yang baik, dimana untuk UHH pada tahun 2023 sebesar 73,69 atau mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun 2022 yang hanya mencapai 73,42. Hal-hal yang perlu terus ditingkatkan diantaranya kelengkapan sarana dan parasarana kesehatan serta edukasi khususnya terhadap penanganan dan pengurangan angka kematian ibu dan bayi, Penurunan prevalensi stunting yang lebih massif serta penurunan angka kelahiran remaja yang masih tinggi di Balangan. Komponen IPM yang menggambar kondisi standar hidup layak masyarakat yaitu Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan. Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan Balangan selama kurun waktu 2019 sampai dengan 2023 mengalami peningkatan, kecuali pada tahun 2020 yang sempat turun sebagai akibat pandemi COVID-19. Data menunjukkan Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan tahun 2023 mencapai 11.888,00 Ribu Rupiah/Orang/Tahun. Bila dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya, Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan Kabupaten Balangan berada pada posisi 3 terendah setelah Hulu Sungai Utara dan Barito Kuala. Kondisi ini tentu memprihatinkan, mengingat Balangan memiliki PDRB per kapita tertinggi se-Kalimantan Selatan 3.1.5. Kualitas dan Layanan Birokrasi Pemerintahan yang Belum Optimal Peningkatan kualitas dan layanan birokrasi pemerintahan diukur dengan indeks reformasi birokrasi dengan tujuan untuk terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik harus terus dibenahi baik dari kualitas SDM aparatur maupun sarana dan prasarana pelayanan publik. Kondisi saat ini menujukkan berdasarkan indikator penyusunnnya hal yang harus dioptimalkan diantaranya nilai SAKIP Pemerintah Balangan pada tahun 2023 yang masih berada di angka 70,17 dengan kategori BB yang didorong pada poin perencanaan, pengukuran kinerja, pelaporan kinerja serta evaluasi akuntabilitas kinerja internal. Selain itu, Indeks Reformasi Birokrasi Kabupaten Balangan juga masih belum optimal yaitu masih berada pada angka 70,01 di tahun 2023. Begitu pula dengan Capaian Indeks Kepuasan Masyarakat Kabupaten Balangan dimana pada tahun 2023 masih berada pada angka 85,07. 3.1.6. Perwujudan Kehidupan Sosial, Budaya, dan Agama yang Harmonis dan Kondusif Belum Optimal Mewujudkan kualitas kehidupan sosial, budaya, dan agama serta pemerintahan yang harmonis dan kondusif diukur dengan angka kemiskinan, angka konflik sosial bernuansa SARA, indeks ketentaraman dan ketertiban umum, persentase pengembangan seni dan budaya, serta indeks desa membangun dengan dua tujuan meningkatnya kualitas kehidupan sosial, budaya, dan agama serta pemerintahan yang harmonis dan kondusif dan meningkatnya nilai indeks desa membangun. Kondisi saat ini menujukkan berdasarkan untuk tujuan meningkatnya kualitas kehidupan sosial, budaya, dan agama serta pemerintahan yang harmonis dan kondusif menunjukkan masih perlu kerja keras di 101 berbagai lini diantaranya angka kemiskinan pada tahun 2023 yang berada pada angka 5,22 poin salah satunya dikarenakan kondisi ekonomi Daerah yang masih rapuh dan ditopang pertambangan sehingga saat terjadi wabah pandemiCOVID-19 membuat angka kemiskinan masih cukup tinggi. Permasalahan lainnya yaitu menurunnya angka PPKS yang tertangani dari yang semula 68,72% di tahun 2022 menurun menjadi 59,40% pada tahun 2023, masihtingginya Indeks Resiko Bencana Banjir dimana pada tahun 2022 sebesar 26,35 atau risiko tinggi, dan Masih tingginya Resiko bencana tanah longsor atau tanah amblas di Kabupaten Balangan dengan skor Indeks Resiko Bencana Tanah Longsor pada tahun 2022 sebesar 18,17 atau resiko tinggi. Selanjutnya untuk nilai indeks desa membangun dimana indeks komposit yang dibentuk dari 3 (tiga) jenis indeks, yakni Indeks Ketahanan Sosial, Indeks Ketahanan Ekonomi, dan Indeks Ketahanan Ekologi/Lingkungan. Pada tahun 2023 Indeks Desa Membangun di Kabupaten Balangan yaitu sebesar 0,7527 dengan kategori maju atau mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2019 hingga tahun 2021 yang masih status berkembang. Meskipun terjadi peningkatan tentu masih perlu lebih dioptimalkan lagi kedepannya agar indeks desa membangun semakin meningkat. Tabel 3. 1. Permasalahan Pembangunan Berdasarkan Urusan Pemerintahan Daerah NO URUSAN PERMASALAHAN