3.Indeks Ketahanan Lingkungan (IKL): Mengukur kemampuan desa dalam mengelola lingkungan dan infrastruktur, meliputi: • Akses terhadap air bersih dan sanitasi. • Kondisi infrastruktur dasar seperti jalan, listrik, dan telekomunikasi. • Pengelolaan ruang desa, termasuk keberlanjutan sumber daya alam. • Tingkat bencana dan upaya mitigasi. Sebagian besar desa di RPKP Cipatat telah mencapai status Mandiri, seperti Rajamandala Kulon yang memiliki nilai IDM tertinggi (0,8976), mencerminkan ketahanan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang baik. Namun, desa Cirawamekar dan Mandalasari masih berstatus Maju dengan nilai IDM masing-masing 0,7705 dan 0,806, sehingga ditargetkan naik menjadi Mandiri pada 2024. Desa Nyalindung memiliki IKS tertinggi (0,9657), tetapi IKE-nya masih rendah (0,6833), menjadi potensi perbaikan. Target keseluruhan untuk 2024 adalah mempertahankan atau meningkatkan status desa menjadi Mandiri, dengan fokus pada peningkatan aspek ekonomi di desa-desa yang belum mencapai nilai optimal. Tabel II. 2 Status Indeks Desa Membangun Nama Desa IKS 2023 IKE 2023 IKL 2023 Nilai IDM 2023 Status IDM 2023 Target IDM 2024 Ciptaharja 0,9371 0,85 0,6667 0,8179 Mandiri Mandiri Cipatat 0,9257 0,75 0,9333 0,8697 Mandiri Mandiri Citatah 0,9314 0,85 0,8667 0,8827 Mandiri Mandiri Rajamandalakulon 0,9429 0,95 0,8 0,8976 Mandiri Mandiri Nyalindung 0,9657 0,6833 0,9333 0,8608 Mandiri Mandiri Gunungmasigit 0,8629 0,8167 0,7333 0,8043 Maju Mandiri Cirawamekar 0,8114 0,7 0,8 0,7705 Maju Mandiri Mandalasari 0,8514 0,7667 0,8 0,806 Maju Mandiri Sumurbandung 0,9314 0,75 0,8 0,8271 Mandiri Mandiri Sumber: Rekomendasi Indeks Desa Membangun (IDM) Tahun 2023 Per Desa 2.3 Fisik Dasar Analisis fisik dasar mencakup gambaran mengenai karakter fisik dan kerentanan wilayah terhadap bencana. Sementara analisis keagrariaan mencakup identifikasi status kepemilikan tanah dan penguasaan lahan. 2.3.1 Analisis Kesesuaian Lahan A. Batuan Geologi Jenis batuan geologi yang ada di RPKP Cipatat adalah Volcanism Subaerial, Neritic, Littoral Reef, Transition, Terrestrial Fluvial, dan Terrestrial Alluvium. Jenis batuan geologi yang memiliki jumlah paling banyak di RPKP Cipatat adalah voolcanism subaerial yaitu seluas 6.243,44 ha yang tersebar di seluruh desa. Sedangkan jenis batuan geologi yang memiliki jumlah paling sedikit adalah terrestrial alluvium yaitu seluas 51,31 ha yang hanya tersebar di Desa Sumurbandung, Ranjamandalakulon, Mandalasari, dan Cipatat. Dominasi Volcanism Subaerial berdampak signifikan pada sifat tanah dan pola penggunaan lahan di Cipatat. Secara umum, batuan vulkanik cenderung melapuk menjadi tanah yang subur, mendukung kegiatan agraris, namun di sisi lain memiliki risiko bencana geologi seperti longsor akibat sifatnya yang tidak stabil. Penyebarannya yang luas di seluruh desa menandakan pengaruh vulkanisme tidak hanya sebagai pembentuk bentang alam, tetapi juga sebagai elemen penting dalam karakteristik geomorfologi wilayah. Tabel II. 3 Jenis Batuan Geologi di RKPP Cipatat Nama Desa Volcanism Subaerial Neritic Littoral Littora l Reef Transition Terrestrial Fluvial Terrestria l Alluvium Cipatat 780,78 211,79 56,25 176,69 30,02 - 0,25 Ciptaharja 691,27 378,76 128,59 131,84 - - - Cirawamekar 969,55 - 2,53 - 46,54 - - Citatah 559,86 449,65 321,20 109,03 47,78 16,79 - Gunungmasigit 394,23 194,27 251,40 91,92 0,64 57,21 - Mandalasari 411,18 - - - - - 0,94 Nyalindung 354,37 - - - - - - Rajamandalakulo n 1.106,60 377,32 150,44 28,90 - - 15,10 Sumurbandung 975,59 - 44,38 - 59,17 - 35,01 RPKP Cipatat 6.243,44 1.611, 78 954,78 538,3 7 184,14 74,00 51,31 Gambar 2. 4 Sebaran Jenis Batuan Geologi di RKPP Cipatat 6.243,44 1.611,78 954,78 538,37 184,14 74,00 51,31 VOLCANISM SUBAERIAL NERITIC LITTORAL LITTORAL REEF TRANSITION TERRESTRIAL FLUVIAL TERRESTRIAL ALLUVIUM 0,00 1.000,00 2.000,00 3.000,00 4.000,00 5.000,00 6.000,00 7.000,00 Jenis Batuan Geologi di RKPP Cipatat Total Gambar 2. 5 Peta Sebaran Jenis Batuan Geologi di RPKP Cipatat B. Curah Hujan Tingkat curah hujan yang ada di RPKP Cipatat adalah <1.500, 1.500- 2.000 mm/th, 2.000-2.500 mm/th, 2.500-3.000 mm/th, dan 3.000-3.500 mm/th. Tingkat curah hujan yang paling mendominasi adalah intensitas 2.000-2.500 mm/th yaitu sekitar 41% (3.903,98 ha) yang tersebar di 7 (tujuh) desa. Intensitas ini berada dalam kategori curah hujan menengah, yang biasanya cocok untuk berbagai jenis tanaman pangan dan perkebunan, seperti padi, jagung, atau kopi. Sedangkan tingkat curah hujan yang memiliki luasan paling rendah adalah intensitas 3.000-3.500 mm yaitu sekitar 7% (2.540,23) ha yang hanya tersebar di Desa Sumurbandung dan Nyalindung. Wilayah ini berpotensi lebih cocok untuk tanaman yang memerlukan kondisi basah, seperti karet atau tanaman tertentu yang toleran terhadap kelembapan tinggi. Tabel II. 4 Sebaran Curah Hujan di RPKP Cipatat (ha) Nama Desa < 1500 mm/th 1500-2000 mm/th 2000-2500 mm/th 2500-3000 mm/th 3000- 3500 mm/th Rajamandalakulon - - 678,83 999,52 - Citatah 461,88 611,30 431,13 - - Ciptaharja - 186,30 1.117,67 26,48 - Cipatat - 477,74 581,01 197,03 - Sumurbandung - - 53,88 579,22 481,04 Cirawamekar - 43,31 852,35 122,96 - Gunungmasigit 450,28 353,17 186,21 - - Mandalasari - - - 412,12 - Nyalindung - - 2,90 202,90 148,57 RPKP Cipatat 912,17 1.671,82 3.903,98 2.540,23 629,62 Gambar 2. 6 Persentase Luas Curah Hujan di RPKP Cipatat Gambar 2.7 Peta Sebaran Surah Hujan di RPKP Cipatat 10% 17% 40% 26% 7% Persentase Luas Curah Hujan RPKP Cipatat < 1500 mm/th 1500-2000 mm/th 2000-2500 mm/th 2500-3000 mm/th 3000-3500 mm/th C. Jenis Tanah Tanah merupakan salah satu komponen penting dalam sistem lingkungan yang memiliki peran signifikan terhadap keberlanjutan ekosistem dan aktivitas manusia. Setiap jenis tanah memiliki karakteristik fisik, kimia, dan biologi yang memengaruhi kemampuannya dalam mendukung berbagai fungsi ekologis maupun kebutuhan pembangunan. Analisis terhadap jenis tanah membantu menentukan kesesuaian lahan untuk mengidentifikasi potensi kerentanan terhadap lingkungan. Hasil analisis menunjukkan bahwa wilayah RPKP Cipatat memiliki jenis tanah dominan latosol coklat tua kemerahan, yang mencakup area seluas 2.779,46 hektar. Jenis tanah latosol ini umumnya terbentuk di daerah beriklim tropis dengan curah hujan tinggi, sehingga sering dijumpai pada kawasan dengan pelapukan batuan yang intensif. Karakteristik utama tanah latosol adalah teksturnya yang gembur hingga lempung, kemasaman tinggi, dan kandungan hara yang relatif rendah karena pencucian mineral akibat curah hujan yang tinggi. Tabel II. 5 Jenis Tanah RPKP Cipatat (ha) Nama Desa Asosiasi Aluvial Kelabu Dan Aluvial Coklat Kekelabuan Asosiasi Glei Humus Rendah dan Aluvial Kelabu Kompleks Mediteran Coklat Kemerahan dan Litosol Kompleks Podsolik Merah Kekuninga n, Podsolik Kuning dan Regosol Latosol Coklat Latosol Coklat Tua Kemera han Podsolik Kuning Cipatat 50,18 128,06 542,78 - - 534,76 - Ciptaharja - 230,76 753,49 - - 346,20 - Cirawamekar 148,32 25,08 - 107,92 262,22 475,09 - Citatah - 296,85 678,45 195,42 - 333,60 - Gunungmasigit - 292,69 288,34 346,66 61,69 0,26 - Mandalasari 133,33 - - 13,88 - 264,92 - Nyalindung 0,01 - - - 350,13 4,23 - Rajamandalakulon 124,17 250,87 411,11 71,80 - 820,40 - Sumurbandung 174,92 - - 350,94 384,23 - 204,05 RPKP Cipatat 630,92 1.224,3 2 2.674,17 1.086,62 1.058, 28 2.779,4 6 204,05 Gambar 2. 7 Jenis Tanah RPKP Cipatat Gambar 2.9 Jenis Tanah RPKP Cipatat 29% 28% 13% 11% 11% 6% 2% Persentase Jenis Tanah RPKP Cipatat Latosol Coklat Tua Kemerahan Kompleks Mediteran Coklat Kemerahan dan Litosol Asosiasi Glei Humus Rendah dan Aluvial Kelabu Kompleks Podsolik Merah Kekuningan, Podsolik Kuning dan Regosol Latosol Coklat Asosiasi Aluvial Kelabu Dan Aluvial Coklat Kekelabuan Podsolik Kuning D. Kemiringan Lereng Kemiringan lereng merupakan salah satu parameter penting dalam analisis tata ruang, terutama dalam konteks perencanaan dan pengelolaan lahan. Faktor ini memainkan peran signifikan dalam menentukan kelayakan suatu wilayah untuk berbagai jenis penggunaan. Hasil analisis ini tidak hanya membantu dalam merancang pola pemanfaatan lahan yang optimal, tetapi juga mendukung pelaksanaan kebijakan mitigasi bencana alam serta konservasi lingkungan. Kemiringan lereng di RPKP Cipatat didominasi oleh kemiringan >40% yaitu seluas5.079,87 ha yang mengindikasikan bahwa wilayah tersebut sebagian besar memiliki lereng yang sangat curam. Dalam teori perencanaan ruang, kemiringan lereng >40% termasuk kategori lereng sangat curam yang memiliki keterbatasan untuk berbagai bentuk pemanfaatan lahan, seperti permukiman, pertanian intensif, maupun pembangunan infrastruktur besar. Menurut land capability classification, lereng curam cenderung memiliki risiko tinggi terhadap erosi, ketidakstabilan tanah, dan bencana longsor, terutama jika tidak dikelola dengan baik. Tabel II. 6 Kemiringan Lereng RPKP Cipatat (ha) Nama Desa 0 - 8% 15 - 25% > 40% Cipatat 424,30 0,55 830,93 Ciptaharja 457,04 66,52 806,89 Cirawamekar 444,22 418,75 155,65 Citatah 189,89 139,81 1.174,62 Gunungmasigit 346,05 244,08 399,53 Mandalasari 400,86 - 11,27 Nyalindung - 314,76 39,61 Rajamandalakulon 358,57 377,85 941,93 Sumurbandung 4,82 389,87 719,45 RPKP Cipatat 2.625,75 1.952,19 5.079,87 Gambar 2. 8 Kemiringan Lereng RPKP Cipatat Gambar 2.11 Kemiringan Lereng RPKP Cipatat 27% 20% 53% Persentase Kemiringan Lereng RPKP Cipatat 0 - 8% 15 - 25% > 40% E. Kesesuaian Lahan Pertanian Pertanian memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan, perekonomian, dan keberlanjutan ekosistem. Namun, pemanfaatan lahan pertanian sering kali menghadapi tantangan berupa keterbatasan lahan, tekanan urbanisasi, serta perubahan iklim. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis untuk memastikan bahwa pemanfaatan lahan sesuai dengan karakteristik biofisik dan sosial-ekonomi wilayah, guna mendukung produktivitas dan keberlanjutan pertanian. Hasil analisis kesesuaian lahan pertanian menunjukkan bahwa RPKP Cipatat sebagian besar memiliki tingkat kesesuaian lahan yang sangat tinggi. Dalam hal ini, kelas sangat sesuai mencakup area sebesar 1.962,62 hektar, yang berarti lahan tersebut memiliki kondisi fisik, kimia, dan lingkungan yang optimal untuk aktivitas pertanian Tabel II. 7 Kesesuaian Lahan Pertanian RPKP Cipatat (ha) Nama Desa Sangat Sesuai Sesuai Cukup Sesuai Tidak Sesuai Cipatat 311,35 739,39 47,01 158,02 Ciptaharja 271,10 992,38 6,36 60,61 Cirawamekar 332,95 547,66 65,69 72,33 Citatah 247,81 654,48 167,27 434,82 Gunungmasigit 306,02 400,68 48,18 234,78 Mandalasari 282,05 114,03 5,31 10,74 Nyalindung - 112,22 164,45 77,70 Rajamandalakulon 206,51 1.128,81 48,44 294,59 Sumurbandung 4,82 137,95 753,00 218,37 RPKP Cipatat 1.962,62 4.827,59 1.305,71 1.561,95 Gambar 2. 9 Kesesuaian Lahan Pertanian RPKP Cipatat (ha) Gambar 2.13 Peta Kesesuaian Lahan Pertanian RPKP Cipatat 0,00 200,00 400,00 600,00 800,00 1.000,00 1.200,00 Cipatat Ciptaharja Cirawamekar Citatah Gunungmasigit Mandalasari Nyalindung Rajamandalakulon Sumurbandung Kesesuaian Lahan Pertanian RPKP Cipatat (ha) Tidak Sesuai Cukup Sesuai Sesuai Sangat Sesuai 2.3.2 Analisis Kecenderungan Perubahan Guna Lahan Analisis kecenderungan perubahan guna lahan merupakan metode untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi pola perubahan penggunaan lahan di suatu wilayah dari waktu ke waktu. Tujuan utama dari analisis ini adalah untuk memahami bagaimana lahan digunakan saat ini, apa yang mendorong perubahan tersebut, dan bagaimana perubahan ini dapat memengaruhi lingkungan, ekonomi, dan masyarakat. Dengan memahami pola perubahan, pengambil kebijakan dapat merancang strategi mitigasi atau adaptasi yang relevan. Analisis ini sangat penting dalam perencanaan tata ruang, terutama untuk mencapai keseimbangan antara kebutuhan pembangunan dan pelestarian lingkungan. Kecenderungan perubahan guna lahan yang digunakan dalam analisis ini adalah penggunaan lahan tahun 2014 (Tabel II.7) dan penggunaan lahan tahun 2020 (Tabel II. 8). A. Penggunaan Lahan Tahun 2014 Penggunaan lahan lampau memberikan gambaran tentang bagaimana suatu wilayah berkembang dan bertransformasi, sementara penggunaan lahan eksisting menunjukkan keadaan aktual penggunaan lahan yang terjadi saat ini. Pada analisis ini penggunaan lahan lampau yang digunakan adalah tahun 2014. Penggunaan lahan di RPKP Cipatat pada tahun 2014 didominasi oleh penggunaan lahan perkebunan yaitu sebesar 43.75% Tabel II. 8 Penggunaan Lahan RPKP Cipatat Tahun 2014 (ha) Jenis Cipatat Ciptaharja Cirawamekar Citatah Gunungmasigit Mandalasari Nyalindung Rajamandalakulon Sumurbandung Total % Perkebunan 453,19 906,72 475,42 342,55 379,01 45,93 201,54 1236,38 184,55 4225,29 43,75 Tegal/Ladang 501,4 184,64 405,77 874,25 256,95 44,31 27,37 13,86 497,58 2806,13 29,06 Sawah 124,79 52,97 49,83 17,09 20,05 241,45 42,67 178,22 66,76 793,85 8,22 Permukiman 73,28 79,2 29,99 120,61 76,54 43,39 38,19 120,26 54,97 636,43 6,58 Semak Belukar 50,38 84,7 45,62 37,46 62,09 18,02 1,68 17,07 199,91 516,94 5,35 Tambang 36,62 - 3,29 103,98 127,63 - - - - 271,52 2,81 Hutan - 2,58 - 0,68 50,51 - - 36,57 74,21 164,54 1,7 Tanah Kosong 8,24 3,54 0,8 5,28 13,21 0,6 35,13 12,56 33,78 113,14 1,17 Sungai 5,32 3,07 7,72 1,32 - 18,39 6,69 36,54 1,23 80,28 0,83 Industri 0,6 13,03 0,19 0,76 - - 0,57 26,81 0,91 42,87 0,44 Rawa - - - 0,4 3,66 - - - - 4,06 0,04 Stadion/ Lapangan 1,86 - - - - - 0,51 - 0,24 2,61 0,03 Bandara 0,1 - - - - - - - - 0,1 0 Gambar 2. 10 Persentase Penggunaan Lahan RPKP Cipatat Tahun 2014 Gambar 2.15 Penggunaan Lahan RPKP Cipatat Tahun 2014 43,75 29,06 8,22 6,58 5,35 2,81 1,7 1,17 0,83 0,44 0,04 0,03 0 Perkebunan Tegal/Ladang Sawah Permukiman Semak Belukar Tambang Hutan Tanah Kosong Sungai Industri Rawa Stadion/ Lapangan Bandara Persentase Penggunaan Lahan Tahun 2014 (%) B. Penggunaan Lahan Tahun 2020 Analisis penggunaan lahan eksisting merupakan langkah awal yang krusial dalam perencanaan wilayah yang bertujuan untuk memahami pola dan distribusi pemanfaatan lahan yang ada di suatu kawasan. Melalui analisis ini, dapat diketahui sejauh mana lahan telah dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Selain itu, analisis ini juga memberikan gambaran mengenai potensi, tantangan, dan masalah yang mungkin timbul akibat pemanfaatan lahan yang tidak optimal atau tidak sesuai dengan peruntukannya. Penggunaan lahan eksisting pada yang digunakan dalam analisis ini adalah penggunaan lahan tahun 2020. Hasil analisis menunjukkan bahwa RPKP Cipatat pada tahun 2020, penggunaan lahan yang dominan adalah ladang dengan persentase 26,86%. Dominasi penggunaan lahan ladang menunjukkan bahwa sektor pertanian, khususnya produksi tanaman pangan atau perkebunan, mungkin masih menjadi salah satu sektor utama dalam kawasan tersebut. Tabel II. 9 Penggunaan Lahan RPKP Cipatat Tahun 2020 (ha) Jenis Cipatat Ciptaharja Cirawamekar Citatah Gunungmasigit Mandalasari Nyalindung Rajamandalakulon Sumurbandung Total % Ladang 372,58 254,87 270,66 736,37 322,40 37,07 77,48 46,58 476,71 2.594,73 26,86 Semak Belukar 401,22 568,05 289,14 382,83 143,55 13,91 30,08 183,07 299,99 2.311,82 23,93 Perkebunan 65,29 177,62 291,70 10,18 82,78 60,51 68,45 743,32 107,78 1.607,61 16,64 Permukiman 174,88 205,31 98,79 239,61 168,22 111,22 111,93 201,33 140,81 1.452,10 15,03 Sawah 152,28 51,66 63,97 23,45 75,82 175,18 42,11 214,54 85,74 884,75 9,16 Hutan 47,49 72,39 0,00 0,00 36,54 0,00 0,00 244,99 2,23 403,64 4,18 Pertambangan 36,62 0,00 3,29 103,98 127,63 0,00 0,00 0,00 0,00 271,52 2,81 Tanah Kosong 3,87 0,28 - 1,95 24,86 - 23,82 6,43 0,04 61,25 0,63 Waduk - - - - - 14,59 - 23,93 - 38,52 0,40 Industri 0,23 0,27 0,19 0,52 - - - 16,63 0,84 18,68 0,19 Vegetasi Non Budidaya - - 0,88 5,49 7,61 - - - - 13,98 0,14 Stadion 1,25 - - - - - 0,51 - - 1,75 0,02 Rawa - - - - 0,24 - - - - 0,24 0,00 Bandara 0,06 - - - - - - - - 0,06 0,00 Gambar 2. 11 Persentase Penggunaan Lahan RPKP Cipatat Tahun 2020 Gambar 2.17 Peta Penggunaan Lahan RPKP Cipatat Tahun 2020 26,86 23,93 16,64 15,03 9,16 4,18 2,81 0,63 0,40 0,19 0,14 0,02 0,00 0,00 Ladang Semak Belukar Perkebunan Permukiman Sawah Hutan Pertambangan Tanah Kosong Waduk Industri Vegetasi Non Budidaya Stadion Rawa Bandara Persentase Penggunaan Lahan Tahun 2020 C. Perubahan Penggunaan Lahan Perubahan guna lahan merupakan proses transformasi yang terjadi pada suatu lahan dari satu fungsi tertentu ke fungsi lain, akibat dari tekanan lingkungan, sosial, ekonomi, atau kebijakan. Fenomena ini sering kali berkaitan erat dengan perkembangan wilayah, urbanisasi, atau kebutuhan akan sumber daya. Perubahan guna lahan dapat berdampak positif, seperti peningkatan perekonomian, tetapi juga bisa menimbulkan dampak negatif, seperti kerusakan lingkungan atau konflik sosial. Perubahan penggunaan lahan di RPKP Cipatat dari Tahun 2014 – 2020 adalah sebesar 46%. Dari 46% tersebut, jenis penggunaan lahan yang paling banyak mengalami perubahan adalah perkebunan yang menjadi semak belukar sebesar 11,56%. Penggunaan lahan yang tidak mengalami perubahan adalah sebesar 54%, jenis penggunaan lahannya adalah Ladang (1.826,07 ha), Perkebunan (1.391,19 ha), Sawah (632,03 ha), Permukiman (492,01 ha), Semak Belukar (382,36 ha), Pertambangan (271,52 ha), Hutan (84,31ha), Tanah Kosong (39,69 ha), Waduk (30,90 ha), Industri (18,68 ha), Stadion (2,61 ha), Rawa (0,24 ha), Bandara 0,10 (ha). Data yang menunjukkan sebagian besar lahan tetap tidak berubah (54%) mencerminkan upaya untuk mempertahankan fungsi ekosistem yang sudah ada, seperti ladang, sawah, dan permukiman. Namun, konversi lahan yang terjadi dalam bentuk perkebunan menjadi semak belukar menandakan tantangan dalam mempertahankan keberlanjutan produktivitas lahan secara menyeluruh. Tabel II. 10 Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 2014 - 2020 (ha) Perubahan Cipatat Ciptaharja Cirawa mekar Citatah Gunung masigit Mandalasari Nyalindung Rajamandal a kulon Sumurba ndung Total Belukar - Hutan 27,18 19,48 15,41 62,07 Belukar - Ladang 1,69 3,59 2,99 0,20 5,03 0,73 0,60 14,82 Belukar - Perkebunan 8,03 0,00 0,11 8,14 Belukar - Permukima n 0,56 1,09 3,03 1,61 0,01 6,31 Belukar - Sawah 0,04 0,03 0,70 0,02 1,76 0,07 5,84 8,45 Hutan - Ladang 1,00 0,68 13,63 0,15 3,13 18,59 Hutan - Perkebunan 68,84 68,84 Hutan - Permukima n 0,44 0,44 Industri - Perkebunan 0,19 0,19 Industri - Permukima n 0,37 12,77 0,24 0,57 9,97 0,06 23,98 Ladang - Permukima n 3,83 17,02 39,24 65,31 22,77 1,73 3,19 40,84 193,91 Ladang - Semak Belukar 235,97 33,49 153,17 274,24 26,82 7,53 0,70 42,19 774,12 Ladang - Tanah Kosong 17,30 17,30 Perubahan Cipatat Ciptaharja Cirawa mekar Citatah Gunung masigit Mandalasari Nyalindung Rajamandal a kulon Sumurba ndung Total Perkebunan - Hutan 19,45 51,33 0,02 185,00 255,79 Perkebunan - Ladang 93,58 108,96 46,12 167,10 96,67 1,10 50,22 29,54 41,54 634,82 Perkebunan - Permukima n 94,80 92,69 40,97 89,10 82,61 32,46 62,01 50,54 53,73 598,93 Perkebunan - Sawah 34,25 12,43 13,02 5,43 55,61 7,15 7,72 72,42 18,14 226,15 Perkebunan - Semak Belukar 150,15 468,68 90,92 72,66 65,86 26,67 175,14 67,08 1.117, 15 Perkebunan - Tanah Kosong 3,25 3,25 Perkebunan - Vegetasi Non Budidaya 0,23 1,29 1,53 Perkebunan - Waduk 7,61 7,61 Permukima n - Hutan 0,86 0,07 0,51 1,45 Permukima n - Ladang 7,67 6,18 2,80 26,46 11,82 0,54 2,81 1,12 9,00 68,39 Permukima n - Perkebunan 2,36 2,13 5,20 1,92 1,43 0,60 2,03 14,37 2,27 32,31 Permukima n - Sawah 2,56 0,14 0,25 0,05 0,57 2,57 0,52 3,67 0,58 10,93 Permukima n - Semak Belukar 4,14 3,49 4,88 7,98 2,37 0,17 0,84 4,77 2,35 30,98 Perubahan Cipatat Ciptaharja Cirawa mekar Citatah Gunung masigit Mandalasari Nyalindung Rajamandal a kulon Sumurba ndung Total Permukima n - Tanah Kosong 0,93 0,08 1,02 Permukima n - Vegetasi Non Budidaya 0,64 1,71 1,45 3,81 Rawa - Ladang 0,40 2,74 3,14 Rawa - Permukima n 0,67 0,67 Sawah - Perkebunan 0,21 1,39 1,54 1,37 44,22 4,72 1,68 1,41 56,54 Sawah - Permukima n 14,28 13,50 1,73 0,35 0,64 35,70 5,96 43,51 5,15 120,82 Semak Belukar - Ladang 7,11 5,26 6,26 2,46 7,88 28,97 Semak Belukar - Permukima n 4,13 1,51 5,65 Semak Belukar - Vegetasi Non Budidaya 3,79 4,86 8,65 Tanah Kosong - Hutan 0,02 0,02 Perubahan Cipatat Ciptaharja Cirawa mekar Citatah Gunung masigit Mandalasari Nyalindung Rajamandal a kulon Sumurba ndung Total Tanah Kosong - Perkebunan 1,71 0,32 0,80 6,28 6,67 3,53 31,09 50,40 Tanah Kosong - Permukima n 1,06 2,08 0,82 0,17 0,33 3,20 0,89 8,55 Tanah Kosong - Sawah 1,59 0,77 0,03 1,58 0,27 1,39 1,57 7,20 Tanah Kosong - Semak Belukar 0,00 0,10 2,49 1,80 0,05 0,11 2,66 7,21 Tidak Berubah (Bandara) 0,10 0,10 Tidak Berubah (Hutan) 1,58 36,45 44,05 2,23 84,31 Tidak Berubah (Industri) 0,23 0,27 0,19 0,52 16,63 0,84 18,68 Tidak Berubah (Ladang) 262,53 135,15 213,51 535,35 190,06 34,70 24,45 15,77 414,55 1.826, 07 Tidak Berubah (Perkebunan ) 61,00 173,77 284,16 8,26 73,70 7,66 55,03 723,55 4,06 1.391, 19 Tidak Berubah (Permukima n) 55,79 67,26 16,29 82,73 57,88 39,48 35,38 96,42 40,77 492,01 Perubahan Cipatat Ciptaharja Cirawa mekar Citatah Gunung masigit Mandalasari Nyalindung Rajamandal a kulon Sumurba ndung Total Tidak Berubah (Pertambang an) 36,62 3,29 103,98 127,63 271,52 Tidak Berubah (Rawa) 0,24 0,24 Tidak Berubah (Sawah) 113,84 38,33 50,67 17,25 18,04 163,43 32,42 136,88 61,18 632,03 Tidak Berubah (Semak Belukar) 10,93 62,29 40,17 25,49 46,70 6,21 1,82 3,04 185,71 382,36 Tidak Berubah (Stadion) 1,86 0,51 0,24 2,61 Tidak Berubah (Tanah Kosong) 3,87 0,28 1,95 3,38 23,82 6,34 0,04 39,69 Tidak Berubah (Waduk) 14,59 16,31 30,90 Total 1.255,7 8 1.330,45 1.018,62 1.504,50 989,66 412,47 354,37 1.680,80 1.114,14 9.660, 78 Gambar 2.18 Persentase Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 2014-2020 18,90% 14,40% 6,54% 5,09% 3,96% 2,81% 0,87% 0,41% 0,32% 0,19% 0,03% 0,00% 0,00% 11,56% 8,01% 6,57% 6,20% 2,65% 2,34% 2,01% 1,25% 0,71% 0,71% 0,64% 0,59% 0,52% 0,33% 0,32% 0,30% 0,25% 0,19% 0,18% 0,15% 0,11% 0,09% 0,09% 0,09% 0,08% 0,08% 0,07% 0,07% 0,07% 0,06% 0,04% 0,03% 0,03% 0,02% 0,02% 0,01% 0,01% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 2,00% 4,00% 6,00% 8,00% 10,00% 12,00% 14,00% 16,00% 18,00% 20,00% Tidak Berubah (Ladang) Tidak Berubah (Sawah) Tidak Berubah (Semak Belukar) Tidak Berubah (Hutan) Tidak Berubah (Waduk) Tidak Berubah (Stadion) Tidak Berubah (Bandara) Ladang - Semak Belukar Perkebunan - Permukiman Perkebunan - Sawah Sawah - Permukiman Permukiman - Ladang Sawah - Perkebunan Permukiman - Perkebunan Semak Belukar - Ladang Hutan - Ladang Belukar - Ladang Semak Belukar -Vegetasi Non Budidaya Belukar - Sawah Perkebunan - Waduk Tanah Kosong - Sawah Semak Belukar - Permukiman Perkebunan - Tanah Kosong Perkebunan - Vegetasi Non Budidaya Permukiman - Tanah Kosong Hutan - Permukiman Tanah Kosong - Hutan Kecenderungan Perubahan Lahan Tahun 2014 - 2020 Gambar 2.19 Proporsi Perubahan Pemggunaan Lahan Tahun 2014-2020 Gambar 2.20 Peta Kecenderungan Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 2014-2020 Tidak Berubah 54% Berubah 46% Proporsi Perubahan Penggunaan Lahan 2.3.3 Identifikasi Kebencanaan Identifikasi kebencanaan dilakukan dengan mengidentifikasi lokasi- lokasi yang memiliki kerawanan bencana. Di RPKP Cipatat terdapat 4 (empat) jenis kerawanan bencana dengan tingkatan tertentu, yaitu Rawan Bencana Banjir Bandang, Rawan Bencana Banjir, Rawan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan, dan Rawan Bencana Tanah Longsor. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, semua desa di RPKP Cipatat termasuk ke daerah rawan bencana dengan luas total 3.953 ha. Rawan Bencana Tanah Longsor Tingkat Tinggi merupakan jenis yang memiliki luas paling tinggi yaitu sebesar 1.743 ha, kecuali Desa Mandalasari yang dianggap aman dari risiko ini. Desa yang memiliki Rawan Bencana Tanah Longsor Tingkat Tinggi paling luas adalah Desa Gunungmasigit yaitu sebesar 284 ha. Desa Gunungmasigit sebagai desa dengan area tanah longsor tingkat tinggi paling luas (284 ha) menunjukkan bahwa desa ini memiliki topografi yang lebih curam atau karakteristik geologi yang lebih rentan terhadap longsor. Daerah ini memerlukan perhatian khusus dalam perencanaan mitigasi bencana, seperti penerapan sistem peringatan dini, pembangunan infrastruktur tahan bencana, atau program reboisasi untuk mencegah longsor. Tabel II. 11 Kawasan Rawan Bencana RPKP Cipatat (Ha) Nama Desa Rawan Bencana Banjir Bandang Tingkat Tinggi Rawan Bencana Banjir Tingkat Tinggi Rawan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Tingkat Tinggi Rawan Bencana Kekeringan Tingkat Tinggi Rawan Bencana Tanah Longsor Tingkat Sedang Rawan Bencana Tanah Longsor Tingkat Tinggi Luas Total Cipatat 5 21 216 161 14 88 505 Ciptaharja - - 132 203 32 167 534 Cirawamekar 4 - 8 15 267 189 483 Citatah - - 65 95 40 44 244 Gunungmasigit - 2 53 0 88 284 427 Mandalasari 27 15 36 138 - - 216 Nyalindung - 0 - 1 30 65 96 Rajamandalakulon 1 37 10 231 133 661 1.073 Nama Desa Rawan Bencana Banjir Bandang Tingkat Tinggi Rawan Bencana Banjir Tingkat Tinggi Rawan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Tingkat Tinggi Rawan Bencana Kekeringan Tingkat Tinggi Rawan Bencana Tanah Longsor Tingkat Sedang Rawan Bencana Tanah Longsor Tingkat Tinggi Luas Total Sumurbandung - - 34 34 62 245 375 RPKP Cipatat 37 75 554 878 666 1.743 3.953 Gambar 2. 12 Luas Kawasan Rawan Bencana RPKP Cipatat (Ha) Gambar 2.22 Peta Kawasan Rawan Bencana Kawasan Perdesaa Cipatat 1.743 878 666 554 75 37 0 500 1.000 1.500 2.000 Rawan Bencana Tanah Longsor… Rawan Bencana Kekeringan… Rawan Bencana Tanah Longsor… Rawan Bencana Kebakaran Hutan… Rawan Bencana Banjir Tingkat… Rawan Bencana Banjir Bandang… Luas Kawasan Rawan Bencana RPKP Cipatat (Ha) 2.3.4 Identifikasi kawasan-kawasan yang sensitif secara lingkungan Identifikasi kawasan-kawasan yang sensitif secara lingkungan menjadi langkah penting dalam melestarikan keanekaragaman hayati dan menjaga fungsi ekologis suatu wilayah. Kawasan-kawasan ini biasanya memiliki karakteristik khusus yang menjadikannya rentan terhadap perubahan, baik akibat aktivitas manusia maupun fenomena alam. Sensitivitas lingkungan ini dapat muncul karena keberadaan habitat unik, spesies endemik, atau kondisi ekologis yang langka dan sulit pulih jika terganggu. Dalam konteks ini, RPKP Cipatat memiliki banyak geosite, yaitu lokasi- lokasi dengan nilai geologi yang signifikan, sehingga memerlukan perhatian khusus karena mengandung elemen yang tidak hanya penting secara ekologis tetapi juga bernilai tinggi untuk ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pariwisata. Keunikan ekosistem di RPKP Cipatat ini sering kali mencakup interaksi yang erat antara elemen geologi, biologi, dan hidrologi. Geosite di kawasan sensitif lingkungan, seperti gua karst, mata air, atau bukit vulkanik, sering kali menjadi tempat hidup spesies langka atau organisme yang hanya bisa bertahan di lingkungan tertentu. Selain itu, geosite ini juga menyimpan sejarah geologis yang merekam proses-proses alam selama jutaan tahun, menjadikannya warisan alam yang berharga. Oleh karena itu, memahami keunikan ekosistem dan interaksinya dengan geosite adalah langkah awal yang sangat penting untuk mengidentifikasi kawasan yang perlu mendapatkan perlindungan dan pengelolaan khusus. Kawasan yang memiliki banyak geosite cenderung menjadi sasaran aktivitas manusia, baik untuk pembangunan infrastruktur, ekstraksi sumber daya alam, maupun pariwisata. Tanpa pengelolaan yang tepat, aktivitas ini dapat mengancam integritas geosite dan keunikan ekosistemnya. Selain itu, kawasan dengan sensitivitas lingkungan yang tinggi dan kaya akan geosite sering kali memiliki nilai pariwisata yang besar. Potensi ini harus dioptimalkan melalui pengembangan wisata berkelanjutan yang mempertimbangkan prinsip konservasi. Identifikasi ini dilakukan dengan pemetaan sebaran geosite di RPKP Cipatat, sehingga memungkinkan pengelola kawasan untuk menentukan zona-zona yang aman untuk pengembangan wisata dan zona yang harus dilindungi sepenuhnya. Edukasi kepada masyarakat setempat dan pengunjung juga diperlukan agar mereka memahami pentingnya menjaga kawasan tersebut, sehingga mereka dapat berperan aktif dalam pelestarian geosite dan ekosistem uniknya. Dengan demikian, identifikasi kawasan sensitif lingkungan yang memiliki banyak geosite tidak hanya menjadi upaya perlindungan, tetapi juga langkah strategis untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, nilai ilmiah, ekologis, dan sosial dari kawasan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa mengorbankan keberlanjutan ekosistemnya. Hal ini memerlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan sektor swasta untuk menciptakan solusi yang holistik dan berkelanjutan. Berikut merupakan sebaran geosite yang ada di RPKP Cipatat. Tabel II. 12 Sebaran Geosite RPKP Cipatat No. Nama Geosite Kategori Deskripsi Singkat Desa Jarak Dari Kota Terdekat Akses Pengelola Atraksi Status Objek 1 Gua Pawon