g.Penguatan TKPKD sebagai Komando Taktis Daerah Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) harus bertransformasi menjadi komando taktis dan ruang koordinasi lintas sektor yang efektif di daerah. TKPKD yang kuat ditandai dengan kepemimpinan yang visioner, dukungan sekretariat profesional, forum periodik strategis, serta pelaporan kinerja yang terintegrasi dengan sistem pusat. Revitalisasi TKPKD juga mencakup pelibatan wakil kelompok rentan, pelatihan teknis, serta peran aktif dalam pengawalan perencanaan dan penganggaran daerah berbasis kemiskinan. D. Rencana Aksi Daerah Rencana Aksi Daerah Penanggulangan Kemiskinan merupakan perencanaan teknis dan strategis yang disusun oleh pemerintah daerah sebagai turunan dan operasionalisasi dari arah kebijakan nasional dan daerah dalam upaya penghapusan kemiskinan, khususnya kemiskinan ekstrem. Bagian ini berfungsi sebagai pedoman pelaksanaan intervensi lintas sektor, lintas aktor, dan lintas sumber pendanaan untuk mencapai target pengurangan jumlah penduduk miskin secara efektif, terukur, dan berkelanjutan. RAD ini menjadi wujud nyata dari pendekatan konvergensi program dan anggaran, serta kerangka koordinasi yang menyatukan berbagai intervensi dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), mitra pembangunan, dan masyarakat sipil agar bekerja pada sasaran yang sama, yaitu rumah tangga miskin dan rentan miskin yang telah teridentifikasi melalui data mikro seperti P3KE atau DTKS. Tabel 4. 2 Rencana Aksi Daerah Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten bogor 2025-2030 – Bagian 1 (dalam jutaan) No Strategi Program Indikator Satua n Baselin e 2024 2025 2026 2027 Target Rp Target Rp Target Rp 1 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengelolaan Pendidikan Tingkat Partisipasi Warga Negara Usia 5 - 6 Tahun yang berpartisipasi dalam PAUD % 61,06 63,75 28.879,71 64,80 29.193,65 65,00 29.725,24 2 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengelolaan Pendidikan Tingkat Partisipasi Warga Negara Usia 7 - 12 Tahun yang berpartisipasi dalam Pendidikan Dasar % 107,02 100,00 612.811,7 5 100,00 619.473,3 0 100,00 630.753,3 5 3 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengelolaan Pendidikan Tingkat Partisipasi Warga Negara Usia 13 - 15 Tahun yang berpartisipasi dalam Pendidikan Menengah Pertama % 98,41 100,00 321.486,1 1 100,00 324.980,8 1 100,00 330.898,4 2 No Strategi Program Indikator Satua n Baselin e 2024 2025 2026 2027 Target Rp Target Rp Target Rp 4 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengelolaan Pendidikan Tingkat Partisipasi Warga Negara Usia 7 - 18 Tahun yang belum menyelesaikan Pendidikan Dasar dan Menengah berpartisipasi dalam Pendidikan Kesetaraan % 60,74 61,15 9.673,03 62,23 9.778,18 63,00 9.956,23 5 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengelolaan Pendidikan Persentase Sarana dan Prasarana Pendidikan dengan kondisi baik % 84,23 85,17 220.332,5 3 86,22 222.727,6 4 87,00 226.783,3 2 6 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pemenuhan Upaya Kesehatan Perorangan dan Upaya Kesehatan Masyarakat Persentase ketercapaian penyelenggaraan layanan medik dan keperawatan % 95,00 511.840,2 9 97,00 658.674,9 4 98,00 671.783,9 6 7 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan Persentase Penduduk yang Menerapkan Perilaku Hidup Sehat % 17,00 2.065,61 19,00 1.826,85 21,00 4.806,99 No Strategi Program Indikator Satua n Baselin e 2024 2025 2026 2027 Target Rp Target Rp Target Rp 8 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Penanggulangan Bencana Persentase Jumlah warga negara yang memperoleh layanan penyelamatan dan evakuasi korban bencana % 90,00 95,00 6.012,31 99,00 7.610,71 99,00 9.331,07 9 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pemberdayaan Sosial Persentase keluarga miskin ekstrem yang mendapatkan pendampingan atau fasilitasi PSKS % 100,00 100,00 8.898,04 100,00 8.992,18 100,00 9.556,20 10 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Penanganan Warga Negara Migran Korban Tindak Kekerasan Persentase Warga Negara Migran Korban Tindak Kekerasan yang tertangani % 100,00 100,00 1.005,99 100,00 1.657,82 100,00 1.676,43 11 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Rehabilitasi Sosial Persentase Disabiltas terlantar, Anak terlantar, Lansia terlantar, Pengemis/Geland angan di luar panti yang terehabilitasi sosial % 28,55 29,05 11.618,83 29,55 12.605,95 30,05 15.159,04 No Strategi Program Indikator Satua n Baselin e 2024 2025 2026 2027 Target Rp Target Rp Target Rp 12 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Perlindungan dan Jaminan Sosial Persentase masyarakat miskin yang terfasilitasi jaminan dan atau perlindungan sosial % 73,17 73,67 2.424,01 74,17 4.121,61 74,67 4.481,55 13 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Penanganan Bencana Persentase korban bencana yang mendapatkan penanganan bencana % 100 100,00 3.977,30 100,00 2.594,73 100,00 2.506,05 14 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) Persentase infrastruktur pengendali banjir yang terbangun % 33,33 66,67 7.851,30 100,00 8.366,87 100,00 8.856,62 15 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) Persentase Jumlah Daerah Irigasi dalam Kondisi Baik dan Sedang % 58,9 59,15 57.335,15 59,40 55.908,35 59,65 59.180,90 16 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Persentase Jumlah Rumah Tangga yang terlayani Akses Air Minum melalui SPAM Jaringan Perpipaan % 0,19 0,59 50.630,47 0,99 53.150,00 1,39 56.261,09 No Strategi Program Indikator Satua n Baselin e 2024 2025 2026 2027 Target Rp Target Rp Target Rp 17 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Drainase Persentase luas kawasan genangan yang terlindungi infastruktur drainase % 52,00 65,29 30.371,29 66,79 31.833,57 68,29 33.696,92 18 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Perlindungan Perempuan Persentase Perempuan Korban Kekerasan dan TPPO yang Mendapatkan Layanan Komprehensif % 100,00 100,00 349,96 100,00 1.777,27 100,00 1.460,68 19 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Perlindungan Khusus Anak Persentase Anak Memerlukan Perlindungan khusus yang Mendapatkan Layanan Komprehensif % 100,00 100,00 1.345,57 100,00 3.531,52 100,00 2.893,29 No Strategi Program Indikator Satua n Baselin e 2024 2025 2026 2027 Target Rp Target Rp Target Rp 20 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengelolaan Sumber Daya Ekonomi Untuk Kedaulatan dan Kemandirian Pangan Persentase cadangan pangan masyarakat % 10,00 10,00 3.649,69 10,00 9.694,69 10,00 5.826,14 21 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Peningkatan Diversifikasi dan Ketahanan Pangan Masyarakat Tingkat Kecukupan Energi dan Protein Per Kapita % 96,97 98,90 7.341,97 98,95 10.672,25 99,00 10.721,73 22 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Penanganan Kerawanan Pangan Persentase Daerah Rentan Rawan Pangan % 38,62 37,00 595,14 35,40 791,58 33,73 837,91 23 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Penyelesaian Sengketa Tanah Garapan Persentase sengketa tanah yang terfasilitasi penanganannya % 100,00 100,00 1.548,34 100,00 2.877,84 100,00 2.901,23 24 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pendaftaran Penduduk Cakupan penerbitan KTP % 98,43 98,72 14.699,67 98,92 17.391,37 99,09 18.409,36 No Strategi Program Indikator Satua n Baselin e 2024 2025 2026 2027 Target Rp Target Rp Target Rp 25 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pendaftaran Penduduk Persentase Kepemilikan Kartu Identitas Anak % 37,52 42,68 4.292,90 48,78 4.669,31 50,74 4.942,63 26 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pencatatan Sipil Cakupan penerbitan akte kelahiran anak % 92,11 94,09 5.320,86 94,54 3.438,38 95,40 6.197,78 27 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengendalian Penduduk Angka Kelahiran dari Remaja Umur 15-19 Tahun (Age Specific Fertility Rate/ASFR 15- 19) Angka 17,1 16,70 992,03 16,30 1.395,29 15,90 501,55 No Strategi Program Indikator Satua n Baselin e 2024 2025 2026 2027 Target Rp Target Rp Target Rp 28 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pembinaan Keluarga Berencana (KB) Persentase Kebutuhan Ber- KB yang tidak Terpenuhi (Unmet Need) % 15,3 14,80 9.640,71 14,20 8.941,05 13,70 12.369,02 29 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengendalian dan Penanggulangan Bencana Pertanian Persentase penanganan dampak perubahan iklim terhadap pertanian % 26,69 71,18 3.481,98 71,89 1.961,89 72,61 2.171,46 30 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Stabilisasi Harga Kebutuhan Barang Pokok dan Barang Penting Persentase stabilitas dan jumlah ketersediaan harga barang penting dan barang kebutuhan pokok % 100 100,00 3.254,54 100,00 3.411,23 100,00 3.782,85 31 Peningkatan pendapatan dan penciptaan kesempatan kerja Program Pelatihan Kerja dan Produktivitas Tenaga Kerja Persentase tenaga kerja bersertifikat kompetensi % 1,05 1,05 4.250,40 1,07 806,47 1,09 3.411,81 No Strategi Program Indikator Satua n Baselin e 2024 2025 2026 2027 Target Rp Target Rp Target Rp 32 Peningkatan pendapatan dan penciptaan kesempatan kerja Program Pemberdayaan Usaha Menengah, Usaha Kecil, dan Usaha Mikro (UMKM) Pertumbuhan Wirausaha % 12,13 12,62 1.308,96 13,64 6.465,50 13,81 9.402,09 33 Peningkatan pendapatan dan penciptaan kesempatan kerja Program Pengembangan UMKM Prosentase Usaha Mikro Yang dikembangkan wirausaha % 58,54 58,91 678,68 58,94 4.359,68 59,15 7.173,01 34 Peningkatan pendapatan dan penciptaan kesempatan kerja Program Penilaian Kesehatan KSP/USP Koperasi Persentase Koperasi Aktif % 43.64 44.87 227,53 45.09 1.326,96 45.36 1.205,69 35 Peningkatan pendapatan dan penciptaan kesempatan kerja Program Pengembangan Kapasitas Daya Saing Kepemudaan Rasio Wirausaha Pemuda % 76,36 76,64 20.349,92 76,92 21.385,83 77,19 22.637,63 No Strategi Program Indikator Satua n Baselin e 2024 2025 2026 2027 Target Rp Target Rp Target Rp 36 Peningkatan pendapatan dan penciptaan kesempatan kerja Program Pengembangan Ekonomi Kreatif Melalui Pemanfaatan Dan Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual Persentase Pelaku Ekonomi Kreatif yang memiliki kekayaan Intelektual % N/A 10,00 1.473,40 15,00 1.955,28 20,00 1.969,35 37 Peningkatan pendapatan dan penciptaan kesempatan kerja Program Penyediaan dan Pengembangan Sarana Pertanian Persentase sarana pertanian yang dapat dipenuhi % 14,15 14,29 43.121,53 14,43 53.731,24 14,58 41.245,88 38 Peningkatan pendapatan dan penciptaan kesempatan kerja Program Perizinan Usaha Pertanian Persentase pelaku usaha yang mendapatkan pembinaan pelayanan pertimbangan teknis ijin usaha pertanian % 32,1 66,05 3.938,08 66,71 210,63 67,38 2.471,26 39 Peningkatan pendapatan dan penciptaan kesempatan kerja Program Penyediaan dan Pengembangan Sarana Pertanian Persentase Penyediaan Sarana Peternakan (Bibit Ternak) % 31,06 16,31 6.695,70 16,45 11.816,98 16,59 12.508,68 No Strategi Program Indikator Satua n Baselin e 2024 2025 2026 2027 Target Rp Target Rp Target Rp 40 Peningkatan akses serta kualitas infrastruktur dasar dan pengembangan wilayah Program Penyelenggaraan Jalan Persentase Tingkat Kemantapan Jalan % 82,52 86,71 634.102,6 1 86,78 344.264,0 1 86,85 364.415,2 3 41 Peningkatan akses serta kualitas infrastruktur dasar dan pengembangan wilayah Persentase Penyediaan Jembatan Gantung Di Lingkungan Permukiman % 100,00 100,00 6.630,09 100,00 9.998,05 100,00 10.174,07 42 Peningkatan akses serta kualitas infrastruktur dasar dan pengembangan wilayah Program Pengembangan Perumahan Persentase hunian untuk penyediaan dan rehabilitasi rumah layak huni bagi korban bencana % 54,89 61,23 76.613,85 74,56 196.568,7 5 80,01 55.173,05 43 Peningkatan akses serta kualitas infrastruktur dasar dan pengembangan wilayah Program Kawasan Permukiman Persentase luas permukiman kumuh yang tertangani % 35,78 42,94 20.139,26 62,63 11.983,64 80,26 11.002,58 44 Peningkatan akses serta kualitas infrastruktur dasar dan pengembangan wilayah Program Perumahan dan Kawasan Permukiman Kumuh Persentase Pencegahan Perumahan dan Kawasan Permukiman Kumuh % - - - 58,48 40.386,11 65,25 82.688,85 No Strategi Program Indikator Satua n Baselin e 2024 2025 2026 2027 Target Rp Target Rp Target Rp 45 Peningkatan akses serta kualitas infrastruktur dasar dan pengembangan wilayah Program Peningkatan Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum (PSU) Persentase fasilitasi penyediaan PSU % 42,89 49,38 39.821,71 55,61 26.063,86 61,85 18.257,75 46 Peningkatan akses serta kualitas infrastruktur dasar dan pengembangan wilayah Program Penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Rasio Konektivitas Angkutan Poin 0,526 0,73 129.614,5 8 0,74 244.164,2 0 0,75 253.010,6 2 47 Peningkatan akses serta kualitas infrastruktur dasar dan pengembangan wilayah Program Pengelolaan Persampahan Timbulan Sampah Terolah di Fasilitas Pengolahan sampah % 8,08 190.564,6 7 10,08 153.333,7 8 12,08 137.131,9 0 48 Peningkatan akses serta kualitas infrastruktur dasar dan pengembangan wilayah Program Penataan Desa Persentase Fasilitasi Peningkatan Sarana dan Prasarana Desa % - 100,00 76.167,39 100,00 1.168,96 100,00 1.571,28 Tabel 4. 3 Rencana Aksi Daerah Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten bogor 2025-2030 – Bagian 1 (dalam jutaan) No Strategi Program Indikator Satua n 2028 2029 2030 OPD Target Rp Target Rp Target Rp 1 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengelolaan Pendidikan Tingkat Partisipasi Warga Negara Usia 5 - 6 Tahun yang berpartisipasi dalam PAUD % 66,00 30.604,16 67,00 30.960,12 70,00 31.677,41 Dinas Pendidikan 2 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengelolaan Pendidikan Tingkat Partisipasi Warga Negara Usia 7 - 12 Tahun yang berpartisipasi dalam Pendidikan Dasar % 100,00 649.403,5 5 100,00 656.956,8 2 100,00 672.177,3 4 Dinas Pendidikan 3 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengelolaan Pendidikan Tingkat Partisipasi Warga Negara Usia 13 - 15 Tahun yang berpartisipasi dalam Pendidikan Menengah Pertama % 100,00 340.682,4 7 100,00 344.644,9 7 100,00 352.629,7 8 Dinas Pendidikan No Strategi Program Indikator Satua n 2028 2029 2030 OPD Target Rp Target Rp Target Rp 4 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengelolaan Pendidikan Tingkat Partisipasi Warga Negara Usia 7 - 18 Tahun yang belum menyelesaikan Pendidikan Dasar dan Menengah berpartisipasi dalam Pendidikan Kesetaraan % 64,00 10.250,62 65,00 10.369,84 66,00 10.610,10 Dinas Pendidikan 5 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengelolaan Pendidikan Persentase Sarana dan Prasarana Pendidikan dengan kondisi baik % 88,00 233.488,8 7 89,00 236.204,6 0 90,00 241.677,0 4 Dinas Pendidikan 6 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pemenuhan Upaya Kesehatan Perorangan dan Upaya Kesehatan Masyarakat Persentase ketercapaian penyelenggaraan layanan medik dan keperawatan % 98,00 825.717,0 1 99,00 887.242,5 4 99,00 654.643,4 0 Dinas Kesehatan 7 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pemberday aan Masyarakat Bidang Kesehatan Persentase Penduduk yang Menerapkan Perilaku Hidup Sehat % 23,00 5.189,49 25,00 5.359,33 25,00 8.516,96 Dinas Kesehatan No Strategi Program Indikator Satua n 2028 2029 2030 OPD Target Rp Target Rp Target Rp 8 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Penanggula ngan Bencana Persentase Jumlah warga negara yang memperoleh layanan penyelamatan dan evakuasi korban bencana % 99,00 10.463,04 99,00 11.527,93 99,00 12.846,05 Badan Penanggulangan Bencana Daerah 9 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pemberday aan Sosial Persentase keluarga miskin ekstrem yang mendapatkan pendampingan atau fasilitasi PSKS % 100,00 9.704,65 100,00 10.675,08 100,00 10.960,69 Dinas Sosial 10 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Penangana n Warga Negara Migran Korban Tindak Kekerasan Persentase Warga Negara Migran Korban Tindak Kekerasan yang tertangani % 100,00 1.703,32 100,00 1.718,55 100,00 2.717,85 Dinas Sosial 11 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Rehabilitasi Sosial Persentase Disabiltas terlantar, Anak terlantar, Lansia terlantar, Pengemis/Gelandanga n di luar panti yang terehabilitasi sosial % 30,55 15.291,69 31,05 15.253,18 31,55 15.524,75 Dinas Sosial No Strategi Program Indikator Satua n 2028 2029 2030 OPD Target Rp Target Rp Target Rp 12 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Perlindung an dan Jaminan Sosial Persentase masyarakat miskin yang terfasilitasi jaminan dan atau perlindungan sosial % 75,17 4.507,74 75,67 4.508,97 76,17 4.585,82 Dinas Sosial 13 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Penangana n Bencana Persentase korban bencana yang mendapatkan penanganan bencana % 100,00 2.533,21 100,00 2.434,99 100,00 5.612,71 Dinas Sosial 14 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) Persentase infrastruktur pengendali banjir yang terbangun % 100,00 9.479,63 100,00 9.969,68 100,00 10.604,65 Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang 15 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) Persentase Jumlah Daerah Irigasi dalam Kondisi Baik dan Sedang % 59,90 63.343,87 60,15 66.618,48 60,40 70.861,39 Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang 16 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengelolaan dan Pengemban gan Sistem Penyediaan Air Minum Persentase Jumlah Rumah Tangga yang terlayani Akses Air Minum melalui SPAM Jaringan Perpipaan % 1,79 60.218,67 2,19 63.331,72 2,59 67.365,30 Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang No Strategi Program Indikator Satua n 2028 2029 2030 OPD Target Rp Target Rp Target Rp 17 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengelolaan dan Pengemban gan Sistem Drainase Persentase luas kawasan genangan yang terlindungi infastruktur drainase % 69,79 36.067,27 71,29 37.931,79 72,79 40.347,66 Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang 18 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Perlindung an Perempuan Persentase Perempuan Korban Kekerasan dan TPPO yang Mendapatkan Layanan Komprehensif % 100,00 1.549,22 100,00 1.643,74 100,00 1.744,69 Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana 19 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Perlindung an Khusus Anak Persentase Anak Memerlukan Perlindungan khusus yang Mendapatkan Layanan Komprehensif % 100,00 3.152,31 100,00 3.425,74 100,00 3.724,21 Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana No Strategi Program Indikator Satua n 2028 2029 2030 OPD Target Rp Target Rp Target Rp 20 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengelolaan Sumber Daya Ekonomi Untuk Kedaulatan dan Kemandiria n Pangan Persentase cadangan pangan masyarakat % 10,00 6.532,92 10,00 6.001,28 10,00 6.687,48 Dinas Ketahanan Pangan 21 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Peningkata n Diversifikas i dan Ketahanan Pangan Masyarakat Tingkat Kecukupan Energi dan Protein Per Kapita % 99,05 11.148,69 99,10 12.239,06 99,15 13.061,03 Dinas Ketahanan Pangan 22 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Penangana n Kerawanan Pangan Persentase Daerah Rentan Rawan Pangan % 32,18 896,85 30,57 943,22 28,97 1.003,29 Dinas Ketahanan Pangan 23 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Penyelesaia n Sengketa Tanah Garapan Persentase sengketa tanah yang terfasilitasi penanganannya % 100,00 2.957,44 100,00 2.962,22 100,00 3.000,84 Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan No Strategi Program Indikator Satua n 2028 2029 2030 OPD Target Rp Target Rp Target Rp 24 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pendaftara n Penduduk Cakupan penerbitan KTP % 99,12 19.704,33 99,22 20.722,96 99,66 22.042,80 Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil 25 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pendaftara n Penduduk Persentase Kepemilikan Kartu Identitas Anak % 56,68 5.290,31 60,79 5.563,79 65,28 5.918,15 Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil 26 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pencatatan Sipil Cakupan penerbitan akte kelahiran anak % 96,73 6.567,36 97,08 6.762,19 97,94 10.302,84 Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil 27 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengendali an Penduduk Angka Kelahiran dari Remaja Umur 15-19 Tahun (Age Specific Fertility Rate/ASFR 15-19) Angka 15,50 705,74 15,10 616,36 14,70 834,30 Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana No Strategi Program Indikator Satua n 2028 2029 2030 OPD Target Rp Target Rp Target Rp 28 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pembinaan Keluarga Berencana (KB) Persentase Kebutuhan Ber-KB yang tidak Terpenuhi (Unmet Need) % 45.701,0 0 10.538,00 45.881,0 0 11.604,30 45.728,0 0 12.762,23 Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana 29 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Pengendali an dan Penanggula ngan Bencana Pertanian Persentase penanganan dampak perubahan iklim terhadap pertanian % 73,34 2.645,77 74,07 2.615,82 100,00 5.880,87 Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan 30 Pengurangan beban pengeluaran masyarakat Program Stabilisasi Harga Kebutuhan Barang Pokok dan Barang Penting Persentase stabilitas dan jumlah ketersediaan harga barang penting dan barang kebutuhan pokok % 100,00 4.241,76 100,00 4.673,47 100,00 5.207,84 Dinas Perdagangan 31 Peningkatan pendapatan dan penciptaan kesempatan kerja Program Pelatihan Kerja dan Produktivit as Tenaga Kerja Persentase tenaga kerja bersertifikat kompetensi % 1,12 3.585,42 1,14 3.626,10 1,15 6.967,01 Dinas Tenaga Kerja No Strategi Program Indikator Satua n 2028 2029 2030 OPD Target Rp Target Rp Target Rp 32 Peningkatan pendapatan dan penciptaan kesempatan kerja Program Pemberday aan Usaha Menengah, Usaha Kecil, dan Usaha Mikro (UMKM) Pertumbuhan Wirausaha % 13,92 9.997,07 13,95 10.369,21 14,12 14.139,59 Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah 33 Peningkatan pendapatan dan penciptaan kesempatan kerja Program Pengemban gan UMKM Prosentase Usaha Mikro Yang dikembangkan wirausaha % 59,17 7.611,19 59,27 7.859,99 59,27 11.470,55 Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah 34 Peningkatan pendapatan dan penciptaan kesempatan kerja Program Penilaian Kesehatan KSP/USP Koperasi Persentase Koperasi Aktif % 45.63 1.224,11 45.89 1.142,72 45.89 4.325,47 Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah 35 Peningkatan pendapatan dan penciptaan kesempatan kerja Program Pengemban gan Kapasitas Daya Saing Kepemudaa n Rasio Wirausaha Pemuda % 77,47 24.230,03 77,75 25.482,62 78,03 27.105,60 Dinas Pemuda dan Olahraga No Strategi Program Indikator Satua n 2028 2029 2030 OPD Target Rp Target Rp Target Rp 36 Peningkatan pendapatan dan penciptaan kesempatan kerja Program Pengemban gan Ekonomi Kreatif Melalui Pemanfaata n Dan Perlindung an Hak Kekayaan Intelektual Persentase Pelaku Ekonomi Kreatif yang memiliki kekayaan Intelektual % 25,00 2.152,00 30,00 2.240,35 35,00 5.628,69 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata 37 Peningkatan pendapatan dan penciptaan kesempatan kerja Program Penyediaan dan Pengemban gan Sarana Pertanian Persentase sarana pertanian yang dapat dipenuhi % 14,72 38.930,04 14,87 36.435,52 15,02 41.854,44 Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan 38 Peningkatan pendapatan dan penciptaan kesempatan kerja Program Perizinan Usaha Pertanian Persentase pelaku usaha yang mendapatkan pembinaan pelayanan pertimbangan teknis ijin usaha pertanian % 68,05 2.675,86 68,73 3.098,07 100,00 5.986,50 Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan 39 Peningkatan pendapatan dan penciptaan kesempatan kerja Program Penyediaan dan Pengemban gan Sarana Pertanian Persentase Penyediaan Sarana Peternakan (Bibit Ternak) % 16,74 13.388,58 16,88 14.080,71 17,02 14.977,51 Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan No Strategi Program Indikator Satua n 2028 2029 2030 OPD Target Rp Target Rp Target Rp 40 Peningkatan akses serta kualitas infrastruktur dasar dan pengembangan wilayah Program Penyelengg araan Jalan Persentase Tingkat Kemantapan Jalan % 86,92 390.049,3 3 86,99 410.213,2 0 87,06 436.339,5 6 Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang 41 Peningkatan akses serta kualitas infrastruktur dasar dan pengembangan wilayah Persentase Penyediaan Jembatan Gantung Di Lingkungan Permukiman % 100,00 10.371,18 100,00 10.387,93 100,00 10.523,37 Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang 42 Peningkatan akses serta kualitas infrastruktur dasar dan pengembangan wilayah Program Pengemban gan Perumahan Persentase hunian untuk penyediaan dan rehabilitasi rumah layak huni bagi korban bencana % 86,07 56.452,27 92,73 57.263,97 100,00 58.749,35 Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan 43 Peningkatan akses serta kualitas infrastruktur dasar dan pengembangan wilayah Program Kawasan Permukima n Persentase luas permukiman kumuh yang tertangani % 100,00 11.415,96 100,00 10.130,89 100,00 10.364,55 Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan 44 Peningkatan akses serta kualitas infrastruktur dasar dan Program Perumahan dan Kawasan Permukima n Kumuh Persentase Pencegahan Perumahan dan Kawasan Permukiman Kumuh % 72,03 84.090,68 78,81 84.226,48 85,58 85.324,61 Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan No Strategi Program Indikator Satua n 2028 2029 2030 OPD Target Rp Target Rp Target Rp pengembangan wilayah 45 Peningkatan akses serta kualitas infrastruktur dasar dan pengembangan wilayah Program Peningkata n Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum (PSU) Persentase fasilitasi penyediaan PSU % 68,08 22.310,51 74,31 25.340,27 80,55 23.001,08 Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan 46 Peningkatan akses serta kualitas infrastruktur dasar dan pengembangan wilayah Program Penyelengg araan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Rasio Konektivitas Angkutan Poin 0,75 292.376,6 8 0,76 305.914,3 5 0,77 336.505,7 9 Dinas Perhubungan 47 Peningkatan akses serta kualitas infrastruktur dasar dan pengembangan wilayah Program Pengelolaan Persampah an Timbulan Sampah Terolah di Fasilitas Pengolahan sampah % 14,08 131.240,6 9 16,08 142.655,7 8 18,08 154.770,3 7 Dinas Lingkungan Hidup No Strategi Program Indikator Satua n 2028 2029 2030 OPD Target Rp Target Rp Target Rp 48 Peningkatan akses serta kualitas infrastruktur dasar dan pengembangan wilayah Program Penataan Desa Persentase Fasilitasi Peningkatan Sarana dan Prasarana Desa % 100,00 1.601,73 100,00 1.604,31 100,00 1.625,23 Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Lokasi prioritas dalam konteks penanggulangan kemiskinan didefinisikan sebagai wilayah administratif tertentu—baik desa, kelurahan, kecamatan, maupun kabupaten/kota—yang dipilih berdasarkan kriteria kemiskinan dan kerentanan sosial tertentu untuk dijadikan sasaran utama pelaksanaan intervensi program dan kegiatan pembangunan. Tujuan dari pendekatan ini adalah: (1) Memfokuskan intervensi pada rumah tangga miskin dan rentan miskin secara spasial; (2) Mengintegrasikan program dan anggaran lintas sektor secara konvergen di wilayah prioritas; (3) Menghindari tumpang tindih program serta mempercepat capaian target penghapusan kemiskinan ekstrem; dan (4) Memastikan prinsip keadilan spasial dan pemerataan pembangunan antardaerah. Dalam konteks penanggulangan kemiskinan, kuadran prioritas 1–4 digunakan sebagai alat bantu klasifikasi wilayah dengan menganalisis dua indikator terkait dengan kemiskinan dan faktor/indikator penyebab. Pendekatan ini memungkinkan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk melakukan penajaman strategi intervensi secara lebih efektif dan efisien, sesuai dengan karakteristik wilayah atau populasi yang ditargetkan. kuadran(nasional) .prioritas! .prioritas2 .Prioritas3 .Prioritas4 26.00 27.00 28.00 29.00 30.00 31.00 32.00 ROO 34,00 35.00 36.00 37.0017.0018.0019.0020.0021,0022.0023.00 :24.6 •IliInca8ungur •GununiSir>dur •Tajurhal.ng soo JOnggoie •TanJungsari •Tenja •Cileureup •Tenjol.v' •Parung eKemans •Cileungsl •GunungPutri 1500 •• •01>0"""8 8ofongGede 3000 2~~3_ -- - - -- - - - - Ci~W;--- - - - - - - - - - -- -:-Cii<itso.;g----- - - -- -- - - - - - - - -- - - - - - - - - - -- - - - - - - - -- -_. . :. Ciom.. parungPanjang •Dramag. •Rumpin •• SUl<amakmu, j.~lng" • •NangguogCigudeS .. Suk~....j. : •• Tama"$dn Ci"mp~a .Leuwi"'d~ •M~g.mend~ng • CibunttnJlang .. le~wiHang : 3500 7000 A. Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Indeks Kesulitan Geografis (IKG) dalam kerangka P3KE adalah indeks komposit pada level desa/kelurahan yang mengukur “seberapa sulit” suatu wilayah dijangkau dan dilayani; makin tinggi skor IKG, makin besar hambatan akses dan biaya layanan publik. Indeks ini umumnya dibangun dari beberapa dimensi kunci—ketersediaan dan jarak layanan dasar (pendidikan, kesehatan, air bersih), kualitas dan ketersambungan infrastruktur (jalan, jembatan, listrik, internet), serta aksesibilitas/transportasi (kemudahan moda, kondisi medan, musim/cuaca)—yang dinormalisasi ke skala 0–100. Dalam praktik P3KE, IKG dipadankan dengan data kesejahteraan rumah tangga (desil/kategori P3KE) Sumber: https://p3ke.kemenkopm.go.id/ Gambar 5. 1 Lokasi Prioritas Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Bogor - Indeks Kesulitan Geografis Daerah yang dapat diprioritaskan menjadi prioritas pertama yaitu: Kecamatan Sukajaya, Kecamatan Pamijahan, KecamatanCibungbulang, Kecamatan Cijeruk, Kecamatan Nanggung, Kecamatan Cigudeg, Kecamatan Caringin, Kecamatan Sukamakmur, Kecamatan Jasinga, Kecamatan Ciseeng, Kecamatan Rumpin dan Kecamatan Cigombong. •Sukaja~" kuadran(naslonal) .Prlorltasl .Prloritas2 .Prlorltas3 .Prioritils4 16.00 17,00 18.00 19.00 20,00 21,0022.0023.0024.0025.0026,0027.0028.0029.00 30.00 31.00 32.00 33,00 34.00 35.00 36,00 :;"00 VariabellKG :25,1 •TenJo •R.n~iI aungur·: • •• GunungPutri Kern.ng Cil~un8sl •T.nlunl:',,1 •l008801·:Citeureup: •Rumpin •Gunung5lndu. •Tajurhalang •~"rUn8 • T~n)ol.va •Dr.m.g. •Boj<lngGe<le•Ciblnong sao" 1000 1500 2500 •Tomon,ad ·.Clarn~a : ·.Oweng: 3000 2~~3 ..!D-CJa~ _4t . • porun~p"nl"nB (ioma. • •lasing. $ubmokmur ••"'''''Gin •Cisaru. • Naogguog. _. : Me~am~!lduog • C,g~deg Cibungbulang •P.mlJ~h"o •Sukaraja •Cijeruk 5000 6500 7000 B. Indeks Dimensi Pelayanan Dasar Indeks Dimensi Pelayanan Dasar adalah sub-indeks komposit pada level desa/kelurahan yang menilai tingkat kecukupan dan keterjangkauan layanan dasar—terutama pendidikan, kesehatan, air– sanitasi, serta layanan administrasi kependudukan dan perlindungan sosial—untuk rumah tangga miskin dan rentan. Indeks ini dibangun dari indikator kunci yang lazim digunakan di P3KE, meliputi ketersediaan sarana (ada/tidaknya sekolah, puskesmas/poskesdes, sumber air aman, layanan adminduk), aksesibilitas (jarak/waktu tempuh, biaya, frekuensi/jam layanan), daya tampung dan mutu (rasio murid–kelas, tenaga kesehatan– penduduk, ketersediaan obat, kelayakan air dan sanitasi), serta keberfungsian dan pemanfaatan (operasional rutin, tingkat penggunaan oleh kelompok miskin, kejadian stock-out). Sumber: https://p3ke.kemenkopm.go.id/ Gambar 5. 2 Lokasi Prioritas Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Bogor - Indeks Dimensi Pelayanan Dasar Daerah yang dapat diprioritaskan menjadi prioritas pertama yaitu: Kecamatan Pamijahan, Kecamatan Megamendung, Kecamatan Nanggung, Kecamatan Cigudeg, Kecamatan Sukajaya, Kecamatan Cibungbulang, Kecamatan Cisarua, Kecamatan Sukamakmur, 26.00 28.00 30.00 32.00 34.00 36.00 38.00 40.00 42.00 44.00 46.00 .28.00 50.00 52.00 54.00 56.00 c!iu eGunwotISindur • --•r"njo •Ci'eu, ..up •T..,~ •iIoja"8Gede •!'''lUre .: T"njCI~a SOD eKemons •Cileunlsl •vUfIIJI1gPutri •Ob;~•B"b;JkanMadanll 2000 3000 2~El3_- - - - - - - - - -- -- - - -- - - -- - -- Q;'wi- - -- - - -. - -ngOkt-------------------------------_. ~ • ~- •Subjaya kuadran(naslonal) .Prioritasl .Prioritas2 .Prioritas3 .Prioritas4 •Rump;n•.......... • eSubmakmy. h'inga •• Cigud~g •Cibungbutang •Cijeruk c..ri~' • T~m.1n"'" Ciampea: . . :ase..ng •..... •P~rnii""''' 3500 •Mega~u"" Kecamatan Tamansari, Kecamatan Jasinga, Kecamatan Caringin, Kecamatan Rumpin dan Kecamatan Parung Panjang. C. Indeks Dimensi Infrastruktur Indeks Dimensi Infrastruktur adalah sub-indeks komposit pada level desa/kelurahan yang menilai kecukupan dan keterhubungan infrastruktur fisik—jalan/jembatan, listrik, telekomunikasi–internet, permukiman (drainase, jalan lingkungan), serta prasarana transportasi—untuk mendukung aktivitas ekonomi dan akses layanan warga miskin. Indeks dibangun dari indikator inti: kondisi dan keterhubungan jalan (kualitas, keterlaluan musim/banjir, waktu tempuh ke pusat layanan/ekonomi), rasio elektrifikasi dan keandalan pasokan, ketersediaan sinyal/broadband fungsional, kualitas lingkungan permukiman (drainase, penerangan, jalan lingkungan), ketersediaan moda/halte dermaga dan frekuensi layanan, serta paparan risiko bencana yang mengganggu fungsi infrastruktur. Sumber: https://p3ke.kemenkopm.go.id/ Gambar 5. 3 Lokasi Prioritas Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Bogor - Indeks Dimensi Infrastruktur Daerah yang dapat diprioritaskan menjadi prioritas pertama yaitu: Kecamatan Leuwiliang, Kecamatan Cijeruk, Kecamatan kuadran(nasional) .Priorlt!lsl .Prlorltas2 .Prloritas3 .Prioritas4 •Dramaga eCiteureup • •Jcnggol •• lk>jongC;ede • Tanjul1@s.,i B.bakanMad~ng Obinong • Pawng •• RancaBungu, Tenjo .: • KtaP'lnu~ggalTenjolay" • • eTa]u,halang GunungPurri • : .Cileungsl G~unISindu, •Carl" :9.7 0.00 2.00 4,1)0 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16,00 18.00 20.00 22.00 24.00 VariabellKG 3000 2:2~3~ ---- ----------- --~. ----- "t;&ootong-- ; . • Cioma, ParungPanjang •Rumpin•• c•••ng SUk~f.j. •(lampe;} • leuwl,adeng •Jasinga •Sukamakmur Ci.~ru" •Coringin •Cigud"ll•Meilamendung •Cibungbul'ng •leuwilia"$ssoc 7000 Sukajaya, Kecamatan Cibungbulang, Kecamatan Cigudeg, Kecamatan Nanggung, Kecamatan Tamansari, Kecamatan Ciseeng, Kecamatan Leuwisadeng, Kecamatan Jasinga, Kecamatan Sukamakmur dan Kecamatan Rumpin. D. Indeks Dimensi Aksesibilitas Indeks Dimensi Aksesibilitas adalah sub-indeks komposit pada level desa/kelurahan yang mengukur tingkat kemudahan dan keterjangkauan masyarakat terutama rumah tangga miskin dalam mengakses layanan publik, pusat ekonomi, dan fasilitas sosial. Penyusunan indeks mencakup beberapa indikator utama, antara lain jarak dan waktu tempuh ke fasilitas dasar (sekolah, puskesmas, pasar, balai desa), ketersediaan moda dan frekuensi transportasi umum, biaya rata-rata perjalanan menuju layanan penting, serta hambatan topografi atau kondisi alam yang memengaruhi mobilitas warga. Sumber: https://p3ke.kemenkopm.go.id/ Gambar 5. 4 Lokasi Prioritas Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Bogor - Indeks Dimensi Aksesibilitas Daerah yang dapat diprioritaskan menjadi prioritas pertama yaitu: Kecamatan Pamijahan, Kecamatan Nanggung, Kecamatan Cigudeg, Kecamatan Cijeruk, Kecamatan Sukajaya, Kecamatan kuadran(nasional) .Prioritas! Prioritas2 .Prioritas3 .Prloritas4 1.501.401.301.201.10 500 •CII~un~~1 •GunungPulrl1000 1500 •8oJongGede•(fbi",,", •Dra"",~• .: Citeure'!P • •: JM"ol • Tanjuncsarl SaOOkanM.~.ng eTenlo • I Ran", BUlliu, TenJol'va Klap<lnunqal •nJu'hal~ng • cu~uGunul'ILSll'Idur :1,8 1.60 1.70 1.8<) 1,90 2.00 2.10 2000 3000 2~~3_ -- - - -- - - - - - -- - --- - - -- - -- - - -- - - - - - - - - - - - -- - - - - -l'jgOriibO~ - ~wi - - - - - - - - - -- - - -- - - - -_. :. .'aruncPanjang Cioma. •~umpin Tam.n ... ,'. • eCiampe. 4000 ""'"': . :Ca'ingin L;UWi.aden~ •• Ciseeng •S~kil"Y~ • • N~n""",CibungbulanR 5000 CiJef~k 5500 6000 •P~mll·h." 6500 7000 Jasinga, Kecamatan Cisarua, Kecamatan Caringin, Kecamatan Sukamakmur, Kecamatan Cigombong, Kecamatan Sukaraja, Kecamatan Ciseeng dan Kecamatan Rumpin. E. Akses ke Rumah Sakit Bersalin Akses ke Rumah Sakit Bersalin adalah indikator pada level desa/kelurahan yang menilai kemudahan dan keterjangkauan ibu hamil terutama dari keluarga miskin/rentan untuk memperoleh layanan persalinan aman di rumah sakit (termasuk RS PONEK/RSUD). Pengukuran mencakup: jarak dan waktu tempuh ke RS bersalin dalam kondisi normal dan darurat; ketersediaan moda/ambulans dan frekuensi layanan; biaya perjalanan/rujukan relatif terhadap pendapatan miskin; jam operasional dan kesiapsiagaan 24/7; kapasitas dan layanan esensial (ruang bersalin, UGD maternal-neonatal, ketersediaan bidan/dokter, darah/oksitosin, stabilisasi rujukan), serta faktor penghambat geografis/cuaca. Sumber: https://p3ke.kemenkopm.go.id/ Gambar 5. 5 Lokasi Prioritas Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Bogor - Akses ke Rumah Sakit Bersalin Daerah yang dapat diprioritaskan menjadi prioritas pertama yaitu: Kecamatan Pamijahan, Kecamatan Leuwiliang, Kecamatan .Prioritas3 .Prioritas4 Prioritas:2 kuadran(nasional) .Prioritas! •TanJunpart ,KI:panunUill Tenlol~va: .: ClomM 500 1000 • •I(ftna"l! • GununsPutri ale\l~1 •GunungSir.dur •llabakanMadang••Clblnong 2000 3000 2:2~3 ~I"""'''' . •pa,u"lPanjang •Drama,.2500 •Oampea •.~am"ndung •Cibungbulong :1l<!UWis.>denc R~mpin • •: Nanggung •Sub"'Ja 7000 6500 6000 5500 •ujeruk 5000 Cigudeg, Kecamatan Sukajaya, Kecamatan Nanggung, Kecamatan Cibungbulang, Kecamatan Caringin, Kecamatan Leuwisadeng, Kecamatan Tamansari, Kecamatan Ciampea, Kecamatan Ciseeng, Kecamatan Rumpin dan Kecamatan Ciawi. F. Akses ke Puskesmas Akses ke Puskesmas adalah indikator pada level desa atau kelurahan yang menilai sejauh mana masyarakat—terutama rumah tangga miskin dan rentan—dapat menjangkau layanan kesehatan dasar di puskesmas secara cepat, terjangkau, dan berkelanjutan. Indikator ini dibangun dari beberapa komponen utama: jarak dan waktu tempuh menuju puskesmas, ketersediaan moda transportasi dan biaya rata-rata perjalanan, frekuensi dan jam operasional layanan, serta kapasitas dan kelayakan fasilitas (tenaga medis, obat, ruang pelayanan, dan sarana pendukung seperti laboratorium atau ambulans). Sumber: https://p3ke.kemenkopm.go.id/ Gambar 5. 6 Lokasi Prioritas Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Bogor - Akses ke Puskesmas Daerah yang dapat diprioritaskan menjadi prioritas pertama yaitu: Kecamatan Pamijahan, Kecamatan Leuwiliang, Kecamatan Nanggung, Kecamatan Megamendung, Kecamatan Cibungbulang, kUlidran(nlislonal) .PrlorltllSl Prlorltas2 .Prlorlto53 .Prlorltl!ls4 •,__. •~... sao •fen~ •Klop"nun&s>i •_.... •............. -.. '000 '~~'- -- -- -- - ~~~~,:.- - -- - - - - - -- - - -- -- -- -~!.~t-----------.,J.,.,---,!;;--- -- - - -- -- --- -_. • ~- • .--.o...._ • •-. '000 ssoc Kecamatan Caringin, Kecamatan Tamansari, Kecamatan Ciampea, Kecamatan Leuwisadeng, Kecamatan Rumpin, Kecamatan Ciawi, Kecamatan Ciseeng. G. Akses ke Pasar Akses ke Pasar adalah indikator pada level desa atau kelurahan yang menilai kemudahan masyarakat—khususnya rumah tangga miskin dan rentan—dalam menjangkau pasar tradisional atau pusat ekonomi lokal sebagai tempat transaksi jual-beli kebutuhan pokok maupun hasil produksi rumah tangga. Indikator ini disusun dari beberapa komponen utama, antara lain jarak dan waktu tempuh menuju pasar terdekat, ketersediaan dan biaya transportasi, frekuensi hari pasar dan jam operasional, serta kondisi sarana prasarana pasar (akses jalan, penerangan, keamanan, dan sanitasi). Sumber: https://p3ke.kemenkopm.go.id/ Gambar 5. 7 Lokasi Prioritas Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Bogor - Akses ke Pasar Daerah yang dapat diprioritaskan menjadi prioritas pertama yaitu: Kecamatan Leuwiliang, Kecamatan Cigudeg, Kecamatan Nanggung, Kecamatan Megamendung, Kecamatan Cibungbulang, Kecamatan Sukajaya, Kecamatan Caringin, Kecamatan Sukamakmur, Kecamatan Ciampea, Kecamatan Leuwisadeng, Kecamatan Cigombong dan Kecamatan Ciawi. kuadran(nlslonalj .Prioritasl .Prioritas2 .Prioritas3 .Prioritas4 :0.6 •Ci ........ i •Jonuol•TanJunl5arl •O.arn'8a 2000 • 1500 • • •Ci,eeng eRumpin 5ukaraJa 3000 2~~3~1_ - - -- - - - - - -- - - -- - - -- -~- - - -- - - - - - - - - -a,o!DoiiS- -; __ -- -- -- . Cl!n: Paru",PanJ~nB •Coo'ingin•Suka,...!cmur•Jaslng~ •Clampea • L~uwk.Jdftll ea...rua •Cililideg. .. Megamendung •Obull£bulanC •Cijeru~ •leuwiliang •PamlJaIYn 3500 6500 7000 H. Ketersediaan Angkutan Umum Ketersediaan Angkutan Umum adalah indikator pada level desa atau kelurahan yang menilai tingkat kemudahan masyarakat— khususnya rumah tangga miskin dan rentan—dalam memperoleh sarana transportasi publik yang layak, terjangkau, dan beroperasi secara rutin untuk mendukung mobilitas harian menuju pusat layanan dasar maupun aktivitas ekonomi. Pengukuran dilakukan melalui beberapa komponen utama: jumlah dan jenis moda transportasi yang beroperasi secara tetap, frekuensi dan jadwal layanan (jam operasional dan kepastian keberangkatan), jangkauan trayek terhadap wilayah pemukiman, biaya perjalanan rata-rata per kilometer, serta kondisi dan keamanan sarana transportasi. Sumber: https://p3ke.kemenkopm.go.id/ Gambar 5. 8 Lokasi Prioritas Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Bogor - Ketersediaan Angkutan Umum Daerah yang dapat diprioritaskan menjadi prioritas pertama yaitu: Kecamatan Megamendung, Kecamatan Cigudeg, Kecamatan Cijeruk, Kecamatan Sukajaya, Kecamatan Jasinga, Kecamatan Cisarua, Kecamatan Jasinga, Kecamatan Sukamakmur, Kecamatan Persentase Penduduk Miskin Ekstrem yang Masih Bersekolah 302S201510 50 CIGUDfro SUKAMAKMUR • • \_ NANGGUNG • S1IVAOAV_" CIJERUK .-'mW1'LIANG 500 Caringin, Kecamatan Ciseeng, Kecamatan Rumpin, Kecamatan Sukaraja dan Kecamatan Cigombong. I. Bidang Pendidikan Berdasarkan analisa kuadaran wilayah yang memiliki persentase penduduk yang masih bersekolah dan keluarga miskin ekstren terbanyak berada pada Kecamatan Sukajaya, Cijeruk, Leuwiliang, Cigudeg, Sukamakmur, Nanggung, Pamijahan, Megamendung. Oleh karena itu wilayah ini menjadi sasaran prioritas untuk pemberian beasiswa agar siswa miskin tidak putus sekolah. Sumber : Data Padan P3KE dan DTKS (2024) Gambar 5. 9 Analisa Kuadran Penduduk Sasaran Miskin Eksterem Tahun 2025 Kabupaten Bogor yang Masih Bersekolah Adapun di beberapa Kecamatan seperti Cijeruk, Sukajaya, Lewuiliang, Sukamakmur, Cigudeg, Nanggung, Rumpin, Pamijahan dan Megamendung merupakan wilayah dengan penduduk miskin ekstrem yang tidak menamatkan pendidikan dasar sehingga dapat diprioritaskan untuk program kejar paket pendidikan. Persentase Penduduk Miskin Ekstrem yang Tidak Tamat SD/SMP 100806040 o • GUNUNGPUTRI o 20 50 5UKAMAKMUR E400 '" ...._-- CIGUDEG ~~ . ~ W \..._NANGGUNG c ~ 300 PAMIJAHAN • RUMPIN ~ 250 _._~ it 200 e---------------------~~-------------.~••~~~N~~~~!~~-.~~A::~::NG ~~ . ~ E • GSARI ~ 100 • DRfI~~G .~8t;Al "~~!lUR 450 500 Sumber : Data Padan P3KE dan DTKS (2024) Gambar 5. 10 Analisa Kuadran Penduduk Sasaran Miskin Ekstrem Tahun 2025 Kabupaten Bogor yang Tidak Tamat Pendidikan Dasar J. Bidang Kesehatan Salah satu fokus peningkatan akses dan layanan kesehatan adalah pemberian jaminan kesehatan dan penanggulangan stunting. Wilayah yang menjadi prioritas untuk pemberian subsidi jaminan kesehatan adalah wilayah yang memiliki jumlah penduduk miskin ekstrem terbesar dan persentase penduduk yang belum menjadi peserta PBI (Penerima Bantuan Iuran) yang banyak. Wilayah yang dapat diprioritaskan menjadi prioritas utama diantaranya adalah Kecamatan Cijeruk, Kecmatan Sukajaya, Kecamatan Leuwiliang, Kecamatan Sukamakmur, Kecamatan Cigudeg, Kecamatan Nanggung, Kecamatan Rumpin, Kecamatan Pamijahan, Kecamatan Megamendung. Namun demikian dalam rangka pemenuhan target UHC (Universal Health Coverage) 100% maka diuypayakan semua penduduk miskin ekstrem mendapatkan bantuan subdisi jaminan kesehatan, dan penduduk yang tidak lagi layak menerima subsidi dapat dikeluarkan dari data penerima bantuan. 80 LEUWlSADENG --n~ Kl.APANUN • PARUNG PANJANG / • ~~. CIOMAS CIBINONG ~ABAKAN MAD~ DRAMAGA GOl • CfTEU,REUP ~ •• PAR~%OJO G RIU --...GUNUNG_f> URHAlANG W ~ ~ ~ ro M Persenrase Keluarga Miskin Ekstrem yang Berisiko Stunting 10 .S~NG UEUWlllANG _....-v--- CUERUK PAMlJAH.W-- SUKAMAKMUR NANGGUNG __.-:: RUMPI~ CIGUDEG .. SUKAIAYA --- 1200 1000 E ~ ~ 800 c ~ ~ c: E 600 .;: ~ =>a; "'" 400 ~ '"E ~ 200 0 0 Persentase Penduduk Sasaran Miskin Ekstrem yang belum menjadl PSI (Penerima Santuan luran) so40302010 CltlEUNG51 60 • CITEUREUP • RUMPIN PAMIJ~AN 'I MEGAME ~DUNG 5UKAMAK.,UR. CIGUDEG _ NANGGUNG + ~ S-llflW,K • LE~w'iH~G' 500 450 E 400 e ~ 350 c ~ ~ 300 c ~ :J! 250 1. '"V> '"l!."200 '":> (ij "" 150 ~ '"E 100 ~ 50 10 0 Sumber : Data Padan P3KE dan DTKS (2024) Gambar 5. 11 Analisa Kuadran Penduduk Sasaran Miskin Ekstrem Tahun 2025 Kabupaten Bogor yang Tidak Menerima PBI Sumber : Data Padan P3KE dan DTKS (2024) Gambar 5. 12 Analisa Kuadran Penduduk Sasaran Miskin Ekstrem Tahun 2025 Kabupaten Bogor yang Beresiko Stunting K. Bidang Ketemagakerjaan Wilayah yang menjadi prioritas untuk pemberdayaan masyarakat dan peningkatan ekonomi masyarakat dalam bentuk pelatihan tenaga kerja maupun perluasan kesempatan kerja akan difokuskan pada wilayah-wilayah dengan jumlah penduduk miskin ekstrem terbanyak dan persentase penduduk tidak bekerja terbesar. Wilayah-wilayah tersebut adalah Kecamatan Cijeruk, Kecamatan Persentase Penduduk Miskin Ekstrem Tidak Bekerja s: 100~ E ~ 50 • O~ 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 • RUMPIN PAMU,HANlEGAMENDUNG SUKAMAIjMU~ OGUDEG e- NANGGUNG E 450 ~400 ~ w ~ 350 ~ ~300 c ~ : 250 ~ '" ~200 ~ ~ 150 "" SOIl Sukajaya, Kecamatan Sukamakmur, Kecamatan Cigudeg, Kecamatan Nanggung, Kecamatan Rumpin, Kecamatan Pamijahan dan Kecamatan Megamendung. Sumber : Data Padan P3KE dan DTKS (2024) Gambar 5. 13 Analisa Kuadran Penduduk Sasaran Miskin Ekstrem Tahun 2025 Kabupaten Bogor yang Tidak Bekerja .ORAMAGA • BABAKANMAOANG • TAI4A+W~~~OI.AYA CILEUNGSlKEJ!,,~~~UTRI 50 60 70 80 90 100 • MEGAMENOUNi RUMPIN PAMU~ SU~UR -NANGGUNG • CIGUQEG o 40 Persentase Penduduk Miskin Ekstrem Vanl Menladl Peke,ja lnfo,mal 302010 o • OJERUK • lfUWlUANG • SUKAJAVA 50 450 500 e400 ~ 8350 c: :x ~300 c: I!: ~ 250 ~ ._----------------------~~----~----------------_e '"~ ~200 ~ .. ~ 150 ~ E .=: 100 Sumber : Data Padan P3KE dan DTKS (2024) Gambar 5. 14 Analisa Kuadran Penduduk Sasaran Miskin Ekstrem Tahun 2025 Kabupaten Bogor yang Merupakan Pekerja Informal (Petani, Nelayan, Pedagang, Pekerja Lepas) L. Hunian Layak Sasaran prioritas program perbaikan rumah tidak layak huni dapat ditentukan melalui kondisi kelayakan dinding dan lantai. Wilayah yang menjadi prioritas perbaikan rumah tidak layak huni diantaranya adalah Kecamatan Sukajaya, Kecamatan Sukamakmur dan Kecamatan Rumpin karena jumlah keluarga miskin estrem banyak dan jumlah keluarga yang memiliki dinding dan lantai tidak layak juga banyak. persentasi~eluarga MJski~kstrem dengfr?lanta; RumahS?idaklayak o BINONG .. • TANJUNGSARI .._ SUKAMAKMUR • CUERUK .- LEUWIUANG PAMIJAHAN • ..- CIGUDElfuM~ NAN UNG MEGAMEN~NG LEUWISADENG • ..UlOONG ~ PARUNG ... "~DI • PANJANG ~A BASAKMlTENJ<XlAP ~l -r-SUKAJAYA • • CARIU o Persentase Keluarga Miskin Ekstrem dengan Dinding Rumah TIdak lavak 6050302010o 100 TANJUNGSARI .-- __MEGAMENIi1NG LEUIIVlSADENG .~~~ENG "~A • PARUNG 1200 Elooo g ~ ii'j ~800 ~ ~ e ~ ~600 ~ '"to ~ .. .2400 :. L .!! ~2oo .CARIU 70 o SllkAMAxMUR «: LEUIIVlWJNG 80 I=-SUXAJA'tA. • • OJERUK PAMUAHAN ·..-OGUDEG uoo c e 600~ ~ ~ '"~ ~ ~ 400 " '"'"L ~ E 200 ~ ~ lCXX) ~ ~ w c ~800 ~ Sumber : Data Padan P3KE dan DTKS (2024) Gambar 5. 15 Analisis Kuadran Penduduk Sasaran Miskin Ekterim Tahun 2025 Kabupaten Bogor yang Tidak Memiliki Dinding Rumah Layak Sumber : Data Padan P3KE dan DTKS (2024) Gambar 5. 16 Analisa Kuadran Penduduk Sasaran Miskin Ekstrem Tahun 2025 Kabupaten Bogor yang Tidak Memilki Lantai Rumah Layak M. Air Minum Layak Sasaran prioritas program penyediaan sistem air minum layak adalah pada wilayah dengan jumlah rumah tangga yang tidak memiliki Persentase Keluarga Miks-in Ekstrem dengan Fasilitas Air Minum Tidak layak 70605040302010 SU~MUR • lEUWlUANG 4IIf"'"_.PAMUAHAN .- ClGUDEG • RUMPIN 80 • SUKAJAYA • CIJERUK 1200 1000 E ~ to ~ t.u c 800 :a ~ c e ~ 600~ ~ '"~ !!!' ~ .2 400 '" '"s: ~ E ~ 200 0 0 sumber air minum layak terbanyak dam jumlah keluarga miskin ekstrem terbesar. Wilayah-wilayah tersebut adalah Kecamatan Sukajaya, Kecamatan Sukamakmur, Kecamatan Pamijahan, Kecamatan Cigudeg dan Kecamatan Rumpin. Sumber : Data Padan P3KE dan DTKS (2024) Gambar 5. 17 Analisa Kuadran Keluarga Sasaran Miskin Eksterim Tahun 2025 Kabupaten N. Sanitasi Sasaran prioritas program penyediaan sanitasi layak adalah pada wilayah dengan jumlah rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas buang air besar yang layak terbanyak dam jumlah keluarga miskin ekstrem terbesar. Wilayah-wilayah tersebut adalah Kecamatan Sukajaya, Kecamatan Cijeruk, Kecamatan Leuwiliang, Kecamatan Pamijahan, Kecamatan Sukamakmur, Kecamatan Rumpin dan Kecamatan Nanggung. 90so706050 CUERUKLEUWILIANG . ...- PAMUAHAN .- aGutE~ SUKAMAKMUR • RU~IIl'ANGGUNG 40 Persentase Keluarga Miskin EKstrem yang Tidak Memiliki Fasilitas BAS lavak 302010 MEGAMENOli ~ lE~_SADENG • CARING"'OM80I~. J~~'l' OBUNGBU~tJilSEENG .. -aG _. ,- TANJUNGSARI • 0-"" PARUN<O.PANJANG • TAMANSA I ... ··CIAMPE" KLAPANUNGGAl • sU~ ~_A ~ T~£lgMAS OBINONG... • IIABAJ(AN MDANG • DRAMP.GA \ "'l CITEUREUP RANCA BUNGUR II•• BOJONGGEOE• PARUNG TAJURliAlANG • ~~~'1ft;~ ... CILE~lJN~2U11U- 1200 E 1000 ~ ~ w c 800 :a ~ c e ~ 600.., '"~ ""'0 ""'0 C 4()().. 0.. .<: .. ~ 200 0 0 Sumber : Data Padan P3KE dan DTKS (2024) Gambar 5. 18 Analisa Kuadran Keluarga Sasaran Miskin Ekstrem Tahun 2025 Kabupaten Bogor yang Tidak Memiliki Fasilitas BAB Layak Monitoring berperan sebagai proses pengamatan yang dilakukan secara terus menerus terhadap pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan, guna menilai konsistensi pelaksanaan terhadap rencana awal. Informasi dari proses monitoring menjadi dasar pengambilan keputusan taktis dan operasional dalam jangka pendek. Sebaliknya, evaluasi berfokus pada penilaian yang lebih mendalam terhadap hasil dan manfaat program secara keseluruhan. Evaluasi menilai apakah strategi yang diterapkan relevan, efektif, efisien, serta memiliki keberlanjutan dan dampak jangka panjang terhadap masyarakat miskin. Keduanya saling melengkapi dalam siklus pembangunan dan menjadi dasar penting bagi pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence-based policy making). B. Instrumen Monitoring dan Evaluasi Monitoring dan evaluasi (monev) merupakan komponen integral dalam siklus perencanaan dan pelaksanaan kebijakan penanggulangan kemiskinan. Dalam konteks Rencana Penanggulangan Kemiskinan Daerah (RPKD), fungsi monev tidak hanya bertujuan menilai capaian program, tetapi juga menjadi alat navigasi untuk mengarahkan strategi agar tetap adaptif, akuntabel, dan berbasis hasil (result-based). Efektivitas monev sangat bergantung pada ketersediaan instrumen yang tepat serta koordinasi antar- pelaksana yang solid, terutama dalam ekosistem kelembagaan daerah. Instrumen utama dalam monev penanggulangan kemiskinan meliputi sejumlah komponen yang saling melengkapi. Pertama, indikator kinerja penanggulangan kemiskinan baik makro seperti tingkat kemiskinan dan indeks keparahan, maupun mikro seperti persentase rumah tangga dengan akses sanitasi aman menjadi tolok ukur utama evaluasi. Kedua, penggunaan dashboard data terintegrasi memungkinkan pelacakan kinerja antar-sektor secara real time dan spasial. Ketiga, pemanfaatan sistem data P3KE (Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem) memberikan informasi by name by address yang akurat sebagai dasar perencanaan dan monev berbasis keluarga. Keempat, laporan kinerja rutin dari organisasi perangkat daerah (OPD) teknis merupakan elemen wajib dalam monev berkala. Kelima, forum koordinasi dan desk monev menjadi media deliberatif dalam menyinergikan hasil capaian dan mengidentifikasi kendala pelaksanaan. Instrumen pelengkap lainnya mencakup survei umpan balik dari masyarakat serta evaluasi tematik dan independen yang dapat memperkaya perspektif terhadap efektivitas intervensi. Dari sisi kelembagaan, aktor utama yang bertanggung jawab dalam monev adalah Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD), yang dipimpin oleh Wakil Kepala Daerah. TKPKD berperan strategis dalam mengoordinasikan pelaksanaan program lintas sektor, mengonsolidasikan laporan dari OPD, dan memastikan konvergensi program berbasis data P3KE. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) bertindak sebagai sekretariat TKPKD sekaligus pengendali teknis perencanaan dan evaluasi program. OPD teknis seperti Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan Dinas Tenaga Kerja menjalankan monitoring sektoral serta menyampaikan laporan capaian secara periodik. Inspektorat Daerah turut melakukan pengawasan dan audit pelaksanaan kegiatan, khususnya terkait akuntabilitas penggunaan anggaran. Pelibatan unsur non-pemerintah seperti perguruan tinggi, LSM, dan media juga menjadi bagian dari monev partisipatif yang memperkuat transparansi dan akuntabilitas publik. Secara keseluruhan, mekanisme monitoring dan evaluasi dalam penanggulangan kemiskinan membutuhkan dukungan instrumen yang memadai dan tata kelola kelembagaan yang kolaboratif. Hal ini sejalan dengan pendekatan RPKD yang menekankan pentingnya konvergensi, integrasi data, serta pelibatan multipihak dalam memastikan efektivitas program. Tanpa sistem monev yang kuat, intervensi penanggulangan kemiskinan berisiko tidak tepat sasaran, tidak terukur, dan tidak berkelanjutan. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu terus mendorong inovasi sistem monev, memperkuat kapasitas kelembagaan, serta menjadikan hasil evaluasi sebagai dasar perbaikan kebijakan yang berbasis bukti (evidence-based policy). BUPATI BOGOR ttd. RUDY SUSMANTO Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN BOGOR KEPALA BAGIAN PERUNDANG-UNDANGAN, MUHAMMAD ZULHAM NASUTION