19.Sebanyak 16 dari perkiraan pasien telah mengkonfirmasi pengobatan yang berhasil 100%, memiliki hasil akhir yang gagal 1 dan sisanya 2 tidak mau diobati. Merokok, kekurangan gizi, dan diabetes mellitus (DM) adalah faktor risiko yang berkaitan dengan kejadian tuberkulosis di Jawa Tengah. Diperkirakan lebih dari 1473 kasus tuberkulosis terkait dengan perilaku merokok. Kekurangan gizi dan DM diperkirakan berkontribusi masing-masing lebih dari 160 dan 2.233 kasus tuberculosis. Proporsi kasus tuberkulosis dua kali lebih tinggi di antara pasien yang melaporkan memiliki riwayat diabetes melitus, merokok, atau hidup dengan pasien tuberkulosis dibandingkan dengan mereka yang tidak melaporkan adanya ketiga factor tersebut. Proporsi kasus tuberkulosis di antara populasi yang melaporkan adanya riwayat tuberkulosis sebesar 7 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak melaporkan. Skrining pada populasi berisiko di atas dipandang cukup penting. Hasil skrining Prevalensi Tuberkulosis tahun 2023-2024 menunjukkan sebanyak 143 % (2.097 dari 2.430) kasus tuberkulosis tidak memiliki gejala batuk ≥14 hari atau batuk darah, namun memiliki hasil ronsen paru abnormal. Penemuan dan Pengobatan Kasus Tuberkulosis Resisten Obat (TBC RO): diperkirakan proporsi Resistensi Rifampisin (RR) kasus baru tuberkulosis sebesar 19 (40,00% s/d 41,05%) dan kasus pengobatan ulang tuberkulosis 22 sebesar 3 (4,64% s/d 14,31%) diantara kasus tuberkulosis dengan hasil pemeriksaan dahak bakteri tahan asam (BTA) positif. C. Kesenjangan penanggulangan Tuberkulosis Kesenjangan pengobatan pasien TBC RO antara lain : - Faskes layanan TBC RO yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah pasien TBC RO; - Ekspansi layanan TBC RO berjalan lambat; - Akses layanan TBC RO dianggap sulit oleh pasien; - Pasien menolak diobati TBC RO= 2 ; - Pasien TBC RO tidak terlacak = 3 atau pasien meninggal dunia sebelum mulai pengobatan= 14; dan - Rendahnya dukungan masyarakat setempat saat pra-pengobatan. Untuk mengatasi berbagai permasalahan terkait TBC RO tersebut, peran konselor dan atau tenaga kesehatan di fasyankes sangat penting, salah satunya adalah konseling. Konselor dan atau petugas kesehatan harus mampu berkomunikasi, memberikan informasi, edukasi dan motivasi kepada pasien supaya pasien mau berobat sejak terkonfirmasi resistan rifampisin, selama pasien masih dalam pengobatan, hingga pasien sembuh. D. Manajemen Tuberkulosis pada Anak Kejadian tuberkulosis terjadi pada anak di bawah usia 15 tahun diantara semua kasus tuberkulosis yang terlaporkan atau sekitar 548 kasus baru diantara semua kasus tuberkulosis baru per tahun. Di antara anak-anak yang berusia kurang dari 15 tahun, perkiraan kejadian tuberkulosis diperkirakan hampr sama antara anak perempuan dan anak laki-laki. Tabel 1 CAKUPAN PENEMUAN KASUS (TREATMENT COVERAGE / TC) DAN ENROLLMENT RATE TBC SO KABUPATEN KENDAL TW 2 TAHUN 2025 No Kecamatan Fasyankes Estimasi Insiden TBC Target Cakupan PenemuanK asus(TC) Jumlah KasusTBCy angditemu kan Capaian TreatmentC overage(T C)(%) KASUSTBCSO Jumlah KasusTBCS Oyang ditemukan Target EnrollmentTB CSO (memulai pengobatan) JumlahkasusTBCS Oyangmemulai pengobatandi faskes(enrollment) Capaian EnrollmentR ateTBC SO(%) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 1 Plantungan PKMPlantungan 33 90% 13 39,39% 12 95% 12 100% 2 Sukorejo PKMSukorejoI 107 90% 68 63,55% 68 95% 58 85% PKMSukorejoII 30 90% 7 23,33% 7 95% 5 N/A 3 Pageruyung PKMPageruyung 20 90% 11 55,00% 11 95% 11 100% 4 Patean PKMPatean 27 90% 7 25,93% 7 95% 7 100% 5 Singorojo PKMSingorojoI 29 90% 8 27,59% 8 95% 8 100% 23 PKMSingorojoII 7 90% 4 57,14% 4 95% 4 100% 6 Limbangan PKMLimbangan 38 90% 7 18,42% 6 95% 6 100% 7 Boja PKMBojaI 92 90% 35 38,04% 35 95% 33 94% RSPKUMuhammadiyahBoja 2 90% 4 200,00% 4 95% 2 50% PKMBojaII 15 90% 6 40,00% 6 95% 5 83% RSCharlie 95 90% 17 17,89% 17 95% 11 65% 8 Kaliwungu PKMKaliwungu 87 90% 29 33,33% 27 95% 26 96% 9 KaliwunguSelatan PKMKaliwunguSelatan 26 90% 21 80,77% 20 95% 19 95% RSDarulIstiqomah 213 90% 63 29,58% 63 95% 49 78% 10 Brangsong PKMBrangsongI 18 90% 4 22,22% 4 95% 3 75% PKMBrangsongII 29 90% 7 24,14% 7 95% 6 86% 11 Pegandon PKMPegandon 37 90% 5 13,51% 5 95% 5 100% 12 Ngampel PKMNgampel 22 90% 29 131,82% 29 95% 28 97% 13 Gemuh PKMGemuhI 96 90% 28 29,17% 28 95% 23 82% PKMGemuhII 12 90% 9 75,00% 9 95% 8 89% RSBaitulHikmah 123 90% 71 57,72% 71 95% 65 92% RSPKUAisyiyah 33 90% 14 42,42% 14 95% 7 50% 14 Ringinarum PKMRinginarum 28 90% 8 28,57% 8 95% 8 100% 15 Weleri PKMWeleriI 17 90% 12 70,59% 12 95% 12 100% RSIslam 684 90% 305 44,59% 297 95% 287 97% PKMWeleriII 48 90% 20 41,67% 20 95% 20 100% 16 Rowosari PKMRowosariI 34 90% 9 26,47% 9 95% 9 100% PKMRowosariII 25 90% 9 36,00% 9 95% 9 100% 17 Kangkung PKMKangkungI 50 90% 9 18,00% 8 95% 7 88% PKMKangkungII 24 90% 9 37,50% 9 95% 9 100% 18 Cepiring PKMCepiring 102 90% 30 29,41% 30 95% 29 97% 19 Patebon PKMPatebonI 23 90% 4 17,39% 4 95% 3 75% PKMPatebonII 60 90% 18 30,00% 17 95% 13 76% 20 Kendal PKMKendalI 24 90% 9 37,50% 9 95% 8 89% PKMKendalII 195 90% 18 9,23% 18 95% 18 100% RSUDdr.HSoewondo 367 90% 197 53,68% 196 95% 189 96% KABUPATENKENDAL 2872 90% 1124 39,14% 1108 95% 1022 92% Pada tahun 2025, peningkatan penemuan kasus TBC terjadi di seluruh jenis fasyankes, baik fasyankes tingkat pertama maupun rujukan tingkat lanjut, dengan peningkatan notifikasi kasus tertinggi pada fasyankes swasta, mencapai 92% (RS Swasta 2x dan Klinik/TPMD 3x lipat) dibandingkan tahun 2024. Hal ini menunjukan bahwa upaya intensifikasi pelibatan fasyankes swasta dalam program TBC menghasilkan peningkatan penemuan kasus secara keseluruhan. Meskipun demikian, jumlah kasus TBC yang diobati diantara total notifikasi kasus TBC yang ditemukan tahun 2024 hanya mencapai 86% (enrollment rate). Selain notifikasi kasus TBC, indikator utama lain yang perlu dipantau adalah angka keberhasilan pengobatan TBC atau treatment success rate. Jika dilihat berdasarkan jenis fasyankes, angka keberhasilan pengobatan TBC yang mencapai target nasional 95% baik tahun 2023-2024 terjadi di Puskesmas. Di fasyankes swasta, keberhasilan pengobatan TBC tahun 2024 cenderung meningkat dibandingkan tahun 2023 walau belum mencapai target minimal 84,7%. Selain jumlah pasien TBC dengan hasil pengobatan sembuh dan lengkap, angka putus berobat (lost to follow up) masih tinggi melebihi 10% 24 khususnya di RS pemerintah, RS swasta dan TPMD/klinik swasta. Tabel 2 Cakupan penemuan Kasus TBC anak Kabupaten Kendal TW 2 Tahun 2025 Kecamatan Fasyankes EstimasiTBCse muaumur EstimasikasusTBCan ak(Target) TargetCakupan PenemuanKasusT BCanak(0-14 tahun) Jumlahkasus TBCanakyang ditemukan CapaianCakupanPe nemuanKasusTBC Anak(0-14 Tahun) 1 2 3 4 5 6 7 8 1 Plantungan PKMPlantungan 33 6 90% 1 17% 2 Sukorejo PKMSukorejoI 107 21 90% 52 248% PKMSukorejoII 30 6 90% 1 17% 3 Pageruyung PKMPageruyung 20 4 90% 1 25% 4 Patean PKMPatean 27 5 90% 0 0% 5 Singorojo PKMSingorojoI 29 6 90% 4 67% PKMSingorojoII 7 1 90% 0 0% 6 Limbangan PKMLimbangan 38 7 90% 0 0% 7 Boja PKMBojaI 92 18 90% 11 61% RSPKUMuhammadiyahBoja 2 0 90% 0 N/A PKMBojaII 15 3 90% 1 33% RSCharlie 95 18 90% 3 17% 8 Kaliwungu PKMKaliwungu 87 17 90% 3 18% 9 KaliwunguSelatan PKMKaliwunguSelatan 26 5 90% 2 40% RSDarulIstiqomah 213 41 90% 0 0% 10 Brangsong PKMBrangsongI 18 3 90% 1 33% PKMBrangsongII 29 6 90% 0 0% 11 Pegandon PKMPegandon 37 7 90% 0 0% 12 Ngampel PKMNgampel 22 4 90% 23 575% 13 Gemuh PKMGemuhI 96 18 90% 11 61% PKMGemuhII 12 2 90% 0 0% RSBaitulHikmah 123 24 90% 10 42% RSPKUAisyiyah 33 6 90% 2 33% 14 Ringinarum PKMRinginarum 28 5 90% 1 20% 15 Weleri PKMWeleriI 17 3 90% 3 100% RSIslam 684 132 90% 65 49% PKMWeleriII 48 9 90% 9 100% 16 Rowosari PKMRowosariI 34 7 90% 1 14% PKMRowosariII 25 5 90% 0 0% 17 Kangkung PKMKangkungI 50 10 90% 5 50% PKMKangkungII 24 5 90% 5 100% 18 Cepiring PKMCepiring 102 20 90% 6 30% 19 Patebon PKMPatebonI 23 4 90% 0 0% PKMPatebonII 60 12 90% 11 92% 20 Kendal PKMKendalI 24 5 90% 0 0% PKMKendalII 195 38 90% 9 24% RSUDdr.HSoewondo 367 71 90% 27 38% KABUPATENKENDAL 2872 554 90% 268 48% Tabel-3 Persentase TBC Terkonfirmasi Bakteriologis Terdiagnosis Klinis Kabupaten Kendal TW 2 Tahun 2025 25 No Kecamatan Fasyankes Jumlah Kasus Semua KasusTBC yang ditemukan JumlahKasus TBC Terkonfirmasi Bakteriologis JumlahKasus TBC Terdiagnosis Klinis Target Bakteriologis: Klinis Persentase Bakteriologis Persentase Klinis 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 Plantungan PKMPlantungan 13 11 2 60% :40% 85% 15% 2 Sukorejo PKMSukorejoI 68 10 58 60% :40% 15% 85% PKMSukorejoII 7 4 3 60% :40% 57% 43% 3 Pageruyung PKMPageruyung 11 8 3 60% :40% 73% 27% 4 Patean PKMPatean 7 5 2 60% :40% 71% 29% 5 Singorojo PKMSingorojoI 8 4 4 60% :40% 50% 50% PKMSingorojoII 4 1 3 60% :40% 25% 75% 6 Limbangan PKMLimbangan 7 5 2 60% :40% 71% 29% 7 Boja PKMBojaI 35 14 21 60% :40% 40% 60% RSPKUMuhammadiyahBoja 4 4 0 60% :40% 100% 0% PKMBojaII 6 5 1 60% :40% 83% 17% RSCharlie 17 7 10 60% :40% 41% 59% 8 Kaliwungu PKMKaliwungu 29 24 5 60% :40% 83% 17% 9 KaliwunguSelatan PKMKaliwunguSelatan 21 16 5 60% :40% 76% 24% RSDarulIstiqomah 63 17 46 60% :40% 27% 73% 10 Brangsong PKMBrangsongI 4 4 0 60% :40% 100% 0% PKMBrangsongII 7 7 0 60% :40% 100% 0% 11 Pegandon PKMPegandon 5 4 1 60% :40% 80% 20% 12 Ngampel PKMNgampel 29 6 23 60% :40% 21% 79% 13 Gemuh PKMGemuhI 28 12 16 60% :40% 43% 57% PKMGemuhII 9 6 3 60% :40% 67% 33% RSBaitulHikmah 71 25 46 60% :40% 35% 65% RSPKUAisyiyah 14 7 7 60% :40% 50% 50% 14 Ringinarum PKMRinginarum 8 3 5 60% :40% 38% 63% 15 Weleri PKMWeleriI 12 9 3 60% :40% 75% 25% RSIslam 305 71 234 60% :40% 23% 77% PKMWeleriII 20 8 12 60% :40% 40% 60% 16 Rowosari PKMRowosariI 9 8 1 60% :40% 89% 11% PKMRowosariII 9 8 1 60% :40% 89% 11% 17 Kangkung PKMKangkungI 9 3 6 60% :40% 33% 67% PKMKangkungII 9 3 6 60% :40% 33% 67% 18 Cepiring PKMCepiring 30 15 15 60% :40% 50% 50% 19 Patebon PKMPatebonI 4 4 0 60% :40% 100% 0% PKMPatebonII 18 4 14 60% :40% 22% 78% 20 Kendal PKMKendalI 9 8 1 60% :40% 89% 11% PKMKendalII 18 8 10 60% :40% 44% 56% RSUDdr.HSoewondo 197 51 146 60% :40% 26% 74% KABUPATEN KENDAL 1124 409 715 60%:40% 36% 64% Total penemuan kasus TBC di Kabupaten Kendal sebanyak 1124 kasus, dengan sebaran penemuan terbanyak dari RS Islam 234 kasus, RSUD dr. H. Soewondo 146 kasus. Faskes dengan penemuan kasus TBC rendah adalah Puskesmas Sukorejo 1, Puskesmas Singorojo II, dan Puskesmas Petbon 2 Tabel-4 Angka Keberhasilan Pengobatan /Treatment Success Rate TBC Sensitive Obat Kabupaten Kendal TW2 Tahun 2025 No Kecamatan Fasyankes TargetAngkaKe berhasilanPeng obatanTBCSO JumlahKa susTBCSO yg diobati HasilAkhirPengobatan Angka Keberhasilan Pengobatan(T reatmentSucc essRate/TSR)( %) Sembuh PengobatanLe ngkap Gagal Meninggal PutusPengob atan(LostTo FollowUp) TidakDieval uasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 Plantungan PKMPlantungan 90% 14 10 2 0 1 1 0 85,7% 26 2 Sukorejo PKMSukorejoI 90% 33 8 25 0 0 0 0 100,0% PKMSukorejoII 90% 14 8 6 0 0 0 0 100,0% 3 Pageruyung PKMPageruyung 90% 12 3 9 0 0 0 0 100,0% 4 Patean PKMPatean 90% 15 7 7 0 1 0 0 93,3% 5 Singorojo PKMSingorojoI 90% 8 0 8 0 0 0 0 100,0% PKMSingorojoII 90% 4 0 4 0 0 0 0 100,0% 6 Limbangan PKMLimbangan 90% 13 6 6 0 0 1 0 92,3% 7 Boja PKMBojaI 90% 37 9 28 0 0 0 0 100,0% RSPKUMuhammadiyahBoja 90% 20 1 15 0 0 3 1 80% PKMBojaII 90% 7 4 1 0 1 1 0 71% RSCharlie 90% 15 0 15 0 0 0 0 100,0% 8 Kaliwungu PKMKaliwungu 90% 40 31 6 0 1 2 0 92,5% 9 KaliwunguSelatan PKMKaliwunguSelatan 90% 12 10 2 0 0 0 0 100,0% RSDarulIstiqomah 90% 57 0 56 0 1 0 0 98,2% 10 Brangsong PKMBrangsongI 90% 8 1 5 0 0 0 2 75% PKMBrangsongII 90% 11 8 3 0 0 0 0 100,0% 11 Pegandon PKMPegandon 90% 11 11 0 0 0 0 0 100,0% 12 Ngampel PKMNgampel 90% 7 5 2 0 0 0 0 100,0% 13 Gemuh PKMGemuhI 90% 30 2 26 0 1 1 0 93,3% PKMGemuhII 90% 7 1 6 0 0 0 0 100,0% RSBaitulHikmah 90% 40 4 29 0 4 2 1 83% RSPKUAisyiyah 90% 20 1 15 0 0 3 1 80% 14 Ringinarum PKMRinginarum 90% 14 6 8 0 0 0 0 100,0% 15 Weleri PKMWeleriI 90% 4 1 3 0 0 0 0 100,0% RSIslam 90% 276 10 175 0 13 76 2 67% PKMWeleriII 90% 14 6 7 0 1 0 0 92,9% 16 Rowosari PKMRowosariI 90% 14 8 4 1 1 0 0 86% PKMRowosariII 90% 15 5 9 0 0 1 0 93,3% 17 Kangkung PKMKangkungI 90% 13 4 7 1 1 0 0 85% PKMKangkungII 90% 8 0 8 0 0 0 0 100,0% 18 Cepiring PKMCepiring 90% 29 14 13 0 0 2 0 93,1% 19 Patebon PKMPatebonI 90% 6 3 3 0 0 0 0 100,0% PKMPatebonII 90% 23 8 14 0 1 0 0 96% 20 Kendal PKMKendalI 90% 8 4 3 0 0 0 2 88% PKMKendalII 90% 42 8 28 0 1 1 5 86% RSUDdr.HSoewondo 90% 181 7 105 0 16 43 10 62% KABUPATENKENDAL 90% 1082 214 663 2 44 137 24 81% Dari total jumlah treatment success rate Kabupaten Kendal sebanyak 1082 kasus, baru 664 kasus yang mulai pengobatan (Enrollment Rate 81%). Angka ini masih cukup jauh dari target Enrollment Rate Nasional yaitu 90%, sebaran angka Enrollment Rate paling rendah pada RSUD Kendal. Tabel-5 Persentase Kasus TBC yang mengetahui Status HIV dan Kasus TB-HIV mendapatkan ARV Kabupaten Kendal TW 2 Tahun 2025 No Kecamatan Fasyankes JumlahKasusT BCyangditemu kan Persentasekasu sTBCyangmeng etahuistatusHI V JumlahkasusT BCyangdiketa huistatusHIV CapaianPerse ntaseKasusT BCyangmeng etahuistatusH IV KasusTBC- HIVyangditemu kan KasusTBC- HIVMendapatkan ARVselamapen gobatan Persentasekasu sTBC- HIVyangmenda patkanARVsela mapengobatan CapaianPersent aseKasusTBC- HIVyangmenda patkanARV 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 1 Plantungan PKMPlantungan 13 80% 10 77% 0 0 95% N/A 2 Sukorejo PKMSukorejoI 68 80% 37 54% 0 0 95% N/A PKMSukorejoII 7 80% 2 29% 0 0 95% N/A 3 Pageruyung PKMPageruyung 11 80% 6 55% 0 0 95% N/A 4 Patean PKMPatean 7 80% 6 86% 0 0 95% N/A 5 Singorojo PKMSingorojoI 8 80% 4 50% 0 0 95% N/A PKMSingorojoII 4 80% 0 0% 0 0 95% N/A 6 Limbangan PKMLimbangan 7 80% 0 0% 0 0 95% N/A 7 Boja PKMBojaI 35 80% 6 17% 0 0 95% N/A RSPKUMuhammadiyahBoja 4 80% 2 50% 0 0 95% N/A PKMBojaII 6 80% 2 33% 0 0 95% N/A 27 Capaian indikator TBC-HIV kabupaten kendal tahun 2025 pada angka 39%. Dari 2.548 kasus TBC baru 1.124 pasien yang mengetahui status HIV nya, target nasional pasien TBC mengetahui status HIV adalah 70%. Faskes paling banyak melakukan tes HIV pada pasien TBC adalah Puskesmas Rowosari I (89%). Puskesmas Patean (86%), dan Puskesmas Kaliwungu (83%) Tabel-6 Angka Keberhasilan Pengobatan/Treatment Success rate kabupaten Kendal TBC Resisten Obat Kabupaten Kendal TW2 Tahun 2025 Kasus TBC RO Kabupaten Kendal mengalami kenaikan setiap tahunnya, pada tahun 2025 kasus melonjak cukup signifikan. Pada tahun 2023 Kabupaten Kendal baru mulai membuka layanan TBC RO di RS Islam dan RSUD dr. H. Soewondo pada tahun 2025. Tabel- 7 Cakupan Investigasi Kontak Kabupaten Kendal TTahun 2025 RS Charlie 17 80% 1 6% 0 0 95% N/A 8 Kaliwungu PKMKaliwungu 29 80% 24 83% 1 1 95% 100% 9 KaliwunguSelatan PKMKaliwunguSelatan 21 80% 5 24% 0 0 95% N/A RSDarulIstiqomah 63 80% 11 17% 0 0 95% N/A 10 Brangsong PKMBrangsongI 4 80% 0 0% 0 0 95% N/A PKMBrangsongII 7 80% 5 71% 0 0 95% N/A 11 Pegandon PKMPegandon 5 80% 2 40% 0 0 95% N/A 12 Ngampel PKMNgampel 29 80% 0 0% 0 0 95% N/A 13 Gemuh PKMGemuhI 28 80% 7 25% 0 0 95% N/A PKMGemuhII 9 80% 4 44% 0 0 95% N/A RSBaitulHikmah 71 80% 19 27% 1 1 95% 100% RSPKUAisyiyah 14 80% 0 0% 0 0 95% N/A 14 Ringinarum PKMRinginarum 8 80% 1 13% 0 0 95% N/A 15 Weleri PKMWeleriI 12 80% 4 33% 0 0 95% N/A RSIslam 305 80% 139 46% 3 3 95% 100% PKMWeleriII 20 80% 16 80% 1 1 95% 100% 16 Rowosari PKMRowosariI 9 80% 0 0% 0 0 95% N/A PKMRowosariII 9 80% 8 89% 0 0 95% N/A 17 Kangkung PKMKangkungI 9 80% 4 44% 0 0 95% N/A PKMKangkungII 9 80% 4 44% 0 0 95% N/A 18 Cepiring PKMCepiring 30 80% 13 43% 0 0 95% N/A 19 Patebon PKMPatebonI 4 80% 0 0% 0 0 95% N/A PKMPatebonII 18 80% 7 39% 0 0 95% N/A 20 Kendal PKMKendalI 9 80% 7 78% 0 0 95% N/A PKMKendalII 18 80% 7 39% 0 0 95% N/A RSUDdr.HSoewondo 197 80% 76 39% 4 2 95% 50% KABUPATENKENDAL 1124 80% 439 39% 10 8 95% 80% No Fasyankes TargetAngkaK eberhasilan Pengobatan TBCRO Jumlah KasusTBC ROyg diobati HasilAkhirPengobatan Angka Keberhasilan Pengobatan (Treatment SuccessRate/T SR)(%) Sembuh Pengobatan Lengkap Gagal Meninggal Putus Pengobatan(L ostTo FollowUp) Tidak Dievaluasi 1 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 RSIslam 80% 0 0 0 0 0 0 0 N/A 2 RSUDdr.HSoewondo 80% 2 2 0 0 0 0 0 100% KABUPATENKENDAL 80% 2 2 0 0 0 0 0 100% 28 No Kecamatan Fasyankes Persentase indekskasusTBC terkonfirmasib akteriologisya ngdilakukan IK IndeksKasusTB C terkonfirmasiba kteriologis IndeksKasusTBC terkonfirmasib akteriologisya ngdilakukanIK CakupanIKpa daIndeksKas usTBCTerkonfi rmasiBakteriolo gis Persentasein dekskasusTB C terdiagnosiskli nisyangdilakuk anIK IndeksKasusT BC terdiagnosiskl inis IndeksKasusT BC terdiagnosiskl inisyangdilak ukanIK CakupanIKp adaIndeksKa susTBCTerdi agnosisKlinis 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 1 Plantungan PKMPlantungan 90% 14 14 100% 30% 11 10 91% 2 Sukorejo PKMSukorejoI 90% 8 2 25% 30% 45 0 0% PKMSukorejoII 90% 4 0 0% 30% 7 0 0% 3 Pageruyung PKMPageruyung 90% 11 10 91% 30% 22 7 32% 4 Patean PKMPatean 90% 6 6 100% 30% 8 7 88% 5 Singorojo PKMSingorojoI 90% 6 3 50% 30% 8 0 0% PKMSingorojoII 90% 2 0 0% 30% 5 0 0% 6 Limbangan PKMLimbangan 90% 5 0 0% 30% 2 1 50% 7 Boja PKMBojaI 90% 18 14 78% 30% 25 21 84% RSPKUMuhammadiyahBoja 90% 1 0 0% 30% 0 0 0% PKMBojaII 90% 6 1 17% 30% 3 0 0% RSCharlie 90% 4 0 0% 30% 8 0 0% 8 Kaliwungu PKMKaliwungu 90% 25 7 28% 30% 7 0 0% 9 KaliwunguSelatan PKMKaliwunguSelatan 90% 14 0 0% 30% 4 0 0% RSDarulIstiqomah 90% 13 0 0% 30% 47 0 0% 10 Brangsong PKMBrangsongI 90% 4 0 0% 30% 0 0 0% PKMBrangsongII 90% 5 2 40% 30% 1 0 0% 11 Pegandon PKMPegandon 90% 3 0 0% 30% 1 0 0% 12 Ngampel PKMNgampel 90% 8 1 13% 30% 23 0 0% 13 Gemuh PKMGemuhI 90% 5 0 0% 30% 17 1 6% PKMGemuhII 90% 7 4 57% 30% 4 1 25% RSBaitulHikmah 90% 1 0 0% 30% 9 0 0% RSPKUAisyiyah 90% 6 0 0% 30% 6 0 0% 14 Ringinarum PKMRinginarum 90% 14 13 93% 30% 19 16 84% 15 Weleri PKMWeleriI 90% 10 3 30% 30% 5 0 0% RSIslam 90% 15 0 0% 30% 41 0 0% PKMWeleriII 90% 11 5 45% 30% 11 2 18% 16 Rowosari PKMRowosariI 90% 6 0 0% 30% 3 0 0% PKMRowosariII 90% 7 5 71% 30% 1 0 0% 17 Kangkung PKMKangkungI 90% 3 2 67% 30% 6 4 67% PKMKangkungII 90% 3 0 0% 30% 7 0 0% 18 Cepiring PKMCepiring 90% 14 10 71% 30% 14 1 7% 19 Patebon PKMPatebonI 90% 3 0 0% 30% 0 0 0% PKMPatebonII 90% 8 0 0% 30% 11 0 0% 20 Kendal PKMKendalI 90% 4 0 0% 30% 2 0 0% PKMKendalII 90% 10 5 50% 30% 8 0 0% RSUDdr.HSoewondo 90% 50 0 0% 30% 155 0 0% KABUPATENKENDAL 90% 334 107 32% 30% 546 71 13% E. Pengobatan Pencegahan Tuberkulosis. Prevalensi ILTB sebesar Kabupaten Kendal tahun 2023-2025 dari seluruh anak yang mempunyai kontak dengan indeks kasus tuberkulosis paru dengan BTA positif.Petugas kesehatan dan mahasiswa profesi kesehatan merupakan kelompok rentan untuk terinfeksi tuberculosis. Akses ke upaya tatalaksana infeksi laten tuberkulosis (ILTB) juga rendah. Pada tahun 2023-2025, hanya 34 dari orang dengan HIV positif yang diberikan terapi pencegahan tuberkulosis. Diperkirakan 107 dari anak-anak di bawah usia 5 tahun yang memiliki riwayat kontak rumah tangga dari kasus tuberkulosis yang terkonfirmasi bakteriologis mendapatkan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) pada tahun 2023-2025. Jumlah anak di bawah usia 5 tahun yang mendapatkan pengobatan pencegahan dengan Isoniazid (PP- INH) yang terlaporkan pada tahun 2025 hanya 546 kasus. 29 F. Public Private Mix. Public-Private Mix (PPM) merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan akses layanan TBC yang bermutu. Di Indonesia, konsep Public- Private Mix (PPM) diterapkan berbasis kabupaten/kota sehingga lebih dikenal dengan istilah District-based Public-Private Mix (DPPM). Penerapan DPPM TBC diharapkan mendorong semua fasyankes yang menangani TBC berpartisipasi dalam jejaring sehingga semua pasien TBC dapat ditemukan dan diobati sesuai standar dan tercatat dalam sistem informasi Program Tuberkulosis. Untuk dapat menerapkan jejaring layanan ini, diperlukan sebuah Tim DPPM di kabupaten untuk memastikan berjalannya jejaring ini. Sampai dengan April 2024, sebanyak 42 kabupaten sudah ada tim DPPM TB. Dalam konsep PPM, dibentuk juga Koalisi Organisasi Profesi Indonesia untuk Penanggulangan Tuberkulosis (KOPI TB). Sudah terlibat dalam koalisi tersebut dan koalisi ini terbuka kepada organisasi profesi lain yang ingin terlibat. KOPI TB juga sudah di Kabupaten Kendal. Gambar-2 Peta Fasilitas Kesehatan Pemberi Layanan TB Kabupaten Kendal Berdasarkan keterangan gambar di atas, persebaran faskes di Kabupaten Kendal sudah merata meliputi Puskesmas, Rumah Sakit, Klinik, TPMD, Apotik, Labkesda, dll. Permasalahannya adalah belum seluruh fasilitas kesehatan pemberi layanan TB, terutama layanan swasta, menerapkan strategi DOTS untuk tatalaksana kasus TB, padahal hasil SPTN 2023-2024 menunjukkan bahwa lebih dari 80 % masyarakat bila sakit akan berobat ke layanan swasta (rumah 30 sakit, dokter praktek mandiri, klinik). Jika ditinjau berdasarkan jenis kepemilikan fasyankes, notifikasi kasus TBC dari fasyankes swasta mengalami peningkatan sejak tahun 2023 sampai dengan 2025 Proporsi notifikasi kasus TBC dari fasyankes swasta pada tahun 2023 sampai 2025 cenderung mengalami peningkatan dengan masing-masing sebesar 86 (4,17%). 98 (4,64%) 2.110kasus TBC). Hal ini disebabkan oleh karena penurunan intensitas kegiatan penyisiran kasus TBC pada tahun 2021 Walaupun kontribusi notifikasi kasus TBC dari fasyankes swasta meningkat, peningkatan ini belum dapat memenuhi kesenjangan yang ada. under-reporting pada rumah sakit mencapai 558 dan pada klinik/DPM/dan lainnya mencapai 86 (4,17%). G. Laboratorium Tuberkulosis. Jejaring laboratorium secara berjenjang (tingkat Nasional, Regional, Provinsi dan Kabupaten/Kota) telah diatur berdasarkan kompleksitas pelayanan yang disediakan. Sampai dengan saat ini terdapat 3 laboratorium rujukan, yakni: (1) BBLK Surabaya untuk Uji Sensitivitas Obat (Drug Sensitivity Testing/DST), (2) Departemen Mikrobiologi Universitas Indonesia Jakarta untuk Tes Cepat Molekuler, dan (3) Balai Laboratorium Kesehatan Bandung (Provinsi Jawa Barat) untuk tes sputum mikroskopis. Selain itu, terdapat 21 laboratorium kultur TBC dimana 12 lab di antaranya dapat melakukan uji sensitivitas obat TB. Di tingkat Puskesmas & Rumah Sakiy sebanyak 30 lab mikroskopis Puskesmas dan 7 Lab Mikroskopis Rumah sakit. dapat melakukan pemeriksaan penunjang diagnosis untuk TB, dan 5 lab GeneXpert yang dapat melakukan pemeriksaan diagnosis TBC dan TB-RR. Sistem transport spesimen dan rujukan baru dapat dijalankan pada 2022 (sekitar 89,17%) dari 37 fasyankes. Sistem tersebut menghubungkan lab mikroskopis dengan lab GeneXpert serta menghubungkan lab rujukan. Akses terhadap tes cepat molekuler ditingkatkan dengan distribusi 5 mesin tes cepat molekuler di kabupaten Kendal. Layanan diagnosis dengan tes cepat molekuler dan penyediaan alat diagnostik tes cepat molekuler ini akan diperluas ke depannya sesuai dengan kebutuhan. Tabel-8 Analisis Utilisasi TCM Kabupaten Kendal TW 2 Tahun 2025 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 PuskesmasKaliwungu 66,67 78,67 106,00 70,67 102,00 56,50 80,09 31 2 PuskesmasRowosariII 50,50 77,50 69,00 52,00 80,67 63,33 65,50 3 PuskesmasSukorejo I 24,50 41,50 51,00 43,00 64,00 44,50 44,75 4 RSUD dr.H.Soewondo 51,00 54,50 67,50 63,00 57,00 65,00 59,67 5 RSUmumIslamKendal 61,00 69,00 113,00 71,00 90,00 63,00 77,83 KABUPATENKENDAL 63,42 80,29 101,63 74,92 98,42 73,08 81,96 H. Peran Serta Komunitas. Merupakan komponen esensial dalam penanggulangan tuberkulosis di Indonesia. Organisasi sosial kemasyarakatan (CSO) seperti Aisyiah, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU), Perhimpunan Organisasi Pasien (POP) TB dan organisasi survivor tuberkulosis resistan obat seperti Mentari sehat Indonesia, Mentari TB, SEMAR telah terlibat dalam upaya penanggulangan tuberkulosis. Kegiatan pelibatan komunitas dalam penanggulangan tuberkulosis di Kabupaten Kendal antara lain investigasi kontak, evaluasi kualitas pelayanan tuberkulosis, memberikan dukungan sosial pada pasien tuberkulosis, advokasi pada pemerintah daerah. Namun demikian, masih ada peran penting dalam penanggulangan tuberrkulosis yang masih memerlukan peran serta komunitas. Salah satu peran serta komunitas misalnya: peran dukungan sebaya masih diperlukan untuk mendukung kepatuhan pengobatan pasien tuberkulosis melalui konseling. Di setiap puskesmas terdapat mekanisme monitoring evaluasi program secara rutin tiga bulan sekali dengan forum Mini Lokakarya. Mini Lokakarya perlu dimanfaatkan untuk melakukan monitoring evaluasi program dengan melibatkan komunitas. I. Penguatan Sistem Kesehatan. Tata kelola Program Tuberkulosis Nasional diarahkan untuk mendorong kabupaten/kota sebagai tulang punggung implementasi program di lapangan. Di setiap dinas kesehatan kabupaten/kota terdapat wasor TB, yakni staf yang didedikasikan untuk mengelola program TB. Wasor TB bertanggung jawab untuk melakukan supervisi dan monitoring program. Pencatatan dan pelaporan program TB menggunakan Sistem Informasi Tuberkulosis Terpadu (SITT) serta laporan tertulis. Sistem tersebut digunakan untuk pencatatan dan pelaporan tuberkulosis sensitif obat dan resisten obat. SITT belum dipakai sebagai pelaporan real-time pada sebagian puskesmas, karena beban kerja staf puskesmas yang cukup tinggi. WIFI TB merupakan sistem informasi untuk pencatatan pelaporan kasus tuberkulosis untuk para 32 Dokter Praktik Mandiri, namun sistem tersebut belum maksimal digunakan. Sharing monitoring dan review data antara SITT dan SIHA masih terbatas karena SIHA hanya mempunyai data yang agregat. J. Dampak sosial ekonomi TBC. Visi Dinas Ksesehatan Kabupaten Kendal Terwujudnya masyarakat sehat yang mandiri”. Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal Untuk mencapai visi tersebut maka dikembangkan misi yang saling mendukung, dengan rincian :
1.Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat.
2.Menciptakan pembangunan berwawasan kesehatan melalui peningkatkan kualitas lingkungan.
3.Meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat melalui pelayanan kesehatan perorangan dan masyarakat secara merata, terjangkau, bermutu dan berkesinambungan.
4.Menciptakan manajemen pembangunan kesehatan dan ketersediaan sumber daya kesehatan.. Isu Strategis yang selanjutnya diterjemahkan dalam arah kebijakan dan strategi program Dinas Kesehatan mewajibkan untuk menentukan indikator kinerja utama khususnya tentang TB yaitu :
1.Angka Kesakitan TB (terduga)
2.Penemuan pasien baru TB BTA Positif (CDR)
3.Cakupan pemeriksaan terduga TB di Puskesmas dan Rumah sakit (CNR)
4.Proporsi kasus TB yang berhasil diobati dalam Program DOTS (success rate) Keempat indikator ini bisa dicapai dengan program kegiatan mulai dari upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi termasuk didalamnya rehabilitasi sosial dan ekonomi. Untuk itu penting adanya Rencana Aksi Daerah Penanggulangan TB karena dilihat dari epidemiologi TB, penyebaran, temuan kasus, penanganan kasus sampai dengan upaya rehabilitasi penderita memerlukan sinergi layanan yang holistik dan komprehensif serta integratife, dengan melibatkan OPD dan lembaga lintas stakeholder yang lain. Dukungan program TB dan kegiatan serta alokasi anggaran di setiap lini pelayanan penderita TB harus bersinergi dan berkesinambungan sehingga upaya kegiatan tidak tumpang tindih dan berdiri sendiri sendiri, oleh karena itu Rencana Aksi Daerah merupakan wadah yang memuat kegiatan, waktu dan 33 anggaran yang lengkap meliputi semua tingkatan yang membutuhkan arah dan tujuan serta kebijakan yang terpadu. Tabel-9 Dampak Ekonomi Yang Terjadi Akibat Adanya Penderita TB PEMASUKAN PENGELUARAN TABUNGAN Keterangan Jumlah (Rp) Keterangan Jumlah (Rp) KONDISI SEHAT/NORMAL Pendapatan Primer Rp. 2.508.299 Biaya Makan 950.000 Pendapatan Lain- lain Rp. 100.000 Biaya Sekolah 1.300.000 Rp. 2.609.299 Biaya Transport 250.000 Biaya Lain- lain 109.299 Jumlah Rp. 2.609.299 Rp. 150.000 KONDISI SAKIT TB PARU Pendapatan Primer Rp. 0 Biaya Makan 950.000 Pendapatan Lain- lain Rp. 150.000 Biaya Sekolah 1.300.000 Rp. 150.000 Biaya Transport 250.000 Biaya Lain- lain 109.299 Biaya Pengobatan 0 Ditanggung Pemerintah Transport Pengobatan 0 Ditanggung Pemerintah Biaya Lain- lain Jumlah Rp. 2.609.299 BEBAN UTANG Ketika seorang penderita TB Resisten Obat harus berobat rutin 9 bulan maka beban yang harus ditanggung adalah :
1.Biaya obat
2.Biaya transport dari dan ke RS Rujukan
3.Biaya makan pribadi
4.Biaya hidup keluarga
5.Biaya lain-lain keluarga (sekolah, listrik, telp, air, dll)
6.Biaya tak terduga (Pengentasan keluarga berdampak tertular TB) Maka dapat diperhitungkan beban biaya per hari yang menjadi tanggung jawab Pemerintah bagi keluarga yang sakit karena TB, mengingat dampak yang 34 ditimbulkan berakibat ke sosial ekonomi masyarakat, hal ini bukan hanya tanggung jawab dari Dinas Kesehatan saja melainkan tanggung jawab pemerintah daerah. Besaran angka yang tidak sedikit dan akan terus bertambah bilamana upaya penenggulangan TB tidak menjadi komitmen dan kebutuhan masyarakat serta kepedulian bersama mulai dari pemerintah, masyarakat dan stakeholder. Dari tabel di atas dapat digambarkan bahwa biaya obat dan penunjang lain seperti biaya transportsi dari dan ke rumah sakit pengobatan serta biaya pendampingan oleh keluarga sangat besar, walaupun itu sudah ditunjang oleh pemerintah. Biaya obat, pendamping dan transport bagi penderita TB MDR per orang diasumsikan sebesar Rp. 950.000,- untuk sekali rawat jalan, sedangkan rawat jalan yang harus dijalani kurang lebih selama 9 bulan. Besarnya biaya yang harus ditanggung oleh pemerintah sebesar Rp 950.000,- x 1 orang x 90 hari = Rp. 85.500.000,-, sedangkan biaya personal lain seperti biaya hidup, biaya sekolah, biaya lain yang harus dikeluarkan tetap ada tetapi tidak ditanggung oleh pemerintah walaupun demikian harus dipertimbangkan. Perhitungan lain dampak ekonomi terkait dengan hilangnya potensi pendapatan dapat diasumsikan dengan perhitungan sebagai berikut, dalam 1 bulan produktif 1 pasien TB MDR usia produktif dengan pendapatan UMR Kabupaten perbulan Rp 2.609.299,-maka dapat dihitung berapa potensi kehilangan pendapatan apabila harus melakukan pengobatan rutin wajib selama 9 bulan. Didapat angka asumsi pendapatan sebesar Rp 23.483.691,- (perhitungan 9 bulan) yang hilang akibat dampak pengobatan TB MDR, sedangkan beban biaya hidup lain seperti biaya sekolah, biaya makan, biaya listrik, biaya air dan biaya pribadi lain yang harusnya bisa ditanggung dengan pendapatan UMR menjadi beban hutang dan tidak tertanggung atau terlayani oleh penderita (karena yang bersangkutan tidak dapat melakukan aktifitas seperti biasanya). Hal ini yang harus menjadi perhatian dan bahan pertimbangan kebijakan pemerintah Kabupaten Kendal dalam penanganan TB yang komprehensif integratif dan berkesinambungan, mulai dari pembiayaan penderita dan keluarga penderita. Kerugian dari dampak ekonomi bagi penderita TB akan semakin besar ketika kita berhitung angka pendapatan yang dikenakan pajak, ini tentunya menjadi timbulnya banyak masalah untuk penurunan pendapatan pada 35 Anggaran Belanja dan Pendapatan Daerah (ABPD) Kabupaten Kendal. Dampak sosial yang diakibatkan akan sangat mempengaruhi kehidupan baik secara individu maupun keluarga dan sosial, ketika penderita TB harus berhadapan dengan masyarakat maka dampak sosial masyarakat kepada penderita akan membuat merasa dikucilkan, dijauhi, disingkirkan bahwa penderita TB merasa dianggap sampah masyarakat. Hal ini juga terjadi dan dirasakan oleh keluarga, istri, suami dan anak- anak baik di lingkungan rumah tinggal dan lingkungan kerja serta lingkungan sekolah. Dampak jangka panjang pada anak sangat terasa menjadikan anak minder, terisolir, terkucil, terstigma penyakit TB dan akhirnya menjadikan anak tidak atau kurang berprestasi. Emosional anak yang labil karena tekanan sosial memungkinkan anak menjadi rentan akan perilaku salah dan diperlakukan salah. Dampak sosial seperti ini yang luput dari perhitungan dan analisa ketika kita hanya berpijak pada anggaran dan fisik semata, sedangkan apabila dianalisis secara ekonomi kerugian dampak sosial akan lebih besar dari dampak ekonomi itu sendiri. Melihat besaran angka asumsi di atas akan sangat mungkin APBD Kabupaten Kendal tidak mampu memenuhi semua anggaran yang dibutuhkan ketika seseorang menderita TB, sehingga perlu dipikirkan bersama melalui penyusunan RAD TB ini kepada semua pihak yang terlibat dan punya komitmen demi suksesnya percepatan eliminasi TBC. 36 B. Isu Strategis Penanggulangan TB Kabupaten Kendal Berangkat dari hasil analisis situasi dan identifikasi kesenjangan dalam penanggulangan TB Kabupaten Kendal, diidentifikasi beberapa isu strategis yang perlu dijadikan prioritas untuk lima tahun ke depan, sebagai berikut :
1.Penemuan kasus TB yang masih rendah Penemuan kasus TB (TB sensitif obat, TB resisten obat, TB-HIV) Kabupaten Kendal masih rendah, belum mencapai target yang ditetapkan, ke depan akan menjadi sumber penularan TB di masyarakat dan akan semakin menambah beban penanggulangan TB
2.Belum dilaksanakan pencegahan TB (PP-INH) Pengobatan pencegahan TB dengan pemberian INH (PP-INH) dilaksanakan dalam upaya memberikan perlindungan bagi kelompok risiko, yaitu pada anak sehat terkontak TB untuk menjamin generasi yang kuat dan produktif, dan ODHA terkontak TB untuk menghindari beban ganda TB dan HIV.
3.Masih banyak penderita TB tidak diketahui status HIV-nya Program kolaborasi TB-HIV sampai hari ini belum sepenuhnya dilakukan oleh faskes terutama faskes swasta, padahal program kolaborasi ini sudah disosialisasikan sejak Tahun 2016. Tujuan dari program kolaborasi TB-HIV adalah untuk mengurangi atau menurunkan angka kesakitan dan kematian ODHA dengan TB. Keterlambatan mengetahui status HIV seseorang akan mengakibatkan keadaan semakin memburuk, oleh sebab itu pemberian ARV secara dini (pada fase HIV) dapat meningkatkan usia harapan hidup seseorang yang terkena HIV/AIDS, selain akan menyebabkan sumber penularan HIV kepada pasangannya dan 37 masyarakat pada umumnya.
4.Masih rendah keberhasilan pengobatan TB Ketidakberhasilan pengobatan TB secara tuntas sesuai dengan program DOTS (6 bulan) berisiko untuk terjadinya TB kebal (resisten obat) yang mengakibatkan MDR dimana terduga TB akan semakin parah kondisinya sehingga tata laksananya lebih rumit, lebih lama dan lebih mahal, pengobatannya yang menyebabkan tingginya angka kematian karena TB.
5.Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Kasus ILTB di Indonesia yang diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) baru diperkenalkan sejak tahun 2016 dengan sasaran anak anak usia di bawah 5 (lima) tahun yang berkontak dengan kasus TBC aktif dan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang tidak sakit TBC Peraturan Menteri Kesehatan No. 67 tahun 2016 menjelaskan bahwa pemberian obat pencegahan TBC tertuang dalam paragraph 6 pasal 15 ditujukan pada anak usia di bawah 5 (lima) tahun yang kontak erat dengan pasien TBC aktif, ODHA yang tidak terdiagnosa TB, dan populasi tertentu lainnya. Menindaklanjuti hal tersebut, petunjuk teknis penanganan ILTB ini mendetailkan sasaran populasi tertentu lainnya seperti kontak serumah usia di atas 5 (lima) tahun, pasien immunokompremais lainnya (pasien yang menjalani pengobatan kanker, pasien yang mendapatkan perawatan dialisis, pasien yang mendapatkan kortikosteroid jangka panjang, pasien yang sedang persiapan transpalansi organ, dll), Warga Binaan Pemasyarakatan (WPB), petugas kesehatan, sekolah berasrama, barak militer dan pengguna narkoba suntik.
6.Hasil Pemeriksaan Internal dan Eksternal Laboratorium Dalam penanggulangan TB, pemeriksaan laboratorium dahak merupakan komponen utama untuk menegakkan diagnosis sehingga pemeriksaan BTA merupakan langkah awal untuk mendiagnosis seseorang terkena TB atau tidak sebelum dilakukan pemeriksaan lanjutan (RO). Disamping itu untuk mendapatkan mutu eksternal laboratorium diperlukan SDM yang terlatih, sarana dan prasarana yang mencukupi dan fasilitas lain yang diperlukan. Evaluasi juga harus dilakukan secara rutin seperti on the job training oleh petugas ahli (BLK) agar petugas tidak lalai untuk pelaksanaan kegiatan 38 dalam pelaksaan SOP untuk memberikan jaminan mutu laboratorium, baik internal maupun eksternal.
7.Kerangka Pikir Logis Selanjutnya dilakukan identifikasi permasalahan terkait masing-masing isu strategis, untuk merumuskan rencana tindak lanjut yang berisi penyelesaian masalah yang muncul sesuai dengan program dan kegiatannya, sebagaimana tampak pada kerangka pikir logis terlampir. Tuberkulosi s RAD Pendidikan Sosial Ekonomi Kesakitan dan Kematian Beban Pemerintah 39
1.Indikator Dampak Merupakan indikator yang menggambarkan keseluruhan dampak atau manfaat kegiatan penanggulangan TB, dan indikator ini akan diukur dan dianalisis di tingkat pusat secara berkala, meliputi: 1.1. Penurunan Angka Kesakitan/incidence rate TBC. 1.2. Penurunan Angka Kematian Akibat TBC. Dari semua indikator MDG’s untuk TB di Indonesia saat ini baru target penurunan angka insidens yang sudah tercapai, untuk itu perlu upaya yang lebih besar dan terintegrasi supaya Indonesia bisa mencapai target SDG’s pada Tahun 2030 yang akan datang.
2.Indikator Utama. Indikator utama digunakan untuk menilai pencapaian strategi nasional penanggulangan TB di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota termasuk Kabupaten Kendal: 2.1. Cakupan pengobatan semua kasus TB 2.2. Angka notifikasi semua kasus TB yang diobati 2.3. Angka keberhasilan pengobatan TB semua kasus 2.4. Cakupan penemuan kasus TB resistan obat 2.5. Angka keberhasilan pengobatan TB resistan obat 2.6. Persentase penderita TB yang mengetahui status HIV
3.Indikator Operasional Indikator ini merupakan indikator pendukung untuk tercapainya indikator dampak dan indikator utama dalam upaya mencapai keberhasilan program penanggulangan TB, baik di tingkat pusat, provinsi dan Kabupaten/Kota, termasuk di Kabupaten Kendal : 40 3.1 Jumlah semua kasus TB yang ditemukan dan diobati. 3.2. Persentase kasus pengobatan ulang TB yang diperiksa uji kepekaan obat dengan tes cepat molukuler dan konvensional. 3.3. Persentase kasus TB resistan obat yang memulai pengobatan. 3.4. Persentase Penderita TB-HIV dapat ARV selama pengobatan TB. 3.5. Persentase laboratorium mikroskopik yang mengikuti uji silang. 3.6. Persentase laboratorium mikroskopis yang mengikuti pemantauan mutu eksternal (PME) dengan hasil baik. 3.7. Cakupan penemuan kasus TB anak. 3.8. Persentase anak usia < 5 tahun mendapat pengobatan pencegahan dibandingkan estimasi anak < 5 tahun yang memenuhi syarat diberikan pengobatan pencegahan.
4.Target Target program Penanggulangan TB nasional adalah eliminasi TB pada Tahun 2030 dan Indonesia bebas TB Tahun 2050.
1.Target Indikator Utama Tabel-10 Indikator Utama dan Target Rencana Aksi Daerah (RAD) Penanggulangan TB Kabupaten Kendal Tahun 2024-2029 Indikator Dasar 2023 Target per tehun 2024 2025 2026 2027 2029 2030 Jumlah Kasus Tb yang harus ditemukan) 2898 2.590 2.222 1.917 1.700 1.535 1.407 Persntase Pasien TB sensitive obat yang memulai pengobatan 85% 95% 95% 95% 95% 95% 95% Perkirtaan kasus TB baru 2898 2.532 2.173 1.875 1.662 1.501 1.376 Pengobatan Ulang kasus TB 130 115 99 85 76 68 63 Jumlah Kasus TB Resistan obat 95 84 72 63 55 50 46 Umlah Kasus TB anak 377 477 411 365 329 302 281
2.Target Indikator Operasional Tabel-13 Indikator Operasional dan Target 41 Rencana Aksi Daerah (RAD) Penanggulangan TB Kabupaten Kendal Tahun 2025- 2030 Indikator Dasar 2023 Target per tahun 2024 2025 2026 2027 2029 2030 Jumlah semua kasus TB yang ditemukan dan diobati 2838 5.461 5.329 5.199 5.069 5.069 5.069 Persentase kasus TB pengobatan ulang yang diperiksa uji kepekaan obat dengan tes cepat molukuler/metode konvensional (%) 98.7 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % Persentase kasus TB resistan obat yang memulai peengobatan lini kedua (%) 63 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % Persentase penderita TB- HIV yang mendapatkan ARV selama pengobatan TB (%) 43 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % Persentase laboratorium mikroskopis yang mengikuti uji silang (%) 100 % 50 % 60 % 80 % 90 % 90 % 90 % Persentase laboratorium mikroskopis yang mengikuti uji silang dengan hasil baik (%) 85 % 70 % 80% 90 % 100 % 100 % 100 % Cakupan penemuan kasus TB anak (%) 85% 85% 85% 85% 96 % 98 % 100% Persentase anak < 5 tahun yang dapat pengobatan pencegahan dibandingkan estimasi anak < 5 tahun yang memenuhi syarat diberikan pengobatan pencegahan (%) 80 % 85% 85% 85% 96 % 98 % 100% MATRIK PENJABARAN RENCANA AKSI DAERAH PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS TAHUN 2025 – 2029
1.Indikator Dampak. No Indikator Target dan Pencapaian Tahun Penanggung Jawab Pos Dana2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 Utama Pendukung 1 Penurunan Angka (incidence rate TBC. Target dan Tahun Pencapaian) Target tahun 2030: 65 per 100.000 penduduk 2.878 2.469 2.130 1.889 1.705 1.563 1.458 Dinkes Baperlitbang APBD 2 Kabag Kesra Bapenda Dinas PUPR DisKominfo Dinas Sosial Kemenag 2 Penurunan Angka Kematian Akibat TBC. Target tahun 2030: 6 per 100.000 penduduk 64 65 65 66 67 67 68 Dinkes Baperlitbang APBD 2 Kabag Kesra Bapenda Dinas PUPR DisKominfo Dinas Sosial Kemenag Dinas Transmigrasi Dinas Pendidikan 43
2.Indikator Luaran (Outcome). No Indikator Target dan Pencapaian Tahun Penanggung Jawab Pos Dana2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 Utama Pendukung 1 Cakupan Penemuan dan Pengobatan TBC Target tahun 2O3O:95% 2590 2222 1917 1700 1535 1407 1313 Dinkes Baperlitbang APBD 2 Kabag Kesra Bapenda Dinas PUPR DisKominfo Dinas Sosial Kemenag Dinas Transmigrasi Dinas Pendidikan Perusda 2 Persentase Angka Keberhasilan Pengobatan TBC Target tahun 2O24:90 % 2.331 2.000 1.725 1.530 1.382 1.266 1.182 Dinkes Baperlitbang APBD 2 Kabag Kesra Bapenda Dinas PUPR DisKominfo Dinas Sosial Kemenag Dinas Transmigrasi Dinas Pendidikan, Perusda , BPJS, Labkesda 44 3 Cakupan Penemuan dan pengobatan Target tahun 2O24:80 % 2.072 1.778 1.534 1.360 1.228 1.126 1.050 Dinkes Baperlitbang APBD 2 Kabag Kesra Bapenda Dinas PUPR DisKominfo Dinas Sosial Dispermasdes Kemenag Dinas Transmigrasi Dinas Pendidikan Perusda Labkesda BPJS 4 Persentase Pasien TBC Resisten Obat yang memulai Pengobatan Target tahun 2O24:95 % 2.461 2.111 1.821 1.615 1.458 1.337 1.247 Dinkes Baperlitbang APBD 2 Kabag Kesra Bapenda Dinas PUPR DisKominfo Dinas Sosial Dispermasdes Kemenag Dinas Transmigrasi Dinas Pendidikan Perusda Labkesda BPJS 45 5 Persentase Angka Keberhasilan Pengobatan TBC Resisten Obat. Target tahun 2O24:80 % 2.072 1.778 1.534 1.360 1.228 1.126 1.050 Dinkes Baperlitbang APBD 2 Kabag Kesra Bapenda Dinas PUPR DisKominfo Dinas Sosial Dispermasdes Kemenag Dinas Transmigrasi Dinas Pendidikan Perusda Labkesda BPJS 6 Cakupan Penemuan Kasus TBC pada anak Target tahun 2O24:90 % 555 477 411 365 329 302 281 Dinkes Baperlitbang APBD 2 Kabag Kesra Bapenda Dinas PUPR DisKominfo Dinas Sosial Dispermasdes Kemenag Dinas Transmigrasi Dinas Pendidikan Perusda Labkesda 46 BPJS 7 Cakupan Pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT). Target tahun 2O24:90 % 1.072 920 794 704 635 583 543 Dinkes Baperlitbang APBD 2 Kabag Kesra Bapenda Dinas PUPR DisKominfo Dinas Sosial Dispermasdes Kemenag Dinas Transmigrasi Dinas Pendidikan Perusda Labkesda BPJS 8 Persentase Pasien TBC mengetahui Status HIV. Target tahun 2O24:90 % 2.590 2.222 1.917 1.700 1.535 1.407 1.313 Dinkes Baperlitbang APBD 2 Kabag Kesra Bapenda Dinas PUPR DisKominfo Dinas Sosial Dispermasdes Kemenag Dinas Transmigrasi Dinas Pendidikan Perusda 47
1.Strategi Eliminasi TBC 1. Labkesda BPJS Proses Bisnis Kegiatan Keluaran/Output Target daa Tahun Pencapaian Penanggung Jawab Dinas,UPT STRATEGI-1: PENGUATAN KEPEMIMPINAN PROGRAM TB KABUPATEN KENDAL a.Penyusunan target Eliminasi TBC daerah dengan mengacu pada target Eliminasi TBC nasional 1. Menyelenggara kan forum kepemimpinan percepatan Eliminasi TBC di tingkatan Terselenggaranya rapat koordinasi tahunan yang dihadiri oleh pimpinan tertinggi pada tiap tingkatan yaitu Kabupaten.Kecamatan,Desa/Kelurahan, RT/RW Minimal 1 (satu) kali dalam satu tahun Sekretariat daerah, Kabag Kesra dan Pemerintah Desa/Kelurahan Baperlitbang, Bapenda,Dinas Pendidikan, Cabdin 13,Dipermasdea,Diskominfo Meningkatkan keterlibatan Pemangku Kepentingan. Terselenggaranya rapat koordinasi tahunan yang dihadiri oleh Pemangku Kepentingan Minimal 2 (dua) kali dalam satu tahun Dispermasdes Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat,Bapenda, Dinkes Dinas tenaga kerja dan Transmigrasi.