Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Kolaka. I apkan di Kolaka tanggal 7 Dktober 205 TI KOLAKA, e.± kdts Kescort« [.dz_ko ad £ kcs dot« S Diundangkan di Kolaka pada tanggal 7 kt»br 20a$ Pj. SE E RIS DAERAH KABUPATEN KOLAKA, BERITA DAERAH KABUPATEN KOLAKA TAHUN 2025 NOMOR - 6 LAMPIRAN PERATURAN BUPATI KOLAKA NOMOR I & TAHUN 2025 STRATEGI KOMUNIKASI PERUBAHAN PERILAKU DALAM PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING DOKUMEN STRATEGI KOMUNIKASI PERUBAHAN PERILAKU DALAM PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING PEMERINTAH KABUPATEN KOLAKA - 7 BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stunting atau sering disebut pendek adalah kondisi gaga! tumbuh akibat kekurangan gizi kronis dan stimulasi psokososial serta paparan infeksi berulang dalam I 000 hari pertama kehidupan (HPK), yaitu janin hingga anak berusia 2 tahun. Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada dibawah minus dua standar divasi ( 2 SD) anak seusianya. Stunting dan kekurangan gizi lainnya yang terjadi pada 1.000 HPK tidak hanya menyebabkan hambatan pertumbuhan fisik dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit, tetapi juga mengancam perkembangan kognitif yang akan berpengaruh tingkat kecerdasan produktivitas anak dimasa dewasanya. Kerugian ekonomi akibat stunting pada angkatan kerja di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai I 0,5% dari produk dosmetik Bruto (PDB), atau setara dengan 386 Triliun. Prevalensi Stunting dalam IO tahun terakhir menunjukkan bahwa stunting merupakan salah satu masalah terbesar pada balita di Indonesia. Hasilriset kesehatan dasar (Riskesdas) 20 I 8 menunjukkan 30,8 % balita menderita stunting. Masai ah gizi lain terkait dengan stunting yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat adalah anemia pada ibu ham ii ( 48,9), berat bayi rendah atau BBLR (6,2), balita status gizi buruk (17,7%) dan anemia pada balita mengacu pada "the conceptual framework of the determinant of child undernutrition", "the underlying drivers of malnutritions", dan "faktor penyebab masalah gizi konteks Indonesia" penyebab langsung masalah gizi pada anak termasuk stunting adalah rendahnya asupan gizi dan status kesehatan. Penurunan stunting menitikberatkan ada penanganan penyebab masalah gizi, yaitu faktor yang berhubungan dengan ketahanan pangan khususnya akses terhadap pangan bergizi (makanan), lingkungan social terkait dengan praktik pemberian makanan bayi dan anak (pengasuhan), akses terhadap pelayanan kesehatan lingkungan yang meliputi tersedianya sarana air bersih dan sanitasi (lingkungan). Keempat faktor tersebut mempengaruhi asupan dan status kesehatan ibu dan anak. Intervensi terhadap keempat faktor tersebut diharapkan dapat mencegah masalah gizi, baik kekurangan maupun kelebihan gizi. Pencegahan stunting memerlukan intervensi gizi yang terpadu, mencakup intervensi gizi spesifik dan sensitif. Pengalaman global meunjukkan bahwa penyelenggaraan - 8 intervensi yang terpadu untuk menyasar kelompok prioritas dilokasi prioritas merupakan kunci keberhasilan perbaikan gizi dan tumbuh kembang anak, serta pencegahan stunting Di Kabupaten Kolaka - P r o v i n s i Sulawesi tenggara yang terdiri dari 135 Desa/Kelurahan (100 desa-35 kelurahan). Total jumlah anak yang mengalami stunting di kabupaten kolaka - provinsi Sulawesi tenggara sebanyak 1 5 1 0 anak yang mengalami stunting atau 9.0% dari total jumlah anak balita yang di ukursebanyak 16.725 di kabupaten kolaka - provinsi Sulawesi tenggara (data sesuai e-ppgbm). Rincian dari anak yang menderita stunting sesuai data hasil situasi persebaran stunting di 1 3 5 desa sasaran intervensi pada 12 (dua belas) kecamatan di Kabupaten Kolaka pada tahun 2024 adalah sebagai berikut : % No Kecamatan Puskesmas Desa/Kelurahan Data Sangat Pendck Stunte Prev. Ukur Pendek d Stunti ng I Kolaka Kolaka Watuliandu 217 0 0 0 0,0 2 Kolaka Lamokato 224 7 9 16 7,1 3 Kolaka Laloeha 503 12 17 29 5,8 4 Kolaka Tahoa 3 1 2 4 II 15 4,8 5 Kolaka Balandete 379 I 6 7 1,8 6 Kolaka Lalombaa 278 0 I I 0,4 7 Kolaka Sabilambo 1 6 1 8 12 20 12,4 8 Latambaga lnduha 222 I 8 9 4,1 9 Latambaga Latambaga Ulunggolaka 350 I 5 6 1,7 10 Latambaga Mangolo 648 10 45 55 8,5 1 1 Kolakaasi Kolakaasih 708 6 5 1 1 1,6 12 Kolakaasi Sea 357 4 2 6 1,7 13 Kolakaasi Latambaga 102 0 I I 1,0 14 Kolakaasi Sakuli 320 0 I 1 0,3 15 Wundulako Wundulako Towua I 108 4 1 8 22 20,4 16 Wundulako Ngapa 97 21 22 43 44,3 17 Wundulako Bende 104 6 27 33 3 1 , 7 18 Wundulako Sabiano 135 5 14 19 14, I 19 Wundulako Una Mendaa 130 3 12 15 11,5 - 9 20 Wundulako Lamckongga 11 5 5 9 14 12,2 21 Wundulako Silea 1 2 1 13 30 43 35,5 22 Wundulako Kowioha 137 8 20 28 20,4 23 Wundulako Tikonu 89 1 5 33 48 53,9 24 Wundulako Wundulako 155 2 22 24 15,5 25 Wundulako 19 Nopcmber 236 1 1 32 43 18,2 26 Baula Baula Longori 97 3 3 6 6,2 27 Baula Puulcmo 93 3 19 22 23,7 28 Baula Baula 106 4 8 12 1 1 , 3 29 Baula Puundoho 84 I 9 10 11,9 30 Baula Puubcnua 38 I 4 5 13,2 3 1 Baula Puubunga 1 1 6 4 12 16 13,8 32 Baula Puuroda 35 2 2 4 11,4 33 Baula Pewutaa 44 4 5 9 20,5 34 Baula Watalara 66 I 5 6 9, I 35 Baula Ulu Baula 53 7 7 14 26,4 36 Pomalaa Pomalaa Oko Oko 143 4 14 1 8 12,6 37 Pomalaa Sopura 164 I 5 6 3,7 38 Pomalaa Hakatutobu 152 3 6 9 5,9 39 Pomalaa Tambea 1 72 4 14 1 8 10,5 40 Pomalaa Pomalaa 100 I 7 8 8,0 41 Pomalaa Kumoro 162 I 3 4 2,5 42 Pomalaa Dawi-Dawi 782 16 40 56 7.2 43 Pomalaa Tonggoni 321 3 7 10 3.1 44 Pomalaa Totobo 93 4 5 9 9,7 45 Pomalaa Pelambua 307 I 16 17 5.5 46 Pomalaa Pesouha 127 2 4 6 4.7 47 Pomalaa HukoHuko 135 5 IO 1 5 1 1 , 1 48 Tanggetada Tanggetada Tondowolio 58 I 6 7 12,1 49 Tanggetada Popalia 142 0 4 4 2.8 50 Tanggetada Anaiwoi 291 5 13 18 6.2 5 1 Tanggetada Tanggetada 11 8 0 I I 0,8 52 Tanggetada Petudua 35 0 I I 2,9 53 Tanggetada Rahanggada 49 I I 2 4.1 - 10 54 Tanggctada Pewisoa Jaya 70 2 3 5 7,1 55 Tanggetada Lalonggolosua 82 1 8 9 1 1 , 0 56 Tanggetada Lamcdai 78 4 14 1 8 23,1 57 Tanggetada Palewai 132 I I 2 1,5 58 Tanggetada Onecha 66 5 7 12 18,2 59 Tanggetada Puundaipa I S 0 2 2 13,3 60 Tanggetada Lamoiko 1 9 I 6 7 36,8 61 Tanggetada Tinggo 34 0 3 3 8,8 62 Polinggona Polinggona Puudongi 57 I I 2 3.5 63 Polinggona Tanggeau 40 0 3 3 7,5 64 Polinggona Plasma Jaya 19 I 4 5 26,3 65 Polinggona Polinggona 57 3 1 1 14 24,6 66 Polinggona Wulonggere 52 0 6 6 1 1 , S 67 Polinggona Pondouwaee 22 I 3 4 18,2 68 Polinggona Lamondape 85 2 10 12 14, 1 69 Watubangg Watubangga Lamundrc 73 3 9 1 2 16,4 a 70 Watubangga Watubangga 208 16 30 46 22, I 71 Watubangga Tandebura 94 6 1 9 25 26,6 72 Watubangga SumberRcjeki 48 3 6 9 18,8 73 Watubangga Wolulu 62 2 1 0 12 19,4 74 Watubanga Polenga 102 8 1 6 24 23,S 75 Watubangga Gunung Sari 89 4 1 2 16 18,0 76 Kukutio Longgosipi 37 0 3 3 8,1 77 Kukutio Peoho 57 0 10 10 17,5 78 Kukutio Kukutio I 105 I 6 7 6,7 79 Kukutio Kastura 40 0 2 2 5.0 80 Kukutio Mataosu 3 1 0 2 2 6,5 8 1 Kukutio Ranotcta 93 I 8 9 9,7 82 Kukutio Mataosu Ujung 29 0 2 2 6,9 83 Toari Toari Toari 88 0 4 4 4.5 84 Toari Lakito 77 I 2 3 3,9 85 Toari Ranomentaa 28 0 2 2 7.1 86 Toari Wowoli 142 0 s s 3.5 87 Toari Anawua 48 I 4 5 10,4 - 1 1 88 Toari Rano Jaya 82 0 7 7 8,5 89 Toari Horongkuli 63 I 4 5 7,9 90 Toari Wonua Raya 86 2 10 12 14,0 91 Toari Rahabitc 58 1 3 4 6,9 92 Toari Rano Sangia 35 3 0 ' 8,6.5 93 Sarnaturu Tosiba Lawulo 82 3 7 10 12,2 94 Tosiba Sani Sani 137 I 2 3 2,2 95 Tosiba Kaloloa 60 I 1 I 12 20,0 96 Tosiba Konaweha 1 2 1 3 1 3 16 13,2 97 Tosiba A W A 79 4 6 10 12,7 98 Tosiba Larnbolcmo 104 2 5 7 6,7 99 Tosiba Tamboli 92 4 5 9 9,8 100 Tosiba Tosiba 136 2 15 17 12,5 1 0 1 Tosiba Amamotu 108 3 5 8 7,4 102 Tosiba Malaha 94 I 5 6 6,4 103 Tosiba Latuo 89 2 1 0 12 13,5 104 Tosiba Wowa Tamboli 106 3 1 5 18 17.0 105 Tosiba Tonganapo 45 0 9 9 20,0 106 Tosiba Ulu Konawcha 80 0 I 1 1,3 107 Tosiba Puutarnboli 46 0 4 4 8,7 108 Tosiba Puu Lawulo 80 2 8 10 12,5 109 Tosiba Liku 70 1 5 6 8,6 1 1 0 Tosiba Meura 44 0 7 7 15,9 1 1 1 Tosiba Ulawcng 48 I 6 7 14,6 1 1 2 Wolo Wolo Donggala 137 6 5 I I 8.0 1 1 3 W o l o Ulu Lapao-Pao 1 1 3 2 4 6 5,3 1 1 4 Wolo Lapao-Pao 164 4 8 12 7,3 1 1 5 Wolo TolowePonre 152 2 8 10 6,6 Waru 1 1 6 Wolo Langgomali 101 5 6 1 1 10,9 1 1 7 Wolo Ulu Wolo 167 0 10 10 6,0 1 1 8 Wolo Wolo 1 7 1 7 22 29 17,0 119 Wolo Lalonaha 53 0 5 5 9,4 120 Wolo L A N A 83 4 5 9 10,8 - 1 2 1 2 1 Wolo Muara Lapao 1 77 4 9 13 7.3 Pao 122 Wolo Lalonggopi 88 1 7 8 9,1 123 Wolo Samaenre 76 3 2 5 6.6 124 Wolo lwoimapuro 65 I 10 1 I 16,9 125 Wolo Ulu Rina 27 0 2 2 7.4 126 lwoimenda lwoimcndaa Ulu Kalo 61 I 2 3 4.9 a 127 lwoimendaa lwoimendaa 67 0 2 2 3.0 128 lwoimendaa Lasiroku 59 I 4 5 8.5 129 !woimendaa Ladahai 109 I 3 4 3.7 130 Jwoimendaa Tamborasi 102 I 3 4 3.9 1 3 1 !woimcndaa Lambopini 65 I I 2 3.1 132 lwoimendaa Wonua Laku 35 0 6 6 17,l 133 lwoimcndaa Landoula 37 0 2 2 5,4 134 lwoimendaa Watumelewe 57 2 5 7 12,3 135 lwoimendaa Lawolia 44 3 3 6 13,6 TOTAL 16725 386 1124 1510 9,0 Berbagai upaya pencegahan stunting yang telah dilaksanaan di Sulawesi tenggara diantaranya kampanye gerakan !bu Hamil, kampanye cegah stunting, gerakan aksi bergizi, kampong keluarga berkualitas dan dapur sehat atasi stunting, di kabupaten Kolaka gerakan kampanye cegah stunting dan aksi bergizi sudah dilaksanakan, kebijakan/peraturan Bupati sudah ada sejak tahun 2 0 1 9 tentang upaya penurunan stunting, inisiasi menyusui dini, dan gerakan masyarakat hidup sehat yang seluruhnya sangat mendukung upaya pencegahan stunting. Namun penyelenggara upaya pencegahan stunting tersebut tentu memiliki kendala, diantaranya keterbatasan keterlibatan masyarakat secara umum, penyelenggaraan intervensi belum terpadu dan berbagai perilaku masyarakat yang belum optimal diantaranya asupan makanan ibu hamil yang adekuat dan sesuai pesan gizi, belum semua ibu melahirkan menerapkan inisiasi menyusui dini, pengenalan makanan tambahan terlalu dini dan tidak sesuai pedoman gizi, status ekonomi dan pantangan makanan juga masih menjadi faktor berpengaruh terhadap masyarakat dengan mengacu kepada kondisi yang telah dipaparkan diatas, diperlukan pedoman strategi komunikasi perubahan perilaku berupa dokumen strategi komunikasi perubahan perilaku dan percepatan pencegahan - 1 3 stunting di kabupaten Kolaka tahun 2025 yang terpadu agar terjadi pembagian peran dan tanggung jawab masing-masing pemangku kepentingan untuk mendukung komunikasi perubahan perilaku pencegahan stunting. Kombinasi elemen advokasi kebijakan, kampanye, komunikasi antar pribadi (KAP) dan mobilisasi social akan saling melengkapi dan meneguhkan untuk memperkuat proses pengambilan keputusan, koordinasi, kualitas dan akuntabilitas program yang akan diimplementasikan. 1.2 Tujuan Dan Indikator Capaian Tujuan Umum Meningkatkan kesadaran public dan mengubah perilaku kunci untuk mencegah stunting melalui strategi komunikasi perubahan perilaku yang komperehensif di Kabupaten Kolaka - Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2026 mendatang. Tabel I Tujuan Strategi Komunikasi Perubahan Perilaku Percepatan Pencegahan Stunting di Kabupaten Kolaka - Provinsi Sulawesi Tenggara No Tujuan Khusus Target lndikator I Terlaksananya peningkatan Sebanyak 100% tenaga kesehatan di kapasitas antar pribadi bagi tenaga puskesmas mendapat pelatihan/orientasi kesehatan (utamanya bidan, komunikasi antar pribadi (utarnanya bidan, perawat, petugas gu1, petugas perawat, petugas gizi,petugas promosi promosi kesehatan, petugas kesehatan, petugas sanitasi) pada tahun 2024. sanitasi) di puskcsmas area Catatan: intcrvensi Ka bu paten -Provinsi Sulawesi Tenggara Yang dimaksud adalah bidan koordinator Merujuk kebuku strakom KPP nasional Hal 5 2 Terlaksananya peningkatan Sebanyak 100% kader posyandu dan kader kapasitas komunikasi antar pribadi KPM mendapat pelatihan. Orientasi bagi kader posyandu diarea komunikasi antar pribadi pada tahun 2024 intervensi Kabupaten Kolaka - Provinsi Sulawesi Tenggara 3 Terlaksananya komunikasi antar Sebanyak 80% tenaga kesehatan puskesmas pribadi oleh tenaga kesehatan melakukan komunikasi antar pribadi kepada puskesmas kepada kelompok kelompok sasran pada saat memberikan sasaran pada saat memberikan pelayanan kesehatan pada tahun 2024 pelayanan kesehatan diarea terutama melalui platform program PIS-PK - 14 intervensi Kabupaten Kolaka - dan Posyandu Provinsi Sulawesi Tenggara 4 Terlaksananya kampanyc tcrkait Terdapat 135 desa/keurahan di Kabupaten stunting area intcrvcnsi Kabupatcn Kolaka melaksanakan kampanye pencgahan Kolaka Tenggara Provinsi Sulawesi stunting sesuai strategi komunikasi perubahan perilaku pencegahan stunting pada tahun 2024 5 Terjadinya peningkatan pcrubahan • Sebanyak 100% ibu ham ii di daerah lokus perilaku dalam upaya pencegahan proritas minimal 90 tablet tambah darah stunting pada semua kelompok (ITO) sasaran • Sebanyak 60% ib gamil mengikuti kelas ibu hamil lokus prioritas • Sebanyak 75% rumah tangga yang Lelah empunyai akses pada jamban sehat dilokus prioritas, menggunakan fasilitas Int • Seanyak 75% bayi 0-6 ulan di lokus prioritas mendapat ASI ekslusif • Sebanyak l 00% rumah tangga yang memiliki baduta didaerah lokus prioritas mendapat konseling MP-AS! • Sebanyak 80% bayi usia 6-24 Bulan di lokus prioritas mendapat MP-AS! san makanan local • Sebanyak I 00% baduta didaerah lokus prioritas terpantau status gizi dan perkembangannta di lingkar kepala 3 bulan • Scbanyak I 00% balita usia 24 bulan - 59 bulan terpantau pcrtumbuhannya 8nkali dan perkembangan 2 kali setahun • Sebanyak 80% balita di lokus prioritas mendapat pemantauan perkembangan pertahun • Sebanyak 80% remaja putri mengonsumsi - 1 5 tablet tambah darah (TTD) di lokasi sasaran program pem berian tablet tam bah darah • Sebanyak 50% rumah tangga di lokus prioritas mendapat akses air minum layak • Sebanyak 95% bayi di lokus prioritas mendapat imunisasi dasar lengkap • Sebanyak 95% baduta (1-24 bulan) dilokus pioritas mendapat irnunisasi lanjutan DPT-HB-Hib dan Campak/MR • Sebanyak 100% ibu Hamil KEK di lokus prioritas mengonsumsi makanan tambahan ibu hamil pertahun • Sebanyak I 00% anak usia 1-4 Tahun di dacrah endemis kecacingan mengonsumsi obat cacing sesuai standar • Sebanyak 90% anak usia 0-59 bulan dilokus prioritas mengonsumsi vitamin A pertahun sesuai standar 1.3 Landasan strategi komunikasi perubahan perilaku percepatan pencegahan stunting Strategi komunikasi perubahan perilaku percepatan pencegahan stuntingdi Kabupaten Kolaka -Provinsi Sulawesi Tenggara mengacu kepada pedoman Nasional strategi komunikasi perubahan perilaku perepatan pencegahan stunting dimana startegi meliputi: 1 . Kampanye perubahan perilaku bagi masyarakat umum yang konsisten dan berkelanjutan, dengan memastikan pengembangan pesan, pemilihan saluran komunikasi yang efektif, efisien tepat sasaran, konsisten, dan berkelanjutan. Disamping itu, kampanye yang dilakukan akan dilaksanakan/ dilakukan dengan mempertimbangkan nilai-nilai budaya local (konsektual)
2.Komunikasi antar pribadi sesuai konteks sasaran, dengan memastikan pengembangan pesan sesuai dengan kebutuhan kelompok sasaran seperti posyandu, kunjungan - 1 6 rumah, konseling pemikahan, konseling reproduksi remaja, dan sebagainya dengan mempertimbangkan konteks local.
3.Advokasi berkelanjutan kepada pengambil keputusan, dengan memastikan terselenggarakannya penjangkauan yang sistematis terhadap para pengabil keputusan keputusan antara lain : Bupati/Wakil Bupati Kolaka, Ketua/Anggota DPRD Kab. Kolaka, Kepala OPD, camat, Kepala desa dan lurah, pimpin BUMN/BUMD. Ihak swasta dan stakeholder yang ada di Kabupaten Kolaka yang dirnaksud untuk mendukung percepatan pencegahan stuntingmelalui penyediaan alat bantu, dan pengebangan kapasitas penyelenggara kampanye dan komunikasi perubahan perilaku.
4.Pengembangan kapsitas pengelola program, dengan memberikan pengetahuan dan pelatihan bagi penyelenggara kampanye dan komunikasi perubahan perilaku yang efektif dan efisien kepada petugas kesehatan khususnya bidan, perawat, promkes, gizi dan petugas sanitasi, tenaga gematri desa, tenaga UKS di sekolah dasar, Tenaga pendamping desa dll. Yang akan diberikan pengembangan kapasitas dengan mempertimbangkan konteks local. Dokumen startegi kmunikasi perubahan periaku percepatan pencegahan stunting ini disusun untuk melakukan irnplementasi percepatan penurunan stunting di seluruh wilayah Kabupatwn Kolaka -Provinsi Sulawesi Tenggara yang menjadi area lokus prioritas percepatan penurunan stunting. Secara rinci, dokumen ini menjelaskan tentang target penerima dan penyampaian pesan terkait perubahan perilaku, dan elemen-elemen teknis lainnya seperti platformyang dapat dipakai untuk melakukan komunikasi antar pribadi, pilihan kanal komunikasi yang dapat digunakan untuk setiap kelompok sasaran, usulan kegiatan untuk mengimplementasikan komunikasi antar priadi, kampanye, dan advokasi kebijakan dan gambaran indikator capaian dari seluruh keguatan tersebut. 1.4 Dasar Hukum Berikut adalah beberapa landasan hukum yang mendasari pedoman nasional strategi komunikasi perilaku percepatan pencegahan stunting. I . Undang- undang nomor 1 7 tahun 2007 tentang rencana pengembangan jangka panjang nasional (RP JPN) tahun 2005-2025
2.Undang - Undang nomor 17 tahun 2023 tentang Kesehatan.
3.Peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 2 tahun 2 0 1 8 tentang Standar Pelayanan Minimal.
4.Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2012 ten tang Sistem Kesehatan Nasional. - 17
5.Peraturan Presiden nomor 42 tahun 20 I 3 ten tang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi.
6.Peraturan Presiden nomor 2 tahun 2 0 1 5 tentang Rencana Pembangunan Jangka menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019.
7.I nstruksi Presiden nomor I tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hid up Sehat (Gennas).
8.Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 8 tahun 2019 nomor 65 tahun 2013 tentang Peddoman Pelaksanaan dan Pembinaan Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan.
9.Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 3 tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. I 0. Peraturan Menteri Kesehatan Norn or 66 tahun 2014 ten tang Pemantauan Pertumbuhan, Perkembangan dan Gangguan Tumbuh Kembang Anak. 1 1 . Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.
12.Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 44 tahun 20 I 8 ten tang Penyelenggaraan Promosi Kesehatan Rumah Sakit.
13.Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 585/Menkes/SK/V/2007 tentang pedoman pelaksanaan promosi kesehatan di puskemas.
14.Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor HK.02.02/Menkes/52/2015 tentang rencana strategis kementerian kesehatan tahun 2015-2019 1 5 . Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor HK.0 l.07/Menkes/577/2018 ten tang tim koordinasi penanggulangan stuting kementerian kesehatan.
16.Peraturan bersama menteri kesehatan nomor l 88/Menkes/PB/1/2011 dan menteri dalam negeri nomor 7 tahun 2 0 1 1 ten tang pedoman pelaksanaan kawasan tan pa rokok. I 7. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik lndonesia nomor 64 tahun 2015 ten tang kawasan tan pa rokok di lingkungan sekolah.
18.Peraturan Menteri Perencanaan pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia nomor 1 1 tahun 2017 tentang pedoman umum pelaksanaan gerakan masyarakat hidup sehat. - 18
19.Peraturan Menteri dalam Negeri Republik Indonesia nomor 100 tahun 2018 tentang penerapan standar pelayanan minimal.
20.Peraturan Bupati no 29 tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) 2 1 . Perturan Bupati no 29 tahun 2 0 1 9 tentang Upaya pencegahan dan penurunan stunting di Kabupaten Kolaka.
22.Peraturan Bupati Kolaka nomor 49 tahun 2019 tentang program inisiasi menyusui dini dan AS! ekslusif tahun 20 I 9-2024.
23.Surat keputusan Bupati nomor 188.45/3/6/2017 tentang pembentukan forum diskusi gerakan masyarakat (GERMAS) hidup sehat tingkat Kabupaten Kolaka tahun 2017-2022.
24.Surat Keputusan Bupati nomor 188/45/296/2017 tentang pembentukan TIM Koordinasi akselerasi program PHBS tingkat Kabupaten Kolaka 2017-2022.
25.Keputusan Gubemur Sulawesi Tenggara Nomor 265 Tahun 2021 tentang Pembentukan TIM Koordinasi Pencegahan dan Penanganan Stunting Terintegrasi Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2021. - 1 9
(5)Pengelolaan saluran komunikasi, dan (6) Desain komunikasi. Berikut adalah 6 elemen penting yang telah diidentitikasi dalam pengembangan strategi komunikasi perubahan perilaku tersebut. 2.1 Analisis Situasi Analisa kependudukan / demografi : jumlah penduduk di Kabupaten Kolaka pada tahun 2024 sebanyak 247.140 jiwa. Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin jumlah penduduk laki-laki lebih besar dibanding penduduk perempuan, yaitu laki-laki berjumlah 126.278 jiwa (51,1%) sedangkan perempuan berjurnlah 120.862 jiwa (48,9%). Tingkat pendidikan tertinggi ditamatkan penduduk Kabupaten Kolaka paling banyak adalah berijazah SMA sederajat. Kematian ibu merupakan salah satu indikator kesehatan dimana kematian ibu menurut WHO adalah kematian selama kehamilan atau dalam periode 42 hari setelah berakhimya kehamilan akibat semua yang terkait dengan atau diperberat oleh kehamilan dan penanganannya,tetapi bukan disebabkan oleh kecelakaan/cedera. Angka kemataian ibu di Kabupaten Kolaka pada tahun 2024 sebesar I 97/100.000 kelahiran hidup. Angka ini masih rendah dibanding target nasional, namun tren kematian ibu di Kabupaten Kolaka cenderung berfluktuasi. Pelayanan kesehatan ibu hamil diukur dengan indikator Kl dan K4. Pelayanan Kl pada 2024 mencapai 95.5%, akan tetapi cakupan K4 mencapai 69.5%, masih di bawah target 95%. Cakupan ibu hamil mendapat tablet tambah darah (TTD) pada tahun 2024 sebesar 80, 7%, hal ini juga belurn mencapai target. Analisa Pelayanan/Upaya Kesehatan: Sarana atau fasilitas pelayanan kesehatan yang meliputi upaya promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilaksanakan di Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara terdiri dari Rurnah Sakit Umum Daerah Kolaka, Rurnah Sakit Swasta, Puskesmas Perawatan, Puskesmas non-Perawatan, puskesmas pembantu dan dilengkapi dengan ketersediaan sarana/prasarana pendukung sperti ketersediaan SOM Kesehatan dana alat/bahan penunjang pelayanan kesehatan. - 20 Adapun pada tahun 2024 akses dan mutu pelayanan kesehatan antara lain: cakupan kunjungan rawat jalansejumlah 326.554 kunjungan; cakupan kunjungan rawat inap sebanyak 15.853 kunjungan; angka kematian kasar/Gross Death rate (DGR) di RS sebesar 38 per 1000 pasien keluar; angka kematian murni /Net Death Rate (NDR) di RS sebesar 1 5 per 1.000 pasien keluar; Bed Occupation Rate (BOR) di RS sebesar 41 %; Bed Turn Over (BTO) di RS sebanyak 6 kali; Turn of interval (TOI) di RS sejumlah 33 hari; Average Length of Stay (ALOS) di RS sejumlah 20 hari; dan puskesmas dengan ketersediaan obat esensial dan vaksin sebesar I%. Adapun kegiatan analisis ini dilakukan dengan memperhatikan kerangka input, proses dan output. Input' : aspek ketenagaan kesehatan, biaya, sarana dan prasarana kesehatan Proses : pelayanan pengorganisasian, koordinasi, supervisi Output : pelayanan, cakupan pelayanan, pemanfaatan pelayanan Analisa potensi sumber daya masyarakat: Dalam hal analisa potensi-potensi sumber daya yang ada di masyarakat jumlah kelompok potensial di masyarakat (kelompok keagamaan, kelompok pemuda, karang taruna, kelompok perempuan, saka bakti husada, kelompok organisasi profesi seperti PGRI, IGTKI, IBI, PPNI, PERSAGI, HAKLI, IAKMl, TAGANA, dll. Kegiatan sosial budaya adalah kegiatan-kegiatan tertentu yang rutin dilakukan di masyarakat dan kegiatan sosial, adat/budaya yang mempengaruhi perlaku kesehatan, kondisi terkait keadaan politik, kegiatan penopang ekonomi desa, antara lain Bumdes, kewirausahaan, UMKM, Wirausaha sanitasi, dll. Analisa Lingkungan : Analisa terkait lingkungan fisik (menggambarkan masalah air bersih/air minum) berupa gambaran penduduk dengan akses berkelanjutan terhadap air minum berkualitas dan layak sebesar 91,3% namun dari segi kuantitas lebih mengarah kepada debit air baku yang berkurang di musim kemarau dan segi kualitas masih terdapat kualitas air yang tidak memenuhi syarata kesehatan berdasar konfirmasi laboratorium kesehatan, keadaan rumah dan pekarangan (ventilasi, lantai, maupun pencahayaan), lirnbah rumah tangga (SPAL) dan limbah industri. Analisa Perilaku Kesehatan : Pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat Kabupaten Kolaka pada lokus stunting khususnya kelompok ibu hamil terdapat 2 (dua) masalah yang menjadi perhatian, - 2 1 antara lain tidak mengonsumsi TTD sesuai standar dan belum semua ibu hamil dan keluarga mengikuti kelas ibu hamil. Terkait masalah tidak mengonsumsi tablet tambah darah sesuai standar, hal ini terjadi oleh karena beberapa hal antara lain : • Ibu hamil belum memahami pentingnya minum Tablet Tambah Darah • Efek samping TTD (membuat mual dan sembelit, haid yang banyak dan lama) • !bu hamil lupa (tidak ada keluarga yang mengingatkan minum TTD) Adapun terkait masalah belum semua ibu hamil dan keluarga mengikuti kels ibu hamil, ha] ini terjadi karena : • ibu hamil dan keluarga tidak memahami pentingnya kelas ibu hamil • Dukungan keluarga masih rendah Untuk kelompok ibu menyusui, masalah perilaku yang terjadi adalah ibu tidak memberikan AS! Eksklusif. Hal ini terjadi karena : • !bu sibuk bekerja • Gaya hidup • Pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif Selanjutnya untuk kelompok ibu dengan balita 0-23 bulan terdapat 2 (dua) masalah perilaku yang menjadi perhatian, yaitu pola pemberian makanan pada anak belum sesuai dengan standar dan kunjungan ke posyandu masih rendah. Tentang pelayanan kesehatan, pola pencarian pelayana kesehatan, penanganan penyakit, peran serta masyarakat dan tentang kesehatan ibu dan anak. 2.2 Menentukan Kelompok sasaran Pembagian kelompok sasaran mengacu dan memodifikasi dari pedoman nasional strategi percepatan pencegahan stunting periode 20 I 9-2024. Pembagian kelompok adalah berdasarkan pesan yang disampaikan, sehingga pembagian kelompok tidak dimaksudkan untuk memprioritaskan kelompok sasaran tertentu. Semua kelompok sasaran ini saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain 2.2. I Kelompok Primer Kelompok primer adalah kelompok yang yang tergabung dalam rumah tangga dengan 1.000 HPK dan tenaga kesehatan serta kader :
a.Ibu hamil
b.Ibu Menyusui
c.Anak usia 0 - 2 3 bu Ian - 2 2
d.Tenaga Kesehatan : bidan, perawat, sanitarian, tenaga gizi, tenaga promosi kesehatan
e.Kader 2.2.2 Kelompok Sekunder Kelompok sekunder adalah kelompok yang berpotensi untuk melahirkan, mencegah, dan mengoreksi anak stunting di masa mendatang dan kelompok penyedia layanan kesehatan :
a.Wanita usia subur
b.Remaja
c.Lingkungan pengasuh anak terdekat (kakek, nenek, ayah)
d.Pemuka masyarakat, pemuka agama
e.Jejaring sosial (PKK, grup pelajar, dan lain-lain) 2.2.3 Kelompok Tersier Kelompok tersier adalah pihak-pihak yang terlibat sebagai lingkungan pendukung bagi upaya percepatan stunting, yang terdiri dari :
a.Pengambil kebijakan/keputusan di Kabupaten, kota, dan desa/kelurahan
b.Organisasi Perangkat Daerah
c.Dunia usaha
d.Media massa 2.3 Menyusun Struktur Pesan Kunci Struktur dan dimensi pesan yang akan menjadi panduan utama materi komunikasi dalam implementasi percepatan penurunan stunting di Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara mengacu pada Pedoman Nasional Strategi Komunikasi Perubahan Perilaku Percepatan Pencegahan Stunting. Berikut adalah struktur pesan kunci Strategi Komunikasi Perubahan Perilaku Stunting di Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara. - 2 3 Matriks 3 Kelompok Keterangan Kelompok Pesan Sasaran Sasaran Primer I. lbu hamil Kunci: Minumlah TTD setiap hari minimal 90 tablet selama kehamilan Pendukung: • Minum TTD setiap hari selama kchamilan bisa menyelamatkan ibu dan bayi • Manfaat kelas bumil untuk memeriksa kehamilan Kunci: Jkutilah kelas ibu hamil setiap bulan untuk menjamin kesehatan ibu hamil dan janin Pendukung: • Dukungan suami terhadap ibu hamil untuk berkunjung ke kelas ibu hamil dapat menjamin kesehatan ibu dan janinnya Berikanlah AS! Eksklusif agar bayi sehat dan kuat Pendukung: • AS! Eksklusif diberikan kepada bayi selama 6 bulan • Sesibuk apapun, pemberian AS!
2.Ibu Menyusui Eksklusifkepada bayi masih bisa dilakukan dengan penyimpanan AS! secara ba ik dan benar • Memberikan bayi ASJ Eksklusifberarti mewujudkan generasi masa depan yang kuat, sehat dan cerdas • Makanlah makanan bergizi untuk meningkatkan produksi AS! Berikan makanan pendamping AS! setelah 6 bulan - 24 Pendukung: • Memberikan AS! Eksklusif kepada bayi selama 6 bulan • Memberikan makanan pendamping AS! kepada bayi setelah 6 bulan clan tetap melanjutkan pemberian ASI hingga 2 tahun • Membawa balita 0 - 2 3 bu lan ke posyandu secara rutin dapat memnatau status pertumbuhan dan perkembangan
3.Ibu dengan balita 0 - 2 3 balita 0-23 bulan bulan • Keterlibatan sektor terkait secara integrasi dengan posyandu dapat meningkatkan kualitas pelayanan posyandu Timbanglah balita ibu setiap bulan di Posyandu Pendukung: • Penimbangan balita sccara rutin di posyandu dapat memantau tumbuh kembang balita • Dapatkan makanan tambahan bagi balita di posyandu untuk pemenuhan kebutuban gizi • Berikan makanan gizi seimbang sesuai usia balita
4.lbu dengan anak 24 - 59 bulan
5.Tenaga Kesehatan Pastikan ketersediaan TTD di - 2 5 Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pendukung: 0 Update data jumlah Bumi) setiap bulan untuk perhitungan kebutuhan TTD Bumil o Kecukupan TTD di Fasyankes menjamm kebutuhan TTD bumil TingkatkankompetensiNakes mendukungpemberian kesehatan yangbermutu untuk pelayanan Pendukung: o Peningkatan pelatihan terhadap Nakes baik secara kuantitas maupun kualitas akanmemberikan daya ungkit yang besar terhadap kualitas pemberian pelayanan kesehatan Pastikan Bumi) minum TTD setiap hari, agarkelahiranlancardanbayi bergizi baik Pendukung: • Wajibkan lbu Hamil mengkonsumsi TTD setiap hari untuk mencegah bayi lahir dengan berat badan rendah dan berisiko stunting • Ingatkan ibu hamil, untuk minum TIO tiap hari supaya calon bayilahirdengan sehat, berat badan nonna] dan terhindar
6.Kader daristunting Pastikan ada pergantian kader selama suskesi Lurah dan Kepala Desa berlangsung, agar , Sekunder Tersier - 2 6 1 . Wanita usia subur dan remaja putri
2.Lingkungan pengasuh anak terdekat (kakek, nenek, ayah)
3.Pemuka masyarakat, pemuka agama Pembuat kebijakan tingkat daerah (Kabupaten/kota) pelayanan posyandu berjalan dengan baik Pendukung: Pastikan ada regulasi yang mengatur masa kerja kader, minimal 5 tahun kecuali alas permintaan sendiri Kunci: Minumlah TTD setiap seminggu sekali sepanjang tahun Pendukung: Minum TTD seminggu sekali sepanjang tahun menjamin wanita usia subur dan remaja putri bisa tetap sehat, bugar dan produktif Jaga selalu ibu hamil, pastikan TTD tersedia dan minum tiap hari agar bayi lahir dengan sehat Pendukung lngatkan dan pastikan ibu hamil untuk rutin mengonsumsi TTD setiap hari minimal 90 tablet selama kehamilan Jaga selalu ibu hamil, ingatkan TTD dirninum tiap hari agar ibu dan janin tetap sehat Pendukung: Dukungan pemuka masyarakat, pemuka agama terhadap ibu ham ii untuk minum TTD dan berkunjung ke kelas ibu hamil dapat menjam in kesehatan ibu ham ii dan janinnya. Kunci: Minum TTD setiap hari minimal 90 tablet dan - 2 7 rajin berkunjung ke kelas ibu hamil selama kehamilan penting untuk ibu hamil Pendukung: Advokasi merupakan kebutuhan yang harus segera dilakukan agar memperoleh dukungan kebijakan dari pembuat kebijakan tingkat daerah, dunia usaha dan media massa 2.4 Mengembangkan Pendekatan Komunikasi Pendekatan komunikasi yang digunakan untuk menjangkau kelompok sasaran komunikasi perubahan perilaku adalah : I . Advokasi Kebijakan Kegiatan advokasi kebijakan dalam strategi komunikasi perubahan perilaku disini akan dilakukan kepada kelompok sasaran tersier, antara lain Bupati, Kepala Desa/Lurah, Pengusaha, dan OPD.
2.Kampanye Publik Jelaskan sasaran kegiatan kampanye publik yang akan dilakukan (kelompok sasaran primer, sekunder dan tersier).
3.Komunikasi Antar Pribadi Kegiatan komunikasi antar pribadi strategi komunikasi perubahan perilaku disini akan dilakukan kegiatan kelompok sasaran primer dan sekunder, antara lain bidan, ibu menyusi, ibu dengan balita O -23 bulan, dan tenaga kesehatan.
4.Mobilisasi Sosial/Masyarakat Kegiatan mobilisasi masyarakat dalam strategi komunikasi perubahan perilaku akan dilakukan kepada kelompok sasaran antara lain : ibu hamil, bumil pekerja, ibu dengan balita 0 - 2 3 bulan. 2.5 Mengelola Saluran Komunikasi Saluran komunikasi yang akan digunakan untuk menyampaikan pesan kepada kelompok sasaran adalah : I . Pertemuan Tatap muka, antara lain pertemuan perencanaan desa/kelurahan, pertemuan advokasi, konseling, penyuluhan yang dapat dimanfaatkan untuk - 28 menyampaikan pesan kepada kelompok sasaran, seperti kelas ibu hamil, arisan, kelompok pengajian, dll.
2.Menggunakan medium perantara, yang dapat dibedakan sebagai berikut, antara lain : media audio dan audio visual seperti radio, TV kabel, videotron, website pemda; media cetak antara lain leaflet/brosur, poster, lembar balik, pamflet, billboard/baliho; serta komunikasi antar pribadi dan kelompok kecil antara lain : penyuluhan, ceramah, pengajian, talkshow, komunikasi informatif masyarakat (KIM). Diantara media tersebut yang paling diminati adalah leaflet/brosur, poster, lembar batik, TV kabel, website pemda, whatsapp, ceramah dan penyuluhan. 2.6 Mendesain Materi Komunikasi Desain materi komunikasi yang akan digunakan di Kabupaten Kolaka, antara lain mencetak leaflet, poster, lembar batik dan baliho. --- - - - ---------------------- - 2 9
3.I Perencanaan Hal-ha! yang menjadi bagian dari perencanaan komunikasi perubahan perilaku percepatan pencegahan stunting di Tingkat Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara meliputi penyusunan regulasi seperti yang sudah disusun/disahkan, tim/forum yang sudah dibentuk, jalur koordinasi yang disiapkan, anggaran yang dialokasikan dan sebagainya. Penyusunan strategi komunikasi perubahan perilaku untuk pencegahan stunting sebagai berikut: I . Melakukan analisis situasi kondisi status stunting di wilayahnya, serta menetapkan akar permasalahan, faktor penyebab dan faktor risiko dilanjutkan dengan :
a.ldentifi.kasi perilaku prioritas yang akan diangkat.
b.Menetapkan tujuan umum dan tujuan khusus berdasarkan prioritas.
c.ldentifikasi kelompok sasaran primer, sekunder dan tersier yang akan dituju
d.Menyusun pesan kunci komunikasi perubahan perilaku untuk kelompok sasaran dituju, sesuaikontekslokal.
e.Mengembangkan materi perubahan perilaku disesuaikan dengan konteks lokal dan pemanfaatannya bagi advokasi, kampanye, sosialisasi pada kelompok tertentu, materi pelatihan bagi tenaga kesehatan dan kader.
f.Menganalisis saluran dan asset komunikasi serta sumberdaya yang dimiliki dalam melaksanakan rencana strategi perubahan perilaku dalam mendukung percepatan pencegahan dan penurunan stunting.
2.Menyusun rencana kegiatan program komunikasi perubahan perilaku (disesuaikan dengan tujuan khusus, alat dan saluran komunikasi, platform yang tersedia, indikator capaiandari masing-masing kegiatan.
3.Menyusun pembagian peran dan tanggung jawab para pernangku kepentingan terkait untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
4.Menyusun rencana pemantauan dan evaluasi
5.Menerbitkan regulasi lokal terkait implementasi komunikasi perubahan perilaku. 30 3.2 Matriks RencanaAksi dan Pemantauan Komunikasi Perubahan Perilaku Pendekatan Kelompok Saluran Bentuk Materi lndikator Capaian AlokasiAngga Sumber Data Penangg Frekuensi Komunikasi Sasaran Komunikasi Kegiatan Kornunikasi Kegiatan ran/Sumber atau Alat ung Pemantaua Dana Verifikasi Jawab n Perilaku : Ibu hamil tidak mengkonsumsi TTD Sesuai Standar Primer (ibu Pemberian Kunjungan Tatalaksana Jumlah bumil APBD Jumlahbumil Dinkes 4 kali harnil) informasi rumah/kclas pemberian obat mendapatkan obat yang oleh bidan ibu barnil TTD TTD meningkat belummendap atkanobat TTD Pendarnpingan Kunjungan Motivasi Ttd bagi bumil Jumlah bumil yang APBD Jumlah DPMD 4 kali oleh kader rumah pentingnya termotivasi kunjungan obat TTD pentingnya TTD meningkat Perilaku : Bel um semuaibuhamilmengikutikegiatan di kelasibuharn.il Primer (ibu Pemberian Sosialisasi Manfaat Jumlah bumil APBD Jumlahbunil Dinkes I kali harnil ) infonnasi kelasbumil mengikutikelasbu mengikuti yang oleh bidan mil sosialisasi kelas ikutsertadalam burnil meningkat kelasbumil Perilaku : !bu tidakmemberikan ASI Eksklusif 31 Primer (Ibu Pemberianin Sosialisasi Manfaat ASI Jumlah bayi APBD Jumlah bayi Dinkes I kali rnenyusui) formasi oleh perbup ASI Eksklusif mendapatkan ASI mendapatkan bidan Eksklusif dan eksklusif meningkat ASI eksklusif IMO meningkat 32
a.Materi yang dipantau adalah perkembangan pelak:sanaan kegiatan strategi komunikasi perubahan perilaku pencegahan stunting dengan menggunakan komunikasi antar pribadi di kabupaten/kota
b.Sumber informasi pemantauan adalah dokumen rencana kegiatan strategi komunikasi perubahan perilaku pencegahan stunting dengan menggunakan komunikasi antar pribadi di tingkat kabupaten/kota termasuk didalamnya adalah target kegiatan, alokasi pendanaan dan indikator komunikasi antar pribadi dalam program pencegahan stunting.
c.Pelaksana pemantauan di tingkat kabupaten/kota menjadi tanggung jawab bidang Kesehatan masyarak:at yang mendapat penugasan dari pimpinan institusi.
d.Pemantauan dilakukan setiap 6 bulan sekali kepada Bupati/ Wali kota secara terpadu melalui laporan secara berjenjang, rapat koordinasi lintas program/sektor dan pembinaan terbaru.
e.Umpan balik (feedback) hasil monitoring dapat disampaikan melalui mekanisme persuratan dan dapat dibawake forum pimpinan apabila terdapat tindak lanjut yang memerlukan keputusan pimpinan yang lebih tinggi.
f.Hasil monitoring akan menjadi bahan masukan dalam melak:ukan evaluasi upaya komunikasi dalam pencegahan stunting secara keseluruhan. Kegiatan evaluasi yang harus dilak:ukan secara rutin oleh pihak-pihak terkait: I . Materi yang dievaluasi ditingkat kabupaten/kota adalah hasil pelak:sanaan kegiatan strategi komunikasi perubahan perilaku pencegahan stunting dengan menggunak:an komunikasi antar pribadi.
2.Sumber informasi evaluasi adalah dokumen rencana kegiatan strategi komunikasi perubahan perilaku pencegahan stunting dengan menggunak:an komunikasi antar pribadi yang termasuk di dalamnya adalah target kegiatan, alokasi pendanaan dan indikator komunikasi perubahan perilaku dalam program pencegahan stunting.
3.Pelak:sanaan evaluasi ditingkat kabupaten/kota menjadi tanggung jawab di bidang Kesehatan masyarakat atau penanggung jawab yang ditugaskan oleh institusi yang berwenang. 33
4.Waktu evaluasi dilakukan setahun sekali melalui laporan rapat koordinasi forum komunikasilintas program pada akhirtahun.
5.Hasil evaluasi dilaporkan ke Gubernur oleh Bupati dan akan dilaporkan kepada Menteri Kesehatan. 34 MASALAH PERILAKU DAN PRAKTIK : KolakaKabupaten/Kota Provinsi : Sulawesi Tenggara SASARAN MASALAH PENYEBAB MASALAH ALTERNATIF PENYELESAIAN MASALAH I. !bu hamil Tidak mengonsumsi TTD • Tidak mengetahui pentingnya minum I. Kader mendarnpingi dan memotivasi ibu hamil SASARAN sesuai standar TTD dan keluarga untuk minum TTD PRIMER • Efek samping TTD (membuat mual 2 Bidan memberikan informasi tentang manfaat dan sembelit, haid yang banyak dan TTD dan efek samping lama) • Lupa (tidak ada keluarga yang 3. Anggota keluarga mengingatkan ibu untuk mengingalkan minum TTD) minum TTD nya Belum semua ibu hamil dan • Tidak memahami pentingnya kelas ibu Sosialisasi/pcnyuluhan kcpada ibu harnil dan keluarga mengikuti kelas ibu hamil keluarga tentang kelas ibu hamil hamil • Dukungan keluarga masih rendah Ibu tidak memberikan AS! • !bu sibuk bekerja Program GP2SP
2.lbu Menyusui Eksk:lusif • Gaya hidup Penyusunan regulasi tentang IMD/ASI • Pengetahuan ibu tentang ASI Sosialisasi tentang pentingnya AS! Eksk:lusif Eksklusif masih rendah Konseling ASI
3.Ibu dengan balita 0 • Penyapihan tcrlalu dini Konseling PMBA Pola pemberian makanan pada -23 bulan anak belum scsuai dengan standar Kunjungan posyandu masih • Partisipasi masyarakat kurang Penggerakan masyarakat untuk membawa merah anaknya ke posyandu
4.bu dengan anak 24 Kunjungan ke posyandu masib • Belum adanya integrasi kegiatan Bimtek pendidikan keluarga - 59 bulan rendah dengan PAUD Pcmantauan tumbuh kcmbang • Partisipasi masyarakat kurang Penggerakan masyarakat untuk membawa masih rendah anaknya ke posyandu 35 Kurangnya frekuensi pelatihan bagi
5.Tenaga Kesehatan Kapasitas nakes masih kurang • nakes Orientasi bagi Nakes Frekuensi penggantian kader Kebijakan kades/Lurah Pcrlu adanya rcgulasi yang mengatur pergantian
6.Kader vang tingui • kader Efek samping TTD ( membuat mual • Sosialisasi dan akselerasi minum TTD di SASARAN Wanita Usia Subur Tidak mcngonsumsi TTD dan sembelit, haid yang banyak dan sckolah SEKUNDER I. dan Remaja putri sesuai standar lama Pemikahan dini
2.Sosial budaya yang tidak sehat masih • Pendekatan sosial budata melalui Lingkungan dipertahankan TOMA/TOGA/TOMAT pengasuh anak terdekat (kakek, nenek, ayah) Pola asuh anak yang salah 3. Pcmuka Dukungan pemuka Pengetahuan pemuka • Sosialisasi kepada pemuka masyarakat/agama masyarakat, pemuka masyarakat/agama di bidang masyarakat/agama di bidang tentang kesehatan agama keschatan masih rcndah kesehatan masih kurang SASARAN I. Pcngambil Bclum adanya kcbijakan • Advokasi tcrhadap pcngambil • Mclaksanakan advokasi TERSIER kebijakan/keputusan terhadap keharusan minum kebijakan/keputusan masih kurang di kabupaten/kota, TTD dan desa/kelurahan 2 Dunia Usaha Belum adanya MoU • Kemitraan dengan dunia usaha masih • Penyusunan dan sosialisasi regulasi rendah 36 ANALISIS SALURAN/KANAL KOMUNIKASI Kabupaten/Kota : Kolaka Provinsi : Sulawesi Tenggara SALURAN/KANAL JENIS YANG ADA KENDALA SASARAN YANG DIMINATI KOMUNIKASI MEDIA CETAK Koran I. Distribusi terbatas (haoya Memasyaratkan koran Poster kalangan OPD) Leaflet/brosur 2. Minat baca dan daya beli Upayakan mencetak Lembar balik masyarak at terbatas sendiri Poster 3. Biaya cetak mahal Menyusun desain Billboard/baliho dengan pesan sederhana Lembar balik 4. Desain kurang menarik Pamflet Billboard/baliho MEDIA AUDIO DAN Radio I. Minat mcndengarkan radio Mengkoordinasikan TV Kabel AUDIO VISUAL menurun jadwal siaran TV Kabel 2. Jaringan internet tidak optimal Videotron Videotron Website Pernda Kolaka MEDIA BROADCAST Whatsapp Pesan-pesan tidak fokus Membuat WA Group WA DAN DIGITAL kbusus untuk pesan pesan prioritas Facebook KOMUNIKASI ANTAR Ceramah/Penyuluhan Penyiapan materi Mcnyusun materi Ceramah, penyuluhan PRIBADI DAN dengan bahasa yang KELOMPOK KECIL mudah dipahami STRATEGI Buku Kumpulan I . Kader dan Nakes Terlatih Pemda dan Dinkes Khotbah seragam, KOMUNIKASI lnformasi ACS Strakom masih kurang Mengkoordinasikan. Rompi stunting, PERUBAHAN 2. Biaya Cetak Sosialisasi buku ACS Jajanan kelor, PERILAKU Kalender stunting 37 MATRIKS 3 Kelompok Keterangan Kelompok Sasaran Pesan Sasaran Primer I. lbu hamil Kunci: Minumlah TTD setiap hari minimal 90 tablet selama kehamilan Pendukung: • Minum TTD setiap hari selama kehamilan bisa menyelamatkan ibu dan bayi • Manfaat kelas bumil untuk memeriksa kehamilan Kunci: lkutilah kelas ibu hamil setiap bulan untuk menjamin kesehatan ibu hamil danjanin Pendukung: • Dukungan suami terhadap ibu hamil untuk bcrkunjung ke kelas ibu ham ii dapat menjamin kesehatan ibu dan janinnya 2 !bu Menyusui Berikanlah ASI Eksklusif agar bayi sehat dan kuat Pendukung: • ASI Eksklusif diberikan kepada bayi selama 6 bulan • Sesibuk apapun, pemberian AS! Eksklusif kepada bayi masih bisa dilakukan dengan penyimpanan ASI secara baik dan benar • Memberikan bayi ASI Eksklusifberarti mewujudkan generasi masa depan yang kuat, sehat dan cerdas
3.Ibu dengan balita 0 - 2 3 bulan 38 • Makanlah makanan bergizi untuk meningkatkan produksi ASI Berikan makanan pendamping AS! sctelah 6 bulan Pcndukung: • • • • Memberikan AS! Eksklusifkepada bayi selama 6 bulan Memberikan makanan pendamping AS! kepada bayi setelah 6 bulan dan tetap melanjutkan pemberian AS! hingga 2 tahun Membawa balita 0 - 2 3 bulan ke posyandu secara rutin dapat memnatau status pcrtumbuhan dan perkembangan balita 0-23 bulan Keterlibatan sektor tcrkait secara intcgrasi dcngan posyandu dapat meningkatkan kualitas pelayanan posyandu
4.Ibu dengan anak 24 - 5 9 bulan Timbanglah balita ibu setiap bulan di Posyandu Pendukung: • Penimbangan balita sccara rutin di posyandu dapat memantau tumbuh kembang balita • Dapatkan makanan tambahan bagi balita di posyandu untuk pemenuhan kebutuhan gizi • Berikan makanan gizi seimbang sesuai usia balita
5.Tenaga Kesehatan Pastikan ketersediaan TTD di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pendukung: o Update data jumlah Bumi! setiap bulan perhitungan kebutuhan TTD Bumil untuk o Kecukupan TTD di Fasy ankes menjamm 39 kebutuhan TTD bumil TingkatkankompetensiNakes untuk mendukungpemberian pelayanan kesehatan yangbermutu Pendukung: o Peningkatan pelatihan terhadap Nakes baik secara kuantitas maupun kualitas akanmemberikan daya ungkit yang besar terhadap kualitas pemberian pelayanan kesehatan Pastikan Bumil minum TTD setiap hari, agarkelahiranlancardanbayi bergizi baik Pendukung: • • Wajibkan untuk mencegah berisiko stunting lngatkan ibu hamil, bay ilahirdengan sehat, berat daristunting Pastikan ada pergantian kader selama suskesi Lurah dan Kepala Desa berlangsung, agar pelayanan posyandu berjalan dengan baik Pendukung: Pastikan ada regulasi yang mengatur masa kerja kader, minimal 5 tahun kecuali alas pennintaan sendiri untuk minum TIO tiap hari supaya calon badan nonna] dan terhindar lbu Hamil mengkonsumsi TIO setiap hari bayi lahir dengan berat badan rendah dan 40
6.Kader Sekunder I. Wanita usia subur dan remaja Kunci: putri Minumlah TTD setiap semnggu sekali sepanjang tahun Pcndukung: Minum TTD seminggu sekali sepanjang tahun menjamin wanita usia subur dan remaja putri bisa tetap sehat, bugar dan produktif Jaga selalu ibu hamil, pastikan TTD tersedia dan minum tiap hari agar bayi lahir dengan sehat Pendukung
2.Lingkungan pengasuh anak Ingatkan dan pastikan ibu hamil untuk rutin mengonsumsi TTD setiap hari terdekat (kakek, nenek, ayah) minimal 90 tablet selama kehamilan Jaga selalu ibu hamil, ingatkan TTD diminum tiap hari agar ibu danjanin tetap sehat Pendukung: Dukungan pemuka masyarakat, pemuka agama terhadap ibu ham ii untuk minum
3.Pcmuka masyarakat, pemuka TTD dan berkunjung ke kelas ibu hamil dapat menjamin kesehatan ibu hamil agama dan janinnya. Tersier Pembuat kebijakan tingkat daerah Kunci: (Kabupaten/kota) Minum TTD setiap hari minimal 90 tablet dan rajin bcrkunjung ke kelas ibu hamil selama kehamilan penting untuk ibu hamil 41 Pendukung: Advokasi merupakan kebutuhan yang harus segera dilakukan agar memperoleh dukungan kebijakan dari pembuat kebijakan tingkat daerah, dunia usaha dan media massa -- . Matriks 4 - . Pendekatan Kelompok Saluran Bentuk Materi Komunikasi lndikator Capaian Surnber Data/Alai PJ Frekuensi Komunikasi sasaran Komunikasi Kegiatan verifikasi I. Kepala Pertemuan Paparan, Penganggaran Adanya surat Laporan Rapat KTU I X Desa/Lurah perencanaan advokasi, insentifkader keputusan kepala Koordinasi, Daftar Puskesmas Advokasi (kades tingkat desa audiensi pendamping bumil desa/lurah hadir mendampingi bumil)
2.Perusahaan/OPD Pertemuan Paparan, Pentingnya Tersedianya ruangan advokasi, pemberian AS! AST beserta KIT audiensi Eksklusif konseling menyusui Mobilisasi I. Kelompok Sosial Primer
a.Ibu hamil Kelas !bu Penyuluhan Modul ibu hamil Meningkatnya Laporan Bulanan Bikor Bulanan hamil kelompok scsuai dengan kunjungan burnil di bidan kehamilannya kelas ibu hamil
b.Bumi! bekerja Ruangan Konseling AS! dan manfaatnya Jurnlah bumil pekerja Laporan Gizi TPG Setiap ASL yang mendapatkan Semester kooseling AS! 42
c.lbu dengan Kelas !bu Pertemuan Pentingnya PMBA Jumlah !bu dengan Laporan Gizi TPG Bulanan balita 0-23 bulan balita 0-23 bulan yang mendapatkan penyuluhan PMBA
2.Kelompok Sekunder
a.Kepala Kelas !bu Pertemuan Pentingnya dukungan Jumlah Kepala Keluarga kcpala kc!uarga keluarga yang terhadap kelas ibu mengikuti kelas ibu harnil harnil
b.Guru PAUD Bunda Pcrtemuan Pcntingnya Frekuensi pertemuan PAUD pendidikan keluarga bunda PAUD dan peran bunda PAUD dalam posyandu intcgrasi holistik Karnpanye Unsur HKN Karnpanyc GERMAS Jumlah peserta Laporan Promkes I x pemerintah dan germas publik masvarakat • Bidan Pertemuan Oricntasi bidan TTD Ibu hamil Jumlah bidan Laporan Kcsga dan Ix Komunikasi Perubahan mendapatkan Gizi Perilaku orientasi melalui komunikasi antar pribadi lbu menyusui Pertemuan Konseling Pcntingnya AS! Jumlah ibu menyusui Pcncatatan/laporan TPG Bulanan Eksklusif yang mendapatkan konseling !bu dengan Pertemuan Konseling Pentingnya PMBA Jumlah Ibu dengan Pencatatan/laporan TPG Bulanan balita 0 - 2 3 balita 0-23 bulan bulan yang mendapatkan 43 konseling • Nakes Pertemuan Orientasi Nakes Pedoman SDIDTK Jumlah bidan Laporan Bikor Bulanan mendapatkan orientasi BUPATI OLAKA,