2.Kelembagaan Iptek Di Daerah Saat Ini Kelembagaan riset dan inovasi di Trenggalek belum menjadi BRIDA / BAPPERIDA sesuai Pasal 17 Permendagri No 7 Tahun 2023, berdasarkan dengan perkembangan regulasi terbaru yaitu Peraturan Daerah Kabupaten Trenggalek Nomor 1 Tahun 2025 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah ada perubahan nomenklatur dari Bappedalitbang menjadi Bapperida namun dengan struktur yang sama. Kelembagaan Riset dan Inovasi Daerah pada Bappedalitbang Kabupaten Trenggalek mulai tahun 2017, dilaksanakan oleh Sub Bidang (level eselon IV) yaitu Sub Bidang Penelitian, Pengembangan dan Inovasi Daerah, di bawah Bidang Penelitian, Pengembangan, Perencanaan, Pengendalian, Evaluasi dan Pelaporan. Adapun pada Sub Bidang Penelitian, Pengembangan dan Inovasi Daerah terdiri dari Kepala Sub Bidang, 1 (satu) orang peneliti ahli muda,1 (satu) orang penelaah teknis kebijakan dan 1 (satu) orang Perencana Ahli Pertama.
3.Jejaring Riset Dan Inovasi Daerah Kabupaten Trenggalek telah melakukan kemitraan riset dan inovasi dengan berbagai lembaga, terdapat 67 kampus yang telah melakukan kemitraan 49Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 melalui permohonan izin riset23. Selain itu kemitraan dilakukan melalui program Kerja Sama Dunia Usaha dan Kreasi Reka (Kadareika/Matching Fund), yaitu platform kemitraan riset dan inovasi antara pemerintah daerah, pelaku bisnis dan universitas. Program Matching Fund antara Universitas Brawijaya dengan Dinas pariwisata terkait sistem Nakula Sadewa (Matching Fund 2023)24. Universitas Negeri Malang dengan Dinas Pertanian dan Pangan terkait sistem E Tandur (Matching Fund 2023)25. Serta IPB yang bermitra dengan Bappedalitbang terkait Net Zero Karbon (Matching Fund 2024)26. Kabupaten Trenggalek berpotensi melakukan kolaborasi riset dengan perguruan tinggi dan lembaga riset lainnya, di antaranya : ● Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi dalam daerah : - STKIP PGRI Trenggalek - Institut Teknologi dan Bisnis Trenggalek - Polkesma Kampus V Trenggalek - STIT Sunan Giri - Universitas Terbuka (UT) Pokjar Trenggalek ● Kolaborasi riset dengan perguruan tinggi Se-Jawa Timur - Universitas Airlangga - Universitas Brawijaya - Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya - Institut Teknologi Sepuluh November - dan perguruan tinggi lainnya ● Kolaborasi riset dengan perguruan tinggi Se-Indonesia - Universitas Gajah Mada - Institut Pertanian Bogor - dan perguruan tinggi lainnya ● Kabupaten Trenggalek melakukan kolaborasi riset dengan BRIN, beberapa riset yang berkolaborasi dengan BRIN di antaranya : - Akselerasi Pembangunan PLTB 50 MW di Pesisir Selatan Kabupaten Trenggalek. - Kajian Adaptasi Tata Kelola Pemerintahan di Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). - Hilirisasi Komoditas Kelapa untuk Peningkatan PDRB Kabupaten Pacitan dan Kabupaten Trenggalek Sebagai Lokasi Prioritas Pemerataan Pembangunan di Jalur Lintas Selatan Jawa Timur. Keseluruhan informasi di atas adalah gambaran awal kondisi kabupaten Trenggalek dalam melakukan kajian untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis bukti. Kapasitas penyusunan kajian dalam setiap tahunnya adalah 3 naskah. 23 https://satudata.trenggalekkab.go.id/dataset/641/2024/data-pemohon-penerbitan-surat- ijin-penelitiankknpklprakerin 24 https://radarmalang.jawapos.com/pendidikan/813552591/vokasi-ub-kolaborasi-pemkab- trenggalek-bikin-sistem-informasi-wisata-100-desa?page=2 25 https://sikarsa.um.ac.id/storage/data_draft/draft_MBnQ55Bv1z_110823_1691718626.pdf 26 https://www.ipb.ac.id/news/index/2024/10/ipb-universitys-silviculture-department-and- trenggalek-regency-government-collaborate-on-agroforstain-program/ 50Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 2.2.2 Kondisi Ekosistem Riset dan Inovasi di Daerah Berdasarkan produk unggulan dan prioritas yang dipilih maka dilakukan identifikasi terhadap kondisi ekosistem riset dan inovasi di daerah, untuk melihat daya dukung ekosistem di daerah terhadap upaya penguatan riset dan inovasi yang akan dilakukan. Ada 6 elemen ekosistem riset dan inovasi yang digunakan untuk menganalisis kondisi ekosistem riset dan inovasi di daerah, sesuai dengan Pasal 22 dan 23 Peraturan BRIN No.5 Tahun 2023 tentang Tata Kelola Riset dan Inovasi di daerah yaitu :
1.Kebijakan dan infrastruktur riset dan inovasi di daerah;
2.Kapasitas kelembagaan dan daya dukung riset dan inovasi;
3.Kemitraan riset dan inovasi;
4.Budaya riset dan inovasi;
5.Keterpaduan riset dan inovasi di daerah; dan
6.Penyelarasan dengan perkembangan global. Pemerintah kabupaten Trenggalek telah menetapkan 3 prioritas utama riset dan inovasi untuk tahun 2025-2029 yaitu :
1.Memperkuat Ekonomi Inklusif dan Regeneratif dengan fokus pada Hilirisasi, dan kepastian pasar produk unggulan daerah (Beras, Kopi, Nilam, Tongkol, Tuna, Cakalang, dan Patin) secara berkelanjutan.
2.Mewujudkan Net Zero Carbon dengan fokus pada Identifikasi Geosite dan proses pembentukan Geopark.
3.Meningkatkan SDM Kreatif dan Inovatif dengan fokus pada Pengembangan Inovasi Hidup Berkualitas. Berdasarkan penjelasan di atas, maka kondisi ekosistem riset dan inovasi untuk prioritas tahun 2025-2029 adalah sebagai berikut : 51Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Tabel 19 Kondisi Saat Ini Hilirisasi dan kepastian pasar Produk Unggulan Daerah (Beras, Kopi, Nilam, Tongkol, Tuna, Cakalang, dan Patin) Elemen Ekosistem Riset dan Inovasi Daerah Kondisi Saat Ini Prioritas 1 : Hilirisasi dan kepastian pasar produk unggulan daerah (Beras, Kopi, Nilam, Tongkol, Tuna, Cakalang, dan Patin) secara berkelanjutan. A. Kebijakan dan Infrastruktur Riset dan Inovasi di Daerah • Belum ada regulasi (Perda/Perkada) yang mendukung hilirisasi dan kepastian pasar PUD dan produk turunannya • Belum ada keselarasan Renstra dan Renja terkait hilirisasi dan kepastian pasar PUD dan produk turunannya • Belum ada database riset dan inovasi tentang PUD dan produk turunannya • Belum ada pusat inovasi pengembangan PUD • Sudah ada balai benih ikan dan balai penyuluhan pertanian tetapi belum ada pemanfaatan untuk hilirisasi PUD • Belum ada anggaran riset dan inovasi untuk hilirisasi dan kepastian pasar PUD dan produk turunannya • Belum ada data kekayaan intelektual PUD • Sudah ada fasilitasi HaKI (hak cipta) tapi bukan untuk PUD B. Kapasitas Kelembagaan dan Daya Dukung Riset dan Inovasi • Belum ada Kerja sama khusus dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah lainnya, swasta dan perguruan tinggi dalam rangka hilirisasi dan kepastian pasar PUD • Belum ada demplot untuk uji coba dalam rangka pengembangan PUD C. Kemitraan Riset dan Inovasi • Belum ada Forum inovasi/ kemitraan riset khusus PUD • Kolaborasi riset inovasi PUD masih minim • Belum ada diseminasi benih, teknologi, dan usaha tani untuk hilirisasi PUD • Kemitraan berjalan sporadis, tanpa kontrak jangka panjang D. Budaya Riset dan Inovasi • Belum ada promosi dan kampanye hilirisasi dan kepastian pasar PUD • Belum ada kompetisi hilirisasi dan kepastian pasar PUD • Belum ada perusahaan pemula berbasis riset inovasi dalam hilirisasi dan kepastian pasar PUD • Belum ada database teknologi tepat guna dalam rangka pengembangan kopi dan produk turunannya E. Keterpaduan Riset dan Inovasi di Daerah • Belum ada prakarsa riset dan inovasi dalam rangka hilirisasi dan kepastian pasar PUD • Belum ada klaster inovasi untuk hilirisasi dan kepastian pasar PUD • Belum ada sinkronisasi kebijakan yang ada di kabupaten Trenggalek dengan kebijakan pusat terkait hilirisasi dan kepastian pasar PUD. F. Penyelarasan dengan Perkembangan Global • Belum ada penyelarasan isu pengurangan emisi carbon terkait hilirisasi dan kepastian pasar PUD • Belum ada kerja sama internasional dalam rangka hilirisasi dan kepastian pasar PUD 52Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Tabel 20 Kondisi Saat ini Identifikasi Geosite dan proses pembentukan Geopark Elemen Ekosistem Riset dan Inovasi Daerah Kondisi Saat Ini Prioritas 2 : Identifikasi geosite dan proses pembentukan Geopark A. Kebijakan dan Infrastruktur Riset dan Inovasi di Daerah • Belum ada regulasi (Perda/Perkada) yang mendukung geosite dan Geopark • Belum ada keselarasan Renstra dan Renja terkait geosite dan Geopark • Belum ada database riset dan inovasi tentang geosite dan Geopark • Belum ada pusat inovasi pengembangan geosite dan Geopark • Belum ada anggaran riset dan inovasi untuk geosite dan Geopark • Belum ada data kekayaan intelektual geosite dan Geopark • Sudah ada fasilitasi HaKI (hak cipta) tapi bukan untuk geosite dan Geopark B. Kapasitas Kelembagaan dan Daya Dukung Riset dan Inovasi • Belum ada kerja sama khusus dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah lainnya, swasta dan perguruan tinggi dalam rangka geosite dan Geopark C. Kemitraan Riset dan Inovasi • Belum ada forum inovasi/ kemitraan riset khusus geosite dan Geopark • Kolaborasi riset inovasi geosite dan Geopark masih minim • Belum ada diseminasi teknologi untuk geosite dan Geopark • Kemitraan berjalan sporadis, tanpa kontrak jangka panjang D. Budaya Riset dan Inovasi • Belum ada promosi dan kampanye geosite dan Geopark • Belum ada kompetisi geosite dan Geopark • Belum ada perusahaan pemula berbasis riset inovasi dalam geosite dan Geopark • Belum ada database teknologi tepat guna terkait geosite dan Geopark E. Keterpaduan Riset dan Inovasi di Daerah • Belum ada prakarsa riset dan inovasi terkait geosite dan Geopark • Belum ada klaster inovasi untuk geosite dan Geopark • Belum ada sinkronisasi kebijakan yang ada di kabupaten Trenggalek dengan kebijakan pusat terkait geosite dan Geopark F. Penyelarasan dengan Perkembangan Global • Sudah ada penyelarasan isu pengurangan carbon terkait geosite dan Geopark • Belum ada kerja sama internasional dalam rangka geosite dan Geopark 53Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Tabel 21 Kondisi Saat ini Pengembangan Inovasi Hidup Berkualitas Elemen Ekosistem Riset dan Inovasi Daerah Kondisi Saat Ini Prioritas 3 : Pengembangan Inovasi Hidup Berkualitas A. Kebijakan dan Infrastruktur Riset dan Inovasi di Daerah • Belum ada regulasi (Perda) yang mendukung inovasi hidup berkualitas • Belum ada keselarasan Renstra dan Renja terkait inovasi hidup berkualitas • Sudah ada database inovasi di website KEMENDAGRI, tapi tidak spesifik pada inovasi hidup berkualitas • Belum ada pusat inovasi hidup berkualitas • Belum ada anggaran riset dan inovasi pada terkait inovasi hidup berkualitas • Belum ada data kekayaan intelektual inovasi daerah untuk hidup berkualitas • Sudah ada fasilitasi HaKI (hak cipta) tapi bukan untuk inovasi daerah hidup berkualitas B. Kapasitas Kelembagaan dan Daya Dukung Riset dan Inovasi • Belum ada kerja sama khusus dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah lainnya, swasta dan perguruan tinggi dalam rangka inovasi daerah untuk hidup berkualitas C. Kemitraan Riset dan Inovasi • Belum ada forum inovasi/ kemitraan riset khusus hidup berkualitas • Kolaborasi riset inovasi hidup berkualitas masih minim • Belum ada diseminasi teknologi untuk inovasi hidup berkualitas • Kemitraan berjalan sporadis, tanpa kontrak jangka panjang D. Budaya Riset dan Inovasi • Belum ada promosi dan kampanye inovasi hidup berkualitas • Belum ada kompetisi inovasi hidup berkualitas • Belum ada perusahaan pemula berbasis riset inovasi dalam inovasi hidup berkualitas • Belum ada database teknologi tepat guna terkait inovasi hidup berkualitas E. Keterpaduan Riset dan Inovasi di Daerah • Belum ada prakarsa riset dan inovasi terkait inovasi hidup berkualitas • Belum ada klaster inovasi untuk inovasi hidup berkualitas • Belum ada sinkronisasi kebijakan yang ada di kabupaten Trenggalek dengan kebijakan pusat terkait inovasi hidup berkualitas F. Penyelarasan dengan Perkembangan Global • Belum ada penyelarasan isu pengurangan carbon terkait inovasi hidup berkualitas • Belum ada kerja sama internasional dalam rangka inovasi hidup berkualitas 54Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029
1.Memperkuat Ekonomi Inklusif dan Regeneratif dengan fokus pada Hilirisasi, dan kepastian pasar produk unggulan daerah (Beras, Kopi, Nilam, Tongkol, Tuna, Cakalang, dan Patin) secara berkelanjutan.
2.Mewujudkan Net Zero Carbon dengan fokus pada Identifikasi geosite dan proses pembentukan Geopark.
3.Meningkatkan SDM Kreatif dan Inovatif dengan fokus pada Pengembangan Inovasi Hidup Berkualitas Percepatan pencapaian target pembangunan dilakukan melalui serangkaian analisis untuk merumuskan kondisi ekosistem riset dan inovasi di daerah yang diharapkan akan tercapai pada akhir periode dokumen perencanaan. Kondisi ekosistem riset dan inovasi yang ingin dicapai merupakan hasil dari analisis terhadap tantangan dan peluang yang akan dihadapi oleh daerah selama beberapa tahun ke depan, dalam menyelesaikan permasalahan pembangunan daerah dan pengembangan produk unggulan daerah melalui penguatan riset dan inovasi. 3.1 Tantangan dalam Pemanfaatan Riset dan Inovasi di Masa Datang Pemanfaatan hasil riset dan inovasi dimasa mendatang akan menghadapi berbagai tantangan yang perlu disikapi secara komprehensif. Perkembangan teknologi yang pesat, perubahan iklim, dan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks menuntut optimalisasi peran peneliti, akademisi, dan pembuat kebijakan untuk menghasilkan solusi yang berdampak nyata. Penelaahan terhadap tantangan-tantangan ini akan memberikan arah bagi pengembangan riset dan inovasi yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Percepatan pembangunan daerah berbasis riset dan inovasi akan menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diatasi untuk mencapai hasil yang optimal. Beberapa tantangan tersebut antara lain :
1.Terbatasnya SDM Riset dan Inovasi di Daerah Salah satu tantangan mendasar dalam pemanfaatan riset dan inovasi di Kabupaten Trenggalek adalah terbatasnya sumber daya manusia peneliti di daerah. Jumlah peneliti maupun tenaga fungsional litbang yang tersedia masih relatif sedikit, baik yang berasal dari perangkat daerah, perguruan tinggi lokal, maupun lembaga penelitian nonpemerintah. Kondisi ini menyebabkan kapasitas daerah dalam menghasilkan riset yang berkualitas, relevan, dan sesuai kebutuhan pembangunan belum optimal. 55Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Selain dari sisi jumlah, tantangan juga muncul pada aspek kompetensi. Bidang keilmuan para peneliti sering kali belum sejalan dengan prioritas riset daerah, misalnya pada hilirisasi produk unggulan, pengembangan Geopark, atau inovasi sosial untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Regenerasi peneliti pun masih berjalan lambat; banyak talenta muda potensial memilih melanjutkan karier di luar daerah karena keterbatasan fasilitas riset, minimnya insentif, dan kurangnya ruang kreasi yang mendukung aktivitas penelitian di Trenggalek. Keterbatasan SDM peneliti ini pada akhirnya berimplikasi pada rendahnya produktivitas riset dan inovasi. Hasil riset yang dihasilkan masih terbatas jumlahnya, dan proses hilirisasi maupun pemanfaatannya di level kebijakan maupun dunia usaha sering kali tidak maksimal. Jika tantangan ini tidak diatasi, maka upaya menjadikan riset dan inovasi sebagai pendorong utama pembangunan daerah akan sulit tercapai.
2.Minimnya Anggaran Riset dan Inovasi Tantangan lain yang dihadapi dalam pemanfaatan riset dan inovasi di Kabupaten Trenggalek adalah minimnya alokasi anggaran riset dan inovasi yang kurang dari 1% APBD. Porsi pembiayaan dari APBD yang dialokasikan untuk kegiatan penelitian, pengembangan, dan penerapan teknologi masih sangat terbatas, sehingga ruang untuk menghasilkan riset berkualitas maupun mengembangkan inovasi daerah menjadi sempit. Kondisi ini menyebabkan banyak ide riset hanya berhenti pada tahap wacana atau prototipe awal tanpa keberlanjutan implementasi. Keterbatasan anggaran juga berdampak pada rendahnya dukungan terhadap fasilitas riset, penyediaan peralatan laboratorium, serta pengembangan kapasitas peneliti di daerah. Bahkan, kegiatan hilirisasi hasil riset agar dapat dimanfaatkan secara nyata oleh masyarakat maupun dunia usaha sering terhambat karena tidak tersedianya pembiayaan yang memadai. Di sisi lain, skema pendanaan alternatif seperti kerja sama dengan dunia industri, pemanfaatan dana CSR, maupun kolaborasi riset lintas lembaga belum dimanfaatkan secara optimal. Jika tantangan minimnya anggaran ini tidak segera diatasi dengan strategi pendanaan inovatif dan kolaboratif, maka peran riset dan inovasi dalam mendukung pencapaian target pembangunan daerah akan sulit diwujudkan. Oleh karena itu, perlu ada langkah nyata untuk membuat dana abadi riset dan inovasi, menjadikannya sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar biaya rutin, serta mendorong partisipasi berbagai pihak dalam pembiayaan inovasi daerah.
3.Hambatan Kultural dan Struktural Birokrasi Pola kerja birokrasi yang masih sangat prosedural membuat ruang gerak riset dan inovasi sering kali terbatasi oleh aturan administratif yang kaku. Fokus yang lebih besar pada kepatuhan prosedur dibanding hasil berbasis bukti menyebabkan hasil riset kurang dimanfaatkan secara optimal dalam perumusan kebijakan maupun program pembangunan daerah. 56Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Dari sisi kultural, masih terdapat resistensi terhadap perubahan di kalangan aparatur. Inovasi kerap dipersepsikan sebagai sesuatu yang merepotkan, berisiko, atau tidak sejalan dengan cara kerja lama yang dianggap lebih aman. Akibatnya, ide-ide baru dari peneliti maupun inovator daerah tidak selalu mendapatkan dukungan penuh dari birokrasi. Selain itu, hambatan struktural juga muncul karena belum adanya mekanisme kelembagaan yang secara kuat mengintegrasikan hasil riset dengan perencanaan pembangunan. Inkonsistensi kebijakan lintas periode pemerintahan turut memperlemah kesinambungan pemanfaatan riset dan inovasi. Jika hambatan ini tidak segera diatasi, maka riset dan inovasi berpotensi hanya berhenti pada dokumen atau pilot project tanpa benar-benar menjadi penggerak utama pembangunan daerah.
4.Belum Optimalnya Upaya Hilirisasi Hasil Riset oleh oleh Pengambil kebijakan Tantangan lain yang masih dihadapi adalah belum optimalnya hilirisasi hasil riset oleh pengambil kebijakan. Banyak hasil penelitian yang dihasilkan, baik oleh Bappedalitbang, perguruan tinggi, lembaga riset, maupun inisiatif masyarakat, belum sepenuhnya dimanfaatkan dalam perumusan kebijakan daerah. Hal ini terjadi karena mekanisme adopsi hasil riset ke dalam program pembangunan belum terbangun secara sistematis, sehingga rekomendasi riset sering berhenti pada laporan tanpa tindak lanjut nyata. Di sisi lain, orientasi kebijakan masih cenderung pada pencapaian target jangka pendek dan serapan anggaran, sementara proses hilirisasi hasil riset membutuhkan komitmen jangka panjang, pendanaan yang berkelanjutan, serta kemauan untuk mengubah pola kerja. Akibatnya, potensi riset sebagai sumber inovasi kebijakan dan solusi pembangunan berbasis bukti belum dimaksimalkan. Hal ini dapat dilihat pada proses pengambilan kebijakan berbasis politis lebih cepat dan dominan dibandingkan pengambilan kebijakan berbasis riset dan inovasi. Kebijakan berbasis riset dan inovasi membutuhkan waktu lama untuk menghimpun data sampai memberikan alternatif kebijakan, namun kebijakan yang berasal dari politis membutuhkan waktu singkat dan pertimbangan jangka pendek. Jika kondisi ini dibiarkan, maka akan muncul kesenjangan antara pengetahuan yang dihasilkan melalui riset dengan kebijakan yang diimplementasikan. Padahal, hilirisasi hasil riset oleh pengambil kebijakan sangat penting untuk memastikan pembangunan daerah berjalan lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.
5.Belum Optimalnya Kolaborasi Pentahelix untuk Riset dan Inovasi Tantangan strategis dalam pemanfaatan riset dan inovasi di Kabupaten Trenggalek adalah belum optimalnya kolaborasi pentahelix antara pemerintah, industri, perguruan tinggi, masyarakat sipil, dan komunitas. Saat ini, kerja sama lintas aktor masih berjalan sporadis dan belum terlembaga dalam sistem yang berkelanjutan. Akibatnya, sinergi yang 57Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 seharusnya mampu memperkuat ekosistem riset dan inovasi belum terbangun secara utuh. Dunia usaha masih cenderung menunggu peran pemerintah, sementara perguruan tinggi lebih fokus pada riset akademis yang belum banyak terhubung dengan kebutuhan praktis daerah. Di sisi lain, masyarakat sipil dan komunitas lokal belum banyak dilibatkan sebagai mitra aktif dalam pengembangan maupun penerapan inovasi. Kondisi ini menyebabkan banyak potensi riset dan inovasi tidak berkembang menjadi solusi konkret bagi pembangunan maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat. Media sering kali lebih fokus pada isu-isu populer dibanding mendorong literasi publik dan diseminasi hasil riset, sehingga inovasi daerah kurang dikenal dan minim adopsi. Di sisi lain, dukungan politisi terhadap riset dan inovasi masih berfluktuasi, terutama dalam hal political will dan prioritas alokasi anggaran. Keterbatasan komitmen politik ini membuat banyak hasil riset tidak terintegrasi ke dalam kebijakan publik. Kondisi tersebut menjadi hambatan serius karena tanpa dukungan media dan keberpihakan politisi, riset dan inovasi berisiko hanya menjadi dokumen atau prototipe tanpa daya ungkit nyata bagi pembangunan daerah. Tanpa kolaborasi pentahelix yang kuat, riset dan inovasi akan berjalan parsial, terfragmentasi, dan sulit memberikan dampak nyata. Oleh karena itu, membangun platform kolaborasi yang menghubungkan seluruh aktor menjadi kunci untuk mempercepat hilirisasi riset, memperluas manfaat inovasi, dan memastikan keberlanjutan pembangunan daerah.
6.Terbatasnya kemampuan hilirisasi produk unggulan daerah Tantangan dalam mewujudkan ekonomi inklusif dan regeneratif di Kabupaten Trenggalek terletak pada terbatasnya kemampuan hilirisasi produk unggulan daerah seperti Beras, Nilam, Kopi, Tongkol, Tuna, dan Cakalang, yang sebagian besar masih dijual dalam bentuk bahan mentah dengan nilai tambah rendah. Selain itu, kepastian pasar belum sepenuhnya terjamin karena keterbatasan akses distribusi, standar kualitas, dan strategi pemasaran yang berkelanjutan. Keterbatasan modal serta rendahnya kapasitas SDM pelaku usaha, khususnya UMKM, koperasi, dan petani/nelayan, juga menjadi penghambat dalam mengadopsi teknologi dan inovasi hasil riset. Jika tidak diatasi, kondisi ini akan membuat produk unggulan sulit naik kelas dan menghambat terwujudnya ekonomi daerah yang lebih inklusif, berdaya saing, dan regeneratif.
7.Tantangan Prioritas Riset dan inovasi Ekonomi Inklusif dan Regeneratif (hilirisasi produk unggulan daerah) Tantangan dalam mewujudkan ekonomi inklusif dan regeneratif di Kabupaten Trenggalek terletak pada terbatasnya kemampuan hilirisasi produk unggulan daerah seperti Beras, Nilam, Kopi, Tongkol, Tuna, dan Cakalang, yang sebagian besar masih dijual dalam bentuk bahan mentah dengan nilai tambah rendah. Selain itu, kepastian pasar belum sepenuhnya terjamin karena keterbatasan akses distribusi, standar kualitas, dan strategi pemasaran yang berkelanjutan. Keterbatasan modal serta rendahnya 58Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 kapasitas SDM pelaku usaha, khususnya UMKM, koperasi, dan petani/nelayan, juga menjadi penghambat dalam mengadopsi teknologi dan inovasi hasil riset. Jika tidak diatasi, kondisi ini akan membuat produk unggulan sulit naik kelas dan menghambat terwujudnya ekonomi daerah yang lebih inklusif, berdaya saing, dan regeneratif. Net Zero Karbon (Geo park dan Geosite) Tantangan dalam mewujudkan Net Zero Carbon melalui pengembangan Geopark dan Geosite di Trenggalek terletak pada masih rendahnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan, sementara kebutuhan pembangunan infrastruktur wisata sering kali berbenturan dengan prinsip konservasi. Di sisi lain, keterbatasan riset dan teknologi ramah lingkungan, seperti energi terbarukan, transportasi rendah emisi, serta pengelolaan limbah berbasis circular economy, membuat implementasi Net Zero Carbon belum optimal. Hambatan birokrasi, keterbatasan pendanaan hijau, dan minimnya kolaborasi lintas sektor juga memperlambat integrasi konsep pariwisata berkelanjutan dengan target penurunan emisi. Jika tidak ditangani secara serius, maka potensi Geopark hanya akan berhenti pada branding wisata, tanpa benar-benar berkontribusi terhadap agenda global pengendalian perubahan iklim. SDM kreatif dan inovatif untuk mewujudkan inovasi hidup berkualitas Tantangan dalam penguatan SDM kreatif dan inovatif untuk mewujudkan inovasi hidup berkualitas terletak pada masih terbatasnya ruang pengembangan talenta, keterbatasan akses terhadap pendidikan dan pelatihan berbasis kreativitas, serta belum meratanya ekosistem yang mendorong budaya riset dan inovasi sejak dini. Banyak generasi muda yang potensial justru terhambat oleh minimnya fasilitas, inkubator kreatif, maupun dukungan pembiayaan untuk mengembangkan ide-ide baru. Selain itu, mindset birokratis dan budaya kerja yang cenderung konvensional sering kali membuat gagasan inovatif sulit diakomodasi, sehingga daya cipta dan keberanian berinovasi belum terasah optimal. Tanpa transformasi yang mendorong kolaborasi, literasi digital, dan keberanian bereksperimen, SDM lokal akan kesulitan bersaing dalam menciptakan solusi kreatif yang benar- benar meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Secara keseluruhan, tantangan dalam pemanfaatan riset dan inovasi di masa datang terletak pada masih terbatasnya SDM peneliti di daerah, minimnya alokasi anggaran, serta hambatan kultural dan struktural birokrasi yang membuat hasil riset sulit diintegrasikan ke dalam kebijakan. Selain itu, hilirisasi hasil riset oleh pengambil kebijakan belum berjalan optimal, kolaborasi pentahelix antara pemerintah, industri, perguruan tinggi, masyarakat sipil, dan komunitas masih lemah, serta dukungan media dan politisi terhadap riset dan inovasi belum konsisten. Kondisi tersebut berpotensi membuat hasil riset hanya berhenti pada laporan atau prototipe tanpa memberikan dampak signifikan, sehingga dibutuhkan komitmen kuat, dukungan pendanaan berkelanjutan, dan kolaborasi lintas aktor agar riset dan inovasi benar-benar menjadi motor penggerak pembangunan daerah. 59Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 3.2 Peluang dalam Pemanfaatan Riset dan Inovasi di Masa Datang Selain menghadapi berbagai tantangan, pemerintah daerah juga memiliki berbagai peluang yang sangat potensial untuk dimanfaatkan dalam pengembangan ekosistem riset dan inovasi. Beberapa peluang tersebut adalah :
1.Dukungan kebijakan nasional dan daerah Peluang besar dalam pemanfaatan riset dan inovasi di masa mendatang hadir melalui semakin kuatnya dukungan kebijakan nasional maupun daerah yang menempatkan riset dan inovasi sebagai motor pembangunan. Regulasi dan arah kebijakan yang berpihak pada penguatan ekosistem riset membuka ruang bagi daerah seperti Trenggalek untuk lebih leluasa mengembangkan prioritas riset sesuai potensi lokal. Dukungan ini tidak hanya dalam bentuk regulasi dan instrumen perencanaan, tetapi juga peluang sinergi program antara pusat dan daerah, sehingga hasil riset dapat lebih cepat diimplementasikan. Dengan adanya legitimasi kebijakan yang kuat, riset dan inovasi memiliki posisi strategis untuk menjadi dasar pengambilan keputusan, akselerator pembangunan, serta sarana mewujudkan target RPJMD secara lebih terukur dan berkelanjutan.
2.Bonus demografi dan talenta muda Bonus demografi dan melimpahnya talenta muda menjadi peluang strategis bagi pemanfaatan riset dan inovasi di masa depan. Generasi muda yang tumbuh dalam era digital memiliki tingkat literasi teknologi yang tinggi, daya kreativitas yang kuat, serta keberanian untuk berinovasi di berbagai bidang. Kondisi ini dapat dimanfaatkan untuk mempercepat lahirnya gagasan baru, mengembangkan model bisnis berbasis inovasi, hingga menciptakan solusi atas permasalahan lokal secara lebih adaptif. Dengan dukungan pelatihan, akses informasi, dan ekosistem yang kondusif, potensi talenta muda dapat dioptimalkan untuk memperkuat riset daerah, mempercepat hilirisasi hasil inovasi, serta menjadikan Trenggalek sebagai pusat lahirnya SDM kreatif dan regeneratif yang berdaya saing tinggi.
3.Perkembangan teknologi digital, AI, dan big data Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), dan big data memberikan peluang besar bagi pemanfaatan riset dan inovasi di daerah. Teknologi ini memungkinkan proses penelitian dilakukan lebih cepat, efisien, dan akurat melalui kemampuan analisis data berskala besar serta pemodelan berbasis kecerdasan buatan. Bagi Trenggalek, kemajuan ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebijakan berbasis bukti, memperkuat sistem perencanaan pembangunan, hingga mengoptimalkan pengelolaan potensi lokal seperti pertanian, perikanan, energi terbarukan, maupun pariwisata berbasis Geopark. Selain itu, transformasi digital juga membuka akses kolaborasi lintas wilayah dan global, sehingga hasil riset daerah dapat lebih mudah dipublikasikan, diuji, serta diadopsi oleh berbagai pihak. Dengan demikian, teknologi digital, AI, dan big data berfungsi sebagai katalis penting untuk mempercepat inovasi yang inklusif dan berkelanjutan.
4.Potensi sumber daya alam Potensi sumber daya alam dan kekayaan lokalitas daerah menjadi peluang strategis dalam pemanfaatan riset dan inovasi di Trenggalek. Keberadaan 60Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 komoditas unggulan seperti Beras, Nilam, Kopi, Tongkol, Tuna, Cakalang, dan Patin ditambah potensi besar pada kekayaan geosite dan Geopark, menyediakan basis nyata untuk dikembangkan melalui riset terapan dan hilirisasi inovasi. Jika dikelola dengan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, potensi ini tidak hanya menghasilkan nilai tambah ekonomi, tetapi juga mampu memperkuat identitas lokal serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Dengan riset yang tepat, sumber daya alam dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi, memperluas pasar, serta membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Lokalitas daerah yang kaya tradisi dan kearifan lokal juga dapat menjadi basis inovasi sosial, sehingga riset tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.
5.Tuntutan global terhadap ekonomi hijau, inklusif, dan berkelanjutan Tuntutan global terhadap ekonomi hijau, inklusif, dan berkelanjutan menjadi peluang besar bagi Trenggalek untuk memanfaatkan riset dan inovasi sebagai pendorong transformasi pembangunan daerah. Agenda internasional seperti transisi energi bersih, penurunan emisi karbon, serta penguatan ekonomi sirkuler membuka ruang bagi daerah untuk memosisikan diri sebagai bagian dari solusi global dengan mengoptimalkan potensi lokal. Melalui riset, Trenggalek dapat mengembangkan model produksi ramah lingkungan, teknologi tepat guna berbasis energi terbarukan, serta sistem pertanian dan perikanan berkelanjutan yang mampu menembus pasar domestik maupun internasional. Selain itu, arah pembangunan yang menekankan inklusivitas mendorong inovasi sosial agar manfaat pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan. Dengan demikian, tuntutan global justru menghadirkan peluang bagi Trenggalek untuk memperkuat daya saing, meningkatkan kualitas hidup, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan Secara keseluruhan, peluang pemanfaatan riset dan inovasi di masa mendatang terbuka lebar bagi Trenggalek untuk mewujudkan visi pembangunan yang inklusif, hijau, dan berkelanjutan. Dukungan kebijakan nasional dan daerah, hadirnya bonus demografi dengan talenta muda yang kreatif, serta perkembangan teknologi digital, AI, dan big data menjadi fondasi penting untuk memperkuat ekosistem riset. Ditambah dengan potensi sumber daya alam dan kearifan lokal yang kaya, serta adanya tuntutan global terhadap transformasi menuju ekonomi hijau, semua ini memberikan momentum strategis bagi Trenggalek untuk menjadikan riset dan inovasi sebagai motor penggerak pembangunan. Jika peluang tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal melalui sinergi pentahelix, maka riset dan inovasi tidak hanya menjadi instrumen pendukung kebijakan, tetapi juga kunci dalam meningkatkan daya saing daerah dan kualitas hidup masyarakat. 3.3 Kondisi Ekosistem Riset dan Inovasi yang Diharapkan Kondisi ekosistem riset dan inovasi yang diharapkan untuk mendukung prioritas riset Kabupaten Trenggalek tahun 2025–2029 adalah sebuah sistem yang terbangun secara kolaboratif, adaptif, dan berorientasi hasil. Dengan membaca tantangan dan peluang secara menyeluruh, Kabupaten Trenggalek 61Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 dapat menyusun strategi penguatan riset dan inovasi berbasis konteks lokal namun berorientasi global. Ini penting untuk memastikan bahwa pemanfaatan riset dan inovasi tidak hanya sebatas teknis, tetapi menjadi bagian integral dari visi pembangunan jangka panjang yang adil, regeneratif, dan inklusif. Strategi tersebut perlu mencakup peningkatan kapasitas SDM lokal, pembentukan jejaring kolaborasi multi-pihak, dan penyelarasan program inovasi dengan target-target pembangunan berkelanjutan nasional dan internasional. Berdasarkan kondisi saat ini, termasuk peluang dan tantangan yang telah diidentifikasi, kondisi ekosistem riset dan inovasi yang diharapkan di Kabupaten Trenggalek adalah sebuah sistem yang terintegrasi, kolaboratif, adaptif, dan berorientasi pada keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan, serta transformasi ekonomi berbasis pengetahuan. Berikut uraian ekosistem yang diharapkan untuk mendukung pencapaian prioritas riset dan inovasi : 62Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Tabel 22 Kondisi Akhir Hilirisasi dan kepastian pasar produk unggulan daerah Elemen Ekosistem Riset dan Inovasi Daerah Kondisi Yang Diharapkan Prioritas 1 : Hilirisasi dan kepastian pasar produk unggulan daerah (Beras, Kopi, Nilam, Tongkol, Tuna, Cakalang, dan Patin) secara berkelanjutan. A. Kebijakan dan Infrastruktur Riset dan Inovasi di Daerah • Terdapat regulasi (Perda/Perkada) yang mendukung hilirisasi dan kepastian pasar PUD dan produk turunannya • Terdapat keselarasan Renstra dan Renja terkait hilirisasi dan kepastian pasar PUD dan produk turunannya • Terdapat database riset dan inovasi tentang PUD dan produk turunannya • Terdapat pusat inovasi pengembangan PUD • Terdapat anggaran riset dan inovasi untuk hilirisasi dan kepastian pasar PUD dan produk turunannya • Terdapat fasilitasi HaKI (hak cipta) B. Kapasitas Kelembagaan dan Daya Dukung Riset dan Inovasi • Terdapat Kerja sama khusus dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah lainnya, swasta dan perguruan tinggi dalam rangka hilirisasi dan kepastian pasar PUD C. Kemitraan Riset dan Inovasi • Terdapat Forum inovasi/ kemitraan riset khusus PUD • Optimalisasi kolaborasi riset inovasi PUD • Terdapat diseminasi benih, teknologi, dan usaha tani untuk hilirisasi PUD • Kemitraan jangka panjang D. Budaya Riset dan Inovasi • Terdapat promosi dan kampanye hilirisasi dan kepastian pasar PUD • Terdapat kompetisi hilirisasi dan kepastian pasar PUD • Terdapat perusahaan pemula berbasis riset inovasi dalam hilirisasi dan kepastian pasar PUD • Terdapat database teknologi tepat guna dalam rangka pengembangan kopi dan produk turunannya E. Keterpaduan Riset dan Inovasi di Daerah • Terdapat prakarsa riset dan inovasi dalam rangka hilirisasi dan kepastian pasar PUD • Terdapat klaster inovasi untuk hilirisasi dan kepastian pasar PUD • Terdapat sinkronisasi kebijakan yang ada di kabupaten Trenggalek dengan kebijakan pusat terkait hilirisasi dan kepastian pasar PUD. F. Penyelarasan dengan Perkembangan Global • Terdapat penyelarasan isu pengurangan carbon terkait hilirisasi dan kepastian pasar PUD • Terdapat kerja sama internasional dalam rangka hilirisasi dan kepastian pasar PUD 63Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Tabel 23 Kondisi Akhir Identifikasi geosite dan proses pembentukan Geopark Elemen Ekosistem Riset dan Inovasi Daerah Kondisi Yang Diharapkan Prioritas 2 : Identifikasi geosite dan proses pembentukan Geopark A. Kebijakan dan Infrastruktur Riset dan Inovasi di Daerah • Terdapat regulasi (Perda/Perkada) yang mendukung geosite dan Geopark • Terdapat keselarasan Renstra dan Renja terkait geosite dan Geopark • Terdapat database riset dan inovasi tentang geosite dan Geopark • Terdapat pusat inovasi pengembangan geosite dan Geopark • Terdapat anggaran riset dan inovasi untuk geosite dan Geopark • Terdapat data kekayaan intelektual geosite dan Geopark • Terdapat fasilitasi HaKI (hak cipta) untuk geosite dan Geopark B. Kapasitas Kelembagaan dan Daya Dukung Riset dan Inovasi • Terdapat kerja sama khusus dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah lainnya, swasta dan perguruan tinggi dalam rangka geosite dan Geopark C. Kemitraan Riset dan Inovasi • Terdapat forum inovasi/ kemitraan riset khusus geosite dan Geopark • Terdapat Kolaborasi riset inovasi geosite dan Geopark • Terdapat diseminasi teknologi untuk geosite dan Geopark • Terdapat Kemitraan jangka panjang untuk geosite dan Geopark D. Budaya Riset dan Inovasi • Terdapat promosi dan kampanye geosite dan Geopark • Terdapat kompetisi geosite dan Geopark • Terdapat perusahaan pemula berbasis riset inovasi dalam geosite dan Geopark • Terdapat database teknologi tepat guna terkait geosite dan Geopark E. Keterpaduan Riset dan Inovasi di Daerah • Terdapat prakarsa riset dan inovasi terkait geosite dan Geopark • Terdapat klaster inovasi untuk geosite dan Geopark • Terdapat sinkronisasi kebijakan yang ada di kabupaten Trenggalek dengan kebijakan pusat terkait geosite dan Geopark F. Penyelarasan dengan Perkembangan Global • Sudah ada penyelarasan isu pengurangan carbon terkait geosite dan Geopark • Terdapat kerja sama internasional dalam rangka geosite dan Geopark 64Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Tabel 24 Kondisi Akhir Pengembangan Inovasi Hidup Berkualitas Elemen Ekosistem Riset dan Inovasi Daerah Kondisi Yang Diharapkan Prioritas 3 : Pengembangan Inovasi Hidup Berkualitas A. Kebijakan dan Infrastruktur Riset dan Inovasi di Daerah • Terdapat regulasi (Perda) yang mendukung inovasi hidup berkualitas • Terdapat keselarasan Renstra dan Renja terkait inovasi hidup berkualitas • Terdapat database inovasi hidup berkualitas • Terdapat pusat inovasi hidup berkualitas • Terdapat anggaran riset dan inovasi pada terkait inovasi hidup berkualitas • Terdapat data kekayaan intelektual inovasi daerah untuk hidup berkualitas • Terdapat fasilitasi HaKI (hak cipta) untuk inovasi daerah hidup berkualitas B. Kapasitas Kelembagaan dan Daya Dukung Riset dan Inovasi • Terdapat kerja sama khusus dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah lainnya, swasta dan perguruan tinggi dalam rangka inovasi daerah untuk hidup berkualitas C. Kemitraan Riset dan Inovasi • Terdapat forum inovasi/ kemitraan riset khusus hidup berkualitas • Terdapat Kolaborasi riset inovasi hidup berkualitas yang optimal • Terdapat diseminasi teknologi untuk inovasi hidup berkualitas • Terdapat Kemitraan jangka panjang untuk inovasi hidup berkualitas D. Budaya Riset dan Inovasi • Terdapat promosi dan kampanye inovasi hidup berkualitas • Terdapat kompetisi inovasi hidup berkualitas • Terdapat perusahaan pemula berbasis riset inovasi dalam inovasi hidup berkualitas • Terdapat database teknologi tepat guna terkait inovasi hidup berkualitas E. Keterpaduan Riset dan Inovasi di Daerah • Terdapat prakarsa riset dan inovasi terkait inovasi hidup berkualitas • Terdapat klaster inovasi untuk inovasi hidup berkualitas • Terdapat sinkronisasi kebijakan yang ada di kabupaten Trenggalek dengan kebijakan pusat terkait inovasi hidup berkualitas F. Penyelarasan dengan Perkembangan Global • Terdapat penyelarasan isu pengurangan carbon terkait inovasi hidup berkualitas • Terdapat kerja sama internasional dalam rangka inovasi hidup berkualitas 65Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Ekosistem riset dan inovasi di daerah adalah keterhubungan elemen publik yang mendukung rantai nilai riset dan inovasi di daerah (Pasal 1 Peraturan BRIN Nomor 5 Tahun 2023 tentang Tata Kelola Riset dan Inovasi di Daerah). Pada dasarnya, ekosistem riset dan inovasi di daerah menjadi keragaman interaksi antar elemen yang mendukung terciptanya riset dan inovasi di daerah. Melalui BRIN, Pemerintah Indonesia mendorong adanya perbaikan dan pemantapan ekosistem riset dan inovasi di daerah. Dengan terciptanya ekosistem riset dan inovasi yang mumpuni di daerah, Pemerintah berharap adanya peningkatan kualitas kebijakan dan pelayanan publik melalui basis riset dan inovasi yang dimiliki. Dengan demikian, pembangunan daerah dapat diakselerasi melalui riset dan inovasi terutama dalam implementasi inovasi teknologi. Analisis Kesenjangan ini mengacu dari kondisi ekosistem riset dan inovasi saat ini dengan kondisi ekosistem riset dan inovasi yang diharapkan. Berikut merupakan analisis kesenjangan ekosistem berdasarkan prioritas riset dan inovasi : 66Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Tabel 25 Analisis Kesenjangan Hilirisasi dan kepastian pasar produk unggulan daerah Elemen Ekosistem Riset dan Inovasi Daerah Kesenjangan Prioritas 1 : Hilirisasi dan kepastian pasar produk unggulan daerah (Beras, Kopi, Nilam, Tongkol, Tuna, Cakalang, dan Patin) secara berkelanjutan. A. Kebijakan dan Infrastruktur Riset dan Inovasi di Daerah • Belum ada regulasi, database , maupun pusat inovasi yang mendukung hilirisasi PUD; infrastruktur riset ada (balai benih dan balai penyuluhan) tetapi belum dimanfaatkan optimal; belum ada dukungan anggaran dan data HaKI. B. Kapasitas Kelembagaan dan Daya Dukung Riset dan Inovasi • Lemahnya jejaring kelembagaan dan minimnya kerja sama lintas sektor serta ketiadaan demplot uji coba. C. Kemitraan Riset dan Inovasi • Lemahnya koordinasi terkait riset dan inovasi • Belum adanya forum inovasi • Lemahnya kolaborasi dengan eksternal terkait riset dan inovasi • Belum ada diseminasi teknologi D. Budaya Riset dan Inovasi • Minim promosi, kampanye riset dan inovasi • Minim kompetisi riset • Kompetisi inovasi yang ada perlu diperkuat • Belum ada startup berbasis PUD. E. Keterpaduan Riset dan Inovasi di Daerah • Belum ada prakarsa, klaster inovasi, maupun sinkronisasi pusat-daerah-kampus F. Penyelarasan dengan Perkembangan Global • Belum ada kerja sama internasional dan penyelarasan isu karbon. • Dalam fase transformasi digital, diperlukan berbagai intervensi guna mengakselerasi ketercapaian cita - cita TGX Hidup Berkualitas 67Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Tabel 26 Analisis Kesenjangan Identifikasi geosite dan proses pembentukan Geopark Elemen Ekosistem Riset dan Inovasi Daerah Kesenjangan Prioritas 2 : Identifikasi geosite dan proses pembentukan Geopark A. Kebijakan dan Infrastruktur Riset dan Inovasi di Daerah • Belum ada regulasi, anggaran, database , pusat inovasi, dan data HaKI terkait Geopark. B. Kapasitas Kelembagaan dan Daya Dukung Riset dan Inovasi • Belum ada kerja sama lintas sektor dalam pengembangan Geopark C. Kemitraan Riset dan Inovasi • Lemahnya koordinasi terkait riset dan inovasi terkait pengembangan Geosite dan Geopark • Belum adanya forum geologi/geopark di Trenggalek • Lemahnya kolaborasi dengan eksternal terkait riset dan inovasi terkait pengembangan Geosite dan Geopark • Belum ada diseminasi terkait perkembangan terkait pengembangan Geosite dan Geopark D. Budaya Riset dan Inovasi • Belum ada promosi, kampanye, kompetisi, startup, dan database TTG (teknologi tepat guna) terkait Geopark. E. Keterpaduan Riset dan Inovasi di Daerah • Tidak ada prakarsa riset, klaster inovasi, maupun sinkronisasi kebijakan pusat-daerah. F. Penyelarasan dengan Perkembangan Global • Sudah ada isu karbon, tetapi belum ada kerja sama internasional. • Diperlukan perhatian dari pemerintah daerah, pemerintah provinsi, serta, dukungan ABCGM dalam merintis wacana Geopark di Trenggalek, mengingat panjangnya langkah yang diperlukan. 68Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Tabel 27 Analisis Kesenjangan Pengembangan Inovasi Hidup Berkualitas Elemen Ekosistem Riset dan Inovasi Daerah Kesenjangan Prioritas 3 : Pengembangan Inovasi Hidup Berkualitas A. Kebijakan dan Infrastruktur Riset dan Inovasi di Daerah • Belum ada regulasi, anggaran, pusat inovasi, maupun database spesifik untuk inovasi hidup berkualitas. • Belum ada regulasi (Perda) yang mendukung inovasi hidup berkualitas • Belum ada keselarasan Renstra dan Renja terkait inovasi hidup berkualitas • Belum ada database inovasi hidup berkualitas • Belum ada pusat inovasi hidup berkualitas • Belum ada anggaran riset dan inovasi pada terkait inovasi hidup berkualitas • Belum ada data kekayaan intelektual inovasi daerah untuk hidup berkualitas • Belum ada fasilitasi HaKI (hak cipta) untuk inovasi daerah hidup berkualitas B. Kapasitas Kelembagaan dan Daya Dukung Riset dan Inovasi • Belum ada kerja sama formal lintas pemerintah, swasta, dan perguruan tinggi. • Secara kelembagaan Tugas dan fungsi, aksi dan inovasi terkait TGX Hidup berkualitas diregulasi dan orkestrasi oleh OPD masing - masing. C. Kemitraan Riset dan Inovasi • Forum inovasi belum ada, kolaborasi minim, serta belum ada diseminasi teknologi untuk kualitas hidup. • Kemitraan Riset bersifat situasional menyesuaikan dokter/nakes yang melakukan residensi pada Unit Layanan kesehatan di lingkungan Dinas Kesehatan Trenggalek D. Budaya Riset dan Inovasi • Tidak ada promosi, kompetisi, startup, dan database TTG. • Trenggalek merintis berbagai skema kompetisi inovasi dalam berbagai tingkat, kategori, dan aktor, yang memantik daya saing, peningkatan kualitas pelayanan, serta peningkatan indeks inovasi daerah, kematangan dan dampak inovasi menjadi perhatian utama untuk ditingkatkan. E. Keterpaduan Riset dan Inovasi di Daerah • Belum ada prakarsa, klaster inovasi, maupun sinkronisasi pusat-daerah. • Pelayanan Pendidikan, Kesehatan dan Pelayanan Publik di Trenggalek dalam fase transformasi digital • Diperlukan adanya kesadaran bersama terhadap isu net zero carbon, dan perubahan iklim 69Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Kesenjangan dalam ekosistem riset dan inovasi Kabupaten Trenggalek dapat dilihat dari enam elemen utama yang saling terkait. Pada aspek kebijakan dan infrastruktur riset dan inovasi, masih terdapat keterbatasan regulasi yang mengikat serta infrastruktur riset yang belum memadai untuk menopang kebutuhan pengembangan daerah. Dari sisi kapasitas kelembagaan dan daya dukung, peran lembaga riset daerah belum sepenuhnya kuat, baik dalam aspek koordinasi, kualitas SDM, maupun dukungan pendanaan yang berkesinambungan. Dalam elemen kemitraan riset dan inovasi, kolaborasi pentahelix antara pemerintah, industri, perguruan tinggi, masyarakat sipil, dan komunitas belum terbangun secara optimal, sehingga transfer pengetahuan dan teknologi masih terbatas. Pada budaya riset dan inovasi, tantangan muncul karena rendahnya kesadaran serta apresiasi terhadap pentingnya riset sebagai basis kebijakan, sehingga inovasi belum menjadi bagian dari praktik keseharian birokrasi maupun masyarakat. Selanjutnya, pada aspek keterpaduan riset dan inovasi di daerah, sinergi antar-OPD, antar-sektor, maupun antara riset akademik dengan kebutuhan praktis masih belum terjalin secara erat, mengakibatkan hasil riset sulit terintegrasi ke dalam program pembangunan. Terakhir, dalam hal penyelarasan dengan perkembangan global, pemanfaatan tren teknologi seperti digitalisasi, kecerdasan buatan, big data, serta orientasi pada ekonomi hijau dan berkelanjutan masih belum maksimal, padahal tuntutan global mengarah ke sana. Kesenjangan ini menandakan perlunya langkah strategis untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi yang lebih solid, terintegrasi, dan responsif terhadap dinamika lokal maupun global. 70Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Kedua, pada aspek kapasitas kelembagaan dan daya dukung, strategi yang perlu dijalankan adalah membangun jejaring kelembagaan riset yang lebih solid serta memperkuat kapasitas SDM lokal. Untuk hilirisasi produk unggulan, perlu dibangun demplot uji coba dan peningkatan kompetensi penyuluh maupun peneliti agar mampu menjembatani kebutuhan petani dengan pasar. Dalam konteks Geopark, diperlukan kelembagaan riset lintas sektor yang fokus pada pengembangan geologi, ekologi, dan pariwisata, dengan dukungan pilot project berbasis riset. Sedangkan untuk inovasi hidup berkualitas, perlu adanya inkubasi inovasi yang melibatkan pemerintah, swasta, dan perguruan tinggi dalam bentuk jejaring formal yang berkelanjutan. Ketiga, kemitraan riset dan inovasi harus diperluas dan diperkuat. Untuk produk unggulan daerah, dibutuhkan Forum Inovasi PUD yang mempertemukan pemerintah, UMKM, akademisi, dan investor, sehingga terjadi transfer teknologi dan diseminasi hasil riset. Dalam pengembangan Geopark, forum riset Geopark menjadi penting untuk memperkuat kolaborasi antar pihak serta membuka peluang kerja sama internasional, khususnya dalam bidang konservasi dan pariwisata berkelanjutan. Sementara itu, inovasi hidup berkualitas dapat dikembangkan melalui forum riset yang fokus pada teknologi kesehatan, pendidikan, dan lingkungan, dengan diseminasi teknologi tepat guna ke masyarakat. Keempat, membangun budaya riset dan inovasi menjadi bagian yang sangat krusial. Strategi yang dapat dilakukan adalah mengadakan kompetisi inovasi, kampanye publik, serta mendorong lahirnya startup berbasis lokal. Untuk produk unggulan daerah, startup pangan lokal berbasis riset dapat menjadi pionir hilirisasi yang berkelanjutan. Geopark dapat diperkuat dengan kompetisi ide inovatif dalam bidang konservasi dan startup wisata berbasis teknologi. Sementara untuk inovasi hidup berkualitas, penting untuk mendorong 71Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 kampanye inovasi sosial serta kompetisi startup di bidang kesehatan, pendidikan, dan lingkungan. Kelima, pada elemen keterpaduan riset dan inovasi di daerah, strategi yang ditempuh adalah membentuk klaster inovasi sesuai prioritas. Klaster PUD, klaster Geopark, dan klaster inovasi kualitas hidup perlu dibangun agar riset lebih terarah dan selaras dengan RPJMD serta kebijakan pusat. Integrasi antar- OPD, antar-sektor, dan antar-tingkatan pemerintahan juga diperlukan agar riset tidak berjalan parsial, melainkan menjadi satu kesatuan yang mendukung pembangunan daerah secara menyeluruh. Keenam, dari sisi penyelarasan dengan perkembangan global, strategi yang harus dilakukan adalah memastikan setiap prioritas riset daerah selaras dengan tren internasional. Pada hilirisasi produk unggulan daerah, perlu diintegrasikan isu karbon, green economy, dan sertifikasi produk berkelanjutan yang berstandar global. Geopark harus mengadopsi standar UNESCO Global Geopark serta mengaitkannya dengan isu perubahan iklim. Sedangkan inovasi hidup berkualitas perlu diarahkan pada agenda global seperti SDGs, circular economy, dan kerja sama internasional dalam bidang kesehatan dan sosial. 72Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Tabel 28 Strategi Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Trenggalek Elemen Ekosistem Riset & Inovasi Strategi untuk Prioritas 1 (Hilirisasi & Pasar PUD: Beras, Nilam, Kopi, Tongkol, Tuna, Cakalang, Patin) Strategi untuk Prioritas 2 (Geopark & Geosite) Strategi untuk Prioritas 3 (Inovasi Hidup Berkualitas) A. Kebijakan & Infrastruktur Riset dan Inovasi Daerah • Kajian Pasar dan Nilai Tambah Hilirisasi Produk Unggulan Daerah • Riset Terapan Optimalisasi PUD • Kajian Pengembangan Pasar dan Komersialisasi Produk Hilirisasi • Riset Model Kemitraan dan Sistem Jaminan Pasar Produk Unggulan Daerah • Kajian Evaluasi dan Keberlanjutan PUD (Sertifikasi Produk Berbasis Green & Blue Economy) • Memfasilitasi regulasi daerah tentang hilirisasi PUD. • Memfasilitasi Pusat Inovasi dan Database PUD. • Kajian Inventarisasi potensi geosite dan pemetaan awal potensi geologi, biologi, dan budaya lokal (Studi Kelayakan Geopark) • Penyusunan Peta Jalan Rintisan Geosite – Geopark • Penyusunan baseline data geosite prioritas (karst, pantai, sungai purba, situs batuan vulkanik). • Pengembangan sistem informasi spasial (GIS) geosite dan basis data digital. • Kajian geodiversity dan biodiversitas untuk pengusulan Geopark Nasional Trenggalek. • Kajian Pengembangan model pengelolaan terpadu Geopark Trenggalek berbasis riset sosial-ekonomi, pariwisata berkelanjutan, dan partisipasi masyarakat. • Kajian Evaluasi kemajuan rintisan Geosite – Geopark. • Memfasilitasi regulasi Geopark. • Membangun database & pusat informasi Geopark. • Alokasi dana riset Geopark dari APBD & skema hibah. • Kajian Pemetaan kondisi sosial, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat Trenggalek - Identifikasi indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berbasis data. (Studi Kelayakan Sustainable city) • Kajian penguatan layanan dasar inklusif (pendidikan, kesehatan, air bersih, dan lingkungan sehat). • Pilot project desa sehat dan literasi gizi– kesehatan. • Kajian Pengembangan inovasi sosial dan teknologi tepat guna untuk peningkatan kualitas hidup (air bersih, sanitasi, ruang publik hijau, dan transportasi ramah lingkungan). • Kajian Integrasi model “Hidup Berkualitas” ke kebijakan kota berkelanjutan. Implementasi program kolaboratif pendidikan–kesehatan– lingkungan berbasis data. • Kajian Evaluasi dampak sosial, serta dampak riset dan inovasi untuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Trenggalek. • Memfasilitasi regulasi daerah tentang inovasi hidup berkualitas • Membangun Innovation Hub untuk solusi hidup kualitas. B. Kapasitas Kelembagaan & Daya Dukung Riset dan Inovasi • Memfasilitasi demplot uji coba hilirisasi PUD. • Memfasilitasi Penguatan SDM penyuluh & peneliti lokal. • Membentuk kelembagaan riset Geopark lintas sektor. • Penguatan kapasitas kelembagaan ASN terkait geologi, ekologi, & pariwisata. • Pilot project Geopark berbasis riset. • Membangun jejaring formal pemerintah-swasta- perguruan tinggi. • Inkubasi inovasi kualitas hidup (smart health, smart education). 73Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Elemen Ekosistem Riset & Inovasi Strategi untuk Prioritas 1 (Hilirisasi & Pasar PUD: Beras, Nilam, Kopi, Tongkol, Tuna, Cakalang, Patin) Strategi untuk Prioritas 2 (Geopark & Geosite) Strategi untuk Prioritas 3 (Inovasi Hidup Berkualitas) • Membangun kerja sama lintas sektor (OPD, perguruan tinggi, pelaku usaha). • Membangun kerja sama lintas sektor (OPD, perguruan tinggi, pelaku usaha). • Membangun kerja sama lintas sektor (OPD, perguruan tinggi, pelaku usaha). • Penguatan Riset Aksi sebagai salah satu strategi penunjang program TGX Hidup Berkualitas C. Kemitraan Riset & Inovasi • Membentuk Forum Inovasi PUD (pemerintah, UMKM, akademisi, investor). • Diseminasi teknologi pascapanen & pengolahan. • Skema kemitraan jangka panjang dengan industri pangan. • Membangun Forum Pengembangan Geosite – Geopark Trenggalek. • Diseminasi hasil riset ke masyarakat & pelaku wisata. • Kemitraan internasional bidang geologi & konservasi. • Membentuk forum inovasi kualitas hidup – sustainable city. • Kemitraan riset teknologi kesehatan, pangan, & pendidikan. • Diseminasi TTG untuk masyarakat. D. Budaya Riset & Inovasi • Menyelenggarakan kompetisi inovasi PUD. • Mendorong lahirnya startup berbasis pangan lokal. • Kampanye hilirisasi berbasis riset. • Promosi & kampanye Geopark berbasis riset. • Kompetisi ide & inovasi konservasi Geopark. • Startup pariwisata & edukasi Geopark. • Kampanye inovasi hidup berkualitas. • Kompetisi startup bidang kesehatan, pendidikan, & lingkungan. • Database riset dan inovasi daerah. E. Keterpaduan Riset & Inovasi di Daerah • Membentuk Klaster Inovasi PUD. • Integrasi program riset dengan RPJMD & pusat. • Sinkronisasi OPD dalam hilirisasi. • Klaster riset Geopark terpadu (geologi, lingkungan, pariwisata). • Sinkronisasi kebijakan daerah dengan nasional. • Klaster inovasi kualitas hidup (kesehatan, pendidikan, lingkungan). • Integrasi inovasi dengan RPJMD & SDGs daerah. F. Penyelarasan dengan Perkembangan Global • Integrasi isu karbon & green economy dalam hilirisasi PUD. • Kerja sama riset internasional bidang pangan & agritech. • Sertifikasi produk berkelanjutan. • Kerja sama nasional - internasional pengembangan Geopark. • Adopsi standar UNESCO Global Geopark. • Integrasi Geopark dengan isu climate change. • Kerja sama internasional bidang inovasi sosial & kesehatan. • Integrasi isu global (carbon, circular economy, SDGs). Dengan strategi tersebut, Trenggalek tidak hanya dapat menjembatani kesenjangan ekosistem riset dan inovasi, tetapi juga memperkuat posisi riset sebagai instrumen kunci untuk mencapai pembangunan inklusif, regeneratif, berkelanjutan, dan berdaya saing global. 74Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Penguatan sektor perdagangan mencerminkan dinamika ekonomi lokal yang sehat, didorong oleh pembangunan infrastruktur logistik yang efisien, penguatan pasar lokal dan regional, serta digitalisasi UMKM untuk memperluas jangkauan produk unggulan. Aktivitas perdagangan yang berkembang akan membuka lapangan kerja, meningkatkan daya beli, dan memperkukuh struktur perekonomian daerah. Di sisi lain, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi pendorong pertumbuhan sektor jasa. Keberhasilan dua sektor ini sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia, baik dari kalangan masyarakat maupun aparatur pemerintah sebagai penggerak kebijakan. Oleh karena itu, Trenggalek terus memperluas ruang pengembangan kompetensi untuk menciptakan iklim yang kompetitif dan mendorong munculnya SDM unggul yang dihargai dan terdorong untuk terus berinovasi. Elemen penting lainnya adalah penciptaan iklim investasi yang kondusif. Dengan mengintegrasikan keempat elemen tersebut, diharapkan pendapatan masyarakat meningkat dan kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi secara adil dan inklusif, menuju terwujudnya Trenggalek yang Adil dan Makmur pada tahun 2030. Gambar 8 Konsep Pembangunan Kabupaten Trenggalek 2025-2030 Sumber : RPJMD Kabupaten Trenggalek 2025-2029 Konsep pembangunan tersebut diturunkan dalam peta jalan sebagai berikut:
1.Hilirisasi dan kepastian pasar produk unggulan daerah (PUD) : Beras, Nilam, Kopi, Tongkol, Tuna, Cakalang, Patin Upaya memperkuat hilirisasi dan kepastian pasar Produk Unggulan Daerah (PUD) Trenggalek — meliputi beras, nilam, kopi, tongkol, tuna, cakalang, dan 27 RPJMD Kabupaten Trenggalek 2025-2029 75Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 patin — diarahkan melalui serangkaian kegiatan riset dan kajian strategis yang terintegrasi. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi, memperkuat daya saing lokal, serta memastikan keberlanjutan produksi dan pemasaran berbasis prinsip green economy dan blue economy. Tahap awal dimulai dengan Kajian Pasar dan Nilai Tambah Hilirisasi Produk Unggulan Daerah, yang bertujuan untuk memetakan rantai pasok, menganalisis kebutuhan pasar domestik dan ekspor, serta mengidentifikasi peluang inovasi produk turunan. Kajian ini menjadi dasar bagi arah hilirisasi yang tepat sasaran, terutama dalam menumbuhkan industri pengolahan berbasis potensi lokal seperti beras organik, minyak nilam murni, kopi premium, dan olahan ikan bernilai tinggi. Selanjutnya dilakukan Riset Terapan Optimalisasi PUD yang berfokus pada pengembangan teknologi pascapanen, efisiensi produksi, serta penerapan inovasi tepat guna untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk. Pada tahap ini, kolaborasi dengan perguruan tinggi — khususnya fakultas di bidang pertanian, teknologi pertanian, perikanan, kehutanan, teknik, dan biologi — menjadi kunci untuk menghasilkan inovasi yang aplikatif dan berkelanjutan. Tahapan berikutnya mencakup Kajian Pengembangan Pasar dan Komersialisasi Produk Hilirisasi, yang menitikberatkan pada strategi branding, sertifikasi produk, serta akses ke pasar nasional dan global. Kajian ini diiringi dengan Riset Model Kemitraan dan Sistem Jaminan Pasar Produk Unggulan Daerah, guna menciptakan skema kemitraan yang adil antara petani, nelayan, pelaku UMKM, dan industri pengolahan. Sistem jaminan pasar dirancang agar rantai distribusi lebih efisien, stabilitas harga terjaga, dan kesejahteraan produsen meningkat. Sebagai tahap akhir, dilakukan Kajian Evaluasi dan Keberlanjutan PUD, yang difokuskan pada penerapan standar sertifikasi produk berbasis green & blue economy. Tujuannya adalah memastikan bahwa seluruh proses produksi, distribusi, dan konsumsi produk unggulan daerah Trenggalek berlangsung secara ramah lingkungan, efisien sumber daya, dan mendukung keseimbangan ekosistem darat maupun laut. Selain beberapa kajian inti, kajian tematik sesuai komoditas juga dilakukan. Kegiatan riset dan kajian ini dilaksanakan secara kolaboratif antara Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) bersama Perangkat Daerah terkait seperti Dinas Penanaman Modal, Pertanian dan Pangan, Perikanan, Peternakan, Koperasi dan UMKM, Perdagangan dan Perindustrian, serta lembaga akademik dari berbagai fakultas relevan di perguruan tinggi. Dukungan kelembagaan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) — melalui Organisasi Riset (OR) Pertanian dan Pangan, Ekonomi, Lingkungan, Maritim dan Sumber Daya Alam, Hayati dan Lingkungan, Nanoteknologi dan Material, serta Industri dan Energi — memperkuat sinergi nasional dalam mempercepat transformasi ekonomi daerah berbasis riset, inovasi, dan keberlanjutan. 76Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029
2.Identifikasi Geosite dan Proses Pembentukan Geopark Dalam Peta Jalan riset dan inovasi daerah, BAPPERIDA juga menyusun tahapan rintisan Geosite dan Geopark di Trenggalek. Urgensi tahapan ini adalah untuk mengukur bagaimana potensi dan kapasitas Kabupaten Trenggalek untuk mengusulkan Geosite Nasional, hingga Geopark jejaring UNESCO. Program Rintisan Geosite dan Geopark Trenggalek merupakan langkah strategis dalam mengintegrasikan potensi alam, kebudayaan, dan inovasi berbasis riset untuk mendorong pengakuan Geopark Nasional Trenggalek dan menuju jejaring UNESCO Global Geopark. Inisiatif ini diarahkan untuk memperkuat tata kelola sumber daya geologi secara berkelanjutan, meningkatkan nilai tambah ekonomi lokal, serta melestarikan warisan geologi, biologi, dan budaya Trenggalek. Tahap awal kegiatan difokuskan pada inventarisasi potensi geosite dan pemetaan awal potensi geologi, biologi, dan budaya lokal. Melalui kegiatan ini, dilakukan penyusunan baseline data geosite prioritas seperti kawasan karst, pantai, sungai purba, dan situs batuan vulkanik yang memiliki nilai ilmiah dan edukatif tinggi. Data tersebut menjadi fondasi utama dalam menentukan lokasi prioritas rintisan Geopark Trenggalek yang representatif terhadap kekayaan geodiversity dan biodiversitas wilayah. Tahapan selanjutnya adalah kajian geodiversity dan biodiversitas untuk pengusulan Geopark Nasional Trenggalek, disertai dengan pengembangan sistem informasi spasial (GIS) dan basis data digital geosite. Sistem ini akan mempermudah pengelolaan informasi geowisata, mitigasi bencana, serta perencanaan konservasi berbasis spasial yang dapat diakses lintas instansi dan lembaga riset. Kemudian, dilakukan pengembangan model pengelolaan terpadu Geopark Trenggalek berbasis riset sosial-ekonomi, pariwisata berkelanjutan, dan partisipasi masyarakat. Pendekatan ini memastikan bahwa pengembangan geopark tidak hanya berorientasi pada pelestarian alam, tetapi juga pemberdayaan masyarakat lokal melalui model ekonomi kreatif, penguatan kelembagaan desa wisata, dan diversifikasi sumber pendapatan masyarakat sekitar geosite. Tahap berikutnya mencakup riset hilirisasi dan komersialisasi berbasis geoproduk, yang menggabungkan potensi ekowisata, edukasi geologi, dan pengembangan produk UMKM bertema geopark seperti kerajinan batu, kuliner khas kawasan geosite, serta paket wisata edukatif. Pada fase ini, Trenggalek juga diarahkan untuk mencapai sertifikasi dan integrasi ke jejaring Geopark Nasional, dengan proyeksi jangka menengah menuju pengakuan UNESCO Global Geopark. Sebagai penutup siklus program, dilakukan evaluasi dampak sosial-ekonomi dan ekologi, yang bertujuan untuk menilai sejauh mana keberadaan Geopark Trenggalek meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kesadaran lingkungan, serta konservasi sumber daya alam. Hasil evaluasi juga menjadi dasar replikasi model pengelolaan geopark ke kawasan lain di Trenggalek, sekaligus 77Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 memperkuat branding internasional Geopark Trenggalek sebagai destinasi riset, edukasi, dan wisata berkelanjutan. Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan kolaborasi lintas sektor antara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang, BAPPERIDA, Dinas Pendidikan, dan instansi teknis terkait. Dukungan akademik diperkuat oleh berbagai fakultas di perguruan tinggi, seperti Fakultas Geografi, Teknik, Kehutanan, Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral, Ilmu Sosial dan Politik, serta Pusat Kajian Lingkungan dan Kebencanaan. Selain itu, sinergi dengan BRIN melalui Organisasi Riset Kebumian dan Maritim, Organisasi Riset Ekonomi, serta Organisasi Riset Ilmu Politik, Sosial, dan Humaniora (OR IPSH) memastikan bahwa pengembangan Geopark Trenggalek berbasis pada evidence-based policy, riset multidisipliner, dan inovasi berkelanjutan yang mampu menempatkan Trenggalek sebagai model geopark berbasis masyarakat di tingkat nasional dan global.
3.Pengembangan Inovasi Hidup Berkualitas Inisiatif “Hidup Berkualitas (Quality of Life)” merupakan agenda riset dan inovasi daerah yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Trenggalek secara menyeluruh melalui penguatan layanan dasar, pengembangan inovasi, dan penerapan kebijakan berbasis data. Peta jalan ini memberikan gambaran bagaimana rencana riset dan inovasi TGX hidup berkualitas , di mana pemetaan kondisi sosial, kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan masyarakat menjadi basis awalan riset sosial humaniora di Trenggalek. Diharapkan riset dan inovasi yang dilakukan memberikan dampak terhadap kualitas layanan dasar, lingkungan, gizi, pendidikan dan kesehatan menuju Trenggalek Sustainable City 2030. Tahap awal program Hidup Berkualitas (Quality of Life) dimulai dengan studi kelayakan Sustainable City Trenggalek 2030 atau Kabupaten Layak Huni 2030 sebagai dasar perumusan arah pembangunan berkelanjutan. Studi ini menilai kesiapan Trenggalek dalam menciptakan lingkungan yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan melalui pemetaan kondisi sosial, ekonomi, lingkungan, dan tata ruang, termasuk akses layanan dasar, kualitas infrastruktur, serta daya dukung ekologis wilayah. Hasil kajian menjadi landasan strategis penyusunan Rencana Aksi Trenggalek Sustainable City 2030 yang mengintegrasikan aspek ekonomi hijau, sosial inklusif, dan tata kelola cerdas, guna mewujudkan Trenggalek sebagai kabupaten yang nyaman, aman, dan berdaya saing tinggi menuju masyarakat sejahtera dan lingkungan lestari. Selanjutnya, dilakukan pemetaan kondisi sosial, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat Trenggalek, serta identifikasi indikator pembangunan berbasis data. Pemetaan ini menjadi dasar penyusunan baseline yang akurat mengenai kualitas hidup masyarakat di berbagai kecamatan, sehingga pemerintah daerah dapat merumuskan kebijakan dan intervensi yang tepat sasaran sesuai kebutuhan lokal. Selanjutnya, dilakukan riset penguatan layanan dasar inklusif, meliputi sektor pendidikan, kesehatan, air bersih, dan lingkungan sehat. Riset ini bertujuan 78Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 untuk menemukan model peningkatan mutu layanan publik yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan dan daerah terpencil. Sebagai bagian dari implementasi riset, akan dijalankan pilot project desa sehat dan literasi gizi–kesehatan, yang berfokus pada peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat, gizi seimbang, dan perilaku ramah lingkungan. Tahapan berikutnya meliputi pengembangan inovasi sosial dan teknologi tepat guna untuk peningkatan kualitas hidup, antara lain penyediaan akses air bersih, sanitasi layak, ruang publik hijau, serta transportasi ramah lingkungan. Inovasi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas hidup secara fisik, tetapi juga memperkuat modal sosial dan kohesi masyarakat melalui keterlibatan aktif warga dalam menjaga lingkungan dan kesehatan bersama. Setelah model intervensi terbukti efektif, dilakukan integrasi konsep “Hidup Berkualitas” ke dalam kebijakan kota berkelanjutan, termasuk implementasi program kolaboratif lintas sektor di bidang pendidikan, kesehatan, dan lingkungan berbasis data. Pendekatan ini memastikan bahwa hasil riset dan inovasi tidak berhenti pada tataran proyek, tetapi menjadi bagian dari sistem pembangunan daerah yang berkelanjutan. Pada tahap akhir, dilakukan evaluasi dampak sosial, serta penilaian kontribusi riset dan inovasi terhadap peningkatan IPM Trenggalek. Hasil evaluasi digunakan untuk mereplikasi model ke kecamatan lain, sehingga manfaat peningkatan kualitas hidup dapat dirasakan secara merata di seluruh wilayah kabupaten. Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi antara Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas Lingkungan Hidup, dan BAPPERIDA, dengan dukungan perguruan tinggi yang memiliki kompetensi relevan — seperti Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, serta Fakultas Ilmu Administrasi. Di tingkat nasional, sinergi diperkuat dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Kesehatan, Ekonomi, Hayati, serta Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH), untuk memastikan bahwa penguatan kualitas hidup masyarakat Trenggalek berbasis pada hasil riset ilmiah, teknologi inovatif, dan kebijakan yang inklusif. 79Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Tabel 29 Peta Jalan Riset dan Inovasi Produk Unggulan Daerah Kabupaten Trenggalek Tema Prioritas Riset dan Inovasi Tahun ke-1 Tahun ke-2 Tahun ke-3 Tahun ke-4 Tahun ke-5 OPD Terkait Mitra Riset Strategis Research base & capacity building Innovation & commercialization Evaluation Hilirisasi dan kepastian pasar produk unggulan daerah (PUD) : Beras, Nilam, Kopi, Tongkol, Tuna, Cakalang, Patin Kajian Pasar dan Nilai Tambah Hilirisasi Produk Unggulan Daerah Riset Terapan Optimalisasi PUD Kajian Pengembangan Pasar dan Komersialisasi Produk Hilirisasi Riset Model Kemitraan dan Sistem Jaminan Pasar Produk Unggulan Daerah Kajian Evaluasi dan Keberlanjutan PUD (Sertifikasi Produk Berbasis Green & Blue Economy) BAPPERIDA, Penanaman Modal. Dispertapan, Perikanan, Peternakan, Pariwisata Koperasi UMKM, Perdagangan Perindustrian, PMD, Dinas Sosial, Bagian Hukum, Badan Keuangan dan instansi terkait Perguruan Tinggi Fakultas Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Fakultas Kehutanan Fakultas Sains dan Teknologi Fakultas Teknologi Industri Fakultas Teknik Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Fakultas Biologi Fakultas Ilmu Lingkungan Fakultas Geografi (spasial) BRIN OR Pertanian dan Pangan (ORPP) OR Ekonomi OR Lingkungan, Maritim, dan Sumber Daya Alam OR Hayati dan Lingkungan OR Nanoteknologi dan Material OR Industri dan Energi OR Maritim dan Perikanan Beras Premium Trenggalek Kajian Potensi produksi, distribusi dan pasar, identifikasi varietas unggul Riset pengembangan varietas unggul lokal dan penerapan teknologi pasca panen menuju standar beras premium Model budidaya dan pengolahan beras premium berbasis ramah lingkungan dan efisiensi air Pengembangan model bisnis, sertifikasi mutu (SNI/IG), dan perluasan pasar regional–nasional Evaluasi kebijakan, replikasi model, dan ekspansi jejaring kemitraan industri beras premium BAPPERIDA, Penanaman Modal. Dispertapan, Perikanan, Peternakan, Pariwisata Koperasi Perguruan Tinggi: Fakultas Pertanian; Fakultas Teknologi Pertanian. BRIN: OR Pertanian dan Pangan (ORPP); OR Ekonomi. 80Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Tema Prioritas Riset dan Inovasi Tahun ke-1 Tahun ke-2 Tahun ke-3 Tahun ke-4 Tahun ke-5 OPD Terkait Mitra Riset Strategis Research base & capacity building Innovation & commercialization Evaluation Kopi Trenggalek Skala Nasional Kajian potensi agroklimat dan identifikasi varietas unggul kopi lokal • Pengembangan teknologi pasca panen (roasting, cupping, pengemasan) dan standardisasi cita rasa • Indikasi Geografis Kekayaan Intelektual Model usaha tani kopi berkelanjutan berbasis kemitraan petani–industri Hilirisasi produk kopi dan penguatan branding “Kopi Trenggalek” Evaluasi rantai pasok dan ekspansi ke pasar nasional– ekspor UMKM, Perdagangan Perindustrian, PMD, Dinas Sosial, Bagian Hukum, Badan Keuangan dan instansi terkait Perguruan Tinggi: Fakultas Pertanian & Fakultas Teknologi Pertanian; Fakultas Kehutanan. BRIN: OR Pertanian dan Pangan; OR Lingkungan, Maritim, dan Sumber Daya Alam (OR LMSDA). Nilam (Patchouli) Trenggalek Pemetaan potensi dan kualitas lahan serta varietas nilam lokal Riset teknologi penyulingan efisien dan ramah lingkungan Riset hulu nilam, pembibitan dan pemuliaan. Model budidaya terpadu nilam dan integrasi dengan bioindustri Pengembangan hilirisasi minyak nilam dan produk turunan (aroma, kosmetik) Evaluasi model bisnis dan penguatan akses pasar nasional–ekspor BAPPERIDA, Penanaman Modal. DISPERTAPAN, Perikanan, Peternakan, Pariwisata Koperasi UMKM, Perdagangan Perindustrian, PMD, Dinas Sosial, Bagian Hukum, Badan Keuangan dan instansi terkait Perguruan Tinggi: Fakultas Sains dan Teknologi; Fakultas Teknologi Industri; Fakultas Teknik; Fakultas Pertanian BRIN: OR Hayati dan Lingkungan; OR Nanoteknologi dan Material; OR Industri Ikan Patin Trenggalek Kajian potensi budidaya patin di perairan darat dan sistem pakan lokal Pengembangan teknologi budidaya intensif dan pengolahan hasil (fillet, abon, nugget) Model klaster budidaya patin berbasis koperasi atau BUMDes Penguatan rantai dingin (cold chain system) dan branding “Patin Trenggalek” Evaluasi kebijakan, kemitraan industri, dan replikasi model ke kecamatan lain Perguruan Tinggi: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan; Fakultas Biologi. Fakultas Ilmu Lingkungan BRIN: OR Hayati dan Lingkungan; OR Maritim dan Perikanan; OR Ekonomi. Ikan Tuna, Tongkol, Cakalang Skala Nasional Kajian potensi penangkapan berkelanjutan dan rantai pasok ikan laut Trenggalek Riset teknologi pasca panen, penyimpanan dingin, dan pengemasan ekspor Model bisnis penangkapan dan pengolahan ikan laut berbasis nelayan kecil Hilirisasi produk olahan tuna/tongkol (siap saji, beku, kemasan ekspor) Evaluasi daya saing ekspor dan penguatan kemitraan nasional Perguruan Tinggi: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan; Fakultas Teknologi Kelautan; Fakultas Geografi BRIN: OR Kelautan dan Perikanan; OR Lingkungan, Maritim 81Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Tabel 29 Peta Jalan Riset dan Inovasi Geosite dan Geopark Kabupaten Trenggalek Tema Prioritas Riset dan Inovasi Tahun ke-1 Tahun ke-2 Tahun ke-3 Tahun ke-4 Tahun ke-5 OPD Terkait Mitra Riset Strategis Research base & capacity building Innovation & commercialization Evaluation Rintisan Geosite dan Geopark Trenggalek Inventarisasi potensi geosite dan pemetaan awal potensi geologi, biologi, dan budaya lokal. Penyusunan baseline data geosite prioritas (karst, pantai, sungai purba, situs batuan vulkanik). Kajian geodiversity dan biodiversitas untuk pengusulan Geopark Nasional Trenggalek. Pengembangan sistem informasi spasial (GIS) geosite dan basis data digital. Pengembangan model pengelolaan terpadu Geopark Trenggalek berbasis riset sosial-ekonomi, pariwisata berkelanjutan, dan partisipasi masyarakat. Riset hilirisasi dan komersialisasi berbasis geoproduk (ekowisata, edukasi geologi, produk UMKM bertema geopark). Sertifikasi dan integrasi ke jejaring Geopark Nasional –proyeksi berjangka untuk UNESCO. Evaluasi dampak sosial- ekonomi dan ekologi. Replikasi model pengelolaan ke kawasan lain dan penguatan branding internasional Geopark Trenggalek. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan; Dinas Lingkungan Hidup; Dinas PU dan Tata Ruang; BAPPERIDA; Dinas Pendidikan, dan instansi terkait Perguruan Tinggi: • Fakultas Geografi • Fakultas Teknik • Fakultas Kehutanan • Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral • Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik • Fakultas Pendidikan • Pusat Kajian Lingkungan dan Kebencanaan BRIN: • Organisasi Riset Kebumian dan Maritim • Organisasi Riset Ekonomi • Organisasi Riset Ilmu Politik, Sosial dan Humaniora (OR IPSH). 82Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Tabel 30 Peta Jalan Riset dan Inovasi Kabupaten Trenggalek –TGX Hidup Berkualitas Tema Prioritas Riset dan Inovasi Tahun ke-1 Tahun ke-2 Tahun ke-3 Tahun ke-4 Tahun ke-5 OPD Terkait Mitra Riset Strategis Data-driven Baseline Penguatan layanan dasar Penerapan inovasi sosial & teknologi Integrasi Perencanaan dan Kebijakan Evaluasi Hidup Berkualitas (Quality of Life) Pemetaan kondisi sosial, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat Trenggalek. Identifikasi indikator Indeks Pembangunan berbasis data. Riset penguatan layanan dasar inklusif (pendidikan, kesehatan, air bersih, dan lingkungan sehat). Pilot project desa sehat dan literasi gizi–kesehatan. Pengembangan inovasi sosial dan teknologi tepat guna untuk peningkatan kualitas hidup (air bersih, sanitasi, ruang publik hijau, dan transportasi ramah lingkungan). Integrasi model “Hidup Berkualitas” ke kebijakan kota berkelanjutan. Implementasi program kolaboratif pendidikan– kesehatan– lingkungan berbasis data. Evaluasi dampak sosial, serta dampak riset dan inovasi untuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Trenggalek, serta replikasi model ke kecamatan lain. Dinas Kesehatan; Dinas Pendidikan; Dinas Sosial; Dinas Lingkungan Hidup; BAPPERIDA, dan instansi terkait Perguruan Tinggi • Fakultas Kesehatan Masyarakat, • Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik • Fakultas Ilmu Administrasi • Fakultas Kedokteran • Fakultas Ilmu Pendidikan BRIN • OR Kesehatan • OR Ekonomi • OR Hayati • OR IPSH 83Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 6.2 Program Riset dan Inovasi Kabupaten Trenggalek 2025-2029 Program Riset dan Inovasi Kabupaten Trenggalek 2025–2029 mengusung tema prioritas “Transformasi Riset dan Inovasi Trenggalek : Memperkuat Ekonomi Inklusif dan Regeneratif, Mewujudkan Net Zero Carbon, dan Meningkatkan SDM Kreatif dan Inovatif”. Program ini dirancang sebagai pengungkit strategis untuk mengatasi tantangan multidimensi yang dihadapi daerah, mulai dari krisis iklim hingga ketimpangan sosial-ekonomi. Melalui pendekatan ilmiah dan teknologi terapan, riset akan diarahkan untuk menghasilkan solusi berbasis bukti yang kontekstual, berkelanjutan, dan memberdayakan masyarakat secara menyeluruh. Pada visi penguatan ekonomi inklusif dan regeneratif dilakukan penguatan melalui penelitian yang mendorong pengembangan produk unggulan daerah, yakni beras, nilam, kopi, tuna, tongkol dan patin. Riset difokuskan pada dampak sosial dan ekonomi yang merata, dengan memastikan partisipasi aktif kelompok dan komunitas lokal sebagai aktor utama perubahan. Dalam kerangka menuju Net Zero Carbon, riset dan inovasi akan difokuskan pada rintisan Trenggalek sebagai Geosite – Geopark nasional dan internasional. Pengarusutamaan konservasi dan restorasi ekosistem, penguatan tata kelola lingkungan, serta skema transisi energi yang adil tidak lepas dari upaya tersebut. Pelestarian budaya lokal juga menjadi salah satu perhatian utama dari pengusulan Geopark ini. Peningkatan kualitas hidup dengan flagship program TGX Hidup Berkualitas juga menjadi salah satu prioritas riset dan inovasi. Pemerintah daerah akan memperkuat kemitraan antara lembaga pendidikan, dunia usaha, dan komunitas lokal untuk membangun pusat-pusat inovasi berbasis talenta daerah. Riset dalam bidang pendidikan, teknologi digital, budaya lokal, dan kewirausahaan akan diarahkan untuk menciptakan SDM adaptif yang mampu menjawab tantangan zaman. Dengan demikian, Trenggalek tidak hanya menjadi wilayah yang tangguh secara ekologis dan ekonomi, tetapi juga menjadi pusat tumbuhnya kecerdasan kolektif yang inklusif dan berkeadilan. Program, Rencana Aksi, dan Target Riset dan Inovasi Kabupaten Trenggalek 2025-2030 berfokus pada 3 Prioritas permasalahan daerah, secara lengkap dapat dilihat pada matriks berikut: 84Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Tabel 31 Program Indikatif Riset dan Inovasi Kabupaten Trenggalek Tahun 2026-2030 Kegiatan/ Sub Kegiatan Indikator dan Target 2026 2027 2028 2029 2030 OPD Prioritas 1 : Hilirisasi dan kepastian pasar produk unggulan daerah (PUD) : Beras, Nilam, Kopi, Tongkol, Tuna, Cakalang, Patin Penyusunan kebijakan berbasis hasil riset Jumlah naskah kebijakan berbasis hasil riset 1 1 1 1 1 Bapperida, Penanaman Modal. Dispertapan, Perikanan, Peternakan, Pariwisata, Koperasi UMKM, Perdagangan, Perindustrian, PMD dan instansi terkait • Kajian Pasar dan Nilai Tambah Hilirisasi Produk Unggulan Daerah Katalog Offtaker dan Rantai Nilai PUD (Dokumen) 1 • Riset Terapan Optimalisasi PUD Prototipe PUD oleh oleh khas Trenggalek 1 • Kajian Pengembangan Pasar dan Komersialisasi Produk Hilirisasi Pengembangan Skala dan Kelembagaan usaha PUD (Dokumen/Produk) 1 • Riset Model Kemitraan dan Sistem Jaminan Pasar Produk Unggulan Daerah Model Kemitraan dan Jaminan Pasar PUD Trenggalek (Dokumen/MoU). 1 • Kajian Evaluasi dan Keberlanjutan PUD Evaluasi dan Keberlanjutan Produk Unggulan Trenggalek (Dokumen) 1 Fasilitasi dan pembinaan pelaksanaan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan Laporan fasilitasi dan pembinaan pelaksanaan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan (PUD) 1 1 1 1 1 Bapperida dan instansi terkait • Menyelenggarakan kompetisi Ilmiah Optimalisasi PUD. Kompetisi Ilmiah yang dilaksanakan 1 1 1 • Memfasilitasi Publikasi Ilmiah PUD Jumlah publikasi ilmiah 1 1 • Memfasilitasi Hak Cipta PUD Jumlah kekayaan intelektual 1 1 • Diseminasi riset PUD Jumlah Diseminasi 1 1 • Membangun kerja sama lintas sektor (OPD, perguruan tinggi, pelaku usaha). Jumlah Kerja sama Lintas Sektor terkait Riset PUD 1 1 • Memfasilitasi Akses dan Kolaborasi Pendanaan Riset PUD Jumlah akses dan kolaborasi pendanaan riset PUD 1 1 • Mendorong lahirnya startup berbasis PUD. Jumlah Startup PUD 1 • Memfasilitasi Pusat Inovasi dan Database inovasi PUD. Jumlah Pusat Inovasi dan Database PUD (web bskdn) 1 85Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Kegiatan/ Sub Kegiatan Indikator dan Target 2026 2027 2028 2029 2030 OPD • Memfasilitasi regulasi daerah tentang PUD. Jumlah regulasi daerah tentang PUD 1 • Membentuk Forum Inovasi PUD (pemerintah, UMKM, akademisi, investor). Jumlah Forum Inovasi PUD 1 • Fasilitasi Kegiatan Riset Internasional Jumlah Kegiatan Riset Internasional 1 • Indikasi Geografis PUD Jumlah Indikasi Geografis PUD 1 Fasilitasi dan Pembinaan Untuk Penyelenggaraan Pengembangan Klaster Inovasi Berbasis Produk Unggulan Daerah laporan fasilitasi dan pembinaan untuk penyelenggaraan pengembangan klaster Inovasi berbasis produk unggulan daerah dan/atau mengatasi permasalahan daerah 1 1 1 1 1 Bapperida dan instansi terkait • Bimtek Penyusunan Proposal dan Bukti Dukung Inovasi PUD Jumlah Bimtek Penyusunan Proposal dan Bukti Dukung Inovasi PUD 1 1 1 1 • Fasilitasi Kompetisi Inovasi di Luar Trenggalek Jumlah Fasilitasi Kompetisi Inovasi di Luar Trenggalek 1 • Pelaporan Inovasi PUD pada website Kemendagri Jumlah Pelaporan Inovasi PUD pada website Kemendagri 1 1 1 1 1 Prioritas 2 : Identifikasi Geosite dan Proses Pembentukan Geopark Penyusunan kebijakan berbasis hasil riset Jumlah naskah kebijakan berbasis hasil riset 1 1 1 1 1 Bapperida; Dinas Pariwisata dan Kebudayaan; Dinas Lingkungan Hidup; Dinas PU dan Tata Ruang; Dinas Pendidikan, dan instansi terkait • Kajian Inventarisasi potensi geosite dan pemetaan awal potensi geologi, biologi, dan budaya lokal (Studi Kelayakan Geopark) Laporan Kajian dan Peta awal potensi Geosite – Geopark 1 • Penyusunan Peta Jalan Rintisan Geosite – Geopark Dokumen Peta Jalan rintisan Geosite – Geopark 1 • Penyusunan baseline data geosite prioritas (karst, pantai, sungai purba, situs batuan vulkanik). Laporan profil geosite prioritas (karst, pantai, sungai purba, situs batuan vulkanik) 1 • Pengembangan sistem informasi spasial (GIS) geosite dan basis data digital. Laporan Pengembangan sistem informasi spasial (GIS) geosite dan basis data digital. 1 86Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Kegiatan/ Sub Kegiatan Indikator dan Target 2026 2027 2028 2029 2030 OPD • Kajian geodiversity dan biodiversitas untuk pengusulan Geopark Nasional Trenggalek. Laporan geodiversity dan biodiversitas untuk pengusulan Geopark Nasional Trenggalek. 1 • Kajian Pengembangan model pengelolaan terpadu Geopark Trenggalek berbasis riset sosial-ekonomi, pariwisata berkelanjutan, dan partisipasi masyarakat. Laporan kajian Pengembangan model pengelolaan terpadu Geopark Trenggalek berbasis riset sosial- ekonomi, pariwisata berkelanjutan, dan partisipasi masyarakat. 1 • Kajian Evaluasi kemajuan rintisan Geosite – Geopark. Laporan kajian Evaluasi kemajuan rintisan Geosite – Geopark. 1 Fasilitasi dan pembinaan pelaksanaan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan Laporan fasilitasi dan pembinaan pelaksanaan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan 1 1 1 1 1 Bapperida dan instansi terkait • Menyelenggarakan kompetisi Ilmiah rintisan Geosite - Geopark Jumlah Peserta kompetisi Ilmiah rintisan Geosite - Geopark 1 1 • Memfasilitasi Publikasi Ilmiah rintisan Geosite - Geopark Jumlah Publikasi Ilmiah rintisan Geosite - Geopark 1 1 • Memfasilitasi Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual terkait rintisan Geosite - Geopark Jumlah Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual terkait rintisan Geosite - Geopark 1 1 • Diseminasi riset rintisan Geosite - Geopark Jumlah Diseminasi riset rintisan Geosite - Geopark 1 1 • Membangun kerja sama lintas sektor (OPD, perguruan tinggi, pelaku usaha) rintisan Geosite - Geopark Jumlah kerja sama lintas sektor (OPD, perguruan tinggi, pelaku usaha) rintisan Geosite - Geopark 1 1 • Memfasilitasi Akses dan Kolaborasi Pendanaan Riset rintisan Geosite - Geopark Jumlah Akses dan Kolaborasi Pendanaan Riset rintisan Geosite - Geopark 1 1 • Mendorong lahirnya startup berbasis riset rintisan Geosite - Geopark Jumlah startup berbasis riset rintisan Geosite - Geopark 1 1 • Memfasilitasi Pusat Inovasi dan Database inovasi rintisan Geosite - Geopark Jumlah Pusat Inovasi dan Database inovasi rintisan Geosite - Geopark 1 1 87Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Kegiatan/ Sub Kegiatan Indikator dan Target 2026 2027 2028 2029 2030 OPD • Memfasilitasi regulasi daerah rintisan Geosite - Geopark Jumlah regulasi daerah rintisan Geosite - Geopark 1 1 • Memfasilitasi rintisan Forum Geosite - Geopark Trenggalek (pemerintah, UMKM, akademisi, investor, komunitas, masyarakat). Jumlah rintisan Forum Geosite - Geopark Trenggalek 1 • Fasilitasi Kegiatan Riset Internasional rintisan Geosite - Geopark Jumlah Kegiatan Riset Internasional rintisan Geosite - Geopark 1 • Menyelenggarakan kompetisi Ilmiah rintisan Geosite - Geopark Terselenggaranya kompetisi Ilmiah rintisan Geosite - Geopark 1 1 Fasilitasi dan Pembinaan Untuk Penyelenggaraan Pengembangan Klaster Inovasi Berbasis Produk Unggulan Daerah laporan fasilitasi dan pembinaan untuk penyelenggaraan pengembangan klaster Inovasi berbasis produk unggulan daerah dan/atau mengatasi permasalahan daerah 1 1 1 1 1 Bapperidadan instansi terkait • Bimtek Penyusunan Proposal dan Bukti Dukung Inovasi rintisan Geosite - Geopark Jumlah Proposal dan Bukti Dukung Inovasi rintisan Geosite - Geopark 1 1 1 1 1 • Fasilitasi studi tiru dan replikasi pengelolaan Geosite - Geopark Jumlah studi tiru dan replikasi pengelolaan Geosite - Geopark 1 1 • Fasilitasi Magang Riset - Inovasi terkait rintisan Geosite - Geopark Jumlah Magang Riset - Inovasi terkait rintisan Geosite - Geopark 1 1 1 1 • Fasilitasi Laman “Geopark Trenggalek” untuk data, riset, dan informasi wisata interaktif. Jumlah Laman “Geopark Trenggalek” untuk data, riset, dan informasi wisata interaktif. 1 1 1 1 Prioritas 3 : Pengembangan Inovasi Hidup Berkualitas Penyusunan kebijakan berbasis hasil riset Jumlah naskah kebijakan berbasis hasil riset 1 1 1 1 1 BAPPERIDA, Dinas Kesehatan; Dinas Pendidikan; Dinas Sosial; Dinas Lingkungan Hidup; • Kajian Pemetaan kondisi sosial, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat Trenggalek - Identifikasi indikator Indeks Laporan kajian Pemetaan kondisi sosial, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat Trenggalek 1 88Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Kegiatan/ Sub Kegiatan Indikator dan Target 2026 2027 2028 2029 2030 OPD Pembangunan Manusia (IPM) berbasis data. (Studi Kelayakan Sustainable city) PUPR, Perhubungan dan instansi terkait • Kajian penguatan layanan dasar inklusif (pendidikan, kesehatan, air bersih, dan lingkungan sehat). • Pilot project desa sehat dan literasi gizi– kesehatan. • Laporan Kajian penguatan layanan dasar inklusif (pendidikan, kesehatan, air bersih, dan lingkungan sehat). • Laporan Pilot project desa sehat dan literasi gizi– kesehatan. 1 • Kajian Pengembangan inovasi sosial dan teknologi tepat guna untuk peningkatan kualitas hidup (air bersih, sanitasi, ruang publik hijau, dan transportasi ramah lingkungan). Laporan Pengembangan inovasi sosial dan teknologi tepat guna untuk peningkatan kualitas hidup (air bersih, sanitasi, ruang publik hijau, dan transportasi ramah lingkungan). 1 • Kajian Integrasi model “Hidup Berkualitas” ke kebijakan kota berkelanjutan. Implementasi program kolaboratif pendidikan–kesehatan– lingkungan berbasis data. Laporan Integrasi model “Hidup Berkualitas” ke kebijakan kota berkelanjutan. Implementasi program kolaboratif pendidikan–kesehatan 1 • Kajian Evaluasi dampak sosial, serta dampak riset dan inovasi untuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Trenggalek. Laporan Kajian Evaluasi dampak sosial, serta dampak riset dan inovasi untuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Trenggalek. 1 Fasilitasi dan pembinaan pelaksanaan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan Laporan fasilitasi dan pembinaan pelaksanaan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan 1 1 1 1 1 Bapperida dan instansi terkait • Menyelenggarakan kompetisi Ilmiah - Hidup Berkualitas - Sustainable City Jumlah Peserta kompetisi Ilmiah - Hidup Berkualitas - Sustainable City 1 1 • Memfasilitasi Publikasi Ilmiah Hidup Berkualitas - Sustainable City Jumlah Publikasi Ilmiah Hidup Berkualitas - Sustainable City 1 1 • Memfasilitasi Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual terkait Hidup Berkualitas - Sustainable City Jumlah Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual terkait Hidup Berkualitas - Sustainable City 1 1 89Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Kegiatan/ Sub Kegiatan Indikator dan Target 2026 2027 2028 2029 2030 OPD • Diseminasi riset Hidup Berkualitas - Sustainable City Jumlah Diseminasi riset Hidup Berkualitas - Sustainable City 1 1 • Membangun kerja sama lintas sektor (OPD, perguruan tinggi, pelaku usaha) Hidup Berkualitas - Sustainable City Jumlah kerja sama lintas sektor (OPD, perguruan tinggi, pelaku usaha) Hidup Berkualitas - Sustainable City 1 1 • Memfasilitasi Akses dan Kolaborasi Pendanaan Riset Hidup Berkualitas - Sustainable City Jumlah Akses dan Kolaborasi Pendanaan Riset Hidup Berkualitas - Sustainable City 1 • Mendorong lahirnya startup berbasis riset Hidup Berkualitas - Sustainable City Jumlah startup berbasis riset Hidup Berkualitas - Sustainable City 1 1 • Memfasilitasi Pusat Inovasi dan Database inovasi Hidup Berkualitas - Sustainable City Jumlah Inovasi dan Database inovasi Hidup Berkualitas - Sustainable City 1 1 • Memfasilitasi regulasi daerah Hidup Berkualitas - Sustainable City Jumlah regulasi daerah Hidup Berkualitas - Sustainable City 1 • Fasilitasi Kegiatan Riset Internasional Hidup Berkualitas - Sustainable City Jumlah Kegiatan Riset Internasional Hidup Berkualitas - Sustainable City 1 Fasilitasi dan Pembinaan Untuk Penyelenggaraan Pengembangan Klaster Inovasi Berbasis Produk Unggulan Daerah laporan fasilitasi dan pembinaan untuk penyelenggaraan pengembangan klaster Inovasi berbasis produk unggulan daerah dan/atau mengatasi permasalahan daerah Bapperida dan instansi terkait • Bimtek Penyusunan Proposal dan Bukti Dukung Inovasi Hidup Berkualitas - Sustainable City Jumlah Penyusunan Proposal dan Bukti Dukung Inovasi Hidup Berkualitas - Sustainable City 1 1 1 1 1 • Fasilitasi studi tiru dan replikasi Hidup Berkualitas - Sustainable City Jumlah Fasilitasi studi tiru dan replikasi Hidup Berkualitas - Sustainable City 1 1 • Fasilitasi Magang Riset/non riset - Inovasi terkait Hidup Berkualitas - Sustainable City Jumlah Magang Riset/non riset - Inovasi terkait Hidup Berkualitas - Sustainable City 1 1 1 1 Riset dan Inovasi Prioritas Pendukung Pembangunan Daerah Penyusunan kebijakan berbasis hasil riset Jumlah naskah kebijakan berbasis hasil riset 1 1 1 1 1 90Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Kegiatan/ Sub Kegiatan Indikator dan Target 2026 2027 2028 2029 2030 OPD • Riset Terapan Peningkatan PAD: Optimalisasi Aset, Retribusi dan BUMD Laporan Kajian/Policy Brief 1 Bapperida, Bakeuda, BPBD, Dinas Kesehatan; Dinas Pendidikan; Dinas Sosial; Dinas Lingkungan Hidup; Dinas Perhubungan, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, Dinas Pendidikan; Satpol PPK dan instansi terkait. • Kajian Implementasi Perdagangan Karbon Daerah Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Kajian Rintisan Kebun Raya Mangrove Trenggalek Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Kajian Rintisan Kebun Raya Bambu Trenggalek Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Optimalisasi Mal Pelayanan Publik Digital Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Percepatan Pembangunan Kampus Trenggalek Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Kajian Pengembangan produk kriya dan kuliner lokal Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Kajian Pangan berbasis kearifan lokal Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Kajian Dampak Sosial Ekonomi event Seni Pertunjukkan Trenggalek Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Strategi Inovasi Keuangan Daerah dalam Mewujudkan Kemandirian Fiskal di Kabupaten Trenggalek Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Model Penguatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Berbasis Inovasi dan Teknologi Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Kajian Optimalisasi BUMD sebagai Sumber Pembiayaan Alternatif Pembangunan Daerah Laporan Kajian/Policy Brief 1 91Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Kegiatan/ Sub Kegiatan Indikator dan Target 2026 2027 2028 2029 2030 OPD • Desain Arsitektur Kebijakan Fiskal Daerah yang Adaptif terhadap Penurunan Transfer Pusat Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Peta Jalan Reformasi PAD melalui Digitalisasi Layanan Pajak dan Retribusi Daerah Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Pemanfaatan Big Data untuk Eksplorasi Potensi Ekonomi Lokal dan Sumber-Sumber PAD Baru Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Inovasi Skema Pembiayaan Kolaboratif antara Pemerintah Daerah dan Sektor Swasta Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Pemberdayaan Ekonomi Lokal sebagai Pilar Kemandirian Fiskal Daerah: Kajian Sektor Unggulan Trenggalek Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Kebijakan Transfer Fiskal Eksternal dan Implikasinya terhadap Otonomi Nyata Daerah Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Evaluasi Efektivitas Belanja Daerah terhadap Pertumbuhan Ekonomi Lokal sebagai Basis Kemandirian Daerah Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Audit Kearsipan sebagai Alat Evaluasi Efektivitas Pengetahuan pegawai terhadap arsip dinamis dan arsip statis di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Trenggalek Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Pengaruh Ketersediaan Sarana dan Prasarana Terhadap Kualitas Pengelolaan Arsip Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Efektivitas Arsiparis terhadap keberhasilan pengelohan arsip Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Transformasi Digital dalam Kearsipan: Tantangan dan Strategi Implementasinya Laporan Kajian/Policy Brief 1 92Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Kegiatan/ Sub Kegiatan Indikator dan Target 2026 2027 2028 2029 2030 OPD • Pengaruh Komitmen Pimpinan /Pengambil Kebijakan terhadap keberhasilan pengolahan arsip di Lingkup Pemerintah Kabupaten Trenggalek Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Studi Peran Kepemimpinan Sekolah dalam Penguatan Fungsi Perpustakaan sebagai Sumber Belajar Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Riset Kesiapan SDM dan Sarana Perpustakaan Desa dalam Mewujudkan Layanan Inklusif Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Faktor-faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Masyarakat dalam Mengakses Pocadi Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Faktor Risiko Kejadian Kelainan Bawaan Dalam Upaya Menurunkan Angka Kejadian Disabilitas Dan Kejadian Kematian Bayi Yang Disebabkan Oleh Kelainan Bawaan Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Efektifitas program Keluarga Sehat Yang Beruntung dalam pengendalian penyakit kronis dan peningkatan kualitas hidup. Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Efektifitas Dasi Emas terhadap peningkatan status kesehatan masyarakat Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Implementasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat di Institusi Pendidikan Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Pendampingan oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK) pada Calon Pengantin (Catin) / Calon Pasangan Usia Subur Dalam Kurun Waktu Ideal 3 (Tiga) Bulan Sebelum Menikah Laporan Kajian/Policy Brief 1 93Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Kegiatan/ Sub Kegiatan Indikator dan Target 2026 2027 2028 2029 2030 OPD • Pengaruh Treadment dan Upaya – Upaya Kesehatan serta Peningkatan Status Gizi Pada Calon Pengantin (Catin) / Calon Pasangan Usia Subur (PUS) Terhadap Kasus Stunting Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekontruksi Pascabencana (R3P) Kabupaten Trenggalek Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Dokumen Rencana Penanggulangan Kebencanaan Kebencanaan Berbasis Masyarakat (RPKB) Kabupaten Trenggalek Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Kajian Resiko Bencana (KRB) Kabupaten Trenggalek Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Renkon Bencana Tsunami Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Renkon Bencana Banjir Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Renkon Bencana Tanah Longsor Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) Kabupaten Trenggalek Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Dokumen Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Reviu Pedoman Teknis Manajemen Persampahan (PTMP) Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Rencana Induk Transportasi Kabupaten Trenggalek. Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Kajian Retribusi Parkir Non Berlangganan di Kabupaten Trenggalek Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Kajian Indeks Kesejahteraan Sosial (Ikesos) Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Pencegahan konflik sosial melalui program Keserasian Sosial dan Kearifan Lokal Laporan Kajian/Policy Brief 1 94Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Kegiatan/ Sub Kegiatan Indikator dan Target 2026 2027 2028 2029 2030 OPD • Dokumen Peta Rawan Kebakaran dan Wilayah Manajemen Kebakaran, Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Dokumen Peta Rawan Trantibumlinmas Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Penguatan Implementasi SAKIP Kabupaten sebagai upaya untuk pelaksanaan SAKIP Perangkat Daerah Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Peran proses bisnis dalam pelaksanaan RPJMD 2025-2029 Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Spatial integration assessment of solar, wind, and hydropower energy potential Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Solar PV Rooftop Potential Assessment Using Integrated Multi-Source Geospatial Information to Support Urban Clean Energy Target Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Land Use Change and Prediction for Valuating Carbon Sequestration Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Developing a spatial- based predictive model for conservation area management prioritization using ecosystem service and site suitability index Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Optimizing spatial distribution of Trenggalek mangrove restoration based on zonation, species and carbon projection schemes Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Determining Optimal Location for Mangrove Planting Using Remote Sensing and Climate Model Projection Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Optimizing urban and rural-level centralized Laporan Kajian/Policy Brief 1 95Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Kegiatan/ Sub Kegiatan Indikator dan Target 2026 2027 2028 2029 2030 OPD wastewate management system using machine learning and spatial network analysis • Machine learning based urban sprawl assessment using integrated multi-hazard and environmental- economic impact Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Development of Spatial Model for Estimating Food Security Using Environmental Factor Laporan Kajian/Policy Brief 1 • Enhancing urban micro mobility to equal spatial access in urban area Laporan Kajian/Policy Brief 1 Fasilitasi dan Pembinaan Pelaksanaan Penelitian, Pengembangan, Pengkajian, dan Penerapan (Litbangjirap) Laporan fasilitasi dan pembinaan pelaksanaan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan 1 1 1 1 1 Bapperida dan instansi terkait • Fasilitasi Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual – Komunal/Indikasi geografis produk kuliner dan kriya khas Trenggalek Jumlah Fasilitasi Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual – Komunal/Indikasi geografis produk kuliner dan kriya khas Trenggalek 1 1 1 • Bimtek Pengelolaan Jurnal Ilmiah Terakreditasi Jumlah Bimtek Pengelolaan Jurnal Ilmiah Terakreditasi 1 1 • Pengelolaan Jurnal Ilmiah Terakreditasi Jumlah Pengelolaan Jurnal Ilmiah Terakreditasi 1 1 1 1 96Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Beberapa poin penting mencakup penguatan kebijakan riset, peningkatan kapasitas kelembagaan, pengembangan kemitraan riset, serta integrasi riset dengan produk unggulan daerah. Meskipun demikian, terdapat kesenjangan pada ketersediaan infrastruktur, perlindungan kekayaan intelektual, serta adaptasi dengan perkembangan global yang memerlukan perhatian lebih lanjut. 7.2 Saran
1.Percepatan Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Pemerintah daerah perlu segera menyusun peraturan daerah terkait riset dan inovasi untuk memberikan dasar hukum yang kuat bagi pelaksanaan program RIPJPID.
2.Penguatan Infrastruktur dan Sumber Daya Diperlukan pengembangan infrastruktur pendukung, seperti laboratorium riset, pusat studi, serta fasilitas berbasis teknologi informasi untuk mendukung pelaksanaan riset yang lebih efektif.
3.Kolaborasi dengan Pemangku Kepentingan Intensitas kerja sama antara pemerintah dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan sektor swasta perlu ditingkatkan untuk memperluas jaringan riset serta mendorong inovasi yang berorientasi pada kebutuhan lokal.
4.Implementasi Gagasan dari Masyarakat Implementasi gagasan dari masyarakat dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan partisipatif yang melibatkan semua elemen masyarakat. Pemerintah daerah dapat bekerja sama dengan komunitas, organisasi masyarakat, dan sektor swasta untuk memastikan realisasi gagasan berjalan efektif dan memberikan dampak positif. Selain itu, transparansi dalam pelaksanaan dan pengawasan juga penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat. 97Rencana Induk & Peta Jalan Pemajuan IPTEK Kabupaten Trenggalek Tahun 2025-2029 Dengan melaksanakan beberapa rekomendasi tersebut, Kabupaten Trenggalek diharapkan mampu mengoptimalkan potensi riset dan inovasi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan yang berdaya saing tinggi. BUPATI TRENGGALEK Ttd. MOCHAMAD NUR ARIFIN