41.Persentase Perangkat Daerah yang Menyelenggarakan kearsipan sesuai Katentuan Kearsipan (Satuan: %) Tersedianya record centre di Perangkat Daerah Provinsi Banten % Perangkat Daerah = 𝑃𝑒𝑟𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘𝑖 𝑟𝑒𝑐𝑜𝑟𝑑 𝑐𝑒𝑛𝑡𝑒𝑟 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑒𝑟𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎 𝑥100
42.Laju Pertumbuhan Sektor Perikanan Terhadap PDRB (Satuan: %) Proses kenaikan output perkapita dalam jangka panjang atau perubahan tingkat kegiatan ekonomi yang terjadi dari tahun ke tahun Laju pertumbuhan sektor perikanan terhadap PDRB dapat diukur dengan menggunakan laju pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK).Berikut ini adalah rumus untuk menghitung tingkat pertumbuhan (Sukirno, 2007): G = Laju pertumbuhan PDRB1 = PDRB ADHK pada suatu tahun PDRB0 = PDRB ADHK pada tahun sebelumnya
43.Kontribusi Sektor Pariwisata Terhadap PDRB (Satuan: %) Persentase peningkatan kontribusi sektor pariwisata dalam hal ini adalah sektor akomodasi makan dan minum baik dalam PDRB ADHK. (Kontribusi sektor akomodasi makan dan minum dalam PDRB ADHK tahun n) dikurangi (Kontribusi sektor akomodasi makan dan minum PDRB ADHK tahun n-1) di bagi (PDRB Kontribusi sektor akomodasi makan dan minum ADHK tahun n-1) NO Indikator Kinerja Utama Pemerintah Definisi Operasional Rumus Perhitungan Indikator ini digunakan untuk mengukur perubahan kontribusi sektor akomodasi makan dan minum pada tahun berjalan dan tahun berikutnya. Namun peningkata LPE sektor pariwisata (akomodasi makan dan minum ini) tidak sepenuhnya menunjukkan kinerja sektor ini sesungguhnya, sebab peningkatan kontribusi dapat disebabkan oleh kinerja sektor akomodasi makan dan minum yang meningkat atau sektor diluar sektor akomodasi makan dan minum kontribusinya yang menurun. Sehingga untuk membuktikan kinerja sektor pariwisata yang meningkat perlu didukung oleh indikator kinerja kunci seperti jumlah kunjungan wisatawan NO Indikator Kinerja Utama Pemerintah Definisi Operasional Rumus Perhitungan
43.Pertumbuhan Sektor Pertanian (Satuan: %) Proses kenaikan output perkapita dalam jangka panjang atau perubahan tingkat kegiatan ekonomi yang terjadi dari tahun ke tahun Laju pertumbuhan sektor perikanan terhadap PDRB dapat diukur dengan menggunakan laju pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK).Berikut ini adalah rumus untuk menghitung tingkat pertumbuhan (Sukirno, 2007): G = Laju pertumbuhan PDRB1 = PDRB ADHK pada suatu tahun PDRB0 = PDRB ADHK pada tahun sebelumnya
44.Rasio Cakupan Tutupan Hutan (Satuan: %) Perbandingan Luas Kawasan Hutan ditambah dengan Tutupan Hutan diluar Kawasan Hutan yang memiliki kerapatan (vegetasi) diatas 50% dibagi Luas Provinsi Banten 𝑅𝑎𝑠𝑖𝑜 𝑇𝑢𝑡𝑢𝑝𝑎𝑛 𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛 = 𝐾𝐻 + 𝑇𝐻 𝑑𝑖𝑙𝑢𝑎𝑟 𝐾𝐻 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 + 𝑥 100% Keterangan: KH = Kawasan Hutan TH = Tutupan Hutan Catatan:
1.Identifikasi kerapatan vegetasi menggunakan metode/Teknik NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) dari Citra Landsat 8 Tahun 2016
2.Luas Provinsi Banten menggunakan sumber data dari BPS/Banten dalam angka NO Indikator Kinerja Utama Pemerintah Definisi Operasional Rumus Perhitungan
45.Rasio elektrifikasi (Satuan: %) Rasio elektrifikasi adalah tingkat perbandingan jumlah penduduk yang telah mendapat listrik dengan jumlah total penduduk di suatu wilayah atau Negara Alasan pemilihan indikator: Untuk mengetahui jumlah penduduk di Provinsi Banten yang telah terlayani aliran listrik. Formulasi Perhitungan: penduduk yang telah mendapat listrik 𝑃𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 𝐵𝑎𝑛𝑡𝑒𝑛 𝑥100%
46.Pertumbuhan Sektor Sumber Daya Mineral (Satuan: %) Perhitungan terhadap pertumbuhan sektor-sektor di bidang sumber daya mineral. Alasan Pemilihan Indikator: masih tingginya angka kecelakaan di Provinsi Banten membutuhkan berbagai upaya untuk mengurangi angka kecelakaan tersebut. Formulasi Perhitungan: 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎 𝑃𝐷𝑅𝐵 𝑑𝑖𝑏𝑖𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑆𝐷𝑀 𝑡𝑎𝑢𝑛 𝑛 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎 𝑃𝐷𝑅𝐵 𝑑𝑖𝑏𝑖𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑆𝐷𝑀 𝑡𝑎𝑢𝑛 𝑛 − 1 𝑥100%
47.Tingkat Inflasi Bahan Pokok dan Bahan Penting (Satuan: %) Tingkat inflasi menunjukan persentase tingkat harga rata-rata tertimbang untuk barang pokok (beras, rokok, gula, jagung kedelai, minyak goreng, daging beku, bawang merah) dan bahan galian srategis (aspalt, bijih besi, minyak bumi, dan bahan tambang) < Bregman EM , Feses EJ . 2003> Tingkat inflasi 𝐿𝑎𝑗𝑢 𝐼𝑛𝑓𝑙𝑎𝑠𝑖 = 𝐼𝐻𝐾𝑛 − 𝐼𝐻𝐾0 𝐼𝐻𝐾0 𝑥 100% Keterangan: IHKn = Indeks Harga Konsumen pada tahun n IHK0 = Indeks Harga Konsumen pada tahun 0 NO Indikator Kinerja Utama Pemerintah Definisi Operasional Rumus Perhitungan
48.LPE Sektor Perdagangan (Satuan: %) Menunjukan tahap perubahan pertumbuhan ekonomi di bidang perdagangan, persentase perekonomian suatu daerah dalam PDRB. <David, FR. 2014. Strategi Management > LPE sektor perdagangan 𝐺𝑖 = 𝑃𝐷𝑅𝐵𝑖1 − 𝑃𝐷𝑅𝐵𝑖0 𝑃𝐷𝑅𝐵𝑖0 𝑥 100% Keterangan : G = adalah tingkat pertumbuhan sektor Perdagangan yang dinyatakan dalam persen. PDRB it = PDRB Sektor Perdagangan pada tahun t PDRB 0 = pendapatan daerah pada tahun dasar.
49.Capaian Pelayanan Publik (Satuan: %) Kepuasan pelayanan badan penghubung sebagai wakil dari Pemerintah Daerah terhadap lembaga dan masyarakat, 1) Indikator: jumlah lembaga yang dilayani dibagi jumlah lembaga: = 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑔𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑙𝑎𝑦𝑎𝑛𝑖 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑔𝑎 𝑥 100% 2) Capaian Masyarakat yang dilayani (Orang) Nilai Persepsi Jumlah Masyarakat yang dilayani (Orang) Mutu Pelayanan Kinerja Unit Pelayanan 1 >1000 A Sangat Baik 2 501-999 B Baik 3 <500 C Cukup NO Indikator Kinerja Utama Pemerintah Definisi Operasional Rumus Perhitungan
50.Capaian Laporan Kinerja Pemerintah Provinsi Banten (Satuan: Nilai) Tercapainya Penyelenggaraan Pemerintahan yang Akuntabel, Efektif, dan efisien ASPEK PENILAIAN KOMPONEN BOBOT SUB KOMPONEN 1 Perencanaan Kinerja 35 Renstra, Rencana Kerja Tahunan, Penetapan Kinerja, Rencana Kerja 2 Pengukuran Kinerja 20 Pemenuhan Pengukuran, Kualitas Pengukuran, Implementasi Pengukuran 3 Pelaporan Kinerja 15 Pemenuhan Pelaporan, Penyajian Informasi Kinerja, Pemanfaatan Informasi Kinerja Dalam Bentuk Laporan Kinerja 4 Evaluasi Kinerja 10 Pemenuhan Evaluasi, Kualitas Evaluasi, Pemanfaatan Hasil Evauasi 5 Pencapaian Kinerja 20 Kinerja Yang Dilaporkan, Output dan Outcome dan Kinerja Lainnya TOTAL 100
51.Capaian Program- program Kerja Dewan Perwakilan Rakyat Daerah untuk Melaksanakan Fungsi Pengawasan, Fungsi Pembentukan Peraturan Daerah, dan Fungsi Anggaran Dalam Dokumen RPJMD Capaian Fungsi Pengawasan, Fungsi Pembentukan Peraturan Daerah, dan Fungsi Anggaran Dalam Dokumen RPJMD maupun Dokumen RKPD pada tahun berkenaan Alasan pemilihan indikator: mengukur capaian pelayanan penunjang pelaksanaan kinerja Dewan Perwakilan Rakyat Daerah 𝐶𝑎𝑝𝑎𝑖𝑎𝑛 𝑝𝑟𝑜𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝐷𝑃𝑅𝐷 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑙𝑎𝑘𝑠𝑎𝑛𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑇𝑎𝑟𝑔𝑒𝑡 𝑝𝑟𝑜𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝐷𝑃𝑅𝐷 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝𝑘𝑎𝑛 𝑥100 NO Indikator Kinerja Utama Pemerintah Definisi Operasional Rumus Perhitungan maupun Dokumen RKPD (Satuan: %)
52.Capaian Maturitas SPIP (Satuan: Nilai) Untuk menentukan kualitas dalam konteks maturitas sistem pengendalian internal pemerintahan Level Keterangan 1 (belum ada) Sama sekali belum ada kebijakan dan prosedur pelaksanaan pengendalian internal 2 (Rintisan) Praktik pengendalian internal bersifat ad hoc dan tidak terorganisasi serta tanpa komunikasi dan pemantauan 3 (Berkembang) Praktik pengendalian tidak terdokumentasi dengan baik dan belum ada evaluasi efektifitasnya 4 (Terdefinisi) Praktik pengendalian telah terdokumentasi namun evaluasinya tanpa dokumentasi memadai 5 (Terkelola dan Terukur) Pengendalian internal diterapkan dengan efektif dan ada evaluasi formal yang terdokumentasi 6 ( Optimum) Pengendalian internal diterapkan dengan berkelanjutan, terintegrasi dalam pelaksanaan kegiatan dan didukung pemantauan otomatis
53.Capaian Kesesuaian dengan Parameter Penilaian Dokumen Perencanaan Daerah (Satuan: Peringkat) Persentase kesesuaian dokumen perencanaan (RKPD) dengan parameter penilaian Pangripta 𝑑𝑜𝑘𝑢𝑚𝑒𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑒𝑛𝑐𝑎𝑛𝑎𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑒𝑟𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑠𝑢𝑠𝑢𝑛 𝑑𝑜𝑘𝑢𝑚𝑒𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑒𝑛𝑐𝑎𝑛𝑎𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑎𝑖 𝑑𝑔𝑛 𝑝𝑎𝑟𝑎𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑝𝑒𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖𝑎𝑛 𝑃𝑎𝑛𝑔𝑟𝑖𝑝𝑡𝑎 𝑥100 NO Indikator Kinerja Utama Pemerintah Definisi Operasional Rumus Perhitungan
54.Rasio PAD terhadap pendapatan daerah (%) (Satuan: %) Capaian Pendapatan Asli Daerah dibandingkan pendapatan daerah Alasan pemilihan indikator: untuk mengetahui pendapatan asli daerah dibandingkan pendapatan daerah = pendapatan asli daerah 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑒𝑟𝑎 𝑥100
55.Capaian Opini BPK terhadap laporan keuangan Pemerintah Daerah (Satuan: Opini) merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada empat kriteria yakni kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan, kecukupan pengungkapan (adequate disclosures), kepatuhan terhadap peraturan perundang- undangan, dan efektivitas sistem pengendalian intern Level Keterangan 1 Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified Opinion) 2 Wajar Dengan Pengecualian (Qualified Opinion) 3 Tidak Wajar (Adverse Opinion) 4 Tidak Menyatakan Pendapat (Discleamer)
56.Persentase Peningkatan Indeks Profesionalitas ASN (Satuan: %) Pencapaian kinerja dan kedisiplinan ASN Pemerintah Provinsi Banten yang diukur melalui pencapaian kinerja yang berkategori baik ASN pada setiap bulan Indeks Profesionalisme= 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎 𝐴𝑆𝑁 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑘𝑖𝑛𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑑𝑖𝑠𝑖𝑝𝑙𝑖𝑛 𝑏𝑎𝑖𝑘 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎 𝐴𝑆𝑁 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 𝐵𝑎𝑛𝑡𝑒𝑛 𝑥 100 NO Indikator Kinerja Utama Pemerintah Definisi Operasional Rumus Perhitungan diimbangi/sinergi dengan ketentuan terhadap peraturan yang berlaku
57.Persentase Peningkatan Indeks Kompetensi ASN (Satuan: Nilai) Kemampuan kerja setiap ASN yang mencakup aspek skill, knowledge dan attitude yang dibuktikan dari sertifikat kelulusan mengikuti kegiatan Pengembangan SDM Aparatur (kegiatan pendidikan dan pelatihan) Indeks Kompetensi = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎 𝑝𝑒𝑠𝑒𝑟𝑡𝑎 𝐷𝑖𝑘𝑙𝑎𝑡 𝐷𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐾𝑎𝑡𝑒𝑔𝑜𝑟𝑖 𝐿𝑢𝑙𝑢𝑠 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎 𝐴𝑆𝑁 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 𝐵𝑎𝑛𝑡𝑒𝑛 𝑥 100
58.Cakupan Penelitian dan pengembangan (Satuan: %) Capaian penelitian yang dihasilkan dan dimanfaatkan Alasan pemilihan indikator: mengukur kemanfaatan hasil penelitian dalam perumusan kebijakan pembangunan dalam rangka evidence based policy 𝐻𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑝𝑒𝑛𝑒𝑙𝑖𝑡𝑖𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑓𝑎𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛 𝐻𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑝𝑒𝑛𝑒𝑙𝑖𝑡𝑖𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑙𝑎𝑘𝑠𝑎𝑛𝑎𝑘𝑎𝑛 x 100 Salinan sesuai dengan aslinya KEPALA BIRO HUKUM, ttd AGUS MINTONO, SH.M.Si Pembina Tk. I NIP. 19680805 199803 1 010 GUBERNUR BANTEN, ttd WAHIDIN HALIM LAMPIRAN II PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 16 TAHUN 2018 TENTANG INDIKATOR KINERJA UTAMA PEMERINTAH PROVINSI BANTEN DAN INDIKATOR KINERJA UTAMA PERANGKAT DAERAH PROVINSI BANTEN TAHUN 2017-2022 NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan 1 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Indikator Kinerja Utama (esselon II)
1.Capaian LAKIP (Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) Tercapainya Penyelenggaraan Pemerintahan yang Akuntabel, Efektif, dan efisien ASPEK PENILAIAN KOMPONEN BOBOT SUB KOMPONEN 1 Perencanaan Kinerja 35 Renstra, Rencana Kerja Tahunan, Penetapan Kinerja, Rencana Kerja 2 Pengukuran Kinerja 20 Pemenuhan Pengukuran, Kualitas Pengukuran, Implementasi Pengukuran 3 Pelaporan Kinerja 15 Pemenuhan Pelaporan, Penyajian Informasi Kinerja, Pemanfaatan Informasi Kinerja Dalam Bentuk Laporan Kinerja 4 Evaluasi Kinerja 10 Pemenuhan Evaluasi, Kualitas Evaluasi, Pemanfaatan Hasil Evauasi 5 Pencapaian Kinerja 20 Kinerja Yang Dilaporkan, Output dan Outcome dan Kinerja Lainnya TOTAL 100 NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
2.Rata-rata lama sekolah Kombinasi antara partisipasi sekolah, jenjang pendidikan yang sedang dijalani, kelas yang diduduki dan pendidikan yang ditamatkan. Kombinasi antara partisipasi sekolah, jenjang pendidikan yang sedang dijalani, kelas yang diduduki dan pendidikan yang ditamatkan.
3.Harapan lama sekolah Lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. Dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang dan dihitung pada usia 7 tahun ke atas karena mengikuti kebijakan pemerintah yaitu program wajib belajar. Adapun rumus untuk penghitungan HLS adalah sebagai berikut: Dimana: HLS = Harapan Lama Sekolah Ei = Jumlah penduduk usia i yang bersekolah Pi = Jumlah seluruh penduduk usia i i = Usia (7, 8,…,n)
4.Persentase pelestarian dan inovasi nilai budaya daerah Alasan pemilihan indikator: mengukur keberlanjutan pelestarian dan inovasi nilai budaya daerah di Provinsi Banten ݊݅ ݅ݏܽݒܾ ܽݕܽ݀ݑ ݃݊ܽݕ݈݁݅݀ ݊ܽ݇݅ݎܽݐݏ ܾ ܽݕܽ݀ݑ݁ܽ݀ ܽݎ ℎ ݃݊ܽݕܽ݀ܽ Indikator Kinerja Program (esselon III) 7 7 n i i i E HLS P 7 7 n i i i E HLS P NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
1.Nilai IKM (Indeks Kepuasan Masyarakat) Untuk memudahkan interpretasi terhadap penilaian IKM yaitu antara 25-100 maka hasil penilaian tersebut diatas dikonversikan dengan nilai dasar 25 IKM = ் ௧ ௗ ௦௦ ௨௦௨ ௧௧ ௨௦௨ ௬ ௧௦ ݔ݈݅ܽ݅݊ ܾ݃݊ܽ݉݅݊݁ IKM Unit Pelayanan x 25 Nilai Persepsi Nilai Interval IKM Nilai Interval Konversi IKM Mutu Pelayanan Kinerja Unit Pelayanan 1 1,00 – 1,75 25 – 43,75 D Tidak Baik 2 1,76 – 2,50 43,76 – 62,50 C Kurang Baik 3 2,51 – 3,25 62,51 – 81,25 B Baik 4 3,26 – 4,00 81,26 - 100 A Sangat Baik
2.Angka Partisipasi Kasar (APK) Sekolah menengah Perbandingan antara jumlah penduduk yang masih bersekolah di jenjang sekolah menengah (tanpa memandang usia penduduk tersebut) dengan jumlah penduduk usia 16-18 tahun. APK th = ா ௧ ௧ . ݔ100 Dimana, h = jenjang pendidikan a = kelompok usia t = tahun E t h = adalah jumlah penduduk yang pada tahun t dari berbagai usia sedang sekolah pada jenjang pendidikan h Ph,a t = adalah jumlah penduduk yang pada tahun t berada pada kelompok usia yaitu kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan h
3.Angka Partisipasi Murni (APM) Sekolah menengah Proporsi penduduk pada kelompok umur 16-18 tahun yang masih bersekolah di Sekolah Menengah terhadap penduduk pada kelompok umur 16-18 tahun. APM th = ா ௧ . ௧ . ݔ100 dimana: h = jenjang pendidikan a = kelompok usia t = tahun Eh, a t = jumlah siswa/penduduk kelompok usia a yang bersekolah di tingkat pendidikan h pada tahun t Ph,a t = jumlah penduduk kelompok usia a NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
4.Angka Putus Sekolah SMA Proporsi penduduk usia sekolah menengah yang tidak bersekolah terhadap penduduk usia sekolah menengah yang bersekolah Alasan Pemilihan Indikator: untuk mengukur kemajuan pembangunan di bidang pendidikan dan untuk melihat keterjangkauan pendidikan maupun pemerataan pendidikan pada jenjang SMA APS SMA= ௌ ௌெ ௦ ௗ ௧ ௦௨௨ ௌ ௌெ ௦ ௗ ௧ ݔ100
5.Angka Putus Sekolah SMK Proporsi penduduk usia sekolah menengah yang tidak bersekolah terhadap penduduk usia sekolah menengah yang bersekolah Alasan Pemilihan Indikator: untuk mengukur kemajuan pembangunan di bidang pendidikan dan untuk melihat keterjangkauan pendidikan maupun pemerataan pendidikan pada jenjang SMK APS SMK= ௌ ௌெ ௦ ௗ ௧ ௦௨௨ ௌ ௌெ ௦ ௗ ௧ ݔ100
6.Angka kelulusan SMA Proporsi kelulusan siswa SMA pada Ujian Nasional Alasan pemilihan indikator: untuk mengukur pencapaian peserta didik pada jenjang satuan pendidikan sebagai hasil dari proses pembelajaran sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), untuk memetakan tingkat pencapaian hasil belajar siswa pada satuan pendidikan tersebut. AKL SMA= ௨௨௦ ௗ ௌெ ௦௦௪ ௧௧ ௧௧ ௌெ ௗ ௧ ௦௨௬ ݔ100
7.Angka kelulusan SMK Proporsi kelulusan siswa SMK pada Ujian Nasional Alasan pemilihan indikator: untuk mengukur pencapaian peserta didik pada jenjang satuan pendidikan sebagai hasil dari proses pembelajaran sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), untuk memetakan tingkat pencapaian hasil belajar siswa pada satuan pendidikan tersebut. AKL SMK= ௨௨௦ ௗ ௌெ ௦௦௪ ௧௧ ௧௧ ௌெ ௗ ௧ ௦௨௬ ݔ100
8.Nilai Rata-rata Ujian SMA IPA Nilai rata-rata Ujian dibandingkan mata pelajaran yang diberikan pada Sekolah Menengah Atas (SMA) jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Rata-rata = ே ெ௧ ݔ100 NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
9.Nilai Rata-rata Ujian SMK Nilai rata-rata Ujian dibandingkan mata pelajaran yang diberikan pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Rata-rata = ே ெ௧ ݔ100
10.Nilai Rata-rata Ujian SMA IPS Nilai rata-rata Ujian dibandingkan mata pelajaran yang diberikan pada Sekolah Menengah Atas (SMA) jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Rata-rata = ே ெ௧ ݔ100
11.Persentase SMK yang menerapkan link and match Perbandingan SMK yang menerapkan pengembangan untuk meningkatkan relevansi Sekolah Menengah Kejuruan dengan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha serta dunia industri khususnya = ௌெ ௬ ௗ ௦௧ ் ௧ ௌெ ݔ100
12.Cakupan Layanan Sekolah Khusus dan Layanan Khusus
1.Perbandingan antara jumlah anak berkebutuhan khusus yang masih bersekolah (tanpa memandang usia penduduk tersebut) dengan jumlah penduduk usia 7-18 tahun. APK th = Dimana, h = jenjang pendidikan a = kelompok usia t = tahun E t h = adalah jumlah anak berkebutuhan khusus yang pada tahun t dari berbagai usia sedang sekolah pada jenjang pendidikan h Ph,a t = adalah jumlah anak berkebutuhan khusus yang pada tahun t berada pada kelompok usia yaitu kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan h NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
2.Jumlah Anak Berkebutuhan Khusus Yang Sudah Terlayani Pendidikannya
3.Cakupan Pembinaan Terhadap Sekolah Khusus dan Layanan Khusus = ∑ siswa sekolah khusus (Pendidikan Khusus)+ ∑ siswa Sekolah Inklusif (Pendidikan Layanan Khusus) ∑ Populasi Anak Usia Sekolah yang berkebutuhan khusus Alasan pemilihan indikator: untuk mengukur Ketercapaian Pelayanan Pendidikan di Sekolah Khusus dan Layanan Khusus di Provinsi Banten. ݇݁ܵ ݈ܽ ℎ ݏݑݏݑℎܭ݊ܽ݀ ݊ܽ݊ܽݕܽܮ ݏݑݏݑℎܭ ݃݊ܽݕܾܽ݊݅݅݀ ݇݁ܵ ݈ܽ ℎ ݏݑݏݑℎܭ݊ܽ݀ ݊ܽ݊ܽݕܽܮ ݏݑݏݑℎܭ ݃݊ܽݕ݅݀ ݊ܽ݇ܽݐ݁ (݃݊݅ݐݏ݅ݔܧ )
13.Nilai Uji Kompetensi Guru (UKG) SMK Mengukur profesionalisme guru SMK secara akademis
1.Tujuannya untuk mengetahui level kompetensi individu guru dan peta penguasaan guru pada kompetensi pedagogik dan kompetensi professional;
2.UKG difokuskan pada identifikasi kelemahan guru dalam penguasaan kompetensi pedagogik dan professional;
3.Rata-rata nilai kompetensi pengetahuan dan keterampilan guru.
14.Nilai Uji Kompetensi Guru (UKG) SMA Mengukur profesionalisme guru SMA secara akademis
1.Tujuannya untuk mengetahui level kompetensi individu guru dan peta penguasaan guru pada kompetensi pedagogik dan kompetensi professional;
2.UKG difokuskan pada identifikasi kelemahan guru dalam penguasaan kompetensi pedagogik dan professional;
3.Rata-rata nilai kompetensi pengetahuan dan keterampilan guru.
15.Persentase guru SMA yang bersertifikat Proporsi guru SMA yang telah lulus ujian sertifikasi dibandingkan jumlah total guru = ீ ௨௨ ௌெ ௬ ௨௨௦ ௌ௧௦ ் ௧ ௨௨ ݔ100 NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
16.Persentase guru SMK yang bersertifikat Proporsi guru SMK yang telah lulus ujian sertifikasi dibandingkan jumlah total guru = ீ ௨௨ ௌெ ௬ ௨௨௦ ௌ௧௦ ் ௧ ௨௨ ݔ100
17.Presentasi Akses dan Mutu Media Pembelajaran Proporsi akses dan mutu media pembelajaran = ௌ ௬ ௦௦ ௗ ௧ ௨௧௨ ௗ ் ௧ ௦ ݔ100
18.Persentase event yang mengangkat nilai budaya masyarakat Banten Jumlah event budaya yang dipentaskan Alasan pemilihan indikator: mengukur keberlanjutan pelestarian event budaya di Provinsi Banten ݁ ݐ݊݁ݒܾ ܽݕܽ݀ݑ ݃݊ܽݕ݅݀ ݊ܽ݇ݏܽݐ݊݁ ݁ ݐ݊݁ݒܾ ܽݕܽ݀ݑ ݈݅ݏܽℎ ݊ܽ݅ݎܽݐݏ݈݁݁
19.Cakupan organisasi kesenian (pembinaan sanggar/ kelompok seni dan budaya) Cakupan pembinaan terhadap organisasi kesenian seperti : Sanggar Seni di Satuan Pendidikan (SMA/SMK/SKh), Dewan Kesenian Banten (DKB), Komunitas Seni yang dibina oleh Perguruan Tinggi (PT)/SKPD/Lembaga Pemerintah, dan Sanggar Seni yang dikelola oleh Masyarakat. Alasan pemilihan indikator: untuk memetakan tingkat cakupan pembinaan organisasi kesenian di Provinsi Banten. Indeks Cakupan (IC) = ௦௦ ௦ ௬ ௗ ௦௦ ௦ ௬ ௗ௧ NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
20.Cakupan Apresiasi Seni dan Kreatifitas Karya Budaya Tingkat cakupan fasilitasi dan apresiasi seni di Sanggar Seni di Satuan Pendidikan (SMA/SMK/SKh), Dewan Kesenian Banten (DKB), Komunitas Seni di PT/SKPD/Lembaga Pemerintah, dan Sanggar Seni yang dikelola oleh Masyarakat. Alasan pemilihan indikator: untuk memetakan tingkat cakupan apresiasi dan kreatifitas karya budaya di Provinsi Banten. Indeks Cakupan Apresiasi (ICA) = ௬ ௨ௗ௬ ௬ ௗ௦௦ ௬ ௨ௗ௬ ௬ ௗ௧
21.Cakupan Pelestarian Nilai-Nilai Sejarah dan Warisan Budaya Tingkat cakupan pelestarian nilai-nilai sejarah dan warisan budaya di Satuan Pendidikan (SMA/SMK/SKh), Komunitas Sejarah dan Budaya di lingkungan PT, dan Komunitas Sejarah dan Budaya di Masyarakat. Alasan pemilihan indikator: untuk memetakan tingkat cakupan pelestarian nilai-nilai sejarah dan warisan budaya di Provinsi Banten. Indeks Pelestarian Warisan Budaya (IPW) = ௐ௦ ௨ௗ௬ ௬ ௗ௦௧ ௐ௦ ௨ௗ௬ ௬ ௗ௧
22.Cakupan Pelayanan Museum
1.Tingkat pemenuhan sarana/ prasarana dan koleksi museum.
2.Prosentase pengunjung museum . Alasan pemilihan indikator: untuk memetakan tingkat pemenuhan sarana/prasaran dan koleksi museum di Provinsi Banten. Indeks Prasarana Museum (IPM) = ௌ ௗ ௦ ௬ ௧௨ ௌ ௗ ௦ ௬ ௗ௨ Indeks Pengunjung Museum (IP) = ௨௨ ெ௨௦௨ ௐ ௧௦ ௨௨ ெ௨௦௨ NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
23.Cakupan kawasan cagar budaya yang dilestarikan Tingkat cakupan kawasan cagar budaya yang dilestarikan terhadap jumlah kawasan cagar budaya yang tercatat. Alasan pemilihan indikator: untuk memetakan tingkat cakupan pelestarian kawasan cagar budaya (CB) di Provinsi Banten. Indeks Pelestarian Kawasan CB (IPKCB) = ௨ௗ௬ ௬ ௗ௦௧ ௨ௗ௬ ௬ ௧௧௧
24.Cakupan Pelestarian Benda Cagar Budaya Tingkat cakupan benda cagar budaya yang dilestarikan terhadap jumlah benda cagar budaya yang tercatat. Alasan pemilihan indikator: untuk memetakan tingkat cakupan pelestarian benda cagar budaya (CB) di Provinsi Banten. Indeks Pelestarian Benda CB (IPBCB) = ௗ ௨ௗ௬ ௬ ௗ௦௧ ௗ ௨ௗ௬ ௬ ௧௧௧ NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
2.Dinas Kesehatan Indikator Kinerja Utama (esselon II)
1.Capaian LAKIP (Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) Tercapainya Penyelenggaraan Pemerintahan yang Akuntabel, Efektif, dan efisien ASPEK PENILAIAN KOMPONEN BOBOT SUB KOMPONEN 1 Perencanaan Kinerja 35 Renstra, Rencana Kerja Tahunan, Penetapan Kinerja, Rencana Kerja 2 Pengukuran Kinerja 20 Pemenuhan Pengukuran, Kualitas Pengukuran, Implementasi Pengukuran 3 Pelaporan Kinerja 15 Pemenuhan Pelaporan, Penyajian Informasi Kinerja, Pemanfaatan Informasi Kinerja Dalam Bentuk Laporan Kinerja 4 Evaluasi Kinerja 10 Pemenuhan Evaluasi, Kualitas Evaluasi, Pemanfaatan Hasil Evauasi 5 Pencapaian Kinerja 20 Kinerja Yang Dilaporkan, Output Dan Outcome Dan Kinerja Lainnya TOTAL 100
2.Angka Harapan Hidup Angka perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur Angka perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur
3.Angka Kematian Bayi (Per 1000 kelahiran hidup) Dimana: D0−≤1th = Jumlah Kematian Bayi (berumur kurang 1 tahun) pada satu tahun tertentu. ∑Lahir Hidup = Jumlah Kelahiran Hidup pada satu tahun tertentu AKB =D0−≤1th ∑Lahir Hidup x 1000 NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
4.Angka Kematian Ibu (Per 100.000 kelahiran hidup) Ibu yang meninggal pada masa kehamilan, bersalin dan nifas bukan karena kecelakaan atau sakit di wilayah tertentu selama satu tahun Alasan pemilihan indikator: Untuk mengetahui kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi sesuai standar = ௨ ௬ ,௦ ,௦ ௗ ௦௨௧௨ ௪௬ ௧௧௧ ௦ ଵ ௧ ௗ௨ ௗ ௪௬ ௧௦௨௧ ௗ ௗ ௨௨ ௪௧௨ ௬ ௦ ݔ100
5.Persentase penduduk yang memiliki Jaminan Kesehatan Proporsi penduduk Banten yang mendapatkan Jaminan Pelayanan Kesehatan dalam rangka UHC (Universal Health Coverage). Alasan pemilihan indikator Untuk memetakan penduduk Banten yang mendapat Jaminan pelayanan kesehatan = ௗ௨ௗ௨ ௬ ௗ௧ ௬ ௦௧ ௧௧ ௗ௨ௗ௨ ௧ ݔ100 Indikator Kinerja Program (esselon III)
1.Nilai IKM Untuk memudahkan interpretasi terhadap penilaian IKM yaitu antara 25-100 maka hasil penilaian tersebut diatas dikonversikan dengan nilai dasar 25 IKM = ் ௧ ௗ ௦௦ ௨௦௨ ௧௧ ௨௦௨ ௬ ௧௦ ݔ݈݅ܽ݅݊ ܾ݃݊ܽ݉݅݊݁ IKM Unit Pelayanan x 25 Nilai Persepsi Nilai Interval IKM Nilai Interval Konversi IKM Mutu Pelayanan Kinerja Unit Pelayanan 1 1,00 – 1,75 25 – 43,75 D Tidak Baik 2 1,76 – 2,50 43,76 – 62,50 C Kurang Baik 3 2,51 – 3,25 62,51 – B Baik NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan 81,25 4 3,26 – 4,00 81,26 – 100 A Sangat Baik
2.Persentase Persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan Perbandingan Jumlah Persalinan yang ditolong di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan total persalinan Alasan pemilihan indikator: Untuk mengetahui kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi sesuai standar = ௦ ௬ ௗ௧ ௗ ௦௧௦ ௬ ௦௧ ௧௧ ௦ ݔ100
3.Persentase balita gizi buruk yang dirawat dan ditangani Jumlah balita gizi buruk yang dirawat dan ditangani dibandingkan seluruh kasus gizi buruk Alasan pemilihan indikator: Untuk mengevaluasi kualitas pelayanan terhadap gizi buruk = ௧ ௭ ௨௨ ௬ ௗ௪௧ ௗ ௗ௧ ௦௨௨ ௦௨௦ ௭ ௨௨ ݔ100
4.Persentase Kabupaten/Kota yang telah mendapatkan dukungan program kesehatan masyarakat Capaian Kabupaten/Kota yang telah mendapatkan dukungan program kesehatan masyarakat Alasan pemilihan indikator: Untuk mengukur keberhasilan program kesehatan masyarakat (Preventif dan Promotif) ܾܽ݇ ݇ ܽݐ ݃݊ܽݕܽܿ݊݁݉ ݅ܽ ݐ݁݃ݎܽݐܽ݇݅݀݊݅ ݎݐ݁݇ ݁ݏ ݊ܽݐܽℎܽ݉ ݐܽ݇ܽݎܽݕݏ ݈ܽݐݐ ܾܽܭ ܽݐܭ ݔ100 NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
5.Presentase Penduduk yang mendapatkan Jaminan Pelayanan Kesehatan Proporsi penduduk Banten yang mendapatkan Jaminan Pelayanan Kesehatan dalam rangka UHC (Universal Health Coverage). Alasan pemilihan indikator Untuk memetakan penduduk Banten yang mendapat Jaminan pelayanan kesehatan = ௗ௨ௗ௨ ௬ ௗ௧ ௬ ௦௧ ௧௧ ௗ௨ௗ௨ ௧ ݔ100
6.Persentase pelayanan kesehatan yang terakreditasi (FKTP, FKTL, Laboratorium) Capaian pelayanan kesehatan yang terakreditasi Alasan pemilihan indikator: untuk menjaga mutu pelayanan kesehatan = ௦ ௬ ௦௧ ௬ ௧ௗ௧௦ ௧௧ ௨ ௦ ௬ ௦௧ ݔ100
7.Persentase Terbangunnya Rumah Sakit Jiwa dan Pusat Rehabilitasi Ketergantungan Obat Capaian pembangunan Rumah Sakit Jiwa dan Pusat Rehabilitasi Ketergantungan Obat Alasan pemilihan indikator: Untuk mengetahui tahapan pembangunan Rumah Sakit Jiwa dan Pusat Rehabilitasi Ketergantungan Obat. = ௧ ௨ ௬ ௗ௦ ௧௧ ௗ ௦௧௨ ௧௨ ݔ100
8.Persentase Pembangunan Rumah Sakit Banten Selatan (Satuan:%) Capaian pembangunan Rumah Sakit Banten Selatan Alasan pemilihan indikator: Untuk mengetahui tahapan pembangunan Rumah Sakit Banten Selatan. = ௧ ௨ ௬ ௗ௦ ௧௧ ௗ ௦௧௨ ௧௨ ݔ100 NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
9.Persentase Kabupaten/Kota yang telah mendapatkan dukungan program pencegahan, pengendalian penyakit dan krisis kesehatan Capaian Kabupaten/Kota yang telah mendapatkan dukungan program pencegahan, pengendalian penyakit dan krisis kesehatan Alasan pemilihan indikator: Untuk mengukur keberhasilan program pencegahan, pengendalian penyakit dan krisis kesehatan. ܾܽ݇ ݇ ܽݐ ݃݊ܽݕܽܿ݊݁݉ ݅ܽ ݐ݁݃ݎܽݐܽ݇݅݀݊݅ ݎݐܲ 2ܲ ݈ܽݐݐ ܾܽܭ ܽݐܭ ݔ100
10.Jumlah Dokter/Dokter Gigi, Tenaga Kesehatan Masyarakat yang di Rekrut dan di tingkatkan Kompetensinya Jumlah Dokter/Dokter Gigi, Tenaga Kesehatan Masyarakat yang direkrut, ditingkatkan kompetensinya dan ditempatkan di daerah terpencil Alasan pemilihan indikator: Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan dalam rangka menjaga mutu pelayanan kesehatan di Provinsi Banten. Jumlah Dokter/Dokter Gigi, Tenaga Kesehatan Masyarakat yang direkrut
11.Presentase Pemenuhan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Untuk menghitung Rasio Pemenuhan obat publik dan perbekalan kesehatan Alasan pemilihan indikator: sebagai penunjang pelayanan kesehatan. Rasio Pemenuhan obat publik dan perbekalan kesehatan = ௨ ௧ ௨ ௗ ௦௧ ௧௧ ௗ ௦௧௨ ௧௨ ݔ100
12.Persentase Pembinaan Sarana Kefarmasian Capaian Jumlah sarana kefarmasian yang dibina dibandingkan jumlah sarana kefarmasian yang ada Alasan pemilihan indikator: sebagai penunjang pelayanan kefarmasian. = ௦ ௦ ௬ ௗ ௦ ௦ ݔ100 NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
13.Persentase Jenis Pemeriksaan Laboratorium kesehatan yang di layani Capaian Jenis Pemeriksaan pelayanan Laboratorium yang dilaksanakan dibandingkan dengan seluruh jenis pemeriksaan Alasan pemilihan indikator: untuk meningkatkan fungsi pelayanan di Laboratorium kesehatan. = ௦ ௦ ௧௨ ௬ ௗ௦ ௧௧ ௨ ௦ ௦ ݔ100
14.Persentase Perusahaaan yang mendapatkan Pelayanan Kesehatan Kerja di wilayah kerja BKKM Capaian Jumlah Perusahaan yang mendapatkan pelayanan kesehatan kerja di wilayah kerja BKKM dibandingkan seluruh Perusahaan di wilayah kerja BKKM Alasan pemilihan indikator: untuk mengetahui kualitas pelayanan kesehatan kerja BKKM = ௨௦ ௬ ௗ௧ ௬ ௦௧ ௧௧ ௨ ௨௦ ௪௬ ெ ݔ100
15.Capaian SPM Pelayanan Medis RSUD Banten (satuan :%) Capaian Standar Pelayanan Minimal Pelayanan Medis RSUD Banten yang terpenuhi Alasan pemilihan indikator: untuk mengukur capaian penunjang pelayanan medis di RSUD Banten. = ௌெ ௬ ௌ௦ ோௌ ௧ ௬ ௧௨ ௌ௧ௗௌெ ௬ ௌ௦ ݔ100
16.Capaian SPM Pelayanan Keperawatan RSUD Banten (satuan :%) Capaian Standar Pelayanan Minimal Pelayanan Keperawatan RSUD Banten yang terpenuhi Alasan pemilihan indikator: untuk mengukur capaian penunjang pelayanan keperawatan di RSUD Banten. = ௌெ ௬ ௪௧ ோௌ ௧ ௬ ௧௨ ௌ௧ௗௌெ ௬ ௪௧ ݔ100
17.Capaian pemenuhan standar sarana dan prasarana RSUD Banten (Satuan:%) Capaian Pemenuhan sarana dan prasarana Rumah Sakit sesuai standar Alasan pemilihan indikator: untuk mengetahui capaian pemenuhan standar sarana dan prasarana RSUD Banten = ௦ ௦ ௬ ௧௨ ௨ ௦௧ௗ ௦ ௦ ோ௨ ௌ௧ ݔ100
18.Bed Occupancy Ratio (BOR) RSUD Malingping Capaian Bed Occupancy Ratio (BOR) RSUD Malingping Alasan pemilihan indikator: untuk mengetahui daya tampung pasien di ruang perawatan RSUD Malingping. Formulasi Pengukuran : Bed Occupancy Ratio (BOR) Rata-rata jumlah pasien keluar * jumlah kapasitas tempat tidur * 100%. Angka yang menunjukkan presentase tempat tidur yg digunakan dalam satu tahun, BOR ideal = 75–85 %
19.Indeks kepuasan Pernyataan Puas oleh Pernyataan Puas oleh pelanggan kepada rumah sakit sesuai standar pelayanan NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan pelanggan RSUD Malingping pelanggan kepada rumah sakit sesuai standar pelayanan minimal, dilaksanakan melalui survey minimal, dilaksanakan melalui survey
20.Cakupan kualitas pelayanan sesuai SPM RSUD Malingping (Satuan:%) Capaian Standar Pelayanan Minimal Pelayanan RSUD Malingping yang terpenuhi Alasan pemilihan indikator: untuk mengukur capaian Standar pelayanan Minimal di RSUD Malingping. = ௌெ ௬ ௬ ௧௨ ௌ௧ௗௌெ ݔ100 NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
3.Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Indikator Kinerja Utama (esselon II)
1.Capaian LAKIP (Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) Tercapainya Penyelenggaraan Pemerintahan yang Akuntabel, Efektif, dan efisien ASPEK PENILAIAN KOMPONEN BOBOT SUB KOMPONEN 1 Perencanaan Kinerja 35 Renstra, Rencana Kerja Tahunan, Penetapan Kinerja, Rencana Kerja 2 Pengukuran Kinerja 20 Pemenuhan Pengukuran, Kualitas Pengukuran, Implementasi Pengukuran 3 Pelaporan Kinerja 15 Pemenuhan Pelaporan, Penyajian Informasi Kinerja, Pemanfaatan Informasi Kinerja Dalam Bentuk Laporan Kinerja 4 Evaluasi Kinerja 10 Pemenuhan Evaluasi, Kualitas Evaluasi, Pemanfaatan Hasil Evauasi 5 Pencapaian Kinerja 20 Kinerja yang dilaporkan, output, outcome dan kinerja lainnya TOTAL 100
2.Tingkat Kemantapan Jalan Persentase dari jumlah panjang jalan kewenangan Provinsi dalam keadaan kondisi pelayanan mantap (Kondisi baik atau sedang, sesuai umur rencana yang diperhitungkan serta mengikuti suatu standar tertentu). Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 13/PRT/M/2011 tentang Tata Cara Pemilihan dan Penilikan Jalan Alasan Pemilihan Indikator: untuk mengevaluasi seberapa besar proporsi kondisi permukaan jalan dalam kondisi mantap, sehingga dapat digunakan sebagai bahan pengambilan kebijakan dibidang kebinamargaan, mengingat jalan dalam kondisi baik di Provinsi Banten masih perlu terus ditingkatkan untuk menunjang kelancaran arus transportasi dan distribusi barang. Formulasi Pengukuran: ݆݈݆݃݊ܽ݊ܽܲ݊ܽܽ ݈݉ܽܽ݀ ݇ ݅ݏ݅݀݊݊ܽ݉ ܶܽݐ ݈ܽݐ ݆݈݆݃݊ܽ݊ܽ݊ܽܽ ݅ݏ݊݅ݒݎ ݔ100% - kondisi mantap = kondisi baik + kondisi sedang - kondisi tidak mantap = kondisi rusak berat + kondisi rusak ringan NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
3.Persentase pemulihan dan pencegahan banjir Cakupan luas penanganan banjir di Provinsi Banten termasuk kesiap siagaan satgas siaga banjir Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat 13/PRT/M/2015 tentang Penaggulangan Darurat Bencana Akibat Daya Air Rusak Alasan Pemilihan Indikator: Di Provinsi Banten masih banyak terdapat wilayah yang mengalami banjir, perlu ada upaya penanganan banjir baik pemulihan maupun pencegahan. Formulasi Pengukuran: ݏܽݑܮܽ ܽ݁ݎ ݃݊ܽݕ ݈ܽ݁ݐ ℎ݅݀ ݅݊ܽ݃݊ܽݐ ݏܽݑܮܽ ܽ݁ݎ ݊ܽݓܽݎܾܽ݊ܽܿ݊݁ ݔ100%
4.Pemenuhan tingkat layanan irigasi Cakupan luas layanan pada jaringan irigasi kewenangan Provinsi. Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat 12/PRT/M/2015 tentang Eksploitasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi Alasan Pemilihan Indikator: Masih banyak areal persawahan yang belum terlayani oleh jaringan irigasi teknis. Perlu dilakukan berbagai upaya eksploitasi dan pemeliharaan jaringan irigasi. Formulasi Pengukuran: ݏܽݑܮܽ ܽ݁ݎ݅ ݅ݏܽ݃݅ݎ ݃݊ܽݕ ܶ݅݊ܽݕ݈ܽݎ݁ݐ ݈ܽݐ݈ ݏܽݑܽ ܽ݁ݎ݅ ݅ݏܽ݃݅ݎ ݔ100%
5.Persentase Kesesuaian Penggunaan Ruang sesuai dengan Tata Ruang Prosentase kesesuaian ruang terhadap pelaksanaan pembangunan Alasan Pemilihan Indikator: dalam mendukung dan mewujudkan pengendalian pemanfaatan ruang agar sesuai dengan rencana tata ruang, pengendalian ini efektif apabila 4 aspek pengendalian terpenuhi indikator yaitu Penetapan zonasi, pemberian insetif dan disinsentif, perijinan dan penegakan sanksi Formulasi Pengukuran: ݊ܽ݅ܽݑݏ݁ݏ݁ܭ ݊ܽݐ݂ܽܽ݊ܽ݉݁ ݃݊ܽݑݎ ܽ݀ܽℎ ݎ݁ݐ ܽ݊ܽܿ݊݁ݎ ݊ܽ݇ݑݐ݊ݑݎ݁ ݃݊ܽݑݎ ݏܽݑܮ݈ܽ ݊ܽℎ ݊ܽ݇ݑݐ݊ݑݎ݁ ݔ100% Indikator Kinerja Program (esselon III) NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
1.Nilai IKM Untuk memudahkan interpretasi terhadap penilaian IKM yaitu antara 25-100 maka hasil penilaian tersebut diatas dikonversikan dengan nilai dasar 25 IKM = ் ௧ ௗ ௦௦ ௨௦௨ ௧௧ ௨௦௨ ௬ ௧௦ ݔ݈݅ܽ݅݊ ܾ݃݊ܽ݉݅݊݁ IKM Unit Pelayanan x 25 Nilai Persepsi Nilai Interval IKM Nilai Interval Konversi IKM Mutu Pelayanan Kinerja Unit Pelayanan 1 1,00 – 1,75 25 – 43,75 D Tidak Baik 2 1,76 – 2,50 43,76 – 62,50 C Kurang Baik 3 2,51 – 3,25 62,51 – 81,25 B Baik 4 3,26 – 4,00 81,26 – 100 A Sangat Baik
2.Persentase Jalan Provinsi Dalam Kondisi Mantap (Satuan: %) Persentase dari jumlah panjang jalan kewenangan Provinsi dalam keadaan kondisi pelayanan mantap (Kondisi baik atau sedang, sesuai umur rencana yang diperhitungkan serta mengikuti suatu standar tertentu). Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 13/PRT/M/2011 tentang Tata Cara Pemeliharaan dan Penilikan Jalan Alasan Pemilihan Indikator : untuk mengevaluasi seberapa besar proporsi kondisi permukaan jalan dalam kondisi mantap, sehingga dapat digunakan sebagai bahan pengambilan kebijakan dibidang kebinamargaan, mengingat jalan dalam kondisi baik di Provinsi Banten masih perlu terus ditingkatkan untuk menunjang kelancaran arus transportasi dan distribusi barang. FormulasiPengukuran : ݆݈݆݃݊ܽ݊ܽܲ݊ܽܽ ݈݉ܽܽ݀ ݇ ݅ݏ݅݀݊݊ܽ݉ ܶܽݐ ݈ܽݐ ݆݈݆݃݊ܽ݊ܽ݊ܽܽ ݅ݏ݊݅ݒݎ ݔ100% - kondisi mantap = kondisi baik + kondisi sedang - kondisi tidak mantap = kondisi rusak berat + kondisi rusak ringan
3.Persentase Jalan Provinsi yang Belum Memenuhi Standar Teknis Persentase dari jumlah panjang jalan kewenangan Provinsi yang sudah memenuhi standar atau Alasan Pemilihan Indikator :untuk mengevaluasi seberapa besar proporsi kondisi ruas jalan dapat berfungsi optimal dan memenuhi SPM jalan dalam melayani lalu lintas dan angkutan jalan. Formulasi Pengukuran: NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan (Satuan: %) persyaratan teknis. Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 19/PRT/M/2011 tentang Persyaratan Teknis Jalan dan Kriteria Perencanaan Teknis Jalan ݆݃݊ܽ݊ܽܲ ݈݆݊ܽܽ ݃݊ܽݕ݈ܾ݁ ݉ݑ݊݁݉݁݉ ݑ ݅ℎ ܶݎܽ݀݊ܽݐݏ ݈ܽݐ ݆݈݆݃݊ܽ݊ܽ݊ܽܽ ݅ݏ݊݅ݒݎ ݔ100%
4.Persentase Jembatan Provinsi Dalam Kondisi Mantap (Satuan: %) Persentase dari jumlah jembatan kewenangan Provinsi dalam keadaan kondisi pelayanan mantap Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 13/PRT/M/2011 tentang Tata Cara Pemeliharaan dan Penilikan Jalan Alasan Pemilihan Indikator : untuk mengevaluasi seberapa besar proporsi kondisi jembatan dalam kondisi mantap, sehingga dapat digunakan sebagai bahan pengambilan kebijakan dibidang kebinamargaan, mengingat jalan dalam kondisi baik di Provinsi Banten masih perlu terus ditingkatkan untuk menunjang kelancaran arus transportasi dan distribusi barang. Formulasi Pengukuran : ݈ܽ݉ݑܬ ℎܾ݆ܽ݉݁ ݊ܽݐ݈݉ܽܽ݀ ݇ ݅ݏ݅݀݊݊ܽ݉ ܶܽݐ ݈ܽ݉ݑ݆݈ܽݐ ℎܾ݆ܽ݉݁ ݊ܽݐ ݅ݏ݊݅ݒݎ ݔ100% - kondisi mantap = kondisi baik + kondisi sedang - kondisi tidak mantap = kondisi rusak berat + kondisi rusak ringan
5.Persentase Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) pada 8 Kawasan Strategis Provinsi (Satuan: %) Persentase dari tersusunnya Peraturan Daerah tentang RDTR pada 8 Kawasan Strategis Provinsi Banten Alasan Pemilihan Indikator: Dalam mewujudkan pembangunan sektoral pada kawasan strategis Provinsi yang terintegrasi di Provinsi Banten diperlukan rencana tata ruang yang baik. Untuk 5 Tahun direncanakan disusun 8 Peraturan Daerah pada 8 kawasan strategis Provinsi. Formulasi Pengukuran: ݈ܽ݉ݑܬ ℎ݁ܲ ܽ݀ݎܴܴܶ ܲܵܭ 8 ݔ100%
6.Persentase badan usaha jasa konstruksi yang memenuhi standar (Satuan: %) Jumlah Badan Usaha Jasa Konstruksi (BUJK) di Provinsi Banten yang memenuhi standar yang berlaku (K3, standar kompetensi kerja, standar remunerasi minimal, Alasan Pemilihan Indikator: Dalam mewujudkan pelaksanaan jasa konstruksi yang baik, diperlukan badan usaha jasa konstruksi yang memenuhi standar dan mampu bersaing dengan BUJK dari wilayah lain. Formulasi Pengukuran: ݈ܽ݉ݑܬ ℎ ܭܬܷܤ ݃݊ܽݕ݊݁݉݁݉ ݑ ݅ℎ ݎܽ݀݊ܽݐݏ ݈ܽ݉ݑܬ ℎ ܭܬܷܤ݅݀ ܲ ݅ݏ݊݅ݒݎ ݊݁ݐ݊ܽܤ ݔ100% NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan mutu material dan peralatan, dll) Sumber: Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Kontruksi
7.Cakupan pemulihan dan pencegahan banjir (Satuan: %) Cakupan luas penanganan banjir di Provinsi Banten termasuk kesiapsiagaan satgas siaga banjir Sumber: Permen Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 13/PRT/M/2015 tentang Penanggulangan Darurat Bencana Alasan Pemilihan Indikator: Di Provinsi Banten masih banyak terdapat wilayah yang mengalami banjir, perlu ada upaya penanganan banjir baik pemulihan maupun pencegahan. FormulasiPengukuran: ݏܽݑܮܽ ܽ݁ݎ ݃݊ܽݕ ݈ܽ݁ݐ ℎ݅݀ ݅݊ܽ݃݊ܽݐ ݏܽݑܮܽ ܽ݁ݎ ݊ܽݓܽݎܾܽ݊ܽܿ݊݁ ݔ100%
8.Luas Layanan Jaringan Irigasi Teknis Provinsi (Satuan: Hektar) Cakupan luas layanan pada jaringan irigasi kewenangan Provinsi. Sumber: Peraturan Meneri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 12/PRT/M/2015 tentang Eksploitasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi Alasan Pemilihan Indikator: Masih banyak areal persawahan yang belum terlayani oleh jaringan irigasi teknis. Perlu dilakukan berbagai upaya eksploitasi dan pemeliharaan jaringan irigasi. Formulasi Pengukuran: ݏܽݑܮܽ ܽ݁ݎ݅ ݅ݏܽ݃݅ݎ ݃݊ܽݕ ܶ݅݊ܽݕ݈ܽݎ݁ݐ ݈ܽݐ݈ ݏܽݑܽ ܽ݁ݎ݅ ݅ݏܽ݃݅ݎ ݔ100%
9.Cakupan Pemulihan Pencegahan Abrasi (Satuan: %) Cakupan panjang pantai dalam kondisi baik. Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 7/PRT/M/2015 tentang Pengamanan Pantai Alasan Pemilihan Indikator: Untuk mengukur panjang pantai kondisi rusak yang telah ditangani. Formulasi Pengukuran: ݆݃݊ܽ݊ܽܲ݅ܽݐ݊ܽ݇ ݅ݏܾ݅݀݊ܶ݇݅ܽ ݈ܽݐ ݆݃݊ܽ݊ܽ ݅ܽݐ݊ܽ ݔ100% NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
4.Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Indikator Kinerja Utama (esselon II)
1.Capaian LAKIP (Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) Tercapainya Penyelenggaraan Pemerintahan yang Akuntabel, Efektif, dan efisien ASPEK PENILAIAN KOMPONEN BOBOT SUB KOMPONEN 1 Perencanaan Kinerja 35 Renstra, Rencana Kerja Tahunan, Penetapan Kinerja, Rencana Kerja 2 Pengukuran Kinerja 20 Pemenuhan Pengukuran, Kualitas Pengukuran, Implementasi Pengukuran 3 Pelaporan Kinerja 15 Pemenuhan Pelaporan, Penyajian Informasi Kinerja, Pemanfaatan Informasi Kinerja Dalam Bentuk Laporan Kinerja 4 Evaluasi Kinerja 10 Pemenuhan Evaluasi, Kualitas Evaluasi, Pemanfaatan Hasil Evauasi 5 Pencapaian Kinerja 20 Kinerja Yang Dilaporkan, Output dan Outcome dan Kinerja Lainnya TOTAL 100
2.Persentase Rumah Layak Huni Cakupan rumah layak huni di Provinsi Banten. Alasan Pemilihan Indikator: Masih banyak rumah tidak layak huni di Provinsi Banten (tidak memenuhi persyaratan keselamatan bangunan, kecukupan minimum luas bangunan, dan kesehatan penghuni). Formulasi Perhitungan: ݈ܽ݉ݑܬ ℎ ܽ݉ݑݎ ℎ݈ܽ ݇ܽݕ ݅݊ݑℎ ݈ܽ݉ݑܬ ℎ ݇ݑ݀ݑ݀݊݁ ݔ100%
3.Luasan Kawasan Kumuh yang ditangani Cakupan luas penataan kawasan kumuh Alasan pemilihan indikator: Untuk mengukur luas kawasan kumuh di Provinsi Banten = ௨௦ ௪௦ ௨௨ ௨௦ ௐ௬ ݔ100
4.Cakupan pelayanan pengelolaan sampah regional Tersedianya fasilitas pengelolaan sampah di perkotaan Alasan Pemilihan Indikator: Masih belum terkelolanya penanganan sampah perkotaan di Provinsi Banten NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan Formulasi Perhitungan: ܸ݁݉ݑ݈ ܽ݉ܽݏ ℎ ݃݊ܽݕ݈݁݇݅݀ ݈ܽ ݈ܽ݉ݑܬ ℎ ݁݉ݑ݈ݒ ܽ݉ܽݏ ℎ ݊ܽܽݐ݇ݎ݁ ݔ100%
5.Persentase Gedung strategis Provinsi dalam kondisi baik Cakupan pengelolaan gedung strategis Provinsi Banten dengan baik dan memenuhi persyaratan. Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 24/PRT/M/2008 tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung Alasan Pemilihan Indikator: Provinsi Banten telah memiliki beberapa gedung strategis. Perlu dilaksanakan pengelolaan seperti pemanfaatan, pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung. Formulasi Perhitungan: ݈ܽ݉ݑܬ ℎ݀݁݃ ݃݊ݑ ݏ݅݃݁ݐܽݎݐݏ ݃݊ܽݕ ݈ܽ݁ݐ ℎ݈݁݇݅݀ ݈ܽ݊ܽ݃݊݁݀ ܾ݇݅ܽ ݈ܽ݉ݑܬ ℎ݀݁݃ ݃݊ݑ ݏ݅݃݁ݐܽݎݐݏ ݔ100% Indikator Kinerja Program (esselon III)
1.Nilai IKM Untuk memudahkan interpretasi terhadap penilaian IKM yaitu antara 25-100 maka hasil penilaian tersebut diatas dikonversikan dengan nilai dasar 25 IKM = ்௧ ௗ ௦௦ ௨௦௨ ௧௧ ௨௦௨ ௬ ௧௦ ݔ݈݅ܽ݅݊ ܾ݃݊ܽ݉݅݊݁ IKM Unit Pelayanan x 25 Nilai Persepsi Nilai Interval IKM Nilai Interval Konversi IKM Mutu Pelayanan Kinerja Unit Pelayan an 1 1,00 – 1,75 25 – 43,75 D Tidak Baik 2 1,76 – 2,50 43,76 – 62,50 C Kurang Baik 3 2,51 – 3,25 62,51 – 81,25 B Baik 4 3,26 – 4,00 81,26 - 100 A Sangat Baik NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
2.Luas Kawasan Kumuh yang ditata Cakupan luas penataan kawasan kumuh. Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 02/PRT/M/2016 tentang Peningkatan Kualitas Terhadap Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh Alasan Pemilihan Indikator: dalam rangka meningkakan mutu kehidupan dan penghidupan masyarakat dibutuhkan penataan/peningkatan kualitas kawasan kumuh. Formulasi Perhitungan: Jumlah luas kawasan kumuh yang telah ditata dari total luas kawasan kumuh.
3.Persentase Rumah Tidak Layak Huni yang ditangani Cakupan penanganan rumah tidak layak huni. Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 13/PRT/M/2016 tentang Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya Alasan Pemilihan Indikator: Masih banyak rumah tidak layak huni di Provinsi Banten (tidak memenuhi persyaratan keselamatan bangunan, kecukupan minimum luas bangunan, dan kesehatan penghuni). Formulasi Perhitungan: ݈ܽ݉ݑܬ ℎ ܽ݉ݑݎ ℎ ݇ܽ݀݅ݐ݈ܽ ݇ܽݕ ݅݊ݑℎ ݃݊ܽݕ݅݀ ܶ݅݊ܽ݃݊ܽݐ ݈ܽݐ݆ ݈ܽ݉ݑ ℎ ܽ݉ݑݎ ℎ ݇ܽ݀݅ݐ݈ܽ ݇ܽݕ ݅݊ݑℎ ݔ100%
4.Persentase pengelolaan gedung strategis Provinsi Cakupan pengelolaan gedung strategis Provinsi Banten dengan baik dan memenuhi persyaratan. Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 24/PRT/M/2008 tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung Alasan Pemilihan Indikator: Provinsi Banten telah memiliki beberapa gedung strategis. Perlu dilaksanakan pengelolaan seperti pemanfaatan, pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung. Formulasi Perhitungan: ݈ܽ݉ݑܬ ℎ݀݁݃ ݃݊ݑ ݏ݅݃݁ݐܽݎݐݏ ݃݊ܽݕ ݈ܽ݁ݐ ℎ݈݁݇݅݀ ݈ܽ݊ܽ݃݊݁݀ ܾ݇݅ܽ ݈ܽ݉ݑܬ ℎܾ݃݊ܽ ݊ܽ݊ݑ ݏ݅݃݁ݐܽݎݐݏ ݔ100%
5.Persentase penyelenggaraan bangunan dan lingkungan di kawasan strategis Provinsi Cakupan penyelenggaraan bangunan dan lingkungan di 8 (delapan) kawasan strategis Provinsi. Alasan Pemilihan Indikator: Provinsi Banten telah memiliki 8 (delapan) kawasan strategis Provinsi uang ditetapkan dalam RTRW Provinsi Banten. Perlu dilaksanakan Penyelenggaraan Bangunan dan Lingkungan (PBL) di 8 kawasan tersebut. Formulasi Perhitungan: ݈ܽ݉ݑܬ ℎܽ݇ ݊ܽݏܽݓ ݏ݅݃݁ݐܽݎݐݏ ݃݊ܽݕ ݈ܽ݁ݐ ℎ݈݇ܽ݅݀ ݊ܽ݇ݑܲ ܮܤ ݈ܽ݉ݑܬ ℎܽ݇ ݊ܽݏܽݓ ݏ݅݃݁ݐܽݎݐݏ ݔ100% NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
6.Cakupan Rumah Tangga yang memiliki akses air bersih Cakupan pelayanan air bersih dalam rangka menjamin rumah tangga atas akses air bersih. Alasan Pemilihan Indikator: Masih banyak rumah tangga di Provinsi Banten yang terlayani, diperlukan upaya untuk meningkatkan akses air bersih. Formulasi Perhitungan: ݈ܽ݉ݑܬ ℎ ܽ݉ݑݎ ℎ ܽ݃݃݊ܽݐܾ݁ ݏ݁ݏ݇ܽݎ݅ܽ ݎܾ݁ ݅ݏݎ ℎ ݈ܽ݉ݑܬ ℎ ܽ݉ݑݎ ℎ ܽ݃݃݊ܽݐ ݔ100%
7.Persentase Rumah Tangga yang memiliki akses sanitasi Cakupan pelayanan rumah tangga yang memiliki akses sanitasi, dalam rangka menjamin hak masyarakat sanitasi lingkungan dan memenuhi target 100-0-100. Alasan Pemilihan Indikator: Masih banyak rumah tangga di Provinsi Banten yang belum terlayani akses sanitasi lingkungan layak, diperlukan upaya untuk meningkatkan akses sanitasi lingkungan layak. Formulasi Perhitungan: ݈ܽ݉ݑܬ ℎ ܽ݉ݑݎ ℎ ܽ݃݃݊ܽݐܾ݁ ݏ݁ݏ݇ܽݎ ݅ݏܽݐ݅݊ܽݏ ݈ܽ݉ݑܬ ℎ ܽ݉ݑݎ ℎ ܽ݃݃݊ܽݐ ݔ100%
8.Cakupan pelayanan pengelolaan sampah regional Tersedianya fasilitas pengelolaan sampah di perkotaan Alasan Pemilihan Indikator: Masih belum terkelolanya penanganan sampah perkotaan di Provinsi Banten Formulasi Perhitungan: ܸ݁݉ݑ݈ ܽ݉ܽݏ ℎ ݃݊ܽݕ݈݁݇݅݀ ݈ܽ ݈ܽ݉ݑܬ ℎ ݁݉ݑ݈ݒ ܽ݉ܽݏ ℎ ݊ܽܽݐ݇ݎ݁ ݔ100% NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
5.Satuan Polisi Pamong Praja Indikator Kinerja Utama (esselon II)
1.Capaian LAKIP (Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) Tercapainya Penyelenggaraan Pemerintahan yang Akuntabel, Efektif, dan efisien ASPEK PENILAIAN KOMPONEN BOBOT SUB KOMPONEN 1 Perencanaan Kinerja 35 Renstra, Rencana Kerja Tahunan, Penetapan Kinerja, Rencana Kerja 2 Pengukuran Kinerja 20 Pemenuhan Pengukuran, Kualitas Pengukuran, Implementasi Pengukuran 3 Pelaporan Kinerja 15 Pemenuhan Pelaporan, Penyajian Informasi Kinerja, Pemanfaatan Informasi Kinerja Dalam Bentuk Laporan Kinerja 4 Evaluasi Kinerja 10 Pemenuhan Evaluasi, Kualitas Evaluasi, Pemanfaatan Hasil Evauasi 5 Pencapaian Kinerja 20 Kinerja Yang Dilaporkan, Output dan Outcome dan Kinerja Lainnya TOTAL 100
2.Rasio Penegakan Peraturan Perundang- undangan Daerah Prosentase penegakan peraturan perundang-undangan Daerah Provinsi dalam menciptakan ketentraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat Alasan Pemilihan indikator: untuk efektivitas pelaksanaan peraturanperundang- undangan tingkat Provinsi dalam menciptakan ketentraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat Formulasi Perhitungan: ݊ܽݑ݇ܽܥ∑ ݊ܽݕ ݉ݑܾ݅ݐ݊ܽݎݐ , ݊ܽ݇ܽ݃݁݊݁݁ܲ ܽ݀ݎ ,݈ܽ݉݊݅ ݏ݊ܽ݀ ݇ ݅ݏܽ݊݅݀ݎܾܽ݇ܽ݁݇ ݊ܽݎ 4 ݔ100 Indikator Kinerja Program (esselon III)
1.Nilai IKM Untuk memudahkan interpretasi terhadap penilaian IKM yaitu antara 25-100 maka hasil penilaian tersebut diatas dikonversikan dengan nilai IKM = ்௧ ௗ ௦௦ ௨௦௨ ௧௧ ௨௦௨ ௬ ௧௦ ݔ݈݅ܽ݅݊ ܾ݃݊ܽ݉݅݊݁ NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan dasar 25 IKM Unit Pelayanan x 25 Nilai Persepsi Nilai Interval IKM Nilai Interval Konversi IKM Mutu Pelayanan Kinerja Unit Pelayanan 1 1,00 – 1,75 25 – 43,75 D Tidak Baik 2 1,76 – 2,50 43,76 – 62,50 C Kurang Baik 3 2,51 – 3,25 62,51 – 81,25 B Baik 4 3,26 – 4,00 81,26 - 100 A Sangat Baik
2.Cakupan pelayanan ketentraman ketertiban umum Daerah Provinsi Prosentase penanganan gangguan ketentraman dan ketertiban umum Alasan pemilihan indikator: mengukur kinerja pemeliharaan ketentraman dan ketertiban umum ݈ܽ݃݃݊ܽ݁ܲ ݊ܽݎ ܭ3 ݃݊ܽݕ ݊ܽ݇݅ܽݏ݈݁݁ݏݎ݁ݐ ݈ܽ݃݃݊ܽ݁ܲ ݊ܽݎ ܭ3 ݃ݕ݈ܽ݅݀ ݊ܽ݇ݎܽ݉ ݐܽ݇ܽݎܽݕݏ݊ܽ݀ ݅ݏ݂ܽ݇݅݅ݐ݊݁݀݅ݎ݁ݐ ݈݁ ℎܽܵ ݈ݐܲܲ ݔ100
3.Presentase Penegakan Peraturan Perundang- undangan Daerah Prosentase penegakan peraturan perundang-undangan Provinsi Alasan pemilihan indikator: untuk efektivitas pelaksanaan peraturan perundang- undangan tingkat Provinsi ݊ܽ݇ܽ݃݁݊݁ܲ ݊ܽݎݑݐܽݎ݁ ݊ܽ݃݊ܽ݀݊ݑݎ݁ ݊ܽ݃݊ܽ݀݊ݑ − ݈ܽ݃݃݊ܽ݁ܲ ݊ܽݎ ݊ܽݎݑݐܽݎ݁ ݊ܽ݃݊ܽ݀݊ݑݎ݁ ݊ܽ݃݊ܽ݀݊ݑ − ݔ100
4.Cakupan perlindungan masyarakat Prosentase penanganan perlindungan masyarakat Alasan pemilihan indikator: mengukur kinerja penanganan perlindungan masyarakat 100 ݃݊ܽݎ ݏܽ݃ݑݐ݁ ݏܽ݉݊݅ܮ݅݀ ݊݁ݐܽݑܾܽܭ /ܽݐܭ݁ܽ݀ ܽݎ ℎ ݊ܽݎܾܽ݇݁݉݁ܽ ݑݎ 1 ܽݕ݈ܽ݅ݓ ℎ݁݇ ݆ܽݎܾܽ݇ ݊݁ݐܽݑ /݇ ܽݐ ݔ100
5.Cakupan koordinasi penanganan bencana kebakaran Prosentase koordinasi penanganan bencana kebakaran Alasan pemilihan indikator: mengukur kinerja pelayanan bencana kebakaran ݊ܽݑܽ݇݃݊ܽܬ݈ ݏܽݑ ܽݕ݈ܽ݅ݓ ℎ݆݊݁݉݁ܽ݊ܽ݉ ܾܽ݇ܽ݁݇ ݊ܽݎ ݏܽݑܮ ܽݕ݈ܽ݅ݓ ℎܾܽ݇ ݊݁ݐܽݑ /݇ ܽݐ ݔ100 NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
6.Badan Penanggulang an Bencana Indikator Kinerja Utama (esselon II)
1.Capaian LAKIP (Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) Tercapainya Penyelenggaraan Pemerintahan yang Akuntabel, Efektif, dan efisien ASPEK PENILAIAN KOMPONEN BOBOT SUB KOMPONEN 1 Perencanaan Kinerja 35 Renstra, Rencana Kerja Tahunan, Penetapan Kinerja, Rencana Kerja 2 Pengukuran Kinerja 20 Pemenuhan Pengukuran, Kualitas Pengukuran, Implementasi Pengukuran 3 Pelaporan Kinerja 15 Pemenuhan Pelaporan, Penyajian Informasi Kinerja, Pemanfaatan Informasi Kinerja Dalam Bentuk Laporan Kinerja 4 Evaluasi Kinerja 10 Pemenuhan Evaluasi, Kualitas Evaluasi, Pemanfaatan Hasil Evauasi 5 Pencapaian Kinerja 20 Kinerja Yang Dilaporkan, Output dan Outcome dan Kinerja Lainnya TOTAL 100
2.Indeks Risiko Bencana Bahaya (hazard) dihitung berdasarkan rata-rata dari tingkat bahaya berupa data frekuensi dan magnitude dari bahaya alam seperti banjir, longsor, gempa bumi, tsunami, dan lain-lain. Kerentanan (vulnerability) diamati berdasarkan parameter social budaya, ekonomi, fisik dan lingkungan. Untuk data tentang kapasitas kemampuan dilakukan dengan menggunakan metoda penilaian kapasitas berdasarkan parameter kapasitas regulasi, Risk= ݀ݎܽݖܽܪ ݔ ௨௧௬ ௧௬ NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan kelembagaan, sistem peringatan, pendidikan pelatihan keterampilan, mitigasi dan system kesiapsiagaan. Indikator Kinerja Program (esselon III)
1.Nilai IKM Untuk memudahkan interpretasi terhadap penilaian IKM yaitu antara 25-100 maka hasil penilaian tersebut diatas dikonversikan dengan nilai dasar 25 IKM = ்௧ ௗ ௦௦ ௨௦௨ ௧௧ ௨௦௨ ௬ ௧௦ ݔ݈݅ܽ݅݊ ܾ݃݊ܽ݉݅݊݁ IKM Unit Pelayanan x 25 Nilai Persepsi Nilai Interval IKM Nilai Interval Konversi IKM Mutu Pelayanan Kinerja Unit Pelayanan 1 1,00 – 1,75 25 – 43,75 D Tidak Baik 2 1,76 – 2,50 43,76 – 62,50 C Kurang Baik 3 2,51 – 3,25 62,51 – 81,25 B Baik 4 3,26 – 4,00 81,26 - 100 A Sangat Baik
2.Cakupan mitigasi dan Pengurangan Resiko Bencana Capaian prosentase relisasi pencegahan dan kesiapsiagaan yang direncanakan terhadap target direncanakan dalam pencegahan bencana Alasan pemilihan indikator: Untuk mengetahui realisasi pencegahan dan kesiapsiagaan terhadap bencana = ௦௦ ௗ ௦௦ ௧௧ ݔ100
3.Presentase Ketersediaan Peralatan dan Logistik, Prabencana Capaian prosentase realisasi ketersediaan peralatan logistic prabencana dan tanggap darurat yang dibutuhkan terhadap Alasan pemilihan indikator: Untuk mengetahui realisasi ketersediaan peralatan dan logistik prabencana dan tanggap darurat bencana = ௦௦ ௧௦ௗ ௧ ௗ ௦௧ ௧௧ ௗ ௦௧ ݔ100 NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan dan Tanggap Darurat Bencana target yang direncanakan saat bencana terjadi
4.Presentase Pemulihan Kondisisosial ekonomi, sarana dan prasarana pasca bencana Capaian prosentase realisasi rehabilitasi Pemulihan kondisi social ekonomi sarana dan prasarana dan terhadap target yang direncanakan saat pasca bencana Alasan pemilihan indikator: Untuk mengetahui realisasi rehabilitasi pemulihan kondisi sosial ekonomi dan sarana prasarana = ௦௦ ௧௦ ௨ ௗ௦ ௦௦ ௧௧ ௗ ௦௧ ݔ100 NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
7.Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Indikator Kinerja Utama (esselon II)
1.Capaian LAKIP (Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) Tercapainya Penyelenggaraan Pemerintahan yang Akuntabel, Efektif, dan efisien ASPEK PENILAIAN KOMPONEN BOBOT SUB KOMPONEN 1 Perencanaan Kinerja 35 Renstra, Rencana Kerja Tahunan, Penetapan Kinerja, Rencana Kerja 2 Pengukuran Kinerja 20 Pemenuhan Pengukuran, Kualitas Pengukuran, Implementasi Pengukuran 3 Pelaporan Kinerja 15 Pemenuhan Pelaporan, Penyajian Informasi Kinerja, Pemanfaatan Informasi Kinerja Dalam Bentuk Laporan Kinerja 4 Evaluasi Kinerja 10 Pemenuhan Evaluasi, Kualitas Evaluasi, Pemanfaatan Hasil Evauasi 5 Pencapaian Kinerja 20 Kinerja Yang Dilaporkan, Output dan Outcome dan Kinerja Lainnya TOTAL 100 NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
2.Indeks Demokrasi Indonesia Provinsi Banten Capaian Poin Demokrasi Katori Baik dan Berkualitas pada Aspek Kebebasan Sipil, Hak-Hak Politik dan Institusi Demokrasi PO IN IN TE RV AL KA TE GO RI PE RS EP SI ASPE K DEM OKR ASI 80 - 10 0 BA IK BE RK UA LIT AS Kebe basa n Sipil Hak- Hak Politi k Insti tusi Dem okra si 60 - 79 CU KU P 50 - 59 KU RA NG BAI K KATEGORI/KRITERIA DEMOKRASI INDEKS KOMPOSIT POIN VARIABEL IDI (DEMOKRASI YANG BAIK DAN BERKUALITAS) Kebebasa n Sipil 10 0 10 10 10 Kebebasan Berkumpul dan Berserikat Kebebasan Berpendapat Kebebasan Berkeyakinan Kebebasan dari Diskriminasi Hak-Hak Politik 10 10 10 Hak Memilih dan Dipilih Partisipasi dalam Pengambilan Keputusan dan Pengawasan InstitusiD emokrasi 10 10 10 10 Pemilu yang Bebas dan Adil Peran DPRD dan Partai Politik Peran Birokrasi Pemerintah Peradilan yang Independen
3.Angka Kriminalitas Penurunan Angka Peristiwa Kriminalitas di Provinsi Banten (ideology radikal, isu separatisme, sumber daya ekonomi) Alasan pemilihan indikator: Untuk mengukur tingkat kriminalitas di Provinsi Banten = ் ௗ ௬ ௧௧ ௗ ଵ ௧௨ ௨ ௗ௨ௗ௨ ݔ10.000 Indikator Kinerja Program (esselon III) NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
1.Nilai IKM Untuk memudahkan interpretasi terhadap penilaian IKM yaitu antara 25-100 maka hasil penilaian tersebut diatas dikonversikan dengan nilai dasar 25 IKM = ் ௧ ௗ ௦௦ ௨௦௨ ௧௧ ௨௦௨ ௬ ௧௦ ݔ݈݅ܽ݅݊ ܾ݃݊ܽ݉݅݊݁ IKM Unit Pelayanan x 25 Nilai Persepsi Nilai Interval IKM Nilai Interval Konversi IKM Mutu Pelayanan Kinerja Unit Pelayanan 1 1,00 – 1,75 25 – 43,75 D Tidak Baik 2 1,76 – 2,50 43,76 – 62,50 C Kurang Baik 3 2,51 – 3,25 62,51 – 81,25 B Baik 4 3,26 – 4,00 81,26 - 100 A Sangat Baik
2.Cakupan Pembinaan dan Penguatan 4 (empat) Konsesnus Dasar Kebangsaan (Pancasila, Undang-Undang Dasar Tahun 1945, Bhineka Tunggal Ika, NKRI) Pembinaan terhadap Jumlah Kelompok Masyarakat Demokrasi: Sipil, Ormas, Pelajar, Mahasiswa, Aparatur, Instansi Demokrasi dan Partai Politik melalui Penguatan Materi 4 (empat) Konsensus Dasar Kebangsaan. Jumlah yang mendapatkan pembinaan (4 Konsesnsus Dasar Jumlah Kelompok Masyarakat Demokrasi ݔ100
3.Angka Partisipasi Pilleg Jumlah Penduduk Kabupaten/Kota yang memliki Hak Memilih dan Hak Dipilih dalam Pileg Kabupaten/Kota dan Provinsi Jumlah Partisipasi Politik dalam Pesta Demokrasi PILEG Jumlah Hak Memilih ݔ100
4.Angka Partisipasi Pilgub Jumlah PendudukKabupaten/Kota se- Provinsi yang memiliki Hak Jumlah Partisipasi Politik dalam Pesta Demokrasi PILGUB Jumlah Hak Memilih ݔ100 NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan Memilih dan Hak Dipilih dalam PILGUB
5.Angka Partisipasi Pilpres Jumlah Penduduk Provinsi yang memiliki Hak Memilih dan Hak Dipilih dalam PILPRES Jumlah Partisipasi Politik dalam Pesta Demokrasi PILPRES Jumlah Hak Memilih ݔ100
6.Angka Partisipasi Pilkada Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk Kabupaten/Kota yang memliki Hak Memilih dan Hak Dipilih dalam Pilkada Kabupaten/Kota. Jumlah Partisipasi Politik dalam Pesta Demokrasi PILKADA KAB/KOTA Jumlah Hak Memilih ݔ100
7.Prosentase penurunan peristiwa gangguan keamanan dalam Daerah Penurunan gangguan keamanan di Provinsi Banten (ideologi radikal, isu separatisme, sumber daya ekonomi) Alasan pemilihan indikator: mengukur kinerja mitigasi gangguan keamanan ݊ܽݑ݃݃݊ܽܩ݊ܽ݊ܽ݉ܽ݁݇ ݁݀݅ݎ݁ ݐܽܽݏ݅݊݅ ݊ܽݑ݃݃݊ܽܩ݊ܽ݊ܽ݉ܽ݁݇ ݁݀݅ݎ݁ ܽݕ݊݉ݑ݈ܾ݁݁ݏ
8.Persentase Ormas yang mendapatkan Pembinaan Jumlah ormas Provinsi Banten yang mendapatkan pembinaan Konsensus Dasar Kebangsaan. (Pancasila, Undang-Undang Dasar Tahun 1945, Bhineka Tunggal Ika, NKRI) Jumlah yang mendapatkan pembinaan (4 Konsensus Dasar Jumlah Ormas Provinsi yang Terdaftar ݔ100 NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
8.Dinas Sosial Indikator Kinerja Utama (esselon II)
1.Capaian LAKIP (Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) Tercapainya Penyelenggaraan Pemerintahan yang Akuntabel, Efektif, dan efisien ASPEK PENILAIAN KOMPONEN BOBOT SUB KOMPONEN 1 Perencanaan Kinerja 35 Renstra, Rencana Kerja Tahunan, Penetapan Kinerja, Rencana Kerja 2 Pengukuran Kinerja 20 Pemenuhan Pengukuran, Kualitas Pengukuran, Implementasi Pengukuran 3 Pelaporan Kinerja 15 Pemenuhan Pelaporan, Penyajian Informasi Kinerja, Pemanfaatan Informasi Kinerja Dalam Bentuk Laporan Kinerja 4 Evaluasi Kinerja 10 Pemenuhan Evaluasi, Kualitas Evaluasi, Pemanfaatan Hasil Evauasi 5 Pencapaian Kinerja 20 Kinerja Yang Dilaporkan, Output dan Outcome dan Kinerja Lainnya TOTAL 100
2.Index Gini Koefisien Gini atau Indeks Gini merupakan indikator yang menunjukkan tingkat ketimpangan pendapatan secara menyeluruh. Nilai Koefisien Gini berkisar antara 0 hingga 1. Koefisien Gini bernilai 0 menunjukkan adanya pemerataan pendapatan yang sempurna, atau setiap orang memiliki pendapatan yang sama G = 1 - ܲ∑ ୀூ (ܳ +ܳ ି ூ) dimana: Pi : persentase rumah tangga atau penduduk pada kelas ke-i Qi : persentasekumulatif total pendapatanataupengeluaransampaikelaske-i Nilai gini ratio berkisar antara 0 dan 1, jika: G < 0,3 = ketimpangan rendah 0,3 ≤ G ≤ 0,5 = ketimpangan sedang G > 0,5 = ketimpangan tinggi
3.Persentase Penanganan Jumlah PMKS Persentase Penanganan Jumlah PMKS Persentase Penanganan Jumlah PMKS yang mendapat Pelayanan Sosial dan Partisipasi Sosial Masyarakat NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan Indikator Kinerja Program (esselon III)
1.Nilai IKM Untuk memudahkan interpretasi terhadap penilaian IKM yaitu antara 25-100 maka hasil penilaian tersebut diatas dikonversikan dengan nilai dasar 25 IKM = ்௧ ௗ ௦௦ ௨௦௨ ௧௧ ௨௦௨ ௬ ௧௦ ݔ݈݅ܽ݅݊ ܾ݃݊ܽ݉݅݊݁ IKM Unit Pelayanan x 25 Nilai Persepsi Nilai Interval IKM Nilai Interval Konversi IKM Mutu Pelayanan Kinerja Unit Pelayanan 1 1,00 – 1,75 25 – 43,75 D Tidak Baik 2 1,76 – 2,50 43,76 – 62,50 C Kurang Baik 3 2,51 – 3,25 62,51 – 81,25 B Baik 4 3,26 – 4,00 81,26 - 100 A Sangat Baik
2.Cakupan PMKS yang mendapatkan rehabilitasi sosial Capaian PMKS yang mendapat rehabilitasi sosial dibandingkan PMKS yang ada Alasan pemilihan indikator: Untuk mengetahui jumlah PMKS yang direhabilitasi = ெௌ ௬ ௗ௧ ௧௦ ௦௦ ெௌ ݔ100
3.Cakupan PSKS yang meningkat Partisipasi sosialnya Capaian PSKS yang mengalami peningkatan dalam berpartisipasi Alasan pemilihan indikator: Untuk mengetahui jumlah PSKS yang meningkat partisipasinya dibandingkan Jumlah PSKS = ௌௌ ௬ ௧ ௧௦௦௬ ௌௌ ݔ100
4.Cakupan Updating Data PMKS Cakupan Data Kemiskinan, PMKS dan PSKS Terintegrasi yang dikelola Alasan pemilihan indikator: Untuk mengetahui cakupan data Kemiskinan, PMKS dan PSKS terintegrasi yang dikelola NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
5.Cakupan Korban Bencana Alam dan Sosial yang mendapat perlindungan Capaian korban bencana alam dan sosial yang mendapat perlindungan dibandingkan korban bencana alam Alasan pemilihan indikator: Untuk mengetahui korban bencana alam yang mendapat perlindungan = ௬ ௗ௧ ௗ௨ ݔ100
6.Cakupan Keluarga miskin yang mendapatkan jaminan sosial Capaian masyarakat miskin yang mendapatkan jaminan social dibandingkan total masyarakat miskin Alasan pemilihan indikator: Untuk mengetahui jumlah masyarakat miskin yang mendapat jaminan sosial = ௦௬௧ ௦ ௬ ௗ௧ ௦௦ ௧௧ ௦௬௧ ௦ ݔ100
7.Persentase PMKS Fakir Miskin Penerima Fasilitas Pemberdayaan Sosial yang mengalami peningkatan kesejahteraan Capaian PMKS penerima fasilitas pemberdayaan sosial yang mengalami peningkatan kesejahteraan dibandingkan PMKS penerima fasititas pemberdayaan sosial Alasan pemilihan indikator: Untuk mengetahui jumlah PMKS yang meningkat kesejahteraannya = ெௌ ௦௧௦ ௬ ௧ ௦௧௬ ெௌ ௦௧௦ ௗ௬ ௦௦ ݔ100
8.Cakupan PMKS yang mendapatkan Bimbingan Sosial Keterampilan pada Balai Pemulihan dan Pengembangan Sosial Capaian PMKS yang mendapat bimbingan sosial keterampilan pada Balai Pemulihan dan Pengembangan Sosial Alasan pemilihan indikator: Untuk mengetahui jumlah PMKS yang meningkat kesejahteraannya dibandingkan PMKS yang dikembangkan = ெௌ ௦௧௦ ௬ ௧ ௦௧௬ ெௌ ௬ ௗ ݔ100
9.Cakupan PMKS yang dilayani dan dilindungi pada Balai Perlindungan Sosial Capaian PMKS yang dilayani dan dilindungi pada Balai Perlindungan Sosial dibandingkan total PMKS pada Balai Perlindungan Sosial Alasan pemilihan indikator: Untuk mengetahui jumlah PMKS yang dilayani dan dilindungi = ெௌ ௬ ௗ௬ ௗ ௗௗ௨ ௗ ௗ௨ ௌ௦ ௧௧ ெௌ ௗ ௗ௨ ௌ௦ ݔ100 NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan
9.Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indikator Kinerja Utama (esselon II)
1.Capaian LAKIP (Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) Tercapainya Penyelenggaraan Pemerintahan yang Akuntabel, Efektif, dan efisien ASPEK PENILAIAN KOMPONEN BOBOT SUB KOMPONEN 1 Perencanaan Kinerja 35 Renstra, Rencana Kerja Tahunan, Penetapan Kinerja, Rencana Kerja 2 Pengukuran Kinerja 20 Pemenuhan Pengukuran, Kualitas Pengukuran, Implementasi Pengukuran 3 Pelaporan Kinerja 15 Pemenuhan Pelaporan, Penyajian Informasi Kinerja, Pemanfaatan Informasi Kinerja Dalam Bentuk Laporan Kinerja 4 Evaluasi Kinerja 10 Pemenuhan Evaluasi, Kualitas Evaluasi, Pemanfaatan Hasil Evauasi 5 Pencapaian Kinerja 20 Kinerja Yang Dilaporkan, Output dan Outcome dan Kinerja Lainnya TOTAL 100
2.Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan IPK adalah alat untuk menilai proses pelaksanaan pembangunan ketenagakerjaan, sekaligus diagnostik dan evaluasi kondisi pembangunan ketenagakerjaan secara komprehensif dan holistik.” “Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan merupakan suatu nilai yang menggambarkan kondisi keberhasilan pembangunan ketenagakerjaan secara komposit yang mencakup 9 indikator utama pembangunan ketenagakerjaan yang sangat kn Wun 100 Wsn Dimana : - Koefisien Indikator Utama ke-n - Bobot Indikator Utama ke-n - Bobot Sub Indikator dari Indikator Utama ke-n NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan mendasar. Indikator Utama tersebut adalah:
1.Perencanaan tenaga kerja;
2.Penduduk dan tenaga kerja;
3.Kesempatan kerja;
4.Pelatihan kerja;
5.Produktivitas tenaga kerja;
6.Hubungan Industrial;
7.Kondisi lingkungan kerja;
8.Pengupahan dan kesejahteraan pekerja;
9.Jaminan sosial tenaga kerja. Indikator Kinerja Program (esselon III)
1.Nilai IKM Untuk memudahkan interpretasi terhadap penilaian IKM yaitu antara 25-100 maka hasil penilaian tersebut diatas dikonversikan dengan nilai dasar 25 IKM = ்௧ ௗ ௦௦ ௨௦௨ ௧௧ ௨௦௨ ௬ ௧௦ ݔ݈݅ܽ݅݊ ܾ݃݊ܽ݉݅݊݁ IKM Unit Pelayanan x 25 Nilai Persepsi Nilai Interval IKM Nilai Interval Konversi IKM Mutu Pelayanan Kinerja Unit Pelayan an 1 1,00 – 1,75 25 – 43,75 D Tidak Baik 2 1,76 – 2,50 43,76 – 62,50 C Kurang Baik 3 2,51 – 3,25 62,51 – 81,25 B Baik NO Perangkat Daerah IKU (eselon II) dan OUTCOME (eselon III) Definisi Operasional Rumus Perhitungan 4 3,26 – 4,00 81,26 - 100 A Sangat Baik
2.Capaian Produktivitas Tenaga Kerja Nilai aktual tingkat produktivitas tenaga kerja dihitung dengan membandingkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dengan total penduduk yang bekerja
3.Capaian Hubungan Industrial