4.Tangerang Selatan 147,19 7 0 54 Banten 9.662,92 155 1238 313 Sumber : SIPD Provinsi Banten, 2017 2.2 Aspek Demografis Berdasarkan data hasil sensus penduduk, Provinsi Banten menunjukkan pertumbuhan jumlah yang terus meningkat setiap tahun, baik penduduk laki-laki maupun perempuan. Penduduk Banten tahun 2016 sebanyak 12.203.148 jiwa yang terdiri atas 6.221.640 jiwa penduduk laki-laki dan 5.981.508 jiwa penduduk perempuan. Laju pertumbuhan penduduk tahun 2015 mengalami peningkatan sebesar 2,07 persen. Sumber : Banten Dalam Angka, 2017 Gambar 2.2 Perkembangan Penduduk Provinsi Banten 2012- 2016 Pertumbuhan penduduk Banten yang tumbuh pesat hingga mencapai rata-rata 2,20 persen per tahun, melebihi rata-rata 11005518 11198596 11452491 11704877 11955243 122031482,39 2,33 2,27 2,2 2,14 2,07 1,9 2 2,1 2,2 2,3 2,4 2,5 2011 2012 2013 2014 2015 2016 10400000 10600000 10800000 11000000 11200000 11400000 11600000 11800000 12000000 12200000 12400000 PERKEMBANGAN (%) TAHUN JUMLAH pertumbuhan penduduk Nasional yang hanya tumbuh 1,34 persen per tahun. Akibatnya, proporsi penduduk Banten terhadap total penduduk Indonesia meningkat dari 4,5 persen menjadi 4,8 persen. Oleh karena itu, Banten berhasil mempertahankan posisinya sebagai provinsi dengan populasi terbanyak kelima di Indonesia, setelah Jawa Barat (18,3 persen), Jawa Timur (15,0 persen), Jawa Tengah (13,1 persen) dan Sumatera Utara (5,5 persen). Sumber: Statistik Daerah Provinsi Banten (2017) Gambar 2.3 Komposisi Penduduk Banten Menurut Kabupaten/Kota 2017 Penduduk Banten, secara geografis tidaklah terdistribusi dengan merata, karena lebih banyak yang mendiami wilayah Banten Utara. Kondisi ini dapat terjadi karena Banten Utara merupakan salah satu daerah tujuan utama migrasi di Indonesia, yang antara lain akibat perannya sebagai daerah penyangga atau hinterland bagi Provinsi DKI Jakarta. Sementara itu secara spasial, terlihat bahwa Kabupaten Tangerang merupakan daerah yang terbanyak penduduknya, dengan persentase mencapai 28,8 persen (3,6 juta orang). Sebaliknya, yang paling sedikit adalah Kota Cilegon, dengan persentase hanya 3,4 persen (0,4 juta orang). 2.3 Aspek Pembangunan Manusia dan Pendidikan 2.3.1 Indeks Pembangunan Manusia IPM merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur perkembangan pembangunan manusia di suatu wilayah. Sebagai alat ukur, IPM dinilai sudah cukup memadai dalam hal menggambarkan capaian pembangunan manusia, dibandingkan dengan indeks komposit lain. Perkembangan 9,70% 10,30% 28,80% 5,40% 17,20% 3,40% 12,00% 13,20% Kab Pandeglang Kab Lebak Kab Tangerang Kab Serang Kota Tangerang Kota Cilegon Kota Serang Kota Tangerang Selatan capaian pembangunan manusia di Banten terus mengalami peningkatan. Hal ini dapat diketahui dari naiknya angka IPM secara konsisten selama periode 2010-2016. Adapun besaran kenaikannya senilai 3,42 poin, yang setara dengan 0,49 poin per tahun. Angka IPM Banten pada tahun 2016 mencapai 70,96. Berarti, tingkat pencapaian pembangunan manusianya dapat dikatakan masih sekitar 71 persen dari kondisi pembangunan manusia yang ideal (IPM ideal = 100). Perbedaan letak geografis, keberagaman potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia, serta perbedaan dalam struktur ekonomi dan ketenagakerjaan antar daeerah, akan menghasilkan capaian pembangunan manusia yang berbeda pada setiap daerah. Disamping itu, adanya perbedaan strategi dan fokus pembangunan, serta keberhasilan berbagai program pembangunan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah, juga menentukan tinggi rendah dan kecepatan capaian pembangunan manusia pada setiap daerah. Sumber: IPM Provinsi Banten (2016) Gambar 2. 4 Nilai dan Pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Menurut Kabupaten/Kota di Banten, 2015-2016 Capaian pembangunan manusia di seluruh kabupaten/kota menunjukkan adanya perbaikan. Hal ini terlihat dari meningkatnya angka IPM seluruh kabupaten/kota, yaitu dari kisaran 62,03 sampai 79,38 di tahun 2015 menjadi 62,78 sampai 80,11 pada tahun 2016 (Gambar 2.4). Dari sisi status pembangunan manusia, juga terlihat ada peningkatan. Pada tahun 2015, angka IPM Kota Tangerang Selatan masih berada di bawah 80. Namun pada tahun 2016 ini meningkat hingga mencapai 80,11. Oleh 62,7262,03 70,05 64,61 76,08 71,8170,51 79,38 63,4062,78 70,44 65,12 76,81 72,0471,09 80,11 1,08% 1,21% 0,56% 0,79% 0,96% 0,32% 0,82% 0,92% 0,00% 0,20% 0,40% 0,60% 0,80% 1,00% 1,20% 1,40% 0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00 karena itu, status pembangunan manusianya juga meningkat menjadi “Sangat Tinggi” (IPM ≥ 80). 2.3.2 Rata-rata Lama Sekolah dan Harapan Lama Sekolah Pendidikan meningkatkan kualitas atau kemampuan diri seseorang, sesuai dengan potensinya masing-masing. Kemampuan diri inilah yang digunakan oleh manusia yang berpendidikan, untuk lebih memperhatikan kualitas hidupnya agar dapat hidup lebih lama. Tidak hanya itu, dengan kemampuan diri yang meningkat, manusia yang berpendidikan akan berpeluang besar untuk mendapatkan pekerjaan dan pendapatan yang lebih layak. Oleh karena itu, pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas manusia, agar semakin terbuka peluang bagi mereka. Dengan kata lain, pendidikan memperluas peluang atau pilihan seseorang. Meningkatnya partisipasi masyarakat dan semakin terbukanya kesempatan dalam pendidikan ini, pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat. Keberhasilannya itu, jelas memerlukan dukungan yang kuat dari seluruh elemen masyarakat. Sementara tingkat keberhasilannya, dapat diketahui dari indikator Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan Harapan Lama Sekolah (HLS). Kedua indikator pendidikan di atas, juga digunakan dalam pengukuran capaian pembangunan manusia, untuk mewakili dimensi pengetahuan. Dengan demikian, ada kesesuaian antara program pemerintah dengan pembangunan manusia. 0 2 4 6 8 10 12 14 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 7,92 7,95 8,06 8,17 8,19 8,27 8,37 11,02 11 11,79 12,05 12,31 12,35 12,70 Sumber: Banten Dalam Angka 2017 Gambar 2.5 Perkembangan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan Harapan Lama Sekolah (HLS) Banten, 2010-2016 (tahun) RLS Banten sendiri selama periode 2010-2016 terus mengalami peningkatan (Gambar 4.3). Peningkatannya ini jelas menjadi penanda bahwa kualitas pendidikan penduduk Banten secara rata-rata telah meningkat. Dengan demikian, semakin terbuka peluang bagi penduduk Banten untuk lebih meningkatkan kualitas hidup dan tingkat kesejahteraannya. Betapapun juga, peningkatan kualitas pendidikan penduduk Banten terasa sangat lambat. Pada tahun 2010, rata-rata penduduk Banten berusia 25 tahun ke atas, bersekolah hingga kelas 2 SMP. Enam tahun kemudian, rata-rata lama sekolahnya hanya bertambah satu tahun menjadi kelas 3 SMP (belum tamat). Meskipun demikian, rata-rata lama sekolah ini masih di atas nasional yang hanya sampai kelas 2 SMP. Meningkatnya HLS Banten juga mengindikasikan bahwa kualitas pendidikan penduduk Banten pada masa mendatang akan semakin meningkat. Hal ini karena HLS menggambarkan rata-rata lama sekolah yang dapat ditempuh oleh penduduk usia 7 tahun selama masa hidupnya. HLS nya sendiri mencapai 12,70 tahun, yang setara dengan kuliah sampai Semester I. Sementara pada saat yang bersamaan, penduduk Indonesia umumnya bersekolah hingga sebulan lebih lama. Dengan demikian, meskipun sistem pendidikan di Banten sudah berjalan pada arah yang benar, namun tetap harus diperbaiki agar dapat mengejar ketertinggalannya. Pada grafik tergambarkan rata-rata lama sekolah di wilayah kabupaten masih dibawah rata-rata lama sekolah di wilayah perkotaan, terutama di Kab. Lebak dan Pandeglang. Perbaikan tingkat kesejahteraan penduduk di suatu daerah tidak terlepas dari pendidikan yang merupakan penentu kualitas penduduk. Kualitas penduduk Banten sendiri selama tiga tahun terakhir ini telah meningkat pesat. Kondisi ini dapat diketahui dari meningkatnya rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas (RLS) dan persentase penduduk usia 15 tahun ke atas lulusan S1/DIV/S2/S3 (APT), hingga mencapai 8,37 tahun dan 6,39 persen. Bahkan, kualitas penduduk Banten ini secara rata-rata lebih tinggi dibandingkan Nasional, yang memiliki RLS dan APT hanya 7,95 tahun dan 5,96 persen. Tabel 2.2 Rata -ata Lama Sekolah Kabupaten/Kota 2012 – 2016 Sum ber : SIPD Provinsi Banten Rata rata lama sekolah Provinsi Banten pada tahun 2012 adalah 8.06, angka pada tahun 2016 mengalami peningkatan sebesar 31 poin atau 8,37. Selama periode 2012 hingga 2016, Harapan Lama Sekolah telah meningkat sebesar 0,31 tahun. Meningkatnya Harapan Lama Sekolah juga menjadi sinyal bahwa memang ada perbaikan pada sistem pendidikan di Banten. Kondisi ini sekaligus menjadi penanda dari semakin banyaknya penduduk yang bersekolah. Sayangnya, angka pertumbuhan Harapan Lama Sekolah dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan, inilah yang harus dicari jalan keluarnya. Betapapun juga, Harapan Lama Sekolah pada tahun 2016 telah mencapai 12,70 tahun. Artinya, bahwa anak-anak yang telah berusia 7 tahun pada tahun 2015, memiliki peluang untuk bersekolah hingga Semester I di perguruan tinggi, atau setidaknya menamatkan pendidikan hingga lulus SMA. Sementara itu, Rata-rata Lama Sekolah di Banten pada tahun 2016 telah mencapai 8,37 tahun. Artinya, secara rata- rata penduduk yang berusia 25 tahun ke atas telah mengenyam pendidikan hingga kelas IX (SMP kelas III). Selain itu, angka pertumbuhan Rata-rata Lama Sekolah yang selalu positif, menjadi penanda bahwa kualitas pendidikan penduduk Banten terus mengalami peningkatan. Bahkan dalam setahun terakhir ini, kualitas pendidikan penduduk Banten meningkat drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Kabupaten/Kota Rata-Rata Lama Sekolah Menurut Kabupaten/Kota (Tahun) 2012 2013 2014 2015 2016 Kab Pandeglang 6,43 6,44 6,45 6,60 6,62 Kab Lebak 5,70 5,81 5,84 5,86 6,19 Kab Tangerang 8,07 8,18 8,20 8,22 8,23 Kab Serang 6,57 6,65 6,69 6,90 6,98 Kota Tangerang 9,76 9,82 10,2 10,20 10,28 Kota Cilegon 9,29 9,6 9,66 9,67 9,68 Kota Serang 8,48 8,56 8,58 8,59 8,60 Kota Tangerang Selatan 11,09 11,48 11,5 6 11,57 11,58 Provinsi Banten 8,06 8,17 8,19 8,27 8,37 2.3.3 Angka Partisipasi Pendidikan Kualitas penduduk Banten yang meningkat ternyata didorong oleh semakin luasnya akses penduduk terhadap pendidikan. Hal ini ditandai oleh angka partisipasi sekolah (APS) untuk berbagai kelompok usia yang terus mengalami peningkatan. Namun demikian, masih rendah- nya APS kelompok usia 16-18 tahun, harus mendapat perhatian lebih dari semua pihak. Hal ini karena dengan nilai APS yang hanya 67 persen, berarti ada sekitar sepertiga penduduk usia 16-18 tahun, yang pada tahun 2016 tidak bersekolah lagi. Tabel 2.3 Angka Partisipasi Sekolah Banten 2014 - 2016 Tahun Usia 7 – 12 Tahun Usia 13 – 15 Tahun Usia 16 – 18 Tahun 2014 99,29 94,87 66,25 2015 99,41 95,29 66,73 2016 99,43 95,59 67,00 Sumber: Statistik Daerah Provinsi Banten (2017) Kualitas pendidikan penduduk berkaitan erat dengan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan. Salah satu indikatornya adalah rasio ketersediaan sekolah (RKS), yang dapat menggambarkan kemampuan sekolah dalam menampung penduduk usia sekolah sesuai dengan jenjang pendidikan. Berdasarkan data yang ada, terlihat bahwa SMA/SMK/MI mengalami penurunan. Berarti, ketersediaan gedung sekolahnya sudah meningkat, melebihi pertambahan penduduk usia sekolah. Adapun untuk gedung sekolah SD/MI, peningkatannya masih sedikit di bawah pertambahan penduduk usia sekolahnya. Sumber: Statistik Daerah Provinsi Banten (2017) Gambar 2.6 Rasio Ketersediaan Sekolah di Banten 2.4 Aspek Kesehatan 2.4.1 Angka Harapan Hidup Hidup lebih lama merupakan dambaan setiap orang. Untuk dapat berumur panjang, diperlukan kondisi kesehatan yang lebih baik. Di sisi lain, tujuan pembangunan manusia yaitu memperluas pilihan-pilihan bagi manusia, yang untuk memperoleh atau memanfaatkannya diperlukan umur panjang dan sehat. Dimensi umur panjang dan sehat ini, dalam pembangunan manusia diproksi dengan indikator angka harapan hidup saat lahir (AHH). AHH sendiri adalah rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang selama hidup. Dengan demikian, AHH juga dapat menggambarkan derajat kesehatan yang telah dicapai oleh seseorang atau masyarakat. Semakin tinggi derajat kesehatannya, maka kesempatan untuk bertahan hidup akan semakin besar. Sebaliknya, tingkat kesehatan yang buruk akan cenderung memperpendek usia hidup. Capaian Banten untuk bidang kesehatan dalam tiga tahun terakhir telah menunjukkan adanya perbaikan. Kondisi ini terlihat dari terus meningkatnya Angka harapan hidup (AHH) hingga mencapai 69 tahun lebih 5 bulan pada tahun
2016.Selain itu, angka kesakitan yang diukur dengan persentase penduduk yang mengalami keluhan kesehatan menurun hingga menjadi 28,30 persen. Sayangnya, rata-rata 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA 233 273 411 243 273 406 lama sakit dari penduduk yang mengalami keluhan kesehatan justru meningkat dari sekitar 5 hari menjadi 6 hari. Tabel 2.4 Angka Harapan Hidup Menurut Kabupaten/Kota di Banten 2010 - 2016 Kabupaten/Kota 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Kab Pandeglang 62,26 62,46 62,66 62,83 62,91 63,51 63,77 Kab Lebak 65,49 65,63 65,74 65,83 65,88 66,28 66,43 Kab Tangerang 68,79 68,86 68,92 68,96 68,98 69,28 69,37 Kab Serang 62,56 62,75 62,90 63,03 63,09 63,59 63,81 Kota Tangerang 71,07 71,08 71,09 71,09 71,09 71,29 71,34 Kota Cilegon 65,72 65,78 65,84 65,84 65,85 66,15 66,24 Kota Serang 67,20 67,22 67,23 67,23 67,23 67,33 67,36 Kota Tangerang Selatan 72,04 72,07 72,09 72,10 72,11 72,12 72,14 Banten 68,50 68,68 68,86 69,04 69,13 69,43 69,46 Sumber: BPS Banten (2017), www.bpsbanten.go.id Angka harapan hidup menurut kabupaten/kota di Banten menunjukkan bahwa capaian pembangunan kesehatan beberapa masih belum optimal dari 2010 - 2016, karena capaiannya berada di bawah rata-rata Banten. Adapun daerah tersebut adalah Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, Kota Serang, dan Kota Cilegon. Pada 2016, angka harapan hidup yang paling tinggi adalah Kota Tangerang Selatan dan Kota Tangerang, yakni masing-masing 71,14 dan 71,34 tahun. 2.4.2 Fasilitas dan Tenaga Kesehatan Adanya perbaikan capaian dalam bidang kesehatan disebabkan oleh bertambahnya pemahaman penduduk akan arti penting kesehatan. Kondisi ini dapat diketahui dengan melihat bahwa klinik/praktik dokter/bidan serta puskemas/pustu masih menjadi tempat berobat jalan utama bagi penduduk yang mengalami keluhan kesehatan. Tabel 2.5 Jumlah Rumah Sakit Menurut Kab./Kota se Provinsi Banten Tahun 2013 – 2016 No Kabupaten / Kota Jumlah Rumah Sakit 2013 2014 2015 2016 1 Pandeglang 1 1 2 2 2 Lebak 3 3 3 3 3 Tangerang 18 20 20 22 4 Serang 2 2 3 3 5 Tangerang 20 29 29 32 6 Cilegon 5 5 6 6 7 Serang 6 6 6 8 8 Tangerang Selatan 23 27 28 29 Jumlah 78 93 97 105 Sumber : SIPD Provinsi Banten (2016), Banten Dalam Angka (2017) Tingginya pemahaman penduduk Banten akan arti penting kesehatan, terutama karena mereka sering berinteraksi dengan petugas kesehatan dan difasilitasi oleh berbagai sarana kesehatan yang semakin bertambah banyak. Tercatat, jumlah sarana kesehatan berupa rumah sakit dan puskesmas pada tahun 2016 masing-masing sebanyak 95 unit dan 233 unit. Kedua sarana kesehatan tersebut secara total didukung oleh 4.760 dokter umum, dokter gigi dan dokter spesialis, serta 5.404 bidan dan 8.973 perawat. Tabel 2.6 Data Puskesmas, Pustu, Poskesdes, Posyandu, Klinik Swasta Tahun 2016 NO KAB/KOTA PEMERINTAH SWASTA MASYARAKAT Puskes mas Pustu Klinik Swsta Poskes des Posyandu Poskestren 1 Kab Lebak 42 69 35 63 1.958 16 2 Kab Pandeglang 36 57 24 37 1.795 17 3 Kab Serang 31 49 91 34 1.529 33 4 Kab Tangerang 44 48 396 55 2.160 23 5 Kota Cilegon 8 10 64 15 368 5 6 Kota Serang 16 13 79 17 610 15 7 Kota Tangerang 33 6 54 1.076 1 8 Kota Tangerang Selatan 26 14 215 20 821 2 BANTEN 236 266 958 241 10.317 112 Sumber : SIPD Provinsi Banten (2016), Banten Dalam Angka (2017) Dalam RPJMD Provinsi Banten Tahun 2017-2022, menyebutkan bahwa masih terdapat ketimpangan Aksesibilitas Kesehatan. Ketersediaan rumah sakit dibandingkan dengan jumlah penduduk jumlahnya sangat kecil pada Kabupaten Tangerang dan Serang dibandingkan rata-rata ketersediaan rumah sakit di propinsi Banten. Khususnya di Kabupaten Tangerang kebutuhan puskesmas tiap 100.000 penduduk masih perlu ditingkatkan. Tabel 2.7 Fasilitas Kesehatan Provinsi Banten Tahun 2015 Kabupaten/ Kota Rumah Sakit Puskesmas Jumlah Penduduk Rasio Jumlah Penduduk - Jumlah Rumah Sakit Rasio Puskesmas per 100.000 Penduduk Kabupaten Pandeglang 2 36 1.194.911 597.456 3,01 Lebak 18 42 1.269.812 70.545 3,31 Tangerang 3 43 3.370.594 1.123.531 1,28 Serang 1 31 1.474.301 1.474.301 2,10 Sumber: SIPD Banten (2016) Selain jumlah prasarana kesehatan per 1000 penduduk, indikator ketertinggalan dari Kabupaten Lebak dan Pandeglang juga pada indikator Jumlah Tenaga Kesehatan Provinsi Banten. Berikut ini data jumlah tenaga kesehatan di Provinsi Banten. Tabel 2.8 Tabel Jumlah Tenaga Kesehatan Provinsi Banten Kabupaten/Kota Tenaga Kesehatan Tenaga Medical Tenaga Keperawatan Tenaga Kebidanan Tenaga Kefarmasian Tenaga Kesehatan Lainnya Kabupaten Pandeglang 17 57 58 3 81 Lebak 95 555 860 33 77 Tangerang 97 219 146 17 93 Serang 192 411 684 47 56 Kota Tangerang 199 291 168 65 107 Cilegon 22 144 112 10 36 Serang 57 186 307 27 32 Tangerang Selatan 240 366 278 66 496 Provinsi Banten 919 2 229 2 613 268 978 Sumber: Banten Dalam Angka (2017) 2.5 Aspek Ekonomi Perekonomian Banten selama 2016 menghadapi tekanan yang cukup berat. Tekanan tersebut bersumber dari sisi eksternal, yakni adanya ketidakpastian ekonomi global, meskipun telah mulai ke arah yang stabil. Hal ini ditandai dengan naiknya ekspor dari US $ 9,05 miliar pada 2015 menjadi US $ 9,33 miliar pada 2016. Sementara disisi lain, impor luar negeri mengalami penurunan US $ 1,33 miliar, hingga menjadi US $ 8,52 miliar, akibatnya neraca perdagangan Banten mengalami surplus US $ 805 juta (BPS Banten, 2016). Sumber tekanan lain adalah pemangkasan anggaran belanja oleh Kota Tangerang 20 32 2.047.105 102.355 1,56 Cilegon 5 8 412.106 82.421 1,94 Serang 6 16 643.205 107.201 2,49 Tangerang Selatan 23 25 1.543.209 67.096 1,62 Provinsi Banten 78 233 11.955.243 153.272 1,95 pemerintah pusat hingga mencapai Rp 133,8 triliun, akibatnya memperlambat pertumbuhan ekonomi. Namun disatu sisi, terdapat peluang perbaikan kondisi ekonomi dengan meingkatnya realisasi PMA selama 2016. BKPM mencatat bahwa PMA di Banten mengalami peningkatan dari US $ 2,54 miliar menjadi US $ 2,91 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan PMDN juga mengalami peningkatan dari Rp 10,71 triliun menjadi Rp 12,43 triliun. 2.5.1 Pertumbuhan Ekonomi Perekonomian Banten selama tahun 2016 ini menghadapi tekanan yang cukup berat, terutama akibat masih adanya ketidakpastian kondisi ekonomi global. Beruntung, sejak Semester II, kondisinya mulai stabil dan bagi negara-negara mitra dagang utama Banten, malahan cenderung untuk membaik. Akibatnya, meskipun ekonomi Banten tumbuh melambat, namun angkanya masih berada pada level 5,26 persen. Bahkan, angka pertumbuhan ini masih di atas Nasional yang tumbuh hanya 5,02 persen. Oleh karena itu, share ekonomi Banten terhadap Nasional bertambah menjadi 4,16 persen. Sumber: Statistik Daerah Banten (2017) Gambar 2.7 LPE dan Share PDRB Banten (persen) Perlambatan pertumbuhan ekonomi Banten tahun 2016 itu, secara spasial disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan ekonomi pada hampir semua kabupaten/kota 4,06 4,15 4,16 5,51 5,40 5,26 1,1 1,6 2,1 2,6 3,1 3,6 4,1 4,6 5,1 5,6 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 4,5 5 5,5 2014 2015 2016 Share to Nasional LPE yang ada. Dalam hal ini, terutama adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang. Kondisi yang demikian dapat terjadi karena share keduanya dalam perekonomian Banten sangat dominan, yakni mencapai 47,32 persen. Sumber: Statistik Daerah Banten (2017) Gambar 2.8 LPE Kabupaten/Kota dan Share to Banten 2016 Sementara itu membaiknya kondisi ekonomi global pada Semester I-2017, jadi pendorong naiknya ekspor Banten, Hanya saja, impor juga meningkat dengan besaran yang lebih tinggi, sehingga mengurangi surplus perdagangan luar negeri Banten. Beruntung, permintaan domestik dan nasional masih menguat, sehingga ekonomi Banten mampu tumbuh 5,73 persen. Bahkan, angka pertumbuhan ini menjadi yang tertinggi dibandingkan periode yang sama tahun-tahun sebelumnya. Disamping itu, juga lebih cepat dari angka pertumbuhan Nasional yang hanya sebesar 5,01 persen. Tabel 2.9 Indikator PDRB Banten Semester I-2017 Menurut Lapangan Usaha (persen) Lapangan Usaha Share LPE Kontribusi Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 6,40 11,54 0,66 Industri Pengolahan 32,33 4,11 1,48 Konstruksi 9,91 6,41 0,58 Perdagangan Besar, Eceran, dan Reparasi Mobil – Motor 12,17 5,57 0,74 Transportasi dan Pergudangan 10,45 7,12 0,46 Informasi dan Komunikasi 3,69 8,06 0,45 Real Estate 7,39 6,93 0,57 Jasa Pendidikan 3,22 6,53 0,19 Lainnya 14,14 4,71 0,60 PDRB 100 5,73 5,73 Sumber: Statistik Daerah Banten (2017) 4,28 4,35 21,06 11,82 26,26 15,90 4,62 11,72 5,49 5,70 5,32 5,00 5,30 5,05 6,22 6,98 5,26 -0,80 0,20 1,20 2,20 3,20 4,20 5,20 6,20 7,20 0 5 10 15 20 25 30 Share to Banten LPE Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Banten 2016 dari sisi supply mencerminkan besaran nilai tambah bruto yang tercipta sebagai akibat proses produksi barang dan jasa yang dilakukan oleh berbagai unit produksi yang ada di suatu wilayah. Dalam jangka pendek, supply ada untuk memenuhi demand. Oleh karena itu, PDRB dari sisi demand adalah jumlah permintaan akhir yang dilakukan oleh berbagai pelaku ekonomi yang ada di suatu wilayah. Bila supply berlebih, kelebihannya itu digunakan untuk memenuhi permintaan luar daerah/luar negeri. Sebaliknya bila kurang, akan dipenuhi melalui impor antar daerah/luar negeri. Pertumbuhan ekonomi Banten sendiri pada Semester I- 2017 yang mencapai 5,73 persen, dari sisi supply, terutama didukung oleh pertumbuhan pada lapangan usaha industri pengolahan dan lapangan usaha perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-motor. Kedua lapangan usaha ini masing- masing memberikan andil 1,48 persen poin dan 0,74 persen poin. Tabel 2.10 Indikator PDRB Banten Semester I-2017 Menurut Pengeluaran (persen) Komponen Pengeluaran Share LPE Kontribusi Konsumsi Rumah Tangga 53,15 5,37 3,14 Pengeluaran Pemerintah 3,57 2,74 0,10 PMTB 30,25 10,38 3,02 Ekspor Netto 13,03 -6,00 -0,53 - Ekspor 75,78 10,62 8,42 - Impor 62,75 12,71 8,95 PDRB 100 5,73 5,73 Sumber: Statistik Daerah Banten (2017) Adapun dari sisi demand, didorong oleh tumbuhnya komponen konsumsi rumahtangga domestik dan komponen penambahan modal tetap bruto (PMTB), dengan andil sebesar 3,14 persen poin dan 3,02 persen poin. Sementara struktur ekonomi Banten sendiri, dari sisi supply didominasi oleh lapangan usaha industri pengolahan dan lapangan usaha perdagangan besar-eceran dan reparasi mobilmotor, dengan sumbangan atau kontribusi masing-masing sebesar 32,33 persen dan 12,17 persen. Adapun dari sisi demand, komponen konsumsi rumahtangga dan komponen PMTB berperan besar dalam pembentukan PDRB Banten, dengan share mencapai 53,15 persen dan 30,25 persen. 2.5.2 Kemiskinan dan Ketimpangan Pembangunan Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Dengan pendekatan ini, dapat dihitung Headcount Index, yaitu persentase penduduk miskin terhadap total penduduk. Program pengentasan kemiskinan di Banten selama setahun terakhir ini, dapat dikatakan belum berhasil. Penilaian tersebut didasarkan kepada jumlah dan persentase penduduk miskin yang meningkat, seiring dengan naiknya garis kemiskinan. Jumlah dan persentase penduduk miskin sendiri pada Maret 2017 masing-masing mencapai 675 ribu orang dan 5,45 persen, sedangkan garis kemiskinannya sekitar 389 ribu rupiah per kapita sebulan. Sumber: Analisis Data Kemiskinan Banten (BPS Banten, 2017) Gambar 2.9 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Banten Maret 2011 – September 2017 Selain karena jumlah dan persentase penduduk miskin yang meningkat, indeks kedalaman dan indeks keparahan kemiskinan juga semakin membesar. Berarti, pengeluaran penduduk miskin Banten secara rata-rata memang meningkat, namun peningkatannya masih di bawah kenaikan garis kemiskinan. Imbasnya, rata-rata pengeluaran penduduk miskin semakin menjauhi garis kemiskinan. Adapun tingkat ketimpangan pengeluaran antar sesama penduduk miskin, semakin melebar. Dengan demikian, pengentasan kemiskinan 667,69 689,22 651,45 642,88 652,36 677,51 622,84 649,19 702,40 690,67 658,11 657,74 675,04 699,83 6,32 6,26 5,85 5,71 5,74 5,89 5,35 5,51 5,90 5,75 5,42 5,36 5,45 5,59 2,8 3,3 3,8 4,3 4,8 5,3 5,8 6,3 6,8 500 550 600 650 700 750 800 Persen Ribuan Orang Jumlah % ke depannya akan lebih sulit untuk dilakukan, karena pemerintah harus menyusun program intervensi yang lebih tersebar dan dengan biaya yang lebih mahal. Sumber: Analisis Data Kemiskinan Banten (BPS Banten, 2017) Gambar 2.10 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Kabupaten/Kota di Banten September 2017 Belum berhasilnya program pengentasan kemiskinan yang dilaksanakan, sepertinya karena programnya masih bersifat parsial dan urban sentris. Akibatnya, insiden kemiskinan terbanyak secara historis selalu terdapat di Kabupaten Lebak dan Kabupaten Pandeglang, yang merupakan daerah sentra pertanian Banten. Oleh karena itu, Untuk mempercepat penurunan angka kemiskinan, dibutuhkan program yang terintegrasi dan lintas sektor, termasuk dengan melibatkan secara penuh berbagai pemangku kepentingan di bidang pertanian dalam program tersebut. Salah satu penyebab meningkatnya kemiskinan di Banten adalah ketimbangan pendapatan sumber daya menusia yang masih rendah. Ketimpangan pendapatan dan pembangunan antar wilayah di Banten masih tinggi. Ketimpangan pendapatan antar penduduk diukur dengan indeks gini dan ketimpangan pembangunan antar wilayah diukur dengan indeks Williamson. 131,31 111,08 191,62 69,1 105,34 14,89 36,97 28,73 9,74 8,64 5,39 4,63 4,95 3,52 5,57 1,76 0 2 4 6 8 10 12 0 50 100 150 200 250 Persen Ribuan Orang Jumlah Penduduk Miskin Persentase Sumber: Banten Dalam Angka (2017), data diolah Gambar 2.11 Gini Ratio dan Perkembangannya di Banten Maret 2011 - September 2017 Gambar di atas menjelaskan bahwa angka ketimpangan pendapatan berkembang secara fluktuatif, namun jika dilihat dari trennya, maka ada kecenderungan meningkat secara lambat. Artinya ketimpangan pendapatan antar golongan penduduk di Banten semakin besar. Meskipun Gini Ratio Banten pada September 2017 sebesar 0,379 lebih kecil 0,003 dibandingkan dengan Maret 2017 sebesar 0,383. Hal ini menunjukkan pada 2017 telah terjadi perbaikan pemerataan pendapatan penduduk Banten khususnya pada periode Maret - September 2017. Sedangkan ketimpangan pembangunan antar wilayah di Banten dengan menggunakan Indeks Williamson dalam kurun waktu 2012 – 2016 yang dihitung berdasarkan angka PDRB kabupaten/kota atas dasar harga yang berlaku menunjukkan ketimpangan antar wilayah dalam kategori tinggi karena rata- rata lebih dari 0,5 (IW > 0,50) karena nilai rata-rata IW dalam kurun waktu tersebut 0,775 > 0,50. Berikut ini disajikan perkembangan IW Banten, yaitu: 0,404 0,394 0,387 0,384 0,399 0,380 0,395 0,424 0,401 0,386 0,394 0,392 0,383 0,379 -3,58% -2,48% -1,78% -0,78% 3,91% -4,76% 3,95% 7,34% -5,42% -3,74% 2,07% -0,51% -2,30% -1,04% -0,08 -0,06 -0,04 -0,02 0,00 0,02 0,04 0,06 0,08 -0,2 -0,1 0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 Mar-11 Agust-11 Jan-12Jun-12Nop-12Apr-13Sep-13Feb-14 Jul-14 Des-14Mei-15Okt-15Mar-16 Agust-16 Jan-17Jun-17 PerkembanganNilai Gini Ratio Indeks Gini Growth Linear (Growth) Sumber: Analisis Sosial Ekonomi Banten (BPS Banten, 2016) Gambar 2.12 Indeks Wiliiamson Banten 2012 - 2016 Ketimpangan antar wilayah yang masih tinggi disebabkan oleh pembangunan dan karakteristik daerah di Banten yang belum merata. Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan merupakan wilayah bagian utara Banten dan menjadi daerah hinterland DKI Jakarta. Ketiga daerah ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas infrastruktur yang memadai, sehingga menjadi daya tarik bagi investor besar. Oleh karena itu, ketiga daerah ini menjadi daerah yang paling maju di wilayah Banten. Sementara itu, di bagian selatan Banten seperti Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak adalah wilayah yang termasuk dalam kategori daerah tertinggal. Fasilitas infrastrukturnya terutama jalan, jembatan, angkutan umum sangat minim, sehingga kurang menjadi daya tarik investor besar. Akibatnya, kedua daerah ini lambat perkembangannya dan memicu ketimpangan antar wilayah di Banten. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi ketimpangan antar wilayah adalah dengan memberikan insentif bagi investor yang tertarik untuk investasi di bagian selatan Banten, melakukan konservasi dan pengembangan kegiatan pertanian, serta pariwisata. Cara lain adalah memberikan dana block grant yang besar sebagai kompensasi kepada daerah selatan ini atas kerugian pembatasan yang diterapkan di wilayah ini. 0,774 0,776 0,779 0,777 0,769 Nilai Indeks Williamson 2012 2013 2014 2015 2016 Rata-Rata IW 2012-2016 = 0,775 2.5.3 Pertanian Sebagai produsen beras terbesar kesebelas di Indonesia, padi menjadi tanaman yang telah ditanam di seluruh wilayah Banten, akan tetapi, sentra produksinya hanya terletak pada empat wilayah kebupaten, yaitu Pandeglang, Lebak, Serang, dan Tangerang. Produksi padi Banten sendiri pada tahun 2016 mencapai 2,36 juta ton gabah kering giling (GKG), atau naik 0,17 juta ton GKG dibandingkan tahun 2015. Kenaikan produksi padi ini disebabkan oleh luas panen yang bertambah dan produktivitas yang meningkat. Luas panen bertambah karena adanya perbaikan pada jaringan irigasi tersier, pembuatan embung, program pompanisasi dan gerakan percepatan tanam padi. Adapun produktivitas tanaman yang meningkat, selain dipengaruhi kondisi iklim, juga disebabkan oleh penerapan sistem penanaman jajar legowo serta penggunaan bibit unggul bersertifikat dan pupuk bantuan pemerintah, yang disalurkan melalui program upaya khusus. Seperti padi, tanaman palawija juga ditanam di seluruh wilayah Banten, dengan sentra produksi terutama di Kabupaten Serang dan Pandeglang. Peningkatan/penurunan produksi tanaman ini pada umumnya disebabkan oleh penambahan/pengurangan luas panen dan produktivitas. Produksi tanaman palawija terbanyak dipegang oleh tanaman ubi kayu, sedangkan yang paling sedikit adalah tanaman kacang hijau. Adapun produktivitas tanaman tertinggi dan terendah, juga dipegang oleh keduanya, dengan tingkat produktivitas masingmasing sebanyak 202,5 kw/ha dan 8,1 kw/ha. 2.6 Aspek Sarana dan Prasarana 2.6.1 Jumlah Desa Dengan Jalan Yang Diperkeras Layanan urusan Pekerjaan Umum dan Perhubungan meliputi layanan moda transportasi darat, laut dan udara. Pada tahun 2016, dari 757,375 km jalan provinsi di Provinsi Banten, sepanjang 420,48 km dalam kondisi baik (55,52%), kemudian 177,69 km dalam kondisi sedang (23,46), 75,58 km dalam kondisi rusak ringan (9,98%) dan 83,62 km dalam kondisi rusak berat (11,04%). Jumlah kendaraan bermotor yang terdapat di Provinsi Banten antara lain 506.164 mobil penumpang, 7.516 bus, 152.492 truk, dan 3.933.257 sepeda motor. Penumpang domestik yang menggunakan transportasi udara pada tahun 2015 adalah sebanyak 20.802.860 orang datang dan 19.151.202 orang pergi dari bandara Soekarno-Hatta. Selain itu, tercatat juga sebanyak 1.935.806 orang transit di bandara ini. Sedangkan untuk penumpang internasional tercatat 5.997.582 orang datang, 6.354.944 orang berangkat dan 48.972 orang transit di Bandara Soekarno-Hatta pada tahun 2015. Jumlah kendaraan bermotor yang terdapat di Provinsi Banten antara lain 506.164 mobil penumpang, 7.516 bus, 152.492 truk, dan 3.933.257 sepeda motor. Tabel 2.12 Banyaknya Desa/Kelurahan Yang Menggunakan Prasarana Transportasi Darat Menurut Jenis Permukaan Jalan Terluas No Kabupaten/Kota Aspal Diperkeras Tanah Lainnya Kabupaten 1 Pandeglang 192 131 16 - 2 Lebak 171 165 3 1 3 Tangerang 261 12 1 - 4 Serang 254 68 4 - Kota 1 Tangerang 103 1 - - 2 Cilegon 43 - - - 3 Serang 60 6 - - 4 TangerangSelatan 54 - - - Jumlah 1138 383 24 1 Sumber : SIPD Provinsi Banten Secara umum kondisi infrastruktur jalan di Banten sebagai media utama untuk transportasi dan akses masyarakat ke berbagai tujuan pada 2016 dapat digambarkan bahwa kondisi jalan yang masuk kategori baik adalah sebesar 55,52%. Sedangkan sisanya yakni masuk kategori rusak sedang sebesar 23,46%, rusak ringan sebesar 9,98%, dan rusak berat adalah sebesar 11,04%. S u m b e r : S 55,52 23,46 9.98 11.04 Baik Sedang Rusak Ringan Rusak Berat IPD Provinsi Banten Gambar 2.7 Persentase Kondisi Jalan Provinsi Banten Hubungan kebutuhan infrastruktur pada masyarakat bisa diukur dengan rasio panjang jalan dengan jumlah penduduk. Sementara rasio panjang jalan dengan jumlah penduduk diperoleh dengan membagi jumlah penduduk (ribu jiwa) suatu wilayah dengan panjang jalan (km). Rasio ini memiliki arti 1 km jalan di wilayah tersebut berbanding dengan akses untuk melayani sejumlah ribu jiwa penduduk. Tabel 2.13 Rasio Panjang Jalan dengan jumlah Penduduk (ribu jiwa/km) 2016 No Kabupaten/Kota Panjang Jalan (km) Jumlah Penduduk Rasio Panjang Jalan dengan jumlah Penduduk (ribu jiwa/km) Kabupaten 1 Pandeglang 283,34 1.194.911,00 4,22 2 Lebak 404,72 1.269.812,00 3,14 3 Tangerang 123,3 3.370.594,00 27,34 4 Serang 299,23 1.474.301,00 4,93 Kota 1 Tangerang 36,77 2.047.105,00 55,67 2 Cilegon 26,89 412.106,00 15,33 3 Serang 142,37 643.205,00 4,52 4 Tangerang Selatan 57,76 1.543.209,00 26,72 Jumlah 1.329,38 11.955.243,00 8,99 Sumber: SIPD Propinsi Banten Di Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan jumlah penduduk yang per kilometer panjang jalan cukup tinggi, sehingga menimbulkan kepadatan dijalan. Di wilayah ini perlu ditingkatkan layanan panjang jalan untuk bisa menopang potensi ekomoni wilayah yang memadai.
2.Kurangnya Konektivitas Infrastruktur Kewilayahan dan Antar Wilayah. Rasio panjang jalan terhadap luas wilayah masih dibawah 20 persen pada semua kabupaten di wilayah Propinsi Banten, berikut tabel rasio panjang jalan terhadap luas wilayah. 2.7.2 Presentase Keluarga Pengguna Air Bersih Air minum bersih sendiri didefinisikan sebagai air yang bersumber dari air kemasan, air isi ulang dan air ledeng. Termasuk juga air minum bersih adalah air dari sumur bor/ pompa, sumur terlindung dan mata air terlindung, yang jarak ke tempat penampungan kotoran tinja minimal 10 meter. Sementara itu sumber air minum bersih dan sanitasi layak merupakan salah satu fasilitas perumahan yang berperan penting dalam kehidupan sehari-hari. Namun keberadaan keduanya ternyata masih menjadi masalah yang kronis bagi sebagian penduduk Banten. Tercatat, sampai tahun 2016 ini masih ada sekitar tiga dari sepuluh rumahtangga yang belum mempunyai akses terhadap kedua fasilitas perumahan tersebut. Bahkan untuk sumber air minum bersih, persentase rumah tangga yang mampu mengaksesnya justru menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Persetase rumah tangga yang menggunakan air minum bersih pada 2016 adalah 68,78% atau menurun tahun sebelumnya. Selain itu, persentasenya juga lebih rendah dari rata-rata Nasional yang mencapai 70,63 persen. Jika dilihat dari persediaan air minum menurut kabupaten/kota Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak yang paling sedikit air kemasan dan air ledeng, Masyarakat di kedua kabupaten ini masih mengandalkan air sumur dan lainnya hingga di atas 50% pada tahun 2013 dan 2014. Tabel 2.14 Jenis Air Bersih yang digunakan Tahun 2013-2014 Kabupaten/Kot a PERSENTASE AIR BERSIH YANG DIGUNAKAN Air kemasan Ledeng Pompa Sumur Lainnya Jumlah 2013 2014 2013 2014 2013 2014 2013 2014 2013 2014 2013 2014 Kab Pandeglang 9.59 13.32 4.17 4.81 9.14 12.08 43.42 41.94 77.09 27.84 100 100 Kab Lebak 9.27 11.43 4.46 2.77 12.23 12.30 48.34 47.90 74.05 25.60 100 100 Kab Tangerang 58.65 60.48 3.09 6.77 28.26 26.24 9.87 6.51 9.99 0 100 100 Kab Serang 42.62 42.38 6.54 5.15 24.73 24.27 18.09 15 26.11 13.20 100 100 Kota Tangerang 68.25 73.92 8.67 5.17 22.24 20.38 0.30 0 0.85 0.53 100 100 Kota Cilegon 75.01 78.78 1.65 1.42 19.43 16.96 2.98 2.12 3.90 0.72 100 100 Kota Serang 47.01 53.51 1.21 3 38.07 30.40 10.82 10.43 13.71 2.67 100 100 Kota Tangerang Selatan 51.37 53.06 1.99 1.19 42.78 44.40 3.87 1.13 3.87 0.23 100 100 Provinsi Banten 46.89 49.82 4.52 4.54 24.95 24.18 15.97 13.91 23.63 7.55 100 100 Sumber SIPD Provinsi Banten Ketersediaan sanitasi yang layak merupakan bagian yang sangat penting dalam upaya peningkatan kesehatan diri dan lingkungan. Fasilitas rumah tinggal yang berkaitan dengan hal ini adalah ketersediaan tempat buang air besar sendiri. Selain itu, ada pula akses terhadap sanitasi layak, yang didefinisikan sebagai rumahtangga yang memiliki fasilitas buang air besar sendiri dan bersama, menggunakan kloset leher angsa, dan menggunakan tangki septik sebagai tempat pembuangan akhir kotoran atau tinja. Tabel 2.15 Persentase Rumahtangga Menurut Beberapa Fasilitas Perumahan dan Daerah Tempat Tinggal, Tahun 2015-2016 Fasilitas Perumahan 2015 2016 Air Kemasan, Air Isi Ulang, dan Ledeng (%) 51,50 51,52 Air Minum Layak (%) 69,35 68,78 Tempat Air Bersih (%) 75,00 78,63 Sanitasi Layak (%) 67,04 73,42 Penerangan Listrik (%) 99,74 99,73 Sumber: Indikator Sosial Ekonomi (BPS Banten, 2017) Berdasarkan hasil Susenas (Tabel 2.15), terlihat bahwa sebagian besar rumahtangga di Banten sudah memiliki kesadaran terhadap kebersihan dan kesehatan diri dan lingkungannya. Hal ini terlihat dari tingginya persentase rumahtangga yang menggunakan fasilitas tempat buang air besar sendiri dan yang memiliki akses terhadap sanitasi yang layak. Bahkan, persentasenya juga lebih tinggi dibandingkan Indonesia yang pada tahun 2016 masing-masing hanya sebesar 69,04 persen dan 67,80 persen. Tabel 2.16 Penggunaan Sanitasi Rumah Tangga Tahun 2013-2014 Kabupaten/Kota Rumah Tangga dalam Penggunaan Sanitasi Sendiri Bersama Umum Tidak Ada Jumlah 2013 2014 2013 2014 2013 2014 2013 2014 2013 2014 Kab Pandeglang 46.92 51.60 4.94 4.51 4.24 2.47 43.90 41.43 100 100 Kab Lebak 50.38 52.92 4.35 6.74 2.06 1.56 43.21 38.79 100 100 Kab Tangerang 69.84 71.27 11.83 10.18 2.49 2.61 15.83 15.94 100 100 Kab Serang 48.56 56.38 6.64 7.44 3.06 0.74 41.74 35.43 100 100 Kota Tangerang 83.36 86.11 14.05 11.88 1.95 1.61 0.65 0.39 100 100 Kota Cilegon 87.87 90.04 6.87 3.76 0 0 5.26 6.19 100 100 Kota Serang 71.44 72.61 5.33 5.34 0.78 2.48 22.46 19.57 100 100 Kota Tangerang Selatan 94.29 96.77 4.71 2.92 0.50 0.31 0.50 0 100 100 Provinsi Banten 69.03 72.25 8.68 7.82 2.17 1.68 20.11 18.25 100 100 Sumber SIPD Provinsi Banten 2.7.3 Jumlah Pasar Tanpa Bangunan Salah satu indikator ketertinggalan di Provinsi Banten adalah jumlah pasar tanpa bangunan. Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak masih banyak mempunyai pasar yang tanpa bangunan permanen. Pasar tanpa bangunan adalah pasar yang tidak berada dalam bangunan, termasuk pasar terapung. Berikut data jumlah desa yang mempunyai pasar di Banten. Tabel 2.17 Jumlah Desa Yang Mempunyai Pasar di Banten No Kabupaten/Kota Pasar Bangunan Permanen Pasar Tanpa Bangunan Permanen Kabupaten 1 Pandeglang 32 9 2 Lebak 43 27 3 Tangerang 59 213 4 Serang 47 69 Kota 5 Tangerang 34 68 6 Cilegon 5 3 7 Serang 7 4 8 Tangerang Selatan 18 45 Sumber : SPID Provinsi Banten 2.8 Budaya dan Pariwisata Dalam RPJMD Provinsi Banten Tahun 2017-2022 menyebutkan bahwa salah satu sektor yang dapat diandalkan sebagai sumber devisa adalah sektor Pariwisata. Banten merupakan salah satu provinsi yang berpotensi untuk menjadi daerah utama tujuan wisata karena memiliki beragam obyek dan daya tarik wisata terutama wisata pantai, alam dan budaya serta ditunjang oleh sarana dan prasarana akomodasi yang memadai. Kegiatan pariwisata di Banten cukup potensial untuk menunjang pendapatan dan pembangunan daerah. Dengan mempunyai garis pantai yang panjang, Provinsi Banten mempunyai potensi wisata pantai dan laut yang dapat dikembangkan dengan berbagai jenis objek wisata. Provinsi Banten juga mempunyai banyak situs bersejarah, terutama situs dan peninggalan sejarah Islam di Indonesia. Pada tahun 2015 terdapat 311 hotel (berbintang dan nonbintang) di Provinsi Banten yang menyediakan 10.681 kamar dan 16.057 tempat tidur. Hotel tersebut digunakan oleh tamu asing maupun tamu domestik dengan rata- rata lama menginap selama 2,03 hari untuk tamu asing dan 1,70 hari untuk tamu domestik. Sementara itu, tingkat penghunian kamar hotel selama tahun 2015 adalah 52,87 persen untuk hotel berbintang dan 36,83 persen untuk hotel nonbintang. Tabel 2.18 Statistik Perhotelan di Provinsi Banten Tahun 2010- 2014 3 Sumber : SIPD Provinsi Banten Pada tahun 2015, di Provinsi Banten terdapat 138 lokasi wisata tirta, 86 wisata marina pantai, 79 wisata sejarah, 6 suaka alam dan 147 wisata lainnya. Selain itu terdapat 4 museum, 26 situs purbakala, 120 bangunan bersejarah dan 232 makam sejarah. Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Pariwisata, sepanjang tahun 2015 terdapat 14.243.949 wisatawan yang mengunjungi lokasi wisata di Provinsi Banten, yang terdiri dari 14.118.787 wisatawan nusantara dan 125.162 wisatawan mancanegara. Tabel 2.19 Jumlah Wisatawan Nusantara dan Wisatawan Mancanegara Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Banten (orang), 2015 No Kabupaten/Kota Wisatawan Nusantara Wisatawan Mancanegara Jumlah 1 Kab Pandeglang 3 146 761 4 139 3 150 900 2 Kab Lebak 54 724 193 54 917 3 Kab Tangerang 51 461 29 163 80 624 4 Kab Serang 10 063 535 - 10 063 535 5 Kota Tangerang 237 263 27 697 264 960 6 Kota Cilegon 103 263 39 598 143 265 7 Kota Seraang 205 423 490 205 913 8 Kota Tangerang Selatan 255 953 23 882 279 835 Banten 14 118 787 125 162 14 243 949 Sumber : SIPD Provinsi Banten Tabel 2.20 Jumlah Objek Wisata Menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Wisata di Provinsi Banten, 2015 No Kabupaten/Kota Wisatawan Marina Pantai Wisata Sejarah Suaka Alam Objek Wisata Lainnya Jumlah 1 Kab Pandeglang 19 20 2 47 88 2 Kab Lebak 11 16 1 18 46 3 Kab Tangerang 7 14 - 34 55 4 Kab Serang 36 3 2 37 78 5 Kota Tangerang - 9 - 3 12 6 Kota Cilegon 10 14 - 6 30 7 Kota Seraang 3 2 1 - 6 8 Kota Tangerang Selatan - 1 - 2 3 Banten 86 79 6 147 318 Sumber : SIPD Provinsi Banten Berdasarkan data jumlah data objek wisata menurut kabupaten/kota dan jenis wisata di Provinsi Banten, wilayah yang mempunyai objek wisata terbanyak adalah Kabupaten Pandeglang. Hal ini merupakan potensi yang baik untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Dukungan pemerintah dan partisipasi masyarakat diperlukan untuk menciptakan inovasi di sektor pariwisata dan budaya di Kabuapten Pandeglang, hal ini dalam rangka percepatan pembangunan daerah tertinggal. 2.9 Pertanian Berdasarkan RPJMD Provinsi Banten Tahun 2017-2022, Provinsi Banten merupakan salah satu lumbung pangan nasional. Tanaman pangan dan palawija merupakan salah satu bidang yang sangat strategis dan berkembang dengan baik. Komoditas utama tanaman pangan yang dikembangkan di Provinsi Banten terdiri dari padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar, dengan tingkat produksi sebagai berikut: Tabel 2.21 Produksi Tanaman Pangan di Provinsi Banten 2012 - 2016 (Ton) Jenis Tanaman Pangan 2015 2016 Padi - Luas Panen (000 hektar) 386,7 416,5 - Produksi (000 ton) 2189,0 2358,2 - Produktivitas (kw/ha) 56,61 56,63 Jagung - Luas Panen (000 hektar) 3,5 4,9 - Produksi (000 ton) 11,9 19,9 - Produktivitas (kw/ha) Kedelai - Luas Panen (000 hektar) 5,3 2,8 - Produksi (000 ton) 7,3 4,0 - Produktivitas (kw/ha) 3,7 14,1 Kacang Tanah - Luas Panen (000 hektar) 7,6 7,7 - Produksi (000 ton) 11,0 8,4 - Produktivitas (kw/ha) 14,5 10,9 Kacang Hijau - Luas Panen (000 hektar) 0,7 0,5 - Produksi (000 ton) 0,5 0,4 - Produktivitas (kw/ha) 8,0 8,1 Ubi Kayu - Luas Panen (000 hektar) 4,2 4,5 - Produksi (000 ton) 74,2 90,6 - Produktivitas (kw/ha) 202,5 177,6 Ubi Jalar - Luas Panen (000 hektar) 1,5 1,6 - Produksi (000 ton) 20,2 24,3 - Produktivitas (kw/ha) 132,3 156,2 Sumber : SIPD Provinsi Banten (2017), Banten Dalam Angka