b.Pintu Skot Balok Pintu skot balok (stoplog) adalah balok kayu yang dapat dipasang pada alur pintu/sponeng bangunan. Pintu ini berfungsi untuk mengatur muka air saluran pada ketinggian tertentu. Bila muka air lebih tinggi dari pintu skot balok, akan terjadi aliran di atas pintu skot balok tersebut.
c.Pintu Air Di Petakan Tambak Pintu air di petakan tambak terbuat dari konstruksi kayu atau beton. Pada bagian tengahnya mempunyai 3 alur sekat untuk meletakan saringan dengan ukuran kasar, sedang sampai halus, agar kotoran dan ikan liar dari luar tidak masuk ke dalam tambak sebaliknya ikan atau udang yang dipelihara di dalam tambak tidak keluar. Sketsa penempatan pintu sorong/klep/skot balok pada jaringan irigasi tambak sesuai fungsinya dapat dilihat pada Gambar 3. 11 Gambar 3 - Sketsa Jaringan dan Penempatan Bangunan Pintu 2.9.3. Bangunan Pengambil Air Asin Sistem pengambilan air asin dibangun sesuai dengan klasifikasi jaringan irigasi tambak (sederhana, semi teknis atau teknis). Bangunan utama pengambil air asin dari laut dapat terdiri dari bangunan pengambil dan saluran pemberi yang berupa saluran terbuka, saluran tertutup atau kombinasi saluran terbuka dan tertutup. Lokasi titik pengambilan air asin ditentukan dengan memperhatikan syarat-syarat sebagai berikut:
a.Salinitas atau kualitas harus cukup baik;
b.Air tidak keruh dan cukup bebas dari angkutan sedimen;
c.Bebas polusi dan sampah;
d.Keadaan geometri pantai dan unsur kelautan harus stabil;
e.Sebaiknya titik pengambilan tidak jauh dari jaringan irigasi tambak (saluran pemberi, kolam pencampur); dan
f.Efektif dan efisien. Sketsa bangunan pengaman intake pengambilan dapat dilihat pada Gambar 4. 12 Gambar 4 - Sketsa Bangunan Pengaman Pengambil Air Laut (Sumber : Subdit Perencanaan Teknis Direktorat Rawa & Pantai 2009 ) Pada lokasi tambak yang pengambilan dan pembuangan airnya sulit menggunakan sistem gravitasi, maka harus menggunakan pompa. Ada banyak sistem pemakaian pompa, ada pompa menggunakan talang dan ada pompa yang menggunakan pipa. Beberapa alternatif penempatan pompa di jaringan irigasi tambak antara lain dipasang di tanggul petak tambak (alternatif I), dipasang pada tanggul saluran tersier (alternatif II), dipasang pada tanggul saluran primer (alternatif III), dan ada yang dipasang di tepi muara sungai (alternatif IV). Yang perlu diperhatikan pada penempatan pompa adalah pencegahan akibat lelehan minyak (solar bensin dan oli) yang digunakan agar tidak mencemari air di saluran maupun di petakan tambak. Sketsa beberapa alternatif penempatan pompa digambarkan seperti Gambar 5. Gambar 5 - Sketsa Alternatif Penempatan Pompa (Sumber : Subdit Perencanaan Teknis Direktorat Rawa & Pantai 2009) 13 2.9.4 Bangunan Pengambil Air Tawar Air tawar diambil dari air permukaan (air sungai yang dipengaruhi pasang surut) atau air tanah. Bangunan utama pengambil air tawar didesain sesuai dengan standar dan peraturan yang berlaku. Bangunan pengambil air tawar dari permukaan dapat berupa: bendung tetap, bendung gerak, kombinasi bendung tetap dan bendung gerak, penyadap air bebas, air tanah dan air sungai atau waduk lapangan. 2.9.5 Tanggul Tanggul adalah timbunan tanah yang berfungsi sebagai penyekat dan penahan massa air pada setiap unit jaringan irigasi tambak. Tanggul dibedakan oleh ukuran dan fungsinya masing-masing sebagai berikut: 2.9.6 Bangunan Pelengkap
a.Kolam tando adalah kolam yang dilengkapi pintu untuk menampung air laut pada saat terjadi pasang, kemudian mengalirkannya ke saluran pemberi air asin pada saat diperlukan;
b.Kolam pengendap adalah kolam yang dibuat untuk mengendapkan angkutan sedimen dalam aliran sebelum air memasuki jaringan irigasi tambak;
c.Jeti (jetty), bangunan yang menjorok kelaut yang berfungsi sebagai pengendalian penutupan muara sungai atau saluran oleh sedimen;
d.Kolam pencampur adalah kolam yang digunakan untuk mencampur air tawar dengan air asin untuk dijadikan air payau buatan yang salinitasnya dapat diatur, dibangun pada jaringan irigasi semi teknis tambak dan jaringan irigasi teknis tambak. Penempatan bak pencampur tergantung kepada lingkungan tambak dan sistem salurannya. Sistem terpusat, pada saluran primer untuk satu areal tambak, atau sistem tersebar pada saluran sekunder yaitu dalam satu areal tambak terdapat beberapa kolam pencampur untuk memenuhi kebutuhan air payau tambak dengan jumlah petakan terbatas;
e.Peilskal (papan duga) dan Bench Mark (BM) adalah fasilitas yang harus ada dan harus dipelihara, selalu dalam keadaan baik pada jaringan irigasi tambak, untuk digunakan sebagai alat pemantauan pasang surut dan ketinggian air pada jaringan irigasi tambak. 2.10 Klasifikasi Jaringan Irigasi Tambak 2.10.1 Jaringan Irigasi Sederhana Tambak Jaringan irigasi sederhana tambak dibangun di lahan pasang surut, umumnya berupa rawa-rawa hutan bakau, atau rawa-rawa pasang surut bersemak dan rerumputan. Petakan tambak pada umumnya mempunyai saluran keliling (caren) yang lebarnya 5 m - 10 m di sepanjang keliling petakan sebelah dalam. Di bagian tengah juga dibuat caren dari sudut ke sudut (diagonal). Kedalaman caren 30 cm - 50 cm lebih dalam dari bagian sekitarnya yang disebut pelataran. Bagian pelataran hanya dapat berisi sedalam 30 cm - 40 cm saja. Di tengah petakan dibuat petakan yang lebih kecil dan dangkal untuk mengipuk (menyemaikan) nener (benih ikan bandeng) yang baru datang selama 1 bulan. 14
a.Saluran Pemberi dan Pembuang Saluran air berfungsi mengalirkan air dari sumber air tambak yang sudah berupa air payau. Pencampuran air tawar dan air asin terjadi secara alami di sungai, yaitu pada pertemuan air sungai dan air laut yang tercampur ketika terjadi pasang. Pada saat air pasang saluran berfungsi sebagai saluran pemberi sedangkan pada saat air surut berfungsi sebagai saluran pembuang. Saluran pada jaringan irigasi sederhana tambak hanya terdiri dari saluran dengan cabang-cabangnya yang belum teratur, baik bentuk maupun ukuran. Pengaliran air ke petak tambak dilakukan melalui saluran yang terdekat, petak tambak yang jauh dari saluran dilakukan dengan cara estafet dari petak ke petak. Sistem ini dikenal dengan sistem seri.
b.Pintu Air Pada jaringan irigasi sederhana tambak belum dilengkapi dengan pintu. Pintu dipasang dipetak tambak yang berfungsi sebagai perlintasan air untuk masuk dan keluar tambak. Letak pintu belum teratur dan belum dapat mengatur kebutuhan air, satu pintu digunakan untuk beberapa petakan tambak.
c.Bangunan Pengambil Pada jaringan irigasi sederhana tambak tidak ada bangunan pengambil air tawar dan air asin, pengambilan air berupa sodetan di tepi sungai untuk memasukan air payau pada saat pasang dan keluar pada saat air surut.
d.Petakan Tambak Petakan tambak pada umumnya berbentuk empat persegi dan luasnya berkisar antara 3,00 ha sampai 10,00 ha setiap petak, bahkan ada yang lebih luas lagi sesuai dengan kondisi lahan. Macam-macam petakan tambak antara lain: tipe Seri, Paralel, Porong, Cilacap, Lamongan, Taiwan dan Filipina. Tipe- tipe tambak ini banyak dijumpai pada sistem pertambakan rakyat yang ada di daerah. Semua tipe petakan tambak ini dapat dibentuk pada jaringan irigasi semi teknis tambak dan teknis kecuali tipe seri, karena pada tipe seri air langsung dilirkan dari petak tambak kepetak tambak lainnya secara estafet. Gambar jaringan irigasi sederhana tambak yang menggambarkan pengambilan air payau dari sungai serta pemberian air secara seri dapat dilihat pada Gambar 6. 15 Gambar 6 - Tipe Jaringan Irigasi Sederhana Tambak (Sumber : Modifikasi dari SKB Dit Jend.Perikanan Budidaya DKP dan Dit.Jen.SDA. Dep.Pek.Umum 2008) 2.10.2 Jaringan Irigasi Semi Teknis Tambak
a.Saluran Pemberi dan Pembuang Salah satu sumber air tawar jaringan irigasi semi teknis tambak adalah sungai. Saluran primer pemberi air tawar terpisah dengan saluran primer pemberi air asin, kedua saluran tersebut dihubungkan oleh saluran primer air payau yang berfungsi sebagai tempat bercampurnya air tawar dan air asin. Air dari saluran primer pemberi air payau disalurkan ke saluran sekunder pemberi air payau lalu di alirkan ke petak tambak. Ada juga pengambilan air payau langsung dari saluran primer air payau ke petak tambak. Pada saat air surut semua saluran berfungsi sebagai saluran pembuang.
b.Pintu Air Jaringan irigasi semi teknis tambak telah dilengkapi dengan pintu air terutama pada intake pengambil air asin dan air tawar. Ada petakan tambak yang mempunyai pintu pemasukan (inlet) dan pintu pengeluaran (outlet). Ada 16 pula petakan yang hanya mempunyai satu pintu yang berfungsi mengatur keluar masuk air.
c.Bangunan Pengambil Air Asin Bangunan pengambil air asin adalah bangunan sederhana yang dapat mengalirkan air asin ke saluran primer pemberi air asin, tanpa dilengkapi bangunan pengaman dan pengatur.
d.Bangunan Pengambil Air Tawar Bangunan pengambil air tawar pada jaringan irigasi semi teknis tambak berupa bangunan sederhana yang dibuat ditepi sungai berupa pengambilan bebas sehingga air dapat masuk ke saluran primer tanpa dikendalikan.
e.Tanggul Tanggul pada petakan jaringan irigasi semi teknis tambak telah mulai teratur bentuknya dan telah mengikuti kriteria jaringan irigasi teknis tambak yaitu berbentuk trapesium dengan ukuran yang hampir seragam dengan luas 1 Ha – 3 Ha per petak. Masing-masing petak tambak mempunyai caren dengan selisih kedalaman caren 30 cm - 50 cm dari pelataran. Kedalaman air di pelataran 40 cm - 50 cm.
f.Bangunan Pelengkap Pada jaringan irigasi semi teknis tambak sudah ada bangunan pelengkap, akan tetapi belum selengkap jaringan irigasi teknis tambak. Dengan bangunan pelengkap yang terbatas, pengaturan dan pengukuran air sudah dapat dilakukan, tetapi belum terkontrol sepenuhnya. Jaringan irigasi semi teknis tambak dapat digunakan untuk melakukan pembudidayaan udang dengan teknologi sederhana. Gambar jaringan irigasi semi teknis tambak yang menggambarkan pengambilan air asin dan air tawar secara terpisah dapat dilihat pada Gambar 7. 17 Gambar 7 - Tipe Jaringan Irigasi Semi Teknis Tambak (Sumber : Modifikasi dari SKB Dit Jend.Perikanan Budidaya DKP dan Dit.Jen.SDA. Dep.Pek.Umum 2008) 2.10.3 Jaringan Irigasi Teknis Tambak
a.Saluran Pemberi Air Tawar Tambak yang menggunakan sistem kolam pencampur terpusat, saluran primer berfungsi sebagai saluran pemberi air tawar dari sumber air tawar sampai ke kolam pencampur. Saluran pemberi air tawar pada tambak yang menggunakan sistem kolam pencampur tersebar, terdiri dari saluran primer dan saluran sekunder.
b.Saluran Pemberi Air Asin Tambak yang menggunakan sistem kolam pencampur terpusat, saluran primer berfungsi sebagai saluran pemberi air asin dari sumber air asin sampai ke kolam pencampur. Saluran pemberi air asin pada tambak yang menggunakan sistem kolam pencampur tersebar, terdiri dari saluran primer dan saluran sekunder. 18
c.Saluran Pemberi Air Payau Pada jaringan irigasi teknis tambak, saluran pemberi air payau sudah teratur, terdiri dari saluran primer, sekunder dan tersier. Saluran primer yang berfungsi sebagai saluran pemberi air payau mengalirkan air payau dari kolam pencampur ke saluran sekunder air payau kemudian dari saluran sekunder, air payau dialirkan ke saluran tersier air payau kemudian dialirkan ke petak tambak.
d.Saluran Pembuang Saluran pembuang terdiri dari saluran tersier, sekunder dan primer. Saluran primer pembuang langsung dihubungkan ke laut atau sungai atau kolam pengolahan limbah. Hal ini dimaksudkan agar pembuangan air dapat dilakukan setiap saat.
e.Pintu Air Pada jaringan irigasi teknis tambak setiap petakan tambak dilengkapi dua buah pintu yaitu pemasukan dan pengeluaran, dipasang secara diagonal memungkinkan terjadi pertukaran air secara merata dan alami yang disebabkan oleh sistem masuk dan keluarnya air pada petakan tambak. Pada jaringan primer dan sekunder dilengkapi pintu pengatur pada masing-masing saluran.
f.Bangunan Pengambil Air Asin Pada jaringan irigasi teknis tambak mempunyai bangunan pengambil air asin dibuat dan dilengkapi pengendali sedimen berupa bangunan jeti, bangunan pintu pengendali, untuk mengatur pemasukan air ke saluran primer air asin. Pada jaringan irigasi tambak yang permukaan airnya lebih tinggi dari muka air pasang tertinggi, pengambilan air asin menggunakan pompa dan dibuat bangunan pengambil berupa rumah pompa yang dilengkapi dengan pipa atau talang.
g.Kolam Pencampur Sistem kolam pencampur terpusat; air asin dan air tawar dari saluran primer dicampur pada kolam pencampur, kemudian di alirkan ke saluran primer pembawa air payau, sekunder, tersier, kemudian masuk kepetakan tambak. Kolam pencampur tersebar ditiap blok atau unit tambak; air asin dan air tawar diambil dari saluran sekunder air asin dan air tawar lalu dicampur dikolam pencampur dari tiap-tiap blok atau unit.
h.Bangunan Pengambil Air Tawar Sumber air tawar pada jaringan irigasi teknis tambak dapat diambil dari sungai dengan membuat bangunan bendung, pompa atau pengambilan langsung dengan bangunan inlet tanpa merubah ketinggian muka air di sungai. Pada pengambilan air tawar dari air tanah maka kapasitas pompa harus disesuaikan dengan kebutuhan air tambak. 19
i.Tanggul Tanggul pada jaringan irigasi teknis tambak telah memenuhi standar konstruksi tambak, dapat dibedakan antara tanggul primer, sekunder dan tersier. Tanggul dipetakan tambak ada yang menggunakan pasangan batu atau beton. Ukuran petakan tambak sudah seragam berbentuk empat persegi panjang dengan perbandingan ukuran luas 1:2 atau 1:3 dengan luas berkisar antara 0,25 ha – 1,00 ha. Kolam/petak pemeliharaan dapat dibuat dari beton seluruhnya atau dari tanah seperti biasa, atau dindingnya dari tembok, sedangkan dasarnya tanah. Lantai dasar dipadatkan sampai keras, dilapisi dengan pasir/kerikil. Pipa pembuangan air hujan atau kotoran yang terbawa angin, dipasang permanen di sudut petak.
j.Bangunan Pelengkap Pada jaringan irigasi teknis tambak hampir semua bangunan pelengkap dibuat sesuai dengan kebutuhan. Disamping petakan pembesaran diperlukan petak pendederan (tahap pelepasan atau penyebaran benih) dengan luas antara 500 m2 - 1000 m2. Bangunan pelengkap lainnya adalah gudang pendingin (cold storage), kolam tando dan bak pencampur. Gambar 8 - Tipe Jaringan Irigasi Teknis Tambak (Sumber : Modifikasi dari SKB Dit Jend.Perikanan Budidaya DKP dan Dit.Jen.SDA. Dep.Pek.Umum 2008) 20 Tipikal jaringan irigasi teknis tambak, dengan dan tanpa kolam pencampur dapat dilihat pada Gambar 9. Gambar 9 - Tipe Jaringan Irigasi Tambak Dengan dan Tanpa Kolam Pencampur (Sumber : Subdit Perencanaan Teknis Direktorat Rawa dan Pantai) Sketsa tipe jaringan irigasi tambak dengan pengambilan dan pembuangan permanen ke laut dan ke sungai dan sketsa penempatan bangunan intake dan outlet dapat dilihat pada Gambar 10. Gambar 10 - Tipe Jaringan Irigasi Tambak Dengan Bangunan Pengambil dan Pembuang Permanen (Sumber : Subdit Perencanaan Teknis Direktorat Rawa dan Pantai) 2.11 Data Pendukung Untuk dapat mengelola tambak dengan baik untuk berbagai keperluan, diperlukan data penunjang yang lengkap dan akurat tentang segala informasi yang berhubungan dengan jaringan dan teknologi budidaya tambak yang terdiri dari:
a.Peta-peta yang terdiri dari : - Peta topografi. - Peta daerah tambak yang memuat semua jaringan tambak. - Peta wilayah kerja pengamat, juru pengairan dan penjaga pintu air.
b.Data dasar lahan;
c.Data klimatologi; 21
d.Data kualitas air;
e.Data pasang surut;
f.Data debit air asin dan air tawar;
g.Register tambak yang terdiri dari informasi tentang luas areal tambak yang ada dalam satu hamparan;
h.Daftar panjang saluran air tawar dan saluran air asin, saluran utama dan saluran sekundernya;
i.Luas budidaya yang diusahakan;
j.Daftar panjang saluran pembuang primer dan saluran pembuang sekunder;
k.Jumlah bangunan gedung, kantor, gudang, rumah genset;
l.Daftar kepemilikan dan luas tambak;
m.Jumlah dan nama organisasi Pembudidaya beserta struktur organisinya; dan
n.Jumlah pembudidaya dalam satu hamparan.
3.OPERASI Operasi jaringan irigasi tambak adalah upaya pengaturan air irigasi tambak, dan pembuangannya baik air asin maupun air tawar, termasuk kegiatan membuka- menutup pintu bangunan irigasi tambak, dan menyusun rencana tata tanam. Tujuan operasi jaringan irigasi tambak untuk memenuhi kebutuhan air tambak, baik kualitas maupun kuantitasnya. Sasaran operasi jaringan tambak :
a.Terciptanya kualitas air yang memenuhi syarat untuk kebutuhan budidaya tambak;
b.Terpenuhinya kebutuhan air suplesi dan pengendalian drainase, sesuai dengan kebutuhan budidaya tambak;
c.Terhindarnya pengaruh kelebihan atau kekurangan air asin dan air tawar yang akan mengganggu kebutuhan air payau untuk kegiatan budidaya tambak; dan
d.Terhindarnya erosi/longsor pada tebing saluran. 3.1 Dasar Perencanaan Operasi Operasi jaringan irigasi tambak dilaksanakan dengan memperhatikan pasang surut air laut, dengan memperhitungkan jumlah dan waktu kebutuhan air tambak, mulai dari masa pra produksi sampai dengan panen. Berdasarkan data- data hidrologi dan klimatologi yang ada serta rencana pola budidaya dan rencana tata tanam maka dibuat dasar perencanaan operasi. Penyusunan rencana tata tanam disusun oleh juru pengairan bersama-sama kelompok pembudidaya, PPL. Berdasarkan rencana tata tanam yang telah disepakati, pengamat pengairan membuat rencana operasi musiman, mingguan dan harian. Rencana operasi yang dibuat oleh pengamat dijadikan dasar perencanaan operasi definitif yang disahkan oleh Balai Wilayah Sungai/ provinsi/kabupaten/kota sebagai dasar pelaksanaan operasi dalam satu musim tanam. Bagan alir perencanaan operasi pintu air dapat dilihat pada Gambar 11. 22 Gambar 11 - Bagan Alir Perencanaan Operasi Pintu Air (Sumber : Pedoman Umum Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Reklamasi Rawa Pasang Surut) 3.1.1 Pola Budidaya Pola budidaya pada tambak terdiri dari monokultur dan polikultur. Monokultur adalah budidaya tunggal terdiri dari udang atau ikan. Polikultur adalah budidaya yang dilakukan secara tumpang sari dalam satu petak tambak antara udang bersama ikan atau jenis budidaya lain yang dapat hidup berdampingan antara yang satu dengan yang lain.
a.Pola Budidaya Musim Hujan Musim tanam dimulai pada awal musim hujan, saat air pasang mulai naik, akhir musim gantung karang. Pada saat tersebut salinitas menurun, kegiatan yang sesuai adalah budidaya udang. Pelaksanaan polikultur ada dua pola. Pertama, ikan ditebar terlebih dahulu, kemudian setelah berumur 2 bulan ditebar bibit udang, waktu panen bersamaan. Kedua adalah ikan dan udang ditebar pada waktu yang sama, waktu panen udang dipanen lebih dulu kemudian ikan.
b.Pola Budidaya Musim Kemarau Pola budidaya musim kemarau yaitu periode pembudidayaan setelah panen musim hujan. Waktunya selama 4 bulan. Pola budidaya dapat berupa monokultur atau polikultur.
c.Pengaturan Pada Masa Bera Musim bera, pasang sangat kecil dan hujan tidak ada/musim kemarau, disebut musim gantung karang, lamanya ± 2 bulan. Selama ini tidak ada