2.Perekonomian Kabupaten Nunukan hingga saat ini masih sangat tergantung pada sektor primer, terutama sektor perikanan budidaya dan perikanan tangkap yang merupakan sub sector pertanian dalam arti luas disamping sub sektor perkebunan dan tanaman pangan. Disamping itu sektor pertambangan dan penggalian yang merupakan penyumbang terbesar PDRB Kabupaten, namun mengingat sektor ini merupakan kewenangan pemerintah provinsi sesuai dengan undang-undang 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Sektor industri pengolahan (diversifikasi) sebenarnya memiliki peluang sangat besar untuk dikembangkan mengingat row material yang tersedia cukup banyak apalagi berbicara pada sub sektor perkebunan dan sub sektor perikanan. Namun sektor ini tidak dapat berjalan optimal mengingat tidak didukung oleh sumber energi listrik dan air yang memadai. Sehingga kedua sub sektor ini hanya dapat mengelola row material yang langsung dijual ke pasar akibatnya nilai tambah sebuah produk tidak ada sehingga disisi penerimaan pendapatan baik masyarakat maupun upaya peningkatan PAD menjadi sangat kecil. II - 43
3.Pengembangan perekonomian juga dihadapkan pada karakteristik wilayah mengingat jarak dan keterhubungan yang belum dapat dilakukan melalui jalan darat dan air dilakukan melalui udara dalam bentuk. Dampaknya bagi perekonomian adalah harga produk olahan dan manufaktur akan cenderung mahal apabila didatangkan dari luar wilayah karena diseconomies of scale jalur transportasi dan pasokan energi. Kondisi demikian terjadi pada daerah perdesaan dan perbatasan. Pada daerah perkotaan, peningkatan economies of scale jalur transportasi dan pasokan energi menyebabkan harga produk olahan dan manufaktur cenderung lebih murah. Khusus pada daerah perbatasan, harga produk olahan dan manufaktur yang mahal apabila didatangkan dari luar wilayah karena alasan jalur transportasi dan pasokan energi dihadapkan pada produk impor dari wilayah Malaysia yang lebih murah karena adanya tingkat skala ekonomi yang lebih baik pada kedua aspek tersebut. Oleh karena itu, penduduk daerah perbatasan akan lebih memilih untuk memperoleh produk-produk jadi dari Malaysia yang tersedia dengan biaya yang murah.
4.Kabupaten Nunukan memiliki kawasan konservasi yang masuk dalam Heart of Borneo yaitu Taman Nasional Kayan Mentarang yang notabene berada pada wilayah Kecamatan di Krayan dan Lumbis Ogong. Implikasinya bagi perekonomian daerah adalah karena merupakan kawasan konservasi, maka nilai ekonomis kawasan ini terletak pada keanekaragaman hayati, yang terdiri dari flora dan fauna dan sekaligus pula berfungsi sebagai salah satu paru-paru dunia. Kekayaan keanekaragaman hayati membuat daya tarik kepariwisataan dan kebudayaan yang cukup tinggi. Daerah krayan misalnya memiliki pesona daerah yang eksotik khususnya alamnya dan budayanya yang sangat kuat dimasyarakat. Pertanian organic merupakan potensi pariwisata yang memiliki daya tarik tersendiri. Disamping itu wilayah Lumbis Ogong dapat dikembangkan wisata arung jeram karena memiliki potensi sungai yang aliran airnya deras dan menantang untuk dikelola secara arif dan bijaksana. Potensi-potensi ini tentunya memiliki nilai ekonomi yang tinggi jika dapat dikelola dengan baik sesuai dengan prinsip-prinsip pengelolaan yang berkelanjutan. Kawasan pedalaman sebagai basis produksi Pertanian, perkebunan dan penguatan ketahanan pangan. Kabupaten Nunukan, yang terdiri dari beberapa kecamatan diwilayah pedalaman memiliki potensi pengembangan yang kuat pada sektor pertanian dan perkebunan serta diversifikasi industri yang mengolah hasil pertanian dan perkebunan. Dari sisi aksesibilitas, kawasan ini merupakan kawasan yang paling sulit dijangkau karena umumnya masih berupa kawasan hutan dengan kantung-kantung pemukiman yang berdiri sendiri dan berada di sempadan sungai hal ini terjadi akibat bahwa Sungai merupakan jalur transportasi utama bagi masyarakat dipedalaman. Kawasan pesisir sebagai basis produksi pertanian, perikanan, serta perdagangan. Kawasan pesisir merupakan kawasan yang paling berpotensi untuk dikembangkan dengan cepat. Skala ekonomi akan tercipta lebih cepat dibandingkan kawasan pedalaman karena secara alamiah aktivitas / kegiatan perekonomian telah tercipta dan berjalan di kawasan ini. Topografi tanah yang cenderung datar memudahkan pembangunan jalur jalan darat. Posisi yang dekat dengan laut menyebabkan aksesibilitas wilayah dapat ditempuh pula melalui pelabuhan laut dengan frekuensi terus menerus apalagi posisi strategis Nunukan berada di Alur Lalu Libtas Laut ALKI II. Arus barang dan jasa serta arus orang akan sangat banyak mengingat perdagangan lintas Negara yang telah dilakukan sejak lama (kearifan local) memiliki potensi untuk dikembangkan secara legal khususnya pada kawasan-kawasan perbatasan Negara yaitu pulau sebatik. National Park Kayan Mentarang sebagai kawasan konservasi. Penetapan sebagian kawasan hutan sebagai TNKM yang berada didalam HoB (Heart of Borneo) memberikan implikasi pengendalian atau menjadikan kawasan di dalamnya sebagai kawasan konservasi yang harus dikendalikan pemanfaatannya. Dalam jangka panjang, TNKM diharapkan menjadi bagian dari kalender internasional untuk pengembangan pariwisata mengingat kementerian pariwisata telah menyusun masterplan pengembangan KSPN (Kawasan dan Strategis Pariwisata Nasional) Taman Nasional Kayan Mentarang. Disamping itu Taman Nasional Kayan Mentarang untuk yang kaya akan keanekaragaman Hayati memiliki potensi untuk kegiatan penelitian keanekaragaman flora dan fauna, promosi konservasi hutan tropis, dan wisata hutan. Hal ini tentunya mendukung pembangunan berkelanjutan. II - 45 2.1.3 Wilayah Rawan Bencana Berdasarkan dokumen RTRW Kabupaten Nunukan dapat diidentifikasi potensi rawan bencana yang terjadi di Kabupaten Nunukan antara lain :
1.Bencana Banjir Permasalahan banjir merupakan isu lingkungan yang terjadi setiap tahun di Kabupaten Nunukan terutama pada saat musim hujan. Di Kabupaten Nunukan, kondisi yang sangat mengkhawatirkan adalah fenomena frekuensi kejadian banjir. Bukan hal baru lagi hampir tiap tahun Kecamatan Sembakung terkena banjir. Pada akhir bulan Maret 2011, terjadi bencana banjir pada 18 desa yang di buat dalam tiga kategori atau tingkatan, sesuai sumber data pihak kecamatan yaitu Sangat parah, terdiri dari enam desa yaitu Jumlah Rumah: 856 unit, Jumlah KK: 1215, Jumlah SAB: 1013 Parah, terdiri dari tujuh desa yaitu Jumlah Rumah: 309 unit, Jumlah KK: 580, Jumlah SAB: 500 Sedang, terdiri dari lima desa yaitu Jumlah Rumah: 221 unit, Jumlah KK: 378, Jumlah SAB: 250. Berdasarkan dari laporan dari Sanitarian Puskesmas Atap bencana banjir di Kecamatan Sembakung tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Tetapi dampak dan kerugian yang dialami akibat bencana banjir ini adalah maslaah penyakit, dan terjadinya gagal panen atau luas lahan sawah yang rusak akibat banjir Faktor - faktor penyebab banjir di Kabupaten Nunukan antara lain: 1.1) Curah hujan yang tinggi dan intensitas hujan tinggi; 1.2) Karakteristik Topografi wilayah; 1.3) Dimensi sungai belum mampu menampung debit banjir; 1.4) Penyempitan dan pendangkalan akibat sampah dan sedimentasi; 1.5) Pengaturan tata air sungai/ drainase belum maksimal; 1.6) Pemanfaatan tata guna lahan/ perubahan tata guna lahan memperkecil daerah resapan air; 1.7) Kegiatan ulah manusia seperti perambahan hutan, pemotongan bukit dan kegiatan pertambangan, pemukiman di bantaran sungai; 1.8) Pengaruh gelombang pasang; 1.9) Penanganan banjir yang terhambat karena masalah sosial dan kendala teknis; 1.10) Sarana pengendali banjir eksisting belum optimal. Upaya - upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Nunukan dalam penanganan banjir secara terpadu melalui metode struktur dan metode non struktur adalah: 1.1) Penanaman pohon di bantaran sungai sungai secara berkelanjutan 1.2) Relokasi perumahan penduduk ke daerah yang lebih tinggi 1.3) Mengusulkan ke Pemerintah Pusat untuk membentuk Tim Khusus Penanganan Banjir Lintas Negara
2.Longsor Kawasan potensi tanah longsor kurang lebih seluas 20.398 hektar meliputi Kecamatan Sei Manggaris, Kecamatan Sebuku, Kecamatan Tulin Onsoi, Kecamatan Sembakung dan Kecamatan Sembakung Atulai.
3.Abrasi Kawasan potensi abrasi kurang lebih seluas 1.163 hektar dan tersebar di Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik.
4.Konflik Gajah Kalimantan Kabupaten Nunukan merupakan satu-satunya kabupaten yang berada di Provinsi Kalimantan Utara yang memiliki habitat bagi satwa gajah, yang lebih dikenal dengan nama Gajah Kerdil Kalimantan (Borneo Pygmi Elephant) dengan nama latin Elephas maximus borneensis. Menurut sejarahnya, gajah di Kalimantan tercatat sejak 1930-an dari perkumpulan Hindia Belanda dan menurut beberapa versi merupakan gajah yang didatangkan dari luar Kalimantan. Dari berbagai manuskrip tentang asal usul gajah yang masih dipertahankan adalah hasil analisis DNA gajah sabah, diketahui bahwa sekitar 300.000 tahun yang lalu gajah Kalimantan terisolasi dari populasi gajah lainnya di daratan Asia lainnya. Dan dari hasil analisa tes DNA bahwa gajah Kalimantan berbeda dengan sub spesies gajah di Sumatra dan daratan Asia lainnya, artinya Gajah Kalimantan adalah binatang pribumi. Konflik gajah dengan manusia di Kecamatan Sebuku dengan Kecamatan Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan sudah terjadi sejak Tahun 2005, hal ini disebabkan oleh berubahnya atau hilangnya habitat gajah Kalimantan menjadi perkebunan kelapa sawit, pertambangan atau HPH. Seiring semakin terdesaknya kehidupan gajah akibat konversi lahan menyebabkan terjadinya benturan kepentingan berupa konflik antara manusia dengan gajah. Upaya yang telah dilakukan antara lain: 1.1) Membentuk satuan tugas pengusir gajah di Kecamatan Sebuku dan Kecamatan Tulin Onsoi yang terdiri dari perwakilan desa - desa yang terkena konflik; 1.2) Pengalokasian lahan/tata ruang bagi gajah; 1.3) Sosialisasi ke masyarakat melalui pelatihan dan penyuluhan menangani prilaku gajah yang bekerjasama dengan WWF dan BKSDA Kalimantan Timur; 1.4) Melakukan studi habitat dan prilaku gajah yang bekerjasa dengan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. 2.1.4 Demografi A. Struktur Penduduk
1.Jumlah Penduduk Pembangunan di suatu wilayah tidak terlepas dari peran serta penduduknya sebagai subjek pembangunan, demikian pula dengan pembangunan yang dilaksanakan di Kabupaten Nunukan. Jumlah penduduk yang besar di satu sisi merupakan suatu potensi yang dapat mendorong keberhasilan suatu pembangunan jika kuantitas tersebut juga diimbangi dengan kualitas yang tinggi pula. Namun disisi lain jumlah penduduk yang tinggi dapat pula menimbulkan suatu masalah jika penyebarannya kurang merata. II - 47 Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu dibandingkan waktu sebelumnya. Indikator tingkat pertumbuhan penduduk sangat berguna untuk memprediksi jumlah penduduk sehingga akan diketahui pula kebutuhan dasar penduduk seperti fasilitas pelayanan publik dan sebagainya. Jika dilihat secara umum penduduk Kabupaten Nunukan pada tahun 2017 berjumlah mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu berjumlah 193.390 jiwa. Tabel. 2.7 Perkembangan Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun 2013-2017 di Kabupaten Nunukan No Kecamatan Jumlah Penduduk Pertumb uhan 2016- 2017 (%) 2013 2014 2015 2016 2017 1 Krayan Selatan 2.111 2.079 2.045 2.010 1970 -1.99 3 Krayan Tengah - - - - - - 2 Krayan 6.902 6.823 6.735 6.642 6533 -1.64 Krayan Timur - - - - - - Krayan Barat - - - - - - 3 Lumbis Ogong 5.176 5.209 5.235 5.256 5263 0.13 4 Lumbis 4.870 4.901 4.926 4.945 4951 0.12 5 Sembakung Atulai - 2.722 2.593 2.620 2640 0.76 6 Sembakung 8.459 5.844 6.069 6.132 6178 0.75 7 Sebuku 10.826 11.424 12.037 12.672 13305 5.00 8 Tulin Onsoi 7.120 7.513 7.917 8.334 8751 5.00 9 Sei Manggaris 8.262 8.711 9.173 9.650 10125 4.92 10 Nunukan 56.165 59.223 62.358 65.602 68829 4.92 11 Nunukan Selatan 17.043 18.717 20.527 22.491 24578 9.28 12 Sebatik Barat 7.380 7.606 7.837 8.075 8306 2.86 13 Sebatik 4.375 4.510 4.646 4.787 4924 2.86 14 Sebatik Timur 11.794 12.156 12.524 12.904 13274 2.87 15 Sebatik Tengah 6.909 7.121 7.337 7.559 7776 2.87 16 Sebatik Utara 5.319 5.483 5.648 5.820 5987 2.87 Kabupaten Nunukan 162.71 1 170.04 2 177.60 7 185.4 99 193.390 4.25 Sumber data : Kabupaten Nunukan Dalam Angka Tahun 2018. Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Nunukan selama tahun 2016-2017 adalah 4,25 % dengan pertumbuhan penduduk tertinggi adalah Kecamatan Nunukan Selatan yaitu sebesar 9,28 %. Pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi dipengaruhi oleh adanya aktivitas ekonomi di Kecamatan Nunukan Selatan yang memadai khususnya yang bergerak disektor perikanan sub sector perikanan budidaya rumput laut. Sedangkan pertumbuhan penduduk paling rendah adalah Kecamatan Krayan Selatan sebesar -1,99 %. Pertumbuhan penduduk yang terjadi juga merupakan dampak keberhasilan pembangunan yang terjadi di Kabupaten Nunukan sehingga menarik minat pendatang baru untuk tinggal di kabupaten ini. Faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk adalah semakin lengkapnya berbagai fasilitas publik yang dibutuhkan masyarakat, kemudian dibukanya lapangan kerja di sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit dan industri pengolahan kayu, sektor jasa dan sector perikanan khususnya perikanan budidaya rumput laut.
2.Kepadatan dan Distribusi Penduduk Kepadatan penduduk pada setiap kecamatan menggambarkan pola persebaran penduduk secara keseluruhan. Berdasarkan pola persebaran penduduk Kabupaten Nunukan menurut luas wilayah terlihat belum merata, sehingga terlihat adanya perbedaan kepadatan penduduk yang mencolok antar kecamatan. Dari 19 kecamatan yang ada terlihat bahwa Kecamatan Sebatik Timur memiliki kepadatan penduduk tertinggi, yaitu 338,88 jiwa/km 2 diikuti oleh Kecamatan Sebatik Tengah dengan kepadatan 162,98 jiwa/km 2 . Sedangkan untuk kecamatan lainnya, kepadatan penduduk yang ada hanya berkisar antara 1,12 – 135,21 jiwa/km 2 . Ditinjau dari komposisi penduduk menurut jenis kelamin, terlihat bahwa pada tahun 2017 jumlah penduduk laki- laki di Kabupaten Nunukan masih lebih banyak dibanding perempuan. Ini terlihat dari rasio jenis kelamin 113,68 artinya pada setiap 100 orang perempuan terdapat 113-114 orang laki-laki. II - 49 Tabel 2.8 Kepadatan Penduduk Tahun 2013-2017 di Kabupaten Nunukan No Kecamatan Jml Kelurahan /Desa Luas (Km²) Jumlah Penduduk Kepadatan (Jiwa/Km²) 1 Krayan Selatan 24 1757.66 1970.00 1.12 2 Krayan 65 1834.74 6533.00 3.56 3 Lumbis Ogong 49 3357.01 5263.00 1.57 4 Lumbis 28 290.23 4951.00 17.06 5 Sembakung Atulai 10 277.72 2640.00 9.51 6 Sembakung 10 1764.94 6178.00 3.50 7 Sebuku 10 1608.48 13305.00 8.27 8 Tulin Onsoi 12 1513.36 8751.00 5.78 9 Sei Manggaris 4 850.48 10125.00 11.91 10 Nunukan 5 564.5 68829.00 121.93 11 Nunukan Selatan 4 181.77 24578.00 135.21 12 Sebatik Barat 4 93.27 8306.00 89.05 13 Sebatik 4 51.07 4924.00 96.42 14 Sebatik Timur 4 39.17 13274.00 338.88 15 Sebatik Tengah 4 47.71 7776.00 162.98 16 Sebatik Utara 3 15.39 5987.00 64.19 Kabupaten Nunukan 240 14.247,5 193.390,00 13.50 Sumber data : Kabupaten Nunukan Dalam Angka Tahun 2018. Terdapat kesenjangan persebaran penduduk, terutama antara kecamatan yang berada dipedalaman atau perbatasan Daratan dengan Kecamatan Perbatasan dikepulauan. Kemudian factor lain bahwa kepadatan penduduk akan dipengaruhi oleh factor kondisi geografis, dimana kecamatan Lumbis Ogong dan Kecamatan di Wilayah Krayan memiliki totografi bergunung dengan kemiringan lereng sebagian besar diatas 40 %, cukup sulit untuk pengembangan permukiman. Hal ini sangat berbeda dengan Kecamatan Nunukan dan Kecamatan Di Pulau Sebatik yang memiliki tofografi yang landau sehingga mudah untuk pengembangan permukiman.
3.Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur Komposisi penduduk menurut kelompo umur dapat menggambarkan distribusi penduduk sesuai kelompok umur. Pendudukan Kabupaten Nunukan dengan Komposisi usia 0-4, 5-9 dan 10-14 mempunyai jumlah paling tinggi. Hal ini didapat dilihat dari table dibawah. Kondisi ini berarti bahwa penduduk usia muda cukup dominan di Kabupaten ini. Komposisi penduduk menurut umur ini memperlihatkan bahwa usia produktif harus menanggung warga yang sudah tidak / belum produktif. Semakin besar proporsi [penduduk usia tidak produktif maka akan semakin besar beban yang ditanggung oleh penduduk usia produktif. Tebel 2.9 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kabupaten Nunukan Kelompok Umur Laki-Laki Perempaun Jumlah 0-4 11.236 10.393 21.629 5-9 10.866 10.202 21.068 10-14 10.797 10.100 20.897 15-19 9.226 8.480 17.706 20-24 8.383 7.545 15.928 25-29 8.841 8.030 16.871 30-34 9.322 8.024 17.346 35-39 8.748 7.300 16.048 40-44 7.482 6.169 13.651 45-49 5.670 4.401 10.071 50-54 4.319 3.297 7.616 55-59 2.939 2.250 5.189 60-64 2.138 1.785 3.923 65+ 2.919 2.528 5.447 Jumlah/Total 102.886 90.504 193.390 Sumber data : Kabupaten Nunukan Dalam Angka Tahun 2018.
4.Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin Rasio jenis kelamin (sex ratio) merupakan rasio yang membandingkan jumlah penduduk laki-laki dengan perempuan disuatu daerah. Rasio jenis kelamin Kabupaten Nunukan selama 2013-2017 relatif tidak signifikan berbeda jauh antara laki-laki dan perempuan yakni 113 yang artinya bahwa terdapat 113 penduduk laki-laki untuk setiap 100 penduduk perempuan. Khusus untuk Kabupaten Nunukan Rasio Penduduknya lebih dominan jumlah penduduk laki-laki jika dibandingkan dengan perempuan. Hal tersebut dapat dilihat pada table dibawah ini. II - 51 Tabel 2.10 Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin Menurut Kecamatan di Kabupaten Nunukan Tahun 2017 Kecamatan Jenis Kelamin Rasio Jenis KelaminLaki-laki Perempuan Jumlah Krayan Selatan 3.497 3.036 6.533 115.18 Krayan Tengah - - - - Krayan 1.035 935 1.970 110.70 Krayan Timur - - - - Krayan Barat - - - - Lumbis Ogong 2.679 2.584 5.263 103.68 Lumbis 2.583 2.368 4.951 109.08 Sembakung Atulai 1.348 1.292 2.640 104.33 Sembakung 3.234 2.944 6.178 109.85 Sebuku 7.255 6.050 13.305 119.92 Tulin Onsoi 5.014 3.737 8.751 134.17 Sei Manggaris 5.617 4.508 10.125 124.60 Nunukan 36.311 32.518 68.829 111.65 Nunukan Selatan 13.337 11.241 24.578 118.65 Sebatik Barat 4.430 3.876 8.306 114.29 Sebatik 2.640 2.284 4.924 115.59 Sebatik Timur 6.764 6.510 13.274 103.90 Sebatik Tengah 4.104 3.672 7.776 111.76 Sebatik Utara 3.038 2.949 5.987 103.02 Kabupaten Nunukan 102.886 90.504 193.390 113.68 Sumber data : Kabupaten Nunukan Dalam Angka Tahun 2018. 2.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat 2.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi
1.Pertumbuhan PDRB Pertumbuhan ekonomi secara makro diartikan sebagai perkembangan kegiatan usaha dalam perekonomian yang menyebabkan produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh masyarakat bertambah. Pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah dapat diketahui melalui angka PDRB, untuk menghilangkan pengaruh fluktuasi harga dalam penghitungan maka yang digunakan adalah atas dasar harga konstan. Nilai PDRB dapat menggambarkan sector yang berkontribusi paling besar dalam pertumbuhan ekonomi Kabupaten Nunukan, sedangkan PDRB per kapiota dapat digunakan sebagai salah satu indikator tingkat kemakmuran dan kesejahteraan penduduk di suatu wilayah. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Nunukan pada tahun 2017 sebesar 6,78%. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh sector-sektor penunjang utama seperti pertambangan yang perlahan-lahan sedikit membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Sector pertambangan masih menjadi penyumbang terbesar PDRB Kabupaten Nunukan tahun 2017 dengan shrae sebesar 47,96%. Jika dilihat kenaikan laju pertumbuhannya, sector pertambangan menjadi sector dengan kenaikan laju pertumbuhan tertinggi disbanding sektor lain. Struktur perekonomian Kabupaten Nunukan pada tahun 2012-2017 terlihat masih bertumpuh pada eksploitasi sumber daya alam, baik yang dapat diperbaharui maupun tidak dapat diperbaharui. Hal ini tercermin dari nilai distribusi PDRB atas dasar harga berlaku yang masih didominasi oleh kategori pertambangan penggalian dan pertanian dengan nilai masing-masing 47,96 persen dan 21,59 persen. Hali ini menunjukkan masih diperlukan adanya dorongan dalam proses transformasi ekonomi Kabupaten Nunukan dari sector primer ke sector sekunder dan tersier. Berikut disajikan Perkembangan perekonomian di Kabupaten Nunukan yang ditunjukkan oleh perkembangan Produk Domestik Regional Bruto Angka Dasar Harga Berlaku (PDRB ADHB) dan Atas Dasar Harga Konstan secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut: II - 1 Tabel 2.11 Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2013-2017 Atas Dasar Harga Konstan di Kabupaten Nunukan No Sektor 2013 Jumlah Rupiah 2014 Jumlah Rupiah 2015 Jumlah Rupiah 2016 Jumlah Rupiah 2017 Jumlah Rupiah 1 Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 2.236.193,8 2.582.614,5 2.834.848,6 3.130.092,6 3.392.647,6 2 Pertambangan dan Penggalian 5.531.253,3 6.039.226,6 5.908.129,8 5.808.442,3 6.163.634,8 3 Industri Pengolahan 960.716,7 1.021.358,4 1.089.009,7 1.135.642,3 1.176.023,3 4 Pengadaan Listrik dan Gas 2.654,6 2.932,4 3.356,9 3.745,8 3.984,3 5 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 5.928,8 6.289,5 6.479,2 6.896,1 7.269,2 6 Konstruksi 773.974,2 791.926,9 809.371,7 858.690,5 938.093,9 7 Perdagangan Besar dan Eceran 616.520,0 636.991,6 663.270,9 710.552,7 768.086,3 8 Transportasi dan pergudangan 215.559,7 244.188,8 262.997,3 270.912,4 289.620 9 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 109.634,1 116.469,1 124.440,7 133.368,8 145.838,1 10 Informasi dan Komunikasi 205.729,3 224.388,2 246.414,3 259.788,5 282.597,3 11 Jasa Keuangan dan Ausransi 37.976,2 39.189,3 41.810,4 44.502,5 46.362,9 12 Real Estate 68.407,6 71.507,8 74.827,4 77.652,5 80.234,8 13 Jasa Perusahaan 5.019,1 5.322,4 5.580,1 5.267,6 5.346,7 14 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 235.730,7 318.447,1 336.213,8 358.041,1 375.113,0 15 Jasa Pendidikan 133.200,0 151.630,3 171.251,1 178.632,1 188.682,0 16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 2.470,9 2.624,2 2.928,2 3.154,4 3.352,0 17 Jasa Lainnya 42.849,0 44.709,2 49.326,4 53.844,6 56.775,0 PDRB 11.183.813.817,9 12.299.816,3 12.630.456,6 13.039.226,8 13.923.661,1 Sumber : Kabupaten Nunukan Dalam Angka 2018 dengan hasil olahan Tabel 2.12 Nilai dan Distribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2013-2017 Atas Dasar Harga Berlaku di Kabupaten Nunukan No Sektor 2013 2014 2015 2016 2017 Jumlah Rupiah % Jumlah Rupiah % Jumlah Rupiah % Jumlah Rupiah % Jumlah Rupiah % 1 Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 2.503.166,4 18,56 3.147.511,7 20,30 3.249.519,9 20,94 3.758.995,0 22,76 4.280.519,2 21,59 2 Pertambangan dan Penggalian 7.11.112,9 52,72 7.960.065,3 51,35 7.441.393,1 47,95 7.400.094,1 44,80 9.509.584,3 47,96 3 Industri Pengolahan 1.059.984,6 7,86 1.190.262,4 7,68 1.290.246,3 8,33 1.368.236,9 8,28 1.502.398,9 7,58 4 Pengadaan Listrik dan Gas 2.286,4 0,02 2.526,2 0,02 3.504,4 0,02 4.356,3 0,03 5.004,3 0,03 5 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 5.850,4 0,04 6.266,0 0,04 6.617,4 0,04 7.252,5 0,04 8.071,9 0,04 6 Konstruksi 935.539,0 6,94 1.008.847,0 6,51 1.065.343,1 6,87 1.218.109,6 7,37 1.401.938,5 7,07 7 Perdagangan Besar dan Eceran 676.614,2 5,02 737.568,0 4,76 818.312,9 5,35 931.113,6 5,84 1.131.843,2 5,71 8 Transportasi dan pergudangan 248.370,6 1,84 294.441,3 1,90 333.151,5 2,13 356.912,0 2,15 404.021,0 2,04 9 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 123.880,2 0,92 134.363,6 0,87 149.594,7 0,96 167.857,7 1,02 191.010,0 0,96 10 Informasi dan Komunikasi 210.803,1 1,56 231.160,6 1,49 255.117,1 1,64 275.934,7 1,67 313.795,0 1,58 11 Jasa Keuangan dan Ausransi 45.921,9 0,34 49.629,4 0,32 54.645,1 0,36 61.614,8 0,38 67.789,9 0,34 II - 3 12 Real Estate 69.963,5 0,52 73.121,5 0,47 77.370,0 0,50 82.871,0 0,50 88.526,7 0,45 13 Jasa Perusahaan 5.580,3 0,04 5.989,6 0,04 6.370,2 0,04 6.222,7 0,04 6.585,2 0,03 14 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 281.467,1 2,09 419.203,8 2,70 457.742,2 2,99 494.634,8 3,12 552.764,0 2,79 15 Jasa Pendidikan 161.229,8 1,20 188.791,1 1,22 221.835,2 1,43 252.860,6 1,53 277.988,0 1,40 16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 2.613,4 0,02 2.893,2 0,02 3.591,1 0,02 4.031,0 0,03 4.552,2 0,02 17 Jasa Lainnya 44.490,9 0,33 50.222,4 0,32 62.983,4 0,41 74.288,6 0,45 81.927,0 0,41 PDRB 13.488.875,0 100,00 15.502.863,0 100,00 15.637.964,2 100,00 16.518.636,8 100,00 19.828.322,4 100,00 Sumber : Kabupaten Nunukan Dalam Angka 2018 dengan hasil olahan Tahun 2017 kategori pertambangan dan penggalian memberikan kontribusi sebesar 47,96% hal ini naik jika dibandingkan pada dua tahun sebeumnya. Sektor pertambangan dan penggalian semakin tahun mengalami kenaikan dimana terjadi pemulihan ekonomi pada sektor ini. Jika terjadi gejolak pada kategori ini maka akan sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Nunukan mengingat sector pertambangan dan penggalian penyumbang PDRB terbesar. Pada tahun 2017 laju pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan sebesar 6,78 % jika dibandingkan tahun 2016 sebesar 3,24 %. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh sektor-sektor penunjang utama seperti pertambangan yang perlahan-lahan sedikit membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Distribusi kategori pertambangan dan penggalian dari Tahun 2011 sampai 2016 terus mengalami penurunan namun pada tahun 2017 mengalami peningkatan seiring dengan pemulihan ekonomi sector Minerba. Distribusi kategori ini pada Tahun 2015 mencapai 47,56%, padahal pada tahun - tahun sebelumnya terus berada diatas 50%. Kategori sector pertanian, kehutanan dan perikanan pada tahun 2017 mengalami penurunan dari 22,76 menjadi 21,59 hal ini perlu dilakukan upaya untuk percepatan dalam proses diversifikasi produk pertanian menuju kepada indutrialisasi sehingga meningkatkan daya saing produk dan harapannya dapat meningkatkan nilai tambah dari komoditi tersebut. Kondisi seperti inilah yang menjadi harapan bagi daerah baru yang sedang berkembang seperti Kabupaten Nunukan untuk lebih mengintensifkan diversifkasi komoditi unggulan menjadi komoditi yang memiliki nilai jual tinggi bukan row material melainkan menjadikan komoditi pertanian sebagai komoditi yang diap dijual atau dipasarkan melalui pengembangan industri pertanian dan perikanan sehingga kedepan Pemerintah Kabupaten Nunukan tidak lagi memprioritaskan dan mengharapkan sektor pertambangan dan penggalian sebagai sektor unggulan didalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi mengingat sektor ini tidak dapat diperbaharui dan suatu saat sektor ini akan habis melainkan III - 5 pemerintah berupaya untuk meningkatkan kontribusi sektor pertanian sebagai kontribusi unggulan untuk peningkatan ekonomi sesuai dengan Visi dan Misi RPJMD 2016-2021 yaitu ”Mewujudkan Kabupaten Nunukan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis agrobisnis menuju masyarakat yang maju aman adil dan sejahtera” .
2.Laju Inflasi Provinsi Laju inflasi merupakan kecenderungan naiknya harga barang dan jasa pada umumnya yang berlangsung secara terus menerus dan mempengaruhi kemampuan daya beli masyarakat. Laju inflasi menjadi salah satu aspek yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan penduduk. Tabel 2.13 Nilai Inflasi rata-rata Tahun 2012-2016 Uraian 2012 2013 2014 2015 2016 Inflasi Provinsi Kalimantan Utara 5,99 10,35 11,91 3,42 4,31 Sumber data : RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2016 - 2021 Pada periode 2011 - 2016, laju inflasi Provinsi Kalimantan Utara menunjukkan rata - rata 7,196%. Pada tahun 2012 inflasi Kalimantan Utara berada pada angka 5,99 dan mengalami peningkatan tahun 2014 yaitu pada posisi 11,9. Kondisi ini berarti harga barang dan jasa di dalam negeri mengalami kenaikan. Naiknya harga barang dan jasa tersebut menyebabkan turunnya nilai mata uang. Namun seiring waktu pada tahun 2015 inflasi cenderung pengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu 3,42, namun pada tahun 2016 kembali mengalami kenaikan sebesar 4,31.
3.PDRB Perkapita PDRB per kapita digunakan untuk menunjukkan nilai PDRB per penduduk. PDRB per kapita digunakan sebagai salah satu indikator tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. PDRB ADHK per kapita Kabupaten Nunukan selama tahun 2011 - 2016 menunjukkan pertumbuhan ekonomi per kapita yang relatif positif. Tabel 2.14 PDRB ADKH Per Kapita Tahun 2013-2017 di Kabupaten Nunukan Uraian 2013 2014 2015 2016 2017 Nilai PDRB (Juta Rp)1 11.183.817 12.299.816 12.630.456 13.039.226 13.923.661 Jumlah Penduduk (ribu)1 162.711 170.042 177.607 185.499 193.390 PDRB perkapita (Rp/jiwa)2 68.734.244 72.333.988 71.114.632 70.292.706 71.997.833 Sumber Data : 1. Kabupaten Nunukan Dalam Angka 2014-2018
2.Data diolah berdasarkan Publikasi BPS 2014-2018 Nilai PDRB per satu penduduk dapat diketahui melalui PDRB Atas Dasar Harga Berlaku per kapita. Pada Tahun 2013 PDRB per kapita penduduk Kabupaten Nunukan sebesar 67,81 juta. Angka ini terus meningkat hingga mencapai 91,17 juta pada Tahun 2014 dan pada Tahun 2017 mengalami peningkatan sebesar 102,53 Juta hal ini disebabkan seiring dengan pemulihan sector pertambangan dan penggalian yang mengalami peningkatan sebesar 47,96 % dan sector-sektor lainnya yang juga mengalami peningkatan diantaranya sector pertanian, kehutanan dan perikanan serta sektor jasa dan konstruksi sehingga terjadi peningkatan pendapatan perkapita penduduk di Kabupaten Nunukan. Tabel 2.15 PDRB ADHB Per Kapita Tahun 2013-2017 di Kabupaten Nunukan Uraian 2013 2014 2015 2016 2017 Nilai PDRB (Juta Rp)1 11.034.111 15.502.783 15.517.931 16.518.636 19.828.322 Jumlah Penduduk (ribu)1 162.711 170.042 177.607 185.499 193.390 PDRB perkapita (Rp/jiwa)2 67.814.167 91.170.031 87.372.293 89.049.730 102.530.234 Sumber Data : 1. Kabupaten Nunukan Dalam Angka 2014-2018
2.Data diolah berdasarkan Publikasi BPS 2014-2018
4.Indeks Gini/Koefisien Gini Indeks gini/koefisien gini merupakan salah satu indikator tingkat pemerataan distribusi pendapatan atau dengan kata lain indikator pengukur ketimpangan pendapatan. Koefisien gini merupakan suatu ukuran kemerataan yang dihitung dengan membagi penduduk berdasarkan tingkat pendapatannya kemudian menetapkan proporsi pendapatan yang diterima masing - masing kelompok penduduk. Angka koefisien gini berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan sempurna). Angka koefisien gini yang semakin mendekati nol berarti dapat diartikan bahwa pemerataan semakin baik. Sebaliknya, apabila angka koefisien semakin mendekati 1, maka dapat diartikan bahwa ketimpangan pendapatan semakin besar III - 7 Tebel 2.16 Indeks Gini Kabupaten Nunukan Tahun 2013– 2017 Kabupaten 2013 2014 2015 2016 2017 Nunukan 0,361 0,306 0,337 0,280 0,284 Kalimantan Utara 0,33 0,33 0,314 0,305 n/a Nasional 0,41 0,41 0,402 0,394 n/a Sumber data : Kabupaten Nunukan Dalam Angka 2014-2018 Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa indeks gini Kabupaten Nunukan mengalami perbaikan dari Tahun 2013 sebsar 0,361 dan pada tahun 2015 sebesar 0,306 hingga pada tahun 2017 terus mengalami penurunan sebesar 0,284. Hal ini mengindikasikan bahwa ketimpangan pendapatan yang terjadi masih dalam kategori ketimpangan rendah dan semakin kesenjangan itu semakin kecil dari tahun ke tahun antara 0,280 – 0,284. Koefisien gini Kabupaten Nunukan masih lebih kecil dibandingkan dengan koefisien gini Provinsi Kalimantan Utara dan tingkat nasional. Artinya kondisi distribusi pendapatan penduduk di Kabupaten Nunukan masih dapat dikatakan lebih baik dibandingkan rata-rata wilayah lain di Indonesia.
5.Persentase Penduduk di Atas Garis Kemiskinan (Jumlah Penduduk Miskin) Kemiskinan masih menjadi persoalan prioritas untuk diselesaikan dibeberapa wilayah di Indonesia mengingat kemiskinan erat hubungannya dengan kesejahteraan hidup. Indikator ini menggambarkan penduduk yang telah berada di atas garis kemiskinan. Pada Tahun 2013, persentase penduduk miskin Kabupaten Nunukan mencapai 9,51 % atau setara dengan 14,94 ribu jiwa dari total penduduk. Persentase penduduk miskin tahun2014-2015 cenderung mengalami penurunan hingga 5,25 % atau setara dengan 9,63 ribu jiwa dari total jumlah penduduk. Sementara untuk tahun 2017 penduduk miskin cenderung mengalami kenaikan menjadi 6,15 % atau setara dengan 11,91 ribu jiwa dari total jumlah penduduk. Kondisi ini dengan rincian bahwa jumlah penduduk miskin (penduduk di bawah garis kemiskinan) di Kabupaten Nunukan pada tahun 2017 sebanyak 11,91 ribu atau 6,15 %. Tabel 2.17 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin, serta Persentase Penduduk di atas Garis Kemiskinan Tahun 2013-2017 di Kabupaten Nunukan Tahun Jumlah penduduk miskin (000 jiwa) Persentase penduduk miskin Persentase penduduk diatas garis kemiskinan 2013 14,94 9,51 90,49 2014 14,98 8,69 91,31 2015 9,84 5,61 94,39 2016 9,63 5,25 94,75 2017 11,91 6,15 93,85 Sumber data : 1. Kabupaten Nunukan Dalam Angka 2014-2018
2.Hasil Olahan 2018 Jumlah penduduk miskin di atas garis kemiskinan paling tinggi pada tahun 2015 – 2016 sebesar 94,75 % sedangkan yang terendah di tahun 2013 sebesar 90,49 %. Kondisi ini masih dibawah rata-rata tingkat kemiskinan Provinsi Kalimantan utara 6,99% dan secara nasional mencapai 10,07 %. Hal ini diharapkan tetap bertahan dan semakin baik, dalam arti semakin menurunnya angka kemiskinan di Kabupaten Nunukan.
6.Kemiskinan Secara umum persentase penduduk miskin di Kabupaten Nunukan memiliki trend yang menurun dari tahun 2013-2016. Sedangkan pada tahun 2017 mengalami kenaikan mencapai 6,22 % jika dibandingkan tahun 2016 tingkat kemiskinan Kabupaten Nunukan sebesar 5,25 %. Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Nunukan dari tahun 2010-2015 masih menggunakan basis data terpadu hasil PPLS sebanyak 59.268 jiwa. Peningkatan jumlah penduduk miskin dari tahun 2016-2017 meningkat sebesar 0,97 %. Peningkatan jumlah penduduk miskin pada tahun 2014 tidak terlalu signifikan dan paling terendah jika dibandingkan di Kabupaten/Kota lainnya di Provinsi Kalimantan Utara. Grafik 2.2 Perkembangan Tingkat Kemiskinan (%) Kabupaten Nunukan Tahun 2012-2016 Jika dilihat pada grafik diatas perkembangan tingkat kemiskinan dari tahun 2012 – 2016 mengalami penurunan. Hal ini menunjukan bahwa arah kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan telah sesuai dengan sasaran yang di tetapkan walaupun masih harus di tingkatkan lagi baik dari segi jumlah program maupun penganggarannya. 9,62 9,51 8,69 5,61 5,25 0 2 4 6 8 10 12 2012 2013 2014 2015 2016 III - 9 Grafik 2.3 Perkembangan Indeks Kedalam Kemiskinan (P1) Kab. Nunukan Tahun 2012-2016 Perkembangan persentase penduduk miskin, jumlah penduduk miskin, indeks kedalaman dan indeks keparahan dari tahun 2012-2016 menunjukan arah perkembangan yang semakin membaik, bahkan jika dilihat dari trend yang ada menunjukkan bahwa penurunan persentase penduduk miskin mengalami percepatan yang lebih baik. 6.1. Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Keparahan (P2) Persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman kemiskinan dan keparahan kemiskinan. Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan kemiskinan juga harus bisa mengurangi tingkat kedalaman kemiskinan (Poverty Gap Index-P 1) dan keparahan kemiskinan (Poverty Severity Index- P2) yang merupakan indikator turunan garis kemiskinan yang dirumuskan oleh Foster- Greer-Thorbecke (FGT, 1984). Indeks kedalaman kemiskinan (P1) merupakan ukuran rata - rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap batas miskin. Semakin tinggi nilai indeks ini semakin besar rata - rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Indeks Kedalaman Kemiskinan di Kabupaten Nunukan mengalami penurunan mencapai 0,53 % pada tahun 2015 namun pada tahun 2016 indeks kedalaman kemiskinan naik menjadi 0.67 %. Poverty Severity Index (P2) sampai batas tertentu dapat memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin dapat juga digunakan untuk mengetahui intensitas kemiskinan. Berdasarkan Indeks Keparahan Kemiskinan, Kabupaten Nunukan mengalami penurunan dari 3.13 % pada tahun 2014 menjadi 0.1 % pada tahun 2015. Dari kedua indikator tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat kemiskinan mengalami penurunan pada tahun 2014. 1,18 1,29 0,8 0,53 0,67 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 2012 2013 2014 2015 2016 Grafik 2.4 Perkembangan Indeks Kedalam Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) (Indeks) Kab. Nunukan Tahun 2012-2016 Dari grafik diatas menunjukkan bahwa indeks kedalaman kemiskinan dan keparahan kemiskinan sejak Tahun 2013 hingga Tahun 2015 mengalami penurunan. Hal ini disebabkan Pemerintah Daerah telah mengambil kebijakan dan keputusan yang tepat dalam menentukan program dan kegiatan dalam pengentasan kemiskinan sehingga ketimpangan antar penduduk miskin semakin berkurang. Namun demikian pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan harus tetap ditingkatkan mengingat jumlah penduduk miskin di Kabupaten Nunukan cukup tinggi. 0,2 0,29 0,13 0,1 0,16 0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3 0,35 2012 2013 2014 2015 2016 Perkembangan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) (Indeks) Kab. Nunukan, Tahun 2012 - 2016 1,18 1,29 0,8 0,53 0,67 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 2012 2013 2014 2015 2016 III - 11 Indeks Kedalaman kemiskinan (P1) Kabupaten Nunukan masih berada diatas rata - rata kedalaman kemiskinan Propinsi dan Nasional sejak tahun 2014 hingga Tahun 2015. Namun, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Kabupaten Nunukan berada dibawah rata - rata kedalaman kemiskinan Propinsi dan Nasional mulai tahun 2013 hingga tahun 2014. Hal ini menjelaskan bahwa kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin di Kabupaten Nunukan mulai membaik pada tahun tersebut. Pemerintah telah berhasil menurunkan kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin di Kabupaten Nunukan, namun hal tersebut tetap harus diperhatikan. Namun pada tahun 2017 persentasde kemiskinan mengalami kenaikan sebesar 0,96 %. Untuk itu perlu intervensi program kegiatan yang mengarah atau focus kepada kegiatan indicator sosial yaitu penanganan kemiskinan yang lebih diintegrasikan dengan program-program pembangunan daerah lainnya. 2.2.2 Fokus Kesejahteraan Sosial
1.Angka Melek Huruf Angka melek aksara menurut Badan Pusat Statistik Indonesia merupakan persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari. Angka ini mencerminkan tingkat kemampuan membaca dan menulis, yang tentu saja berkorelasi dengan tingkat pendidikan masyarakat. Semakin tinggi angka melek aksara suatu kabupaten/kota, maka semakin banyak pula masyarakat yang mampu membaca dan menulis dibandingkan dengan total keseluruhan penduduk di wilayah tersebut. Berikut adalah data angka melek huruf di Kabupaten Nunukan Tahun 2013 sampai dengan Tahun 2017. Tabel 2.18 Perkembangan Angka Melek Huruf di Kabupaten Nunukan Tahun 2013-2017 Kabupaten 2013 2014 2015 2016 2017 Nunukan 93.47 96.88 92,49 94,32 n/a Provinsi Kalimantan Utara n/a 97,66 80 94,76 n/a Sumber data : Dinas Pendidikan Kab. Nunukan Tahun 2018 Berdasarkan data di atas, angka melek aksara di Kabupaten Nunukan mengalami fluktuasi. Dimana pada Tahun 2013 dari angka 93,47 % naik menjadi 96,88% pada Tahun 2014, namun pada Tahun 2015 mengalami penurun sebesar 92,49% dan kembali mengalami kenaikan di tahun 2016 sebesar 94,32 %. Sementara angka melek aksara di Provinsi Kalimantan Utara mencapai 97,66% pada Tahun 2014 namun pada tahun 2016 turun menjadi 94,76 %.
2.Angka Rata – Rata Lama Sekolah Angka rata-rata lama sekolah merupakan rata - rata jumlah tahun yang dibutuhkan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenis pendidikan formal yang pernah dijalani. Angka rata - rata lama sekolah dihitung berdasarkan partisipasi sekolah, jenjang pendidikan yang sedang dijalani, kelas yang diduduki dan pendidikan yang ditamatkan oleh penduduk usia 15 tahun keatas. Semakin tinggi angka rata - rata lama sekolah maka semakin tinggi puka tingkat partisipasi sekolah masyarakat di wilayah tersebut. Tabel 2.19 Perkembangan Angka Rata - Rata Lama Sekolah Kabupaten Nunukan Tahun 2013 - 2017 Uraian 2013 2014 2015 2016 2017 Perkembangan Angka Rata- rata Lama Sekolah 7.07 7.21 7.22 7,57 7,65 Sumber data : Dinas Pendidikan Kab. Nunukan
3.Angka Partisipasi Kasar / APK Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah persentase jumlah siswa, berapapun usianya yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang seharusnya berada pada jenjang pendidikan tersebut. APK menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di tingkat pendidikan tertentu. APK merupakan indikator paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing - masing tingkat pendidikan. APK di Kabupaten Nunukan menunjukkan angka yang fluktuatif tetapi tidak terlalu signifikan. APK jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) mengalami peningkatan pada Tahun 2013 yaitu dari 84,28 % terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun hingga menjadi 108,20% di tahun 2017. Pada jenjang pendidikan SMP juga mengalami hal yang sama yaitu mengalami peningkatan dimana pada tahun 2013 mencapai 66,99 % hingga tahun 2017 mengalami peningkatan hingga mencapai 94,50 % Sedangkan untuk jenjang SMA, APK Kabupaten Nunukan juga mengalami kenaikan pada tahun 2013 mencapai 56,12 % dan pada Tahun 2017 meningkat menjadi 74,8 % APK SD/MI yang lebih dari 100 % menunjukkan bahwa lebih banyak siswa bersekolah SD/MI dari berbagai usia daripada penduduk usia 7 - 12 tahun (usia yang memang seharusnya SD). Adanya siswa dengan usia lebih tua/muda dibanding usia standar di tingkat pendidikan tersebut menunjukkan terjadinya kasus tinggal kelas atau terlambat masuk sekolah. Hal ini juga terjadi pada jenjang SMP/MTs. III - 13 Tebel 2.20 Perkembangan Angka Partisipasi Kasar SMA/SMK/MA, SMP/MTS, SD/MI di Kabupaten Nunukan Tahun 2012-2017 Uraian 2013 2014 2015 2016 2017 Perkembangan Angka Partisipasi Kasar SMA/SMK/MA 56,12 58,23 63,06 65,00 74,8 Perkembangan Angka Partisipasi Kasar SMP/MTS 66,99 71,16 73,56 81,47 94,5 Perkembangan Angka Partisipasi Kasar SD/MI 84,28 91,43 91,76 99,55 108,2 Sumber data : Dinas Pendidikan Kab. Nunukan
4.Angka Pendidikan yang Ditamatkan Angka pendidikan tertinggi yang ditamatkan adalah indikator yang mengukur besaran dan persentase masyarakat pada tahun tertentu yang berada pada jenjang pendidikan tertentu. Angka pendidikan yang ditamatkan berbeda dengan angka rata - rata lama sekolah. Jika angka rata - rata lama sekolah menunjukkan berapa lama waktu suatu masyarakat bersekolah pada suatu kabupaten/kota. Angka pendidikan tertinggi yang ditamatkan terbagi menjadi beberapa jenjang pendidikan. Dengan mengetahui angka rata - rata pendidikan tertinggi yang ditamatkan, maka dapat diketahui tingkat partisipasi dan pendidikan masyarakat pada jenjang pendidikan tersebut. Dengan demikian dapat dirumuskan rekomendasi dan masukan untuk meningkatkan angka ini, apabila kondisi yang terjadi sangat buruk. Tabel 2.21 Perkembangan Angka Pendidikan yang Ditamatkan Menurut Kabupaten Nunukan Tahun 2013-2016 No Uraian 2013 2014 2015 2016
1.Tidak/Belum Pernah Sekolah/Tidak/Belum Tamat SD Sekolah/Tidak/Belum Tamat SD Na na 27,93 24,85
2.SD/Sederajat Na na 27,28 29,53
3.SMP/Sederajat Na 20,33 19,11 14,87
4.SMA/Sederajat Na 26,64 18,68 24,39
5.Perguruan Tinggi Na na 5,83 6,35 Sumber data : Dinas Pendidikan Kab. Nunukan 2018
5.Angka Partisipasi Murni / APM APM adalah persentase siswa dengan usia yang berkaitan dengan tingkat pendidikannya dari jumlah penduduk di usia yang sama (baik sekolah dan tidak bersekolah). Seperti APK, APM merupakan indikator daya serap penduduk usia sekolah di setiap tingkat pendidikan. Jika dibandingkan APK, APM merupakan indikator yang lebih baik karena APM melihat partisipasi penduduk kelompok usia standar di tingkat pendidikan yang sesuai dengan standar tersebut. Angka partisipasi murni adalah salah satu tolak ukur yang dijadikan pegangan oleh pemerintah untuk menilai keberhasilan suatu wilayah dalam merangsang minat masyarakat untuk bersekolah. Semakin besar nilai APM suatu kabupaten/kota pada jenjang pendidikan tertentu dapat menjadi indikator keberhasilan program pendidikan suatu wilayah. Tabel 2.22 Perkembangan Angka Partisipasi Murni SMA/SMK/MA Menurut Kabupaten Nunukan Tahun 2012-2017 Uraian 2013 2014 2015 2016 2017 Perkembangan Angka Partisipasi Murni SMA/SMK/MA 40,06 41,62 45,22 49,47 28,32 Perkembangan Angka Partisipasi Murni SMP/MTS 47,86 53,90 56,80 59,13 131,96 Perkembangan Angka Partisipasi Murni SD/MI 70,67 78,61 81,29 85,04 98,41 Sumber data : Dinas Pendidikan Kab. Nunukan 2018 Berdasarkan data diatas terlihat bahwa perkembangan APM jenjang SD/MI/Paket A, jenjang SMP/MTs/Paket B dan jenjang SMA/SMK/MA/Paket C di Kabupaten Nunukan menunjukkan angka yang fluktuatif. APM jenjang jenjang SD/MI/Paket A mengalami peningkatan yaitu 70,67 % pada tahun 2013 meningkat menjadi 98,12% tahun 2017. Kemudian APM jenjang SMP/MTs/Paket B dari 47,86 % pada tahun 2013 meningkat menjadi 131,96 % pada tahun 2017. Sementara APM jenjang SMA/SMK/MA/Paket C juga mengalami perkembangan yang sama yaitu 40,06 % pada tahun 2013 mengalami penurunan menjadi 28,32 % pada tahun 2017. Berdasarkan uraian tersebut diatas secara keseluruhan menunjukkan menurunnya partisipasi sekolah yang sesuai dengan standar kelompok usia sekolahnya. III - 15
6.Angka Kematian Bayi Angka Kematian bayi (AKB) menunjukkan banyaknya kematian bayi berusia di bawah satu tahun, per 1.000 kelahiran hidup pada suatu tahun tertentu. Indicator angka kematian bayi ini untuk menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat dimana angka kematian dihitung. Angka kematian bayi ini dapat digunakan untuk dasar merencanakan program- program pelayanan kesehatan ibu hamil dan bayi. Sedangkan angka kelangsungan hidup bayi (AKHB) adalah probabilitas bayi hidup sampai dengan usia 1 tahun. Angka ini dihitung dari nilai 1 dikurangi dengan AKB, di mana angka 1 mewakili per 1.000 kelahiran hidup. Tabel. 2.23 Angka Kematian Bayi Tahun 2013-2017 Kab Nunukan Provinsi Kalimantan Utara Uraia n 201 3 201 4 201 5 201 6 201 7 Jumlah kematian bayi 38 6 57 57 18 Jumlah bayi lahir hidup 3.46 9 3.54 8 3.74 7 3.57 7 3.56 0Angka Kematian Bayi per 1.000 kelahiran hidup 11 2 15,2 26,8 19 ,9 Angka Kelangsungan Hidup Bayi 10,9 6 1,69 15,2 1 16,3 9 5,05 Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan Tahun 2018 Dari tahun 2013 ke tahun 2017, Angka Kematian bayi mengalami peningkatan di tahun 2015-2016 sebanyak 57 kasus kematian sedangkan angka kelangsungan hidup bayi terendah sejak tahun 2014. Pada tahun 2017 angka kematian bayi mengalami perbaikan. Jumlah kematian bayi pada tahun ini mengalami penurunan dibading tahun 2016 yaitu 57 kasus menjadi 18 kasus sehingga angka kematian bayi turun menjadi 19,9 per 1.000 kelahiran. Upaya –upaya untuk mempertahankan keadaan ini harus terus dilakukan dan dipantau. Secara khusus intervensi program-program seperti imunisasi, pencegahan penyakit menular terutama pada bayi dan anak- anak, upaya untuk promosi gizi dan pemberian makanan sehat bagi ibu hamil dan anak termasuk program 1.000 hari pertama kelahiran yang menekankan pada bayi mulai dari kandungan hingga berusia 2 tahun terus menjadi perhatian untuk diintensifkan pelaksanaannya. Tabel 2.24 Angka Kelangsungan Hidup Bayi Menurut Kabupaten Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah Kematian Bayi Jumlah Bayi Lahir Hidup Angka Kematian Bayi per 1000 Kelahiran Hidup AKHB Nunukan 32 3.747 8,5 991,5 Kaltara 154 11.848 13,0 987,0 Sumber data : 1. Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan Tahun 2018
2.Perubahan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2016- 2021
7.Angka Kematian Balita Kematian balita merupakan kematian yang dialami pada anak sebelum mencapai usia 5 tahun. AKB menunjukkan banyaknya kasus kematian anak balita per 1.000 kelahiran hidup disuatu wilayah tertentu pada kurun waktu tertentu. Kematian balita dapat berguna untuk mengembangkan program imuniasasi, program penerangan penyakit meular yang terjadi pada anak-anak, program penerangan tentang gizi dan pemberian makanan sehat untuk anak-anak dibawah usia 5 tahun. Tabel 2.25 Angka Kematian Balita Tahun 2012-2017 Kab Nunukan URAIAN TAHUN 2013 2014 2015 2016 2017 Jumlah Kematian Anak Balita (org) 23 9 9 7 9 Jumlah Bayi Lahir Hidup (org) 3.469 3.548 3.747 3.577 3.560 Angka Kematian Balita per 1.000 kelahiran hidup (org) 7 3 2,4 17,9 2,5 Sumber data : Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan Tahun 2018 Pada tahun 2017 Angka Kematian Balita sebesar 2,5 per 1.000 kelahiran hidup. Kondisi tersebut mengalamai perbaikan jika dibandingkan tahun 2016 dengan AKBA sebesar 17,9 per 1.000 kelahiran hidup. Tentunya upaya-upaya pencegahan dan penurunan AKBA ini harus terus diintensifkan guna menurunkan kasus angka kematian balita dalam suatu wilayah Kabupaten. III - 17
8.Angka Kematian Ibu Melahirkan Kematian ibu adalah kematian yang terjadi pada ibu karena peristiwa kehamilan, persalinan, dan masa nifas. Angka kematian ibu dihitung per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu melahirkan merupakan salah satu indicator penting dalam menentukan kematian terkait kesehatan masyarakat. Salah satunya digunakan dalam pemantauan terkait dengan kehamilan dan persalinan. Indicator ini juga dapat dipengaruhi oleh status kesehatan ibu secara umum, pendidikan, pelayanan selama antennal (K4) dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan. Pada tahun 2013-2017 angka kematian ibu melahirkan di Kabupaten Nunukan mengalami peningkatan dan penurunan. Tahun 2016 AKI sebesar 112 per 100.000 kelahiran hidup. Tahun 2017 AKI meningkat menjadi 197 per 100.000 kelahiran hidup, angka ini nak cukup besar jika dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini perlu menjadi perhatian yang serius oleh pemerintah Kabupaten khususnya upaya pencegahan terhadap kematian ibu saat melahirkan sehingga penurunan AKI ini dapat terus ditekan. Tabel 2.26 Angka Kematian Ibu Tahun 2013-2017 Kab Nunukan Uraian 2013 2014 2015 2016 2017 Jumlah Kematian Ibu (org) 6 5 6 4 7 Jumlah Bayi Lahir Hidup (org) 3469 3.548 3.747 3.577 3.560 Angka Kematian Ibu Melahirkan per 100.000 kelahiran hidup (org) 173 141 160 112 197 Sumber data : Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan Tahun 2018
9.Angka Usia Harapan Hidup Angka usia harapan hidup pada waktu lahir adalah perkiraan lama hidup rata - rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur. Angka harapan hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. Tabel 2.27 Angka Usia Harapan Hidup Tahun 2012-2017 Kabupaten Nunukan Uraian 2013 2014 2015 2016 2017 Angka Usia Harapan Hidup 70,74 70,82 70,83 71,23 71,25 Sumber: Dinas Kesehatan 2018 Angka usia harapan hidup di Kabupaten Nunukan dari tahun 2013- 2017 kecenderungan mengalami peningkatan dengan usia harapan hidup sebesar 70,74 tahun 2013 hingga menjadi 71,25 di tahun 2017. Angka usia harapan hidup dipengaruhi oleh banyak variabel yang erat kaitannya dengan masalah kesehatan penduduk. Oleh karena itu, untuk meningkatkan angka usia harapan hidup perlu memperhatikan hal - hal seperti penanganan terhadap kehamilan yang beresiko, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, jumlah tenaga medis dan kesehatan yang lain, angka kesakitan, kondisi geografis tempat tinggal, penyediaan air bersih, akses terhadap sarana kesehatan, hingga latar balakang pendidikan masyarakat.
10.Persentase Balita Gizi Buruk Balita gizi buruk merupakan balita dengan status gizi menurut berat badan (BB) dan umur (U) dengan Z-score < -3 SD dan atau dengan tanda - tanda klinis (marasmus, kwasiorkor dan marasmus - kwasiorkor). Presentase balita gizi buruk dihitung dari banyaknya balita yang berstatus gizi buruk di suatu wilayah tertentu selama satu tahun dibandingkan dengan jumlah balita di wilayah tersebut pada waktu yang sama. Tabel 2. 28 Persentase Balita Gizi Buruk Tahun 2012-2017 Kab Nunukan Uraian 2013 2014 2015 2016 2017 Jumlah Balita Gizi Buruk 48 15 27 65 49 Jumlah Balita 17.116 17.612 19.359 20.219 21.079 Sumber: Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan 2018 III - 19 Berdasarkan data yang tersedia jumlah balita gizi buruk di Kabupaten Nunukan mengalami penurunan dan peningkatan dimana tahun 2014 kasus gizi buruk sebanyak 15 kasus namun meningkat lagi di tahun 2015-2016 menjadi 27-65 kasus. Sedangkan pada tahun 2017 turun menjadi 49 kasus. Jika dibandingkan dengan kriteria yang ditentukan oleh WHO (1999), persentase balita gizi buruk di Provinsi Kalimantan Utara tergolong rendah. Gizi buruk dapat terjadi pada semua kelompok umur, tetapi yang perlu lebih diperhatikan pada kelompok bayi dan balita. Pada usia 0-2 tahun merupakan masa tumbuh kembang yang optimal (golden period) terutama untuk pertumbuhan janin sehingga bila terjadi gangguan pada masa ini tidak dapat dicukupi pada masa berikutnya dan akan berpengaruh negatif pada kualitas generasi penerus. Sebaran gizi buruk menurut wilayah kerja puskesmas di wilayah Kabupaten Nunukan, dimana kasus gizi buruk banyak terjadi di wilayah kerja puskesmas Tanjung Harapan, Puskesmas Seimanggaris, puskesmas Nunukan dan puskesmas sedadap. Grafik 2.5 Sebaran Gizi Buruk Menurut Wilayah Kerja Puskesmas Di Kabupaten Nunukan Tahun 2018 Tren jumlah kasus gizi buruk di Kabupaten Nunukan dalam 3 tahun terakhir fluktuatif seperti pada grafik berikut : Sumber Data: Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan 2018
11.Rasio Penduduk yang Bekerja Rasio penduduk yang bekerja adalah perbandingan jumlah penduduk yang bekerja terhadap jumlah angkatan kerja pada kelompok umur produktif. Rasio penduduk yang bekerja akan menunjukkan ketersediaan lapangan kerja dan daya serapnya terhadap jumlah angkatan kerja yang tersedia. Semakin tinggi nilai rasio penduduk yang bekerja, maka semakin besar daya serap tenaga kerja. Tabel 2.29 Indeks Pembangunan Manusia Tahun 2013-2017 kabupaten Nunukan Uraian 2013 2014 2015 2016 2017 Rasio Penduduk yang bekerja 0,62 0,67 0,96 n/a 0,65 Sumber data : 1. RPJMD Provinsi Kaltara 2016-2021
2.Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Nunukan 2018 Peningkatan rasio penduduk yang bekerja ini disebabkan oleh adanya peningkatan jumlah penduduk usia kerja muda dan usia sekolah (15-19 tahun) yang memilih bekerja (menjadi angkatan kerja) dimana pada tahun 2015 sebesar 1.911 orang dan tahun 2017 naik menjadi 6.669 orang atau mengala i kenaikan sebesar 349%. Jadi ada peralihan yang besar dari penduduk bukan angkatan kerja menjadi penduduk angkatan kerja. Hal ini diindikasikan dimana terlihat penurunan jumlah penduduk bukan angkatan kerja tahun 2015 sebanyak 46.476 orang dan tahun 2017 menurun menjadi 39.376 orang sementara jumlah angkatan kerja naik dari 75.016 orang pada tahun 2015 menjadi 94.137 orang pada tahun 2017. III - 21
12.Indek Pembangunan Manusia Keberhasilan suatu pembangunan tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun juga harus memperhitungkan sejauh mana keberhasilan pembangunan manusia seutuhnya. Indicator keberhasilan pembangunan manusia meliputi berbagai dimensi, diantaranya keberhasilan dibidang pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan serta terpenuhinya berbagai fasilitas pelayanan sosial lainnya. Ukuran pembangunan yang digunakan selama ini yaitu PDB (Nasional) dan PDRB (Wilayah/Daerah), yang hanya mampu memotret pembangunan ekonomi saja. Sedangkan untuk mampu melihat keberhasilan suatu pembangunan manusia dari sisi aspek sosial dan kesejahteraan maka indicator Indeks pembangunan Manusia (IPM) merupakan indicator penting yang digunakan secara konprehensif sebagai dasar merencanakan kebijakan dan evaluasi pembangunan. Karena melalui IPM dapat diketahui sejauh mana keberhasilan pembangunan manusia yang telah dilaksanakan. IPM dikabupaten Nunukan saat ini merupakan yang terendah jika dibandingkan dengan 4 Kabupaten/Kota lainnya dalam provinsi Kalimantan utara, dimana tahun 2016 IPM Kabupaten Nunukan adalah 64,35 namun angka ini terus mengalami kenaikan jika dibandingkan tahun 2013 yang hanya sebesar 62,18 hingga tahun 2017 IPM Kabupaten Nunukan sebesar 65,10. Artinya IPM di Kabupaten Nunukan termasuk kategori sedang. Artinya kualitas manusia penduduk di Kabupaten Nunukan cukup baik namun harus terus ditingkatkan. IPM memotret kondisi kualitas hidup manusia di suatu wilayah yang terdiri dari komponen Angka Harapan Hidup, Angka Lama Sekolah, Angka Rata-Rata lama Sekolah dan pengeluaran per kapita disesuaikan. IPM sebagai indicator keberhasilan pembangunan manusia dpata menjadi isyarat seberapa besarnya pembangunan yang telah dijalankan mampu memberi peluang penduduk untuk hidup secara layak, melalui hidup sehat, dan panjang untuk memiliki pendidikan yang lebih tinggi, keterampilan yang lebih baik serta mempunyai kemampuan pendapatan yang diperlukan untuk hidup layak dimaksud. Berikut disajikan data IPM di Kabupaten Nunukan dari tahun 2013-2017 di Kabupaten Nunukan. Tabel 2.30 Indeks Pembangunan Manusia Tahun 2013-2017 kabupaten Nunukan Kabupaten 2013 2014 2015 2016 2017 Nunukan 62,18 63,13 63,35 64,35 65,10 Sumber Data : BPS Kabupaten Nunukan 2018 2.2.3 Fokus Seni Budaya dan Olahraga
1.Jumlah Grup Kesenian Pembangunan bidang seni salah satunya ditunjukkan dengan pertumbuhan jumlah grup kesenian di suatu daerah. Jumlah grup kesenian menunjukkan jumlah grup kesenian yang terbentuk dimasyarakat melalui pembinaan dari pemerintah daerah. Organisasi struktural yang menangani kesenian ada dua, yaitu paguyuban dan sanggar. Sanggar yang ada di Kabupaten Nunukan sebanyak 46 sanggar dan tersebar di beberapa kecamatan. Sementara Lembaga/ dewan kesenian berada di Dinas Pariwisata Kepemudaaan dan Olahraga. Dengan adanya dua organisasi tersebut, sudah dapat mengakomodir seluruh cakupan organisasi kesenian. Tabel 2.31 Perkembangan Group Kesenian Jumlah 2013-2017 Kabupaten Nunukan N o Ura ian 2 0 1 3 2 0 1 4 2 0 1 5 2 0 1 6 2 0 1 7 1 Cakupan grup kesenian 33 ,3 0 % 6 6, 6 7 % 1 0 0 % 1 0 0 % 1 0 0 % Sumber data : Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah raga Kab. Nunukan
2.Jumlah Gedung Kesenian Pembangunan bidang seni sangat erat kaitannya dengan kualitas hidup manusia dan masyarakat di suatu daerah. Salah satunya ditunjukkan dengan adanya gedung kesenian dalam rangka mendukung berkembangnya kesenian suatu wilayah. Dari data yang ada jumlah gedung kesenian di Kabupaten Nunukan hanya terdapat 2 (dua), yaitu yang berada di Desa Lembudud Kecamatan Krayan dan GOR Dwi Kora. III - 23 Tabel 2.32 Perkembangan Cakupan Organisasi Kesenian Kabupaten Nunukan Tahun 2013 - 2015 N o Urian 2 0 1 3 2 0 1 4 2 0 1 5 2 0 1 6 2 0 1 7 1 Cakupan tempat kesenian 0 % 1 0 0 % 1 0 0 % 1 0 0 % 1 0 0 % Sumber data : Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga 2018
3.Jumlah Klub Olahraga Jumlah klub olahraga merupakan indikator yang menjelaskan tolok ukur sejumlah kelompok kegiatan untuk mendukung aktivitas bidang olahraga. Indikator ini berguna untuk melihat perkembangan sumber daya manusia melalui kegiatan olahraga. Jumlah klub olahraga dihitung dalam satuan 10.000 penduduk. Tabel 2.33 Jumlah Organisasi Olahraga Kabupaten Nunukan Tahun 2013 - 2017 N o Uraian 2 0 1 3 2 0 1 4 2 0 1 5 2 0 1 6 2 0 1 7 1 Jumlah organisasi olahraga 3 1 4 8 3 2 3 2 3 2 Sumber data : Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga 2018 Data jumlah klub olahraga yang tersedia hanya Kabupaten Nunukan untuk tahun 2013 sebanyak 31 organisasi. Tahun 2014 sebanyak 48 organisasi dan pada Tahun 2015 sebanyak 32 organisasi.
4.Jumlah Gedung Olahraga Gedung olahraga merupakan sarana pendukung kegiatan olahraga di suatu daerah. Indikator ini berguna untuk menjelaskan adanya potensi pendukung sarana dan prasarana pengembangan bidang olahraga. Data jumlah gedung olahraga yang tersedia di Kabupaten Nunukan untuk tahun 2013 - 2017 hanya sebanyak 1 buah yaitu Gedung Olahraga (GOR) Dwikora. Berikut ini merupakan tabel perkembangan jumlah gedung olahraga di Kabupaten Nunukan. Tabel 2.34 Jumlah Gedung Olahraga Kabupaten Nunukan Tahun 2013 - 2017 No Uraian 2013 2014 2015 2016 2017
1.Jumlah gedung olahraga 1 1 1 1 1 Sumber data : Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga 2018 2.3 ASPEK PELAYANAN UMUM 2.3.1 Fokus Urusan Wajib Berkaitan Dengan Pelayanan Dasar A. Pendidikan
1.Pendidikan Dasar 1.1. Angka Partisipasi Sekolah Angka partisipasi sekolah (APS) jenjang SD/MI dan SMP/MTs merupakan ukuran daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. APS diketahui berdasarkan jumlah murid kelompok usia pendidikan menengah yaitu 7 - 12 tahun yang masih menempuh pendidikan menengah per 1.000 jumlah penduduk usia pendidikan dasar dan jumlah murid masih menempuh pendidikan menengah per 1.000 jumlah penduduk usia pendidikan SMP/MTs. Berikut adalah data angka parisipasi sekolah jenjang SD/MI dan SMP/MTs tahun 2011 s/d Tahun 2015. Tabel 2.35 Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun 2013-2017 di Kabupaten Nunukan No Jenjang Pendidikan 2013 2014 2015 2016 2017
1.SD/MI 1.1. Jumlah Murid Usia 7-12 tahun 23.816 1.2. Jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun 1.3. APS SD/MI 2 SMP/MTs 2.1. Jumlah murid usia 13-15 tahun 9.202 2.2. Jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun 2.3. APS SMP/MTs Sumber data : Dinas Pendidikan Kab. Nunukan III - 25 1.2. Rasio Ketersediaan Sekolah/Penduduk Usia Sekolah Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah, merupakan perbandingan antara jumlah sekolah dan penduduk dalam usia sekolah. Dengan demikian, nilai ini juga mencerminkan jumlah sekolah yang ada setiap 10.000 penduduk. Pada indikator ini jenjang pendidikan yang digunakan adalah SD/MI, SMP/MTs dan SMA/SMK/MA. Tabel 2.36 Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun 2013-2017 di Kabupaten Nunukan No Jenjang Pendidikan 2013 2014 2015 2016 2017
2.SD/MI 1.1. Jumlah Murid Usia 7-12 tahun 23.816 1.2. Jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun 1.3. APS SD/MI 2 SMP/MTs 2.1. Jumlah murid usia 13-15 tahun 9.202 2.2. Jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun 2.3. APS SMP/MTs Sumber data : 1. Kabupaten Dalam Angka 2018
2.Data diolah 1.3. Rasio Guru/Murid Rasio guru dan murid tingkat SD/MI dan SMP/MTs adalah merupakan perbandingan jumlah guru dibanding jumlah murid untuk jenjang pendidikan SD/MI dan SMP/MTs. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar (guru) dan digunakan untuk mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajarannya. Berikut adalah data rasio guru/murid SD/MIdan SMP/MTs di Kabupaten Nunukan Tahun 2011 s/d Tahun 2015. Tabel 2.37 Perkembangan Rasio Guru dan Murid tingkat SD/MI dan SMP/MTs Kabupaten Nunukan Tahun 2013 - 2017 No Jenjang Pendidikan 2013 2014 2015 2016 2017
1.SD/MI 1.1. Jumlah guru 1.738 1.2. Jumlah murid 23.816 1.3. Rasio 7,29 2 SMP/MTs 2.1. Jumlah guru 637 2.2. Jumlah murid 9.202 2.3. Rasio 6,92 Sumber data : 1. Kabupaten Dalam Angka 2018
2.Data diolah Tabel 2.38 Jumlah guru dan murid jenjang pendidikan Dasar menurut Kecamatan Tahun 2017 di Kabupaten Nunukan No Kecamatan SD/MI SMP/MTs Jumlah guru Jumlah murid Rasio Jumlah guru Jumlah murid Rasio 1 Krayan Selatan 54 441 12.24 25 128 19.53 2 Krayan Tengah 0 0 0.00 0 0 0.00 3 Krayan 0 0 0.00 0 0 0.00 4 Krayan Timur 234 987 23.71 60 442 13.57 5 Krayan Barat 0 0 0.00 0 0 0.00 6 Lumbis Ogong 72 832 8.65 13 163 7.98 7 Lumbis 120 1222 9.82 28 574 4.88 8 Sembakung Atulai 0 0 0.00 0 0 0.00 9 Sembakung 180 1271 14.16 47 410 11.46 10 Sebuku 94 1447 6.50 29 257 11.28 11 Tulin Onsoi 81 1251 6.47 28 603 4.64 12 Seimanggaris 60 1122 5.35 23 335 6.87 13 Nunukan 375 7478 5.01 135 2894 4.66 14 Nunukan Selatan 104 2320 4.48 90 1421 6.33 15 Sebatik Barat 80 1224 6.54 33 456 7.24 16 Sebatik 55 725 7.59 33 352 9.38 17 Sebatik Timur 109 1779 6.13 26 302 8.61 18 Sebatik Tengah 68 882 7.71 24 440 5.45 19 Sebatik Utara 52 835 6.23 43 425 10.12 Kabupaten Nunukan 1738 23816 6.87 637 9202 6.95 Sumber data : 1. Kabupaten Dalam Angka 2018
2.Data diolah
3.Pendidikan Menengah 2.1. Angka Paritisipasi Sekolah Angka partisipasi sekolah (APS) jenjang SMA/SMK/MA merupakan ukuran daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. APS diketahui berdasarkan jumlah murid kelompok usia pendidikan menengah yaitu 16 - 18 tahun yang masih menempuh pendidikan menengah per 1.000 jumlah penduduk usia pendidikan dasar. Berikut adalah data angka partisipasi sekolah jenjang SD/MI, SMP/MTs dan SMA/SMK/MA Tahun 2013 s/d Tahun 2017. III - 27 Tabel 2.39 Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun 2013-2017 di Kabupaten Nunukan No Jenjang Pendidikan 2013 2014 2015 2016 2017
4.SD/MI 1.1. Jumlah Murid Usia 7-12 tahun 23.816 1.2. Jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun 1.3. APS SD/MI 2 SMP/MTs 2.1. Jumlah murid usia 13-15 tahun 9.202 2.2. Jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun 2.3. APS SMP/MTs Sumber data : Dinas Pendidikan Kab. Nunukan 2018 2.2. Rasio Ketersediaan Sekolah Terhadap Penduduk Usia Sekolah Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah, merupakan perbandingan antara jumlah sekolah dan penduduk dalam usia sekolah. Dengan demikian, nilai ini juga mencerminkan jumlah sekolah yang ada setiap 10.000 penduduk. Pada indikator ini jenjang pendidikan yang digunakan adalah SD/MI, SMP/MTs dan SMA/SMK/MA. Tabel 2.40 Perkembangan Rasio Ketersediaan Sekolah/Penduduk Usia Sekolah SMA/SMK/MA di Kabupaten Nunukan Tahun 2013 - 2017 No Uraian 2013 2014 2015 2016 2017
1.Jumlah sekolah (SMA/MA/SMK) 24 24 22 22 22
2.Jumlah penduduk usia SMA/Sederajat (16 s/d 19) thn 11481 11641 10383 16503 n/a
3.Rasio ketersediaan sekolah per 10.000 penduduk na 20.62 21.19 13.33 n/a Sumber data : Kabupaten Nunukan Dalam Angka Tahun 2015, 2016,2017 Berdasarkan data di atas, pada tahun 2015 sampai dengan tahun 2017, rasio ketersediaan sekolah untuk jenjang SMA/SMK/MA di Kabupaten Nunukan mengalami penurunan. Pada tahun 2015 rasio ketersediaan sekolah di Kabupaten Nunukan mencapai 21,19. Hal ini berarti, jumlah sekolah di Kabupaten Nunukan masih cukup banyak dapat menampung penduduk usia 16 - 18 tahun. Sedangkan pada tahun 2016 mengalami penurunan mencapai 13.33 hal ini ada beberapa sekolah yang sudah tidak dapat menampung penduduk usia 16-18 tahun untuk bersekolah. Ketersediaan data untuk jumlah penduduk usia SMA/Sederajat dan jumlah sekolah pada tahun 2017 belum tersedia (minim), sehingga belum dapat dianalisis lebih lanjut. 2.3. Rasio Guru/Murid SMA/SMK/MA Rasio guru dan murid jenjangSMA/SMK/MA adalah merupakan perbandingan jumlah guru dibanding jumlah murid untuk jenjang SMA/SMK/MA. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar (guru) dan digunakan untuk mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajarannya. Berikut adalah data rasio guru/murid SMA/SMK/MA di Kabupaten Nunukan Tahun 2013 sampai dengan Tahun 2017. Tabel 2. 41 Perkembangan Rasio Guru/Murid SMA/SMK/MA Menurut Kabupaten Nunukan Tahun 2012 s.d 2017 No. Uraian 2013 2014 2015 2016 2017 1. Jumlah guru Guru SMA/SMK/MA 416 622 n/a 544 481 2. Jumlah Murid SMA/SMK/MA 6515 6638 n/a 7411 6788 3. Rasio Guru/Murid SMA/SMK/MA 6,38 9,37 n/a 7,34 7,09 Sumber data : Dinas Pendidikan Kab. Nunukan 2018
3.Fasilitas Sekolah 3.1. Sekolah pendidikan dalam Kondisi Bangunan Baik Sekolah pendidikan dalam kondisi bangunan baik dihitung berdasarkan persentase jumlah kelas kondisi baik dibandingkan dengan jumlah seluruh kelas yang ada. Kondisi ruang kelas yang baik pastinya akan mendukung dan menciptakan situasi belajar yang nyaman dan kondusif bagi masyarakat. Berikut data persentase sekolah yang bangunannya dalam baik di Kabupaten Nunukan. III - 29 Tabel 2.42 Perkembangan Sekolah dengan Kondisi Baik di Kabupaten Nunukan Tahun 2013 – 2017 Jenjang SD/MI No. Uraian 2013 2014 2015 2016 2017
1.Jumlah sekolah pendidikan SD/MI kondisi bangunan baik 559 577 576 647 845
2.Jumlah seluruh sekolah SD/MI kondisi bangunan baik 966 1003 1010 996 996
3.Persentase sekolah pendidikan SD/MI kondisi bangunan baik 57,87 57,53 57,03 64,96 82,78 Jenjang SMP/MTs No. Uraian 2013 2014 2015 2016 2017
1.Jumlah sekolah pendidikan SMP/MTS kondisi bangunan baik 369 368 419 388 252
2.Jumlah seluruh sekolah SMP/MTS kondisi bangunan baik 476 483 514 541 259
3.Persentase sekolah pendidikan SMP/MTS kondisi bangunan baik 77,52 76,19 81,52 74,72 97,30 Sumber data : Dinas Pendidikan Kab. Nunukan 2018 Dari data diatas, terlihat bahwa dari tahun 2013 hingga tahun 2017 persentase sekolah pendidikan SD/MI kondisi baik terus mengalami peningkatan dari tahun 2013 57,87 % hingga tagun 2017 mencapai 82,78 % . Sedangkan SMP/MTS kondisi baik mengalami kenaikan dari 77,52 % di tahun 2013 menjadi 97,30 % ditahun 2017.
4.Angka Putus sekolah Indikator ini menggambarkan perbandingan jumlah siswa yang putus sekolah dengan jumlah siswa baik ditingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) maupun Sekolah Menengah Atas (SMA). Berdasarkan data yang ada, diketahui bahwa angka putus sekolah baik di tingkat SD, SMP maupun SMA mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan program pendidikan yang dilaksanakan sesuai dengan standar untuk pencapaian keberhasilan dan kesadaran masyarakat tentang pendidikan terjadi peningkatan meskipun perlu perbaikan dalam sistem pengelolaan dan peningkatan mutu pendidikan. Hingga tahun 2017 angka putus sekolah jenjang SD/MI mencapai 0,19, jenjang SMP/MTs 0,36 sedangkan jenjang SMA/MA/SMK turun 0,27. Berikut data APS jenjang pendidikan di Kabupaten Nunukan 2013 hingga 2017. Tabel 2.43 Angka Putus Sekolah (APS) Jenjang Pendidikan Kabupaten Nunukan Tahun 2013 - 2017 Uraian 2013 2014 2015 2016 2017 Angka Putus Sekolah (APS) Jenjang SD/MI 0,09 0,24 0,31 0,21 0,19 Angka Putus Sekolah (APS) Jenjang SMP/MTS 0,52 0,24 0,36 0,36 0,36 Angka Putus Sekolah (APS) Jenjang SMA/MA/SMK 0,56 0,00 0,00 0,33 0,27 Sumber data : Dinas Pendidikan Kab. Nunukan 2018
5.Angka Kelulusan 5.1. Angka Kelulusan SD/MI Angka kelulusan adalah perbandingan antara jumlah siswa yang lulus ujian akhir atau ujian nasional dengan jumlah siswa yang mengikuti ujian nasional tersebut. Angka kelulusan yang tinggi menunjukkan prestasi dari sebuah institusi pendidikan. Berikut merupakan data angka kelulusan SD/MI di Kabupaten Nunukan. Tabel 2.44 Angka Kelulusan SD/MI Menurut Kabupaten Nunukan Tahun 2013-2017 No. Uraian 2013 2014 2015 2016 2017 1. Jumlah lulusan pada Jenjang SD/MI 3172 3372 3519 3555 2380 2. Jumlah siswa tingkat tertinggi pada jenjang SD/MI 3189 3374 3534 3558 3366 3. Angka Kelulusan SD/MI 99,47 99,94 99,58 99,92 97,45 Sumber data : Dinas Pendidikan Kab. Nunukan 2018 III - 31 Berdasarkan data di atas, terlihat bahwa angka kelulusan jenjang SD/MI di Kabupaten Nunukan mengalami fluktuasi setiap tahunnya, dimana pada Tahun 2013 sebesar 99,47% naik menjadi 99,58% pada Tahun 2014, namun pada tahun 2017 angka tersebut turun lagi menjadi 97,45%. 5.2. Angka Kelulusan SMP/MTs Angka kelulusan adalah perbandingan antara jumlah siswa yang lulus ujian akhir atau ujian nasional dengan jumlah siswa yang mengikuti ujian nasional tersebut. Angka kelulusan yang tinggi menunjukkan prestasi dari sebuah institusi pendidikan. Berikut merupakan data angka kelulusan SMP/MTs di Kabupaten Nunukan. Tabel 2.45 Angka Kelulusan SMP/MTS Menurut Kabupaten Nunukan Tahun 2013-2017 No. Uraian 2013 2014 2015 2016 2017 1. Jumlah lulusan pada Jenjang SMP/MTS 2430 2750 3091 2873 2415 2. Jumlah siswa tingkat tertinggi pada jenjang SMP/MTS 2448 2767 3110 2887 2762 3. Angka Kelulusan SMP/MTS 99,26 99,39 99,71 99,52 87,44 Sumber data : Dinas Pendidikan Kab. Nunukan 2018 Berdasarkan data di atas, terlihat bahwa angka kelulusan jenjang SMP/MTs di Kabupaten Nunukan dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2016 secara umum mengalami kenaikan yaitu 99,26 % pada tahun 2013 naik menjadi 99,52 % pada tahun 2016. Sedangkan pada tahun 2017 mengalami penurunan sebesar 87,44 %. 5.3. Angka Kelulusan SMA/SMK/MA Angka kelulusan adalah perbandingan antara jumlah siswa yang lulus ujian akhir atau ujian nasional dengan jumlah siswa yang mengikuti ujian nasional tersebut. Angka kelulusan yang tinggi menunjukkan prestasi dari sebuah institusi pendidikan. Berikut merupakan data angka kelulusan SMA/SMK/MA di Kabupaten Nunukan hingga tahun 2017. Tabel 2.46 Angka Kelulusan SMA/MA/SMK Menurut Kabupaten Nunukan Tahun 2012-2017 No. Uraian 2013 2014 2015 2016 2017
1.Jumlah lulusan pada Jenjang SMA/SMK/MA 1794 1876 1945 2298 1482
2.Jumlah siswa tingkat tertinggi pada jenjang SMA/SMK/MA 1783 1905 1960 2306 2370
3.Angka Kelulusan SMA/MA/SMK 99.62 99.33 99,33 99,65 62,37 Sumber data : Dinas Pendidikan Kab. Nunukan 2018 Berdasarkan data di atas, terlihat bahwa angka kelulusan jenjang SMA/SMK/MA di Kabupaten Nunukan mengalami fluktuasi setiap tahunnya, dimana pada Tahun 2013 sebesar 99,62 % dan turun menjadi 98,33 % pada tahun 2014, namun pada tahun 2016 angka tersebut naik lagi menjadi 99,65 % dan turun lagi pada tahun 2017 menjadi 62,37 %. Karena untuk tahun 2017 penetapan kelulusan mengikuti standar nasional dengan perubahan kurikulum dimana pelaksanaan ujian nasional menggunakan kurikulum 2013 sementara untuk Kabupaten Nunukan masih menggunakan kurikulum KTSP tahun 2006 sehingga banyak angka kelulusan tidak memenuhi passingred yang telah ditentukan dari kementerian pendidikan. 5.4. Guru yang Memenuhi Kualifikasi S1/D-IV Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV merupakan perbandingan antara jumlah guru yang berijazah minimal S1/D-IV dengan total seluruh guru yang ada di kabupaten. Guru yang memenuhi kualifikasi pendidikan minimal S1/D-IV tentu akan memiliki kompetensi dan pemahaman tentang materi yang lebih baik. Berikut merupakan data guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV di Kabupaten Nunukan. III - 33 Tabel 2.47 Persentase Guru yang Memenuhi Kualifikasi S1/D-IV Menurut Kabupaten Nunukan Tahun 2012 s.d. 2017 Sumber data : Dinas Pendidikan Kab. Nunukan 2018 Dari data di atas terlihat kenaikan kulaifikasi S1/D-IV untuk SD dan SMP mengalami kenaikan. Dimana untuk tingkat SD tahun 2013 mencapai 87,7 % terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun hingga tahun 2017 mencapai 94,74 %. Sedangkan untuk tingkat SMP juga mengalami peningkatan dimana tahun 2013 87,12 % namun hingga tahun 2017 mengalami peningkatan menjadi 97,22 %. Hal ini tentunya merupakan gambaran untuk terus meningkatkan kompetensi bagi tenaga pengajar baik dijenjang SD maupun SMP terus dipacu sehingga kompetensi lulusan juga diharapkan akan naik dan meningkat.
6.Kesehatan 6.1. Rasio posyandu per satuan balita Posyandu adalah suatu wadah komunikasi dalam pelayanan kesehatan masyarakat dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan dan keluarga berencana yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini. Tabel 2.48 Rasio Posyandu per 100 Balita Kabupaten Nunukan Tahun 2013-2017 Uraian nn 2013 2014 2015 2016 2017 Jumlah Posyandu 228 219 217 255 224 Jumlah balita 17.116 19862 21704 23.26 7 21079 Rasio posyandu per 100 balita 1,33 1,10 0,9 9 0,93 1,06 Sumber data : Dinas Pendidikan Kab. Nunukan 2018 Dari data diatas rasio posyandu per tahun 100 balita tahun 2017 naik sebesar 1,06 % jika dibandingkan tahun 2016 sebesar 0,93 %. Uraian 2013 2014 2015 2016 2017 Persentase Guru yang Memenuhi Kualifikasi S1/D- IV untuk SD 87,7 71,04 73,03 78,84 94,74 Persentase Guru yang Memenuhi Kualifikasi S1/D- IV untuk SMP 87,12 91,56 92,60 92,94 97,22 6.2. Rasio Puskesmas, Poliklinik, Pustu Per Satuan Penduduk Puskesmas, poliklinik dan pustu adalah salah satu sarana upaya peningkatan kesehatan masyarakat yang dilakukan dengan tersedianya pelayanan kesehatan yang mudah, merata dan murah pada semua lapisan masyarakat terutama masyarakat yang kurang mampu. Tabel 2.49 Rasio Puskesmas, Poliklinik, dan Puskesmas Pembantu per 100.000 Penduduk Kabupaten Nunukan Tahun 2013-2017 Uraia n 2013 2014 2015 2016 2017 Jumlah Puskesmas 15 16 16 16 16 Jumlah Poliklinik 0 0 0 0 0 Jumlah Pustu 61 61 92 92 92 Jumlah Penduduk 163.40 2 170042 17760 7 18549 9 19339 0Rasio Puskesmas 9,12 9,4 9,0 8.63 8,27 Rasio Poliklinik 0 0 0 0 0 Rasio Pustu 37,33 35,87 51,80 49,59 47,57 Sumber data : Dinas Pendidikan Kab. Nunukan 2018 6.3. Rasio Rumah Sakit Per Satuan Penduduk Rumah sakit merupakan salah satu sarana kesehatan yang berfungsi menyelenggarakan pelayanan kesehatan rujukan, asuhan keperawatan secara berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien. Semakin banyak rumah sakit yang tersedia, akan semakin mudah bagi masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan. Pada Tahun 2013 sampai dengan Tahun 2017 terdapat 1 unit RSUD dan pada Tahun 2015 telah bertambah 2 unit rumah sakit pratama kelas D yaitu Rumah Sakit Pratama Sebuku dan Rumah Sakit Pratama Krayan, dan rencana pada Tahun 2016 kedua rumah sakit pratama tersebut akan beroperasi. Sementara tahun 2018 Rumah Sakit Pratama di Kecamatan Sebatik telah Berdiri sehingga saat ini Jumlah penambahan Rumah sakit saat ini ada 1 unit. Tabel 2.50 Rasio Rumah Sakit per 100.000 Penduduk Tahun Kabupaten Nunukan 2012-2017 Uraia n 2013 2014 2015 2016 2017 Jumlah Rumah Sakit AD/AU/ AL/POLRI 0 0 0 0 0 Jumlah Rumah Sakit Daerah 1 1 1 1 1 Jumlah Rumah Sakit Swasta 0 Jumlah seluruh Rumah Sakit 1 1 1 1 1 Jumlah Penduduk 16340 2 17004 2 17760 7 18549 9 19339 0Rasio 0,61 0,59 0,56 0.54 0,52 Sumber data : Dinas Kesehatan Kab. Nunukan III - 35 Dari data diatas digambarkan bahwa rasio rumah sakit per 100.000 penduduk tahun 2017 mencapai 0,52 %. Pemerintah daerah telah melakukan upaya untuk terus meningkatkan layanan kesehatan masyarakat dengan mengusulkan pembangunan rumah sakit pratama di Kecamatan Krayan, Kecamatan Sebuku dan Kecamatan Sebatik dengan harapan meningkatkan layanan kesehatan rumah sakit.
7.Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang 7.1. Proporsi Panjang Jaringan Jalan Dalam Kondisi Baik. Berdasarkan data dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Nunukan sampai dengan Tahun 2017 panjang jalan di daerah ini adalah 1.044,76 Km. Dari data tersebut, diketahui bahwa jalan yang sudah diaspal dan rigid sepanjang 205,10 Km, yang masih agregat sepanjang 270,51 Km dan masih dalam bentuk tanah sepanjang 569,15 Km. Sementara berdasarkan kondisi jalan diketahui bahwa jalan yang masih baik sepanjang 572,82 Km, kondisi sedang 217,22 Km, sedangkan kondisi jalan yang rusak sepanjang 254,72 Km kondisi jalan ini terus mengalami peningkatan panjang. Pembangunan jaringan jalan tersebut merupakan prasarana transportasi yang penting untuk memperlancar distribusi barang antar daerah serta meningkatkan mobilitas penduduk. Tabel 2.51 Panjang Jalan berdasarkan Jenis di Kabupaten Nunukan Tahun 2017 No. Jalan Menurut Jenis Total S/D 2016 2017 Total S/D 2017 Panjang (Km) Bobot (%) Panjang (Km) Bobot (%) Panjang (Km) Bobot (%) 1 Aspal & Rigid 204.94 23.35 0.17 0.02 205.10 19.63 2 Agregat 242.43 27.63 28.08 2.69 270.51 25.89 3 Tanah 430.21 49.02 138.93 13.30 569.15 54.48 Total 877.58 100.00 167.18 16.00 1,044.76 100.00 Sumber data : Dinas Pekerjaan Umum PRPKP 2018 Tabel 2.52 Panjang Jalan Berdasarkan Kondisi Tahun 2017 No. Jalan Menurut Kondisi Total S/D 2016 2017 Total S/D 2017 Panjang (Km) Bobot (%) Panjang (Km) Bobot (%) Panjang (Km) Bobot (%) 1 Baik 392.80 44.76 180.02 17.23 572.82 54.83 2 Sedang 208.76 23.79 8.46 0.81 217.22 20.79 3 Rusak 276.02 31.45 (21.30) (2.04) 254.72 24.38 Total 877.58 100.00 167.18 16.00 1,044.76 100.00 Sumber data : Dinas Pekerjaan Umum PRPKP 2018 7.2. Rasio Jaringan Irigasi Untuk mendukung pembangunan agrobisnis dalam arti luas untuk mencapai ketahanan pangan pemerintah telah menyediakan infrastruktur irigasi untuk sektor pertanian berupa jaringan irigasi Primer, Sekunder dan Tersier. Upaya itu terus dilakukan untuk meningkatkan rasio jaringan irigasi di Kabupaten Nunukan khususnya melalui Program Irigasi yang didanai oleh Dana Alokasi Khusus (DAK) setiap tahunnya. Tabel 2.53 Rasio Jaringan Irigasi Tahun 2017 di Kabupaten Nunukan ‘ Sumber data : Dinas Pekerjaan Umum PRPKP 2018 Dari data diatas menunjukkan bahwa jaringan irigasi di Kabupaten Nunukan terbagi menjadi Daerah Irigasi dan Daerah Irigasi Rawa. Terdapat 24 daerah irigasi dengan total luas potensial 4.206,43 Ha dan luas fungsionalnya 1.594,82 Ha dengan rasio 37,91. Sementara untuk daerah irigasi rawa luas potensial 2.105,00 Ha dan Luas fungsional 572,20 Ha dengan rasio 27,18. Sehingga total rasio irigasi dan irigasi rawa 34,33 %. No. Luas Potensial (Ha) Luas Fungsional (Ha) Rasio Jaringan (%) A Daerah Irigasi 4,206.43 1,594.82 37.91 1 D.I. Tg. Harapan 400.00 100.00 25.00 2 D.I. Mansapa 524.00 300.00 57.25 3 D.I. Sei. Jepun 102.00 30.00 29.41 4 D.I. Sei. Apuk 150.00 30.00 20.00 5 D.I. Fatimah 80.00 50.00 62.50 6 D.I. Kp. Tator Binusan 300.00 176.32 58.77 7 D.I. Kp. Enrekang & Tellang 231.00 50.00 21.65 8 D.I. Kebakil 95.00 40.00 42.11 9 D.I. Tembaring Bawah 127.00 40.00 31.50 10 D.I. Liang Bunyu 80.00 35.00 43.75 11 D.I. Tanjung Aru 475.00 100.00 21.05 12 D.I. Long Api 100.00 50.00 50.00 13 D.I. Pa' Nado 200.00 50.00 25.00 14 D.I. Pa' Rupai 150.00 50.00 33.33 15 D.I. Sungai Lancang 200.00 30.00 15.00 16 D.I. Semengkadu 50.00 30.00 60.00 17 D.I. Sei. Manurung 100.00 40.00 40.00 18 D.I. Sei. Nyamuk 250.00 143.50 57.40 19 D.I. Binalawan 192.43 45.00 23.39 20 D.I. Binasalam 50.00 30.00 60.00 21 D.I. Kp. Sinjai 50.00 30.00 60.00 22 D.I. Balansiku 100.00 50.00 50.00 23 D.I. Seberang 100.00 45.00 45.00 24 D.I. Sei. Pancang 100.00 50.00 50.00 B Daerah Irigasi Rawa 2,105.00 572.20 27.18 1 D.I.R. Pembeliangan 500.00 277.00 55.40 2 D.I.R. Sekaduyan Taka 230.00 85.20 37.04 3 D.I.R. Lubakan 77.00 35.00 45.45 4 D.I.R. Pa Lo Lumbis 700.00 50.00 7.14 5 D.I.R. Tagul 150.00 25.00 16.67 6 D.I.R. Plaju 148.00 25.00 16.89 7 D.I.R. Tepian 200.00 25.00 12.50 8 D.I.R. Sembakung Atulai 100.00 50.00 50.00 6,311.43 2,167.02 34.33 Nunukan Nunukan Nunukan Selatan Nunukan Selatan Sembakung Sembakung Lumbis Sembakung Seimanggaris Sebuku Nunukan Sebatik Barat Sebatik Barat Sebatik Sebatik Utara Sebatik Utara Sebatik Nunukan Selatan Nunukan Selatan Krayan Krayan Krayan Sebatik Timur Sebatik Barat Sebatik Barat Sebatik Utara Sebatik Barat Sebatik Barat Sebatik Timur Total Rasio Jaringan Irigasi LokasiNama D.I Nunukan Selatan Sembakung Atulai Sembakung III - 37 Hal ini tentunya perlu terus ditingkatkan sehingga seluruh jaringan irigasi terus mengalami peningkatan khususnya secara fungsional dari potensi luasan irigasi yang ada. Hal ini tentunya sejalan dengan upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi pangan terutama padi untuk menunjang sektor agrobisnis yang berkembang dan mendukung ketahanan dan kedaulatan pangan didaerah bahkan nasional. Tabel 2.54 Panjang dan luas Jaringan Irigasi Tahun 2017 di Kabupaten Nunukan No. Keterangan Volume Satuan 1 Panjang Jaringan Irigasi 142.207. M 3 Luas Irigasi dalam Kondisi Baik 9.495.000 M2 Sumber data : Dinas Pekerjaan Umum Kab. Nunukan Dari data diatas diperoleh bahwa sepanjang Tahun 2017 jaringan irigasi yang sudah terbangun di Kabupaten Nunukan adalah 142.207,0 m, dengan luas jaringan irigasi dalam kondisi baik di Kabupaten Nunukan seluas 9.495.000 M2 atau sebesar 10% dari potensi luas irigasi yang ada di Kabuputen Nunukan. 7.3. Rasio Tempat Ibadah Per Satuan Penduduk Indikator tempat ibadah per satuan penduduk didapatkan dari perbandingan jumlah tempat ibadah dengan jumlah penduduk per 1000 penduduk. Berkaitan dengan tempat ibadah, indikator rasio tempat ibadah per satuan penduduk ini akan lebih tepat apabila pembanding yang digunakan dalam penghitungan indikator tersebut menggunakan jumlah pemeluk agama. Dengan demikian, indikator ini berganti menjadi rasio tempat ibadah per satuan pemeluk agama. Tabel 2.55 Jumlah Sarana Ibadah Menurut Kabupaten Nunukan Tahun 2013 - 2016 Uraian 2013 2014 2015 2016 Masjid/Musolah 219 208 208 209 Gereja Katolik 30 39 40 40 Gereja Protestan 128 74 110 118 Pura 0 0 0 0 Vihara 1 - 0 0 Klenteng 1 1 1 1 Sumber data : Nunukan Dalam Angka Tahun 2018 Jumlah tempat ibadah di Kabupaten Nunukan secara umum memiliki kecenderungan meningkat dalam kurun waktu Tahun 2013 hingga Tahun 2016. Jumlah masjid/musolah hingga Tahun 2016 tercatat sebanyak 209 unit. Jumlah gereja Katolik sebanyak 40 unit. sedangkan untuk jumlah gereja Protestan sebanyak 118 unit. Tabel 2.56 Jumlah Pemeluk Agama Di Kabupaten Nunukan Tahun 2011 - 2015 Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 Islam 106.408 106.406 106.406 124.646 136.202 Katolik 10.660 10.815 10.615 11.930 14.917 Protestan 42.754 43.995 43.995 31.521 34.477 Hindu 15 415 415 98 101 Budha 146 687 687 280 279 Sumber data : Nunukan Dalam Angka Tahun 2012 - 2017 Jumlah pemeluk agama di Kabupaten Nunukan hingga Tahun 2015 didominasi oleh pemeluk agama Islam, yakni sebanyak 136.202 jiwa, pemeluk agama Protestan sebanyak 34.477 jiwa dan pemeluk agama Katolik sebanyak 14.917 jiwa. Secara umum, jumlah pemeluk agama pada masing - masing agama memiliki kecenderungan meningkat, kecuali pada pemeluk agama Hindu dan Budha yang memiliki kecenderungan menurun dalam kurun waktu Tahun 2014 hingga Tahun 2015. III - 39
8.Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Rumah tinggal bersanitasi merupakan salah satu faktor yang menjadi sebuah indikator dalam penilaian kriteria rumah layak huni. Rumah tinggal berakses sanitasi sekurang - kurangnya mempunyai akses untuk memperoleh layanan sanitasi, diantaranya adalah fasilitas air bersih, pembuangan tinja, pembuangan air limbah (air bekas) dan pembuangan sampah. Indikator persentase rumah tinggal bersanitasi didapatkan dari perbandingan antara jumlah rumah tinggal berakses sanitasi dengan jumlah rumah tinggal dikalikan dengan bilangan 100. Data yang tersedia tidak dapat menjelaskan mengenai kondisi rumah tinggal bersanitasi di Provinsi Kalimantan Utara, hal ini dikarenakan tidak setiap kabupaten/kota didapatkan datanya. Tabel 2.57 Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Kabupaten Nunukan Tahun 2013 - 2016 Uraian 2013 2014 2015 2016 Jumlah rumah tinggal berakses sanitasi n/a n/a 18.431 22.468 Jumlah rumah tinggal n/a n/a 35.207 35.207 Persentase rumah tinggal bersanitasi n/a n/a 52,35 63,82 Sumber Data : Perubahan RPJMD Prov. Kaltara Tahun 2016-2021 Saat ini pemerintah daerah terus berupaya untuk meningkatkan akses rumah tinggal bersanitasi tentunya program pemerintah daerah yang sejalan dengan pemerintah provinsi dan pusat memacu peningkatan rumah tinggal yang berakses sanitasi misalnya program pembangunan rumah layak huni, penyediaan air bersih dan rehabilitasi MCK untuk mendukung kesehatan masyarajat serta terus berupaya mengurangi lingkungan sekitar yang buruk menjadi lebih baik.
9.Rasio Tempat Pemakaman Umum Per Satuan Penduduk. Indikator rasio Tempat Pemakaman Umum (TPU) per satuan penduduk merupakan hasil perbandingan antara jumlah daya tampung TPU dengan jumlah penduduk per 1000 penduduk. Pemakaman dapat dibedakan menjadi tiga, yakni Tempat Pemakaman Umum (TPU), Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU) dan Tempat Pemakaman Khusus (TPK). Indikator rasio tempat pemakaman umum (TPU) per satuan penduduk di Kabupaten Nunukan tidak dapat dihitung, hal ini dikarenakan tidak ditemukannya data mengenai jumlah daya tampung tempat pemakaman itu sendiri.
10.Rasio Rumah Layak Huni Indikator rasio rumah layak huni merupakan hasil perbandingan antara jumlah rumah layak huni dengan jumlah penduduk. Data yang tersedia dalam tabel berikut tidak dapat menggambarkan kondisi rasio rumah layak huni di Kabupaten Nunukan. Program-program bantuan rumah layak huni yang dicanangkan pemerintah pusat dan provinsi serta pemerintah daerah diharapkan akan meningkatkan nilai rasio rumah layak huni di Kabupaten sehingga masyarakat bisa memiliki rumah sendiri untuk meningkatkan taraf kehidupannya. Berikut rasio rumah layak huni di Kabupaten Nunukan tahun 2016 dimana rasio rumah layak huni masih sangat kecil sekitar 10,70%. Tabel 2.58 Rasio Rumah Layak Huni di Kabupaten Nunukan Tahun 2011 - 2015 Uraian Kabupaten/ Kota 2013 2014 2015 2016 Jumlah rumah layak huni Nunukan - - - 21.963 Jumlah penduduk Nunukan - - - 205.293 Rasio rumah layak huni Nunukan - - - 10,70% Sumber data : Dinas Pekerjaan Umum PRPKP Kabupaten Nunukan 2018
11.Panjang Jalan di Lalui Roda 4 Indikator panjang jalan dilalui roda empat merupakan hasil perbandingan dari jumlah panjang jalan baik jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten/kota dan jalan desa (lokal) dengan jumlah penduduk. Indikator ini digunakan untuk menunjukkan rasio panjang jalan di suatu wilayah yang dapat dilalui oleh kendaraan roda empat untuk melayani per 1000 penduduk. 2.3.2 Fokus Urusan Wajib Non Pelayanan Dasar
1.Tingkat Pengangguran Terbuka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) merupakan perbandingan antara jumlah pencari kerja dengan jumlah angkatan kerja. TPT Kabupaten Nunukan memiliki trend yang menurun dari Tahun 2011 hingga Tahun 2015. Tingkat Pengangguran terbuka kabupaten Nunukan menurun dari 13.14% pada Tahun 2011 menjadi 3.78% pada Tahun 2014. III - 41 Hal ini menunjukkan bahwa program pengurangan jumlah pengangguran yang dilakukan pemerintah kabupaten Nunukan telah efektif pada periode tersebut. Jumlah lapangan kerja tidak terus meningkkat akan mengimbangi jumlah pencari kerja sehingga daya serap penduduk pencari kerja naik secara signifikan. Grafik 2.59 Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Nunukan Tahun 2011 – 2015 Sumber data : BPS Kabupaten Nunukan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Nunukan, Provinsi dan Nasional memiliki trend yang sama. Trend TPT Nunukan memiliki tingkat kemiringan/slope yang lebih tajam dibandingkan tingkat kemiringan TPT Provinsi dan Nasional. TPT Kabupaten Nunukan mengalami penurunan dari 13.14% pada Tahun 2011 menjadi 3,78% pada Tahun
2015.Sejalan dengan itu, angka TPT Provinsi juga mengalami penururnan dari 11,43% pada Tahun 2011 menjadi 7,55% pada Tahun 2015. Nilai TPT Nasional juga mengalami penurunan dari 7.48% pada Tahun 2011 menjadi 6.48% pada Tahun 2015. Dalam kurun waktu 2013 hingga 2014juga dapat dilihat bahwa tingkat pengangguran terbuka Kabupaten Nunukan berada dibawah target nilai TPT Provinsi dan Nasional. Hal tersebut menunjukkan kinerja pemerintah Kabupaten Nunukan sudah cukup efektif sehingga harus dipertahankan dan juga terus ditigkatkan. Namun pada tahun 2017 mengalami kenaikan menjadi Grafik 2.60 Perbandingan TPT Kabupaten Nunukan dengan Provinsi Kalimantan Utara dan Nasional Sumber data : BPS Kabupaten Nunukan Berikut ini grafik analisis Tingkat Pengangguran Terbuka Kabupaten Nunukan dan Propinsi Kalimantan Timur : Grafik 2.6 Analisis Relevansi dan Efektifitas Tingkat Pengangguran Terbuka Kabupaten Nunukan dan Propinsi Kalimantan Timur Sumber data : BPS Kabupaten Nunukan Grafik diatas menggambarkan bahwa tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Nunukan mengalami penurunan yang cukup signifikan pada setiap tahunnya. Seperti terlihat pada grafik di atas, dari 13,14 % pada Tahun 2011 menjadi 3,78 % pada Tahun
2015.Di tingkat pemerintah Propinsi Kalimantan Timur Tingkat Pengangguran Terbuka mengalami penurunan dari 11,43 % pada Tahun 2011 menjadi 7,50 % pada Tahun 2015. Hal ini menunjukkan bahwa ada relevansi perkembangan tingkat kemiskinan antara Kabupaten Nunukan dan Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur. Selain itu perkembangan Tingkat Pengangguran Terbuka di tingkat Kabupaten Nunukan yang terus mengalami penurunan menunjukkan bahwa pembangunan yang dilaksanakan cukup efektif dalam membuka kesempatan kerja . III - 43 Peningkatan produktifitas tenaga kerja (Sumber Daya Manusia) harus menjadi perhatian penting mengingat persaingan dalam dunia kerja setiap tahunnya semakin tinggi. Peningkatan SDM yang dilaksanakan tidak akan bermanfaat secara maksimal jika tidak diimbangi dengan penyediaan pasar kerja. Untuk itu Peningkatan Produktifitas dan penyediaan pasar harus dilakukan secara seimbang sehingga tingkat pengangguran dapat terus menurun.
2.Pemberdayaan Masyarakat dan Desa 2.1. Rata-rata jumlah kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) adalah lembaga kemasyarakatan yang tumbuh dan berkembang atas prakarsa masyarakat yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai wahana partisipasi dan aspirasi masyarakat dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan masyarakat. Selain merupakan lembaga yang sifatnya dari, oleh dan untuk rakyat, LPM adalah mitra pemerintah dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan. Indikaor jumlah kelompok binaan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat ini seharusnya dapat menggambarkan jumlah kelompok binaan LPM, sehingga dapat diketahui berapa banyak kelompok binaan yang telah diberikan pemberdayaan dan penguatan kapasitas oleh LPM. LPM pada umumnya memiliki fungsi koordinatif dengan Pemda dan tidak memiliki kelompok binaan. Grafik 2.7 Rata - rata Jumlah Kelompok Binaan LPM Kabupaten Nunukan 2011 - 2015 Sumber data : BPS Kab. Nunukan LPM hendaknya menjadi mitra yang efektif dalam pembangunan. Mulai dari perencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi dapat menjadi kontributor yang efektif. Untuk itulah pemerintah yang mampu memfungsikan LPM ini akan mencapai tujuan pembangunan sampai ke tingkat masyarakat yang paling bawah. Koordinasi yang intensif perlu dilakukan di tingkat kelurahan, agar optimalisasi peran LPM menjadi lebih nyata kiprahnya dalam pembangunan. 2.2. Rata - rata Jumlah Kelompok Binaan PKK PKK atau yang biasa dikenal sebaga Pembinaan Kesejahteraan Keluarga merupakan wadah kegiatan untuk kaum wanita dengan tujuan untuk mengembangkan kreativitas. Tujuan PKK adalah untuk mewujudkan keluarga sejahtera. Keluarga sejahtera seperti tujuan awal pergerakan PKK adalah keluarga yang mampu menciptakan keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah serta mamu berperan dalam masyarakat berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Dalam rangka mewujudkan kesejehtaraan keluarga, PKK memiliki 10 program pokok PKK. Dalam geraknya PKK berorientasi kepada 10 program pokok tersebut. Melalui 10 program pokok ini maka aktivitas dan kreativitas ibu - ibu dapat tersalurkan. Upaya menyumbangkan ide, karya dan pengabdian para wanita melalui PKK ini dapat lebih efektif. Pertemuan yang bersifat rutin bulanan dapat menjadi media kekompakan warga dalam saling menginformasikan pembangunan yang berjalan di tingkat kampung maupun kelurahan. Bahkan PKK juga merupakan wadah koordinasi strategis yang menyambungkan program - program Kabupaten Nunukan hingga menyentuh ke masyarakat terbawah. Grafik 2.8 Rata - rata Jumlah Kelompok Binaan PKK Kabupaten Nunukan Sumber data : PKK Kab. Nunukan 2.3. Jumlah LSM Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) merupakan sebuah organisasi nirlaba yang didirikan oleh perorangan atau kelompok orang yang secara sukarela yang memberikan pelayanan kepada masyarakat umum. Fungsi LSM melakukan fungsi pelayanan, fungsi kemanusiaan dan terkadang berperan sebagai jembatan penyalur aspirasi masyarakat. Dilihatdari bentuknya, lembaga ini merupakan inisatif dan bentukan dari masyarakat, maka bersifat mengikat secara sosial budaya di dalam lingkungan masyarakat. Kebutuhan terhadap lembaga ini didasarkan pada ikatan sosial budaya baik itu sifatnya kegotongroyongan. Untuk itulah maka lembaga ini memiliki tingkat kepedulian yang tinggi di dalam menyelesaikan masalah - masalah yang dihadapi oleh masyarakat lokal. Setiap masyarakat yang memiliki LSM tentunya memiliki daya tanggap yang lebih baik dalam pembangunan segala bidang. III - 45 Di bawah ini merupakan tabel informasi jumlah LSM di Kabupaten Nunukan dalam kurun waktu 2010 hingga 2015. Di Kabupaten Nunukan pada tahun 2011 - 2013 terjadi penurunan terbesar jumlah LSM dari 35 menjadi 3. Grafik 2.9 Jumlah LSM Kabupaten Nunukan Sumber data : Badan Kesbangpol Kab. Nunukan 2.4. LPM Berprestasi Untuk menggapai hasil pembangunan yang optimal, maka peran serta kelembagaan sosial masyarakat perlu diberikan rangsangan untuk mencapai prestasi. Untuk itulah dilakukan seleksi terhadap LPM untuk mendapatkan LPM berprestasi merupakan kebijakan yang sangat startegis untuk meningktakan gerak keaktifan lembaga - lembaga tersebut. LPM berprestasi merupakan salah satu bentuk apresiasi Pemerintah Kabupaten Nunukan untuk LPM yang memiliki prestasi baik. Grafik 2.10 LPM Berprestasi Kabupaten Nunukan Sumber data : Badan Kesbangpol Kab. Nunukan Tabel di atas menunjukkan bahwa di tahun 2013 dan 2015 memiliki kecenderungan yang sama jumlah LPM berprestasi. 2.5. PKK Aktif Pembinan Kesejahteraan Keluarga (PKK) adalah kegiatan sekelompok kaum wanita yang bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan keluarga. Keaktifan PKK untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga merupakan sebuah kekuatan mendasar pada setiap keluarga. Pembangunan terkecil dilakukan oleh PKK di rumah tangga masing - masing. Untuk itu peran PKK menjadi sangat strategis untuk merealisasikan visi dan misi pemerintah pada skup yang paling kecil. Pemantauan kegiatan PKK menjadi sangat penting untuk mengetahui usaha - usaha aktif di tingkat akar rumput dalam merealisasikan program pembangunan. Monitoring terhadap kegiatan PKK dilakukan untuk melihat peran serta dalam mencapai tujuan. Keaktifan PKK sebenarnya dapat membantu ibu - ibu untuk meningkatkan kreativas di berbagai bidang, yang mungkin dapat dikembangkan untuk membantu ekonomi keluarga. Kabupaten Nunukan memiliki kecenderungan peningkatan jumlah PKK aktif yang cukup tinggi pada tahun 2013 dibandingkan tahun 2012. Pada organisasi PKK ini sesungguhnya terjadi integrasi antara pemerintah yang secara struktural menjadi pengatur dengan institusi terbawah sebagai pembentuk suatu pemerintahan, yaitu unsur keluarga. Sebenarnya jika mampu memaknai secara lebih hakiki kekuatan PKK ini maka suatu daerah akan berkembang. Namun sayangnya untuk mencapai pemaknaan hakiki tersebut masih butuh komitmen dari pemerintah dan para Pembina PKK untuk menggali hakikat organisasi ini. Grafik 2.11 PKK Aktif Kabupaten Nunukan Tahun 2011 – 2015 Sumber data : PKK Kab. Nunukan III - 47 2.6. Posyandu Aktif Posyandu merupakan salah satu bentuk upaya pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan yang merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan penyadaran akan kesehatan. Indikator posyandu aktif melihat jumlah posyandu yang aktif dibandingkan dengan total seluruh posyandu yang ada di wilayah tersebut. Presentase posyandu aktif di Kabupaten Nunukan dari tahun 2011 - 2013 mengalami Penurunan Pada tahun 2013 - 2014 mengalami kenaikan. Grafik 2.12 Posyandu Aktif Kabupaten Nunukan 2011 – 2015 Sumber data : BPMPD Kab. Nunukan 2.7. Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana 1) Cakupan Peserta KB Aktif Peserta KB aktif adalah pasangan usia subur yang salah satu pasangannya masih menggunakan alat kontrasepsi dan terlindungi oleh alat kontrasepsi tersebut. Pasangan usia subur (PUS) adalah pasangan suami istri yang istrinya berusia 15 - 49 tahun. Angka cakupan peserta KB aktif menunjukkan tingkat pemanfaatan kontrasepsi di antara para PUS. Sejak tahun 2011 - 2015 cakupan peserta KB aktif di Kabupaten Nunukan bersifat fluktuatif. Hal tersebut terjadi karena jumlah peserta KB aktif mengalami naik turun yang cukup signifikan di setiap tahunnya. Sedangkan jumlah pasangan usia subur cenderung mengalami kenaikan yang stabil dari tahun ke tahun. Jumlah peserta KB aktif tertinggi adalah pada tahun 2015 hingga mencapai 72,62% peserta Cakupan terendah terjadi pada tahun 2012 yng hanya sebesar 54,08%. Berdasarkan Peraturan Kepala BKKBN No 55/HK- 010/B5/2010 target SPM untuk indikator cakupan sasaran PUS menjadi peserta KB aktif adalah 65% pada tahun 2014. Grafik 2.13 Cakupan Peserta KB Aktif Kabupaten Nunukan Sumber data : BP2KBD Kab. Nunukan 2.8. Perhubungan 1) Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis. Keberhasilan pembangunan di Nunukan secara nyata telah meningkatkan kese- jahteraan masyarakat, hal tersebut akan berdampak meningkatnya mobilisasi masyarakat dalam memenuhi aktifitasnya yang pada gilirannya akan membutuhkan pelayanan jasa transportasi baik darat, laut, udara dan pos telekomunikasi yang memadai. Pelayanan jasa transportasi yang diharapkan masyarakat yaitu tingkat keselamatan, keamanan, kelancaran dan kenyamanan yang lebih tinggi dengan kapasitas yang lebih besar, serta terpadu baik inter moda maupun antar moda transportasi lainnya. Selain itu dalam menghadapi arus globalisasi, informasi dan reformasi sehingga mengakibatkan perubahan yang sangat cepat dalam kehidupan masyarakat dimana transportasi adalah sebagai urat nadi perekonomian dengan demikian pada gilirannya membutuhkan pelayanan transportasi darat yang lebih efisien. III - 49 Tabel 2.61 Jumlah Sarana dan Prasarana Perhubungan Transportasi Tahun 2011–2015 Komponen Transportasi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015