1.Area permukiman vertikal baik berupa rumah susun (sederhana) maupun apartemen atau kondominium tersebar di hampir seluruh penjuru Kota Surabaya, sedangkan area permukiman diarahkan berkembang ke arah barat, timur dan selatan kota.
2.Area untuk kegiatan jasa dan perdagangan yang dipusatkan di kawasan pusat kota dan pusat-pusat sub kota dan unit pengembangan serta di kawasan yang ditetapkan menjadi kawasan strategis ekonomi antara lain di kawasan kaki Jembatan Suramadu dan kawasan Teluk Lamong;
3.Area untuk kegiatan industri dan pergudangan terkonsentrasi di kawasan pesisir utara di kawasan sekitar Pelabuhan Tanjung Perak dan Terminal Multipurpose Teluk Lamong, dan kawasan selatan kota yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Gresik dan Sidoarjo;
4.Wilayah pesisir khususnya ruang darat dimanfaatkan untuk berbagai fungsi antara lain permukiman nelayan, tambak garam dan ikan, pergudangan, militer, industri kapal, pelabuhan, wisata pesisir sampai dengan fungsi kawasan lindung di Pantai Timur Surabaya serta terdapat aksesibilitas berupa jalan dan jembatan yang menghubungkan Kota Surabaya dan Pulau Madura (Jembatan Suramadu) dan Jembatan Sukolilo Lor – THP Kenjeran yang membuka akses di kawasan sisi timur laut Kota Surabaya;
5.Wilayah Ruang laut Surabaya selain dimanfaatkan untuk kegiatan pelayaran baik interinsulair maupun internasional, juga dikembangkan untuk kegiatan penangkapan ikan tradisional, wisata pantai di Kenjeran dan sekitarnya dan kawasan lindung laut di sekitar Pantai Timur Surabaya. II.1.2 Potensi Pengembangan Wilayah Kota Surabaya sebagai ibu kota Provinsi Jawa Timur memiliki peran strategis pada skala nasional sebagai pusat pelayanan kegiatan Indonesia Timur, dan pada skala regional sebagai kota perdagangan dan jasa yang pada simpul transportasi (darat, udara dan laut) nasional dan internasional sehingga memberi peluang bagi Kota Surabaya untuk meningkatkan perannya sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Letak Kota Surabaya sangat strategis, menghubungkan antara Kota Surabaya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–3 dengan kota-kota di sekitarnya yaitu kota/kabupaten yang ada dalam Gerbangkertosusilo, sehingga sangat mendukung percepatan pembangunan di Kota Surabaya. Demikian juga sebaliknya, pertumbuhan Kota Surabaya juga berpengaruh pada perkembangan kota/kabupaten di sekitarnya, secara sektoral maupun keruangan. Kota Surabaya memiliki kawasan strategis yang berpotensi dikembangkan secara berkelanjutan untuk mendukung eksistensi pengembangan wilayah kota di masa mendatang, diantaranya adalah : a) Kawasan Strategis untuk Pendukung Pertumbuhan Ekonomi Kawasan-kawasan yang akan dikembangkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi adalah : Kawasan Pergudangan dan Industri Margomulyo di Kecamatan Asemrowo dan Kecamatan Benowo berada di Unit Pengembangan XI Tambak Oso Wilangun Ditinjau dari aksesbilitas karena letaknya berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Perak dan Jalan Tol Sidoarjo–Surabaya–Gresik, Kawasan Industri dan Pergudangan Margomulyo merupakan kawasan strategis untuk dioptimalisasi dan dikembangkan dengan orientasi pada industry smart and clean dengan didukung oleh infrastruktur yang memadai. Jumlah industri besar dan sedang yang ada di Kecamatan Asemrowo dan Benowo adalah sebagai berikut: Tabel II. 1 Jumlah Industri Besar dan Sedang di Kecamatan Asemrowo dan Benowo Kecamatan Industri Besar Industri Sedang Asemrowo 20 12 Benowo 3 8 Sumber: Kota Surabaya dalam Angka 2012 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–4 Gambar II. 1 Lokasi dan Peran Kota Surabaya Kawasan Tunjungan dan sekitarnya di Kecamatan Bubutan berada di Unit Pengembangan VI Tunjungan Sebagai kawasan pusat perdagangan dan perkantoran, kawasan Tunjungan merupakan salah satu pusat kota yang sangat potensial untuk terus dikembangkan karena memiliki sejarah dan mengalami masa keemasan pada dekade 1940 hingga akhir 1970an dengan karakteristik shopping-street dan shopping arcade, sehingga dikenal dan menjadi salah satu icon kota Surabaya dengan Jargon “Rek Ayo Rek Mlaku – Mlaku nang Tunjungan”. Kawasan ini memerlukan penanganan dan pengelolaan yang optimal untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi KotaSurabaya. Kawasan Kaki Jembatan Wilayah Suramadu-Pantai Kenjeran dan Kawasan Kota Tepi Pantai (Waterfront City) di Kecamatan Bulak berada di Unit Pengembangan III Tambak Wedi, merupakan kawasan strategis ditinjau dari lokasinya yang berada di kawasan kaki Jembatan Suramadu dan pesisir Pantai Bulak - Kenjeran yang memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai wisata pesisir dan laut. Keberadaan Jembatan Suramadu dan Pantai Kenjeran diharapkan dapat memberikan peningkatan potensi dan peran Kota Surabaya, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–5 sebagai pusat kegiatan regional. Di samping itu, kawasan ini memiliki potensi sebagai kawasan perdagangan dan jasa skala regional seperti terlihat pada data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kecamatan Bulak. Tabel II. 2 PDRB Kecamatan Bulak Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Seri Tahun Dasar 2000, Tahun 2008–2010 (dalam Juta Rp) SEKTOR/ SUB SEKTOR TAHUN 2008 2009 2010
1.Pertanian 760,27 650,66 575,40
2.Pertambangan dan Penggalian - - -
3.Industri Pengolahan 297.212,21 299.918,80 302.884,85
4.Listrik , Gas dan Air Bersih 8.600,14 9.299,53 9.851,16
5.Bangunan 73.460,22 70.181,23 72.574,32
6.Perdagangan, Hotel dan Resto 347.777,36 376.388,07 415.329,71
7.Pengangkutan dan Komunikasi 49.036,50 54.699,80 60.924,91
8.Keuang, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 13.259,15 14.013,29 14.838,85
9.Jasa-Jasa 37.622,76 39.191,39 40.932,58 Jumlah 827.728,61 864.342,77 917.911,79 Sumber: PDRB Kecamatan Bulak, 2011 Kawasan Kota Tepi Pantai (Waterfront City) di Kecamatan Asemrowo dan Kecamatan Benowo berada di Unit Pengembangan XI Tambak Oso Wilangun, merupakan kawasan strategis dengan konsep pengembangan penggunaan lahan mixed-use pendukung kawasan pelabuhan yang terintegrasi dengan rencana pengembangan Terminal Multipurpose Teluk Lamong sebagai kawasan pelabuhan penunjalakng Pelabuhan Utama Tanjung Perak. Kawasan Terpadu Surabaya Barat di Kecamatan Pakal di Unit Pengembangan XII Sambikerep dan Benowo di Unit Pengembangan XI Tambak Oso Wilangon, merupakan kawasan terpadu yang pusatnya akan dikembangkan di Stadion Gelora Bung Tomo sebagai pusat olahraga berskala nasional dan akan terintegrasi dengan pengembangan fungsi perdagangan dan jasa di sekitarnya. b) Kawasan Strategis untuk Kepentingan Sosial Budaya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–6 Kawasan yang dikembangkan dari sudut kepentingan sosial dan budaya adalah kawasan adat tertentu, kawasan dan konservasi warisan budaya. Kawasan strategis sosial-budaya yang ada di Kota Surabaya adalah : Kawasan Makam Sunan Ampel di Kecamatan Semampir berada di Unit Pengembangan V Tanjung Perak, yang merupakan kawasan cagar budaya dengan karakter dan daya tarik kuat sebagai obyek wisata ziarah di Indonesia yang berkembang tidak hanya sebagai kampung budaya yang khas dengan beragam aktivitasnya tetapi juga memiliki kultur religi yang kuat. Kawasan Kota Lama Surabaya di Kecamatan Krembangan, Kecamatan Pabean Cantian, Kecamatan Semampir dan Kecamatan Bubutan berada di Unit Pengembangan V Tanjung Perak dan Unit Pengembangan VI Tunjungan. Kawasan ini merupakan kawasan yang pada era kolonial terdelienasi sebagai kawasan eropa, kawasan arab dan kawasan cina. Bangunan dan lingkungan pada kawasan Darmo-Diponegoro serta kawasan kampung lama Tunjungan di Kecamatan Tegalsari berada di Unit Pengembangan VI Tunjungan yang merupakan kawasan bangunan dan lingkungan cagar budaya. Tabel II. 3 Persebaran Situs dan Lingkungan Cagar Budaya di Tiap Kecamatan di Kota Surabaya No Kecamatan Jumlah Situs Cagar Budaya 1 Pabean Cantian 30 2 Krembangan 42 3 Genteng 34 4 Sawahan 3 5 Wonokromo 7 6 Gubeng 3 7 Tegalsari 13 8 Bubuan 18 9 Semampir 5 10 Tambaksari 2 11 Simokerto 1 Jumlah 158 Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, 2009 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–7 c) Kawasan Strategis untuk Kepentingan Penyelamatan Lingkungan Hidup Kawasan yang dikembangkan untuk meningkatkan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup di Kota Surabaya adalah: Kawasan Kebun Binatang Surabaya di Kecamatan Wonokromo berada di Unit Pengembangan VII Wonokromo, merupakan hutan kota di kawasan Wonokromo yang berfungsi sebagai tempat perlindungan satwa, hutan kota dan rekreasi alam, juga berperan dalam mengatur iklim mikro di Kota Surabaya. Melihat nilai strategis sebagai kawasan wisata dalam kota, maka keberadaan KBS harus dipertahankan dan dijaga kelestariannya. Kawasan Pantai Timur Surabaya di Kecamatan Gunung Anyar, Kecamatan Rungkut, Kecamatan Sukolilo dan Kecamatan Mulyorejo, yang berada di Unit Pengembangan I Rungkut dan Unit Pengembangan II Kertajaya merupakan kawasan lindung alam berupa vegetasi mangrove yang berada di pesisir timur Kota Surabaya. Kawasan Mangrove Pamurbaya sangat berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir dan sebagai barrier alami dari proses abrasi dan intrusi air laut. Kondisi instrusi air laut di kawasan mangrove Pamurbaya dapat dilihat pada peta berikut ini. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–8 Gambar II. 2 Kondisi Instrusi Air Laut di Kawasan Mangrove Pamurbaya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–9 Kawasan sekitar Kali Lamong di Kecamatan Benowo dan Kecamatan Pakal yang berada di Unit Pengembangan XI Tambak Oso Wilangun dan Unit Pengembangan Sambikerep XII, merupakan kawasan perlindungan setempat/sempadan sungai yang dimanfaatkan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH), penyediaan vegetasi, dan pendukung utilitas kota. d) Kawasan Strategis Pendayagunaan SDA dan Teknologi Tinggi Kawasan strategis dari sudut kepentinganpendayagunaan Sumber Daya Alam (SDA) dan/atau teknologi tinggi adalah penghasil SDA yang sangat potensial untuk kepentingan masyarakat beserta perangkat atau instalasi pengolahannya atau kawasan khusus untuk pengembangan teknologi untuk kepentingan strategis negara dan kepentingan umum. Kawasan strategis SDA dan Teknologi Tinggi di Kota Surabaya adalah: Kawasan Industri Pengembangan Perkapalan di Kecamatan Pabean Cantian berada di Unit Pengembangan V Tanjung Perak, merupakan salah satu kawasan yang digunakan dalam pengembangan teknologi perkapalan tingkat nasional. Sebagai industri perkapalan nasional, kawasan industri ini memiliki nilai strategis dan diperlukan upaya dalam menjaga dan meningkatkan nilai atau potensi kawasan tersebut. Kawasan industri/industrial estate di Kecamatan Rungkut berada di Unit Pengembangan I Rungkut, merupakan kawasan industri dan pergudangan yang telah lama berdiri di Kota Surabaya dan diarahkan menjadi kawasan industri dengan teknologi tinggi yang ramah lingkungan. Kawasan Depo dan Pengolahan BBM, berada di Unit Pengembangan V Tanjung Perak yang memiliki fungsi sebagai penyimpanan bahan bakar minyak dan pengelolaan BBM, sehingga kawasan ini memiliki nilai strategis dalam kaitannya dengan sistem energi di Kota Surabaya dan sekitarnya. Kawasan pengelolaan sampah teknologi tepat guna penghasil energi pada TPA Benowo di Kecamatan Benowo berada di Unit Pengembangan XI Tambak Oso Wilangun, merupakan kawasan yang digunakan untuk pemrosesan akhir sampah di Kota Surabaya dengan konsep: “Waste toEnergy”. Selain potensi pengembangan kawasan strategis, perkembangan Kota Surabaya juga didukung oleh pengembangan dan pembangunan infrastruktur yang meliputi: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–10
1.Pengembangan Pelabuhan Tanjung Perak untuk Terminal Peti Kemas/Reklamasi di Teluk Lamong.
2.Pengembangan jaringan jalan arteri yang menghubungkan antar pusat utama kota dengan pusat kota di kabupaten yang berbatasan langsung.
3.Pengembangan jalur komuter/kereta api double track serta angkutan massal dan prasarana pendukungnya yang menghubungkan pusat-pusat pelayanan kota. II.1.3 Wilayah Rawan Bencana Lokasi geografis Kota Surabaya tidak berhadapan langsung dengan samudera sehingga “relatif aman“ dari bencana alam laut seperti tsunami. Namun pada perkembangannya sesuai dengan data dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ditemukan potensi sumber gempa tektonik terbaru dari pergerakan Sesar Kendeng dari Surabaya ke arah barat sampai Jawa Tengah yang sebelumnya tidak teridentifikasi sebagaimana pada Gambar II.3 Gambar II. 3 Peta Sesar Kendeng Sumber: (http://www.pu.go.id/main/view_pdf/11270) Di samping itu Kota Surabaya diidentifikasi sebagai wilayah yang rawan genangan air dari limpahan debit air sungai dan saluran pada musim penghujan serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–11 banjir rob khususnya wilayah pesisir pantai Surabaya utara. Kawasan rawan genangan dan banjir rob di Kota Surabaya seperti dalam gambar peta sebagai berikut: Gambar II. 4 Peta Rawan Genangan Banjir Rob Wilayah Surabaya Utara Gambar II. 5 Peta Kawasan Genangan Di Kota Surabaya Jenis bencana lainnya adalah kebakaran. Kejadian kebakaran adalah jenis bencana yang tidak dapat diprediksi akan tetapi dapat dicegah. Penentuan daerah rawan kebakaran di Kota Surabaya didasarkan atas kepadatan penduduk, kepadatan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–12 bangunan, data kejadian kebakaran, kondisi bangunan dan proporsi kegiatan terbangun dengan luas lahan. Berdasarkan klasifikasi kerawanan, maka kriteria yang dimaksud antara lain Sangat Tinggi, Tinggi, Sedang, Rendah, dan Sangat Rendah. Kawasan rawan bencana kebakaran tersebut dapat dilihat pada gambar sebagai berikut: Gambar II. 6 Peta Kawasan Rawan Bencana Kebakaran di Kota Surabaya Dalam rangka mengantisipasi kejadian bencana di kota Surabaya diperlukan antisipasi dini dan kesiapsiagaan komponen masyarakat dan pemerintah agar sejalan dengan semangat untuk memberikan perlindungan dan rasa aman yang layak dan bermartabat kepada masyarakat. Pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana di Kota Surabaya oleh beberapa Perangkat Daerah (PD) terkait yang tergabung didalam Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB) dan Satuan Tugas Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satgas Satlak PB) Kota Surabaya sesuai dengan Keputusan Walikota Nomor : 188.45/104/436.1.2/2014. Berikut adalah tabel yang menunjukkan jumlah kejadian bencana banjir dan puting beliung yang ditangani oleh Satlak dan Satgas Satlak PB di Kota Surabaya. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–13 Tabel II. 4 Kejadian Bencana di Kota Surabaya Tahun 2011 - 2015 No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Banjir 2 0 0 1 2 2 Angin Puting Beliung / Angin Kencang 16 85 50 11 28 Sumber: Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat, 2015 II.1.4 Kondisi Demografis Keberadaan penduduk sangat penting di dalam proses pembangunan, oleh karena itu penduduk akan menjadi menjadi beban bagi daerah apabila tidak dikelola dengan baik dan sebaliknya akan menjadi modal potensial apabila mampu dikelola dengan baik. Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kota Surabaya memiliki penduduk yang ber-NIK hingga akhir tahun 2015 sebesar 2.943.528 jiwa dan 325.850 jiwa yang masih dalam proses finalisasi status kependudukan di 31 wilayah kecamatan. Rincian kepadatan penduduk per kecamatan ditunjukkan pada Tabel II.5. Perkembangan penduduk dipengaruhi oleh faktor kelahiran, kematian dan migrasi. Tabel II.5 menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa kecamatan yang memiliki tingkat kepadatan lebih dari 20.000 jiwa/km 2 dan umumnya wilayah kecamatan tersebut berada di wilayah Surabaya pusat dan utara. Oleh karenanya program-program terkait dengan penyediaan pelayanan pendidikan, kesehatan, perumahan, lingkungan, pemberdayaan, keluarga berencana, sanitasi dan air bersih dapat diarahkan ke wilayah-wilayah yang padat penduduk sehingga dapat meningkatkan kualitas lingkungan, sosial maupun ekonomi warganya. Pembangunan juga diarahkan pada wilayah dengan kepadatan penduduk sedang dan rendah yang membutuhkan pembangunan infrastruktur sebagai daya ungkit pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–14 Tabel II. 5 Kepadatan Penduduk yang ber-NIK per Kecamatan Sumber: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, 2015 (diolah) Berdasarkan jenis kelamin, total penduduk perempuan sebesar 1.469.888 jiwa dan penduduk laki-laki sebesar 1.473.640 jiwa. Berdasarkan kelompok usia, penduduk didominasi oleh usia 30 – 49 tahun. Rincian komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin dan kelompok usia dapat dilihat pada Gambar II.7. Gambar II. 7 Grafik Penduduk Kota Surabaya Tahun 2015 (Sumber Data: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, 2015 diolah) Jml Pendu duk Kepa datan Pddk /KM2 Jml Pendu duk Kepa datan Pddk /KM2 1 KARANG 9,23 72.379 7.842 17 KENJERAN 7,74 154.531 19.965 2 WONOCOLO 6,78 80.436 11.864 18 LAKAR SANTRI 16,05 55.403 3.452 3 RUNGKUT 21,08 108.494 5.147 19 BENOWO 26,78 58.613 2.189 4 WONOKROMO 8,47 164.122 19.377 20 WIYUNG 12,46 68.080 5.464 5 TEGALSARI 4,29 104.109 24.268 21 DUKUH PAKIS 9,94 60.048 6.041 6 SAWAHAN 6,93 207.101 29.885 22 GAYUNGAN 6,07 45.415 7.482 7 GENTENG 4,04 60.462 14.966 23 JAMBANGAN 4,19 49.310 11.768 8 GUBENG 7,99 139.355 17.441 24 TENGGILIS MJY 5,52 56.482 10.232 9 SUKOLILO 23,69 108.292 4.571 25 GUNUNG ANYAR 9,71 54.127 5.574 10 TAMBAK SARI 8,99 223.906 24.906 26 MULYOREJO 14,21 85.344 6.006 11 SIMOKERTO 2,59 100.050 38.629 27 SUKOMANUNG GAL 9,23 100.794 10.920 12 PABEAN CANTIAN 6,8 82.601 12.147 28 ASEMROWO 15,44 45.901 2.973 13 BUBUTAN 3,86 103.942 26.928 29 BULAK 6,78 42.176 6.221 14 TANDES 11,07 91.497 8.265 30 PAKAL 19,01 50.866 2.676 15 KREMBANGAN 8,34 119.159 14.288 31 SAMBI KEREP 20,42 60.375 2.957 16 SEMAMPIR 8,76 190.158 21.708 326,46 2.943.528 9.017 No JUMLAH No KECAMATAN Luas Wilayah per KM2 2015 (Desember)2015 (Desember) Luas Wilayah per KM2 KECAMATAN Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–15 Dari piramida penduduk seperti Gambar II.7 menunjukkan bahwa struktur penduduk Kota Surabaya didominasi usia yang potensial yaitu mulai dari usia 25 – 59 tahun sebesar 1.571.942 jiwa atau 53,4 % dibanding usia sekolah mulai jenjang PAUD sampai dengan perguruan tinggi yaitu usia 5 – 24 tahun sebesar 1.075.396 jiwa atau 36,5 %, sedangkan penduduk usia lanjut yaitu usia 60 tahun ke atas sebesar 296.190 atau 10,1%. Komposisi penduduk kota Surabaya berdasarkan usia sekolah tahun 2015 yaitu usia 0-6 tahun sebanyak 275.069 jiwa, usia 7-12 tahun sebanyak 270.157 jiwa, usia 13-15 tahun sebanyak 138.173 jiwa dan usia 16-18 tahun sebanyak 128.721 jiwa. Rincian data penduduk kota Surabaya berdasarkan usia sekolah tahun 2015 disajikan pada Tabel II.6 berikut ini. Tabel II. 6 Jumlah Penduduk Kota Surabaya Berdasarkan Usia Sekolah Tahun 2015 No Kecamatan 0-6 Tahun 7-12 Tahun 13-15 Tahun 16-18 Tahun 1 Karang Pilang 6.717 6.569 3.494 3.144 2 Wonocolo 7.203 6.895 3.694 3.398 3 Rungkut 10.601 9.821 5.209 4.736 4 Wonokromo 13.946 14.935 7.885 7.590 5 Tegalsari 8.807 8.721 4.695 4.441 6 Sawahan 19.132 19.332 9.884 9.036 7 Genteng 5.052 5.061 2.726 2.538 8 Gubeng 12.088 12.136 6.327 5.904 9 Sukolilo 10.244 9.587 4.793 4.473 10 Tambak Sari 20.718 20.100 10.327 9.490 11 Simokerto 9.135 8.821 4.537 4.380 12 Pabean Cantian 7.004 7.282 3.636 3.567 13 Bubutan 9.283 9.544 5.015 4.733 14 Tandes 9.065 8.615 4.062 3.711 15 Krembangan 10.808 10.628 5.564 5.214 16 Semampir 18.323 18.143 9.080 8.513 17 Kenjeran 16.118 15.745 7.899 7.541 18 Lakar Santri 5.659 5.526 2.751 2.476 19 Benowo 5.952 5.979 2.983 2.885 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–16 No Kecamatan 0-6 Tahun 7-12 Tahun 13-15 Tahun 16-18 Tahun 20 Wiyung 6.537 6.240 3.318 3.062 21 Dukuh Pakis 5.497 5.231 2.688 2.445 22 Gayungan 3.899 3.844 2.051 1.893 23 Jambangan 4.885 4.543 2.225 2.057 24 Tenggilis Mejoyo 5.175 4.878 2.461 2.280 25 Gunung Anyar 5.374 5.040 2.436 2.365 26 Mulyorejo 7.803 7.536 3.893 3.462 27 Sukomanunggal 9.600 9.195 4.543 4.234 28 Asemrowo 4.776 4.807 2.322 2.153 29 Bulak 4.355 4.322 2.235 1.984 30 Pakal 5.171 5.314 2.637 2.484 31 Sambikerep 6.142 5.767 2.803 2.532 Jumlah 275.069 270.157 138.173 128.721 Sumber: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, 2015 Data penduduk usia sekolah berdasarkan usia sekolah seperti tertuang pada Tabel II.6 tersebut di atas diperlukan bagi Pemerintah Kota Surabaya untuk menyediakan maupun meningkatkan akses pelayanan pendidikan. Fasilitas pendidikan yang ada diharapkan mampu menampung jumlah anak usia sekolah di wilayah tersebut. Komposisi penduduk Kota Surabaya menurut agama yang dipeluk menunjukkan bahwa penduduk Kota Surabaya mayoritas beragama Islam. Komposisi penduduk Kota Surabaya berdasarkan agama yang dipeluk untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel II.7. Tabel II. 7 Profil Penduduk Kota Surabaya Berdasarkan Agama AGAMA 2011 2012 2013 2014 2015
1.Islam 82,01% 56,41% 78,73% 84,76% 84,90%
2.Katholik 5,13% 2,69% 2,98% 4,07% 4,04%
3.Kristen 10,20% 37,70% 16,86% 9,29% 9,21%
4.Hindu 0,94% 2,03% 0,47% 0,29% 0,29% Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–17 AGAMA 2011 2012 2013 2014 2015
5.Budha 1,67% 1,18% 0,95% 1,57% 1,53%
6.Konghuchu 0,01% - 0,00% 0,01% 0,02%
7.Lainnya 0,03% - 0,01% 0,01% 0,01% Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, 2015 Dilihat dari Tabel II.7 tersebut di atas, menunjukkan bahwa Kota Surabaya didominasi oleh penduduk yang beragama Islam yaitu sebesar 84,4% sedangkan sebesar 15,6% adalah penduduk beragama Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Konghuchu dan lainnya. Keanekaragaman agama dan budaya yang ada di Kota Surabaya harus mampu dipelihara dan diwujudkan dalam toleransi kehidupan beragama dan sosial agar tidak terjadi konflik dimasyarakat. Salah satu prasayarat agar pelaksanaan pembangunan berjalan dengan baik adalah terpeliharanya ketentraman dan ketertiban masyarakat. Berdasarkan pekerjaan, penduduk Kota Surabaya cenderung tersebar di seluruh jenis pekerjaan. Dari 101 jenis pekerjaan, karyawan swasta merupakan jenis pekerjaan yang paling banyak dilakukan oleh penduduk yakni sebesar 28,61%. Posisi kedua ditempati oleh pekerjaan mengurus rumah tangga sebesar 19,34% dan di posisi ketiga adalah pelajar/mahasiswa sebesar 18,08%. Komposisi penduduk Kota Surabaya menurut pekerjaan dapat dilihat pada Tabel II.8. Tabel II. 8 Profil Penduduk Kota Surabaya Berdasarkan Pekerjaan Tahun 2015 No. PEKERJAAN JUMLAH % No. PEKERJAAN JUMLAH % 1 Belum/ Tidak Bekerja 667.525 22,68% 51 Presiden - 0,00% 2 Mengurus Rumah Tangga 569.265 19,34% 52 Wakil Presiden - 0,00% 3 Pelajar/ Mahasiswa 532.108 18,08% 53 Anggota Mahkamah Konstitusi 1 0,00% 4 Pensiunan 26.404 0,90% 54 Anggota Kabinet Kementrian 5 0,00% 5 Pegawai Negeri Sipil (PNS) 48.723 1,66% 55 Duta Besar 1 0,00% 6 Tentara Nasional Indonesia (TNI) 13.068 0,44% 56 Gubernur 1 0,00% 7 Kepolisian Ri (Polri) 5.463 0,19% 57 Wakil Gubernur - 0,00% Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–18 No. PEKERJAAN JUMLAH % No. PEKERJAAN JUMLAH % 8 Perdagangan 2.730 0,09% 58 Bupati - 0,00% 9 Petani/ Pekebun 2.618 0,09% 59 Wakil Bupati 1 0,00% 10 Peternak 25 0,00% 60 Walikota 1 0,00% 11 Nelayan/ Perikanan 1.157 0,04% 61 Wakil Walikota 1 0,00% 12 Industri 468 0,02% 62 Anggota DPRD Prov, 19 0,00% 13 Konstruksi 245 0,01% 63 Anggota DPRD Kab, 19 0,00% 14 Transportasi 237 0,01% 64 Dosen 5,138 0,17% 15 Karyawan Swasta 842.152 28,61% 65 Guru 24,328 0,83% 16 Karyawan Bumn 4.714 0,16% 66 Pilot 16 0,00% 17 Karyawan Bumd 471 0,02% 67 Pengacara 181 0,01% 18 Karyawan Honorer 1.358 0,05% 68 Notaris 156 0,01% 19 Buruh Harian Lepas 5.628 0,19% 69 Arsitek 100 0,00% 20 Buruh Tani/ Perkebunan 332 0,01% 70 Akuntan 55 0,00% 21 Buruh Nelayan/ Perikanan 98 0,00% 71 Konsultan 162 0,01% 22 Buruh Peternakan 16 0,00% 72 Dokter 6,043 0,21% 23 Pembantu Rumah Tangga 727 0,02% 73 Bidan 616 0,02% 24 Tukang Cukur 38 0,00% 74 Perawat 2,415 0,08% 25 Tukang Listrik 127 0,00% 75 Apoteker 301 0,01% 26 Tukang Batu 1.419 0,05% 76 Psikiater/ Psikolog 48 0,00% 27 Tukang Kayu 290 0,01% 77 Penyiar Televisi 6 0,00% 28 Tukang Sol Sepatu 65 0,00% 78 Penyiar Radio 15 0,00% 29 Tukang Las/ Pandai Besi 181 0,01% 79 Pelaut 296 0,01% 30 Tukang Jahit 508 0,02% 80 Peneliti 27 0,00% 31 Tukang Gigi 7 0,00% 81 Sopir 1,882 0,06% 32 Penata Rias 61 0,00% 82 Pialang 11 0,00% 33 Penata Busana 22 0,00% 83 Paranormal 5 0,00% 34 Penata Rambut 68 0,00% 84 Pedagang 8,492 0,29% 35 Mekanik 374 0,01% 85 Perangkat Desa 8 0,00% 36 Seniman 136 0,00% 86 Kepala Desa 2 0,00% 37 Tabib 15 0,00% 87 Biarawati 142 0,00% 38 Paraji 4 0,00% 88 Wiraswasta 156,024 5,30% 39 Perancang Busana 13 0,00% 89 Pekerjaan Lainnya 7,046 0,24% 40 Penterjemah 18 0,00% 90 Trading & Industry 41 0,00% 41 Imam Masjid 16 0,00% 91 Forestry - 0,00% 42 Pendeta 434 0,01% 92 Mining & Energy - 0,00% 43 Pastor 23 0,00% 93 Public Work 1 0,00% 44 Wartawan 208 0,01% 94 Farming 1 0,00% 45 Ustadz/ Mubaligh 76 0,00% 95 Religion 3 0,00% Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–19 No. PEKERJAAN JUMLAH % No. PEKERJAAN JUMLAH % 46 Juru Masak 66 0,00% 96 Bank & Financial - 0,00% 47 Promotor Acara 3 0,00% 97 Health & Society - 0,00% 48 Anggota DPR RI 10 0,00% 98 Tourism - 0,00% 49 Anggota DPD - 0,00% 99 Transportation & Communication - 0,00% 50 Anggota BPK 2 0,00% 100 Culture & Education 2 0,00% 101 OTHERS 200 0,01% JUMLAH 2,729,716 93% JUMLAH 213,812 7% TOTAL 2,943,528 100% Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, 2015 Berdasarkan pendidikan, komposisi penduduk Kota Surabaya ditampilkan pada Tabel II. 9. Penduduk Kota Surabaya paling banyak, yakni sebesar 29,93%, merupakan lulusan SMA. Posisi kedua adalah tamatan SD sebesar 18% dan posisi selanjutnya adalah lulusan SMP sebanyak 13,65%. Tabel II. 9 Profil Penduduk Kota Surabaya Berdasarkan Pendidikan Tahun 2015 No. Uraian Jumlah Penduduk %
1.Tidak/Belum Sekolah 548.084 18,62%
2.Belum Tamat SD 204.938 6,96%
3.Tamat SD 529.723 18,00%
4.SMP 401.669 13,65%
5.SMA 880.910 29,93%
6.DI/II 22.115 0,75%
7.DIII 38.205 1,30%
8.DIV/S1 297.023 10,09%
9.S2 19.647 0,67%
10.S3 1.204 0,04%
11.LAIN-LAIN 10 0,00% JUMLAH 2,943,528 100.00% Sumber: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, 2015 II.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat II.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) merupakan indeks komposit yang meliputi aspek kesehatan melalui pengukuran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–20 angka harapan hidup saat lahir, pendidikan melalui pengukuran angka harapan sekolah dan rata-rata lama sekolah, serta aspek kesejahteraan melalui pengukuran daya beli atau pengeluaran per kapita. Tren IPM Kota Surabaya yang menggunakan metode baru ditunjukkan pada Tabel II. 10. Tabel II. 10 Tren IPM Kota Surabaya Tahun 2011-2014 Uraian 2011 2012 2013 2014 IPM 77,62 78,05 78,51 78,87* Sumber: BPS Kota Surabaya *) Angka Sementara PDRB Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan gambaran nilai tambah barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu wilayah dalam satu tahun. PDRB umumnya digunakan sebagai indikator kinerja perekonomian suatu negara. Berbeda dengan perhitungan PDRB sebelumnya, dasar perhitungan PDRB saat ini tidak lagi menggunakan angka tahun dasar 2000 melainkan menggunakan angka tahun dasar
2010.Perubahan tahun dasar PDRB dilakukan seiring dengan mengadopsi rekomendasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang tertuang dalam 2008 System of National Accounts (SNA 2008) melalui penyusunan kerangka Supply and Use Tables (SUT). Salah satu implikasi perubahan ini adalah meningkatnya nominal PDRB dan perubahan struktur ekonomi yang mulanya 9 sektor ekonomi menjadi 17 kategori lapangan usaha. Untuk mengetahui perkembangan PDRB Kota Surabaya Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Seri Tahun Dasar 2010 selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel II. 11 Selanjutnya dalam Tabel II. 12 dapat dilihat bahwa PDRB Kota Surabaya Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) menunjukkan tren yang semakin meningkat meskipun peningkatannya mengalami sedikit perlambatan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan strukturnya, pada tahun 2015 kategori Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor masih menjadi leading sector dalam pembentukan PDRB Kota Surabaya, dengan kontribusi sekitar 28,39 persen. Pada urutan kedua, kategori dengan kontribusi terbesar terhadap PDRB yaitu kategori industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 19,57 persen, diikuti kategori penyediaan akomodasi makan dan minum dengan kontribusi sebesar 14,16 persen. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–21 Tabel II. 11 Nilai dan Kontribusi Kategori dalam PDRB Kota Surabaya Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Seri Tahun Dasar 2010, Tahun 2011–2015 (dalam Juta Rp) Sumber: BPS Kota Surabaya, 2016 *) Angka Sementara (Juta Rp) (%) (Juta Rp) (%) (Juta Rp) (%) (Juta Rp) (%) (Juta Rp) (%) A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 460.810,38 0,18 523.828,09 0,18 607.866,75 0,19 671.564,32 0,18 746.720,05 0,18 B Pertambangan dan Penggalian 18.135,11 0,01 19.364,43 0,01 21.401,47 0,01 24.336,14 0,01 26.941,93 0,01 C Industri Pengolahan 50.544.589,64 19,31 57.162.324,84 19,50 62.295.293,59 19,00 70.661.843,08 19,36 78.093.618,11 19,23 D Pengadaan Listrik dan Gas 2.389.674,25 0,91 2.483.996,95 0,85 1.951.115,41 0,59 1.978.907,22 0,54 2.065.169,29 0,51 E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 466.086,41 0,18 497.833,66 0,17 543.488,86 0,17 572.049,35 0,16 626.533,26 0,15 F Konstruksi 27.121.124,20 10,36 29.895.785,90 10,20 33.747.471,58 10,29 37.891.835,80 10,38 40.707.433,65 10,02 G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 76.324.230,12 29,16 83.247.148,72 28,39 92.633.744,40 28,25 99.966.844,35 27,38 111.640.311,30 27,48 H Transportasi dan Pergudangan 12.475.013,56 4,77 14.197.124,85 4,84 16.243.530,74 4,95 18.927.734,93 5,18 21.369.674,61 5,26 I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 35.963.839,60 13,74 40.924.252,84 13,96 46.517.650,32 14,19 54.062.910,64 14,81 61.613.863,04 15,17 J Informasi dan Komunikasi 14.902.225,02 5,69 16.922.208,61 5,77 19.038.483,02 5,81 20.137.828,27 5,52 22.165.986,69 5,46 K Jasa Keuangan dan Asuransi 11.360.435,22 4,34 13.741.235,92 4,69 16.897.668,30 5,15 19.275.906,51 5,28 21.640.835,24 5,33 L Real Estate 7.091.189,22 2,71 7.901.293,43 2,70 8.747.166,68 2,67 9.372.176,45 2,57 10.706.034,35 2,64 M,N Jasa Perusahaan 6.392.280,61 2,44 7.202.186,90 2,46 8.072.649,64 2,46 8.889.028,16 2,43 9.852.481,83 2,43 O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 4.024.781,65 1,54 4.640.657,84 1,58 4.966.805,25 1,51 5.183.606,08 1,42 5.602.248,99 1,38 P Jasa Pendidikan 6.048.494,03 2,31 7.207.560,52 2,46 8.329.240,04 2,54 9.259.950,73 2,54 10.156.316,47 2,50 Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 1.867.781,75 0,71 2.154.866,52 0,73 2.472.708,32 0,75 2.814.318,82 0,77 3.089.796,00 0,76 R,S,T,U Jasa lainnya 4.321.651,60 1,65 4.459.133,80 1,52 4.839.845,22 1,48 5.382.299,44 1,47 6.092.795,53 1,50 261.772.342,36 100,00 293.180.803,82 100,00 327.926.129,59 100,00 365.073.140,32 100,00 406.196.760,34 100,00 261.768.059,70 100,00 293.176.314,30 100,00 327.920.574,60 100,00 365.067.353,57 100,00 406.190.980,48 100,00 kategori Uraian 2011 2012 2013 2014 2015* PDRB PDRB TAMPA MIGAS Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–22 Tabel II. 12 Nilai dan Kontribusi Kategori dalam PDRB Kota Surabaya Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Seri Tahun Dasar 2010, Tahun 2011–2015 (dalam Juta Rp) Sumber: BPS Kota Surabaya,2016 *) Angka Sementara (Juta Rp) (%) (Juta Rp) (%) (Juta Rp) (%) (Juta Rp) (%) (Juta Rp) (%) A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 440.989,17 0,18 467.099,53 0,18 504.369,8 0,18 522.264,93 0,17 547.043,18 0,17 B Pertambangan dan Penggalian 17.134,02 0,01 17.440,27 0,01 18.095,3 0,01 18.674,88 0,01 19.418,14 0,01 C Industri Pengolahan 47.601.826,02 19,22 51.100.743,74 19,22 54.450.456,3 19,03 59.358.226,45 19,44 63.458.578,25 19,57 D Pengadaan Listrik dan Gas 1.828.007,44 0,74 1.643.231,51 0,62 1.610.562,4 0,56 1.569.076,33 0,51 1.518.492,24 0,47 E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 451.699,77 0,18 460.964,59 0,17 470.737,0 0,16 474.422,91 0,16 498.808,24 0,15 F Konstruksi 25.457.716,97 10,28 27.182.986,45 10,22 29.357.611,8 10,26 31.368.882,67 10,27 32.314.502,24 9,97 G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 72.316.558,14 29,20 77.408.102,49 29,11 82.675.259,2 28,90 86.711.515,05 28,4 92.054.398,55 28,39 H Transportasi dan Pergudangan 11.742.106,70 4,74 12.667.180,16 4,76 13.686.933,8 4,78 14.843.763,22 4,86 15.797.144,72 4,87 I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 34.358.762,81 13,87 36.714.484,94 13,81 39.334.025,3 13,75 42.503.082,56 13,92 45.918.309,15 14,16 J Informasi dan Komunikasi 14.710.691,82 5,94 16.403.598,23 6,17 18.494.072,8 6,47 19.701.365,86 6,45 20.958.313,00 6,46 K Jasa Keuangan dan Asuransi 10.687.470,13 4,31 11.781.104,02 4,43 13.778.309,0 4,82 14.842.875,73 4,86 15.964.079,11 4,92 L Real Estate 6.631.618,08 2,68 7.314.011,58 2,75 7.747.001,1 2,71 8.264.384,54 2,71 8.683.388,83 2,68 M,N Jasa Perusahaan 6.006.001,61 2,42 6.282.187,60 2,36 6.586.339,7 2,30 7.011.356,21 2,3 7.388.567,18 2,28 O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 3.818.575,57 1,54 3.931.910,89 1,48 3.981.240,6 1,39 4.004.411,47 1,31 4.172.196,31 1,29 P Jasa Pendidikan 5.685.743,59 2,30 6.276.776,64 2,36 6.758.833,1 2,36 7.144.694,86 2,34 7.595.525,11 2,34 Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 1.809.687,77 0,73 2.018.033,51 0,76 2.183.940,1 0,76 2.348.390,77 0,77 2.502.680,04 0,77 R,S,T,U Jasa lainnya 4.122.058,53 1,66 4.222.224,55 1,59 4.419.444,7 1,54 4.620.617,78 1,51 4.836.400,63 1,49 247.686.648,14 100,00 265.892.080,70 100,00 286.057.232,03 100,00 305.308.006,20 100,00 324.227.844,92 100,00 247.682.189,83 100,00 265.887.369,60 100,00 286.052.384,50 100,00 305.303.101,91 100,00 324.222.845,49 100,00PDRB TAMPA MIGAS kategori Uraian 2011 2012 2013 2014 2015* PDRB Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–23 Tabel II. 13 Perkembangan Kontribusi Kategori dalam PDRB Kota Surabaya Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) dan Harga Konstan (ADHK) Seri Tahun Dasar 2010, Tahun 2011 –2015 (dalam Juta Rp) Sumber: BPS Kota Surabaya, 2016 *) Angka Sementara ADHB ADHK ADHB ADHK ADHB ADHK ADHB ADHK ADHB ADHK A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 0,18 0,18 0,18 0,18 0,19 0,18 0,18 0,17 0,18 0,17 B Pertambangan dan Penggalian 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 C Industri Pengolahan 19,31 19,22 19,50 19,22 19,00 19,03 19,36 19,44 19,23 19,57 D Pengadaan Listrik dan Gas 0,91 0,74 0,85 0,62 0,59 0,56 0,54 0,51 0,51 0,47 E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 0,18 0,18 0,17 0,17 0,17 0,16 0,16 0,16 0,15 0,15 F Konstruksi 10,36 10,28 10,20 10,22 10,29 10,26 10,38 10,27 10,02 9,97 G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 29,16 29,20 28,39 29,11 28,25 28,90 27,38 28,4 27,48 28,39 H Transportasi dan Pergudangan 4,77 4,74 4,84 4,76 4,95 4,78 5,18 4,86 5,26 4,87 I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 13,74 13,87 13,96 13,81 14,19 13,75 14,81 13,92 15,17 14,16 J Informasi dan Komunikasi 5,69 5,94 5,77 6,17 5,81 6,47 5,52 6,45 5,46 6,46 K Jasa Keuangan dan Asuransi 4,34 4,31 4,69 4,43 5,15 4,82 5,28 4,86 5,33 4,92 L Real Estate 2,71 2,68 2,70 2,75 2,67 2,71 2,57 2,71 2,64 2,68 M,N Jasa Perusahaan 2,44 2,42 2,46 2,36 2,46 2,30 2,43 2,3 2,43 2,28 O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 1,54 1,54 1,58 1,48 1,51 1,39 1,42 1,31 1,38 1,29 P Jasa Pendidikan 2,31 2,30 2,46 2,36 2,54 2,36 2,54 2,34 2,50 2,34 Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 0,71 0,73 0,73 0,76 0,75 0,76 0,77 0,77 0,76 0,77 R,S,T,U Jasa lainnya 1,65 1,66 1,52 1,59 1,48 1,54 1,47 1,51 1,50 1,49 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 2014 2015* PDRB kategori Uraian 2011 2012 2013 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–24 Struktur ekonomi Kota Surabaya masih memiliki pola yang sama seperti tahun sebelum-sebelumnya, dimana kategori yang mendominasi dalam berkontribusi terhadap perekonomian Kota Surabaya yaitu kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil, dan sepeda motor, industri pengolahan serta akomodasi, serta makanan minuman. Tingginya kontribusi ketiga kategori tersebut selaras dengan maraknya aktivitas ekonomi mulai dari bisnis ritel hingga perdagangan besar (grosir) yang terus tumbuh pesat di Kota Surabaya. Jumlah penduduk Kota Surabaya yang sekitar 3 juta jiwa menjadikan nilai tambah bagi pelaku pasar. Disamping itu, kondisi ekonomi ekonomi Kota surabaya yang masih baik serta daya beli masyarakat yang tinggi memberikan peluang bagi para pelaku bisnis untuk memperluas pasarnya di Kota Surabaya. Pada tahun 2015 kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil, dan sepeda motor memberikan kontribusi terhadap PDRB ADHB Kota Surabaya sebesar 27,48 persen. Sebagai penggerak utama perekonomian Kota Surabaya, pesatnya aktivitas perdagangan tersebut tentunya menjadi pengungkit (multiplier effect) bagi aktivitas lapangan usaha lainnya seperti aktivitas industri, penyediaan akomodasi dan makanan minuman serta aktivitas jasa lainnya. Hal itu terjadi karena semakin meningkatnya aktivitas perdagangan maka semakin meningkat pula permintaan barang dan jasa pada aktivitas industri. Berdasarkan keterkaitan tersebut membuat kategori industri pengolahan menjadi kategori lapangan usaha yang dominan kedua dengan kontribusi sebesar 19,36 persen terhadap PDRB ADHB Kota Surabaya. Kategori tertinggi selanjutnya yaitu akomodasi dan makanan minuman dengan kontribusi rata-rata sebesar 15,17 persen terhadap PDRB ADHB Kota Surabaya. Potensi aktivitas akomodasi dan makanan minuman di Kota Surabaya sangatlah besar. Kondisi tersebut ditunjukkan oleh pembangunan hotel, wisma/penginapan, serta tempat makan mulai dari warung kecil hingga restoran yang terus bermunculan mengikuti pesatnya perkembangan ekonomi Kota Surabaya. Ditambah lagi, semakin modernnya perilaku hidup masyarakat Kota Surabaya turut mendukung tumbuhnya aktivitas kategori akomodasi dan makanan minuman dari tahun ke tahun. Kategori selanjutnya yang berkontribusi terhadap PDRB ADHB Kota Surabaya yaitu kategori transportasi dan pergudangan, kategori infomasi dan komunikasi, serta kategori jasa keuangan dan asuransi dengan kontribusi rata-rata sebesar 5 persen setiap tahunnya. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–25 Pertumbuhan Ekonomi Kota Surabaya Kinerja perekonomian Kota Surabaya dapat dilihat dari laju pertumbuhan ekonomi per kategori lapangan usaha. Selama kurun waktu 5 tahun pertumbuhan kategori pembentuk PDRB Kota Surabaya tumbuh cukup bervariasi. Sebagaimana dapat dilihat pada Tabel II. 14. Tabel II. 14 Laju Pertumbuhan PDRB Kota Surabaya Menurut Lapangan Usaha Seri Tahun Dasar 2010, Tahun 2011 – 2015 Kategori Uraian 2011 2012 2013 2014 2015* A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 2,19 5,92 7,98 3,55 4,73 B Pertambangan dan Penggalian 2,51 1,79 3,76 3,20 3,98 C Industri Pengolahan 4,96 7,35 6,56 9,01 5,85 D Pengadaan Listrik dan Gas -6,17 -10,11 -1,99 -2,58 -3,22 E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 8,43 2,05 2,12 0,78 5,17 F Konstruksi 7,28 6,78 8,00 6,85 3,01 G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 8,01 7,04 6,80 4,88 6,16 H Transportasi dan Pergudangan 7,07 7,88 8,05 8,45 6,42 I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 8,55 6,86 7,13 8,06 8,04 J Informasi dan Komunikasi 10,06 11,51 12,74 6,53 6,38 K Jasa Keuangan dan Asuransi 7,44 10,23 16,95 7,73 7,49 L Real Estate 8,61 10,29 5,92 6,68 5,07 M,N Jasa Perusahaan 5,42 4,60 4,84 6,45 5,38 O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 2,19 2,97 1,25 0,58 4,45 P Jasa Pendidikan 4,42 10,40 7,68 5,71 6,31 Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 18,04 11,51 8,22 7,53 4,04 R,S,T,U Jasa lainnya 5,54 2,43 4,67 4,55 4,67 PDRB 7,13 7,35 7,58 6,73 5,97 PDRB TANPA MIGAS 7,13 7,35 7,58 6,73 5,97 Sumber: BPS Kota Surabaya, 2016 *) Angka Sementara Pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya terjadi pada hampir seluruh lapangan usaha. Kategori lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi lapangan usaha dengan laju pertumbuhan ekonomi tertinggi pada tahun 2015, yaitu mencapai 8,04 persen. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–26 Kategori lapangan usaha lain yang juga mengalami pertumbuhan tinggi yaitu kategori informasi dan komunikasi yang mencapai 6.38 persen ditahun 2015. Kategori lapangan usaha baru lainnya yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya yaitu kategori Jasa Keuangan dan Asuransi yang tumbuh selaras dengan tingginya perputaran uang di Kota Surabaya. Pada tahun 2013 kategori ini mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi mencapai 16,95 persen dan pada tahun 2015 mengalami pertumbuhan yang melambat yaitu mencapai 7,49 persen. Hal tersebut terjadi sebagai dampak tidak stabilnya sektor keuangan akibat meningkatnya suku bunga BI rate yang direspon oleh menurunnya penyerapan kredit di sektor perbankan. Sementara jasa perusahaan juga mengalami pertumbuhan cukup tinggi yaitu sebesar 6,08 persen di tahun 2015 akibat semakin pesatnya aktivitas ekonomi di Kota Surabaya. Adapun kategori lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan yang rendah yaitu kategori pertanian, kehutanan dan perikanan; pertambangan dan penggalian; pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang, administrasi pemerintahan. pertahanan dan jaminan sosial; serta jasa lainnya. Berdasarkan rinciannya, hampir seluruh kategori lapangan usaha pembentuk PDRB Kota Surabaya mengalami pertumbuhan yang positif terkecuali kategori pengadaan listrik dan gas. Kategori tersebut mengalami pertumbuhan yang negatif selama ini dikarenakan kebijakan pemerintah yang mencabut subsidi sehingga mempengaruhi produktivitas pada aktivitas lapangan usaha pengadaan listrik dan gas. Berdasarkan uraian diatas sektor – sektor yang memiliki laju pertumbuhan yang cukup tinggi dapat memberikan kontribusi bagi tujuan pembangunan yaitu dapat meningkatkan pendapatan daerah maupun meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam hal penciptaan lapangan pekerjaan. Selama 5 (lima) tahun terakhir perekonomian Surabaya mampu tumbuh stabil di kisaran 6 hingga 7 persen. Angka pertumbuhan ekonomi tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dan nasional. Meskipun pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya mengalami perlambatan sejak tahun 2014 dan 2015 yang berada dikisaran 6 persen, namun perlambatan pertumbuhan tersebut disebabkan oleh faktor ketidakstabilan ekonomi global. Tren perlambatan ini juga terjadi baik pada tingkat Jawa Timur dan Nasional seperti nampak pada tabel dibawah ini. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–27 Tabel II. 15 Pertumbuhan Ekonomi Kota Surabaya, Jawa Timur dan Nasional Tahun 2011-Tahun 2015 (%) Pertumbuhan Ekonomi 2011 2012 2013 2014 2015* Surabaya 7,13 7,35 7,58 6,73 5,97 Jawa Timur 6,44 6,64 6,08 5,86 5,44 Nasional 6,46 6,23 5,78 5,02 4,79 Sumber: BPS Kota Surabaya,2016 *) Angka Sementara Tingkat Inflasi Tingkat Inflasi menggambarkan indeks harga konsumen yang dapat mempengaruhi daya beli masyarakat. Perkembangan inflasi kota surabaya dalam kurun waktu 5 tahun cukup fluktuatif dengan nilai tertinggi terjadi pada tahun 2014 yaitu 7,9 persen. Angka tersebut tergolong dalam inflasi ringan yang nilainya dibawah angka 10 persen. Inflasi yang ringan dibutuhkan dalam perekonomian untuk mendorong produsen agar memproduksi lebih banyak barang dan jasa sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Angka Inflasi pada Tahun 2011-2015 sebagaimana Gambar II.8 berikut ini: Gambar II. 8 Inflasi Kota Surabaya (persen) Tahun 2011-2015 Sumber: BPS Kota Surabaya, 2015 Pergerakan inflasi yang fluktuatif perlu dikendalikan untuk meningkatkan dan menjaga daya beli masyarakat tetap stabil melalui upaya-upaya yang dapat menjaga 4,72 4,39 7,52 7,90 3,43 2011 2012 2013 2014 2015 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–28 stabilitas harga khususnya bahan pokok, mengingat surabaya bukan produsen melainkan pasar. Berdasarkan pergerakan harga (harian) beberapa bahan pokok dapat dihitung tingkat fluktuasi sebagaimana pada tabel berikut : Tabel II. 16 Tingkat Fluktuasi Harga Beberapa Bahan Pokok Tahun 2015 Nama Bahan Pokok Satuan Fluktuasi Harga Tingkat Stabilisasi Harga (Target Fluktuasi 5%) BERAS - Beras IR.64 Kwalitas I Kg 1,5% 169,5% - Beras IR.64 Kwalitas II Kg 3,1% 138,1% - Beras IR.64 Kwalitas III Kg 2,3% 154,4% GULA - Gula Pasir Lokal Curah Kg 8,6% 27,3% MINYAK GORENG - Minyak Goreng Curah (Bening) Kg 3,2% 135,8% DAGING - Daging Sapi "Grade Atas" Kg 4,2% 115,0% - Daging Sapi "Grade Sedang" Kg 4,3% 113,0% - Daging Sapi "Grade Bawah" Kg 2,8% 144,7% - Daging Ayam Broiler Kg 8,1% 37,3% I K A N - Ikan Tongkol Segar (Uk. Sedang) Kg 7,7% 46,4% - Ikan Mujair Segar (Uk. Sedang) Kg 9,2% 15,1% - Udang Segar (Uk. Sedang) Kg 8,5% 30,0% - Ikan Lele Segar (Ukuran Sedang) Kg 3,8% 124,6% - Ikan Bandeng Segar (Uk. Sedang) Kg 6,4% 71,7% - Ikan Teri Asin (Bukan Teri Medan) Kg 4,9% 101,9% TELUR - Telur Ayam Broiler Kg 7,7% 46,2% - Telur Ayam Kampung Butir 5,9% 81,2% Sumber: Bagian Perekonomian dan Usaha Daerah, 2015, diolah Bappeko, 2016 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–29 PDRB Per Kapita Kinerja ekonomi suatu wilayah dapat dinilai dengan berbagai ukuran. Secara umum, kinerja tersebut diukur melalui sebuah besaran yaitu PDRB per kapita. PDRB per kapita merupakan konsep yang paling sering dipakai sebagai tolok ukur tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk di suatu wilayah. PDRB per kapita merupakan gambaran pendapatan yang diterima oleh masing-masing penduduk sebagai keikutsertaannya dalam proses produksi. PDRB per kapita ADHB untuk mengetahui pertumbuhan nyata ekonomi perkapita penduduk suatu daerah. Besaran PDRB per kapita diperoleh dari output yang dihasilkan pada tahun tertentu dibagi jumlah penduduk pada tahun tersebut. Pendapatan per kapita dapat digunakan untuk membandingkan kesejahteraan atau standar hidup suatu wilayah dari tahun ke tahun. Dengan melakukan perbandingan seperti itu, kita dapat mengamati apakah kesejahteraan masyarakat pada suatu wilayah secara rata-rata telah meningkat. Berikut rangkuman data yang menggambarkan tingkat pendapatan perkapita penduduk di Kota Surabaya selama 5 tahun terakhir. Tabel II. 17 PDRB Perkapita dan Pendapatan Regional Perkapita Kota Surabaya Tahun 2011-2015 Tahun 2011 2012 2013 2014* 2015** ATAS DASAR HARGA BERLAKU PDRB (Milyar Rp) 261.772,34 293.180,80 327.926,13 365.073,14 406.196,76 PDRB Per Kapita (Juta Rp) 94,13 104,87 116,21 127,93 141,52 ATAS DASAR HARGA KONSTAN PDRB (Milyar Rp) 247.686,65 265.892,08 286.057,23 305.308,01 324.227,84 PDRB Per Kapita (Juta Rp) 89,06 95,11 101,37 106,99 112,96 Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun 2.781.047 2.795.545 2.821.900 2.853.661 2.870.200 Sumber: BPS Kota Surabaya 2016, *)Angka Sementara **)Data Proyeksi, data dirilis tahun (t+1) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–30 Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya, PDRB per kapita Kota Surabaya ADHK menunjukkan peningkatan pada setiap tahunnya. Peningkatan PDRB pe rkapita harus diiringi dengan peningkatan dan pemerataan pendapatan penduduk sehingga tujuan pembangunan untuk masyarakat sejahtera dapat terwujud. Indeks Gini Tingkat pemerataan distribusi pendapatan sering diukur dengan koefisien gini. Koefisien Gini bernilai nol, jika pendapatan secara nyata menyebar merata, dan mendekati 1 jika secara nyata distribusi pendapatan menyebar tidak merata. Berdasarkan nilai gini ratio, terdapat tiga kelompok ketimpangan yaitu: ketimpangan tinggi jika nilai koefisien gini ratio 0,5 atau lebih, sedang jika nilainya antara 0,30-0,49 dan rendah jika kurang dari 0,30. Nilai Indeks Gini Kota Surabaya selama kurun waktu 5 tahun berada pada kisaran 0,3 – 0,4, yang tergolong dalam kategori sedang. Ketimpangan tertinggi terjadi pada tahun 2012. Tingkat pemerataan distribusi pendapatan perlu menjadi perhatian Pemerintah Kota Surabaya agar tidak terjadi kesenjangan ekonomi yang dapat berakibat pada kesenjangan sosial dan menimbulkan konflik karena tujuan akhir dari pembangunan ekonomi adalah rakyat sejahtera. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya- upaya untuk pemerataan ekonomi melalui peningkatan produktivitas usaha masyarakat. Tabel II. 18 Gini Ratio Kota Surabaya Tahun 2011 – 2014 Tahun 2011 2012 2013 2014 Gini Ratio 0,37 0,40 0,37 0,39 Sumber: BPS Kota Surabaya, 2015 Indeks Ketimpangan Wilayah Ketimpangan pembangunan antar wilayah merupakan aspek yang umum terjadi dalam kegiatan ekonomi suatu daerah. Ketimpangan ini pada dasarnya disebabkan oleh adanya perbedaan kandungan SDA dan perbedaan kondisi geografi yang terdapat pada masing-masing wilayah. Akibat dari perbedaan ini, kemampuan suatu daerah dalam mendorong proses pembangunan juga menjadi berbeda. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–31 Terjadinya ketimpangan antar wilayah ini membawa implikasi terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat antar wilayah. Karena itu, aspek ketimpangan pembangunan antar wilayah ini juga mempunyai implikasi pula terhadap formulasi terhadap kebijakan pembangunan wilayah dan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Ukuran ketimpangan wilayah ini menggunakan metode Wiiliamson Index yang menganalisa PDRB per kapita sebagai data dasar. Karena yang diperbandingkan adalah tingkat pembangunan antar wilayah dan bukan tingkat distribusi pendapatan antar kelompok masyarakat, dengan ukuran bila angka indeks mendekati 1 berarti semakin timpang dan bila angka indeks mendekati nol berarti semakin merata. Tabel II. 19 Indeks Ketimpangan Wilayah Kota Surabaya Tahun 2011 2012 2013 Indeks Ketimpangan Wilayah 0.82 0.81 0.83 Sumber : Hasil Analisa Bappeko, 2016 Pemerataan Pendapatan Versi Bank Dunia Pencapaian kesejahteraan masyarakat dengan melihat distribusi pendapatan juga menjadi perhatian Bank Dunia yang kemudian membuat suatu indikator untuk mengukur tingkat pemerataan tersebut. Dalam mengukur tingkat pemerataan pendapatan tersebut, Bank Dunia memfokuskan pada persentase pendapatan yang diterima oleh 40 % penduduk dengan pendapatan terendah. Menurut Bank Dunia, ketimpangan distribusi pendapatan dikatakan tinggi jika persentase pendapatan yang diterima oleh 40 % penduduk berpendapatan terendah kurang dari 12 %, sedang jika persentasenya berada antara 12 % hingga 17%, dan ketimpangan rendah jika persentase mencapai lebih dari 17%. Tabel II. 20 Persentase Pendapatan yang Diterima Penduduk Menurut Kelompok Pendapatan Kota Surabaya Tahun 40 % terbawah 40 % menengah 20 % tertinggi 2012 21,38 32,01 46,61 2013 23,55 36,62 39,83 Sumber: BPS Kota Surabaya, 2013 diolah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–32 Seperti disajikan pada Tabel II. 20, pada tahun 2013 ketimpangan disribusi pendapatan di Kota Surabaya tergolong rendah, yaitu persentase pendapatan/pengeluaran yang dikuasai oleh 40 % penduduk termiskin mencapai lebih dari 17 % dari total pendapatan/pengeluaran penduduk. Persentase tersebut mencapai 23,55 %. Persentase Penduduk di atas Garis Kemiskinan Garis kemiskinan atau batas kemiskinan menurut BPS adalah representasi dari jumlah rupiah minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok minimum makanan yang setara dengan 2.100 kkal/kapita/hari dan kebutuhan pokok bukan makanan. Garis kemiskinan Kota Surabaya tahun 2014 sebesar Rp393.151,00 (tiga ratus sembilan puluh tiga ribu seratus lima puluh satu rupiah). Angka Kemiskinan Kota Surabaya ditunjukkan pada Tabel II. 21. Tabel II. 21 Angka dan Garis Kemiskinan serta Jumlah Penduduk Miskin Kota Surabaya Tahun 2011-2014 Kemiskinan 2011 2012 2013 2014 Angka Kemiskinan (persen) 6,58 6,23 5,97 5,79 Garis Kemiskinan (Rp) 310.074 339.208 372.511 393.151 Jumlah Penduduk Miskin (ribu jiwa) 183,3 175,1 168,7 164,36 Sumber: BPS Kota Surabaya, 2016 Memperhatikan data pada Tabel II. 21 tersebut di atas, bahwa angka kemiskinan Kota Surabaya dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2014 mengalami penurunan. Meskipun angka kemiskinan mengalami penurunan dilihat dari jumlah penduduk miskin yang ada masih cukup banyak yaitu 164.360 jiwa. Program dan kegiatan berbagai sektor yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya bertujuan untuk meringankan beban penduduk miskin melalui pemenuhan kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, sosial, perumahan maupun program dan kegiatan untuk meningkatkan kemampuan dan skill melalui pelatihan, dan pemberdayaan UKM. Intervensi tersebut diharapkan mampu menurunkan jumlah penduduk miskin. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–33 II.2.2 Fokus Kesejahteraan Sosial Pendidikan Pendidikan merupakan salah satu aspek yang berperand alam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Semakin baik tingkat pendidikan akan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Semakin baik kualitas SDM menjadikan semakin baik pula kualitas hidup masyarakat. Kesejahteraan sosial di bidang pendidikan diukur melalui beberapa indikator, di antaranya meliputi angka melek huruf, angka partisipasi kasar, angka partisipasi murni, dan rata-rata lama sekolah. Angka melek huruf adalah persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari. Perkembangan angka melek huruf penduduk Kota Surabaya disajikan pada Tabel II. 22. Tabel II. 22 Perkembangan Angka Melek Huruf Kota Surabaya Tahun 2011 s.d. Tahun 2015 No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah Penduduk Usia Diatas 15 tahun yang Bisa Membaca dan Menulis 2.326.260 2.532.545 2.537.470 2.199.721 2.121.329 2 Jumlah Penduduk Usia 15 tahun Keatas 2.326.260 2.532.545 2.537.470 2.199.721 2.121.329 3 Angka Melek Huruf (%) 100,00 % 100,00 % 100,00 % 100,00 % 100,00 % Sumber: Dinas Pendidikan, 2016 Dari data pada Tabel II. 22 tersebut diatas, berdasarkan data yang tercatat di Dinas Pendidikan Kota Surabaya menunjukkan bahwa penduduk Kota Surabaya usia 15 tahun keatas seluruhnya telah mampu membaca dan menulis. Angka Partisipasi Murni (APM) merupakan indikator daya serap penduduk usia sekolah di setiap jenjang pendidikan. Rekap data perkembangan APM Kota Surabaya tahun 2011-2015 disajikan pada Tabel II.23 sebagai berikut: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–34 Tabel II. 23 Perkembangan Angka Partisipasi Murni (APM) Kota Surabaya Tahun 2011-2015 No. Jenjang Pendidikan 2011 2012 2013 2014 2015
1.APM SD/MI (persen) 93,02 93,97 95,34 97,02 95,02
2.APM SMP/MTs (persen) 90,26 92,63 92,88 95,87 95,03
3.APM SMA/MA/SMK (persen) 85,77 87,77 90,12 93,47 92,55 Sumber: Dinas Pendidikan, 2016 Adapun rasio perempuan terhadap laki-laki untuk APM Kota Surabaya dapat disajikan pada tabel berikut: Tabel II. 24 Rasio Angka Partisipasi Murni (APM) Perempuan Terhadap Laki-Laki Kota SurabayaTahun 2011-2015 No. Jenjang Pendidikan 2013 2014 2015
1.Rasio APM perempuan/laki-laki SD/MI (persen) 98,29 97,85 104,00
2.Rasio APM perempuan/laki-laki SMP/MTs (persen) 106,46 106,47 105,06 3. Rasio APM perempuan/laki-laki SMA/MA/SMK (persen) 78,24 97,33 103,66 Sumber: Laporan MDGs Kota Surabaya, 2015 Sedangkan Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah rasio jumlah siswa, berapapun usianya yang sedang menempuh pendidikan di jenjang pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. Rekap data perkembangan APK Kota Surabaya tahun 2011-2015 disajikan pada Tabel II. 25 sebagai berikut: Tabel II. 25 Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) Kota Surabaya Tahun 2011-2015 No. Jenjang Pendidikan 2011 2012 2013 2014 2015
1.APK SD/MI (persen) 105,37 105,21 105,23 108,3 105,24
2.APK SMP/MTs (persen) 107,17 107,11 105,15 100,37 105,03
3.APK SMA/MA/SMK (persen) 105,09 105,13 105,23 121,85 105,08 Sumber: Dinas Pendidikan, 2016 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–35 Dari data pada Tabel II. 23 di atas menunjukkan bahwa seluruh APM baik jenjang SD/MI, SMP/MTs maupun SMA/SMK/MA setiap tahun mengalami kenaikan. Sedangkan Tabel II. 25 di atas menunjukkan bahwa APK jenjang SD/MI, SMP/MTs maupun SMA/SMK/MA setiap tahun mengalami stagnasi pada angka rata-rata 105%. Meskipun pada tahun 2014 APK SD/MI dan SMA/SMK/MA mengalami peningkatan yang cukup tajam dan APK SMP/MTs mengalami penurunan, pada tahun 2015 APK seluruh jenjang rata-rata pada posisi 105 %. Kondisi ini menunjukkan masyarakat mulai sadar akan pentingnya pendidikan dan disisi yang lain Pemerintah Kota Surabaya memberikan kemudahan bagi warga masyarakat untuk menikmati layanan pendidikan antara lain melalui beberapa Program dan Kegiatan seperti penyediaan BOSDA dan pembangunan dan rehabilitasi sekolah, layanan pendidikan inklusi serta pemerataan kualitas pembelajaran di sekolah. Dari data pada Tabel II. 25 di atas menunjukkan bahwa rata-rata penduduk Kota Surabaya telah mengenyam pendidikan sampai jenjang menengah atau SMA. Kondisi ini sesuai dengan kebijakan wajib belajar 12 tahun dan data APM jenjang SMA/SMK/MA yang mencapai 92,55 dan data APK jenjang SMA/SMK/MA yang mencapai 105,08 telah mengarah kepada kondisi yang diharapkan tersebut. Rata-rata lama sekolah menurut BPS adalah jumlah tahun belajar penduduk usia 15 tahun ke atas yang telah diselesaikan dalam pendidikan formal (tidak termasuk tahun yang mengulang). Data perkembangan rata-rata lama sekolah Kota Surabaya tahun 2011-2015 disajikan pada Tabel II.26. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–36 Tabel II. 26 Perkembangan Rata-Rata Lama Sekolah Kota Surabaya Tahun 2011- 2015 Indikator Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 Rata-Rata Lama Sekolah 10,08 10,1 10,12 10,07 10,24 Sumber: BPS Kota Surabaya, 2016 Angka harapan lama sekolah menurut BPS adalah lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. Data perkembangan angka harapan lama sekolah Kota Surabaya tahun 2014-2015 disajikan pada tabel berikut. Tabel II. 27 Perkembangan Angka Harapan Lama Sekolah Kota Surabaya Tahun 2014- 2015 Indikator Tahun 2014 2015 Angka Harapan Lama Sekolah 13,44 13,52 Sumber: BPS Kota Surabaya, 2016 Dari data pada tabel diatas menunjukkan bahwa rata-rata penduduk Kota Surabaya berharap mengenyam pendidikan melebihi jenjang menengah atau SMA. Kesehatan Peningkatan derajat kesehatan masyarakat di suatu wilayah salah satunya dapat diukur dengan meningkatnya angka harapan hidup (AHH) dan penurunan balita gizi buruk. Perkembangan AHH Kota Surabaya disajikan pada Tabel II.28. Tabel II. 28 Perkembangan Angka Harapan Hidup Kota Surabaya Tahun 2011 -2015 Indikator Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 Angka Harapan Hidup (persen) 71,27 71,53 72,12 73,85 73,85 Sumber: BPS Kota Surabaya, Juni 2016 AHH penduduk Kota Surabaya yang setiap tahunnya mengalami peningkatan seperti pada Tabel II.28 di atas menunjukkan program dan kegiatan pada sektor lingkungan, kesehatan, sosial dan penanggulangan kemiskinan telah berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Namun demikian perlu ditingkatkan dan dikembangkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–37 program-program inovasi untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik/lebih tinggi. Status gizi masyarakat pada balita di Kota Surabaya secara umum terus menunjukkan kemajuan signifikan yang ditandai dengan menurunnya angka prevalensi gizi buruk pada balita. Berikut ini merupakan rekapitulasi data prevalensi balita gizi buruk tahun 2011-2015. Tabel II. 29 Prevalensi Balita Gizi Buruk Kota Surabaya Tahun 2011-2015 Indikator Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 Prevalensi Balita Gizi Buruk (persen) 0,64 0,38 0,27 0,21 0,16 Sumber: Dinas Kesehatan Kota Surabaya, 2015 Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), balita gizi buruk dan kurang dapat dilihat pada Tabel II.30, Tabel II.31, dan Tabel II.32 sebagai berikut: Tabel II. 30 Angka Kematian Ibu (AKI) per 100.000 Kelahiran Hidup Kota Surabaya Tahun 2011-2015 No. Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah Ibu melahirkan yang meninggal 47 60 49 39 38 2 Jumlah ibu lahir hidup 45.235 41.481 41.125 43.242 43.505 3 AKI per 100.000 KH 103,90 144,64 119,15 90,19 87,35 Sumber : Dinas Kesehatan, 2016 Tabel II. 31 Angka Kematian Bayi(AKB) per 1.000 Kelahiran Hidup Kota Surabaya Tahun 2011-2015 No. Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah bayi lahir meninggal 465 318 254 243 282 2 Jumlah bayi lahir hidup 45.235 41.481 41.125 43.242 43.505 3 AKB per 1.000 KH 10,28 7,66 6,17 5,62 6,48 Sumber : Dinas Kesehatan, 2016 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–38 Tabel II. 32 Prevalensi Balita Gizi Buruk Dan Kurang Kota Surabaya Tahun 2011-2015 No. Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah balita dengan status gizi buruk dan kurang 1.027 626 444 366 282 2 Jumlah balita yang ditimbang 160.469 163.133 164.022 174.085 176.728 3 Persentase (persen) 0,64 0,38 0,27 0,21 0,16 Sumber : Dinas Kesehatan, 2016 Dari data pada Tabel II.29, Tabel II.30, Tabel II.31, dan Tabel II.32 diatas menunjukkan bahwa Prevalensi Balita Gizi Buruk, Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Bayi dan Prevalensi Balita gizi Buruk dan Kurang di Kota Surabaya telah mengalami penurunan setiap tahunnya, bahkan capaiannya telah di bawah standar yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. Meskipun capaiannya telah melebihi taregt yang telah ditetapkan, namun dari jumlah kasus kejadian masih cukup besar dan diupayakan menurun setiap tahunnya. Ketenagakerjaan Dengan semakin bertambahnya penduduk maka tidak bisa dipungkiri bahwa jumlah penduduk usia kerja (tenaga kerja) dari tahun ke tahun semakin meningkat, namun hal ini belum diiringi dengan perkembangan lapangan pekerjaan sehingga menimbulkan pengangguran. Perkembangan tingkat pengangguran terbuka dalam kurun waktu tahun 2011-2015 cukup fluktuatif. Angka tingkat pengangguran terbuka tertinggi terjadi pada tahun 2015 yaitu sebesar 7,01 % .Beberapa faktor yang menyebabkan semakin tingginya tingkat pengangguran di Kota Surabaya antara lain faktor kependudukan yang terdiri dari jumlah penduduk usia produktif yang cukup tinggi namun tidak dibekali dengan ketrampilan dan mental kerja, tingkat pendidikan rendah, tingkat urbanisasi yang tinggi serta faktor jumlah lapangan kerja yang terbatas, faktor tenaga kerja kontrak (outsourcing), dan faktor pemutusan hubungan kerja. Berikut adalah rekap data tentang tingkat pengangguran terbuka Tahun 2011- 2015 disajikan pada Tabel II. 33. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–39 Tabel II. 33 Tingkat Pengangguran Terbuka Kota Surabaya Tahun 2011-2015 No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah Penganggur Terbuka Usia Angkatan Kerja 75.954 71.997 77.861 85.345 102.914 2 Jumlah Penduduk Angkatan Kerja 1.475.147 1.419.677 1.473.465 1.465.502 1.468.094 3 persen Pengangguran Terbuka 5,15 % 5,07 % 5,28 % 5,82 % 7,01 % Sumber : BPS Kota Surabaya, 2015 Tabel II. 34 Rasio Penduduk Yang Bekerja Kota Surabaya Menurut Golongan Umur Tahun 2011-2015 Bekerja Mencari Pekerjaan Bekerja Mencari Pekerjaan Bekerja Mencari Pekerjaan Bekerja Mencari Pekerjaan Bekerja Mencari Pekerjaan 1 15-19 38.308 19.541 57.849 47.417 12.669 60.086 77.136 18.823 95.959 51.799 25.307 77.106 45.923 23.289 69.212 2 20-24 150.595 17.615 168.21 148.843 29.061 177.904 149.975 26.182 176.157 134.873 31.449 166.322 156.253 38.194 194.447 3 25-29 222.722 14.322 237.044 183.459 9.305 192.764 217.863 14.177 232.040 188.850 8.725 197.575 188.405 19.949 208.354 4 30-34 174.884 5.896 180.780 212.481 6.664 219.145 220.439 4.804 225.243 230.950 5255 236.205 201.262 5.362 206.624 5 35-39 198.765 6.071 204.836 182.378 3.156 185.534 175.974 - 175.974 177.735 4.686 182.421 178.120 2.001 180.121 6 40-44 162.757 2.516 165.273 176.096 2.084 178.180 195.910 5.872 201.782 188.379 1.071 189.450 162.859 3.730 166.589 7 45-49 158.996 3.605 162.601 117.430 1.964 119.394 115.339 2.762 118.101 128.094 2.192 130.286 141.305 3.140 144.445 8 50-54 108.766 3.558 112.324 120.366 1.964 122.330 126.151 2.703 128.854 126.944 1.190 128.134 120.863 2.543 123.406 9 55-59 97.332 1.010 98.342 74.589 5.130 79.719 60.784 1.692 62.476 73.830 3.730 77.560 90.158 2.576 92.734 10 60+ 86.068 1.820 87.888 84.621 - 84.621 56.033 846 56.879 78.703 1.840 80.543 80.032 2.130 82.162 Jumlah 1.399.193 75.954 1.475.147 1.347.680 71.997 1.419.677 1.395.604 77.861 1.473.465 1.380.157 85.445 1.465.602 1.365.180 102.914 1.468.094 No. Golongan Umur 2012 20132011 Angkatan Kerja Jumlah 2015 Angkatan Kerja Jumlah Angkatan Kerja Jumlah Angkatan Kerja Jumlah 2014 Angkatan Kerja Jumlah Sumber: BPS Kota Surabaya, 2016 Peningkatan kegiatan ekonomi di berbagai sektor akan memberikan dampak positif baik langsung maupun tidak langsung terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan. Peningkatan kesempatan kerja yang diikuti dengan peningkatan produktivitas diharapkan mampu menambah penghasilan/pendapatan masyarakat yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. II.2.3 Fokus Seni Budaya dan Olahraga Pembangunan seni, budaya dan olahraga merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari pembinaan dan pembangunan bangsa dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya insani, terutama diarahkan pada peningkatan kesehatan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–40 jasmani dan rohani, serta untuk membentuk watak dan kepribadian yang memiliki disiplin dan sportivitas yang tinggi. Di samping itu, pembangunan seni, budaya dan olahraga juga dijadikan sebagai alat untuk memperlihatkan eksistensi bangsa melalui pembinaan prestasi yang setinggi-tingginya. Data perkembangan seni, budaya dan olahraga Kota Surabaya dapat dilihat pada Tabel II. 35. Tabel II. 35 Perkembangan Seni, Budaya dan Olahraga Kota Surabaya, Tahun 2011-2015 No. Capaian Pembangunan 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah Grup Kesenian 164 183 203 226 219 2 Jumlah Gedung Kesenian 2 2 4 4 4 3 Jumlah Klub Olahraga 43 43 43 43 43 4 Jumlah Gedung Olahraga 3 3 3 3 3 Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ; Dinas Pemuda dan Olahraga, 2015 II.3 Aspek Pelayanan Umum II.3.1 Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar Penganalisisan gambaran umum kondisi daerah dilakukan terhadap indikator kinerja penyelenggaraan urusan pemerintahan wajib pelayanan dasar, yaitu urusan: Pendidikan Untuk mewujudkan Surabaya sebagai kota sentosa melalui peningkatan SDM yang berkualitas, salah satunya dilakukan melalui pelayanan bidang pendidikan yang merupakan pelayanan dasar. Keberhasilan pelayanan pendidikan dapat diukur melalui APK, APM, Angka Kelulusan (AL), dan Angka Putus Sekolah (APS). II.3.1.1.1 Angka Partisipasi Kasar (APK) Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah persentase jumlah siswa, berapapun usianya yang sedang menempuh pendidikan di jenjang pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. Data perkembangan APK Kota Surabaya tahun 2011-2015 telah disajikan di atas pada Tabel II.25 dan APK per kecamatan dalam Tabel II. 36 sebagai berikut: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–41 Tabel II. 36 Angka Partisipasi Kasar (APK) Kota Surabaya Menurut Kecamatan Tahun 2015 jumlah penduduk usia 7-12 tahun jumlah seluruh siswa di jenjang SD/MI APK jumlah penduduk usia 13-15 tahun jumlah seluruh siswa di jenjang SMP/MTs APK Jumlah penduduk usia 16-18 tahun jumlah seluruh siswa di jenjang SMA/MA/SMK APK Asemrowo 4807 3777 78,57% 2322 1786 76,92% 2153 643 29,87% Benowo 5979 6436 107,64% 2983 1460 48,94% 2885 2360 81,80% Bubutan 9544 9275 97,18% 5015 2804 55,91% 4733 2545 53,77% Bulak 4322 5950 137,67% 2235 2712 121,34% 1984 1900 95,77% Dukuh Pakis 5231 6322 120,86% 2688 2981 110,90% 2445 2961 121,10% Gayungan 3844 6546 170,29% 2051 2953 143,98% 1893 5706 301,43% Genteng 5061 7256 143,37% 2726 5973 219,11% 2538 13065 514,78% Gubeng 12136 11924 98,25% 6327 4521 71,46% 5904 11618 196,78% Gununganyar 5040 4710 93,45% 2436 1602 65,76% 2365 570 24,10% Jambangan 4543 4325 95,20% 2225 3878 174,29% 2057 3372 163,93% Karangpilang 6569 7167 109,10% 3494 4432 126,85% 3144 1509 48,00% Kenjeran 15745 16344 103,80% 7899 8538 108,09% 7541 3595 47,67% Krembangan 10628 12888 121,26% 5564 9531 171,30% 5214 6211 119,12% Lakarsantri 5526 6850 123,96% 2751 4950 179,93% 2476 2229 90,02% Mulyorejo 7536 9546 126,67% 3893 6163 158,31% 3462 5484 158,41% Pabean Cantian 7282 4552 62,51% 3636 1970 54,18% 3567 2444 68,52% Pakal 5314 6784 127,66% 2637 3667 139,06% 2484 796 32,05% Rungkut 9821 10477 106,68% 5209 5744 110,27% 4736 2926 61,78% Sambikerep 5767 4916 85,24% 2803 2749 98,07% 2532 1416 55,92% Sawahan 19332 16526 85,49% 9884 5058 51,17% 9036 9402 104,05% Semampir 18143 20208 111,38% 9080 6207 68,36% 8513 3944 46,33% Simokerto 8821 6615 74,99% 4537 4134 91,12% 4380 1748 39,91% Sukolilo 9587 11675 121,78% 4793 7093 147,99% 4473 9284 207,56% Sukomanunggal 9195 10316 112,19% 4543 6795 149,57% 4234 5390 127,30% Tambaksari 20100 17656 87,84% 10327 7285 70,54% 9490 4900 51,63% Tandes 8615 11172 129,68% 4062 5296 130,38% 3711 3315 89,33% Tegalsari 8721 10760 123,38% 4695 4286 91,29% 4441 2667 60,05% Tenggilis Mejoyo 4878 5725 117,36% 2461 3358 136,45% 2280 1746 76,58% Wiyung 6240 6492 104,04% 3318 2903 87,49% 3062 1384 45,20% Wonocolo 6895 8961 129,96% 3694 4508 122,04% 3398 11226 330,37% Wonokromo 14935 12162 81,43% 7885 9786 124,11% 7590 8904 117,31% Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/MA/SMK KECAMATAN Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI Angka Partisipasi Kasar (APK) SMP/MTs Sumber: Dinas Pendidikan, 2016 II.3.1.1.2 Angka Partisipasi Murni (APM) APM merupakan indikator daya serap penduduk usia sekolah di setiap jenjang pendidikan. Data perkembangan APM Kota Surabaya tahun 2011-2015 telah disajikan di atas pada Tabel II.23 dan APM per kecamatan pada Tabel II. 37. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–42 Tabel II. 37 Angka Partisipasi Murni (APM) Kota Surabaya Menurut Kecamatan Tahun 2015 Jumlah siswa usia 7-12 tahun di jenjang SD/MI Jumlah penduduk usia 7-12 tahun APM Jumlah siswa usia 13-15 tahun di jenjang SMP/MTs Jumlah penduduk usia 13-15 tahun APM Jumlah siswa usia 16- 18 tahun di jenjang SMA/MA/SMK Jumlah penduduk usia 16-18 tahun APM Asemrowo 3413 4807 71,00% 1614 2322 69,51% 565 2153 26,24% Benowo 5809 5979 97,16% 1319 2983 44,22% 2077 2885 71,99% Bubutan 8377 9544 87,77% 2532 5015 50,49% 2240 4733 47,33% Bulak 5374 4322 124,34% 2450 2235 109,62% 1672 1984 84,27% Dukuh Pakis 5709 5231 109,14% 2691 2688 100,11% 2605 2445 106,54% Gayungan 5913 3844 153,82% 2669 2051 130,13% 5022 1893 265,29% Genteng 6547 5061 129,36% 5399 2726 198,06% 11500 2538 453,11% Gubeng 10764 12136 88,69% 4084 6327 64,55% 10222 5904 173,14% Gununganyar 4252 5040 84,37% 1446 2436 59,36% 501 2365 21,18% Jambangan 3906 4543 85,98% 3504 2225 157,48% 2966 2057 144,19% Karangpilang 6472 6569 98,52% 4005 3494 114,63% 1325 3144 42,14% Kenjeran 14758 15745 93,73% 7716 7899 97,68% 3164 7541 41,96% Krembangan 11639 10628 109,51% 8614 5564 154,82% 5467 5214 104,85% Lakarsantri 6182 5526 111,87% 4472 2751 162,56% 1959 2476 79,12% Mulyorejo 8614 7536 114,30% 5565 3893 142,95% 4825 3462 139,37% Pabean Cantian 4112 7282 56,47% 1779 3636 48,93% 2150 3567 60,27% Pakal 6131 5314 115,37% 3315 2637 125,71% 699 2484 28,14% Rungkut 9461 9821 96,33% 5191 5209 99,65% 2573 4736 54,33% Sambikerep 4438 5767 76,96% 2481 2803 88,51% 1240 2532 48,97% Sawahan 14916 19332 77,16% 4570 9884 46,24% 8275 9036 91,58% Semampir 18246 18143 100,57% 5605 9080 61,73% 3468 8513 40,74% Simokerto 5977 8821 67,76% 3737 4537 82,37% 1537 4380 35,09% Sukolilo 10539 9587 109,93% 6408 4793 133,69% 8169 4473 182,63% Sukomanunggal 9313 9195 101,28% 6139 4543 135,13% 4739 4234 111,93% Tambaksari 15941 20100 79,31% 6581 10327 63,73% 4310 9490 45,42% Tandes 10086 8615 117,07% 4785 4062 117,80% 2917 3711 78,60% Tegalsari 9714 8721 111,39% 3873 4695 82,49% 2348 4441 52,87% Tenggilis Mejoyo 5169 4878 105,97% 3033 2461 123,24% 1537 2280 67,41% Wiyung 5860 6240 93,91% 2622 3318 79,02% 1218 3062 39,78% Wonocolo 8088 6895 117,30% 4074 3694 110,29% 9881 3398 290,79% Wonokromo 10983 14935 73,54% 8842 7885 112,14% 7832 7590 103,19% Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/MA/SMK KECAMATAN Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs Sumber: Dinas Pendidikan, 2015 Tabel II.36 dan Tabel II.37 menunjukkan bahwa aksesibilitas layanan pendidikan sudah baik namun perlu dilakukan upaya pemerataan fasilitas layanan pendidikan yang tersebar di seluruh wilayah kecamatan. APM dan APK seluruh jenjang sekolah di Kota Surabaya menunjukkan fluktuasi namun secara garis besar mengalami peningkatan. Gambar II.9 menunjukkan APM dan APK untuk jenjang SD dan Gambar II.10 untuk APK dan APM jenjang SMP. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–43 Gambar II. 9 Peta APK dan APM SD per Kecamatan, Sebaran Sekolah dan Jumlah Penduduk Usia Sekolah Jenjang SD Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–44 Gambar II. 10 Peta APK dan APM SMP per Kecamatan, Sebaran Sekolah dan Jumlah Penduduk Usia Sekolah Jenjang SMP Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–45 Dari data pada Tabel II. 36 dan Tabel II. 37 maupun pada Gambar II.9 dan Gambar II.10 terdapat beberapa kecamatan yang memiliki APK dan APM lebih dari 100 %, kondisi ini menunjukkan bahwa di wilayah tersebut jumlah sekolah lebih banyak dari wilayah lain dan sekolah-sekolahnya memiliki kualitas lebih baik, sehingga menjadi tujuan bagi penduduk usia sekolah di wilayah kecamatan lainnya untuk bersekolah di wilayah tersebut. Sebaliknya kecamatan yang memiliki APK dan APM kurang dari 100 % menunjukkan kondisi bahwa di wilayah kecamatan tersebut ketersediaan atau jumlah sekolah sedikit dan kualitas sekolah masih kurang sehingga menyebabkan penduduk usia sekolah cenderung memilih bersekolah di luar wilayah kecamatan. Aspek yang mendorong tingginya nilai APK dan APM adalah sarana prasarana, fasilitas, kualitas tenaga pendidik dan penerapan kurikulum. II.3.1.1.3 Angka Kelulusan (AL) Angka kelulusan dihitung berdasarkan jumlah siswa pada setiap jenjang pendidikan yang lulus dibandingkan dengan jumlah seluruh siswa yang mengikuti ujian tingkat akhir. Data perkembangan Angka Kelulusan Kota Surabaya tahun 2011-2015 disajikan pada Tabel II.38. Tabel II. 38 Perkembangan Angka Kelulusan (AL) Kota Surabaya, Tahun 2011-2015 No. Jenjang Pendidikan 2011 2012 2013 2014 2015
1.AL SD/MI (persen) 100 100 100 100 100
2.AL SMP/MTs (persen) 99,73 99,89 99,89 99,99 100
3.AL SMA/MA (persen) 99,33 99,88 99,99 99,95 99,97
4.AL SMK (persen) 99,94 99,88 99,99 99,95 99,97 Sumber: Dinas Pendidikan, 2015 Kelulusan siswa ditentukan oleh masing-masing sekolah, alat ukur kelulusan tidak lagi berdasarkan Nilai Ujian Nasional, akan tetapi juga ditentukan poses pembelajaran dan prestasi siswa selama bersekolah dijenjang masing-masing. Dari data pada Tabel II.38 menunjukkan bahwa rata-rata siswa yang mengikuti ujian tingkat akhir dinyatakan lulus kecuali ada sebagian kecil (0,03 %) siswa ditingkat pendidikan SMASMK/MA yang tidak lulus dikarenakan sakit atau tidak mampu mengikuti proses pembelajaran di sekolah. II.3.1.1.4 Angka Putus Sekolah (APS) APS diukur berdasarkan perbandingan antara jumlah siswa putus sekolah dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–46 jumlah siswa seluruhnya. Perkembangan Angka Putus Sekolah (APS) Kota Surabaya Tahun 2011-2015 dapat dilihat pada Tabel II.39. Tabel II. 39 Perkembangan Angka Putus Sekolah (APS) Kota Surabaya Tahun 2011-2015 No. Jenjang Pendidikan 2011 2012 2013 2014 2015
1.APS SD/MI (persen) 0 0,003 0 0,0025 0
2.APS SMP/MTs (persen) 0,05 0,002 0,003 0,002 0
3.APS SMA/MA (persen) 0,05 0,003 0,009 0,01 0,004
4.APS SMK (persen) 0,05 0,026 0,01 0,01 0,007 Sumber: Dinas Pendidikan, 2015 Seperti halnya angka kelulusan, dari data pada Tabel II.39 di atas menunjukkan bahwa tidak ada siswa yang mengalami putus sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan hanya sebagian kecil dari siswa jenjang SMA dan SMK yang mengalami putus sekolah dikarenakan mengikuti orang tua yang pindah tugas dan bekerja. II.3.1.1.5 Angka Melanjutkan (AM) AM diukur berdasarkan perbandingan antara jumlah siswa yang melanjutkan ke jenjang lebih tinggi dengan jumlah siswa yang lulus ujian. Untuk angka melanjutkan SD/MI ke jenjang SMP/MTs diukur berdasarkan perbandingan antara jumlah siswa baru kelas 7 SMP/MTs dengan jumlah lulusan SD/MI. Sedangkan angka melanjutkan SMP/MTs ke jenjang SMA/MA/SMK diukur berdasarkan perbandingan antara jumlah siswa baru tingkat 10 SMA/MA/SMK dengan jumlah lulusan SMP/MTs. Perkembangan Angka Melanjutkan (AM) Kota Surabaya Tahun 2011-2015 dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel II. 40 Perkembangan Angka Melanjutkan (AM) Kota Surabaya Tahun 2011-2015 No. Indikator 2011 2012 2013 2014 2015 1 Angka Melanjutkan (AM) SD/MI ke jenjang SMP/MTs (persen) 98,78 99,42 99,47 100,80 99,54 2 Angka Melanjutkan SMP/MTs ke jenjang SMA/MA/SMK (persen) 90,00 99,15 99,16 99,16 100,04 Sumber: Dinas Pendidikan, 2015 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–47 Seperti halnya angka kelulusan dan angka putus sekolah, dari data pada tabel diatas menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil siswa yang tidak melanjutkan, hal ini dikarenakan mengikuti orang tua yang pindah tugas dan bekerja. II.3.1.1.6 Rasio Ketersediaan Sekolah dibanding Penduduk Usia Sekolah Ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan juga merupakan faktor penting dalam upaya pemerataan dan perluasan pendidikan, baik dari ketersediaan sekolah, kelas ataupun guru. Dengan demikian jika ketersediaan ruang kelas dan guru pengajar masih kurang memadai maka dibutuhkan perhatian untuk memperlancar proses belajar mengajar pada tingkat pendidikan dasar. Data ketersediaan sekolah dan penduduk usia sekolah Kota Surabaya Tahun 2011 s.d 2015 disajikan pada Tabel II.41. Tabel II. 41 Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Kota Surabaya Tahun 2011 s.d 2015 No Jenjang Pendidikan 2011 2012 2013 2014 2015 1 SD/MI 1.1. Jumlah gedung sekolah 911 1034 966 971 862 1.2. Jumlah penduduk kelompok usia 7- 12 tahun 283.957 294.664 298.297 260.193 2701.57 1.3. Rasio 1 : 312 1 : 285 1 : 309 1 : 268 1 : 313 2 SMP/MTs 2.1 Jumlah gedung sekolah 341 378 378 375 356 2.2 Jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun 136.150 138.884 147.426 129.367 138.173 2.3 Rasio 1 : 399 1 : 367 1 : 390 1 : 345 1 : 388 Sumber : Dinas Pendidikan, 2016 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–48 Tabel II. 42 Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Kota Surabaya Menurut Kecamatan Tahun 2015 KECAMATAN SD/MI SMP/MTs SMA/MA/SMK Jumlah SD Jumlah MI Total Jumlah Penduduk Usia 7-12 Rasio Jumlah SMP Jumlah MTs Total Jumlah Penduduk Usia 13-15 Rasio Jumlah SMA Jumlah MA Jumlah SMK Total Jumlah Penduduk Usia 16-18 Rasio Asemrowo 15 5 20 4782 1:240 4 0 4 2340 1:585 1 0 1 2 2181 1 : 1091 Benowo 11 5 16 5897 1:369 3 2 5 3044 1:609 2 1 1 4 2843 1 : 711 Bubutan 37 2 39 9422 1:242 9 0 9 4972 1:553 1 0 3 4 4754 1 : 1189 Bulak 16 5 21 4306 1:206 5 1 6 2257 1:377 2 0 1 3 2028 1 : 676 Dukuh Pakis 30 1 31 5228 1:169 14 1 15 2702 1:181 6 0 0 6 2489 1 : 415 Gayungan 18 1 19 3798 1:200 8 1 9 2035 1:227 5 0 2 7 1953 1 : 279 Genteng 23 1 24 4993 1:209 11 0 11 2727 1:248 13 0 5 18 2568 1 : 143 Gubeng 44 4 48 12085 1:252 18 0 18 6268 1:349 9 0 8 17 6008 1 : 354 Gununganyar 12 0 12 5014 1:418 7 0 7 2438 1:349 0 0 2 2 2398 1 : 1199 Jambangan 11 4 15 4508 1:301 6 0 6 2282 1:381 3 0 3 6 2054 1 : 343 Karangpilang 19 3 22 6453 1:294 12 0 12 3550 1:296 5 0 4 9 3234 1 : 360 Kenjeran 27 23 50 15519 1:311 14 4 18 8062 1:448 3 0 2 5 7447 1 : 1490 Krembangan 31 8 39 10493 1:270 17 1 18 5592 1:311 7 0 2 9 5331 1 : 593 Lakarsantri 19 5 24 5502 1:230 7 2 9 2771 1:308 6 0 1 7 2467 1 : 353 Mulyorejo 36 2 38 7365 1:194 12 0 12 3933 1:328 5 0 3 8 3550 1 : 444 Pabean Cantian 18 4 22 7202 1:328 8 0 8 3700 1:463 3 0 2 5 3564 1 : 713 Pakal 17 7 24 5233 1:219 6 3 9 2650 1:295 4 1 1 6 2532 1 : 422 Rungkut 23 5 28 9820 1:351 7 2 9 5133 1:571 5 2 2 9 4874 1 : 542 Sambikerep 13 6 19 5682 1:300 9 1 10 2894 1:290 7 1 4 12 2508 1 : 209 Sawahan 57 1 58 19154 1:331 16 2 18 9882 1:549 7 0 9 16 9317 1 : 583 Semampir 50 31 81 17875 1:221 22 5 27 9240 1:343 4 1 4 9 8614 1 : 958 Simokerto 27 6 33 8702 1:264 9 2 11 4611 1:420 6 1 3 10 4395 1 : 440 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–49 KECAMATAN SD/MI SMP/MTs SMA/MA/SMK Jumlah SD Jumlah MI Total Jumlah Penduduk Usia 7-12 Rasio Jumlah SMP Jumlah MTs Total Jumlah Penduduk Usia 13-15 Rasio Jumlah SMA Jumlah MA Jumlah SMK Total Jumlah Penduduk Usia 16-18 Rasio Sukolilo 39 0 39 9531 1:245 17 1 18 4821 1:268 12 0 10 22 4482 1 : 204 Sukomanunggal 39 1 40 9123 1:229 18 0 18 4562 1:254 6 1 8 15 4339 1 : 290 Tambaksari 50 8 58 19867 1:343 18 5 23 10478 1:456 8 2 4 14 9650 1 : 690 Tandes 21 9 30 8574 1:286 13 2 15 4112 1:275 1 2 1 4 3749 1 : 938 Tegalsari 36 3 39 8634 1:222 17 0 17 4646 1:274 4 0 0 4 4496 1 : 1124 Tenggilis Mejoyo 18 0 18 4842 1:269 9 0 9 2468 1:275 3 0 0 3 2366 1 : 789 Wiyung 17 1 18 6123 1:341 6 0 6 3329 1:555 1 1 0 2 3151 1 : 1576 Wonocolo 25 3 28 6828 1:244 10 2 12 3671 1:306 9 3 7 19 3429 1 : 181 Wonokromo 42 7 49 14666 1:300 19 1 20 7985 1:400 11 0 9 20 7623 1 : 382 Sumber: Dinas Pendidikan, 2015 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–50 Dari data pada Tabel II.41 di atas menunjukkan bahwa secara keseluruhan kebutuhan akan ketersediaan sekolah di jenjang SD dan SMP semakin meningkat. Namun jika dilihat rasio ketersediaan sekolah seperti data pada Tabel II.42 ada beberapa wilayah kecamatan yang memiliki rasio ketersediaan sekolah tinggi dan ada beberapa wilayah kecamatan dengan rasio ketersediaan sekolah rendah. Kecamatan yang memiliki rasio terbesar adalah Kecamatan Gununganyar dengan nilai rasio sebesar 1:418, sedangkan kecamatan yang memiliki rasio terkecil adalah Kecamatan Dukuh Pakis dengan nilai rasio sebesar 1:169. Pada tingkat SMP/MTs Kecamatan Benowo memiliki rasio tertinggi yaitu 1:609 dan Kecamatan Dukuh Pakis merupakan Kecamatan dengan rasio terendah yaitu 1:181. Pada tingkat SMA/MA/SMK Kecamatan Wiyung memiliki rasio tertinggi yaitu 1:1576 dan Kecamatan Genteng merupakan kecamatan dengan rasio terendah yaitu 1:143. Rasio ketersediaan SMA/MA/SMK di Kecamatan Genteng kecil dipengaruhi oleh pola pemanfaatan ruang secara dominan berfungsi sebagai perdagangan dan jasa sehingga jumlah penduduk yang tinggal tidak banyak tetapi tersedia banyak sekolah di kecamatan tersebut. Rasio kecamatan yang ketersediaan sekolahnya rendah justru menjadi tujuan bagi penduduk usia sekolah di wilayah kecamatan lain untuk sekolah di wilayah tersebut sehingga menyebabkan APK dan APM di wilayah kecamatan tersebut tinggi. Sedangkan untuk wilayah yang memiliki rasio ketersediaan sekolahnya tinggi perlu direncanakan penyediaan fasilitas pendidikan baru atau mengembangkan daya tampung sekolah yang ada agar penduduk usia sekolah dapat tertampung pendidikannya. Selain ketersediaan sekolah, kualitas pendidikan juga dipengaruhi oleh mutu lembaga pendidikan yang dapat dilihat dari akreditasi lembaga pendidikan tersebut. Akreditasi memberikan gambaran tingkat kinerja sekolah yang dijadikan sebagai alat pembinaan, pengembangan dan peningkatan sekolah baik dari segi mutu, efektifitas, efisiensi, produktifitas dan inovasinya. Selain itu akreditasi juga memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa sekolah sudah memenuhi standar yang ditetapkan. Dari data Dinas Pendidikan Tahun 2015 terdapat 322 sekolah yang terakreditasi A, 168 sekolah yang terakreditasi B dan 31 sekolah yang terakreditasi C. Terdapat 1073 sekolah yang belum terakreditasi dan 6 sekolah yang tidak terakreditasi. Sedangkan untuk lembaga kursus/pelatihan berdasarkan data dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–51 Dinas Pendidikan Tahun 2016, terdapat 31 lembaga kursus/pelatihan yang telah terakreditasi dan 470 lembaga kursus/pelatihan belum terakreditasi. Disamping pendidikan di sekolah dan lembaga kursus/pelatihan jua terdapat Pusat Kegiatan Belajar Mengajar yang berperan dalam penyelenggaraan pendidikan kesetaraan berupa kejar paket A, B dan C. Berdasarkan data Dinas Pendidikan tahun 2015 terdapat 36 PKBM yang tersebar di kecamatan dengan total peserta 1982 peserta, namun hanya 1788 peserta yang lulus. II.3.1.1.7 Rasio Guru dibanding Murid Kebutuhan guru yang memenuhi kualifikasi menjadi sangat penting dalam upaya peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan di semua jenjang pendidikan. Dengan pendidikan guru yang sesuai dengan standar kualifikasi maka diharapkan akan mampu menghasilkan kualitas siswa didik yang lebih berkualitas pula. Dan tentunya juga dibutuhkan ketersediaan guru yang berkompetensi di setiap sekolah. Pada tahun 2011, jumlah guru di jenjang SD/MI sebanyak 11.643 orang dengan jumlah murid sebanyak 299.205 siswa, sehingga rasio guru SD/MI sebesar 1:26. Dan pada tahun 2015, jumlah guru di jenjang SD/MI sebanyak 12.418 orang dengan jumlah murid sebanyak 284.313 siswa, sehingga rasio guru SD/MI sebesar 1:23. Jumlah guru di jenjang SMP/MTs pada tahun 2011 sebanyak 5.819 orang dengan jumlah murid sebanyak 145.912 siswa, sehingga rasio guru SMP/MTs sebesar 1:25. Dan pada tahun 2015, jumlah guru di jenjang SMP/MTs sebanyak 6.460 orang dengan jumlah murid sebanyak 145.123 siswa, sehingga rasio guru SMP/MTs sebesar 1:22. Jumlah guru di jenjang SMA/MA/SMK pada tahun 2011 sebanyak 5.848 orang dengan jumlah murid sebanyak 143.477 siswa, sehingga rasio guru SMP/MTs sebesar 1:25. Pada tahun 2015, jumlah guru di jenjang SMA/MA/SMK sebanyak 8.636 orang dengan jumlah murid sebanyak 135.260 siswa, sehingga rasio guru SMP/MTs sebesar 1:16. Data rasio jumlah guru dibanding murid dapat dilihat pada tabel berikut: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–52 Tabel II. 43 Jumlah Guru dan Murid Kota Surabaya Tahun 2011-2015 No Jenjang Pendidikan 2011 2012 2013 2014 2015 1 SD/MI 1.1 Guru 11.643 12.853 10.653 12.767 12.418 1.2 Murid 299.205 310.016 313.897 281.794 284.313 1.3 Rasio 1 : 26 1 : 24 1 : 29 1 : 22 1 : 23 2 SMP/MTs 2.1 Guru 5.819 5.237 5.211 7.723 6.460 2.2 Murid 145.912 148.759 155.018 129.845 145.123 2.3 Rasio 1 : 25 1 : 28 1 : 30 1 : 17 1 : 22 3 SMA/MA/SMK 3.1 Guru 5.848 5.262 5.182 8.636 8.636 3.2 Murid 143.477 150.185 152.555 154.732 135.260 3.3 Rasio 1 : 25 1 : 29 1 : 29 1 : 18 1 : 16 Sumber : Dinas Pendidikan, 2016 Terkait dengan kualitas guru dapat dilihat dari jenjang pendidikan guru dan sertifikasi guru sebagaimana tabel berikut : Tabel II. 44 Jumlah Guru PNS Kota Surabaya Berdasarkan Jenjang Pendidikan Tahun 2015 JENJANG ≤ SMA D1 D2 D3 D4 S1 S2 S3 TOTAL TK 42 19 2 1 314 29 407 SD 183 1 416 20 6 3592 498 1 4717 SMP 1 16 8 51 1652 549 2277 SMA 12 923 360 1 1296 SMK 1 18 13 872 269 1 1174 SLB 28 1 198 27 254 TOTAL 226 17 472 104 20 7551 1732 3 10125 Sumber : Dinas Pendidikan, 2016 Tabel II. 45 Jumlah Guru Non PNS Kota Surabaya Berdasarkan Jenjang Pendidikan Tahun 2015 JENJANG ≤ SMA D1 D2 D3 D4 S1 S2 S3 TOTAL TK 287 132 397 76 2 3162 68 1 4125 SD 107 29 231 74 8 5659 201 1 6310 SMP 9 20 15 80 5 3051 243 1 3424 SMA 4 3 5 27 1 1753 216 2009 SMK 27 6 5 47 17 1353 142 1597 SLB 12 5 7 12 122 7 165 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–53 JENJANG ≤ SMA D1 D2 D3 D4 S1 S2 S3 TOTAL TOTAL 446 195 660 316 33 15100 877 3 17630 Sumber : Dinas Pendidikan, 2016 Tabel II. 46 Jumlah Guru Kota Surabaya Bersertifikat Pendidik Tahun 2015 No Jenjang Kondisi 2015 (Telah Sertifikasi) Jumlah Total Guru Selisih Guru Yang Belum Sertifikasi PNS NON PNS JML PNS NON PNS JML PNS NON PNS JML 1 TK 361 2196 2557 420 4153 4573 59 1957 2016 2 SD 3570 2309 5879 5010 7001 12011 1440 4692 6132 3 SMP 2065 1646 3711 2411 3814 6225 346 2168 2514 4 SLB 232 68 300 250 109 359 18 41 59 5 SMA 1138 1002 2140 1413 2441 3854 275 1439 1714 6 SMK 1038 545 1583 1165 1491 2656 127 946 1073 7 PENGAWAS 99 0 99 102 0 102 3 0 3 JUMLAH 8503 7766 16269 10771 19009 29780 2268 11243 13511 Sumber : Dinas Pendidikan, 2016 Dari data pada tabel tersebut diatas menunjukkan bahwa masih ada 13.511 guru di seluruh jenjang pendidikan yang belum sertifikasi. Diharapkan dengan program dan kegiatan yang telah diberikan oleh Pemerintah Kota Surabaya jumlah yang bersertifikasi akan mengalami peningkatan. Kesehatan Kualitas SDM salah satunya dipengaruhi oleh derajat kesehatan masyarakat. Derajat kesehatan masyarakat salah satunya ditandai dengan meningkatnya AHH dan perilaku masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta penyediaan fasilitas kesehatan yang berkualitas dan mudah diakses oleh masyarakat. Dalam meningkatkan AHH, terdapat berbagai upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya, salah satunya melalui cakupan kelurahan mengalami KLB yang ditangani <24 jam serta layanan kesehatan ibu dan anak yaitu cakupan pelayanan ibu nifas, cakupan kunjungan bayi, balita gizi buruk yang mendapat perawatan yang dapat dilihat padaTabel II. 47 sampai Tabel II. 50. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–54 Tabel II. 47 Cakupan Kelurahan Mengalami KLB yang Ditangani <24 Jam Tahun 2011-2015 No. Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah kelurahan mengalami KLB yang ditangani <24 jam 67 134 87 69 28 2 Jumlah kelurahan yang mengalami KLB 67 134 87 69 28 3 Persentase (persen) 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % Sumber : Dinas Kesehatan, 2016 Tabel II. 48 Cakupan Pelayanan Ibu Nifas Tahun 2011-2015 No. Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah ibu nifas yang mendapat pelayanan kesehatan 37.478 37.205 41.296 41.939 42.846 2 Jumlah ibu nifas 39.444 39.257 46.303 45.505 45.680 3 Persentase (persen) 95,02 % 94,77 % 89,19 % 92,37 % 93,8 % Sumber : Dinas Kesehatan, 2016 Tabel II. 49 Cakupan Kunjungan Bayi Tahun 2011-2015 No. Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah kunjungan bayi 36.551 34.674 40.953 40.315 40.455 2 Jumlah bayi 42.264 43.549 43.280 42.568 43.178 3 Persentase (persen) 86,48 % 79,62 % 94,62 % 94,71 % 93.69 % Sumber : Dinas Kesehatan, 2016 Tabel II. 50 Persentase Balita Gizi Buruk yang Mendapat Perawatan Tahun 2011-2015 No. Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah balita gizi buruk yang mendapat perawatan 1.027 626 444 366 282 2 Jumlah balita gizi buruk 1.027 626 444 366 282 3 Persentase (persen) 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % Sumber : Dinas Kesehatan, 2016 Terdapat 10 jenis PHBS di rumah tangga yaitu: 1) persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan; 2) memberikan bayi ASI eksklusif; 3) menimbang balita setiap Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–55 bulan; 4) menggunakan air bersih; 5) mencuci tangan dengan air bersih dan sabun; 6) menggunakan jamban sehat: 7) memberantas jentik di rumah sekali seminggu; 8) makan buah dan sayur setiap hari; 9) melakukan aktifitas fisik setiap hari, dan 10) tidak merokok dalam rumah. Pemerintah Kota Surabaya telah melakukan peningkatan derajat kesehatan masyarakat dapat dimulai dari lingkungan yang terkecil. Lingkungan terkecil dan efektif untuk mendukung tercapainya derajat kesehatan masyarakat adalah rumah tangga yang berperilaku hidup bersih dan sehat, yaitu memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. Namun, masih terdapat rumah tangga yang belum menerapkan PHBS sebanyak 28,1 %. Perkembangan rumah tangga ber- PHBS dapat dilihat pada Tabel II. 51 di bawah dan diharapkan setiap tahun jumlah rumah tangga yang ber-PHBS nya semakin meningkat dan derajat kesehatan masyarakat semakin baik. Tabel II. 51 Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS Kota Surabaya Tahun 2011-2015 No. Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah Rumah Tangga ber-PHBS 32.081 54.784 119.210 141.162 160.758 2 Jumlah Rumah Tangga Dipantau 52.258 87.002 177.090 210.369 223.584 3 Persentase (persen) 61,39 62,97 67,32 67,10 71,90 Sumber : Dinas Kesehatan, 2016 Rumah tangga ber- PHBS juga didukung dengan adanya keluarahan siaga aktif yang dapat dilihat pada Tabel II.51. Tabel II. 52 Persentase Kelurahan Siaga Aktif Tahun 2011-2015 No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah kelurahan siaga aktif 160 160 160 154 154 2 Jumlah kelurahan siaga 160 160 160 154 154 3 Persentase (persen) 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % Sumber : Dinas Kesehatan, 2016 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–56 Akses layanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang disediakan oleh pemerintah maupun upaya-upaya kesehatan yang dilakukan oleh masyarakat melalui posyandu. Pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2015 jumlah posyandu mengalami peningkatan, hal ini disebabkan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan terus meningkat. Jumlah posyandu dan balita Kota Surabaya Tahun 2011- 2015 dapat dilihat dalam Tabel II.53. Tabel II. 53 Jumlah Posyandu dan Balita Kota Surabaya Tahun 2011-2015 No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah posyandu 2.794 2.808 2.817 2.820 2.826 2 Jumlah balita 203.773 204.951 224.543 218.774 217.873 3 Rasio posyandu per 1.000 penduduk 13,71 13,70 12,55 12,89 12,97 Sumber : Dinas Kesehatan Kota Surabaya, 2015 Dari data pada Tabel II.53 diatas, menunjukkan bahwa rasio posyandu per 100 penduduk angkanya relatif stagnan berkisar angka 12-13. Keberadaan posyandu sangatlah penting karena merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk, bersama masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Jumlah puskesmas, puskesmas pembantu, dan klinik mengalami fluktuasi dari tahun 2011 sampai 2015 sebagaimana dapat dilihat pada Tabel II.54. Tabel II. 54 Jumlah Puskesmas, Klinik dan Pustu Kota Surabaya Tahun 2011-2015 No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah puskesmas 58 62 62 62 63 2 Jumlah klinik 190 273 275 243 261 3 Jumlah pustu 64 60 60 60 59 Sumber : Dinas Kesehatan Kota Surabaya, 2015 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–57 Sebagai fasilitas kesehatan rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama, rumah sakit berperan dalam memberikan layanan kesehatan yang bersifat kuratif dan rehabilitatif. Data rumah sakit dapat dilihat pada Tabel II. 55. Tabel II. 55 Jumlah Rumah Sakit Kota Surabaya Tahun 2011-2015 No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah Penduduk 3.024.321 3.125.576 3.200.454 2.853.661 2.943.528 2 Rumah Sakit Umum (Pemerintah/ Provinsi) 2 3 3 3 2 3 Rumah Sakit Jiwa/Paru dan Penyakit Khusus Lainnya Milik Pemerintah/ Provinsi 2 3 3 5 3 4 Rumah Sakit AD/AU/AL/ POLRI 7 8 8 7 8 5 Rumah Sakit Daerah 2 2 2 2 2 6 Rumah Sakit Swasta 43 43 42 44 46 Jumlah Rumah Sakit 56 59 58 61 61 Rasio Rumah Sakit per 1.000 penduduk 0,0185 0,0189 0,0181 0,0214 0,0210 Sumber : Dinas Kesehatan Kota Surabaya, 2015 Pada tahun 2011, jumlah penduduk Kota Surabaya sejumlah 3.024.321 dan jumlah dokter sebanyak 4.835 orang. Dengan demikian rasio dokter per 1.000 penduduk adalah 1,60. Jumlah dokter mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dimana besar rasio dokter yaitu pada tahun 2012 menjadi 1,71, pada tahun 2013 menjadi 1,83, pada tahun 2014 menjadi 2,23, dan pada tahun 2015 menjadi 2.36. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel II.56. Tabel II. 56 Jumlah Dokter Kota Surabaya Tahun 2011-2015 No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah penduduk 3.024.321 3.125.576 3.200.454 2.853.661 2.943.528 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–58 No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 2 Jumlah dokter 4.835 5.343 5.855 6.364 6.839 3 Rasio dokter per 1.000 penduduk 1,60 1,71 1,83 2,23 2,32 Sumber : Dinas Kesehatan Kota Surabaya, 2015 Pemberian layanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang disediakan oleh pemerintah berupaya untuk terus ditingkatkan. Hal ini dapat diukur Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) di 2 (dua) rumah sakit umum pemerintah yang dapat dilihat pada Tabel II.57 Tabel II. 57 Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Rumah Sakit Umum Daerah Kota Surabaya Tahun 2011-2015 Instansi 2011 2012 2013 2014 2015 RSUD Bhakti Dharma Husada - 78,61 75,25 74,67 - RSUD dr. Mohamad Soewandhie 78,96 77,97 76,41 72,83 - Sumber : Bagian Organisasi dan Tata Laksana, 2015 Catatan : Tahun 2011, IKM RSUD Bhakti Dharma Husada tidak tersedia dikarenakan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh RSUD Bhakti Dharma Husada belum mencapai 1 tahun. IKM Tahun 2015 di RSUD Bhakti Dharma Husada dan RSUD dr. Mohamad Soewandhie tidak dilakukan. Selain itu, peningkatan mutu pelayanan kesehatan juga diupayakan melalui akreditasi fasilitas kesehatan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat, puskesmas wajib dikareditasi. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pada tahun 2015 terdapat 3 puskesmas yang telah diakreditasi yaitu puskesmas asemrowo, puskesmas tambakrejo, dan puskesmas gayungan. Untuk rumah sakit umum daerah, hanya RSUD dr. Mohamad Soewandhie yang telah dikareditasi pada tahun 2015 dengan hasil akreditasi paripurna, sedangkan untuk RSUD Bhakti Dharma Husada baru akan diakreditasi pada tahun 2016. Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang II.3.1.3.1 Pekerjaan Umum Persentase panjang jalan kondisi baik di Kota Surabaya dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dapat dilihat pada Tabel II. 58. Pada tahun 2011 persentase Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–59 panjang jalan kondisi baik adalah sebesar 97,033 %, dan pada tahun 2015 sebesar 98,637 %. Jalan dianggap dalam kondisi baik jika masih dapat dimanfaatkan secara optimal dan belum membutuhkan perbaikan yang mendasar. Untuk meningkatkan dan mempertahankan infrastruktur jalan dalam kondisi baik sebagai pendukung sarana transportasi dan peningkatan aksesibilitas kawasan perlu dilakukan upaya pembangunan dan pemeliharaan jalan kota serta mengoptimalkan jalan yang mengalami bottle neck di Kota Surabaya yang terintegrasi dengan jaringan jalan regional dan nasional. Tabel II. 58 Panjang Jalan Dalam Kondisi Baik Kota Surabaya Tahun 2011-2015 No. Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Panjang Jalan Dalam Kondisi Baik (Km) 1.460,191 1.386,276 1.647,550 1.648,840 1.660,174 2 Panjang Jalan (Km) 1.504,843 1.427,754 1.677,980 1.679,140 1.683,117 3 Persentase Panjang Jalan Kondisi Baik (%) 97,033% 97,095% 98,187% 98,196% 98,637% Sumber: Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan, 2015 II.3.1.3.2 Penataan Ruang Kota Surabaya merupakan kota yang berkembang secara pesat dan dinamis, sehingga membutuhkan dasar terkait arah dan pedoman pemanfaatan ruang yang tertuang dalam rencana tata ruang wilayah dan rencana rincinya. Kota Surabaya telah memiliki RTRW yang berupa Perda No. 12 tahun 2014 tentang RTRW Kota Surabaya tahun 2014-2034 dan perlu didetailkan dalam rencana rinci. Dengan pesatnya perkembangan kota, maka kualitas perencanaan ruang perlu ditingkatkan yang terintegrasi dengan rencana-rencana sektoral lainnya. Dalam rangka peningkatan kualitas perencanaan ruang, upaya yang telah dilakukan antara lain adalah dengan melakukan integrasi rencana tata ruang dengan rencana sektoral lainnya dan meningkatkan koordinasi penataan ruang melalui optimalisasi peran Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Kota Surabaya. Sedangkan dalam rangka peningkatan kesesuaian pemanfaatan ruang kota, upaya yang telah dilakukan antara lain menggunakan referensi tunggal dalam penyusunan peta rencana tata ruang yang kemudian menjadi dasar bagi perizinan pemanfaatan ruang kota. Peta rencana tata ruang kota tersebut berbasis GIS dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–60 dapat diakses langsung oleh masyarakat dalam aplikasi perizinan Surabaya Single Window (SSW). Rencana tata ruang wilayah kota dan rencana rincinya menjadi dasar untuk penerbitan perizinan pemanfaatan ruang dan administrasi pertanahan.Penerbitan perizinan pemanfaatan ruang berupa Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang merupakan salah satu bentuk upaya Pemerintah Kota Surabaya dalam melakukan pengendalian pemanfaatan ruang kota. Berdasarkan jenisnya, terdapat 3 (tiga) jenis IMB yang diterbitkan Pemerintah Kota Surabaya yaitu IMB rumah tinggal, IMB non rumah tinggal serta IMB Reklame. Jumlah IMB yang diterbitkan oleh pemerintah Kota Surabaya disajikan pada Tabel II.59 Tabel II. 59 IMB yang diterbitkan Kota Surabaya Tahun 2011-2015 No. Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Rumah Tinggal 4.477 149 3.365 4.461 6.411 2 Non Rumah Tinggal 801 3.194 546 1.306 1.239 3 Reklame 407 175 712 1.413 902 5.685 3.518 4.623 7.180 8.552Total Sumber : Dinas PU Cipta Karya dan Tata Ruang, 2015 Meningkatnya upaya pengendalian pemanfataan ruang kota dapat diindikasikan dengan semakin meningkatnya jumlah ijin mendirikan bangunan yang diterbitkan. Penerbitan ijin tersebut telah sesuai dengan perencanaan dan pemanfaatan ruang kota. Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Pertumbuhan penduduk secara pesat terutama di perkotaan umumnya merupakan akibat dari urbanisasi, sehingga menimbulkan ancaman meluasnya lingkungan hunian atau permukiman kumuh di perkotaan.Permasalahan di kawasan perumahan dan permukiman, yaitu masih terdapat kawasan yang kondisi lingkungan, kualitas dan kelayakan bangunan rumah tempat tinggal dan fasilitas sarana prasarananya kurang memadai antara lain kelayakan jalan lingkungan, ketersediaan sanitasi lingkungan (sampah, IPAL Komunal dan MCK ) dan sistem drainase lingkungan yang perlu ditingkatkan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–61 Berdasarkan SK Walikota No. 188.45/143/436.1.2/2015 tentang Kawasan Prioritas Peningkatan Kualitas Perumahan dan Permukiman Kota Surabaya ditetapkan 26 Kelurahan dengan luas 145,89 Ha sebagai kawasan prioritas peningkatan kualitas perumahan dan permukiman (Gambar II.11 terlampir). Upaya yang telah dilakukan Pemerintah Kota Surabaya dalam penanganan permukiman kumuh antara lain melalui peningkatan sarana prasarana dasar permukiman antara lain jalan lingkungan, sanitasi, drainase lingkungan dan perbaikan kualitas kawasan permukiman dilakukan dalam rangka mendukung program nasional 100-0-100. Daftar kawasan prioritas penataan dan peningkatan kualitas perumahan dan permukiman dapat dilihat pada Tabel II.60 Tabel II. 60 Daftar Kawasan Prioritas Penataan dan Peningkatan Kualitas Perumahan dan Permukiman di Kota Surabaya No Kecamatan Kelurahan Keterangan 1 Wonokromo Sawunggaling PRIORITAS I 2 Bulak Kenjeran 3 Bulak Kedung Cowek 4 Bulak Sukolilo Baru 5 Kenjeran Bulak Banteng 6 Rungkut Rungkut Kidul 7 Rungkut Kalirungkut 8 Semampir Wonokusumo 9 Semampir Sidotopo 10 Gubeng Airlangga PRIORITAS II 11 Mulyorejo Kalisari 12 Pakal Benowo 13 Simokerto Tambakrejo 14 Sukomanunggal Putat Gede 15 Tenggilis Mejoyo Kutisari 16 Krembangan Morokrembangan 17 Asemrowo Asemrowo PRIORITAS III 18 Bubutan Bubutan 19 Bubutan Gundih 20 Bulak Kenjeran 21 Gunung Anyar Gunung Anyar Tambak 22 Semampir Sidotopo 23 Tandes Tandes 24 Wonokromo Darmo 25 Krembangan Dupak 26 Tandes Karangpoh Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–62 Gambar II. 11 Peta Kawasan Permukiman Prioritas (Kumuh) dan Layanan Sanitasi Kota Surabaya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–63 Gambar II. 12 Peta Kawasan Permukiman Prioritas (Kumuh), Rumah Tidak Layak Huni, dan Rusunawa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–64 Berdasarkan peta tersebut di atas, terdapat beberapa kawasan permukiman di Kota Surabaya yang masih dalam kondisi kumuh. Salah satu faktor penilaian kawasan kumuh adalah cakupan layanan sanitasi di kawasan tersebut. Untuk itu untuk menurunkan luasan permukiman kumuh di Kota Surabaya dapat dilakukan dengan upaya pengelolaan air limbah domestik sistem terpusat dan sistem setempat untuk meningkatkan cakupan layanan sanitasi. Terkait dengan upaya perbaikan kualitas kawasan permukiman salah satunya dilakukan melalui perbaikan rumah tinggal tidak layak huni yang diutamakan pada kawasan prioritas. Data terkait jumlah rumah tidak layak huni yang diperbaiki dapat dilihat pada Tabel II.61 berikut: Tabel II. 61 Jumlah Rumah Tidak Layak Huni yang Diperbaiki di Kota Surabaya Tahun 2011-2015 No. Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah Rumah Tidak Layak Huni yang Diperbaiki 420 400 400 602 723 Sumber: Dinas Sosial, 2015 Pemerintah Surabaya terus berupaya dalam mengentaskan kemiskinan, salah satunya adalah pelaksanaan kegiatan terpadu rehabilitasi sosial daerah kumuh (RSDK) di Kota Surabaya, baik untuk perbaikan fisik lingkungan, maupun kondisi sosial ekonomi masyarakat di lingkungan perkampungan. Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh (RSDK) dalam kegiatan perbaikan rumah tidak layak huni ini merupakan bantuan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Surabaya kepada masyarakat miskin yang menempati rumah tidak layak huni dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan / atau keluarga miskin utamanya dikawasan permukiman kumuh. Sesuai Perwali Surabaya Nomor 33 Tahun 2011, kegiatan RSDK kota Surabaya ini memiliki tujuan adalah sebagai berikut : Meningkatkan kualitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan/atau keluarga miskin utamanya di kawasan permukiman kumuh; Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–65 Meningkatkan kualitas lingkungan hunian melalui suatu upaya penyadaran dan perlunya penanganan terpadu baik dari aspek fisik, sarana dan prasarana maupun kondisi sosial ekonomi masyarakatnya; Pemberdayaan masyarakat untuk menumbuhkan inisiatif, kreatifitas, dan jiwa kemandirian dalam pelaksanaan kegiatan peningkatan kesejahteraan di lingkungan tempat tinggalnya; Meningkatkan kemampuan usaha dalam rangka pengembangan sumber pendapatan yang dapat menunjang perekonomian keluarga. Dengan sasaran menanggulangi masyarakat miskin di Surabaya. RSDK Kota Surabaya merupakan kegiatan pembangunan berdasar partisipasi masyarakat (community based development). Pelaksanaan kegiatan diarahkan untuk melakukan pemberdayaan kepada warga masyarakat setempat agar dapat meningkatkan kondisi sosial ekonomi dan lingkungannya secara mandiri dan berkelanjutan. Penanganan rumah tidak layak huni di Kota Surabaya dilaksanakan dengan melakukan perbaikan rumah tidak layak huni secara bertahap dan penyediaan rumah susun sederhana sewa bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Secara rinci jumlah pemohon rumah susun dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel II. 62 Jumlah Pemohon Rumah Susun di Kota Surabaya No Tahun Jumlah Pemohon Rusun 1 2011 340 2 2012 280 3 2013 554 4 2014 583 5 2015 1199 6 2016 334 TOTAL 3290 Sumber: Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah, 2015 Dalam rangka memenuhi kebutuhan rumah tinggal yang layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah, hingga tahun 2015 Pemerintah Kota Surabaya telah menyediakan 78 blok Rumah Susun Sederhana Sewa pada 14 lokasi yang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–66 tersebar di beberapa wilayah di Kota Surabaya yang disajikan pada Tabel II. 63 berikut: Tabel II. 63 Jumlah dan Lokasi Persebaran Rusunawa No Nama Rumah Susun Lokasi Kelurahan/Kecamatan Tipe Blok Luas Keterangan Lahan 1 Dupak Bangunrejo Kel. Dupak Kec. Krembangan 18 6 ± 3.000 m² Dibangun th. 1989/1990 (APBN) 2 Sombo Kel. Simolawang Kec. Simokerto 18 10 ± 25.000 m² Dibangun th. 1993/1994 (APBN) 3 Urip Sumoharjo Kel. Embongkaliasin Kec. Genteng 21 3 ± 3.500 m² Dibangun th. 1975 direhab th. 2004/2005 (APBD I) 4 Penjaringan Sari Kel Penjaringan Sari Kec.Rungkut 18 3 ± 9,000 m² Dibangun th. 1995 (APBN) 21 6 ± 9,000 m² Dibangun th. 2004 (APBN) 24 2 ± 6,000 m² Dibangun th. 2009 (APBN) 5 Wonorejo Kel. Wonorejo Kec. Rungkut 21 2 ± 6000 m² Dibangun th. 2004 (APBN) 21 4 ± 6000 m² Dibangun th. 2005/2006 (APBN) 6 Waru Gunung Kel. Warugunung Kec. Karangpilang 21 10 Dibangun th. 1996 kerjasama dg PERUMNAS ± 29,845 m² 7 Randu Kel. Sidotopo Wetan Kec. Kenjeran 21 6 ± 7.640 m² Dibangun t. 2008 (APBN) 8 Tanah Merah Kel. Tanah Kalikedinding Kec. Kenjeran 21 4 ± 20.400 m² Dibangun th. 2008 (APBN)24 4 9 Grudo Kel dr Soetomo Kec Tegalsari 24 2 ± 5.000 m² Dibangun 2011 (APBN) 10 Pesapen 24 1 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–67 No Nama Rumah Susun Lokasi Kelurahan/Kecamatan Tipe Blok Luas Keterangan Lahan Kel. Krembangan Selatan Kec. Krembangan ± 1.989 m² Dibangun 2011- 2012 (APBN) 11 Jambangan Kel. Jambangan Kec. Jambangan 24 1 ± 3.569 m² Dibangun 2011- 2012 (APBN)
12.TPI/PPI Romokalisari (1- 3) Kel. Romokalisari Kec. Benowo 24 10 ± 25.000 m² Dibangun 2013- 2015 (APBN)
13.Siwalankerto I Kel. Siwalankerto Kec. Wonocolo 24 2 ± 8.000 m² Dibangun 2013- 2014 (APBN)
14.Jl. Bandarejo Kel. Sememi Kec. Benowo 24 2 ± 4.000 m² Dibangun 2014 (APBN) Total 78 Sumber : Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah, 2016 Ketenteraman dan Ketertiban Umum serta Perlindungan Masyarakat Berdasarkan Permendagri Nomor 84 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Masyarakat, perlindungan masyarakat adalah suatu keadaan dinamis dimana warga masyarakat disiapkan dan dibekali pengetahuan serta keterampilan untuk melaksanakan kegiatan penanganan bencana guna mengurangi dan memperkecil akibat bencana, serta ikut memelihara keamanan, ketentraman dan ketertiban masyarakat, kegiatan sosial kemasyarakatan. Pemerintah Kota Surabaya mengupayakan ketenteraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat melalui penegakan perda, penyelesaian pelanggaran K3, pencegahan dan penanggulangan kebakaran serta upaya-upaya lainnya terkait pencegahan dan penanganan gangguan ketenteraman dan ketertiban serta peningkatan kesadaran dan kepatuhan warga masyarakat. II.3.1.5.1 Penegakan Perda Sebagai salah satu unsur strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah kepatuhan masyarakat dan disiplin aparatur dalam menegakkan peraturan. Data jumlah Polisi Pamong Praja dapat dilihat pada Tabel II.64 berikut: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–68 Tabel II. 64 Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja Kota Surabaya Tahun 2011 - 2015 No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah Polisi Pamor Praja 525 505 499 497 532 2 Jumlah penduduk 3.024.321 3.125.576 3.200.454 2.853.661 2.943.528 3 Rasio jumlah polisi pamong praja per 10.000 penduduk 1,73 1,61 1,55 1,74 1,80 Sumber : Satuan Polisi Pamong Praja 2015 Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 16 Tahun 2005 tentang Organisasi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya memberikan ketentuan bahwa Satpol PP bertugas untuk memelihara dan menyelenggarakan ketenteraman dan ketertiban umum serta menegakkan Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah. Salah satu upaya untuk melaksanakan tugas tersebut melalui patroli dalam rangka pemantauan dan penertiban pelanggaran perda/K3. Data penyelesaian pelanggaran K3 dapat dilihat pada Tabel II.65 Tabel II. 65 Tingkat Penyelesaian Pelanggaran K3 Kota Surabaya Tahun 2011 - 2015 No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah penyelesaian pelanggaran K3 60,011 72,251 69,098 84,382 72,218 2 Jumlah pelanggaran K3 60,011 72,251 69,098 84,382 72,218 3 % penyelesaian pelanggaran K3 100 100 100 100 100 Sumber : Satuan Polisi Pamong Praja 2015 Selain anggota Satpol PP, upaya pemeliharaan ketenteraman dan ketertiban juga didukung dengan adanya keanggotaan Perlindungan Masyarakat (Linmas). Data rasio jumlah Linmas per 10.000 penduduk dapat dilihat pada Tabel II.66. Tabel II. 66 Rasio Jumlah Linmas per 10.000 Penduduk Kota Surabaya Tahun 2011 – 2015 No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah Linmas 37.330 37.048 33.238 35.556 36.969 2 Jumlah penduduk 3.024.321 3.125.576 3.200.454 2.853.661 2.943.528 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–69 No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 3 Rasio jumlah linmas per 10.000 penduduk 123,43 118,53 103,85 124,60 125,59 Sumber: Bakesbangpol dan Linmas 2015 Setiap 10.000 penduduk dilayani oleh 1-2 orang Satpol PP dan 125 personil Linmas. Untuk mewujudkan kondisi masyarakat yang tentram dan tertib sebagai salah satu prasyarat pelaksanaan pembangunan selain peningkatan petugas Satpol PP dan personil Linmas juga dilakukan pemasangan CCTV di setiap lokasi-lokasi yang berpotensi menimbulkan gangguan ketenteraman dan ketertiban serta peningkatan kesadaran dan kepatuhan warga masyarakat. Masih terdapat kejadian unjuk rasa yang mengarah pada tindakan anarkis pada tahun 2015 adalah 32 kejadian anarkis. Guna mencegah dan meminimalisasi kondisi tersebut, diperlukan kesiagaan petugas Linmas dan Satpol PP di Kota Surabaya. II.3.1.5.2 Penanganan Bencana Kebakaran Salah satu pelayanan publik yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya dalam menangani bencana kebakaran yakni cakupan pelayanan bencana kebakaran di Kota Surabaya. Cakupan tersebut diukur dari peningkatan jumlah mobil pemadam kebakaran terhadap jumlah penduduk. Selain itu Pemerintah Kota Surabaya terus berupaya dalam meningkatkan cakupan pelayanan wilayah manajemen kebakaran melalui pembangunan pos pemadam kebakaran. Peningkatan dari cakupan pelayanan bencana tersebut tercantum dalam Tabel II.67 berikut: Tabel II. 67 Cakupan Pelayanan Bencana Kebakaran Kota Surabaya Tahun 2011 - 2015 No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah Mobil Pemadam Kebakaran 49 55 57 57 60 2 Jumlah Penduduk 3.024.321 3.125.576 3.200.454 2.853.661 2.943.528 3 Cakupan Pelayanan Wilayah Manajemen Kebakaran 82,26 persen 89,64 persen 89,64 persen 92,56 persen 92,56 persen Sumber : Dinas Kebakaran dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surabaya, 2015 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–70 Pesatnya pembangunan yang diikuti oleh arus urbanisasi yang meningkat menimbulkan potensi munculnya kawasan-kawasan padat penduduk dengan sarana dan prasarana/infrastruktur yang belum memadai. Umumnya penataan jaringan utilitas seperti jaringan listrik menjadi salah satu penyebab dominan bencana kebakaran sebagai salah satu bencana perkotaan, di samping kejadian bencana lainnya. Peta dalam Gambar II.13 (terlampir) menunjukkan peta bencana kebakaran berdasarkan sebaran jenis kebakaran, kawasan permukiman kumuh, dan kepadatan penduduk. Informasi yang didapat dari peta tersebut untuk menentukan upaya preventif menurunkan kejadian kebakaran. Indikasi potensi kejadian kebakaran dapat dilihat dari peta adalah sebagai berikut : Terdapat kecamatan dengan kepadatan penduduk tinggi, memiliki kawasan kumuh yang luas dan track record jumlah kejadian kebakaran bangunan yang tinggi mengindikasikan bahwa kecamatan tersebut memiliki potensi kejadian kebakaran yang tinggi. Terdapat kecamatan kepadatan penduduk sedang/rendah, tidak/sedikit memiliki kawasan kumuh, memiliki track record kejadian kebakaran jenis lain-lain yang tinggi. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–71 Gambar II. 13 Peta Permukiman Kumuh, Titik Kebakaran, dan Kota Surabaya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–72 Tabel II. 68 Kejadian Kebakaran per Penyebab No Penyebab 2015 Kejadian Tahun 2016 Januari Februari Maret April 1 Hubungan Listrik 153 5 5 4 12 2 Api Terbuka 417 7 11 7 4 3 Api Mekanis 0 0 0 0 0 4 Dalam Penyelidikan 38 2 1 0 4 5 Tidak Ada Keterangan 0 0 0 0 0 Total 608 14 17 11 20 Sumber: Dinas Kebakaran, 2016 Penanggulangan bencana kebakaran dilakukan Pemerintah Kota dengan merespon laporan kejadian kebakaran hingga siap sampai di tempat tujuan dalam jangka waktu maksimal 15 menit. Waktu tanggap ini dapat terlaksana didukung oleh upaya dan kesigapan kerja tim pemadam kebakaran serta ketersediaan sarana prasarana pemadam kebakaran yang optimal. Namun, rata-rata pemenuhan waktu tanggap Pemerintah Kota Surabaya dalam menangani kejadian kebakaran masih 94persen. Rincian tingkat waktu tanggap dapat dilihat pada Tabel II.69. Tabel II. 69 Tingkat Waktu Tanggap (Response Time Rate) Kota Surabaya Tahun 2011 – 2015 No. Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah kejadian kebakaran dengan waktu tanggap ( Response Time Rate ) ≤ 15 menit 366 433 381 536 604 2 Jumlah Kejadian Kebakaran 366 539 397 596 608 Sumber: Dinas Kebakaran Kota Surabaya, 2015 Cakupan pelayanan wilayah manajemen kebakaran Kota Surabaya Tahun 2011 – 2015 dapat dilihat bahwa jumlah pos pemadam kebakaran dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2015 selalu mengalami peningkatan seiring dengan petumbuhan jumlah penduduk yang semakin bertambah sehingga Pemerintah Kota berupaya dalam menambah jumlah pos pemadam kebakaran untuk memperluas skala pelayanan kebakaran Kota Surabaya. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2016 – 2021 II–73 Tabel II. 70 Cakupan Pelayanan Wilayah Manajemen Kebakaran Kota Surabaya Tahun 2011 - 2015 No. Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah Pos Pemadam Kebakaran 15 17 18 19 20 2 Jumlah Penduduk 3.024.321 3.125.576 3.200.454 2.853.661 2.943.528 Sumber: Dinas Kebakaran dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surabaya, 2015 Gambar II.14 menunjukkan peta bencana kebakaran berdasarkan radius Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) terdiri dari 7,5 km untuk pos kebakaran skala kota, 3,5 km untuk pos kebakaran, dan 2,5 km untuk pos kebakaran pembantu, sebaran jenis kebakaran, sumur kebakaran, titik kemacetan, sungai dan bozem, taman, lapangan, titik kemacetan, kawasan kumuh, dan kepadatan penduduk.Berikut adalah beberapa kondisi yang perlu mendapatkan perhatian lebih agar penanggulangan kebakaran dapat berjalan dengan optimal di masing-masing WMK: