c.Belanja Daerah pada tahun 2013 - 2018 Pembangunan kedepan membutuhkan suatu perencanaan sistimatis terutama terhadap kerangka Pendanaan dan bertujuan untuk menghitung kapasitas riil keuangan daerah yang akan dialokasikan untuk pendanaan program pembangunan jangka menengah daerah selama lima tahun kedepan. Berdasarkan proyeksi penerimaan daerah, belanja, pengeluaran pembiayaan yang wajib/ mengikat dan prioritas utama serta belanja tidak mengikat, maka dapat diproyeksikan kapasitas riil keuangan daerah untuk membiayai program/kegiatan selama lima tahun kedepan (2013-2018) dalam Rencana Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan.Anggaran Belanja Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan public terutama masyarakat miskin yang kurang beruntung (Pro-Poor Planning, Budgeting, dan Monitoring), percepatan pembangunan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, sebagai penggerak utama pertumbuhan (engine of growth), di masing-masing pulau, terutama di wilayah koridor ekonomi, dengan menggali potensi dan keunggulan daerah, menciptakan lapangan kerja yang berkualitas (decent job) serta peningkatan kualitas lingkungan hidup (enviroment). Serta program pendidikan dan kesehatan gratis adalah suatu program dari Pemerintah Provinsi Sulawesi selatan yang termasuk dalam program prioritas yang harus dilaksanakan dan diharapkan dapat memenuhi kewajiban dari peraturan perundang– undangan.Proyeksi SiLPA Riil Tahun 2013-2018 diperkirakan mengalami kenaikan minimal 10% sebaperti terlihat pada tabel berikut : Tabel 3.16 Proyeksi SiLPA Riil Pemerintah Provinsi Sulsel Tahun 2013-2018 URAIAN Realisasi Tahun Proyeksi Tahun Dasar Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 2012 (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) Sisa Lebih Riil Perhitungan Anggaran 42.212.450.093, 27 46.433.695.102, 60 51.077.064.612, 86 56.184.771.074, 14 61.803.248.181, 56 67.983.572.999, 71 74.781.930.299,68 Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2013 Berdasarkan data-data diatas maka perkiraan kapasitas riil kemampuan keuangan daerah untuk mendanai pembangunan dalam jangka waktu lima tahun mendatang yaitu tahun 2013-2018 disajikan sebagai betrikut : 3.3.3. Penghitungan Kerangka Pendanaan Kerangka pendanaan bertujuan untuk menghitung kapasitas riil keuangan daerah yang akan dialokasikan untuk pendanaan program pembangunan jangka menengah daerah selama 5 (lima) tahun ke depan. Berdasarkan proyeksi penerimaan daerah dan belanja serta pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat serta prioritas utama serta belanja tidak mengikat, maka dapat diproyeksikan kapasitas riil keuangan daerah yang akan digunakan untuk membiayai program/kegiatan selama 5 tahun kedepan (2012 2017) dalam Rencana Pembangunan Jangka menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan. 5 Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama 1.920.816.230.608,16 2.083.734.310.778,23 2.415.853.722.183,59 2.635.374.876.055,16 3.109.351.937.024,86 3.190.016.672.065,75 6 Kapasitas riil kemampuan keuangan 3.148.183.063.023,44 3.601.894.381.834,62 3.735.271.898.890,55 3.991.407.172.126,39 4.026.913.135.974,86 4.489.024.258.233,93 Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2014 BAB III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 III-38 Tabel 3.18 Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Provinsi Sulsel Tahun 2013 – 2018 NO. URAIAN Proyeksi Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) I Kapasitas riil kemampuan keuangan 3.148.183.063.023,44 3.601.894.381.834,62 3.735.271.898.890,55 3.991.407.172.126,39 4.026.913.135.974,86 4.489.024.258.233,93 Rencana alokasi pengeluaran prioritas I II.a Belanja Langsung 2.071.809.060.121,00 2.251.837.963.362,59 2.288.625.023.850,75 2.494.235.820.021,32 2.528.245.283.388,52 2.846.633.051.328,05 II.b Pembentukan Dana Cadangan - - - - - - Dikurangi : II.c Belanja Langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama 62.612.735.559,22 60.717.058.933,00 71.393.224.908,20 78.823.659.915,00 83.467.541.955,00 87.586.706.959,00 II.d Pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat serta prioritas utama 1.630.000.000,00 - 136.000.000.000,00 136.000.000.000,00 136.000.000.000,00 92.000.000.000,00 II Total rencana pengeluaran prioritas (IIa+IIb-IIc-IId) 2.007.566.324.561,78 2.191.120.904.429,59 2.081.231.798.942,55 2.279.412.160.106,32 2.308.777.741.433,52 2.667.046.344.369,05 Sisa kapasitas riil kekampuan keuangan daerah setelah menghitung alokasi pengeluaran prioritas I (I+II) 5.155.749.387.585,22 5.793.015.286.264,21 5.816.503.697.833,10 6.270.819.332.232,72 6.335.690.877.408,38 7.156.070.602.602,98 Rencana alokasi pengeluaran prioritas II III.a Belanja Tidak Langsung 3.572.588.057.332,94 3.621.572.333.983,04 3.840.314.290.001,92 4.129.059.074.547,68 4.618.168.172.969,12 4.793.461.148.839,08 Dikurangi : III.b Belanja Tidak Langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama 1.858.203.495.048,94 2.023.017.251.845,23 2.208.460.497.275,39 2.420.551.216.140,16 2.889.884.395.069,86 3.010.429.965.106,75 III Total rencana pengeluaran prioritas II (III.a-III.b) 1.714.384.562.284,00 1.598.555.082.137,80 1.631.853.792.726,53 1.708.507.858.407,52 1.728.283.777.899,27 1.783.031.183.732,33 Surplus anggaran riil atau Berimbang (I-II-III) (573.767.823.822,34) (187.781.604.732,77) 22.186.307.221,48 3.487.153.612,55 (10.148.383.357,94) 38.946.730.132,55 Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2013 BAB III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 III-39 Berdasarkan kebijakan kapasitas riil kemampuan anggaran daerah, selanjutnya perlu ditetapkan kebijakan alokasi tentatif dari kapasitas riil kemampuan anggaran daerah tersebut kedalam berbagai program sesuai urutan prioritas. Prioritas program dilkelompokkan menjadi Kelompok Prioritas I, Kelompok Prioritas II, Kelompok Prioritas III. Kelompok Prioritas I mendapat Prioritas pertama sebelum Kelompok Prioritas II. Kelompok Prioritas III mendapat alokasi anggaran setelah Kelompok Prioritas I dan II terpenuhi kebutuhan dananya. Adapun ketentuan prioritas anggaran sebagai berikut: Tabel 3.19 Ketentuan Umum Kelompok Prioritas Anggaran Provinsi Sulawesi Selatan KELOMPOK PRIORITAS KETENTUAN UMUM 1 2 PRIORITAS I (KP I) Merupakan program pembangunan daerah dengan tema atau program unggulan (dedicated) Kepala Daerah sebagaimana diamanatkan dalam RPJMN dan amanat/kebijakan nasional yang definitif harus dilaksanakan oleh daerah pada tahun rencana, termasuk untuk prioritas bidang pendidikan 20% dan kesehatan 10% sesuai ketentuan teknis yang berlaku. Program KP I terdiri dari kebijakan prioritas yaitu Gratis SPP bagi mahasiswa baru, baik PTN maupun PTS, Bantuan Lima Juta Paket Bibit Pertanian, Peternakan, Perkebunan, Perikanan dan 100 juta Bibit Tanaman Hutan, Gratis Modal Pengembangan Usaha Mikro Kecil, Gratis paket modal pengembangan 100 wirausaha pedesaan pada setiap desa, dukungan untuk fasilitasi dan regulasi pembangunan/pengembangan industri minimal 24 unit sesuai potensi Kab/Kota di Sulawesi Selatan, Membuka 500 ribu lapangan kerja baru, Gratis Paket peningkatan kualitas Rumah Rakyat Miskin, Melanjutkan Pendidikan Gratis sampai tingkat SMA, Melanjutkan kesehatan gratis, Gratis biaya pendidikan bagi mahasiswa terpilih untuk sekolah Kejuruan Khusus seperti, pramugari, SMK pertanian, perkebunan, perikanan dan melanjutkan beasiswa bagi mahasiswa S2 dan S3 secara terbatas, Gratis peningkatan kualitas pengajar melalui Boarding School untuk ; Guru SD, SMP, SMA, Guru Mengaji, Mubalig, Khatib dan Alim Ulama. Program KP I juga memuat kebijakan strategis antara lain Program Pengembangan Pendidikan, Kepemudaan, dan Keolahragaan; Program Kapasitas Infrastruktur Daerah; Program Pengembangan Kawasan Strategis; dan Program Pengelolaan Sumberdaya Air dan Peningkatan Kapasitas Infrastruktur Organisasi. KP I juga diperuntukkan bagi prioritas belanja yang wajib sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan serta program/kegiatan yang mendukung prioritas pembangunan. PRIORITAS II (KP II) Program KP II merupakan program prioritas di tingkat SKPD yang tidak terkait langsung dengan pelayanan masyarakat dan merupakan penjabaran BAB III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 III-40 KELOMPOK PRIORITAS KETENTUAN UMUM dari analisis per urusan. KP II berhubungan dengan program/kegiatan unggulan SKPD yang paling berdampak luas pada masing-masing segmentasi masyarakat yang dilayani sesuai dengan prioritas dan permasalahan yang dihadapi berhubungan dengan layanan dasar serta tugas dan fungsi SKPD termasuk peningkatan kapasitas kelembagaan yang berhubungan dengan itu PRIORITAS III (KP III) KP III merupakan prioritas yang dimaksudkan untuk alokasi belanja-belanja tidak langsung seperti : tambahan penghasilan PNS, belanja hibah, belanja bantuan sosial kemasyarakatan, serta belanja tidak terduga. Pengalokasian dana pada KP III harus memperhatikan (mendahulukan) pemenuhan dana pada prioritas I dan II terlebih dahulu untuk menunjukkan urutan prioritas yang benar. Berdasarkan uraian ketentuan umum dan pertimbangan-pertimbangan pada Tabel 3.19, maka jumlah alokasi anggaran pembangunan masing-masing prioritas seperti dituangkan pada Tabel 3.19 BAB III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 III-41 Tabel 3.20 Jumlah Anggaran Berdasarkan Kelompok Prioritas Provinsi Sulsel Tahun Anggaran 2013-2018 NO. KELOMPOK PRIORITAS TAHUN APBD Perubahan 2013 APBD Perubahan 2014 APBD Perubahan 2015 2016 2017 2018 1 KP I 1.633.267.401.694,00 2.028.565.531.625,00 2.101.639.395.081,67 2.079.840.976.288,56 2.211.200.838.015,74 2.320.333.729.916,53 2 KP II 391.276.913.282,00 479.284.808.185,00 492.635.237.956,11 562.859.609.440,40 554.922.589.912,42 584.968.719.408,04 3 KP III 3.305.527.771.105,00 3.574.931.948.363,00 4.010.339.963.323,04 4.429.915.578.881,00 5.419.628.034.745,13 6.141.002.180.305,60 5.330.072.086.081,00 6.084.919.513.173,00 6.604.614.596.360,82 7.072.616.164.609,96 8.185.751.462.673,29 9.046.304.629.630,17 Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2013 BAB III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 III-42 Tabel 3.21 Jumlah Anggaran Berdasarkan Belanja Lansung dan Tidak Lansung Provinsi Sulsel Tahun Anggaran 2013-2018 NO. BELANJA TAHUN APBD Perubahan 2013 APBD Perubahan 2014 APBD Perubahan 2015 2016 2017 2018 1 BELANJA LANGSUNG 2.024.544.314.976,00 2.509.987.564.810,00 2.594.274.633.037,78 2.642.700.585.728,96 2.766.123.427.928,16 2.906.302.449.324,57 37,98 41,25 39,28 37,37 33,79 32,12 2 BELANJA TDK LANGSUNG 3.305.527.771.105,00 3.574.931.948.363,00 4.010.339.963.323,04 4.429.915.578.881,00 5.419.628.034.745,13 6.141.002.180.305,60 62,02 58,75 60,72 62,63 66,21 67,88 5.330.072.086.081,00 6.084.919.513.173,00 6.604.614.596.360,82 7.072.616.164.609,96 8.185.751.462.673,29 9.046.304.629.630,17 Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2014 TAHUN 2013 TAHUN 2014 APBD Perubahan APBD Perubahan APBD Perubahan PROYEKSI PROYEKSI PROYEKSI - KELOMPOK PRIORITAS I 1,633,267,401,694.00 2,028,565,531,625.00 2,101,639,395,081.67 2,079,840,976,288.56 2,211,200,838,015.74 2,320,333,729,916.53 1 Dinas Pendidikan 40,291,775,000.00 98,848,978,800.00 84,261,464,251.00 136,001,830,005.00 155,107,996,918.00 162,863,396,763.90 - - 2 Dinas Kesehatan + BKOM 9,046,246,000.00 17,081,946,416.00 23,751,991,189.00 24,198,674,836.49 25,408,608,578.31 26,679,039,007.22 - - - - 3 UPTD PUS. PLYN KESH. GIGI & MULUT 4,350,000,000.00 5,988,259,334.00 7,182,688,382.00 7,253,394,732.43 7,616,064,469.06 7,996,867,692.51 4 UPTD AKPER ANGING MAMMIRI 10,550,000,000.00 10,383,977,000.00 8,198,750,000.00 11,700,675,000.00 12,285,708,750.00 12,899,994,187.50 5 UPTD BALAI KES. KULIT, KLMN & KSMTK 3,150,000,000.00 3,765,000,000.00 4,481,479,186.00 4,937,562,500.00 5,184,440,625.00 5,443,662,656.25 6 UPTD BALAI KESH KERJA MASY. 2,009,473,000.00 2,857,129,868.00 2,853,576,394.76 2,826,626,323.45 3,467,957,639.63 3,641,355,521.61 7 UPTD BALAI PELAYANAN KESEHATAN 1,750,000,000.00 2,009,406,749.00 2,999,393,529.00 2,961,128,139.58 3,609,184,546.56 3,789,643,773.89 8 UPTD TRANFUSI DARAH 6,150,000,000.00 7,938,007,651.00 9,669,894,197.00 8,633,208,015.44 9,064,868,416.21 9,868,111,837.02 9 UPTD RS SAYANG RAKYAT 12,715,408,900.00 17,838,824,622.00 18,147,901,562.00 16,549,619,208.85 17,377,100,169.30 18,245,955,177.76 - - 10 RSUD Labuang Baji 51,191,498,449.00 55,446,286,484.00 75,104,266,934.00 72,941,511,165.85 75,088,586,724.15 77,918,016,060.35 - - 11 RSKD 38,982,857,409.00 41,314,363,698.00 69,843,619,649.48 61,496,146,246.71 62,570,953,559.04 64,799,501,236.99 - - 12 RSU. Haji Makasar 30,523,488,600.00 38,596,726,089.00 65,287,981,886.00 57,051,308,506.22 63,353,873,931.53 68,821,567,628.11 - - 13 RSIA Sitti Fatimah 17,668,517,900.00 17,708,256,250.00 25,681,226,310.57 26,089,304,331.87 26,893,769,548.46 27,763,458,025.88 - - 14 Rumah Sakit Bersalin Pertiwi 15,434,191,400.00 22,871,182,300.00 40,949,398,916.00 36,266,935,459.65 40,330,282,232.63 43,496,796,344.27 - - 15 Dinas Bina Marga 624,378,360,293.00 715,032,532,729.00 592,332,481,051.00 422,181,131,120.33 452,290,187,676.35 475,954,697,060.16 - - 16 Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air 122,821,557,500.00 111,059,991,942.00 154,550,999,817.00 173,740,987,900.29 182,228,037,295.30 187,049,439,160.07 - - 10 Dinas Tata Ruang dan Pemukiman 98,361,825,000.00 141,942,419,500.00 158,591,685,000.00 161,763,518,700.00 169,851,694,635.00 173,344,279,366.75 - - NO. KELOMPOK PRIORITAS TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 Tabel 3.22 PROVINSI SULAWESI SELATAN TAHUN 2013-2018 KEBIJAKAN ALOKASI ANGGARAN TAHUN 2013 TAHUN 2014 APBD Perubahan APBD Perubahan APBD Perubahan PROYEKSI PROYEKSI PROYEKSI NO. KELOMPOK PRIORITAS TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 17 BAPPEDA 29,176,000,000.00 34,889,025,000.00 31,995,593,832.00 33,692,223,626.42 37,376,834,807.74 39,245,676,548.13 - - 18 Dinas Perhubungan, Kom & Informatika 24,138,278,000.00 85,547,939,920.00 137,511,300,000.00 125,141,656,380.00 133,093,739,199.00 142,163,426,158.95 - - 19 Badan Lingkungan Hidup Daerah 14,380,000,000.00 14,504,692,895.00 12,290,792,137.00 16,011,450,000.00 16,812,022,500.00 17,652,623,625.00 - - 20 Badan Pemb. Perempuan dan KB 4,981,593,000.00 6,116,000,000.00 6,418,827,140.00 7,345,800,000.00 7,713,090,000.00 8,098,744,500.00 - - 21 Dinas Sosial 17,483,420,000.00 24,088,121,000.00 14,335,000,000.00 15,939,000,000.00 17,457,000,000.00 19,202,700,000.00 - - 22 Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi 10,700,000,000.00 13,749,300,000.00 16,690,349,963.00 14,101,552,500.00 14,806,630,125.00 15,546,961,631.25 - - 23 Dinas Koperasi dan UMKM 13,405,675,000.00 24,395,213,000.00 26,040,327,331.00 45,240,000,000.00 47,502,000,000.00 49,877,100,000.00 - - 24 Badan Koord Penanaman Modal Daerah 15,795,815,600.00 14,510,182,175.00 15,919,841,218.00 19,002,600,000.00 19,952,730,000.00 20,950,366,500.00 - - 25 Dinas Kebudayaan & Kepariwisataan 42,014,100,000.00 27,263,748,300.00 25,590,385,702.00 37,036,250,000.00 41,658,750,000.00 43,741,687,500.00 - - 26 Dinas Pemuda dan Olahraga 16,831,202,861.00 33,113,328,000.00 41,343,275,314.00 55,000,000,000.00 57,750,000,000.00 58,637,500,000.00 - - 27 Badan Pemberdayaan Masy. PD & K 25,575,000,000.00 23,378,864,802.00 23,580,894,991.00 26,180,500,000.00 28,014,525,000.00 29,415,251,250.00 - - 28 Badan Perpustakaan & Arsip Daerah 18,186,000,000.00 15,480,000,000.00 22,327,018,013.00 16,127,825,568.05 16,934,216,846.45 17,780,927,688.78 - - 29 Dinas Pertanian T.Pangan & Horti 119,925,716,000.00 132,544,000,000.00 118,030,818,200.00 145,263,826,360.00 150,877,017,678.00 160,820,868,561.90 - - 30 Dinas Perkebunan 29,811,272,050.00 43,774,618,500.00 45,004,532,342.09 48,981,111,133.00 51,430,166,689.65 54,001,675,024.13 - - 31 Dinas Peternakan & Kesehatan Hewan 28,257,377,000.00 34,240,694,520.00 41,443,763,665.00 46,681,365,514.93 49,015,433,790.68 51,466,205,480.21 - - 32 Sekretariat Badan Koord. Penyuluhan 16,335,000,000.00 20,910,000,000.00 19,603,343,564.00 20,224,050,000.00 21,235,252,500.00 22,297,015,125.00 - - 33 Dinas Kehutanan 17,711,978,000.00 26,038,970,000.00 24,504,015,830.00 29,993,008,030.00 30,992,658,431.50 33,067,291,353.08 - - 34 Dinas Energi & Sumberdaya Mineral 27,474,240,000.00 45,790,634,681.00 30,630,830,489.77 30,712,375,000.00 31,247,993,750.00 33,860,393,437.50 - - 35 Dinas Kelautan dan Perikanan 35,944,485,714.00 59,716,846,500.00 57,364,337,664.00 70,000,000,000.00 73,500,000,000.00 76,175,000,000.00 TAHUN 2013 TAHUN 2014 APBD Perubahan APBD Perubahan APBD Perubahan PROYEKSI PROYEKSI PROYEKSI NO. KELOMPOK PRIORITAS TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 - - 36 Dinas Perindustrian dan Perdagangan 35,765,049,018.00 37,830,062,900.00 47,125,349,431.00 50,572,819,984.00 52,101,460,983.20 55,756,534,032.36 - - KELOMPOK PRIORITAS II 391,276,913,282.00 479,284,808,185.00 492,635,237,956.11 562,859,609,440.40 554,922,589,912.42 584,968,719,408.04 1 Sekretariat Daerah 136,175,788,374.00 163,221,647,200.00 157,673,695,450.00 171,991,463,955.30 179,586,037,153.07 188,700,339,010.72 Biro Pemerintahan Umum 4,000,000,000.00 6,850,000,000.00 9,405,505,244.00 12,500,000,000.00 13,015,000,000.00 14,055,750,000.00 Biro Pemerintahan Daerah 2,430,000,000.00 4,298,400,000.00 4,422,760,687.00 6,494,728,000.00 6,504,464,400.00 6,829,687,620.00 Biro Hukum & Ham 3,900,000,000.00 4,723,500,000.00 5,800,000,000.00 7,449,475,000.00 7,611,948,750.00 7,992,546,187.50 Biro Bina Perekonomian 5,035,301,300.00 6,592,835,000.00 5,847,626,608.00 6,797,175,000.00 7,137,033,750.00 7,493,885,437.50 Biro Bina Pembangunan 4,935,000,000.00 7,350,000,000.00 8,839,448,685.00 7,941,219,000.00 8,338,279,950.00 8,755,193,947.50 Biro Kerjasama 3,495,000,000.00 5,650,000,000.00 3,842,894,895.00 6,930,000,000.00 7,276,500,000.00 7,640,325,000.00 Biro Bina Kesejahteraan 5,417,500,000.00 5,230,000,000.00 4,280,689,284.00 6,006,000,000.00 6,306,300,000.00 6,621,615,000.00 Biro Mental Spiritual 5,832,775,000.00 5,832,775,000.00 6,542,258,211.00 6,543,075,000.00 6,870,228,750.00 7,213,740,187.50 Biro NAPZA & HIV-AIDS 2,780,000,000.00 3,400,000,000.00 5,135,982,498.00 5,053,125,000.00 5,305,781,250.00 5,571,070,312.50 Biro Organisasi & Kepegawaian 3,795,000,000.00 4,583,361,200.00 4,744,167,378.00 8,590,120,369.13 8,649,626,387.58 8,827,107,706.96 Biro Humas & Protokol 9,450,000,000.00 10,257,231,600.00 10,400,678,975.00 11,049,206,622.30 11,601,666,953.42 12,181,750,301.09 Biro Umum dan Perlengkapan 78,255,212,074.00 88,370,000,000.00 78,380,941,780.00 75,697,550,000.00 79,482,427,500.00 83,456,548,875.00 Biro Pengelolaan Asset 6,850,000,000.00 10,083,544,400.00 10,030,741,205.00 10,939,789,963.88 11,486,779,462.07 12,061,118,435.17 - - 2 Sekretariat DPRD 73,738,000,000.00 86,644,032,130.00 82,621,970,600.00 97,469,063,570.24 107,042,516,748.75 117,059,642,586.19 - - 3 Badan Pengelolaan Keuangan Daerah 33,492,250,000.00 35,789,934,073.00 35,010,592,861.00 40,791,715,538.58 42,831,301,315.51 43,972,866,381.29 - - 4 BALITBANGDA 6,175,000,000.00 8,880,000,000.00 9,275,102,853.80 9,261,000,000.00 10,724,050,000.00 11,260,252,500.00 - - 5 Inspektorat Provinsi 12,750,000,000.00 13,640,000,000.00 16,190,000,000.00 18,942,085,000.00 19,889,189,250.00 20,383,648,712.50 - - 6 Kantor Penghubung Pemda 11,273,119,497.00 15,013,867,000.00 20,491,378,567.00 51,576,250,000.00 13,905,062,500.00 14,100,315,625.00 - - 7 Badan Lintas Kabupaten dan Kota 2,775,192,000.00 3,425,353,687.00 3,566,337,665.31 4,052,233,415.91 4,254,845,086.70 4,467,587,341.04 - - 8 Dinas Pendapatan Daerah 52,781,223,297.00 62,998,814,363.00 70,501,689,150.00 65,712,342,039.27 68,997,959,141.23 72,447,857,098.29 - - 9 Badan Pendidikan dan Pelatihan 10,784,113,860.00 20,238,550,000.00 28,932,644,626.00 22,374,875,000.00 23,493,618,750.00 24,668,299,687.50 - - 10 Badan Kepegawaian Daerah 9,765,798,952.00 9,389,747,402.00 9,457,082,122.00 13,558,712,171.10 14,236,647,779.65 14,948,480,168.64 - - TAHUN 2013 TAHUN 2014 APBD Perubahan APBD Perubahan APBD Perubahan PROYEKSI PROYEKSI PROYEKSI NO. KELOMPOK PRIORITAS TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 11 Sekretariat KPID 1,371,000,000.00 1,915,500,000.00 1,972,503,910.00 3,820,625,000.00 3,486,656,250.00 3,660,989,062.50 - - 12 Sekretariat Dewan Pengurus Korpri 1,980,000,000.00 2,976,647,580.00 2,750,000,000.00 6,169,687,500.00 6,478,171,875.00 6,802,080,468.75 - - 13 Badan Penanggulangan Bencana Daerah 10,685,000,000.00 17,900,000,000.00 12,339,012,513.00 14,164,000,000.00 14,872,200,000.00 15,115,810,000.00 - - 14 Badan Ketahanan Pangan Daerah 8,793,301,500.00 12,626,714,750.00 12,639,402,638.00 13,819,837,500.00 14,510,829,375.00 15,236,370,843.75 - - 15 Badan Kesatuan Bangsa dan Politik 15,587,125,802.00 20,620,000,000.00 19,640,825,000.00 19,212,500,000.00 20,018,125,000.00 21,269,031,250.00 - - 16 Satuan Polisi Pamong Praja 3,150,000,000.00 4,004,000,000.00 9,573,000,000.00 9,943,218,750.00 10,595,379,687.50 10,875,148,671.88 BELANJA LANGSUNG 2,024,544,314,976.00 2,509,987,564,810.00 2,594,274,633,037.78 2,642,700,585,728.96 2,766,123,427,928.16 2,905,302,449,324.57 BELANJA TDK LANGSUNG 3,305,527,771,105.00 3,574,931,948,363.00 4,010,339,963,323.04 4,429,915,578,881.00 5,419,628,034,745.13 6,141,002,180,305.60 TOTAL BELANJA 5,330,072,086,081.00 6,084,919,513,173.00 6,604,614,596,360.82 7,072,616,164,609.96 8,185,751,462,673.29 9,046,304,629,630.17 TOTAL PENDAPATAN 4,996,499,327,036.00 5,650,575,561,606.00 6,430,880,289,296.00 6,792,448,650,000.00 8,021,715,000,000.00 8,752,430,000,000.00 DEFISIT (333,572,759,045.00) (434,343,951,567.00) (173,734,307,064.82) (280,167,514,609.96) (164,036,462,673.29) (293,874,629,630.17) PERSENTASE DEFISIT (6.68) (7.69) (2.70) (4.12) (2.04) (3.36) PENERIMAAN PEMBIAYAAN 335,202,759,045.00 485,343,951,567.00 309,734,307,064.82 456,167,514,609.96 345,036,462,673.29 430,874,629,630.17 PENGELUARAN PEMBIAYAAN 1,630,000,000.00 51,000,000,000.00 136,000,000,000.00 176,000,000,000.00 181,000,000,000.00 137,000,000,000.00 PEMBIAYAAN NETTO 333,572,759,045.00 434,343,951,567.00 173,734,307,064.82 280,167,514,609.96 164,036,462,673.29 293,874,629,630.17 SILPA TAHUN BERKENAAN - - (0.00) (0.00) 0.00 0.00 BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-1 Perspektif selama 5 tahun ke depan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2013-2018 didasarkan pada kondisi objektif saat ini dan masa lalu dan diprediksi kedepan. Prediksi dilakukan terhadap indikator-indikator pembangunan yang bersifat makro baik ekonomi, politik, maupun sosial. Perspektif Provinsi Sulawesi Selatan untuk lima tahun kedepan dijabarkan kedalam permasalahan pembangunan dan isu-isu strategis, yang akan diuraikan dalam uraian berikut. 4.1. Permasalahan Pembangunan Daerah Permasalahan pembangunan daerah adalah perbedaan pencapaian antara kinerja pembangunan yang dicapai saat ini dengan yang direncanakan serta antara apa yang ingin dicapai di masa datang dengan kondisi saat ini. Perbedaan dimaksud dilihat dari kesenjangan pencapaain daerah, maupun dengan pencapaian nasional. Permasalahan pembangunan daerah dalam RPJMD ini diidentifikasi dan dianalisis berdasarkan urusan pemerintah sebagai berikut : BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-2 Tabel IV.I Permasalahan Pembangunan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN A ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT I Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi
1.Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian 1.1. Pertumbuhan PDRB Pertumbuhan ekonomi sebesar 8- 8,5, berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional dengan laju pertumbuhan yang lebih tinggi. Pertumbuhan ekonomi masih didominasi faktor konsumsi ketimbang faktor investasi sehingga menyebabkan pertumbuhan yang tidak berkualitas Peningkatan dan pemerataan kemampuan daya beli masyarakat. Terbukanya kesempatan kerja. Berkurangnya jumlah penduduk miskin Peningkatan kegiatan ekonomi. 1.2. Laju inflasi provinsi Menekan laju inflasi di bawah rata-rata nasional Laju inflasi dipengaruhi oleh turunnya nilai uang (naiknya harga barang pada umumnya, khususnya barang impor) Upaya pemerintah untuk meningkatkan tabungan masyarakat Kebijakan Fiskal (menaikkan pajak) Pengendalian harga dan distribusi barang 1.3. PDRB per kapita Pendapatan perkapita signifikant meningkat, namun masih dibawah rata-rata nasional Masih tingginya tingkat pertumbuhan penduduk Belum optimalnya peningkatan nilai produksi masing-masing kelompok usaha Membuka lapangan kerja Meningkatnya nilai tambah 1.4. Indeks Gini 0,4 Kesenjangan pendapatan Peningkatan pendapatan pada lapisan bawah dan percepatan pembangunan pada wilayah dengan kinerja pembangunan (kemiskinan, PDRB/kapita, IPM paling terendah) 1.5. Persentase penduduk diatas garis kemiskinan Hingga September 2012, penduduk miskin mencapai 805,92 ribu orang atau 9,82%, yang berada di bawah rata-rata nasional (11,66%) Kurangnya lapangan kerja baru dan akses ke lapangan pekerjaan Rendahnya tingkat keterampilan Mengembangkan kewirausahaan dengan pengembangan komoditas unggulan daerah; Percepatan penciptaan lapangan wirausaha baru BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-3 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN 1.6. Angka kriminalitas yang tertangani Penurunan angka kriminilalitas guna mendukung Sulsel wilayah yang aman untuk berinvestasi. Penanganan laporan masyarakat yang memakan waktu yang lama. Rasio polisi dengan jumlah penduduk masih rendah Peningkatan peran dan tanggungjawab masyarakat untuk melaporkan tindak kejahatan yang dialaminya dan sebagai saksi; Peningkatan penanganan laporan tindak kriminal II Fokus Kesejahteraan Masyarakat
1.Pendidikan 1.1. Angka melek huruf : Pola lama Pola Baru : Harapan Lama Sekolah HLS tahun 2014 = 68,49 masih berada dibawah Nasional Kegiatan–kegiatan pelestarian seperti program koran ibu, kelompok belajar masyarakat (KBM), kelompok belajar usaha (KBU), frekuensinya masih sangat rendah. Banyaknya lansia yang tidak bisa membaca Memfasilitasi kab./kota untuk mengoptimalkan kelompok belajar masyarakat; memfasilitasi kab/kota untuk mengoptimalkan kelompok belajar usaha; peningkatan koordinasi dan sinergitas antar pemangku kepentingan. 1.2. Angka rata-rata lama sekolah (Tahun 2015 menggunakan metode baru) Angka rata-rata lama sekolah berada dibawah target nasional RLS 2014 = 7,49, nasional sebesar 7,94 Masih rendahnya tingkat partisipasi sekolah pada semua jenjang pendidikan Masih rendahanya akses penduduk usia sekolah mendapatkan pendidikan Meningkatkan kualitas layanan pendidikan gratis pada semua jenjang pendidikan Meningkatkan akses pendidikan pada penduduk usia sekolah 1.3. Angka partisipasi kasar SD/MI Menurun dari tahun 2007- 2011 (110,80-102,09) Kurangnya akses dan layanan Pendidikan di jenjang SD/MI dengan peningkatan partisipasi masyarakat terhadap akses sekolah dijenjang SD, maka jenjang berikutnya diantisipasi dengan berbagai program dan kegiatan terutama pada perluasan akses dan layanan pendidikan 1.4. Angka pendidikan yang ditamatkan Dominan penduduk angkatan kerja adalah pendidikan SD Semakin lama semakin menurun presentasenya Masih rendahnya akses pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi Meningktanya jumlah penduduk untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. 1.5. Angka Partisipasi Murni 1.5.1. Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A APM SD/MI/Paket A diatas rata- rata nasional tahun 2013 Nasional = 95.42% .Sulawesi Selatan 97.90% Kondisi layanan pendidikan dasar antar kabupaten / kota belum berimbang; Difasililitasi Kab./Kota. untuk disamakan angka disparitasnya terutama menyangkut sarana prasarana BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-4 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN 1.5.2. Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B APM sejak tahun 2008 – 2012 masih dibawah rata-rata national th 2008 Nas = 71,98% Prov. 70,14. Pada tahun 2012 Nas 82,69% Prov = 76,74% Banyak usia sekolah SD (12 tahun) sudah dijenjang SMP dan Usia Sekolah SMP (13 Th) sudah dijenjang SMA Sosialisasi dan Penerapan Standa Pelayanan Minimal (SPM) untuk jenjang disatuan pendidiikan 1.5.3. Angka Partisipasi Murni (APM)) SMA/SMK/MA/Paket C APM sejak tahun 2008 – 2012 masih dibawah rata-rata Nasional Tahun 2008 Nas = 49,85% Prov 48,29 dan pada tahun 2012 Nasional 77,87% Prov 62,37% Sama dengan permasalahan di jenjang SMP Sosialisasi dan Penerapan Standa Pelayanan Minimal (SPM) untuk jenjang disatuan pendidiikan
2.Kesehatan 2.1. Angka kematian bayi AKB Mengalami penurunan Masih tingginya angka kematian bayi. Kurangnya pemahaman akan pentingnya kesehatan ibu hamil Masih rendahnya kualitas pelayanan kesehatan Meningkatkan kualitas pelayanan terutama ibu dan anak. Memberikan pelatihan dan pemahaman terkait pola hidup sehat terhadap ibu hamil dan menyusui. 2.2. Angka usia harapan hidup (Tahun 2015 menggunakan metode baru) Usia Harapan Hidup mengalami peningkatan. Angka harapan hidup masih dibawah rata- rata nasional Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat 2.3. Persentase balita gizi buruk Terjadi peningkatan persentase gixi buruk, dari tahun 2008-2012. Persentase Balita Gizi Buruk yang meningkat tiap tahunnya. Sistim survailans yang kurang berjalan baik untuk mendeteksi mereka yang rentang gizi buruk peningkatan akses masyarakat dalam pelayanan kesehatan dan gizi yang bermutu; Meningkatkan pengetahun keluarga dalam pengasuhan anak Pembuatan regulasi dalam rangka penguatan koordinasi/kerjasama dengan Lintas Sektor terkait untuk penanganan kasus gizi buruk
3.Pertanahan 3.1. Persentase penduduk memiliki lahan bersertifikat 2,88% (pada tahun 2012) Kurangnya kesadaran penduduk akan pentingnya legalitas kepemilikan lahan Adanya PRONA sertifikasi lahan
4.Ketenagakerjaan BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-5 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN 4.1. Rasio penduduk yang bekerja Meningkatkan kualitas dan keterampilan tenaga kerja Masih rendahnya kompetensi tenaga kerja berakibat rendahnya daya saing tenaga kerja di pasar kerja atau lowongan kerja tidak terpenuhi karena tidak kesesuaian kompetensi yang dibutuhkan. Optimalisasi Balai Latihan Kerja ( BLK ) dan Lembaga Latihan Kerja ( LLK ) baik yang dikelola secara langsung oleh Pemerintah maupun Swasta dengan melakukan berbagai jenis pelatihan guna meningkatkan kompetensi tenaga kerja dengan menitikberatkan pada pelatihan berbasis kompetensi Penataan kembali “ link and match “ kurikulum diklat kebutuhan jabatan pasar kerja sehingga ketidaksesuaian tersebut dapat diminimalisir Pengembangan sistem kerjasama kemitraan antara dunia usaha dengan lembaga pelatihan agar dapat lebih banyak menyerap tenaga kerja yang terlatih dan sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan Optimalisasi sistem informasi pasar kerja dan penempatan tenaga kerja lokal, dalam dan luar negeri III Fokus Seni Budaya dan Olahraga
1.Kebudayaan 1.1. Jumlah grup kesenian 291 grup kesenian tahun 2013 Masih lemahnya manajemen grup kesenian Masih terbatasnya kegiatan pertunjukan kesenian Bimbingan teknis pengelolaan manajerial grup kesenian Pelaksanaan inventarisasi grup kesenian di kabupaten/kota Perlu dilakukan pembinaan sanggar seni se Sulawesi Selatan. 1.2. Jumlah gedung 4 gedung kesenian tahun 2013 Tersedianya gedung kesenian yang representatif Dukungan manajemen pengelolaan gedung kesenian yang representatif.
2.Pemuda dan Olahraga BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-6 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN 2.1. Jumlah klub olahraga Peningkatan jumlah dan kualitas klub olahraga Belum meratanya penyediaan klub olahraga yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai; Peningkatan jumlah dan kualitas klub olahraga; Peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat akan pola hidup sehat melalui olahraga; Peningkatan upaya fasilitasi penyediaan sarana dan prasarana klub olahraga 2.2. Jumlah gedung olahraga Jumlah gedung olahraga diharapkan terus bertambah dan dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai Terbatasnya sarana dan prasarana keolahragaan Belum maksimalnya sinkronisasi program dan kegiatan antar Pemprov dan kab/kota dalam rangka pembinaan pengembangan potensi kepemudaan. Meningkatkan koordinasi baik antara pusat maupun daerah Peningkatan upaya fasilitasi penyediaan sarana dan prasarana gedung olahraga B ASPEK PELAYANAN UMUM I Fokus Layanan Urusan Wajib Pelayanan Dasar
1.Pendidikan 1.1. Pendidikan dasar: 1.1.1. Angka partisipasi sekolah Angka partisipasi sekolah (APS) pada jenjang pendidikan SD/MI mengalami peningkatan setiap tahun selama periode 2007-2011. APS SD/MI (7-12 tahun) meningkat dari 95,40 persen pada tahun 2007 menjadi 97,16 persen pada tahun 2011 atau mengalami peningkatan sebesar 2,23 persen partiisipasi sekolahdiatas rata-rata nasional Angka partisipasi sekolah masih dibawah rata-rata karena masih kurnag pemahaman masyarakat akan pentingnya pendidikan terutama di wolayah pedesaan Meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan pada semua jenjang 1.1.2. Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Pada tahun 2007 rasio ketersediaan sekolah per penduduk usia sekolah untuk pendidikan dasar adalah sebesar Belum meratanya sebaran jumlah sekolah pada daerah-daerah tertentu Perlunya pemerataan pembangunan sekolah khususnya didaerah-daerah terpencil, tertinggal, terbelakang BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-7 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN 142,5 kemudian pada tahun 2011 terjadi penurunan menjadi 133,8. 1.1.3. Rasio guru/murid Rasio dari tahun 2008 ke 2012 mengalami penurunan dan lebih rendah dari rasio ideal 1 : 25 Bgitu pula untuk SMP/MTs terlihat rasio menurun bahkan lebih rendah dibanding rasio SD Formasi kebutuhan khususnya untuk daerah terpencil dan kepulauan kurang diminati calon pendidik. Program pemerataan guru belum dioptimalkan sesuai dengan kualifikasi dan kompetensi pendidik. Diperlukan koordinasi antara pusat, provinsi dan kabupaten dalam sistem rekrutmen penerimaan pegawai khususnya untuk guru/pendidik. Perlu dibangun sistem pemerataan dengan berbasis teknologi informasi yang disesuaikan kualifikasi dan kompetensi pendidik. Peningkatan kesejahteraan guru melalui tunjangan khusus, disesuaikan dengan kondisi daerah 1.1.4. Rasio guru/murid per kelas rata-rata Rasio guru/murid/kelas rata-rata untuk SD bervariasi dari tahun 2008 sampai dengan taun 2012, begitu pula rasio murid/kelas tidak melampaui standar ideal 1 : 32 Namun demikian rasio murid/kelas SMP melampaui standar ideal dan tertinggi ditahun 2012 untuk SMP mencapai 1 : 60 Formasi kebutuhan khususnya untuk daerah terpencil dan kepulauan kurang diminati calon pendidik. Program pemerataan guru belum dioptimalkan sesuai dengan kualifikasi dan kompetensi pendidik. Kurang ruang kelas untuk memperbanyak rombongan belajar Diperlukan koordinasi antara pusat, provinsi dan kabupaten dalam sistem rekrutmen penerimaan pegawai khususnya untuk guru/pendidik. Perlu dibangun sistem pemerataan dengan berbasis teknologi informasi yang disesuaikan kualifikasi dan kompetensi pendidik. Difasiliatasi satuan pendidikan khususnya di SMA untuk menambah ruang kelas baru atau teori. 1.2. Pendidikan menengah: 1.2.1. Angka partisipasi sekolah Capaian APS Masih dibawah rata2 Nasional tahun 2012 = 60.78% Sulawesi Selatan 59,55% Ditargetkan capaian indikatornya minimal sama dengan capaian nasional. Pertumbuhan jumlah penduduk usia 16-18 tahun, belum sepenuhnya diimbangi dengan pertumbuhan sekolah dijenjang menengah Memfasilitasi Kab./kota untuk menganalisis data pendidik agar ditetapkan jenis type sekolah yang perlu ditempuh dalam suatu wilayah Koordinasi yang intensif ke pusat untuk peningkatan beasiaswa misikin dan unit cost BOS SMA 1.2.2. Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah dijenjang pendidikan menengah dari tahun 2008 sampai dengan 2012 cenderung menurun . Tahun Beberapa lokasi/pemukiman penduduk, geografisnya sulit dijangkau dengan kendaraan roda 4 , sehingga masih ada usia sekolah pendidikan menengah tidak melanjutkan sekoahnya, Difasilitasi bangun RKB yang dilengkapi dengan asrama siswa Perlu dibuka kelas jauh didaerah terpencil BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-8 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN 2007 = 506, tahun 2012 424 1.2.3. Rasio guru terhadap murid capaian rasio guru terhadap siswa untuk jenjang pendidikan menengah belum memenuhi rasio ideal 1 : 25 Sulawesi Selatan pada tahun 2013 hanya mencapai 1 : 13 Ditribusi penempatan dan pemerataan guru belum optimal Diintensifkan koordinasi dan konsultasi pusat, provinsi dan daerah 1.2.4. Rasio guru terhadap murid per kelas rata- rata Rasio guru terhadap murid perkelas rata-rata selama periode 2008-2013 menunjukkah rasio yang memadai walaupun masih bervariasi. Namun demikian rasio murid/kelas dari tahun 2008 sd 2012 semuanya melampuai standar ideal 1 : 32 sesuai standar pelayanan minimal pendidikan Kurangnya ruang kelas unruk memperbanyak rombongan belajar Difasilitasi untuk penambahan ruang kelas baru atau ruang teori 1.2.5. Penduduk yang berusia >15 Tahun melek huruf (tidak buta aksara) 88.39% pada tahun 2012 Masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan Program Pendidikan Gratis 1.3. Fasilitas Pendidikan: 1.3.1. Sekolah pendidikan SD/MI kondisi bangunan baik Kondisi sarana pendidikan utamanya ruang kelas SD mencapai 97% kondisi baik. Tahun 2012 kondiri ruang kelas yang rusak mencapai 39.69%atau yang baik mencapai 60,31% Kurangnya koordiansi antara dearah, provinsi dan pusat Perlu penempatan/aturan lebih awal diterima di Kab./Kota. diintensifkan penggunaan DAK lebih banyakke perbaikan sarana kelas Peninjauan prioritas/strong point usulan daerah/provinsi ke musrembang lebih fokus ke perbaikan sarana kelas 1.3.2. Sekolah pendidikan SMP/MTs dan SMA/SMK/MA kondisi bangunan baik Kondisi sarana pendidikan untuk SMP dan SMA sederajat terjadi peningkatan perbaikan sarana. Dari tahun 2008 kondisi baik untuk SMP 67.63% naik menjadi77.30% ditahun 2012. Minimnya anggaran tidak sebanding dengan jumlaha sekolah yang ada Dukungan dana lain yang tidak hanya bersumber dari APBD Koordinasi antara Pemerintah Provinsi dengan Kab/Kota pedrlu ditingkatkan. BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-9 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN Begitu pula unuk SMA dari 60% tahun 2008 naik/ ada perbaikan sehingga menjadi 75% 1.4. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD): 1.4.1. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) APK PAUD Sulawesi Selatan mengaami peningkatan. Tahun 2008 (47,69) sampai 2012 (50,40). Namun demikian masih dibawah rata-rata nasional tahun 2008 (50,84) dan tahun 2012 (55,24) Partisipasi masyarakat kurang minat menyekolahkan anaknya di usia dini Biaya penyelenggaraan pendidikan di lembaga PAUD - Sosialisasi tentang pendidikan bagi anak usia dini diberbagai media dan dakwah - Mendorong kab/kota dan masyarakat membuka dan membentuk lembaga PAUD - Fasilitasi bantuan subsidi kepada lembaga PAUD 1.5. Angka Putus Sekolah: 1.5.1. Angka Putus Sekolah (APS) SD/MI Rasio menunjukkan adanya penurunan daru tahun 2008 untuk SD = 2.35 menjadi 1.20 pada tahun 2012. Namun demikian baik untuk SD, SMP dan SM angka putus sekoah diupayakan dibawah 1 % Tidak optimalnya pendataan dan anailisisnya terhadap penyebab putus sekoah Bantuan subsidi belum memenuhi target Pemantapan pendataan pendidikan teruatama penyebab putus sekolah Program retrival perlu dikembangkan, diupayakan kembali. 1.5.2. Angka Putus Sekolah (APS) SMP/MTs Menurunnya angka putus sekolah pada tingkat sekolah menengah pertama (SMP) Masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan Meningkatnya dukungan terhadap dukungan pelayanan pendidikan 1.5.3. Angka Putus Sekolah (APS) SMA/SMK/MA Menurunnya angka putus sekolah pada tingkat sekolah menengah atas (SMA) Masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan Meningkatnya dukungan terhadap dukungan pelayanan pendidikan 1.6. AngkaKelulusan: 1.6.1. Angka Kelulusan (AL) SD/MI Meningkatnya angka kelulusan pada jenjang sekolah dasar (SD) Mencapai 100% Peningkatan mutu dan kualitas tenaga pendidik; Koordinasi antar tingkatan pemerintah untuk fasilitasi penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran yang berkualitas 1.6.2. Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs Meningkatnya angka kelulusan pada jenjang sekolah menengah Peningkatan mutu dan kualitas tenaga pendidik; Koordinasi antar tingkatan pemerintah untuk BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-10 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN pertama (SMP) Mencapai 100% fasilitasi penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran yang berkualitas 1.6.3. Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA Meningkatnya angka kelulusan pada jenjang sekolah menengah atas (SMA) Mencapai 100% Peningkatan mutu dan kualitas tenaga pendidik; Koordinasi antar tingkatan pemerintah untuk fasilitasi penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran yang berkualitas 1.6.4. Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs Angka melanjutkan untuk SD/MI ke SMP/MTs meningkat dari tahun 2008 mencapai 91,31% menjadi 97,48% pada tahun 2012. Namun harus diupayakan mencapai standar ideal 98% Terbatasnya kemampuan ekonomi orang tua siswa untuk membiayai anaknya ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Difalitasi bantuan subsidi untuk pembiayaan ke jenjang pendidikan berikutnya (SMP ke SMA dan SMA ke perguruan tinggi) 1.6.5. Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Meningkatnya angka melanjutkan dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Terbatasnya kemampuan ekonomi orang tua siswa untuk membiayai anaknya ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Difalitasi bantuan subsidi untuk pembiayaan ke jenjang pendidikan berikutnya (SMP ke SMA dan SMA ke perguruan tinggi) 1.6.6. Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV Persentase guru berkualifikasi dari SD ke SM mengalami peningkatan baik dijenjang SD maupun SM. Dari tahun 2008 jumlah guru yang disertifikasi 33.380 pada tahun 2008, naik menjadi 76.622 pada tahun 2012 atau naik 129.54% Masih rendahnya guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV Adanya program gratis peningkatan kualitas tenaga pengajar melalui boarding school
2.Kesehatan 2.1. Rasio posyandu per satuan balita Meningkatnya rasio posyandu per satuan balita Menurunnya jumlah balita yang dilayani di posyandu Meningkatnya pemerataan posyandu 2.2. Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk Rasio Puskesmas tahun 2012 sebesar 5/100.000 penduduk, berarti 1 PKM melayani 20.000 Penduduk. Belum optimalnya penyediaan jumlah fasilitas kesehatan yang didukung oleh ketersediaan tenaga medis. Peningkatanjumlah pemerataan fasilitas kesehatan; Koordinasi antar tingkatan pemerintahan unuk penyediaan sarana dan prasarana fasilitas kesehatan yang berkualitas BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-11 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN Rasio Pustu tahun 2012 sebesar 15/100.000 penduduk, berarti 1 Pustu melayani 6.667 Penduduk 2.3. Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk Rasio RS tahun 2012 sebesar 1,14/100.000 penduduk. Artinya 1 RS sudah melayani kurang dari 100.000 Penduduk Jika dilihat dari rasio RS terhadap penduduk sudah mencukupi, namun jumlah Tempat Tidur kelas III masih kurang Perlu peningkatan Kelas Rumah Sakit Peningkatan jumlah Tempat Tidur Kelas III 2.4. Rasio dokter per satuan penduduk Capaian Rasio Tenaga 2013 : dr. Spesialis 5/100.000 Penduduk dr. Umum 15/100.000 Pddk dr. Gigi 7/100.000 Pddk Tidak meratanya persebaran dokter didaerah-daerah terpencil, tertinggal, dan terbelakang Perlu dibuat regulasi/aturan agar perekrutan tenaga kesehatan disesuaikan dengan kebutuhan di unit pelayanan kesehatan Perlu ada aturan tersendiri untuk penempatan Dokter Spesialis di RSUD Kabupaten/Kota 2.5. Rasio tenaga medis persatuan penduduk Meningkatkan jumlah tenaga medis terutama di daerah-daerah terpencil Kurangnya minat tenaga medis untuk ditempatkan didaerah terpencil Meningkatkan insentif tenaga medis khususnya didaerah-daerah terpencil yang mengarah pada pemerataan persebaran tenaga medis 2.6. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani Capaian tahun 2012 sebesar 57,33%, masih dibawah target (65%) Kemampuan Bidan untuk mengidentiifikasi komplikasi masih rendah Puskesmas PONED belum mampu melakukan penatalaksanaan pelayanan PONED standar Peningkatan Kapasitas Bidan Penguatan Puskesmas PONED 2.7. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan Capaian tahun 2012 sebesar 93,68%, sudah melebihi target (89%). Tidak semua Bidan Desa menetap di wilayah kerjanya ANC (Antenatal Care) terpadu yang berkualitas belum optimal Tidak semua persalinan oleh nakes dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan Penegakan regulasi tentang Bidan Desa Peningkatan kapasitas SDM Kesehatan Peningkatan fasilitas pelayanan KIA di sarana pelayanan kesehatan 2.8. Cakupan Desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI) Tahun 2012 Target UCI sebessar 90 persen, realisasi hanya 87,1 persen Pergantian petugas membawa dampak ketrampilan petugas terlatih Sarana dan prasarana penunjang pemberian imunisasi yang terstandarisasi Mengkaji dan Menganalisi data hingga merencanakan kegiatan ditingkat puskesmas, identifikasi masalah dan mencari solusi Revitalisasi outreach (daerah sulit dijangkau) melalui BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-12 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN Kantong-kantong daerah tak terjangkau imunisasi mempunyai risiko timbulnya dan menyebarnya penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi Masih rendahnya pemahaman masyarakat akan pentingnya pemberian Imunisasi pelayanan posyandu, pustu yang terjadwal antara petugas dan masyarakat Memperkuat kemitraan dengan lintas sektor terkait, Lembaga pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan untuk menjamin ketersediaan petugas yang terampil dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan manfaat pemberian imunisasi 2.9. Cakupan Balita Gizi Buruk mendapat perawatan Capaian 2012 sebesar 100%, sudah sesuai dengan SPM Bidang Kesehatan Dari jumlah yang dirawat tidak seluruhnya sembuh/pulih. Hal ini disebabkan : Adanya penyakit penyerta Pasien Pulang Paksa Mutasi tenaga terlatih di Kabupaten/Kota cukup tinggi Penanganan Medis secara intensif Penanganan Gizi Buruk di tingkat Rumah Tangga (Pasca Rawat) Perlu regulasi tentang Ketenangaan Penyediaan Buffer Stock Bahan Antisipasi KLB Gizi Buruk 2.10. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA Terjadi peningkatan penemuan penderita TB per 100.000 Penduduk (Tahun 2012 : 153/100.000 Penduduk) Belum semua fasilitas pelayanan kesehatan melakukan Program TB DOTS (Directly Observed Treatment Short/Pengobatan Jangka Pendek) Pemahaman masyarakat tentang TB belum optimal Melakukan intervensi ke Rumah Sakit untuk melakukan Program TB DOTS Mengefektifkan AKMS (Advokasi, Komunikasi, Mobilisasi Sosial) Program TB 2.11. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD Capaian Tahun 2012 sebesar 67,12% telah melebihi target (60%). Angka Bebas jentik masih rendah Masih terjadi KLB DBD di beberapa lokasi Peningkatan peran serta masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 2.12. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin Capaian 2008-2012 telah mencapai 100% dan telah sesuai dengan SPM Bidang Kesehatan Masih sering terjadi pembebanan biaya tambahan pada masyarakat miskin (khususnya biaya obat dan darah) Peningkatan ketersediaan obat di Rumah Sakit/Balai Kesehatan Masyarakat Membuat jejaring antara Rumah Sakit dengan Penyedia Layanan Darah 2.13. Cakupan kunjungan bayi Indikator ini sudah melebihi target yang ditetapkan. Indikator ini ditargetkan sebesar 87% dan pada tahun 2012 telah berhasil dicapai sebesar 99,45% Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan terhadap bayi melalui peningkatan kapasitas petugas dan ketersediaan sarana dan prasarana BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-13 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN 2.14. Cakupan puskesmas Indikator Kunjungan Rawat Jalan sudah melebihi target yang ditetapkan. Indikator ini ditargetkan sebesar 15% dan pada tahun 2012 telah berhasil dicapai sebesar 23,60% dan Kunjungan Rawat Inap ditargetkan 1,5% dan pada tahun 2012 cakupan Rawat Inap 0,25% Akses keterjangkauan pada Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan Peningkatan dan pemerataan Ketersediaan Infrastruktur dan SDM 2.15. Cakupan pembantu puskesmas Peningkatan jumlah dan cakupan pelayanan PUSTU pada wilayah terpencil Belum meratanya akses dan kualitas cakupan pelayanan puskesmas Peningkatan dan pemerataan jumlah PUSTU yang didukung oleh infrastruktur dan SDM yang memadai
3.PekerjaanUmum dan Penataan Ruang 3.1. Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik kinerja transportasi jalan ditunjukkan dengan bertambahnya kapasitas jaringan jalan dari 24.307 Km pada tahun 2008 menjadi 32.486 Km pada Tahun 2012 dengan kondisi Baik mencapai 53,16% (17.332 Km), sedang rusak 4.749 Km (13,09%) dan rusak berat 6.167 Km (21,17%). Rendahnya kinerja jaringan jalan Prioritisasi pembangunan dan preservasi jalan pada kawasan strategis 3.2. Rasio Jaringan Irigasi Meningkatkan rasio jaringan irigasi, dan efektifitas dan efisiensi pengelolaan jaringan irigasi. Rasio jaringan irigasi saat ini 1 Km jaringan irigasi mengariri lahan budidaya seluas 0,90 km2, tingkat efektifitas pengelolaan jaringan irigasi saat ini 81% yang Masih besarnya persentase lahan budidaya yang belum terairi dan rendahnya kemampuan masyarakat untuk mengelola sumber daya air. Peningkatan rasio lahan budidaya yang terairi oleh jaringan irigasi dan peningkatan kemampuan petani untuk mengelola sumber daya air BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-14 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN menunjukkan bahwa masih terdapat 19% luas lahan budidaya yang belum terairi, sedangkan tingkat efisiensi menunjukkan bahwa petani belum mampu untuk mengelola sumberdaya secara sepadan 3.3. Rasio tempat ibadah per satuan penduduk 403 pada tahun 2011 Masih kurangnya tempat ibadah 3.4. Persentase rumah tinggal bersanitasi Persentase rumah tangga bersanitasi adalah 75,28 %. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat lebih dari 24% rumah tangga yang belum mengakses sanitasi. Masih rendahnya cakupan pelayanan sanitasi terhadap rumah tangga serta belum diterapkannya PHBS oleh masyarakat. Peningkatan rumah tangga yang dapat mengakses sanitasi yang layak Peningkatan pemahaman masyarakat akan pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bagi masyarakat melalui pembangunan prasarana dan sarana sanitasi di sekolah dan tempat umum serta peningkatan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan drainase lingkungan. 3.5. Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk Rasio daya tampung TPS terhadap jumlah penduduk adalah 0,23, yang menunjukkan bahwa TPS hanya dapat menampung sampah terhadap 23 orang setiap 1.000 penduduk di Sulawesi Selatan. Pesatnya laju pertambahan dan aktivitas penduduk belum didukung oleh keberadaan sarana persampahan berupa TPS serta institusi pengelola yang memadai. Peningkatan jumlah sarana persampahan pada tiap lingkungan permukiman secara berimbang dengan jumlah penduduk yang ditunjang oleh institusi pengelola yang profesional; Mengurangi timbulan sampah dengan menerapan prinsip 3R. 3.6. Rasio rumah layak huni Rasio rumah layak huni sebesar 0,23 menunjukkan bahwa masih terdapat 0,77 penduduk yang belum menempati rumah layak huni. Masih besarnya jumlah rumah tangga yang menempati rumah tidak layak huni akibat keterbatasan akses MBR terhadap penguasaan lahan dan pembiayaan perumahan. Peningkatan aksesibilitas MBR akan rumah yang layak melalui fasilitasi peningkatan kualitas perumahan dan fasilitasi penyediaan rumah susun; Peningkatan jaminan kualitas perumahan dengan menerapkan standarisasi perijinan dalam membangun rumah khususnya bagi MBR; 3.7. Rasio permukiman layak huni Rasio permukiman layak huni Masih terdapat 13,89% luasan kawasan Peningkatan kualitas lingkungan permukiman BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-15 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN menunjukkan bahwa 86,11 % dari luas kawasan permukiman di Sulawesi Selatan merupakan kawasan permukiman layak huni. permukiman yang belum layak huni. melalui penyediaan sarana dasar, prasarana dan utilitas umum yang memadai dan terpadu dengan pengembangan kawasan perumahan. 3.8. Lingkungan Pemukiman Peningkatan kualitas lingkungan permukiman Belum optimalnya cakupan pelayanan dan jumlah parasarana, sarana dan utilitas lingkungan permukiman Peningkatan kualitas dan cakupan prasarana, sarana dan utilitas lingkungan permukiman. 3.9 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB Rasio RTH per satuan luas wilayah berHPL adalah 17,73 menunjukkan bahwa luasan RTH pada wilayah yang ber HPL/HGB luasannya masih besar Belum terealisasinya keberadaan RTH khususnya kawasan perkotaan sebagaimana arahan UU No 26/2007 tentang Penataan Ruang Mewujudkan sinkronisasi program pembangunan sesuai dengan rencana tata ruang dan meningkatkan upaya pencapaian luasan RTH pada kawasan perkotaan
4.Perumahan Rakyat Dan Kawasan Permukiman 4.1. Rumah tangga pengguna air bersih Akses masyarakat terhadap air bersih telah mencapai 84,75% yang menunjukkan bahwa 1.556.153 sudah terlayani oleh air bersih baik dari PDAM maupun sumber lainnya yang terlindungi. Belum terpetakannya wilayah yang akan dilayani oleh sistem penyediaan air minum serta belum optimalnya pemanfaatan dan pengelolaan air baku air minum Peningkatan cakupan pengguna air bersih khususnya pada masyarakat perdesaan yang belum terjangkau oleh PDAM melalui penyediaan sarana dan prasarana air minum dan penambahan kapasitas dan sistem sambungan rumah air minum serta perlindungan sumber air baku dari pencemaran lingkungan 4.2. Rumahtanggapengguna listrik Jumlah desa berlistrik Rumah tangga pengguna listrik sudah mencapai 70,63% yang sumber utamanya adalah listrik PLN sebesar 66,51%. Rumah tangga yang menggunakan listrik di Sulawesi Selatan didominasi Persentase pemanfaatan energi baru terbarukan masih rendah untuk pembakit listrik baik skala menengah maupun skala kecil masih rendah Pengembangan dan pemanfaatan potensi energi lokal khususnya energi baru terbarukan untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan listrik di perdesaan dan untuk meningkatkan kedaulatan Energi. Pembangunan Instalasi Bio Energi dengan BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-16 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN oleh RT pengguna listrik dengan daya 900 watt sebesar 46,44%. Jumlah desa Sulawesi Selatan sebanyak 3.032 yang belum terjangkau listrik sebesar 316 desa dengan kata lain Rasio Desa Berlistrik sebesar 89,6% di Tahun 2014. pemanfaatan limbah ternak dan pertanian. 4.3. RumahtanggaberSanitasi Persentase rumah tangga bersanitasi adalah 75,28 %. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat lebih dari 24% rumah tangga yang belum mengakses sanitasi. Masih rendahnya cakupan pelayanan sanitasi terhadap rumah tangga serta belum diterapkannya PHBS oleh masyarakat. Peningkatan rumah tangga yang dapat mengakses sanitasi yang layak dan pembangunan prasarana dan sarana sanitasi di sekolah dan tempat umum sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) 4.4. Lingkungan pemukimankumuh Rasio Luas pemukiman yang tertata 13,98 persen Belum optimalnya pelaksanaan identifikasi lokasi dan kebutuhan penangan lingkungan permukiman kumuh; Belum optimalnya pengetahuan dan pemahaman akan pola hidup bersih dan sehat. Optimalnya pelaksanaan identifikasi lokasi dan kebutuhan penangan lingkungan permukiman kumuh; Optimalnya peningkatan pengetahuan dan pemahaman akan pola hidup bersih dan sehat. 4.5. Rumah layak huni Rasio rumah layak huni sebesar 0,23 menunjukkan bahwa masih terdapat 0,77 penduduk yang belum menempati rumah layak huni. Masih besarnya jumlah rumah tangga yang menempati rumah tidak layak huni akibat keterbatasan akses MBR terhadap penguasaan lahan dan pembiayaan perumahan. Peningkatan aksesibilitas MBR akan rumah yang layak melalui fasilitasi peningkatan kualitas perumahan dan fasilitasi penyediaan rumah susun; dan Peningkatan jaminan kualitas perumahan dengan menerapkan standarisasi perijinan dalam membangun rumah khususnya bagi MBR; BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-17 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN
5.Ketentraman, ketertiban umum, dan perlindungan masyarakat 5.1. Kegiatan pembinaan terhadap LSM, Ormas dan OKP 4 kegiatan pada tahun 2012 Kegiatan pembinaan politik daerah 5 kegiatan pada tahun 2012 Rasio jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 penduduk 2 pada tahun 2013 Belum berimbangnya jumlah polisi pamong praja dengan jumlah penduduk Penempatan polisi pamong praja secara berimbang sesuai dengan kebutuhan Rasio jumlah Linmas Per 10.000 penduduk 32,93 pada tahun 2013 Belum berimbangnya jumlah Linmas dengan jumlah Penduduk Penempatan Polisi Pamong Praja secara berimbang sesuai kebutuhan Rasio Pos Siskamling per jumlah Desa/Kelurahan 2,97 pada tahun 2013 Belum optimalnya peran Masyarakat dalam memanfaatkan pos siskamling Perlu adanya fasilitas sarana dan prasarana yang memadai dan berkualitas Pertumbuhan ekonomi 8,37% pada tahun 2012 Belum meratanya pertumbuhan ekonomi antar wilayah Infrastruktur yang baik Keamanan yang kondusif Iklim investasi yang semakin baik Kemiskinan 805.92 ribu jiwa pada tahun 2012 Sebaran penduduk miskin pada wilayah- wilayah terpencil Kordinasi sektoral dan kabupaten/kota dalam penanggulangan kemiskinan, perbaikan akses infrastruktur, dan distribusi pangan Penegakan PERDA 91% pada tahun 2013 Terbatasnya PPNS penegak PERDA Makin tingginya kesadaran masyarakat terhadap peraturan perundang-undangan Cakupan patroli petugas Satpol PP 2.116 pada tahun 2013 Masih kurangnya intensitas cakupan patroli petugas Satpol PP Masih kurangnya sarana prasarana Ketersediaan sarana dan prasarana pendukung cakupan patroli petugas Satpol PP Tingkat penyelesaian pelanggaran K3 (ketertiban, ketentraman, keindahan) di 91% pada tahun 2012 Kurangnya tenaga penyidik Ketersediaan tenaga penyidik BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-18 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN Kabupaten Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) di Kabupaten 27.353 pada tahun 2013 Belum berimbangnya jumlah Linmas dengan jumlah penduduk Penempatan Linmas secara berimbang sesuai dengan kebutuhan
6.Sosial Sarana sosial seperti panti asuhan, panti jompo dan panti rehabilitasi Semakin meningkat dari tahun ke tahun Terbatasnya dana yang dialokasikan setiap tahun sehingga sarana dan prasarana pendukung sangat terbatas. Diperlukan peningkatan anggaran dan sasaran pada masing-masing kegiatan. Mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin. PMKS yg memperoleh bantuan social Peningkatan jumlah PMKS yang memeperoleh bantuan sosial Belum optimalnya dan akuratnya pendataanPMKS. Belum tersedianya kriteria PMKS yang akan mendapatkan bantuan. Optimalisasi peningkatan ketersediaan data PMKS yang akurat; Memperluas jangkauan pelayanan kepada penerima manfaat Penyediaan SOP dan penentuan kriteria PMKS yang akan mendapatkan bantuan. Penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial Berfluktuasi Kurangnya perhatian pemerintah terhadap masalah kesejahteraan sosial. Kompleksitas penyandang masalah semakin bertambah Adanya komitmen pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat. Peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat melalui upaya pemberdayaan sosial, rehabilitasi sosial, perlindungan dan jaminan sosial Non Pelayanan Dasar
6.Perhubungan 6.1. Jumlah arus penumpang angkutan umum kinerja pelayanan transportasi udara pada Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, dimana jumlah pergerakan penumpang sebesar 8.594.339 penumpang. Kinerja pelayanan transportasi laut, khususnya pada pelabuhan Internasional Soekarno-Hatta (Makassar) juga Penyebaran pembangunan dan pengembangan transportasi umum masih terpusat di wilayah perkotaan sehingga terjadi ketimpangan pelayanan transportasi antar wilayah perkotaan dan perdesaan Peningkatan pelayanan dan kapasitas transportasi umum melalui peningkatan keterpaduan transportasi antar moda dan antar wilayah BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-19 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN berkinerja baik yang ditunjukkan dengan jumlah peningkatan penumpang tiap tahunnya sebesar 8% yang pada tahun 2012 berjumlah 1.317.814 orang, dan peningkatan bongkar muat tiap tahun sebesar 11,19% yang pada tahun 2012 telah mencapai 15.73 Ton/TEU 6.2. Jumlah uji kir angkutan umum Tersedia data KIR kendaraan di beberapa kabupaten/kota 6.3. Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Jumlah pelabuhan laut adalah 62, pelabuhan udara berjumlah 13, dan jumlah terminal bis 26. Belum terintegrasinya transportasi antar moda serta belum optimalnya pengelolaan dan pelayanan pelabuhan laut/udara/terminal Peningkatan kualitas pelayanan dan manajemen pengelolaan pelabuhan laut/udara/terminal dan penerapan sistem transportasi multimoda serta peningkatan aksesibilitas pelayanan transportasi khususnya pada kawasan perdesaan
7.LingkunganHidup 7.1. Persentase penanganan sampah Timbulan sampah pada tahun 2012 sudah mencapai 2,6 Juta M3/tahun yang meningkat dari tahun 2008 yang timbulan sampahnya sebesar 2,4 juta M3/tahun Penanganan sampah masih terfokus pada penanganan timbulan sampah dan belum melakukan upaya pengurangan volume sampah dari sumbernya Meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan persampahan melalui upaya pengurangan timbulan sampah mulai dari sumbernya dengan penerapan 3R serta optimalisasi kinerja pengelolaan layanan persampahan 7.2. Persentase Pendudukberaksesairminum Cakupan air bersih di Sulawesi Selatan pada tahun 2012 sudah mencapai 82,52%, dengan persentase rumah tangga yang menggunakan air bersih sudah mencapai 84,75%.. Belum terpetakannya wilayah yang akan dilayani oleh sistem penyediaan air minum serta belum optimalnya pemanfaatan dan pengelolaan air baku air minum Peningkatan cakupan pengguna air bersih khususnya pada masyarakat perdesaan yang belum terjangkau oleh PDAM melalui penyediaan sarana dan prasarana air minum dan penambahan kapasitas dan sistem sambungan rumah air minum serta perlindungan sumber air baku dari pencemaran BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-20 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN lingkungan 7.3. PersentaseLuaspemukiman yang tertata rasio luas permukiman yang tertata pada tahun 2009 sebesar 61,48 meningkat menjadi 86,11 pada akhir tahun 2012. luasannya meningkat, menjadi 114.346 hektar pada tahun 2012 Masih terdapat 13,89% luasan kawasan permukiman yang belum layak huni. Peningkatan kualitas lingkungan permukiman melalui penyediaan sarana dasar, prasarana dan utilitas umum yang memadai dan terpadu dengan pengembangan kawasan perumahan. 7.4. Pencemaran status mutu air Sampai tahun 2012 telah dilakukan pemantauan pada 5 sungai lintas kab/kota dari 27 sungai lintas kab/kota yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan. dan diharapkan pada akhir tahun perencanaan telah dilakukan pemantauan pada 27 sungai dan 2 danau prioritas Belum optimalnya penanganan kerusakan lingkungan akibat rendahnya ketersediaan sistem data dan informasi yang terintegrasi Peningkatan kapasitas SDM dan institusi serta sistem informasi lingkungan hidup yang terintegrasi guna ketetapan perencanaan, monitoring dan evaluasi 7.5. Pencemaran status mutu udara ambient Sampai tahun 2012 telah dilakukan pemantauan kualitas udara ambient pada 10 kab/kota di Provinsi Sulawesi Selatan , dan diharapkan pada akhir tahun perencanaan telah dilakukan pemantauan pada seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Belum optimal dan meratanya pemantauan kualitas udara ambient Belum optimalnya penanganan kerusakan lingkungan akibat rendahnya ketersediaan sistem data dan informasi yang terintegrasi Peningkatan kapasitas SDM dan institusi serta sistem informasi lingkungan hidup yang terintegrasi guna ketetapan perencanaan, monitoring dan evaluasi 7.6. Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan amdal. Pelaksanaan AMDAL pada tahun 2012 sudah mencapai 98,21% dari 335 perusahaan yang wajib melaksanakan AMDAL terhadap kegiatannya Kualitas dan mutu dokumen AMDAL masih memerlukan peningkatan guna mengoptimalkan upaya mitigasi terhadap pelaksanaan kegiatan guna keberlanjutan lingkungan Peningkatan kapasitas SDM dan institusi pengawasan pelaksanaan AMDAL 7.7. Tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk Rasio daya tampung TPS terhadap jumlah penduduk yang sampai Pesatnya laju pertambahan dan aktivitas penduduk belum didukung oleh keberadaan Peningkatan jumlah sarana persampahan pada tiap lingkungan permukiman secara berimbang dengan BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-21 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN pada tahun 2012 belum mencapai 0,01. sarana persampahan berupa TPS serta institusi pengelola yang memadai. jumlah penduduk yang ditunjang oleh institusi pengelola yang profesional;, dan meningkatkan peran masyarakat dalam mengurangi timbulan sampah dengan menerapkan prinsip 3R. 7.8. Penegakan hukum lingkungan Ppersentase jumlah pengaduan yang ditindaklanjuti dari 22 kasus di tahun 2012 semuanya sudah mendapat penanganan Belum optimalnya peran masyarakat dalam memberikan informasi terkait perusakan lingkungan Peningkatan kapasitas SDM dan institusi serta sistem informasi lingkungan hidup yang terintegrasi dalam penegakan hukum lingkungan serta sosialisasi dan SOP pengaduan perusakan lingkungan kepada pemangku kepentingan
8.Pertanahan 8.1. Persentase luas lahan bersertifikat Sampai dengan tahun 2012, jumlah tanah yang telah disertifikasi seluas 223.387.225 M2 dengan jumlah bidang sebanyak 39.514 bidang Belum terintegrasinya penggunaan tanah dengan RTRWK yang berpotensi meningkatkan ketidakpastian dalam penggunaan dan pemanfaatan tanah Peningkatan ketersediaan informasi mengenai kesesuaian pola tata guna tanah dengan rencana tata ruang 8.2. Penyelesaian kasus tanah Negara 88,46% dari78 total kasus pada tahun 2012 Kurangnya administrasi pendukung
9.Kependudukan dan Catatan Sipil 9.1. Rasio penduduk berKTP per satuan penduduk 63% dari total yang menikah pada tahun 2012 Kurangnya kesadaran masyarakat tentang administrasi kependudukan Peningkatan pelayanan dan pemahaman kepada masyarakat tentang administrasi kependudukan 9.2. Rasio bayi berakte kelahiran 66% dari total kelahiran pada tahun 2012 Kurangnya kesadaran masyarakat tentang administrasi kependudukan Peningkatan pelayanan dan pemahaman kepada masyarakat tentang administrasi kependudukan 9.3. Rasio pasangan berakte nikah 17% dari total yang menikah pada tahun 2012 Kurangnya kesadaran masyarakat tentang administrasi kependudukan Peningkatan pelayanan dan pemahaman kepada masyarakat tentang administrasi kependudukan 9.4. Kepemilikan KTP 49.71% dari total penduduk wajib KTP Kurangnya kesadaran masyarakat tentang administrasi kependudukan Peningkatan pelayanan dan pemahaman kepada masyarakat tentang administrasi kependudukan 9.5. Kepemilikan akta kelahiran per 1000 penduduk 31.52% dari total jumlah penduduk Kurangnya kesadaran masyarakat tentang administrasi kependudukan Peningkatan pelayanan dan pemahaman kepada masyarakat tentang administrasi kependudukan 9.6. Ketersediaan database kependudukan skala provinsi Tersedia database kependudukan skala provinsi yang akurat Pengoperasian dan Pemeliharaan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan ( Peningkatan kapasitas dan pengetahuan aparatur pemerintah dalam penyusunan database BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-22 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN SIAK ) secara terpadu terkendala dengan belum adanya jaringan komunikasi dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil pada server yang ada di Provinsi, sehingga proses penyediaan database di Provinsi dilakukan server manual melalui back up data kependudukan dari Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) masing-masing kabupaten/kota kependudukan yang berkualitas dan akura; Peningkatan koordinasi antar tingkatan pemerintahan dalam pengoperasian dan pemeliharaan sistem informasi dan database kependudukan.
10.Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 10.1. Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah % partisipasi perempuan di lembaga legislative baru mencapai 14, 23% % partisipasi perempuan di lembaga pemerintah provinsi = 45% % partisipasi perempuan di jabatan struktural pemerintah (eksekutif) baru mencapai 34,53% Rendahnya persentase perempuan di lembaga legislatif Tingginya dominasi laki-laki pada jabatan struktural strategis di lembaga pemerintah (eksekutif) Belum ada kebijakan afirmasi untuk mendorong keterwakilan perempuan di jabatan strategis lembaga pemerintah Meningkatkan upaya pendidikan politik bagi perempuan di masyarakat dan lembaga Peningkatan kapasitas dan skill caleg perempuan, aktifis organisasi perempuan, dan tokoh perempuan (toma, toga, toda) Kebijakan afirmasi untuk memberi ruang yang setara antara aparatur perempuan dan laki-laki dalam menduduki jabatan struktural lembaga pemerintah 10.2. Partisipasi perempuan di lembaga swasta 24% dari jumlah total tenaga kerja swasta pada tahun 2012 Rendahnya akses dan partisipasi perempuan di lembaga swasta yg disebabkan adanya persyaratan perusahaan Rendahnya persentase perempuan di jabatan strategis pada lembaga swasta Kebijakan dan tindakan teknis yang bersifat afirmasi untuk meningkatkan akses dan partisipasi perempuan di ranah publik Peningkatan kapasitas/skill manajemen pekerja perempuan di lembaga swasta BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-23 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN 10.3. Rasio KDRT Semakin tahun terjadi peningkatan. Tahun 2012 mencapai 728 kasus Semakin tingginya jumlah korban KDRT di kalangan perempuan dan anak Belum berjalan secara maksimal fungsi layanan penanganan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak di kab/kota dalam lembaga terpadu Peningkatan ketahan keluarga Peningkatan upaya KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi) kepada seluruh masyarakat dan lembaga pemerhati perempuan dan anak, dalam hal pencegahan, deteksi dini, dan penanganan kasus KDRT Optimalisasi penerapan SPM bidang Layanan terpadu Penanganan Korban Kekerasan thd Perempuan dan Anak 10.4. Persentase jumlah tenaga kerja dibawah umur Tahun 2012 mencapai 264.971 pekerja anak Masih banyak anak-anak yang terlibat dlam bentuk-bentuk pekerjaan terburuk anak Tidak ada jaminan kesehatan dan pendidikan bagi tenaga kerja di bawah umur Kemiskinan rumah tangga dan rendahnya pendidikan menjadi pemicu meningkatnya jumlah tenaga kerja di bawah umur Komite Aksi Pemberantasan Pekerjaan terburuk bagi Anak harus lebih maksimal bekerja Peningkatan akses dan jaminan kesehatan dan pendidikan secara khusus bagi tenaga kerja di bawah umur /anak yang “terpaksa” bekerja Peningkatan ketahanan ekonomi keluarga Jaminan memperoleh hak pendidikan bagi anak- anak dari keluarga kurang mampu 10.5. Partisipasi angkatan kerja perempuan Partisipasi angkatan kerja perempuan lebih rendah dibanding laki-laki Rendahnya tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan karena terbatasnya akses perempuan di sektor publik sebagai akibat dari budaya patriarkhi Rendahnya komitmen perusahaan dalam menerapkan hak perlindungan perempuan Terdapat perbedaan upah tenaga kerja laki dan perempuan Peningkatan akses dan partisipasi angkatan kerja perempuan di sektor strategis Memperketat pengawasan penerapan hak perlindungan bagi pekerja perempuan di perusahaan/lembaga swasta Kebijakan afirmasi untuk mendorong kesetaraan upah tenaga kerja laki dan perempuan 10.6. Cakupan penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari Penyelesaian kasus pengaduan pada tahun 2012 mencapai 728 kasus, dan terjadi trend Penyelesaian pengaduan melalui layanan terpadu belum berjalan maksimal Masih banyak kab/kota yang belum Memperbaiki mekanisme layanan terpadu di provinsi dan kab/kota Meningkatkan kapasitas lembaga layanan lintas BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-24 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN tindakan kekerasan peningkatan kasus KDRT setiap tahun menyediakan layanan terpadu perlindungan perempuan dan anak korban kekerasan sektor Komitmen SKPD dan lembaga terkait layanan perlindungan perempuan dan anak korban kekerasan
11.Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera 11.1. Rata-rata jumlah anak per keluarga 1,68 anak dari jumlah keluarga pada tahun 2012 Rendahnya kesadaran tanggungjawab kependudukan di kalangan masyarakat dan stakeholders pemerintah Kurangnya pemahaman masyarakat tentang keluarga berencana Pengelolaan pengendalian penduduk secara holistik lintas sektor Peningkatan pemahaman masyarakat tentang perencanaan kelahiran anak Penyebarluasan KIE Genre (Generasi Berencana) 11.2. Rasio akseptor KB Tahun 2012 mencapai 27,47 persen Terbatasnya tenaga lapangan penyuluh KB, utamanya di daerah terpencil, pegunungan, dan kepulauan Membangun jejaring dengan kader/tenaga lapangan sektor lain dan memaksimalkan fungsi tenaga lapangan tersebut terkait urgensi KB melalui peningkatan kapasitas 11.3. Cakupan peserta KB aktif 73,47 persen di tahun 2012 Masih rendahnya partisipasi KB Pria Akses berKB masyarakat miskin dan terpencil (pegunungan da kepulauan) masih rendah Mendorong kepesertaan KB pria Membangun kemitraan dengan lintas stakeholders dan layanan kesehatan untuk meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan KB kepada masyarakat. 11.4. Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I Tahun 2012 = 38,29 % Tingginya persentase keluarga pra-sejahtera dan sejahtera I Meningkatnya pernikahan dini di kalangan anak remaja Penguatan ketahanan ekonomi keluarga Peningkatan partisipasi berKB Bimbingan serta pengajaran tentang dampak negatif pernikahan dini untuk mendorong pendewasaan usia kawin dan perencanaan keluarga;
12.Ketenagakerjaan 12.1. Angka partisipasi angkatan kerja Peningkatan angka partisipasi kerja Rendahnya keterampilan tenaga kerja Pembekalan dan pelatihan tenaga kerja baik skil maupun kemapuan manajemen 12.2. Angka sengketa pengusaha- Penurunan angka sengketa Tidak adanya kesepakatan tentang upah Penetapan upah minimum regional yang disesuaikan BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-25 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN pekerja per tahun pengusaha-pekerja antara pegusaha dengan tenaga pekerja dengan kemampuan dari perusahaan 12.3. Tingkat partisipasi angkatan kerja Peningkatan partisipasi angkatan kerja Tingkat pendidikan tenaga kerja relatif masih rendah Pembangunan balai latihan yang bertaraf internasional 12.4. Pencari kerja yang ditempatkan Peningkatan jumlah angka pencari kerja yang ditempatkan Ketidaksesuaian antara jenis pendidikan dan kebutuhan pasar kerja yang tersedia Pembangunan sekolah kejuruan yang berbasis kebutuhan pasar kerja 12.5. Tingkat pengangguran terbuka Penurunan tingkat penganguran terbuka Jumlah pertumbuhan angkatan kerja tidak sesuai dengan lapangan kerja yang tersedia. Informasi pasar kerja masih terbatas. Perlu komitmen untuk membuat programperencannan tentang target penempatan tenaga kerja dalam menciptakan lapangan kerja baru. Pengembanagan sistem informasi pasar kerja melalui online sistem 12.6. Keselamatan dan perlindungan Peningkatan upaya keselamatan dan perlindungan tebaga kerja Terbatasnya jamsostek bagi tenaga kerja Meningkatkan jumlah tenaga kerja yang menerima jamsostek. 12.7. Perselisihan buruh dan pengusaha terhadap kebijakan pemerintah daerah Peningkatan jumlah perselisihan buruh dan pengusaha yang tertangani akibat kebijakan pemerintah daerah Tidak adanya kesepahaman antara pihak buruh dan pengusaha Meningkatkan peran lembaga penyelesaian perselisihan
13.Koperasi Usaha Kecil dan Menengah 13.1 Persentase koperasi aktif Total jumlah Koperasi 8.026 unit - Rendahnya peran aparat kecamatan dan desa/kelurahan dalam pembinaan Koperasi - Kurangnya regulasi sektor ekonomi untuk mendorong kegiatan usaha koperasi - Pelibatan aparat kecamatan dan desa/kelurahan dalam pembinaan Koperasi diwilayahnya - Dibutuhkan regulasi sektor ekonomi yang berpihak pada Koperasi 13.2 Persentase Koperasi Besar Meningkatnya jumlah Koperasi besar sebanyak 55 Unit - Terbatasnya pengelola usaha yang memiliki kemampuan (akreditasi) manajeria - Peningkatan manajerial pengelola usaha melalui lembaga yang terakreditasi 13.3 Persentase jumlah usaha kecil menjadi menengah Meningkatnya jumlah usaha kecil menjadi usaha menengah sebanyak 158.718 unit - Kemampuan produksi, akses pasar masih sangat terbatas - Wawasan kewirausahaan masih kurang - Skim kredit khusus untuk UMK yang murah - Peningkatan tehnis manajerial pengelola UMK - Penyediaan skim khusus bagi UMK - Ada regulasi usaha yang berpihak pada UMK BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-26 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN dan mudah tidak tersedia - Tidak adanya regulasi untuk pengembangan UMK 13.4 Persentase jumlah Usaha menengah menjadi usaha besar Meningkatnya jumlah usaha menengah menjadi usaha besar sebanyak 3.503 unit - Kurangnya kemitraan usaha - Tidak tersedia reward bagi pelaku usaha yang berhasil - Mendorong terciptanya kerjasama usaha - Penyediaan rewadr bagi pelaku UMK
14.Penanaman Modal 14.1. Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Jumlah investasi PMA/PMDN sebesar Rp. 29 Triliun,- (2008- 2013) Perbaikan pelayanan perizinan, penyusunan regulasi yang memberikan kemudahan dalam kegiatan penanaman modal. Sarana dan infrastruktur daerah Informasi peluang dan potensi investasi Sulsel yang masih kurang Penerapan Pelayanan Perizinan Satu Pintu (PTSP) yang cepat, tepat dan efisien. Regulasi yang mendukung kemudahan dalam berinvestasi Penyusunan potensi dan peluang investasi yang lengkap. 14.2. Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) Jumlah investasi PMA/PMDN sebesar Rp. 23.956.798.051.423,- Masih perlu dukungan infrastruktur dan regulasi Diperlukan promosi investasi lebih fokus terhadap investasi yang dibutuhkan danpelayanan perizinan yang transparan dan cepat. 14.3. Rasio daya serap tenaga kerja Jumlah tenaga kerja yang terserap sebanyak 115.087 orang - - 14.4. Kenaikan / penurunan Nilai Realisasi PMDN (milyar rupiah) Realisasi investasi tahun 2012 Rp. 2.318.829.900.000,- menurun bila dibandingkan dengan realisasi investasi tahun 2011 Rp. 3.986.302.703.368,- Masih perlu dukungan infrastruktur dan regulasi Diperlukan promosi investasi lebih fokus terhadap investasi yang dibutuhkan danpelayanan perizinan yang transparan dan cepat.
15.Kebudayaan 15.1. Penyelenggaraan festival seni dan budaya Penyelenggaraan festival seni dan budaya 37 kali pertahunnya yang sudah sesuai dengan agenda event budaya daerah Masih banyaknya event daerah yang belum teragendakan pelaksanaan Perlu inventarisasi event daerah yang belum teragendakan untuk dimasukkan ke dalam event daerah BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-27 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN 15.2. Sarana penyelenggaraan seni dan budaya Sarana penyelenggaraan seni dan budaya ada 4 gedung Tersedianya gedung kesenian yang representatif Dukungan manajemen pengelolaan gedung kesenian yang representatif. 15.3. Benda, Situs dan Kawasan Cagar Budaya yang dilestarikan Jumlah 72 situs Masih banyaknya warisan budaya khususnya Benda Cagar Budaya (BCB)/situs/kawasan cagar budaya yang belum terdaftar Perlu adanya inventarisasi warisan budaya khususnya Benda Cagar Budaya (BCB)/situs/kawasan cagar budaya.
16.Kepemudaan dan Olahraga 16.1. Jumlah organisasi pemuda Optimalisasi dukungan organisasi pemuda Belum terpolanya pemberdayaan pemuda Memfasilitasi secara terbatas baik teknis, manajemen, maupun dana dalam rangka mendinamisasi dunia kepemudaan 16.2. Jumlah organisasi olahraga Peningkatan jumlah organisasi olahraga Belum terpolanya pemassalan dan pembibitan olahraga Meningkatkan pola pembibitan dan pembinaan atlit melalui pusat pendidikan dan latihan olagraga pelajar 16.3. Jumlah kegiatan kepemudaan Peningkatan jumlah kegiatan kepemudaan Belum optimalnya koordinasi antara organisasi pemuda dan pemberdayaan organisasi pemuda Perlu adanya dorongan serta dukungan untuk pengembangan generasi muda dalam meningkatkan produktifitas dan prestasi 16.4. Jumlah kegiatan olahraga Peningkatan jumlah kegiatan olahraga Belum optimalnya ketersediaannya sarana dan prasarana kegiatan Perlu adanya fasilitasi sarana dan prasarana yang memadai dan berkualitas 16.5. Gelanggang / balai remaja (selain milik swasta) 43 gelanggang pada tahun 2012 Keterbatasan anggaran Perlibatan pihak swasta 16.6. Lapangan olahraga 2.480 lapangan Ketersediaan lahan Perlibatan pihak swasta
17.KetahananPangan 17.1. Regulasi ketahanan pangan Tersedia regulasi yang mendukung pemberdayaan masyarakat dalam pemenuhan Hak atas Pangan Regulasi Ketahanan Pangan masih kurang Sanksi terhadap pelanggaran Peraturan Keamanan Pangan belum Optimal Koordinasi dengan instansi terkait dalam melaksanakan regulasi Ketahanan Pangan secara Optimal 17.2. Ketersediaan pangan utama Ketersediaan Pangan utama Laju peningkatan produksi pangan Tingkat Produksi utama (beras) BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-28 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN (beras) tersedia sepanjang tahun minimal 2 kali kebutuhan pangan penduduk cenderung melandai sedangkan pertambahan penduduk lebih besar dari 1 %. Belum Optimalnya sistem cadangan pangan daerah untuk mengantisipasi kondisi darurat bencana alam. Pengendalian Pertumbuhan Penduduk
18.Pemberdayaan Masyarakat dan Desa 18.1. Rata-rata jumlah kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) rata-rata jumlah kelompok binaan LPM = 1 klp binaan Masih Rendahnya Kelompok Binaan Pada Setiap Desa ( Hanya 1 Binaan Kelompok Pada Masing-masing LPM) Pembinaan Terhadap Kelompok Binaan Agar meningkatkan Jumlah Kelompok Binaan Pada Masing-Masing LPM pada setiap Desa (menjadikan 2 Kelompok Binaan Pada Masing-Masing LPM) 18.2. Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK rata-rata kelompok binaan PKK = 48 klp binaan Masih ada PKK di Desa Dan Kelurahan yang belum membina Kelompok sesuai dengan jumlah Kelompok Binaan Yang Harus Di Bina. Pengoptimalan Fungsi dan Tanggung Jawab Penggerak PKK Provinsi, Kabupaten/Kota Kecamatan dan Desa/Kelurahan agar Rutin membina Kelompok Binaan PKK pada Masing-masing POKJA. 18.3. Jumlah LSM 49,51% (759 LSM Aktif dari 1.533 Total LSM) Data LSM Aktif belum terinventaris dengan baik pada setiap Kabupaten/Kota Khususnya LSM yang bergerak dibidang Pemberdayaan Masyarakat Pendataan dan Inventarisasi Data LSM yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat di Setiap Kabupaten/Kota. 18.4. LPM Berprestasi 0,96 % (144 LPM Berprestasi dari 15.020 Total LPM) Masih Rendahnya aktivitas penghargaan yang di lakukan oleh Pemerintah Provinsi Dan Kabupaten dalam menilai Kinerja Kelembagaan LSM di bidang Pemberdayaan Masyarakat Pemberian Penilaian Kinerja kepada LPM yang dilakukan setiap SKPD yang berkaitan langsung dengan kegiatan LPM 18.5. PKK aktif 97,47 % (61.310 PKK Aktif dari 62.903 PKK) Desa/Kelurahan yang letaknya terpencil (Daerah Pegunungan dan Kepulauan) sulit dilakukan pembinaan oleh TP-PKK Desa,Kecamatan,Kabupaten Dan Provinsi Memperlancar Akses Transportasi Dan Komunikasi Pada Setiap Desa/Kelurahan yang letaknya terpencil agar rutin dilakukan pembinaan pada PKK Desa. 18.6. Posyandu aktif 98,89 % (8.703 Posyandu Aktif dari 8.801 total Posyandu) Masih ada Sebagian Posyandu Yang Belum memiliki kader yang terlatih serta sarana dan prasarana yang layak khususnya di daerah Desa/Kelurahan terpencil. Meningkatkan Sumber Daya Manusia Kader Posyandu dan Pemberian Dukungan Sarana Dan Prsarana yang Layak kepada Posyandu Didasa/Kelurahan khususnya didaerah terpencil. BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-29 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN 18.7. Swadaya Masyarakat terhadap Program pemberdayaan masyarakat Persentase swadaya masyarakat terhadap program pemberdayaan sebesar 65,50% Masih rendahnya Program-Program Pemerintah yang bertujuan meningkatkan Swadaya Gotong Royong Masyarakat serta Belum terdatanya dengan Baik Kontribusi Swadaya Masyarakat terhadap kegiatan pembangunan khususnya di Bidang Pemberdayaan Masyarakat. Mengiatkan Program-Program Pemerintah yang bertujuan meningkatkan swadaya Gotong Royong Masyarakat serta melakukan Pendataan secara rutin Kegiatan Pembangunan yang dilakukan secara swadaya. 18.8. Pemeliharaan Pasca Program pemberdayaan masyarakat Persentase peran masyrakat dalam pemeliharaan sarana dan prasarana terbangun sebesar 65,92% Kurang Berfungsinya Kelompok Masyarakat pemelihara Pembangunan yang di Desa/Kelurahan dan tidak dianggarkan dalam APBDes pemeliharaan Pasca Program Pemberdayaan Masyarakat. Mengaktifkan dan memfungsikan Kembali Kelopok- Kelompok Pemelihara Pasca Pembangunan Program Pemberdayaan Masyarakat di Desa/Kelurahan Serta mengaggarkan pada APBDes Kegiatan Pemeliharaan Pasca Program Pemberdayaan Masyarakat
19.Kearsipan 19.1. Pengelolaan arsip secara baku Belum optimalnya pengelolaan kearsipan pada SKPD Sarana dan prasaran pengelolaan dan penyimpanan arsip masih kurang. Arsip-arsip yang berada di SKPD masih masuk dalam kategori kacau, belum tertata sesuai kaidah kerasipan. Tidak tersedianya sarana dan prasarana dan belum terlaksananya system kearsipan yang baku di setiap SKPD. Rendahnya kesadaran dan pemahaman akan pentingnya arsip. Belum terwujudnya Unit Kearsipan disetiap SKPD, sesuai amanah UU No. 43 Tahun Tentang Kearsipan. Penyediaan dan peningkatan sarana dan prasarana pengelolaan kearsipan yang berkualitas; Peningkatan pemahaman dan kapasitas aparat terkait pengelolaan arsip; kurangnya komitmen para pimpinan SKPD akan pentingnya arsip Peningkatan pemahaman aparatur akan pentingnya pengelolaan arsip; Penyediaan unit pengelolaan arsip pada tiap SKPD berdasarkan ketentuan peraturan perundang- undangan. 19.2. Peningkatan SDM pengelola kearsipan Ketersediaan dan kapasitas sumberdaya manusia pengelola arsip belum memadai, Belum optimalnya pembinaan kearsipan di Peningkatan pengetahuan dan minat minat aparatur tentang kepentingan penglolaan kearsipan; Peningkatan kesejahteraan aparatur BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-30 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN SKPD yang di sebabkan oleh kurangnya Tenaga Fungsional Kearsipan (Arsiparis). fungsionalkearsipan.
20.Komunikasi dan Informatika 20.1. Jumlah jaringan komunikasi Masih terbatasnya jumlah dan kualitas jaringan komunikasi Masih terdapat beberapa wilayah yang belum terjangkau jaringan komunikasi yang berkualitas Penyediaan sarana dan prasarana jaringan komunikasi pada wilayah yang belum terjangkau pelayanan jaringan komunikasi 20.2. Rasio wartel/warnet terhadap penduduk Masih rendahnya rasio wartel dan warnet terhadap jumlag penduuduk Masih terdapat beberapa wilayah yang belum terjangkau fasilitas wartel/warnet yang berkualitas Penyediaan sarana dan prasarana jaringan komunikasi pada wilayah yang belum terjangkau pelayanan jaringan komunikasi; Peningkatan kualitas dan jangkauan jaringan komunikasi 20.3. Jumlah surat kabar nasional/lokal Masih terbatasnya jumlah dan kualitas surat kabar naional/lokal Keberadaan surat kabar yang memberikan informasi up to date terutama terkait dengan informasi penyelenggaraan pemerintahan daerah masih terbatas. Peningkatan jumlah, kualitas dan kapasitas media cetak lokal yang ada di daerah; Peningkatan peran dan fasilitasi pemerintah dalam peningkatan kualitas dan kapasitas media cetak lokal 20.4. Jumlah penyiaran radio/TV lokal Masih terbatasnya jumlah dan kualitas penyiaran radio/TV lokal Keberadaan stasiun televisi dan siaran radio lokal yang masih terbatas dan kemampuan jangkauan siarannya yang belum mampu menjangkau seluruh wilayah; Kurangnya tenaga komisioner yang memantau kontent penyiaran, terutama penyiaran TV lokal. Peningkatan fasilitasi pemerintah dalam peningatan kualitas dan jangkauan penyiaran radio lokal; Peningkatan peran masyarakat dalam memacu peningkatan jangakauan penyiaran radio/TV lokal.
21.Perpustakaan 21.1. Jumlah perpustakaan Jumlah perpustakaan belum memenuhi dapat kebutuhan masyarakat Sarana dan prasarana pendukungperpustakaan termasuk prasarana kantor belum memadai; Terbatasnya pendanaan untuk pengembangan perpustakaan. Belum adanya gedung perpustakaan yang representatif. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana perpustakaan yang berkualitas; Peningkatan peran dan pemahaman masyarakat dan aparat pemerintah terkait peran perpustakaan dalam peningkatan kualitas pendidikan Peningkatan peran pemangku kepentingan dalam pengelolaan perpustakaan BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-31 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN Belum optimalnya pengelolaan Perpustakaan. Terbatasnya tenaga fungsional perpustakaan (Pustakawan). Peningkatan pemahaman masyarakat akan peran profesi pustakawan 21.2. Jumlah pengunjung perpustakaan per tahun Peningkatan jumlah pengunjunng perpustakaan per tahun masih rendah Masih kurangnya minat baca masyarakat yang disebabkan oleh rendahnya budaya membaca masyarakat. Peningkatan fasilitasi dan sosialisasi pemerintah baik untuk memacu peningkatan minat baca masyarakat Koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah Jumlah koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah masih terbatas Kuantitas dan kualitas bahan pustaka masih kurang. Peningkatan koordinasi dan kerjasama antar pemerintah dan penerbit dalam pengadaan bahan bacaan yang bermutu; Peningkatan peran pemangku kepentingan untuk berpartisipasi dalam pengadaan bahan bacaan yang bermutu
22.Perencanaan Pembangunan 22.6. Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD yg telah ditetapkan dgn PERDA 24 kab/kota telah memiliki RPJPD Dokumen RPJPD tidak tersedia (Kab.Sinjai & Palopo) Belum optimalnya sinergitas kebijakan pembangunan antar tingkatan pemerintah guna optimalisasi pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan Pemda Provinsi dan Pemda Kab/Kota telah mengacu pada aturan dalam menyususn dokumen perencanaan Optimalisasi dan peningkatan koordinasi dan sinergitas kebijakan pembangunan antar tingkatan pemerintahan; 22.7. Tersedianya Dokumen Perencanaan : RPJMD yg telah ditetapkan dgn PERDA/PERKADA Semua Kab/Kota telah memeiliki RPJMD yang ditetapkan dengan Perda Pemda Provinsi dan Pemda Kab/Kota telah mengacu pada aturan dalam menyususn dokumen perencanaan Belum optimalnya sinergitas kebijakan pembangunan antar tingkatan pemerintah guna optimalisasi pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-32 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN 22.8. Tersedianya Dokumen Perencanaan : RKPD yg telah ditetapkan dgn PERKADA Semua SKPD Provinsi dan Kab/kota memiliki RKPD yang ditetapkan oleh Perkada Pemda Provinsi dan Pemda Kab/Kota telah mengacu pada aturan dalam menyususn dokumen perencanaan 22.9. Penjabaran Program RPJMD kedalam RKPD Konsistensi antara Dokumen RKPD dan Dokumen Perencanaan Pembangunan (RTR dan RPJMD) Belum optimalnya konsistensi penjabaran RPJMD dan RTR dalam dokumen RKPD Penyusunan RKPD mengacu dan konsisten pada dokumen perencanaan (RTR dan RPJMD) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan II Fokus Layanan Urusan Pilihan
1.Pertanian 1.1. Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar Produktifitas padi dalam 5 tahun terakhir mengalamipeningkatan 1,58 % tetapi peningkatan luas panen leebih besar sebesar 5,02 % sehingga capaian peningkatan produksi setiap tahun didominasi oleh penambahan luas panen Penyediaan sarana produksi spt benih dan pupuk belum memenuhi prinsip 5T (tepat waktu, tepat jenis, tepat jumlah, tepat tempat dan tepat harga) Belum optimalnya dukungan sarana dan prasarana seperti jaringan irigasi, alat mesin pertanian, sarana pasca panen dan sarana perhubungan. Ketersediaan benih dan produksi lainnya yang memenuhi prinsip 5 T Pengendalian OPT dan pengawalan teknologi Pembangunan dan rehabilitasidan jaringan irigasi Pengembangan sumber air irigasi alternatif seperti embung dll. Fasilitasi penyediaan alsintan danlembaga penyedia alsintan Fasilitasipermodalan dan pembiayaan usaha tani lainnya 1.2. Kontribusi sektor pertanian/perkebunan terhadap PDRB Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB paling tinggi dibanding sektor lainnya Kontribusi sector Perkebunan terhadap PDRB 4,56 % Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB mengalami penurunan dari 29,45 5 tahun 2008 menjadi 24,79 % pada thn 2012 Nilai tambah dan mutu hasil perkebunan masih belum optimal.(Dinas Perkebunan) Ketersediaan agroinput memenuhi prinsip5 T Peningkatan jalan penghubung darikantong produksi ke pasar dan industri Fasilitasi permodalan dan pembiayaanusaha tani lainnya Penyediaan sarana pengolahan yang memadai di sektor Perkebunan Perbaikan dan Peningkatan Mutu hasil Perkebunan. BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-33 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN 1.3. Kontribusi sub sektor pertanian (tanaman bahan makanan) terhadap PDRB Kontribusi sub sektor pertanian (tanaman bahan makanan ) terhadap PDRB paling tinggi disbanding sub sektor lainnya Kontribusi sub sektor pertanian (tanaman bahan makanan ) terhadap PDRB mengalami penurunan dari 13,94 % tahun 2008 menjadi 12,08 % pada thn 2012 Ketersediaan agroinput memenuhi prinsip5 T Peningkatan jalan penghubung darikantong produksi ke pasar dan industri Fasilitasi permodalan dan pembiayaanusaha tani lainnya 1.4. Kontribusi sektor perkebunan (tanaman keras) terhadap PDRB Kontribusi sektor Perkebunan tehdp PDRB 4,56 % Produktifitas tanaman Perkebunan belum optimal, masih di bawah potensi kemampuan lahan Pemeliharaan tanaman secara intensif yang berkelanjutan Penyediaan sarana dan prasarana produksi yang memadai Perbaikan tanaman melalui peremajaan dan rehabilitas serta pemilihan tanaman yang unggul yang tahan terhadap Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan anomali iklim. 1.5. Kontribusi Produksi kelompok petani terhadap PDRB Kontribusi produksi kelompok petani terhadap PDRB belum teridentifikasi Belum tersedianya data dan informasi terkait produksi kelompok petani terhadap PDRB Belum optimalnya kapasitas dan pengetahuan kelompok petani dalam peningkatan pendapatan; Belum optimalnya peran dan fasilitasi pemerintah dalam memacu peningkatan produksi kelompok tani Penyediaan data dan informasi kontribusi kelompok petani terhadap PDRB; Peningkatan kapasitas dan pengetahuan kelompok petani agar dapat berkontribusi optimal dalam PDRB Peningkatan peran dan fasilitasi pemerintah guna memacu peningkatan kontribusi kelompok petani. 1.6. Cakupan bina kelompok petani Cakupan kelompok petani yang menjalankan usaha melalui pembinaan masih sangat rendah Belum optimalnya kapasitas dan pengetahuan kelompok petani dalam menjalankan usaha peningkatan kualitas produksi pertanian; Belum optimalnya peran dan fasilitasi pemerintah dalam memacu peningkatan usaha dan produksi kelompok tani Peningkatan kapasitas dan pengetahuan kelompok petani dalam menjalankan usaha peningkatan kualitas produksi pertanian; Peningkatan peran dan fasilitasi pemerintah guna memacu peningkatan usaha dan produksi kelompok tani. BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-34 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN 1.7. Produksi daging Target produksi daging diharapkan tahun 2013 sebesar 11,3% Produksi daging tinggi mencapai 20,1 %, namun kualitas daging masih rendah Harga daging lokal relatif tinggi Meningkatkan sarana dan prasarana, menerapkan tekhnologi produksi , manajemen produksi, dan penanganan pasca panen
2.Kehutanan 2.1. Rehabilitasi hutan dan lahan kritis Jumlah luas hutan yang direhabilitasi setiap tahun mengalami peningkatan, yakni dari 17,92 ribu ha tahun 2008 meningkat menjadi 115,63 ribu ha tahun 2012 atau dari 2,62 persen menjadi 21,98 persen Besarnya laju deforestrasi dan degradasi hutan Keterlibatan multipihak dalam rehabilitasi hutan dan lahan, serta penguatan upaya peningkatan kapasitas pengelolaan kawasan hutan melalui peningkatan kapasitas polisi hutan dan penyuluhan kehutanan 2.2. Kerusakan Kawasan Hutan Kerusakan hutan masih 12% dibandingkan dengan luas Masih tingginya perambahan hutan untuk kegiatan di luar kehutanan Penyelesaian tata batas kawasan hutan, batas luar, dan batas fungsi kawasan hutan serta penguatan upaya peningkatan kapasitas pengelolaan kawasan hutan melalui peningkatan kapasitas polisi hutan 2.3. Kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB Kontribusi sektor kehutanan masih di bawah 1 %, Secara ekonomi kontribusi sektor kehutanan masih rendah namun kontribusi intangiblenya tidak dihitung Perlu menghitung kontriusi intangible dari sektor kehutanan untuk menjadi pertimbangan ekonomi lingkungan
3.Energi dan Sumber Daya Mineral 3.1. Pertambangan tanpa ijin Pengawasan produksi mineral dan batu bara Penanganan pertambangan tanpa ijin masih dibawah 47% Belum terpadunya kegiatan perencanaan dan pengembangan pertambangan dengan reancana tata ruang Sinkronisasi perencanaan dan pengembangan pertambangan dengan rencana tata ruang serta konsistensi pemanfaatan rencana tata ruang dan penegakan hukum 3.2. Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB Kontribusi masih pada tahun 2012 5,63% masih dibawah capaian tahun 2008 namun cenderung stabil di angka tersebut selama 4 tahun berikutnya Belum terpadunya kegiatan perencanaan dan pengembangan pertambangan dengan reancana tata ruang belum terlaksananya pengawasan operasional pertambangan yang baik. Belum tercapainya ketaatan pemegang izin pertambangan terhadap pelaporan produksi Peningkatan pengawasan pertambangan
4.Pariwisata BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-35 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN 4.1. Kunjungan wisata Kunjungan mengalami peningkatan setiap tahunnya sebesar 25,94 persen, yakni dari 2,75 juta orang tahun 2009 meningkat menjadi 5,5 juta jiwa tahun 2013. Belum optimalnya sarana dan prasarana Daerah Tujuan Wisata (DTW) Masih banyak DTW baru yang belum terjangkau. Peningkatan sarana dan prasarana akses ke DTW Optimalisasi promosi DTW baru dan perbaikan infrastruktur. 4.2. Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB Konstribusi terhadap PDRB rata- rata 1,56 persen selama lima tahun (Harga berlaku Tahun dasar 2000) Masih rendahnya promosi pada segmen pasar internasional. Perlu peningkatan promosi baik Dalam maupun Luar Negeri.
5.Kelautan dan Perikanan 5.1. Produksi perikanan Jumlah produksi ikan pada 2013 sebesar2.884.006,7Ton atau 194,68 persen dari target produksi perikanan sebasr 1.481.387,2 Ton. Jumlah produksi Udang Tahun 2013 sebesar 34.420,7 Ton. Produksi Rumput Laut tahun 2013 2.422.154,2 Ton. Produk Bandeng Tahun 2013 sebesar 119.887,7 Ton. Belum terintegrasinya sistem produksi dari hulu ke hilir Armada kapal penangkap ikan masih didominasi oleh kapal penangkap skala kecil Kualitas SDM Masih maraknya Illegal Fishing Memanfaatkan potensi yang ada dengan menerapkan teknologi serta membangun jejaring bisnis perikanan Pengembangan sektor hulu ke hilir dan revitalisasi sistem produksi dalam rangka penyediaan bahan baku industrialisasi Pembinaan dan Pengawasan dalam pengelolaan Sumberdaya perikanan dan kelautan Rasionalisasi armada penangkap ikan 5.2. Konsumsi ikan Pada tahun 2013 konsumsi ikan berhasil melampaui target sebesar 105,47 persen, dimana konsumsi ikan yang dicapai sebesar 44,30 kg/Kapita sementara target daerah hanya sebesar 42,00 kg/Kapita. Persaingan Konsumsi protein asal hewani Kualitas produk tidak dapat dipertahankan dalam waktu lama (tambahan) Pola distribusi dan konsumsi ikan belum merata. Sebagian besar produk hasil perikanan diperdagangkan antar pulau dan ekspor (tambahan) Pembinaan produk nilai tambah dan diseminasi teknologi pengolahan Peningkatan mutu dan jaminan keamanan pangan Komoditas perikanan dimasukkan dalam UU pangan Strategis 5.3. Cakupan bina kelompok nelayan, pembudidaya dan pengolah Cakupan bina kelompok nelayan yang mendapat bantuan di Sulawesi Selatan mengalami peningkatan, yakni 0,37 persen tahun 2008 meningkat Manajemen kelembagaan kelompok nelayan belum optimal Masih kuatnya relasi punggawa-sawi Inovasi teknologi pada kelompok perikanan Pengelolaan potensi dengan berbasis komoditas, kawasan serta pembenahan sistem dan manajemen BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-36 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN menjadi 0,72 persen tahun 2013 atau dari 383 kelompok menjadi 1.030 kelompok. usaha kelembagaan 5.4. Produksi perikanan kelompok nelayan, pembudidaya dan pengolah Jumlah produk kelompok nelayan, pembudidaya dan pengolah sebesar 57,83 persen dari produk daerah. Rendahnya produktivitas dan daya saing usaha kelautan dan perikanan Kemiskinan masyarakat nelayan dan pembudidaya ikan Keterbatasan infrastruktur perikanan budidaya tangkap dan pengolahan hasil kelautan dan perikanan (air bersih,listrik,BBM,sistem rantai dingin, pelabuhan perikanan. Terbatasnya akses permodalan untuk usaha perikanan Kualitas kelembagaan nelayan, pembudidaya dan pengolah Meningkatkan pembinaan kelembagaan masyarakat usaha perikanan dan kelautan agar dapat menghasilkan produk yang berdaya saing
6.Perdagangan 6.1. Kontribusi sektor Perdagangan terhadap PDRB Rata-rata 17 persen selama lima tahun Belum optimalnya peran sektor perdagangan terhadap peningkatan PDRB Sulsel Optimalisasi peran sektor perdagangan terhadap PDRB; Peningkatan koordinasi antar tingkatan pemerintahan dalam upaya memacu kontribusi sektor perdagangan terhadap PDRB 6.2. Ekspor Bersih Perdagangan Ekspor bersih sebesar US1.446,19 juta pada tahun 2012 Belum optimalnya kontribusi ekspor terhadap pembangunan Sulsel Optimalisasi peran dan kontribusi ekspor terhadap pembangunan; Peningkatan koordinasi antar tingkatan pemerintahan dalam upaya memacu nilai ekspor sektor perdagangan Cakupan bina kelompok pedagang/usaha informal Persentase usaha informal dan kelompok pedagang yang aktif Masih bersarnya jumlah kelompok pedagang dan usaha informal yang aktif dan mandiri; Masih rendahnya tingkat keterampilan dan kapasitas pengelolaan usaha Peningkatan upaya pembinaan dan faslitasi kelompok pedagang dan usaha informal; Peningkatan keterampilan dan kapasitas pengelolaan usaha
7.Perindustrian 7.1. Kontribusi sektor Industri Pertumbuhan sektor industri Kurangnya investasi sektor industri Iklim investasi yang semakin baik BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-37 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN terhadap PDRB 12,23 persen pengolahan 7.2. Pertumbuhan Industri. Pertumbuhan industri 9,32 persen (ADHK) Kurangnya investasi sektor industri pengolahan Iklim investasi yang semakin baik
8.Ketransmigrasian 8.1. Transmigran swakarsa Mandiri (TSM) Sejak tahun 2000 tidak ada lagi transmigrasi swakarsa mandiri Program sudah tidak ada 8.2. Kontribusi transmigrasi terhadap PDRB Kontribusi transmigrasi terhadap PDRB belum dapat digambarkan Belum tersedianya data dan informasi kontribusi transmigrasi terhadap PDRB akibat pelaksanaan transmigrasi belum bersinergi dengan baik Peningkatan koordinasi dan sinergitas pelaksanaan program transmigrasi; Penyediaan data dan informasi yang berkualitas dan bersinergi antar tingkatan pemerintahan terkait transmigrasi C ASPEK DAYA SAING DAERAH I Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah
1.Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian 1.1. Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk pengeluaran makanan di Sulawesi Selatan pada tahun 2011 adalah sebesar 51,40 persen atau mengalami penurunan sebesar 6,31 poin jika dibandingkan dengan tahun 2010. Konsumsi rumah tangga per kapita masih didominasi kelompok pangan yang idealnya kelompok non pangan Peningkatan peran dan fasilitasi pemerintah dalam mendukung peningkatan konsumsi kelompok non pangan 1.2. Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita persentase pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita meningkat dan hampir berimbang, yakni dari 38.66 persen menjadi 48.60 persen. Konsumsi non pangan lebih rendah dibanding konsumsi pangan per kapita Peningkatan peran dan fasilitasi pemerintah dalam mendukung peningkatan konsumsi kelompok non pangan 1.3. Produktivitas total daerah PDRB meningkat signifikant dari tahun ketahun Masih didominasi sektor pertanian yang pemasarannya dalam bentuk komoditi primer Industri pengolahan pertanian meningkat Sarana produksi pertanian meningkat BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-38 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN
2.Pertanian 2.1. Nilai tukar petani Nilai tukar petani di Sulsel berada di atas rata-rata provinsi tetangga dari semula pada tahun 2008 sebesar 100,20 meningkat menjadi 108,11 pada tahun 2012. Meskipun NTP telah berada diatas 100 namun belum bisa dikatakan bahwa petani telah sejahtera Kemampuan daya beli masyarakat meningkat Jumlah produksi hasil pertanian meningkat II Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastuktur
1.Perhubungan 1.1. Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan Pertambahan jumlah kendaraan lebih tinggi dibanding peetambahan panjang jalan Kurangnya pembangunan infrstruktur jalan baru Meningkatnya kemampuan masyarakat membeli kendaraan baru 1.2. Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum Jumlah arus barang dan orang semakin meningkat Semakin giatnya perekonomian dan lancarnya transportasi kedaerah 1.3. Jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/ terminal per tahun Jumlah penumpang penumpang Domestik sebesar 8.481.423 penumpang dan Internasional sebesar 112.916 penumpang di Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar tahun 2012, total sebesar 8.594.339 penumpang. Pelabuhan Makassar mengalami peningkatan, dengan jumlah peningkatan penumpang tiap tahunnya sebesar 8% yang pada tahun 2012 berjumlah 1.317.814 orang, dan peningkatan bongkar muat tiap tahun sebesar 11,19% yang pada tahun 2012 telah mencapai Belum terintegrasinya transportasi antar moda serta belum optimalnya pengelolaan dan pelayanan pelabuhan laut/udara/terminal Peningkatan kualitas pelayanan dan manajemen pengelolaan pelabuhan laut/udara/terminal Penerapan sistem transportasi multimoda serta peningkatan aksesibilitas pelayanan transportasi khususnya pada kawasan perdesaan BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-39 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN 15.73 Ton/TEU.
2.Penataan Ruang 2.1. Ketaatan terhadap RTRW Sampai saat ini rasio kesesuaian pelaksanaan pembangunan yang sesuai dengan RTRWP sudah mencapai 0,52 yang diindikasikan dengan telah dilaksanakannya 138 program pembangunan utama pada indikasi program utama RTRWP Belum sinkronnya program pembangunan antar sektor dan antar wilayah yang mengacu pada rencana tata ruang Belum tersedianya instrumen pengendalian yang optimal terhadap Adanya upaya pengendalian pemanfaatan ruang pada wilayah kabupaten yang berbatasan dengan perkotaan Upaya Mewujudkan sinkronisasi program pembangunan sesuai dengan rencana tata ruang dan meningkatkan upaya pengendalian pemanfaatan ruang 2.2. Luas wilayah produktif Luas wilayah produktif Sulawesi Selatan berdasarkan RTRWP Sulawesi Selatan sudah mencapai 0,35 dengan mengembangkan kawasan produktif seluas 1.816.757 hektar. Belum sinkronnya program pembangunan antar sektor dan antar wilayah yang mengacu pada rencana tata ruang Belum tersedianya instrumen pengendalian yang optimal terhadap Adanya pengembangan kawasan peternakan di Kabupaten Enrekang dan Sidenreng Rappang, Adanya pengembangan kawasan permukiman Kota Baru Mamminasata Adanya pengembangan Kawasan Strategis Provinsi yaitu Kawasan Pusat Bisnis Terpadu Center Point of Indonesia 2.3. Luas wilayah industri Luas wilayah industry di Sulawesi Selatan sesuai dengan RTRW sampai tahun 2012 baru mencapai 0,03 dengan membangun industry dan kawasan industry seluas 7,92 Km2 Belum sinkronnya program pembangunan antar sektor dan antar wilayah yang mengacu pada rencana tata ruang Belum tersedianya instrumen pengendalian yang optimal terhadap Adanya upaya pengendalian pemanfaatan ruang pada wilayah kabupaten yang berbatasan dengan perkotaan 2.4. Luas wilayah kebanjiran Persentase luas wilayah kebanjiran terhadap luas wilayah budidaya di Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 20,20 persen. Belum sinkronnya program pembangunan antar sektor dan antar wilayah yang mengacu pada rencana tata ruang Belum tersedianya instrumen pengendalian yang optimal terhadap pelanggaran rencana tata ruang Adanya upaya pengendalian pemanfaatan ruang pada wilayah kabupaten yang berbatasan dengan perkotaan 2.5. Luas wilayah perkotaan Realisasi luas kawasan perkotaan terhadap luas rencana wilayah Belum sinkronnya program pembangunan antar sektor dan antar wilayah yang Sinergitas dan sinkronisasi program pembangunan kawasan perkotaan yang mengacu pada RTR; BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-40 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN budidaya sesuai RTRWP Sulsel saat ini mencapai 15,96. mengacu pada rencana tata ruang Belum tersedianya instrumen pengendalian yang optimal terhadap pelanggaran rencana tata ruang Penyiapan instrumen pengendalian pemanfaatan ruang.
3.Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian 3.1. Jenis dan jumlah bank dan cabang Peningkatan dan pemeretaan jumlah dan jenis bank Jenis dan jumlah bank belum merata di setiap kabupaten/kota Tingginya kesadaran masyrakat menggunakan jasa perbankan Jumlah tabungan dan nasabah meningkat 3.2. Jenis, kelas, dan jumlah restoran Makin tingginya minat masyrakat untuk membuka usaha restoran Meningkatnya jumlah masyarakat yang berkunjung ke restoran Belum optimalnya peran pemerintah dalam memfasilitasi masyarakat dalam pengelolaan restoran yang sehat, dan halal; Masih terbatasnya jumlah restoran yang terdaftar dan tersertifikasi Peningkatan peran pemerintah dalam memfasilitasi pengelolaan restoran yang sehat dan halal; Peingkatan kapasitas dan pemahaman masyarakat akan pengelolaan restoran yang sehat dan halal. 3.3. Jenis, kelas, dan jumlah penginapan/ hotel Makin tingginya minat masyrakat untuk membuka usaha penginapan/hotel; Meningkatnya jumlah masyarakat yang berkunjung dan menggunakan fasilitas penginapan/hotel. Belum optimalnya peran pemerintah dalam memfasilitasi masyarakat dalam pengelolaan penginapan/hotel; Masih terdapat beberapa penginapan/hotel yang sesuai dengan syarat dan persyaratan. Peningkatan peran pemerintah dalam memfasilitasi pengelolaan penginapan/hotel; Peingkatan kapasitas dan pemahaman masyarakat terkait syarat dan persyaratan pendirian penginapan/hotel..
4.Lingkungan Hidup 4.1. Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih Cakupan pengguna air bersih sebesar 83,63% dengan total rumah tangga sebesar 1.583.095 RT yang menggunakan air bersih Masih rendahnya cakupan RT yang menggunakan air bersih dari sumber yang aman; Makin berkurangnya kapasitas air baku untuk memenuhi kebutuhan RT Peningkatan cakupan pelayanan air bersih di tingkat rumah tangga; Peningkatan upaya konservasi sumber air baku 5. Komunikas dan Informatika 5.1. Rasio ketersediaan daya listrik Kebutuhan listrik di Sulawesi Selatan pada tahun 2012 sebesar Persentase pemanfaatan energi baru Pengembangan dan pemanfaatan potensi energi BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-41 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN 3.758 GWH didominasi oleh kebutuhan untuk rumah tangga sebesar 48%, disusul oleh kebutuhan untuk industry sebesar 24%, untuk komersial sebesar 17,3%, dan sisanya untuk kebutuhan publik. terbarukan masih rendah untuk pembangkit listrik baik skala menengah maupun skala kecil masih rendah Kurangnya inovasi baru untuk pembangkit listrik Laju pertumbuhan permintaan energy didominasi oleh kebutuhan komersial sebesar 32% dan pertumbuhan kebutuhan industry sebesar 21%, lokal khususnya energi baru terbarukan Meningkatkan pemenuhan kebutuhan listrik di perdesaan dan melalui pengembangan Desa Mandiri Energi. 5.2. Persentase rumah tangga yang menggunakan listrik Persentase rumah tangga yang menggunakan listrik di Sulawesi Selatan didominasi oleh pengguna listrik dengan daya 900 watt sebesar 44% dari seluruh rumah tangga pengguna listrik Persentase pemanfaatan energi baru terbarukan masih rendah Semakin tinggi permintaan sambungan baru untuk RT Pengembangan dan pemanfaatan potensi energi lokal khususnya energi baru terbarukan Meningkatkan pemenuhan kebutuhan listrik di perdesaan dan melalui pengembangan Desa Mandiri Energi. III Fokus Iklim Berinvestasi
1.Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian 1.1. Angka kriminalitas Jumlah tindak kriminalitas di Provinsi Sulawesi Selatan mengalami peningkatan selama lima tahun terakhir (2008-2012), Pada tahun 2008 hingga tahun 2011, jumlah tindak kriminalitas meningkat dari 15.137 kasus menjadi 22.051 kasus Masih tingginya angka kriminal akibat sosialisasi hukum yang kurang Masih rendahnya pendidikan Kurangnya jumlah aparat penegak hukum Peningkatan kualitas dan frekwesi pelaksanaan sosialisasi perangkat hukum; Peningkatan peran masyarakat dalam pelaksanaan keamanan dan ketertiban masyarakat Mengaktifkan Kantibmas 1.2. Jumlah demo Tingginya jumlah demonstasi dan meningkat dari tahun ketahun Masih rentang aksi demonstrasi Belum tersedianya sarana penyaluran aspirasi yang benar Peningkatan koordinasi dan kerjasama dalam penanganan demonstrasi; Penyediaan sarana dan prasarana penyaluran aspirasi masyarakat dan mahasiswa BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-42 No URUSAN/IKK TAFSIRAN CAPAIAN TARGET PERMASALAHAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN 1.3. Jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah Jenis-jenis pajak dan retribusi yang dapat dikelolaPemda telah ditetapkan secara CloseList berdasarkan UU 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Masih terdapat pungutan di tingkat Kabupaten/kota yang bersifat kontra produktif dengan iklim investasi di daerah Pengawasan atas implementasiPerda Pajak dan retribusi daerah di Tingkat Kabupaten/Kota 1.4. Jumlah Perda yang mendukung iklim usaha Perda yang berkaitan dengan investasi masih belum mendukung pengembangan iklim usaha di Sulawesi Selatan Kurangnya dukungan legislasi yang mendukung pengembangan investasi sehingga mempengaruhi jumlah investasi yang terealissasi di Sulsel Peningkatan jumlah perda yang mendukung iklim usaha 1.5. Persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa Desa swasembada sebesar 500 desa dari sejumlah 2.192 desa/kelurahan Masih lemahnya peran, kapasitas dan kemampuan pemerintahan desa dalam pelaksanaan pembangunan Peningkatan kapasitas aparat dan kelembagaan pemerintah desa IV Fokus Sumber Daya Manusia
1.Ketenagakerjaan Jumlah angkatan kerja 3.560.891 Penduduk yg bekerja 3.351.908 Tingkat Pengangguran Terbuka mencapai 5,9% (208.980 org) Tingginya urbanisasi ke kota Kurangnya keterarmpilan bekerja Pendapatan tenaga kerja di sektor pertanian rendah Meningkatnya kegiatan agro industri Meningkatnya permintaan tenaga kerja sektor perkebunan dari negara tetangga 1.1. Rasio lulusan S1/S2/S3 Perbandingan lulusan S1, S2 dan S3 masih dibawah nasional Masih mahalnya biaya pendidikan tingkat perguruan tinggi Fasilitasi peningkatan rasio lulusan siswa dan mahasiswa yang mealnjutkan pendidikan tinggi melalui pemberian bantuan biaya/beasiswa 1.2. Rasio ketergantungan Perbandingan antara banyaknya penduduk yang belum dan tidak produktif (umur di bawah 15 tahun dan 65 tahun keatas) dengan banyaknya penduduk yang termasuk produktif secara ekonomi (15-64 tahun). Naiknya persentase penduduk yang belum dan tidak produktif. Adanya program-program yang terkait dengan program penurunan tingkat kelahiran bayi, program Keluarga Berencana (KB). BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-43 4.2. Issu Strategis Isu strategis dalam perencanaan pembangunan jangka menengah daerah merupakan kondisi aktual yang perlu diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan daerah karena penting, mendasar, mendesak dan berdampak jangka panjang bagi keberlanjutan pembangunan serta signifikan bagi daerah sesuai dengan tujuan penyelenggaraan pemerintahan daerah dimasa yang akan datang. Issu strategis pembangunan daerah Provinsi Sulawesi Selatan dalam lima tahun ke depan dirumuskan dengan mensistesa fakta-fakta permasalahan pembangunan maupun permasalahan dalam penyelenggaraan pemerintahan yang telah disampaikan pada bahagian sebelumnya dengan issu-issu eksternal atau issu-issu global. Penyelenggaraan urusan pemerintahan selama beberapa tahun ke depan juga akan dipengaruhi dengan adanya undang-undang nomor 23 tahun 2014 mengenai perubahan mendasar di dalam pembagian urusan pemerintahan. 4.2.1. Issu Global Dalam penyelenggaran pembangunan daerah, dapat ditemukan beberapa kondisi yang dapat mempengaruhi kebijakan yang akan ditempuh. Kondisi tersebut bersifat eksternal atau kondisi dari luar yang tidak dapat dikontrol sepenuhnya, namun dapat diantisipasi dampaknya ataupun dapat dioptimalkan peluang yang ditimbulkannya.Kondisi eksternal tersebut umumnya berlaku secara nasional maupun internasional dan berdampak secara langsung dan berdimensi waktu yang panjang yang akan mempengaruhi perjalanan pelaksanaan pembagunan, sehingg memerlukan perhatian khusus. Berikut beberapa kondisi ataupun issu global yang dipandang dapat mempengaruhi perjalanan kebijakan pembangunan didaerah. Perubahan Iklim dan Bencana Alam,paradigma masa lalu menyebutkan bahwa masalah lingkungan global lebih banyak dipengaruhi faktor alam, seperti iklim, yang mencakup temperatur, curah hujan, kelembaban, tekanan udara dll. Belakangan mulai disadari bahwa aktifitas manusia pun mempengaruhi iklim dan lingkungan secara signifikan.Sebagai gambaran bahwa penebangan hutan, mempengaruhi perubahan suhu dan curah hujan secara lokal.Ketika area hutan yang hilang semakin luas, maka akibat yang ditimbulkan bukan lagi lokal tapi sudah berskala regional. Pemanfaatan dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak diimbangi oleh upaya penanggulangan yang mengatasnamakan kesejahteraan hidup manusia tampaknya akan berdampak negatif terhadap keberlangsungan lingkungan hidup. Hal ini tidak hanya mengancam keberlangsungan lingkungan alam, tetapi juga keberlangsungan hidup manusia sendiri.Isu pemanasan global dan perubahan iklim hanyalah sebagian dari sekian banyak isu lingkungan untuk diperhatikan yang tidak hanya bersifat lokal tetapi global, demikian halnya dengan Indonesia. Di Indonesia masih menghadapi tantangan besar di mana model pembangunan ekonomi yang dikembangkan telah menggerakkan pembangunan ekonomi yang cenderung bersifat ekstraktif atau mengandalkan eksploitasi sumberdaya alam secara langsung. Bahkan ada kecenderungan besar di mana upaya mempertahankan fungsi lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari masih jauh dari yang diharapkan. Penyebab Pemanasan Global ini cukup kompleks, meliputi meningkatnya gas rumah kaca seperti CO2 dan Metana yang berasal dari Industri, Kendaraan bermotor dan mahluk hidup penghasil metana alamiah seperti bakteri. Selain itu juga terjadinya kerusakan hutan alami akibat alih fungsi hutan menjadi pemukiman, industri, Pertanian BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-44 dan fungsi lainya.Sehingga luas hutan setiap tahunnya terus berkurang yang berakibat meningkatnya jumlah gas rumah kaca karena fungsi hutan sebagai paru-paru dunia berkurang. Eksploitasi hutan yang dilakukan masyarakat sekitar kawasan hutan juga tidak luput dari factor kondisi sosial ekonomi masyarakat.Oleh sebab itu, usaha untuk menghentikan perusakan hutan tidak cukup dilakukan hanya dengan menghentikan kegiatan yang sifatnya merusak saja, melainkan juga dituntut untuk melawan kecenderungan yang terjadi dengan berbagai macam usaha rehabilitasi lahan dan hutan yang telah rusak. Untuk mengantisipasi berbagai dampak negatif yang ditimbulkan, maka sangat dibutuhkan adanya suatu sistem pengelolaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan yang efisien dan berwawasan lingkungan, yang mampu memanfaatkan potensi sumberdaya setempat secara optimal.Sehingga masyarakat memiliki kepedulian dan tanggung jawab dalam menjaga hutan tersebut. Terorisme global, Aksi-aksi kekerasan terorisme internasional di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia akan menjadi ancaman dan tantangan terbesar bagi pelaksanaan kebijakan politik luar negeri Indonesia di masa mendatang. Di tingkat bilateral Indonesia terus dituntut untuk meningkatkan kerjasama dengan berbagai negara seperti Australia, AS, Jepang dan negara-negara tetangga Asia Tenggara lainnya untuk meningkatkan kemampuan aparatur negara dalam memerangi terorisme internasional. Masalah kejahatan yang berbentuk kejahatan trans nasional seperti penyelundupan, perdagangan norkotika, penyelundupan manusia merupakan ancaman serius bagi negara seperti Indonesia yang memiliki posisi geografis yang strategis bagi suburnya pertumbuhan jenis-jenis kejahatan lintas batas tersebut. Karena itu, sebagai negara asal maupun transit bagi operasi tindak kejahatan trans nasional, Indonesia dituntut untuk terus meningkatkan upaya-upaya dalam menekan kejahatan lintas batas tersebut melalui suatu format kerjasama dengan negara-negara tetangga secara komprehensif. Hal yang sama juga berlaku di tingkat regional, misalnya ASEAN di mana Indonesia perlu mendorong berlanjutnya kerjasama kongkrit antar negara dalam pemberantasan terorisme internasional. Masalah terorisme tidak dapat dipisahkan dari isu radikalisme dan kemiskinan.Karena itu, penanganan isu terorisme mesti menyentuh isu-isu kesejahteraan, penciptaan kehidupan yang lebih baik dan penyelenggaraan dialog antaragama yang konstruktif.Dalam masalah kecenderungan penggunaan kekerasan dan ancaman terorisme internasional, masyarakat internasional memang memerlukan soliditas sikap dalam memerangi tindakan yang tidak manusiawi tersebut.Namun demikian, pada saat bersamaan masyarakat dunia juga dituntut untuk menekuni kemungkinan akar permasalahan sesungguhnya yang menjadi pemicu utama menguatnya aksi-aksi kekerasan internasional dewasa ini. Perdagangan Bebas,Globalisasi telah merambah hampir disemua ranah kehidupan masyarakat, baik itu bidang ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), budaya, pendidikan dan lain-lain. Walaupun istilah globalisasi telah menjadi suatu kosakata yang umum, tetapi suka atau tidak suka, masyarakat diseluruh pelosok dunia sekarang ini telah hidup dalam suatu habitat global, transparan, tanpa batas, saling mengait (linkage), dan saling ketergantungan (interdependence). Skenario liberalisasi BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-45 melalui perjanjian perdagangan bebas memberikan dampak keseluruh pelosok negeri. Contoh globalisasi yang nyata dirasakan saat ini seperti masuknya barang-barang impor dari China dan negara-negara ASEAN lainnya akan menyerbu sampai ke desa-desa. Indonesia sekarang ini berada didalam kondisi yang sangat terbuka dan sangat bersaing. Dengan diberlakukannya Perdagangan Bebas banyak memberi dampak terhadap kehidupan sosial masyarakat.Dunia yang tanpa batas, keluar masuk barang yang intens serta interaksi dengan dunia luar disatu sisi memberikan dampak positif bagi perkembangan masyarakat melalui upaya peningkatan kualiatas dan inovasi produk lokal. Namun disisi yang lain, pemberlakuan ini dapat menambah penderitaan sebagian besar masyarakat Indonesia yang masih berada dibawah garis kemiskinan. Mereka digiring kepada sebuah dunia dimana kekuatan pasar menjadi panglima.Hilangnya subsidi dan peranan dari negara dalam bidang ekonomi berdampak multiplyer effect pada kemiskinan yang meningkat dan akan mengarah pada tingginya angka kriminal.Hal ini mengakibatkan kerja keras pemerintah, yakni mengerjakan dua hal sekaligus, yakni perbaikan ekonomi dan sekaligus melakukan reformasi terhadap masalah-masalah sosial. Kondisi sosial ekonomi serta semua potensi yang ada pada masyarakat Sulawesi Selatan, diharapkan pemerintah dapat menempuh suatu kebijakan yang rasional untuk mengantar masuk dalam kancah perekonomian global. Demokrasi dan HAM, dari tahun ketahun gelombang kesadaran eksistensi kehadiran manusia dimasyarakatnya semakin meningkat seiring dengan meningkanya pendidikan dan informasi. Peningkatan peran di mayarakat seperti demokratisasi akan terus berlangsung dan tidak akan mungkin dapat dicegah kemajuannya. Pemerintah- pemerintah otoriter di dunia kalaupun belum dapat runtuh seluruhnya diperkirakan akan mengalami perlemahan yang serius. Keberhasilan negara otoriter pada tahun-tahun sebelumnya dalam mencegah demokratisasi, seperti halnya yang terjadi di beberapa negara bekas Uni Soviet, Afrika Utara dan Asia Selatan, hanya akan menunda sebentar keberhasilannya. Saat ini gelombang demokrasi sedang melanda negara-negara di Timur Tengah dan efek domino yang ditimbulkannya menjadi permasalahan yang bermuara pada persoalan kemanusiaan.Bahkan negara-negara demokrasi maju sekalipun sedang mengalami dinamika-dinamika koreksi dalam hal demokrasi, berkaitan dengan peran negara dan masyarakat sipil. Traficking, Kasus tindak pidana perdagangan orang saat ini terus terjadi, dimana negara Indonesia menjadi bagian dari praktek ini. Tindak kejahatan terhadap kemanusiaan ini terjadi sejak di daerah atau negara asal, daerah transit hingga ke daerah atau negara tujuan. Keterbatasan ekonomi, minimnya tingkat pendidikan sering kali menjadi dasar alasan kelompok ini terjerat dalam human trafficking. Beragam cara dipakai pelaku untuk menarik dan mengontrol korban diantaranya janji pekerjaan bergaji tinggi, hingga ancaman kekerasan. Hal tersebut banyak terjadi karena adanya masalah ketidakseimbangan hubungan negara-negara maju dengan negara-negara berkembang khususnya dalam konteks hubungan perdagangan dan ekonomi. Sebagai perbandingan bahwa Perdagangan Orang dan Penyelundupan Manusia merupakan kejahatan dengan nilai keuntungan terbesar ke-3 (tiga) setelah kejahatan Penyelundupan Senjata dan Peredaran Narkoba. Di Indonesia praktek ini dapat terjadi dengan modus pengiriman tenaga kerja ke luar negeri, dimana dua komponen yang saling memperkuat yakni antara kurangnya BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-46 lapangan kerja yang tersedia dan rendahnya ketrampilan yang dimiliki. Sulawesi Selatan dapat mengambil peran dalam mengurangi dampak dari hal ini dengan upaya penciptaan lapangan kerja dan peningkatan keterampian tenaga kerja. 4.2.2. Issu Strategis Daerah Issu strategis daerah hasil sintesa fakta-fakta permasalahan pembangunan maupun permasalahan dalam penyelenggaraan pemerintahan yang telah disampaikan pada bahagian sebelumnya dengan issu-issu global. Selain issu global, penyusunan RPJMD ini juga memperhatikan secara khusus dampak terhadap lingkungan hidup dari program-program yang akan dilaksanakan, seperti yang telah diamanahkan oleh Permendagri No. 67 Tahun 2012 tentang Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis. Pada proses kajian KLHS tersebut, didapatkan gambaran perkiraan pengaruh dari pelaksanaan pembangunan sehingga diperlukan mitigasi dari dampak negatif dengan:
1.Memperhatikan RTRWP dan RTRWK dan penerapan kaidah lingkungan hidup dalam setiap pelaksanaan pembangunan. Hal ini antara lain dapat pula berupa penerapan AMDAL dan RKL / RPL maupun UKL / UPL sesuai dengan perundangan yang berlaku.
2.Pada sektor pertanian, penerapan pertanian ramah lingkungan antara lain dengan pemakaian pupuk berimbang, pemanfaatan pupuk anorganik, pemakaian benih rendah emisi, dan pengolahan lahan tanpa bakar serta memperhatikan daya dukung lahan dan kesesuaian lahan dalam setiap kegiatan perlu dilakukan. Hal ini dapat dilakukan secara terintegrasi dalam masing-masing program atau dengan membuat kegiatan berupa Sosialisasi dan Penerapan Pertanian Ramah Lingkungan. Disamping itu disarankankan pula dengan menerapkan pertanian dengan menggunakan sistem SRI (sistem of rice intensification) yaitu pengembangan padi dengan air berimbang serta mengembangkan pengelolaan sistem irigasi yang partisipatif.
3.Pada Sektor peternakan, pengintegrasian program dengan usaha memberikan akses terhadap sistem pengkandangan yang layak dan sesuai dengan kaidah lingkungan harus dilakukan. Agar hasil ternak lebih bermanfaat maka direkomendasikan pula untuk memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk an-organik dan mengembangkan biogas yang dapat menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca sekaligus dapat mengurangi tingkat pemakaian energi fosil.
4.Dalam kaitannya dengan isu kerusakan kawasan pesisir dan ekosistemnya, maka direkomendasikan untuk mempertahakan mangrove yang ada sekaligus mengembangkannya sebagai usaha perlindungan dan pemulihan ekosistem wilayah pesisir.
5.Hal lain yang sangat penting adalah pemantapan moral dan akhlak masyarakat dalam menjamin keseimbangan pembangunan. Issu lain yang dianalisis dalam penyusunan RPJMD ini adalah issu pengarusutamaan gender. Sehingga dalam penentuan kebijakan dan program-program yang dilakukan dianalisis terlebih dahulu kaitannya dan atau pengaruhnya terhadap issu- issu gender yang analisisnya secara lengkap diulampirkan secara terpisah dengan dokumen ini. Adapun daftar issu strategis secara keseluruhan daerah ini disajikan dengan pendekatan urusan pemerintahan, yakni urusan wajib dan urusan pilihan. Pendekatan BAB IVAnalisis Isu-Isu Strategis Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-47 urusan akan lebih mempermudah didalam menentukan stakeholder terkait dalam menentukan kebijakan yang akan dilakukan menghadapi issu strategis tersebut 4.2.2.1 Urusan Wajib Pemerintah Pelayanan Dasar