1.Tanah Laut 8 52 70 0 0
2.Kotabaru 3 52 133 10 0
3.Banjar 5 68 191 13 0
4.Barito Kuala 12 39 144 0 0
5.Tapin 3 97 26 0 0
6.Hulu Sungai Selatan 8 79 57 0 0
7.Hulu Sungai Tengah 12 110 31 6 2
8.Hulu Sungai Utara 6 99 109 0 0
9.Tabalong 13 84 22 2 0
10.Tanah Bumbu 23 59 59 3 0
11.Balangan 7 96 50 0 1
12.Banjarmasin 0 0 0 0 0
13.Banjarbaru 0 0 0 0 0
14.Kalimantan Selatan 100 835 892 34 3 Sumber: Kalsel Dalam Angka 2023, BPS Prov. Kalsel Pada tahun 2022 masih ada 3 desa yang sangat tertinggal di Provinsi Kalimantan Selatan yang berada di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Kabupaten Balangan. Meskipun demikian, telah banyak bermunculan desa mandiri, tercatat sudah ada 100 desa mandiri di Provinsi Kalimantan Selatan. RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 27 - 2.2 Menghilangkan Kelaparan, Mencapai Ketahanan Pangan dan Gizi yang Baik, Serta Meningkatkan Pertanian Berkelanjutan Pada tahun 2030 tujuan 2 mengupayakan untuk menghilangkan kelaparan, mencapai ketahanan gizi yang baik serta meningkatkan pertanian berkelanjutan. Tujuan ini memberikan jaminan bahwa setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama dan menjamin akses yang sama bagi semua orang. Khususnya masyarakat yang dalam kondisi rentan, misalnya masyarakat miskin, termasuk juga bayi, anak-anak, ibu hamil dan menyusui, manula, dan sebagainya, harus bebas dari kelaparan dan memperoleh ketahanan pangan dan gizi yang baik dan berkelanjutan Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 4 Prevalensi Balita Stunted di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2021 – 2022 Stunting atau tengkes pada balita merupakan kondisi kurang gizi kronis pada anak berusia 0-59 bulan yang diukur berdasarkan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U). Jika diperhatikan perkembangan stunting di Kalimantan Selatan pada periode 2021-2022, terlihat bahwa terjadi penurunan prevalensi balita stunted. Angka yang diperoleh dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tersebut menunjukkan bahwa prevalensi balita stunted pada tahun 2021 yang sebesar 30,0 persen menurun menjadi 24,6 persen pada tahun 2022. Hal ini sangat menggembirakan mengingat capaian penurunannya yang cukup signiKikan. Di sisi lain, target pemerintah untuk prevalensi stunting pada tahun 2024 yaitu sebesar 14 persen menuntut untuk dilakukan akselerasi penurunan prevalensi sehingga memerlukan adanya inovasi-inovasi di bidang kesehatan terutama masalah gizi. 30 24,6 0 5 10 15 20 25 30 35 2021 2022 Persentase Tahun Prevalensi Balita Stunted RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 28 - Nilai tambah pertanian per tenaga kerja memberikan gambaran tentang produktivitas tenaga kerja di sektor pertanian. Makin besar pendapatan atau penghasilan tenaga kerja/petani, maka semakin besar kemampuan tenaga kerja untuk mengakses pangan dengan pola gizi seimbang. Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 5 Nilai Tambah Pertanian per Tenaga Kerja di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Nilai tambah pertanian per tenaga kerja di Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2022 mengalami peningkatan dibandingkan dengan 2021, dan sudah melebihi situasi sebelum pandemi pada 2019. Nilai tambah pertanian per tenaga kerja mencapai 41,2 juta rupiah pada tahun 2019, meningkat menjadi 42,2 juta rupiah pada tahun 2022. Hal ini menunjukkan sudah adanya pemulihan dari pandemi Covid-19 pada tahun 2020 yang mempengaruhi Kalimantan Selatan. Geliat ekonomi pada periode 2021-2022 membuat Nilai Tambah Pertanian per tenaga kerja naik jika dibandingkan tahun 2020. 2.3 Menjamin Kehidupan yang Sehat dan Meningkatkan Kesejahteraan Seluruh Penduduk Semua Usia Munculnya dinamika penduduk berupa bonus demograKi memberikan tantangan bagi Indonesia dalam meningkatkan kualitas hidup penduduk. Meledaknya jumlah penduduk produktif serta bertambahnya penduduk usia lanjut memunculkan permasalahan beban penyakit ganda. Walaupun angka harapan hidup penduduk mengalami peningkatan, akan tetapi angka kematian akibat penyakit menular masih belum terberantas. Pola penyakit yang diderita oleh penduduk sebagian besar adalah penyakit infeksi menular. Di samping itu, Indonesia juga menghadapi emerging disease, yaitu suatu penyakit menular 41207,39 37133,9 39905,22 42229,64 34000 35000 36000 37000 38000 39000 40000 41000 42000 43000 2019 2020 2021 2022 (Ribu Rupiah per Orang) Tahun Nilai Tambah Pertanian per Tenaga Kerja RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 29 - baru yang penyebarannya sangat cepat. Munculnya beban penyakit ganda dalam waktu bersamaan mengindikasikan telah terjadi transisi epidemiologi di Indonesia. Pemberantasan penyakit pun perlu dilakukan dengan kerja sama semua elemen masyarakat agar pada masa mendatang Indonesia dapat menjamin kehidupan yang sehat dan sejahtera untuk semua. Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 6 Persentase Perempuan Pernah Kawin Umur 15 – 49 Tahun yang Proses Melahirkan Terakhirnya di Fasilitas Kesehatan di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 7 Persentase Perempuan Pernah Kawin Umur 15 – 49 Tahun yang Proses Melahirkan Terakhirnya Ditolong Oleh Tenaga Kesehatan Terlatih di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 77,6 80,45 83,62 88,04 72 74 76 78 80 82 84 86 88 90 2019 2020 2021 2022 Persentase Tahun Persentase Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 th yg Melahirkan Terakhir di Faskes 97,16 97,39 97,81 96,64 96 96,2 96,4 96,6 96,8 97 97,2 97,4 97,6 97,8 98 2019 2020 2021 2022 Persentase Tahun Persentase Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 th yg Melahirkan Terakhirnya Ditolong oleh Nakes Terlatih RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 30 - Pada periode 2019-2022, proses kelahiran yang dilakukan di fasilitas kesehatan dan atau ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih di Provinsi Kalimantan Selatan cenderung mengalami peningkatan (kecuali pada periode 2021-2022 untuk persalinan ditolong tenaga kesehatan terlatih). Pada tahun 2022, persentase/proporsi perempuan pernah kawin umur 15-49 tahun yang proses melahirkan terakhirnya di fasilitas kesehatan dan perempuan pernah kawin umur 15-49 tahun yang proses melahirkan terakhirnya ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih masing-masing mencapai 88,04 persen dan 96,64 persen. Adanya penurunan persentase proses kelahiran terakhir yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih pada tahun 2022 memerlukan perhatian oleh semua pihak supaya pada tahun berikutnya bisa kembali ditingkatkan. Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 8 Persentase Merokok Pada Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Berbagai penelitian telah membuktikan ada banyak bahaya merokok bagi kesehatan. Di antaranya yaitu asma, infeksi paru-paru, kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker paru-paru, serangan jantung, stroke, demensia, disfungsi ereksi (impotensi), dan sebagainya. Hingga tahun 2022, persentase merokok pada penduduk usia 15 tahun ke atas di Provinsi Kalimantan Selatan masih mencapai 21,89 persen. Ini menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 5 penduduk Kalimantan Selatan usia 15 tahun ke atas merupakan perokok aktif. 23,95 23,83 24,51 21,89 20,5 21 21,5 22 22,5 23 23,5 24 24,5 25 2019 2020 2021 2022 Persentase Tahun Persentase Merokok Pada Penduduk Umur >15 th RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 31 - Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 9 Unmet Need Pelayanan Kesehatan di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Unmet need pelayanan kesehatan atau persentase penduduk yang memiliki keluhan kesehatan dan terganggu aktiKitasnya namun tidak berobat jalan adalah perbandingan antara banyaknya penduduk yang memiliki keluhan kesehatan dan terganggu aktiKitasnya namun tidak berobat jalan dan jumlah penduduk. Aktivitas yang dimaksud adalah aktivitas penduduk sehari- hari seperti bekerja, bersekolah atau kegiatan sehari-hari lainnya. Terlihat bahwa unmeet need pelayanan kesehatan di Kalimantan Selatan menunjukkan tren penurunan dalam empat tahun terakhir. Hal tersebut cukup menggembirakan dikarenakan semakin besarnya persentase penduduk yang berobat jalan pada saat memiliki keluhan kesehatan dan terganggu aktiKitas sehari-harinya. 2.4 Menjamin Kualitas Pendidikan yang Inklusif dan Merata Serta Meningkatkan Kesempatan Belajar Sepanjang Hayat untuk Semua Tujuan 4 dibentuk dengan harapan untuk menjamin pemerataan pendidikan yang berkualitas dan meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat untuk semua orang. Pada tujuan ini akan disajikan gambaran pendidikan di Provinsi Kalimantan Selatan sesuai dengan indikator dan data terbaru untuk melihat proses yang sedang berjalanan hingga saat ini. Pendidikan berkualitas merupakan prinsip dasar pembangunan untuk menciptakan sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi. Di samping itu, akses untuk memeroleh kesempatan belajar yang sama dan merata dalam setiap jenjang pendidikan selama hidup diharapkan dapat dicapai dari tujuan 4. 6,7 6,55 6,46 5,4 0 1 2 3 4 5 6 7 8 2019 2020 2021 2022 Persentase Tahun Unmet Need Pelayanan Kesehatan RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 32 - Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 10 Tingkat Penyelesaian Pendidikan Menurut Jenjang Pendidikan di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Salah satu faktor utama dan terpenting dalam pembangunan berkelanjutan yaitu pendidikan. Pendidikan memberikan pelajaran mengenai daya juang dan membangun watak anak bangsa dengan memberikan arti kejujuran, kebersamaan, kesantunan, nilai-nilai dan budi pekerti kepada anak- anak bangsa. Angka tingkat penyelesaian Pendidikan mengukur persentase anak dan remaja yang berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan yang sesuai dengan rentang usianya. Rentang usia yang termasuk dalam perhitungan ini adalah antara 1 sampai dengan 3 tahun sejak usia kelulusan jenjang pendidikan pada umumnya. Pada jenjang pendidikan SD/sederajat, tingkat penyelesaian pendidikan di Kalimantan Selatan pada tahun 2022 sudah di atas 90 persen. Sedangkan untuk SMP/sederajat, tingkat penyelesaian pendidikan sudah di atas 85 persen. Namun, capaian pada jenjang SMA/ sederajat masih di kisaran 67 persen. 2019 2020 2021 2022 Persentase Tahun Tingkat Penyelesaian Pendidikan Menurut Jenjang Pendidikan SD/Sederajat SMP/Sederajat SMA/Sederajat RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 33 - Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 11 Tingkat Partisipasi Dalam Pembelajaran yang Terorganisir (Satu Tahun Sebelum Usia SD) di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Tingkat partisipasi dalam pembelajaran yang terorganisir (satu tahun sebelum usia sekolah dasar) mengukur angka partisipasi anak usia 6 tahun (satu tahun sebelum usia resmi masuk Sekolah Dasar) dalam program pendidikan yang terorganisir, yang mencakup Pendidikan Anak Usia Dini maupun anak-anak yang sudah memasuki jenjang Sekolah Dasar/sederajat sebelum berumur 6 tahun. Pada tahun 2022, capaian meningkat dibandingkan tahun 2021, namun angkanya masih di bawah capaian tahun 2019. Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 12 Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi (PT) di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 99,31 91,87 94,75 96,64 88 90 92 94 96 98 100 2019 2020 2021 2022 Persentase Tahun Tingkat Partisipasi dlm Pembelajaran yg Terorganisir 27,04 27,35 27,97 27,5 26,4 26,6 26,8 27 27,2 27,4 27,6 27,8 28 28,2 2019 2020 2021 2022 Persentase Tahun Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi (PT) RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 34 - APK Perguruan Tinggi (PT) adalah perbandingan antara jumlah mahasiswa pada jenjang Pendidikan D1/D2/D3/D4/S1/S2 dengan jumlah penduduk usia 19–23 tahun. Secara umum, Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi di Provinsi Kalimantan Selatan periode 2019-2021 mengalami peningkatan setiap tahunnya, namun pada tahun 2022 mengalami penurunan. APK Perguruan Tinggi di Kalimantan Selatan pada tahun 2022 mencapai 27,50 persen. Rasio Angka Pendidikan Murni (APM) ditujukan untuk melihat kesenjangan atau disparitas antar kelompok dalam mengakses pendidikan. Semakin mendekati 100, berarti kesenjangan antara kedua kelompok tersebut dalam mengakses pendidikan juga semakin mengecil. Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 13 Rasio APM Perempuan/Laki-laki pada Jenjang Pendidikan SD, SMP, SMA, dan Rasio APK pada Jenjang Perguruan Tinggi di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2020 – 2022 Rasio APM perempuan/laki-laki pada jenjang SD/Sederajat sampai dengan perguruan tinggi pada tahun 2022 melebihi angka 100. Ini menunjukkan bahwa pada jenjang pendidikan tersebut, terdapat kesenjangan antara perempuan dan laki-laki dalam hal kesempatan akses pendidikan, dimana kesempatan bagi laki-laki lebih rendah jika dibandingkan dengan perempuan. Meskipun demikian, rasio tersebut masih relatif mendekati nilai 100 kecuali untuk jenjang perguruan tinggi yang mencapai 125,40 pada tahun 2022. 100,24 100,65 100,46 103,95 98,39 104,21101,34 103,36 103,74 0 115,06 125,4 2020 2021 2022 Rasio APM Perempuan/Laki-laki pada Jenjang Pendidikan SD, SMP, SMA dan Rasio APK pada Jenjang PT SD/Sederajat SMP/Sederajat SMA/Sederajat Perguruan Tinggi RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 35 - Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 14 Proporsi Penduduk Remaja (15-24 Tahun) dan Dewasa (15-59 Tahun) dengan Keterampilan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Proporsi penduduk remaja dan dewasa dengan keterampilan teknologi informasi dan komunikasi menunjukkan besaran proporsi remaja (umur 15- 24 tahun) dan dewasa (umur 15-59 tahun) yang telah melakukan kegiatan yang berkaitan dengan komputer tertentu dalam suatu periode waktu tertentu (tiga bulan terakhir). Komputer dalam hal ini hanya mengacu pada komputer desktop, laptop, atau tablet. Peralatan dengan beberapa kemampuan komputasi seperti Smart-TV, dan perangkat telepon sebagai fungsi utamanya, seperti smartphone, tidak tercakup dalam deKinisi yang dimaksud. Pada periode 2019-2022 di Provinsi Kalimantan Selatan, capaian pada indikator ini mengalami peningkatan setiap tahunnya, baik pada kelompok penduduk remaja maupun dewasa. Bahkan pada penduduk remaja, capaiannya sudah mencapai 96,28 persen pada tahun 2022. Meningkatnya capaian pada indikator ini diharapkan dapat meningkatkan secara signiKikan jumlah pemuda dan orang dewasa yang memiliki keterampilan yang relevan, termasuk keterampilan teknik dan kejuruan, untuk pekerjaan yang layak dan kewirausahaan. 87,16 90,59 94,95 96,28 57,82 62,88 70,39 76,5 0 20 40 60 80 100 120 2019 2020 2021 2022 Persentase Tahun Proporsi Penduduk Remaja dan Dewasa dgn Keterampilan Teknologi Informasi dan Komunikasi Remaja (15-24 th) Dewasa (15-59 th) RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 36 - Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 15 Persentase Angka Melek Aksara Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Persentase angka melek aksara/huruf (AMH) penduduk umur 15 tahun ke atas adalah perbandingan jumlah penduduk berumur 15 tahun yang dapat membaca dan menulis kalimat sederhana dengan huruf latin dan atau huruf lainnya, terhadap jumlah penduduk umur 15 tahun ke atas. Angka melek aksara di Kalimantan Selatan pada tahun 2022 mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun 2021. Naik menjadi 98,36 persen pada tahun 2022, setelah sebelumnya mencapai 98,27 persen pada tahun 2021. Meskipun kenaikannya tidak signiKikan, hendaknya momentum kenaikan ini terus berlanjut dalam rangka mengentaskan buta aksara. 2.5 Mencapai Kesetaraan Gender dan Memberdayakan Kaum Perempuan Kesetaraan gender tidak hanya merupakan hak asasi manusia yang mendasar, namun merupakan dasar penting bagi dunia yang damai, sejahtera, dan berkelanjutan. Tujuan 5 memliki maksud untuk meningkatkan pemberdayaan kaum perempuan dalam mengembangkan bakat dan potensinya sehingga mereka memiliki kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki. Hal ini berarti, diskriminasi dan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan harus dihilangkan. Selain itu, pembangunan yang adil dan berkelanjutan harus menjamin akses perempuan dan anak perempuan terhadap pendidikan, perawatan kesehatan, pekerjaan yang layak, bermasyarakat, serta memiliki hak membuat keputusan dalam bidang politik. 98,5 98,45 98,27 98,36 2019 2020 2021 2022 Persentase Angka Melek Aksara Penduduk Usia >15 th RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 37 - Konsep kesetaraan gender atau dapat disebut sebagai kesetaraan antara laki-laki dan perempuan mempunyai makna adanya keadilan dalam hal pemenuhan hak-hak, kesempatan dan perlakuan antara laki-laki dan perempuan untuk semua kelompok umur dalam segala bidang kehidupan. Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 16 Proporsi Perempuan Umur 20-24 Tahun yang Berstatus Kawin atau Berstatus Hidup Bersama Sebelum Umur 18 Tahun di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Proporsi perempuan berumur 20-24 tahun yang berstatus kawin atau berstatus hidup bersama sebelum umur 18 tahun di Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2022 turun menjadi 10,53 persen dibandingkan tahun 2021 (15,30 persen). Angka tersebut juga lebih rendah jika dibandingkan tahun 2019 (21,18 persen). Indikator ini sebagai salah satu dasar pengambilan kebijakan untuk perlindungan anak dari perkawinan usia dini dan pengendalian jumlah penduduk. 21,18 16,24 15,3 10,53 0 5 10 15 20 25 2019 2020 2021 2022 Persentase Tahun Proporsi Perempuan Umur 20-24 Th yg Kawin/Hidup Bersama Sebelum Umur 18 Th RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 38 - Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 17 Proporsi Perempuan Yang Berada di Posisi Manajerial di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Jumlah perempuan sebagai tenaga manager per 100 tenaga manager pada tahun 2022 di Kalimantan Selatan menurun dibandingkan tahun 2021, yang semula sebesar 28,48 persen pada tahun 2021 menjadi 27,07 persen pada 2022. Namun jika dibandingkan dengan tahun 2019, capaian pada tahun 2022 masih lebih besar yang menunjukkan semakin banyak perempuan yang berpartisipasi dan turut mendapat kesempatan dalam jabatan kepemimpinan. Tabel 2. 6 Jumlah Anggota DPRD Menurut Jenis Kelamin di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2021 (orang) No. Kabupaten/Kota Laki-laki Perempuan Jumlah
1.Tanah Laut 26 9 35
2.Kotabaru 27 8 35
3.Banjar 31 14 45
4.Barito Kuala 27 8 35
5.Tapin 23 2 25
6.Hulu Sungai Selatan 28 2 30
7.Hulu Sungai Tengah 24 6 30
8.Hulu Sungai Utara 23 7 30
9.Tabalong 22 7 29
10.Tanah Bumbu 29 5 34
11.Balangan 21 3 24
12.Banjarmasin 34 11 45
13.Banjarbaru 26 4 30 Kalimantan Selatan 44 11 55 Sumber: Kalsel Dalam Angka 2023, BPS Prov. Kalsel 26,58 29,27 28,48 27,07 25 25,5 26 26,5 27 27,5 28 28,5 29 29,5 2019 2020 2021 2022 Persentase Tahun Proporsi Perempuan yg Berada di Posisi Manajerial RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 39 - Tabel 2. 7 Jumlah PNS yang Bekerja Pada Instansi Daerah Menurut Jenis Kelamin di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2021 (orang) No. Kab/Kota/Prov 2021 2022 Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
1.Tanah Laut 2.047 2.787 1.969 2.787
2.Kotabaru 2.163 2.057 2.056 2.013
3.Banjar 2.597 3.695 2.514 3.749
4.Barito Kuala 2.247 2.363 2.161 2.423
5.Tapin 1.680 1.992 1.593 1.932
6.Hulu Sungai Selatan 1.830 2.282 1.812 2.373
7.Hulu Sungai Tengah 1.710 2.114 1.567 1.991
8.Hulu Sungai Utara 1.690 2.187 1.568 2.098
9.Tabalong 1.901 2.393 1.763 2.332
10.Tanah Bumbu 1.961 2.137 1.871 2.109
11.Balangan 1.450 1.469 1.409 1.512
12.Banjarmasin 1.754 3.266 1.659 3.149
13.Banjarbaru 1.252 2.421 1.288 2.502
14.Kalimantan Selatan 15.861 14.022 15.809 14.227 Total 40.143 45.185 40.143 45.185 Sumber: Kalsel Dalam Angka 2023, BPS Prov. Kalsel 2.6 Pengelolaan Air Bersih dan Sanitasi Layak Air bersih dan sanitasi layak adalah kebutuhan dasar manusia. Salah satu poin dalam tujuan pembangunan berkelanjutan pada sektor lingkungan hidup adalah memastikan masyarakat mencapai akses universal air bersih dan sanitasi. Sekjen PBB menetapkan 27 Panel Tingkat Tinggi pada bulan Juli 2012. Panel Tingkat Tinggi merupakan kemitraan global yang bertujuan untuk memberantas kemiskinan dan mengubah perekonomian melalui pembangunan berkelanjutan. Fokus utamanya ada pada ketersediaan pangan, air bersih, dan energi yang merupakan dasar dari kehidupan. Perubahan yang paling penting dalam konsumsi berkelanjutan dan produksi akan didorong oleh teknologi, inovasi, desain produk, pedoman kebijakan yang terperinci, pendidikan, dan perubahan perilaku. Panel mengusulkan dua belas Universal Goals dan Nasional Target. Target tersebut menyerukan pada negara-negara untuk “Mencapai universal akses dalam sektor air minum dan sanitasi” yang diharapkan dapat tercapai pada tahun 2030. RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 40 - Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 18 Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Fasilitas Cuci Tangan dengan Sabun dan Air di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 19 Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Akses Air Minum Layak di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2020 – 2022 Akses air minum layak adalah jika sumber air minum utama yang digunakan rumah tangga adalah leding, air terlindungi dan air hujan. Air terlindungi mencakup sumur bor/pompa, sumur terlindung dan mata air terlindung. Bagi rumah tangga yang menggunakan sumber air minum berupa air kemasan, maka rumah tangga dikategorikan memiliki akses air minum 85,39 86,7 87,16 86,37 84,5 85 85,5 86 86,5 87 87,5 2019 2020 2021 2022 Persentase Tahun Proporsi Rumah Tangga yg Memiliki Fasilitas Cuci Tangan dgn Sabun dan Air 70,36 76,4 76,18 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 2020 2021 2022 Persentase Tahun Proporsi Rumah Tangga yg Memiliki Akses Air Minum Layak RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 41 - layak jika sumber air untuk mandi/cuci berasal dari leding, sumur bor/pompa, sumur terlindung, mata air terlindung, dan air hujan. Hingga tahun 2022, masih terdapat sekitar 23,82 persen rumah tangga di Provinsi Kalimantan Selatan yang belum memiliki akses ke layanan sumber air minum layak. Selain itu, sebanyak 13,63 persen populasi Kalimantan Selatan pada tahun 2022 masih belum memiliki fasilitas cuci tangan dengan sabun dan air. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun harus dibangun mulai dari tempat tinggal. Terlebih lagi ketika pandemi Covid-19 melanda, kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air yang bersih sangat digalakkan. 2.7 Menjamin Akses Energi Yang Terjangkau, Andal, Berkelanjutan, dan Modern Pembangunan ekonomi yang inklusif adalah cara paling efektif untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan. Tetapi sebagian besar kegiatan ekonomi mustahil dilakukan tanpa tersedianya energi modern yang cukup, handal, dan memiliki harga yang kompetitif. Energi dan cara menggunakannya harus eKisien, berkelanjutan dan sebisa mungkin terbarukan. Dalam 20 tahun terakhir, beberapa negara telah melakukan langkah besar dalam mengurangi intensitas energi. Apabila semua teknologi eKisiensi energi yang tersedia saat ini diterapkan, konsumsi energi secara signiKikan bisa dipangkas menjadi sekitar sepertiga. Namun hanya sebagian kecil dari potensi ini yang terealisasi. Melalui kombinasi beberapa teknologi eKisiensi energi, desain bangunan yang baik, dan teknologi atap terbarukan yang baru, gedung zero net energy sudah bisa dibangun. Dalam banyak kasus, gedung-gedung tersebut menghasilkan tenaga matahari yang dialirkan ke dalam jaringan untuk dipakai pihak lain. Tentunya selain eKisiensi energi, reformasi kebijakan dan penghapusan subsidi, perlu juga memastikan bahwa negara-negara beralih dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan. Rasio elektriKikasi diperoleh dengan cara membagi jumlah pelanggan rumah tangga baik dari PLN maupun non-PLN dengan total rumah tangga dikali dengan 100 persen. Rasio penggunaan gas rumah tangga merupakan indicator yang berguna untuk melihat proporsi rumah tangga yang telah memanfaatkan gas sebagai bahan bakar untuk memasak dibanding total rumah tangga secara keseluruhan. RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 42 - Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 20 Rasio Elektriaikasi dan Penggunaan Gas Rumah Tangga di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Pada periode 2019-2022, rasio elektriKikasi di Kalimantan Selatan mengalami peningkatan dari 99,48 persen di tahun 2019, naik menjadi 99,99 persen di periode 2020-2022. Sementara itu, rasio penggunaan gas rumah tangga di Kalimantan Selatan pada tahun 2022 (90,16 persen) mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2021 (85,63 persen), dan juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2019 (80,08 persen). 2.8 Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan Pola pertumbuhan ekonomi saat ini sangat tergantung pada SDA yang melimpah dan upah tenaga kerja yang murah. Sektor pariwisata diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja dan mempromosikan budaya dan produk lokal sebagai salah satu solusi dalam mencapai pola pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif (inclusive growth), ramah lingkungan, dan berkelanjutan (green growth). Pertumbuhan yang inklusif dideKinisikan sebagai pertumbuhan yang menjamin akses yang adil bagi seluruh anggota masyarakat terhadap peluang ekonomi yang tercipta, sedangkan pertumbuhan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan adalah strategi pertumbuhan yang memperhatikan keseimbangan lingkungan dan ekosistem dalam jangka panjang. 99,48 99,99 99,99 99,99 80,08 82,68 85,63 90,16 0 20 40 60 80 100 120 2019 2020 2021 2022 Rasio Tahun Rasio Elektrifikasi dan Penggunaan Gas Rumah Tangga Elektrifikasi Gas Rumah Tangga RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 43 - Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 21 Rasio Elektriaikasi dan Penggunaan Gas Rumah Tangga di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Perubahan Indonesia sebagai Middle-Upper Country menjadi Middle- Lower oleh Bank Dunia pada Juli 2021 merupakan imbas dari pandemi Covid-
19.Di Provinsi Kalimantan Selatan sendiri, PDRB per kapita pada periode 2019-2022 mengalami peningkatan. Pada tahun 2019, PDRB per kapita Kalimantan Selatan mencapai 42,8 juta rupiah atas dasar harga berlaku (ADHB). Pada tahun 2020, walaupun terjadi pandemi Covid-19 yang juga turut berimbas pada perekonomian di Kalimantan Selatan pada tahun tersebut, PDRB per kapita (ADHB) masih menunjukkan adanya peningkatan yang berlanjut pada periode 2021-2022 dimana perekonomian perlahan sudah mulai bangkit. Akan tetapi, secara riil, terlihat penurunan laju pertumbuhan PDRB per kapita dalam periode 2019-2020 dikarenakan pandemi Covid-19 lalu meningkat kembali pada tahun 2022 melebihi capaian 2019. PDRB per tenaga kerja di Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2022 tumbuh sebesar 5,97 persen, setelah tahun sebelumnya (2020) sempat mengalami kontraksi. Hal tersebut mengindikasikan terjadinya peningkatan tingkat produktivitas tenaga kerja dalam menghasilkan nilai tambah ekonomi di Kalimantan Selatan pada tahun 2022, yang juga sebagai tanda pemulihan dari pandemi Covid-19. 3,73 -3,58 2,2 5,97 -6 -4 -2 0 2 4 6 8 2019 2020 2021 2022Persentase Tahun Laju Pertumbuhan PDRB per Tenaga Kerja RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 44 - Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 22 PDRB ADHB per Kapita per Tahun (ribu rupiah) dan Laju Pertumbuhan PDRB per Kapita (persen) di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 23 Proporsi Tenaga Kerja Informal di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Pekerja informal adalah penduduk yang bekerja dengan status pekerjaan berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tak dibayar, pekerja bebas, dan pekerja keluarga/tak dibayar. Proporsi penduduk yang memiliki pekerjaan pada kegiatan informal dapat digunakan sebagai proksi proporsi pekerja yang tidak memiliki kondisi kerja yang terlindungi. 42823,56 44100,79 47998,87 60079,32 3,26 1,9 1,98 3,61 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 2019 2020 2021 2022 PersentaseRibu Rupiah Tahun PDRB ADHB per Kapita dan Laju Pertumbuhannya PDRB per Kapita (ADHB) Laju Pertumbuhan 54 55 56 57 58 59 60 61 62 2019 2020 2021 2022 Persentase Tahun Proporsi Tenaga Kerja Informal RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 45 - Hingga tahun 2022, persentase tenaga kerja informal di Kalimantan Selatan masih relatif tinggi, yaitu sebesar 57,30 persen. Angka tersebut menurun dari keadaan tahun 2021 yaitu sebesar 59,63 persen. Jika dibandingkan dengan tahun 2019, proporsi tenaga kerja informal pada tahun 2022 masih lebih tinggi. Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 24 Upah Rata-rata per Jam Pekerja (Ribu Rupiah/Jam) di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Upah rata-rata per jam kerja merupakan imbalan atau penghasilan rata- rata yang diperoleh per jam baik berupa uang maupun barang. Upah dapat menggambarkan kualitas pekerjaan dan kondisi kehidupan seseorang. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir (2019-2021), upah rata-rata per jam pekerja di Provinsi Kalimantan Selatan mengalami kenaikan setiap tahunnya. Namun mengalami sedikit penurunan pada tahun 2022. 16517 18863 18874 18661 15000 15500 16000 16500 17000 17500 18000 18500 19000 19500 2019 2020 2021 2022 Ribu Rupiah/Jam Tahun Upah Rata-rata per Jam Pekerja RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 46 - Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 25 Persentase Penduduk Usia Muda (15-24 Tahun) yang Sedang Tidak Sekolah, Bekerja, atau Mengikuti Pelatihan di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Penduduk usia muda yang tidak sekolah, bekerja, atau mengikuti pelatihan (youth not in education, employment or training atau NEET) adalah anak muda yang melakukan kegiatan lain di luar sekolah, bekerja atau pelatihan. Hingga tahun 2022, terdapat sebanyak 23,57 persen penduduk usia muda di Kalimantan Selatan yang menyandang gelar NEET. Artinya, sekitar 1 dari 4 penduduk usia muda di Kalimantan Selatan merupakan seorang NEET, alias tidak terberdayakan. 22,18 21,16 20,54 23,57 19 19,5 20 20,5 21 21,5 22 22,5 23 23,5 24 2019 2020 2021 2022 Persentase Tahun Persentase Penduduk Usia Muda (15-24 th) yg Sedang Tidak Sekolah, Bekerja, atau Mengikuti Pelatihan RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 47 - Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 26 Tingkat Pengangguran Terbuka dan Tingkat Setengah Pengangguran di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Pandemi Covid-19 menjadi penyebab utama meningkatnya angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kalimantan Selatan pada tahun 2020 dan 2021 jika dibandingkan dengan periode beberapa tahun ke belakang. Pada tahun 2022, jika angka pengangguran terbuka menurun, begitu pula angka setengah pengangguran yang juga turun. Meredanya pandemi Covid-19 membuat roda perekonomian kembali berjalan normal dan penyerapan tenaga kerja turut mengalami peningkatan. Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 27 Jumlah Perjalanan Wisatawan Nusantara di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 6,67 9,38 8,28 6,76 4,18 4,74 4,95 4,74 0 2 4 6 8 10 2019 2020 2021 2022 Persentase Tahun Tingkat Pengangguran Terbuka dan Tingkat Setengah Pengangguran Setengah Pengangguran Pengangguran Terbuka 4.399.364 4.506.915 5.716.978 - 1.000.000 2.000.000 3.000.000 4.000.000 5.000.000 6.000.000 7.000.000 2020 2021 2022 Orang Tahun Jumlah Perjalanan Wisatawan Nusantara RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 48 - Sejak tahun 2019, metode penghitungan jumlah kunjungan wisatawan nusantara menggunakan Metode Mobile Positioning Data (MPD). Dari data tersebut, diperoleh jumlah perjalanan wisatawan nusantara di Provinsi Kalimantan Selatan pada 2022 mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Meredanya pandemi Covid-19 dan pencabutan pembatasan mobilitas penduduk serta dibukanya lokasi-lokasi wisata, turut berdampak pada meningkatnya jumlah perjalanan wisatawan nusantara. 2.9 Membangun Infrastruktur Tangguh, Meningkatkan Industri Inklusif dan Berkelanjutan, Serta Mendorong Inovasi Pembangunan berkelanjutan tujuan 9 mengandung tiga aspek penting dari pembangunan berkelanjutan yaitu infrastruktur, industrialisasi, dan inovasi. Infrastruktur menyediakan fasilitas Kisik dasar yang penting untuk bisnis dan masyarakat; industrialisasi mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, sehingga mengurangi ketimpangan pendapatan; dan inovasi memperluas kemampuan teknologi sektor industri dan mengarah pada pengembangan keterampilan baru. Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 28 Proporsi Nilai Tambah Sektor Industri Pengolahan terhadap PDRB (ADHK) di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Industri pengolahan atau industri manufaktur secara luas dideKinisikan sebagai transformasi bahan Kisik atau kimia menjadi produk baru, terlepas dari proses (dengan mesin atau dengan tangan), lokasi (pabrik atau rumah), atau metode penjualan (grosir atau eceran). 12,69 12,45 12,76 12,54 12,25 12,3 12,35 12,4 12,45 12,5 12,55 12,6 12,65 12,7 12,75 12,8 2019 2020 2021 2022 Persentase Tahun Proporsi Nilai Tambah Sektor Industri Pengolahan thd PDRB (ADHK) RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 49 - Kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDRB Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2022 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2021, namun masih lebih tinggi daripada capaian tahun 2020. Proporsi nilai tambah sektor industri pengolahan terhadap PDRB Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2022 hanya sebesar 12,54 persen. Ini berarti, output dari industri pengolahan belum mampu berkontribusi secara maksimal dalam mendukung perekonomian Kalimantan Selatan, mengingat masih sangat bergantungnya PDRB Provinsi Kalimantan Selatan dengan sektor pertambangan, khususnya batubara. Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 29 Laju Pertumbuhan PDRB Industri Pengolahan di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Laju pertumbuhan PDRB industri pengolahan di Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2022 sebesar 3,31 persen setelah pada tahun 2020 terkontraksi sebesar 3,63 persen imbas pandemi Covid-19. Sebelumnya pada tahun 2019, sektor ini juga mengalami perlambatan, dengan laju pertumbuhan sebesar 1,72 persen. Pada tahun 2022, laju pertumbuhannya sedikit melambat dibandingkan capaian 2021, dimana menurun menjadi 3,31 persen. 2.10 Mengurangi Kesenjangan Intra dan Antarnegara Tujuan 10 bertujuan untuk mengurangi kesenjangan pendapatan berdasarkan usia, jenis kelamin, disabilitas, ras, etnis, asal, agama, status ekonomi atau status lainnya di suatu negara. Tujuan ini juga membahas kesenjangan antar negara, termasuk yang terkait dengan perwakilan, migrasi dan bantuan pembangunan. Hal ini melibatkan perbaikan peraturan dan 1,72 -3,63 6,01 3,31 -6 -4 -2 0 2 4 6 8 2019 2020 2021 2022Persentase Tahun Laju Pertumbuhan PDRB Industri Pengolahan RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 50 - pemantauan pasar keuangan dan institusi, mendorong bantuan pembangunan dan investasi langsung asing ke daerah-daerah di mana kebutuhannya paling besar. Tujuan 10 juga membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan representasi dari wilayah-wilayah berkembang dalam pengambilan keputusan dan bantuan pembangunan oleh pemangku kepentingan dan berbagai pihak terkait. Kesenjangan yang terjadi akan mengancam pembangunan dalam jangka panjang, baik dari sisi sosial maupun ekonomi. Kesenjangan juga akan mengganggu penurunan kemiskinan dan apabila dibiarkan akan menimbulkan tindak kriminal dan kerusakan lingkungan. Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 30 Koeaisien Gini dan Persentase Penduduk Miskin di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 4,55 4,38 4,83 4,49 0,334 0,332 0,33 0,317 0,305 0,31 0,315 0,32 0,325 0,33 0,335 0,34 4,1 4,2 4,3 4,4 4,5 4,6 4,7 4,8 4,9 2019 2020 2021 2022 Indeks Persentase Tahun Koefisien Gini dan Persentase Penduduk Miskin Persentase Penduduk Miskin Koefisien Gini RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 51 - Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 31 Proporsi Penduduk yang Hidup di Bawah 50 Persen dari Median Pendapatan di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Pada periode tahun 2019-2022, koeKisien gini dan persentase penduduk miskin menunjukkan tren yang berbeda. Di samping ketimpangan yang semakin menurun, angka kemiskinan yang Kluktuatif perlu diatasi dengan mengadopsi kebijakan-kebijakan yang tepat untuk memberdayakan penduduk dengan pendapatan terbawah. Di sisi lain, proporsi penduduk yang hidup di bawah 50 persen dari median pendapatan di Provinsi Kalimantan Selatan mengalami tren penurunan pada periode 2019-2022. Penurunan pada indikator ini mengindikasikan bahwa penduduk pada kelompok pendapatan rendah mengalami peningkatan tingkat kesejahteraan. 2.11 Kota dan Permukiman Berkelanjutan Saat ini, lebih dari setengah populasi dunia tinggal di kota. Pada tahun 2030, diproyeksikan bahwa 6 dari 10 orang merupakan penduduk kota. Meskipun banyak tantangan perencanaan, kota menawarkan ekonomi yang lebih eKisien dari skala pada berbagai tingkatan, termasuk penyediaan barang, jasa dan transportasi. Dengan suara, perencanaan dan manajemen risiko- informasi, kota bisa menjadi inkubator untuk inovasi, pertumbuhan, dan driver dari pembangunan berkelanjutan. 4,12 3,43 3,24 2,44 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 4,5 2019 2020 2021 2022 Persentase Tahun Proporsi Penduduk yg Hidup <50% dari Median Pendapatan RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 52 - Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 32 Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap Hunian Layak dan Terjangkau di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2022 Pada tahun 2022, setidaknya masih terdapat 2 dari 5 rumah tangga di Kalimantan Selatan yang masih belum memiliki akses terhadap hunian layak dan terjangkau. Hunian layak huni dideKinisikan sebagai rumah/hunian yang memenuhi persyaratan keselamatan, bangunan, dan kecukupan minimum luas bangunan serta kesehatan penghuninya. Derajat kelayakan rumah tempat tinggal diukur dari dua aspek yaitu (1) kualitas Kisik rumah dan (2) kualitas fasilitas rumah. Kualitas Kisik rumah tempat tinggal diukur dengan 3 variabel, yaitu: jenis atap terluas, jenis dinding terluas, dan jenis lantai terluas; sedangkan kualitas fasilitas rumah diukur dengan tiga variabel, yaitu: luas lantai per kapita, sumber penerangan, dan ketersediaan fasilitas tempat buang air besar (WC). 55,96% 44,04% Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap Hunian Layak dan Terjangkau Ya Tidak RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 53 - Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 33 Proporsi Penduduk Terlayani Transportasi Publik di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2020 Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 34 Proporsi Populasi Yang Mendapatkan Akses Yang Nyaman Pada Transportasi Publik di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2020 Akses nyaman pada transportasi publik merupakan salah satu syarat pada pembangunan perkotaan yang inklusif. Pada tahun 2020, baru 52,68 persen rumah tangga yang memiliki akses nyaman ke transportasi umum, yaitu rumah tangga dengan jarak paling jauh 0,5 km ke transportasi umum. Pada tahun yang sama, hanya terdapat sebanyak 1,60 persen penduduk 1,60% 98,40% Proporsi Penduduk Terlayani Transportasi Publik Ya Tidak 52,68% 47,32% Proporsi Populasi Yang Mendapatkan Akses Yang Nyaman Pada Transportasi Publik Ya Tidak RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 54 - berumur 10 tahun ke atas yang menggunakan kendaraan umum dengan rute tertentu. 2.12 Pola Produksi dan Konsumsi yang Berkelanjutan Permasalahan lingkungan yang terus muncul hingga saat ini, tidak terlepas dari pola produksi dan konsumsi yang tidak bertanggung jawab. Untuk itu diperlukan komitmen perubahan pada produsen dan konsumen melalui pemanfaatan sumberdaya secara eKisien. Pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan merupakan upaya perwujudan perubahan secara terpadu dan sistematis dari pola sebelumnya yang tidak ramah lingkungan dan tidak berkelanjutan oleh semua pemangku kepentingan. Diharapkan pula pola produksi dan konsumsi berkelanjutan dapat memberikan multimanfaat penting, berupa perubahan pola konsumsi masyarakat yang bertanggungjawab, eKisien, dan ramah lingkungan. 2.13 Penanganan Perubahan Iklim dan Penanggulangan Kebencanaan Indonesia sebagai negara kepulauan sangat rentan terkena bencana- bencana yang terkait dengan perubahan iklim. Mengingat perubahan iklim berdampak terhadap banyak sektor, maka dibutuhkan penanganan yang menyeluruh dan koordinasi yang baik antar sektor. Dengan kondisi sebagai negara berkembang, kemampuan Indonesia dalam melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim belum sebaik negara-negara maju. Dikhawatirkan pembangunan yang sedang dilaksanakan pemerintah bisa terhambat karena dampak perubahan iklim tersebut. Untuk itu, pada tujuan ini diharapkan pemerintah mengambil tindakan cepat dalam mengatasi perubahan iklim dan dampak yang terjadi dengan memperkuat kapasitas ketahanan dan adaptasi terhadap bahaya terkait iklim ke dalam kebijakan, strategi dan perencanaan nasional. Selain itu meningkatkan pendidikan, menumbuhkan kesadaran, kapasitas manusia, kelembagaan terkait mitigasi, adaptasi, pengurangan dampak dan peringatan dini perubahan iklim. 2.14 Pelestarian dan Pemanfaatan Ekosistem Lautan Samudera dunia (suhu, unsur kimia, arus, dan kehidupan di dalamnya) adalah penggerak sistem global yang membuat bumi bisa dihuni oleh manusia. Cara kita mengelola sumber daya yang vital ini sangat penting bagi kehidupan manusia secara keseluruhan, dan untuk mengimbangi dampak dari perubahan iklim. Lebih dari 3 miliar orang menggantungkan mata pencaharian pada laut dan keanekaragaman hayati pantai. Tetapi saat ini kita melihat bahwa 30 persen simpanan ikan dunia mengalami eksploitasi berlebih, jauh di bawah level di mana mereka bisa memproduksi hasil yang berkelanjutan. Samudera RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 55 - juga menyerap sekitar 30 persen karbon dioksida yang dihasilkan manusia, dan kita melihat kenaikan pengasaman samudera hingga 26 persen sejak dimulainya revolusi industri. Polusi laut yang mayoritas bersumber dari darat telah mencapai level yang mengkhawatirkan, dengan rata-rata 13.000 bagian sampah plastik ditemukan di setiap kilometer persegi lautan. SDGs menciptakan kerangka kerja berkelanjutan untuk mengatur dan melindungi ekosistem laut dan pantai dari polusi yang berasal dari darat, juga untuk menyadarkan akan dampak pengasaman samudera. Memperkuat pelindungan dan penggunaan sumber daya laut yang berkelanjutan melalui hukum internasional juga akan membantu mengatasi tantangan yang dihadapi samudera kita. 2.15 Pelestarian dan Pemanfaatan Berkelanjutan Ekosistem Daratan Kehidupan manusia bergantung pada tanah sama seperti kita bergantung pada laut untuk bahan makanan dan mata pencaharian. Tumbuhan menyediakan 80 persen bahan makanan untuk manusia, dan kita bergantung pada pertanian sebagai sumber penting perekonomian dan alat pembangunan. Hutan meliputi 30 persen permukaan bumi, dan merupakan habitat bagi jutaan spesies serta menjadi sumber air dan udara bersih, dan juga sangat penting untuk melawan perubahan iklim. Belum pernah kita melihat penurunan kualitas tanah seperti saat ini, dan hilangnya tanah yang bisa ditanami mencapai 30 hingga 35 kali jumlah rata-rata dalam sejarah. Kemarau panjang dan perubahan lahan menjadi gurun juga meningkat tiap tahun, mencapai 12 juta hektar dan memengaruhi komunitas miskin di seluruh dunia. Dari 8.300 hewan yang diketahui, 8 persen telah punah dan 22 persen berada di ambang kepunahan. SDG berusaha melindungi dan memperbaiki penggunaan ekosistem darat seperti hutan, rawa, lahan, dan gunung pada
2021.Mempromosikan pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan menghentikan penebangan hutan juga sangat penting untuk menghentikan dampak perubahan iklim. Harus segera dilakukan tindakan untuk mengurangi hilangnya habitat alami dan keanekaragaman hayati yang merupakan bagian dari warisan kita bersama. 2.16 Menciptakan Perdamaian, Menyediakan Akses Keadilan, dan Membangun Kelembagaan yang Tangguh Perdamaian, stabilitas, hak-hak asasi manusia, dan pemerintahan efektif, transparan dan akuntabel berdasarkan peraturan hukum adalah komponen penting dalam pembangunan berkelanjutan. Akan tetapi masih ada wilayah yang menghadapi konKlik dan kekerasan. KonKlik dan kekerasan tersebut menghambat pembangunan wilayah. Tidak hanya itu, perlindungan terhadap korban kekerasan seksual, tindak kejahatan, dan eksploitasi juga RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 56 - perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, tujuan mendorong perdamaian dan keadilan menjadi salah satu tujuan pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 35 Keterlibatan Perempuan di Parlemen (DPR dan DPRD) di Indonesia dan Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Keterwakilan perempuan sebagai perwakilan rakyat menggambarnya adanya pengambilan keputusan yang inklusif dan partisipatif. Keterwakilan perempuan di DPRD Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2022 mencapai 20,00 persen. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan dengan keterwakilan perempuan di DPR yang mencapai 21,74 persen. Jika dilihat trennya, angka nasional terlihat terus meningkat lalu menurun di 2022 sedangkan Kalimantan Selatan stabil di angka 20 persen. 20,00 20,00 20,00 20,00 20,52 21,09 21,89 21,74 19,00 19,50 20,00 20,50 21,00 21,50 22,00 22,50 2019 2020 2021 2022 Persentase Tahun Keterlibatan Perempuan di Parlemen (DPR dan DPRD) Kalimantan Selatan Nasional RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 57 - Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 36 Persentase Anak Yang Memiliki Akta Kelahiran dan Proporsi Anak Umur di Bawah 5 Tahun yang Kelahirannya Dicatat Oleh Lembaga Pencatatan Sipil di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 – 2022 Pencatatan kelahiran anak adalah langkah awal dalam menjamin pengakuan anak di hadapan hukum, melindungi hak-haknya, dan memastikan bahwa kelalaian dalam hak ini tidak terjadi. Secara umum, pencatatan kelahiran anak di Kalimantan Selatan sudah terbilang baik. Akan tetapi setelah meningkat pada periode 2019-2020, kepemilikan akta lahir dan pencatatan di lembaga pencatatan sipil mengalami penurunan pada periode 2020-2021 lalu meningkat kembali di tahun 2022. Pada tahun 2022, anak yang memiliki akta kelahiran sudah mencapai 92,63 persen dan kelahirannya tercatat ada sebanyak 81,75 persen. 2.17 Menguatkan Sarana Pelaksanaan dan Merevitalisasi Kemitraan Global Pembangunan yang berkelanjutan membutuhkan komitmen pada kemitraan dan kerja sama yang kuat. Pada tahun 2021, meningkatkan dukungan pengembangan kapasitas untuk negara berkembang (dalam konteks ini wilayah) untuk meningkatkan secara signiKikan ketersediaan data berkualitas tinggi, tepat waktu dan dapat dipercaya, yang terpilah berdasarkan pendapatan, gender, umur, ras, etnis, status migrasi, difabilitas, lokasi geograKis, dan karakteristik lainnya yang relevan dengan konteks nasional. 90,28 92,19 91,49 92,63 78,89 81,75 78,64 81,75 70 75 80 85 90 95 2019 2020 2021 2022 Persentase Tahun Persentase Anak yg Memiliki Akta Kelahiran dan Proporsi Anak Umur <5 th yg Kelahirannya Dicatat Lembaga Pencatatan Sipil Memiliki Akte Lahir Dicatat Lembaga Pencatatan Sipil RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 58 - Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 37 Penduduk Berusia 5 Tahun ke Atas yang Mengakses Internet di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2022 Di tengah pandemi Covid-19, peran internet kian hari kian esensial untuk keperluan sehari-hari. Sekitar 29.74 persen penduduk berusia 5 tahun ke atas di Kalimantan Selatan pada tahun 2022 belum mendapatkan akses ke internet. Padahal, internet di sini mencakup akses ringan keseharian seperti WhatsApp dan Facebook. Dibandingkan antar jenis kelamin, lebih banyak penduduk laki-laki yang mampu mengakses internet dibandingkan dengan penduduk perempuan. Pada tahun 2022, sebanyak 73,77 persen penduduk laki-laki berusia 5 tahun ke atas bisa mengakses internet. Sementara untuk penduduk perempuan sebanyak 66,69 persen. 73,77 66,69 70,26 26,23 33,31 29,74 0 20 40 60 80 100 120 Laki-laki Perempuan Total Persentase Tahun Penduduk Usia >5 Tahun yg Mengakses Internet Ya Tidak RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 59 - Sumber: Indikator TPB Prov. Kalsel 2022, BPS Prov. Kalsel Gambar 2. 38 Persentase Konsumen Badan Pusat Statistik (BPS) yang Merasa Puas dengan Kualitas Data Statistik di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2021 – 2022 Sejalan dengan visi, yakni “Penyedia Data Statistik Berkualitas untuk Indonesia Maju”, BPS berupaya untuk secara terus menerus menyajikan data statistik berkualitas untuk digunakan baik oleh pemerintah dalam perencanaan pembangunan maupun oleh pihak swasta, seperti perusahaan, pelajar, dan peneliti. Kepuasan pengguna data menjadi evaluasi BPS untuk semakin meningkatkan tingkat pelayanan pada konsumen. Berdasarkan hasil Survei Kebutuhan Data, kualitas data yang diperoleh konsumen data BPS Provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan kenaikan pada semua aspek penyusunnya. Bahkan pada 2022, semua aspek mencapai kepuasan 100 persen. 97 97,5 98 98,5 99 99,5 100 100,5 2021 2022 Persentase Tahun Persentase Konsumen BPS yang Merasa Puas dgn Kualitas Data Statistik Kelengkapan Data Akurasi data Kemutakhiran Data RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 60 -
1.Pada tahun 2030, mengentaskan kemiskinan ekstrim bagi semua orang yang saat ini berpendapatan kurang dari 1,25 dolar Amerika per hari
2.Pada tahun 2030, mengurangi setidaknya setengah proporsi laki-laki, perempuan dan anak-anak dari semua usia, yang hidup dalam kemiskinan di semua dimensi, sesuai dengan deKinisi nasional
3.Menerapkan secara nasional sistem dan upaya perlindungan sosial yang tepat bagi semua, termasuk kelompok yang paling miskin, dan pada tahun 2030 mencapai cakupan substansial bagi kelompok miskin dan rentan
4.Pada tahun 2030, menjamin bahwa semua laki-laki dan perempuan, khususnya masyarakat miskin dan rentan, memiliki hak yang sama terhadap sumber daya ekonomi, serta akses terhadap pelayanan dasar, kepemilikan dan kontrol atas tanah dan bentuk kepemilikan lain, warisan, sumber daya alam, teknologi baru, dan jasa keuangan yang tepat, termasuk keuangan mikro
5.Pada tahun 2030, membangun ketahanan masyarakat miskin dan mereka yang berada dalam kondisi rentan, dan mengurangi kerentanan mereka terhadap kejadian ekstrim terkait iklim dan guncangan ekonomi, sosial, lingkungan, dan bencana
6.Menjamin mobilisasi yang signiKikan terkait sumber daya dari berbagai sumber, termasuk melalui kerjasama pembangunan yang lebih baik, untuk menyediakan sarana yang memadai dan terjangkau bagi negara berkembang, khususnya negara kurang berkembang untuk melaksanakan program dan kebijakan mengakhiri kemiskinan di semua dimensi RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 61 - Pencapaian target-target tersebut diperoleh melalui pemenuhan indikator-indikator pada kebijakan, program, dan kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah baik pusat, provinsi maupun kabupaten/kota yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan, serta aktor-aktor pembangunan non pemerintah lainnya, seperti akademisi, pelaku usaha, organisasi masyarakat, dan lain sebagainya. Perwujudan tujuan 1 SDGs melalui upaya pencapaian sasaran dalam RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2021 – 2026, yaitu (1) Menurunnya Pernikahan Anak; (2) Meningkatnya penanganan masalah kesejahteraan sosial; (3) Meningkatnya Akses Pelayanan Infrastruktur Dasar; (4) Meningkatnya Pelayanan Publik; (5) Meningkatnya Kapabilitas Birokrasi dan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Daerah; dan (6) Meningkatnya Kapasitas Penanggulangan Bencana. Strategi yang akan dilakukan dalam mencapai sasaran yang ada, antara lain:
1.Peningkatan pemahaman terhadap resiko perkawinan anak
2.Meningkatkan Koordinasi dan Sinkronisasi Program Pembangunan
3.Pemenuhan infrastruktur dasar perumahan dan permukiman
4.Peningkatan kualitas pengelolaan keuangan daerah
5.Peningkatan akuntabilitas kinerja pemerintah
6.Peningkatan kemampuan mitigasi penanggulangan dan penanganan bencana Berdasarkan strategi-strategi yang ditentukan, maka arah kebijakan yang sesuai dengan tujuan 1 SDGs ditetapkan sebagai berikut:
1.Mengembangkan strategi komunikasi resiko perkawinan anak
2.Pendampingan terhdapa keluarga yang potensial melakukan perkawinan anak
3.Penguatan data dan informasi PPKS
4.Rencana penanganan PPKS terpadu
5.Meningkatkan akses penduduk terhadap air minum
6.Mengembangkan Lingkungan Permukiman Sehat dengan mengurangi tingkat kekumuhan kawasan permukiman
7.Meningkatkan pemenuhan Kebutuhan Rumah Layak Huni bagi Masyarakat terutama masyarakat berpenghasilan rendah (MBR)
8.Meningkatkan pola hubungan lintas sektor dalam penanganan pencapaian infrastruktur dasar permukiman
9.Peningkatan kualitas manajemen pengelolaan keuangan daerah
10.Peningkatan kualitas pelaksanaan rencana pembangunan daerah RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 62 - Adapun sejumlah program yang dilaksanakan SKPD yang berkaitan dengan tujuan 1 SDGs adalah sebagai berikut:
1.Program Peningkatan Kualitas Keluarga
2.Program Pemenuhan Upaya Kesehatan Perorangan dan Upaya Kesehatan Masyarakat
3.Program Pengembangan Perumahan
4.Program Perlindungan dan Jaminan Sosial
5.Program Kawasan Permukiman
6.Program Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
7.Program Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Air Limbah
8.Program Penanganan Bencana
9.Program Penanggulangan Bencana
10.Program Penunjang Urusan Pemerintahan Daerah
11.Program Pengelolaan Keuangan Daerah 3.2 Tujuan 2 Tanpa Kelaparan Tujuan 2 dalam pelaksanaan SDGs adalah menghilangkan kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi yang baik, serta meningkatkan pertanian berkelanjutan. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, Provinsi Kalimantan Selatan menetapkan 7 (tujuh) target yang diukur melalui 18 indikator. Adapun target-target tersebut adalah sebagai berikut:
1.Pada tahun 2030, menghilangkan kelaparan dan menjamin akses bagi semua orang, khususnya orang miskin dan mereka yang berada dalam kondisi rentan, termasuk bayi, terhadap makanan yang aman, bergizi, dan cukup sepanjang tahun
2.Pada tahun 2030, menghilangkan segala bentuk kekurangan gizi, termasuk pada tahun 2025 mencapai target yang disepakati secara internasional untuk anak pendek dan kurus di bawah usia 5 tahun, dan memenuhi kebutuhan gizi remaja perempuan, ibu hamil dan menyusui, serta manula
3.Pada tahun 2030, menggandakan produktivitas pertanian dan pendapatan produsen makanan skala kecil, khususnya perempuan, masyarakat penduduk asli, keluarga petani, penggembala dan nelayan, termasuk melalui akses yang aman dan sama terhadap lahan, sumber daya produktif, dan input lainnya, pengetahuan, jasa keuangan, pasar, dan peluang nilai tambah, dan pekerjaan nonpertanian
4.Pada tahun 2030, menjamin sistem produksi pangan yang berkelanjutan dan menerapkan praktek pertanian tangguh yang RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 63 - meningkatkan produksi dan produktivitas, membantu menjaga ekosistem, memperkuat kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim, cuaca ekstrim, kekeringan, banjir, dan bencana lainnya, serta secara progresif memperbaiki kualitas tanah dan lahan
5.Pada tahun 2020, mengelola keragaman genetik benih, tanaman budidaya dan hewan ternak dan peliharaan dan spesies liar terkait, termasuk melalui bank benih dan tanaman yang dikelola dan dianekaragamkan dengan baik di tingkat nasional, regional dan internasional, serta meningkatkan akses terhadap pembagian keuntungan yang adil dan merata, hasil dari pemanfaatan sumber daya genetik dan pengetahuan tradisional terkait, sebagaimana yang disepakati secara internasional
6.Meningkatkan investasi, termasuk melalui Kerjasama internasional yang kuat, dalam infrastruktur pedesaan, layanan kajian dan perluasan pertanian, pengembangan teknologi dan bank gen untuk tanaman dan ternak, untuk meningkatkan kapasitas produktif pertanian di negara berkembang, khususnya negara kurang berkembang
7.Mengadopsi langkah-langkah untuk menjamin berfungsinya pasar komoditas pangan serta turunannya dengan tepat, dan memfasilitasi pada waktu yang tepat akses terhadap informasi pasar, termasuk informasi cadangan pangan, untuk membantu membatasi volatilitas harga pangan yang ekstrim Perwujudan tujuan 2 SDGs melalui upaya pencapaian sasaran dalam RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2021 – 2026, yaitu (1) Meningkatnya Kualitas Kesehatan Masyarakat; (2) Meningkatnya Nilai Tambah Hasil Industri, Perdagangan, Pertanian, Kehutanan, Perikanan dan Pariwisata; dan (3) Meningkatnya Pendapatan Masyarakat. Strategi yang akan dilakukan dalam mencapai sasaran yang ada, antara lain:
1.Peningkatan promosi Kesehatan Masyarakat
2.Peningkatan produksi pertanian dengan penyediaan dan pengembangan sarana dan prasarana pertanian
3.Pengendalian kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner
4.Peningkatan produksi perikanan tangkap di perairan laut dan air tawar
5.Peningkatan produksi perikanan budidaya di perairan laut dan air tawar
6.Peningkatan diversiKikasi dan ketahanan pangan masyarakat, serta pengembangan UMKM
7.Penanganan kerawanan dan pengawasan keamanan pangan
8.Menjaga Stabilitas harga barang kebutuhan pokok dan barang penting RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 64 -
9.Peningkatan SDM penyuluh pertanian dan kelembagaan ekonomi pertanian
10.Pengembangan Ekspor Berdasarkan strategi-strategi yang ditentukan, maka arah kebijakan yang sesuai dengan tujuan 2 SDGs ditetapkan sebagai berikut:
1.Pengawasan, penataan peredaran sarana - prasarana pertanian
2.Pengendalian dan pengawasan mutu benih dan obat-obatan
3.Pengelolaan sumber daya genetik (SDG) hewan (itik alabio, dan kerbau rawa), tumbuhan dan mikroorganisme
4.Peningkatan penyediaan mutu benih dan bibit
5.Pengembangan dan Pengelolaan Kelapa Sawit berbasis RAD KSB
6.Penjaminan kesehatan hewan
7.Pengawasan pemasukan dan pengeluaran hewan
8.Peningkatan kesejahteraan hewan
9.Peningkatan penangkapan ikan di wilayah laut dan wilayah lainnya lintas kabupaten/kota
10.Peningkatan penerbitan izin usaha perikanan tangkap untuk kapal
11.Peningkatan pengelolaan pelabuhan perikanan
12.Peningkatan izin pengadaan kapal tangkap dan pendaftarannya
13.Peningkatan penerbitan izin usaha perikanan budidaya
14.Peningkatan pengelolaan pembudidayaan ikan di laut
15.Penyediaan infrastruktur pangan
16.Penyediaan dan penyaluran pangan pokok atau pangan lainnya sesuai dengan kebutuhan daerah provinsi dalam rangka stabilisasi pasokan dan harga pangan
17.Penentuan harga minimum daerah untuk pangan lokal yang tidak ditetapkan oleh pemerintah pusat
18.Penurunan desa rawan pangan
19.Pengendalian harga dan ketersediaan barang kebutuhan pokok dan barang penting
20.Pengawasan pupuk dan pestisida
21.Pengembangan kapasitas penyuluh dan penguatan kelembagaan ekonomi petani dalam bentuk korporasi petani berbasis food estate sesuai karakteristik Kalimantan selatan
22.Peningkatan promosi dan misi dagang produk ekspor unggulan Adapun sejumlah program yang dilaksanakan SKPD yang berkaitan dengan tujuan 2 SDGs adalah sebagai berikut:
1.Program Peningkatan DiversiKikasi dan Ketahanan Pangan Masyarakat
2.Program Penanganan Kerawanan Pangan RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 65 -
3.Program Penyediaan dan Pengembangan Sarana Pertanian
4.Program Penyediaan dan Pengembangan Prasarana Pertanian
5.Program Pengendalian Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner
6.Program Pemenuhan Upaya Kesehatan Perorangan dan Upaya Kesehatan Masyarakat
7.Program Pengelolaan Perikanan Tangkap
8.Program Pengelolaan Perikanan Budidaya
9.Program Pemenuhan Upaya Kesehatan Perorangan dan Upaya Kesehatan Masyarakat
10.Program Pengembangan Ekspor
11.Program Stabilisasi Harga Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting
12.Program Penyuluhan Pertanian 3.3 Tujuan 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera Tujuan 3 dalam pelaksanaan SDGs adalah menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan seluruh penduduk semua usia. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, Provinsi Kalimantan Selatan menetapkan 9 (sembilan) target yang diukur melalui 20 indikator. Adapun target-target tersebut adalah sebagai berikut:
1.Pada tahun 2030, mengurangi rasio angka kematian ibu hingga kurang dari 70 per 100.000 kelahiran hidup
2.Pada tahun 2030, mengakhiri kematian bayi baru lahir dan balita yang dapat dicegah, dengan seluruh negara berusaha menurunkan Angka Kematian Neonatal setidaknya hingga 12 per 1.000 KH (Kelahiran Hidup) dan Angka Kematian Balita 25 per 1.000
3.Pada tahun 2030, mengakhiri epidemi AIDS, tuberkulosis, malaria, dan penyakit tropis yang terabaikan, dan memerangi hepatitis, penyakit bersumber air, serta penyakit menular lainnya
4.Pada tahun 2030, mengurangi hingga sepertiga angka kematian dini akibat penyakit tidak menular, melalui pencegahan dan pengobatan, serta meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan
5.Memperkuat pencegahan dan pengobatan penyalahgunaan zat, termasuk penyalahgunaan narkotika dan penggunaan alkohol yang membahayakan
6.Pada tahun 2030, menjamin akses universal terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi, termasuk keluarga berencana, informasi dan pendidikan, dan integrasi kesehatan reproduksi ke dalam strategi dan program nasional RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 66 -
7.Mencapai cakupan kesehatan universal, termasuk perlindungan risiko keuangan, akses terhadap pelayanan kesehatan dasar yang baik, dan akses terhadap obat-obatan dan vaksin dasar yang aman, efektif, berkualitas, dan terjangkau bagi semua orang
8.Memperkuat pelaksanaan the Framework Convention on Tobacco Control WHO di seluruh negara sebagai langkah yang tepat
9.Mendukung penelitian dan pengembangan vaksin dan obat penyakit menular dan tidak menular yang terutama berpengaruh terhadap negara berkembang, menyediakan akses terhadap obat dan vaksin dasar yang terjangkau, sesuai The Doha Declaration tentang The TRIPS Agreement and Public Health, yang menegaskan hak negara berkembang untuk menggunakan secara penuh ketentuan dalam kesepakatan atas aspek-aspek perdagangan dari hak kekayaan Intelektual terkait keleluasaan untuk melindungi kesehatan masyarakat, dan khususnya, menyediakan akses obat bagi semua Perwujudan tujuan 3 SDGs melalui upaya pencapaian sasaran dalam RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2021 – 2026, yaitu (1) Meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat; dan (2) Meningkatnya Akses dan Kualitas Kesetaraan Gender. Strategi yang akan dilakukan dalam mencapai sasaran yang ada, antara lain:
1.Peningkatan promosi kesehatan masyarakat
2.Peningkatan kualitas layanan Kesehatan
3.Peningkatan peran perempuan dalam pembangunan Berdasarkan strategi-strategi yang ditentukan, maka arah kebijakan yang sesuai dengan tujuan 3 SDGs ditetapkan sebagai berikut:
1.Mengembangkan model promosi kesehatan berbasis elektronik
2.Meningkatkan peran serta masyarakat melalui GERMAS
3.Standarisasi pelayanan bidang kesehatan Kisik dan mental
4.Pengembangan kebijakan gender Adapun sejumlah program yang dilaksanakan SKPD yang berkaitan dengan tujuan 3 SDGs adalah sebagai berikut:
1.Program Pemenuhan Upaya Kesehatan Perorangan dan Upaya Kesehatan Masyarakat
2.Program Pengendalian Penduduk RAD TPB/SDGS PROV KALSEL 2022-2026 - 67 - 3.4 Tujuan 4 Pendidikan Berkualitas Tujuan 4 dalam pelaksanaan SDGs adalah menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata serta meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat untuk semua. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, Provinsi Kalimantan Selatan menetapkan 6 (enam) target yang diukur melalui 6 indikator. Adapun target- target tersebut adalah sebagai berikut:
1.Pada tahun 2030, menjamin bahwa semua anak perempuan dan laki- laki menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah tanpa dipungut biaya, setara, dan berkualitas, yang mengarah pada capaian pembelajaran yang relevan dan efektif
2.Pada tahun 2030, menjamin akses yang sama bagi semua perempuan dan laki-laki, terhadap pendidikan teknik, kejuruan dan pendidikan tinggi, termasuk universitas, yang terjangkau dan berkualitas
3.Pada tahun 2030, meningkatkan secara signiKikan jumlah pemuda dan orang dewasa yang memiliki keterampilan yang relevan, termasuk keterampilan teknik dan kejuruan, untuk pekerjaan, pekerjaan yang layak dan kewirausahaan
4.Pada tahun 2030, menghilangkan disparitas gender dalam pendidikan, dan menjamin akses yang sama untuk semua tingkat pendidikan dan pelatihan kejuruan, bagi masyarakat rentan termasuk penyandang cacat, masyarakat penduduk asli, dan anak-anak dalam kondisi rentan
5.Membangun dan meningkatkan fasilitas pendidikan yang ramah anak, ramah penyandang cacat dan gender, serta menyediakan lingkungan belajar yang aman, anti kekerasan, inklusif dan efektif bagi semua
6.Pada tahun 2030, secara signiKikan meningkatkan pasokan guru yang berkualitas, termasuk melalui kerjasama internasional dalam pelatihan guru di negara berkembang, terutama negara kurang berkembang, dan negara berkembang kepulauan kecil Perwujudan tujuan 4 SDGs melalui upaya pencapaian sasaran dalam RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2021 – 2026, yaitu (1) Meningkatnya akses pendidikan; (2) Meningkatnya kualitas kepemudaan; dan