2.Bayi Baru lahir
3.Balita
44.Anak-anak
5.Remaja
6.Usia Reproduksi
7.Lanjut Usia Keberhasilan percepatan penurunan stunting, AKI dan AKB di Provinsi NTT memerlukan koordinasi dan kerjasama lintas program dan lintas sektor pemerintah daerah dan melibatkan mitra pembangunan yang bekerja di g wilayah provinsi NTT. Masalah kesehatan & gizi Ibu, Anak, dan Remaja o co 0 3 c Q) , BBL BayiHIV+ Penyakit genetik Masalah menyusui Komplikasi nifas Ballta Stunting Gizi kurang dan gizi buruk Balita HIV+ Penyakit genetik Kekerasan seksual Infeksi sistem reproduksi Kekerasan seksua1 Infeksi saluran reproduksi Masalah gizi Penyaklt genetik HIV AIDS #J ,__ � Bersalin & bayl baru lahir \� I . Kompllkasl persallnan . • "'Iii ! KompUkasl neonatus flt Bayi lahir darl lbu HIV i eeryaaene Hamil & janin Pendekatan Siklus Hidup Anemia,KEK Komplikasi kehamilan Abortus IMS, HIV AIDS Penyakit genetik yang dapat mempengaruhi kehamilan Andripause ��� ,. Menopause ca servtx 'e c»Posa = i ll ' oisfungsi seksual 7 e ~ Lanjut usia Kehamilan remaja Kekerasan seksual Gangguan haid Aborsi Penyalahgunaan NAP ZA Anemia Masalah gizi (kurang & obesitas Penyakit genetik IMS & HIV AIDS Kehamilan tidak diinginkan (KTD) Kekerasan seksual Aborsi tidak aman Ca Servix dan Payudara Gangguan haid Disfungsi seksual Infertilitas Penyakit yang dapat mempengaruhi kehamilan dan janin IMS dan HIV AIDS Dewasamuda } D. LANDASAN HUKUM > co c c co • c E 0 ¥ 0 4 0 c < -::, 0 f c c L c E Q) < c -x 0 c <t c cu o 0 c � c 2 � 0 c co c 2 l z c Q) a. c c •c 0 Q) 0 � 0 a. c c l S E o + x o < % c 0 c 0 £ O c « cr o c 6 z o s 2 E > s 9 c 0 0 Gr D 3. 4. 5. 7. 8. Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 100); Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 172) PMK Nomor 21 Tahun 21 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, Dan Masa Sesudah Melahirkan, Pelayanan Kontrasepsi, Dan Pelayanan Kesehatan Seksual; Pergub Nomor 42 Tahun 2009 tentang evolusi KIA di Provinsi NTT; Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor 220/KEP/HK/2021 Tentang Tim Teknis Perecepatan Penurunan Prevalensi Stunting, Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi di Provinsi NTT Tahun 2020-2023.
6.Perda Nomor 1 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Kesehatan !bu dan Anak di Provinsi NTT;
1.Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958 Tentang Pembentukan Daerah daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1649;
2.Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573); Dalam pertumbuhannya, remaja tidak saja menjadi remaja stunting, tetapi juga memiliki masalah kekurangan gizi mikro seperti anemia. Masa remaja adalah masa dimana terjadi pertumbuhan pesat ke dua dalam fase kehidupan dan mempersiapkan remaja untuk masa selanjutnya yaitu masa remaja, sehingga membutuhkan asupan gizi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan pesat ini. Jika remaja stunting ini adalah seorang wanita, maka proses stunting ini akan terus berlanjut setelah menjadi wanita dewasa di usia subur yang juga stunting termasuk ketika menjadi ibu hamil yang juga stunting dan cenderung juga tetap stunting di usia lanjut. Remaja yang sehat ketika menikah, hamil dan memiliki anak sesuai dengan kematangan organ reproduksinya, sehingga menjadi ibu yang sehat yang melahirkan anak-anak yang sehat dengan pertumbuhan dan perkembangan yang optimal sesuai potensinya. Proses ini akan terus berlanjut, ibu yang stunting dan kurang gizi memiliki risiko untuk menderita berbagai komplikasi selama kehamilan dan persalinannya, termasuk angka kematian ibu yang meningkat, juga memiliki bayi yang berisiko untuk lahir dengan berat lahir rendah (BBLR), danberisiko untuk mengalami berbagai komplikasi termasuk asfiksia dan sepsis neonatorum yang merupakan penyebab yang sering terjadinya kematian neonatus di NTT. Dalam proses selanjutnya, bayi dengan berbagai komplikasi ini bila dalam pertumbuhannya juga tidak mendapatkan asupan gizi yang adekuat, pola asuh yang seimbang, pelayanan kesehatan yang tidak sesuai standar maka akan berkembang menjadi balita stunting. lni akan menjadi "lingkaran setan" yang tidak berujung dan akan terus terjadi di NTT. Stunting memiliki efek jangka panjang dan jangka pendek yang sangat mempengaruhi generasi dan masa depan NTT, karena tidak saja berpengaruh pada kesehatan mereka, tetapi termasuk pertumbuhan dan perkembangan o memberi dampak yang luas pada perekonomian NTT di masa mendatang. > <1l c0 c c -::, .0 H c c μ c E Q) ¥ c -¥ 0 c < c • o 0 c c ::, μ 0 c ro c ::, � ::, c Q) 0 c c μ a 0 OJ 0 � 0 0 c � c 0 c 0 c c O C: f- " %Or c d 2 0 . a « e £ % U c 0 0 c U >, c c2 c "'μ c £ "< 0 .¥ 0 c < -2 0 t c 0 μ c £ QJ x¥ c ¥ 0 c <t •U o 0 C: c • • 0 C c c :::, � :::, c (l) 0.. c c •c 0 0 O � 0 0.. £ c � � 0 2(1) £0 "' 1-- .x ro <1 � c 0 0 c 0 c c O " c 1-- 0 (1) r U c :::, c0 z 0 0 "' 0 c £ > 0 0 � c 0.. 0 cr o • gambar 2. Hubungan sebab akibat Stunting & AKI-AKB pada 1000 HPK ' HUBUNGAN SEBAB AKI BAT STUNTING & AKI-AKB NTT BUMIL rein nan REMA)A STUNTING, "mm+»hw STUNTING '1 AKI mingt B. PERCEPATAN PENURUNAN PREVALENSI STUNTING DAN AKI - AKB
1.Situasi dan Kondisi Gizi Masyarakat Indonesia adalah negara dengan prevalensi stunting kelima terbesar. Balita/Baduta (Bayi dibawah usia Dua Tahun) yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, menjadikan anak menjadi lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan dapat beresiko pada menurunnya tingkat produktivitas. Pada akhirnya secara luas stunting akan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan memperlebar ketimpangan. Pengalaman dan bukti Internasional menunjukkan bahwa stunting dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan menurunkan produktivitas pasar kerja, sehingga mengakibatkan hilangnya 11% GDP (Gross Domestic Products) serta mengurangi pendapatan pekerja dewasa hingga 20%. Selain itu, stunting juga dapat berkontribusi pada melebarnya kesenjangan/inequality, sehingga mengurangi 10% dari total pendapatan seumur hidup dan juga menyebabkan kemiskinan antar-generasi. Gambaran proporsi stunting atau balita pendek karena kurang gizi kronik di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan adanya penurun dari 37,2% tahun 2013 menjadi 30,8% pada tahun 2018 atau turun sebesar 6,4 %, demikian juga proporsi status gizi buruk dan gizi kurang (wasting) dari 19,6% (Riskesdas 2013) menjadi 17,7% (skesas 2018) Masalah gizi di Provinsi NTT dari hasil Riskesdas untuk proporsi stunting juga mengalami penurunan dari 51,7 % tahun 2013 menjadi 42,6 % tahun 2018 atau turun menjadi 9,1 %. Demikian juga untuk status gizi buruk dan kurang (wasting) pada balita mengalami penurunan dari 15,5 % (Riskesdas 2013) menjadi 12,9 % (Riskesdas 2018). Sedangkan berdasarkan hasil pengumpulan data yang dilakukan secara berkala setiap 2 tahun sekali (bulan Februari dan Agustus) melalui surveilans gizi dengan menggunakan aplikasi E-PPGBM atau Elektronik Pencatatan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat menunjukan Persentase stunting tahun 2019 sebesar 30,0 %, turun menjadi 24,2 % pada tahun 2020 dan menjadi 23,2 % pada periode Februari 2021. Dari hasil analisa rata-rata panjang atau tinggi badan anak balita di NTT adalah 96 cm pada anak laki-laki standard 99,1 cm dan 94 cm pada anak perempuan dengan standard 98,2 cm sehingga anak NTT rata-rata tinggi badannya belum mencapai standar untuk tinggi badan yaitu kurang 3 centimeter untuk anak laki-laki dan 4 centimeter pada anak perempuan. Kejadian gaga! tumbuh yang terjadi pada usia balita akan berlanjut ke usia berikutnya.Besar kemungkinan ketika mereka menginjak usia 19 tahun, maka tinggi badan optimal tidak tercapai. Penyebab Stunting Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita sehingga penangananya juga harus multi sektor. Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting adalah dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita. Periode 1000 HPK menjadi penting karena bila selama antenatal care maupun dalam proses persalinanditemukan adanya faktor risiko pada ibu dan tidak diberikan penanganan yang sesuai standar maka bayi bisa lahir dengan BBLR ataupun mengalami komplikasi lain seperti asfiksia neonatorum ataupun sepsis neonatorum dan komplikasinya sehingga kualitas hidup bayi menjadi rendah dan menjadi salah satu penyebab bisa terjadi stunting di masa mendatang. Penyebab stunting dapat digambarkan sebagai berikut : a) Asupan makanan yang tidak memadai dan terjadinya infeksi/ penyakit. Asupan makanan yang tidak memadai disebabkan oleh kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi dan praktek pengasuhan yang kurang baik. b) Praktek pengasuhan yang kurang baik, termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta setelah ibu melahirkan.60% dari anak usia 0-6 bulan tidakmendapatkan Air Susu lbu (ASI) secara ekslusif, dan 2 dari 3 anak usia 6-24 bulan tidak menerima Makanan Pendamping Air Susu ibu (MP- , AS") yang memadai c c z c E Q) < co .¥ 0 c < c c "O Cl c • c :, -(/) c cc c :, � :, c 0 a. c cu -c0 0 Q) 0 � Q) a. £ c � � Q) :, 5 5 "' .... x 0 < % 0 0 c 0 0 C O C ,-... e Gr « c • 2 0 e ? . E > 5 9 c a 0 r o > c 0 •c •c E Q) x c .¥ 0 c < - .0 f c c z co £ Q) ¥ c .¥ 0 c < c 0 0 0 c • c ::, • 0 c c c ::, � ::, c Q) 0 •c � c 0 Q) O � 0 a. c c0 � � Q) ::; c £0 G r ¥ c < � ct c 0 c 0 "' c 0 Ql c h Q) c Cr <I) c 2 0 z 0 0 U 0 c £ > 0 U � 0 a. 0 cr 0 cl Masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi. Hal ini dikarenakan ketahanan pangan keluarga yang rendah dimana keluarga memproduksi bahan makanan bergizi yang terbatas. Selain itu, harga makanan bergizi di Indonesia masih tergolong mahal juga merupakan salah satu penyebab kurangnya akses makanan bergizi ini menurut beberapa sumber (RISKESDAS 2013, SDKI 2012, SUSENAS). d) Masih terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC-Ante Natal Care (pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan), Post Natal Care dan pembelajaran dini yang berkualitas. Rendahnya tingkat kehadiran anak di Posyandu dan anak belum mendapat akses yang memadai ke layanan imunisasi, ibu hamil belum mengkonsumsi suplemen zat besi yang memadai serta masih terbatasnyaakses ke layanan pembelajaran dini yang berkualitas (baru 1 dari 3 anak usia 3-6 tahun belum terdaftar di layanan PAUD/Pendidikan Anak Usia Dini). el Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi. Data yang diperoleh di lapangan menunjukkan bahwa 1 dari 5 rumah tangga di Indonesia masih buang air besar (BAB) diruang terbuka, serta 1 dari 3 rumah tangga belum memiliki akses ke air minum bersih.
2.Situasi dan Kondisi Kesehatan lbu dan Bayi Baru Lahir Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 telah memberikan arah pembangunan bidang kesehatan dengan visi meningkatkan pelayanan kesehatan melalui jaminan kesehatan nasional, khususnya penguatan pelayanan kesehatan primer dengan peningkatan upaya promotif dan preventif yang didukung oleh inovasi dan pemanfaatan teknologi. Kebijakan dalam RPJMN ini difokuskan pada lima hal yaitu meningkatkan kesehatan ibu, anak, keluarga berencana dan kesehatan reproduksi, mempercepat perbaikan gizi masyarakat, meningkatkan pengendalian penyakit, Gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) dan memperkuat sistem kesehatan dan pengendalian obat dan makanan. Peningkatan kesehatan ibu dan anak difokuskan pada upaya penurunan angka kematian ibu (AKI) melahirkan, angka kematian bayi (AKB) lahir, angka kematian neonatal dan peningkatan cakupan vaksinasi. Dalam 30 tahun terakhir, upaya upaya yang dilakukan oleh pemerintah memang sudah mampu menurunkan AKI yang pada 2020 AKI di Indonesia sudah mencapai 230 per 100 ribu melahirkan. Namun jika dilihat tren penurunannya, masih sangat lambat. Bahkan AKI saat ini juga masih jauh dari target millenium development goals (MDGs) tahun 2015 yang sudah berlalu yaitu sebesar 102 per 100 ribu peristiwa melahirkan. Dengan penurunan AKI yang hanya 1,8% per tahun, Indonesia juga diperkirakan tidak akan mampu mencapai target sustainable development goals (SDGs) sebesar 70 kematian ibu per 100 ribu penduduk , Paa tahun 2030. Hal yang sama juga terjadi pada penurunan AKB yang masih berlangsung lambat, meskipun AKB pada 2020 telah mencapai 21 kematian per 100 ribu kelahiran, namun dengan tren penurunan yang masih lambat diperkirakan juga tidak akan mencapai target SDGs pada 2030 sebesar 12 kematian bayi per 100 ribu kelahiran. Upaya pemerintah untuk menurunkan AKI dan AKB masih jauh dari harapan. Padahal kebutuhan untuk menurunkan AKI dan AKB ini sudah sangat mendesak mengingat Indonesia termasuk 10 negara dengan kematian setelah persalinan (neonatal) tertinggi di dunia. Upaya penurunan AKI dan AKB menjadi semakin berat akibat pandemi covid-19 yang berkepanjangan yang melanda Indonesia. Setidaknya ada tiga penyebab potensi peningkatan AKI dan AKB akibat pandemi covid-19; pertama, terjadinya penurunan layanan imunisasi dasar bagi balita dan pemeriksaan kecukupan gizi dan balita. Hal ini disebabkan oleh menurunnya penyelenggaraan posyandu di mana hampir 50% puskesmas tidak mengadakan posyandu selama masa pandemi. Cukup banyak puskesmas yang menutup layanan/operasional karena tenaga kesehatannya (nakes) terpapar covid-19. Kedua, terjadinya penurunan pelayanan pemeriksaan kehamilan ritin bagi ibu hamil akibat pandemi. Penurunan terjadi karena layanan puskesmas ataupun RSUD yang tutup sementara akibat adanya nakes yang terpapar covid-19, maupun kekhawatiran ibu hamil untuk datang memeriksakan kehamilan ke faskes untuk tertular virus ini. Data Kemenkes misalnya menyebutkan 84% Pelayanan Kesehatan Terdampak dalam 6 bulan awal pandemi. Di sisi lain 83,6% puskesmas mengalami penurunan kunjungan pasien. Ketiga, potensi peningkatan AKB ini disebabkan adanya potensi peningkatan stunting akibat pandemi covid-19 ini yang diperkirakan meningkat hingga 7 juta anak. Tantangan untuk menekan atau menurunkan angka AKI dan AKB di Indonesia dengan wilayah yang tersebar begitu luas dengan ribuan pulau yang dihuni dan dataran yang bervariasi sangatlah berat. Dari mulai akses ke faskes yang sulit pada penduduk di daerah pegunungan maupun pulau-pulau kecil, infrastruktur yang masih minim di pedalaman, tenaga bidan dan dokter yang terbatas untuk untuk memenuhi kebutuhan di semua wilayah dan jumlah penduduk yang besar sampai dengan tradisi yang masih menghambat. Masih banyak masyarakat di pedesaan yang lebih percaya kepada penolong kelahiran tradisional seperti dukun beranak, paraji, kepercayaan untuk melahirkan di rumah atau bahkan di hutan, termasuk kurangnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan jasa pelayanan kesehatan. Di sisi lain banyak masyarakat yang juga karena keadaan maupun tradisi juga melakukan nikah pada usia yang belia dan kemudian juga melahirkan dalam usia muda yang berisilo. • c E Q) ¥ c0 4 0 c < c c o 0 c • c 2 • G c c c :, � :, c 0 a. c cu • 0 0. ., O � 0 a. c c l 5 S E % + .x co < % 0 0 c 0 c c O C0 % cc c • « 2 'O a ? , . £ > 6 9 c a 0 . r o Tahun 2008 jumlah kematian ibu di Provinsi NTT 330 ibu. Provinsi NTT termasuk salah satu Provinsi penyumbang kematian ibu tertinggi. Karena kondisi ini Pemerintah Provinsi NTT berupaya meningkatkan kesehatan ibu dan bayi baru lahir melalui berbagai upaya yang selaras dengan regulasi Nasional diikuti dengan berbagai inovasi - inovasi inisiatif daerah. Salah satu contoh invovasi yang mempunyai dampak pada penurunan kematian ibu dan bayi baru lahir adalah melalui program.dicanangkan program Revolusi KIA yang ditetapkan dalam Peraturan Gubernur NTT Nemer 42 Tahun 2009. Data menunjukkan sejak tahun 2009 jumlah kematian ibu terus menurun walaupun naik lagi ditahun 2015 dan 2016, kemudian menurun lagi hingga 122 kematian ibu pada bulan September 2021. Kematian bayi di Provinsi NTT juga termasuk tinggi di Indonesia. Data menunjukkan sejak tahun 2008 sebanyak 1274 kematian bayi. Kematian bayi tidak menunjukkan penurunan yang berarti. Pada tahun 2016 baru terlihan penurunan kematian menjadi 1088 kematian, menurun lagi menjadi 1044 kematian bayi ditahun 2017 tetapi tahun 2018 meningkat lagi menjadi 1265 kematian bayi. Setelah itu menurun terus sehingga sampai bulan September 2021 menjadi 645 kematian bayi. Hal ini berkaitan dengan rendahnya pelayanan kesehatan pada ibu hamil dan bayi, cakupan kunjungan ibu hamil lengkap 4 kali (K4) pada tahun 2017 hanya sebesar 56,6%, sedangkan kunjungan bayi lengkap 3 kali (KN3) hanya sebesar 63,3%. Hal ini diperparah dengan rendahnya cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan sebesar 63,7%. Dari segi gizi masyarakat, NTT merupakan Provinsi dengan persentase balita stunting tertinggi di Indonesia sebesar 40,3%. Kondisi ini sangat serius mengingat NTT berpotensi mengalami "lost generation" atau hilangnya generasi jika hal ini tidak ditangani dengan baik. Selain stunting, keadaan balita wasting (kurus dan sangat kurus) mencapai 15,8% dan balita underweight (kurang gizi dan gizi buruk) mencapai 28,3%, berada jauh di atas rata-rata nasional (RPJMD Pemerintah NTT tahun 2018-2023). Menurut RP JMD Provinsi NTT pada strategi peningkatan kualitas SDM, strateginya yakni meningkatnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan, terutama kepada para ibu, anak, remaja dan lansia; meningkatnya pelayanan gizi masyarakat yang berkualitas; dengan arah kebijakkan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat membutuhkan kemitraan lembaga pemerintah dan non pemerintah. Merujuk pada situasi penyebab terbanyak kematian pada lbu, Bayi Baru lahir dan Anak, perlu dikaji lebih dalam faktor2 yang mempengaruhi hambatan dalam pencegahan kematian lbu dan Anak . Secara umum perlu dianalis 3 p aspek dalam pelayanan KIA, antara lain: a) Penyedla Pelayanan Kesehatan (ketersediaan sarana - prasarana Kesehatan; SDM Kesehatan; pendanaan pelayanan Kesehatan); b) Masyarakat yang memanfaatkan pelayanan KIA (penerimaan dan kepatuhan mengakses pelayanan KIA; Kemudahan akses / jarak untuk mengakses fasilitas Kesehatan); dan c) Peraturan/ regulasl, kebljakan dan Perencanaan & pembiayaan yang berbasis data dan informasi yang mendukung pencapaian kualitas pelayanan dan akses thd pelayanan yg berkualitas -termasuk didalamnya kebijakan Jaminan Kesehatan (JKN; Jampersal) dan kebijakan Jaminan sosial dalammemudahkan akses pelayanan Kesehatan (PKH Bidang Kesehatan, dll) Percepatan Penurunan AKI dan AKB merujuk target capaian indikator AKI, AKB dan AKABA O (Nol) dalam RPJMD 2018 -2023, akan tercapai - bila kita berani menetapkan lndikator perantara (lndikator proses) yang sensitif untuk mencapai indikator outcome AKI, AKB dan AKABA nol tersebut: a) Berfungsinya Fasilitas Kesehatan yang mampu PONED (Pelayanan Obstetri Neonatologi Emergensi Dasar) sekurang kurangnya 4 Puskesmas PONED/ kabupaten atau kota. b) Berfungsinya Fasilitas Kesehatan yang mampu PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatologi Emergensi Komprehensif) - sekurang - kurangnya 1 Rumah Sakit PONEK/ kabupaten atau kota. Catatan: Sebuah fasilitas dikatakan berfungsi artinya ada kecukupan tenaga Kesehatan terlatih; kecukupan sarana/ prasarana: kecukupan pedoman (SOP/ SPO) dan alat bantu kerja; pengorganisasian dalam operasional pelayanan termasuk system supervise; system pendataan; system perencanaan dan kecukupan pendanaan untuk operasional; dan kebijakan/ regulasi untuk mendukung berfungsinya fasilitas dimaksud. Timeline strategi penurunan Kematian lbu dan Bayi di Provinsi NTT tahun 2020-sekarang antara lain Penguatan Strategi Revolusi KIA, GERMAS dan PIS PK, Penguatan Kualitas ANC, Penanggulangan Stunting dengan pendekatan Remaja Putri dan Bumil, Penguatan UKS, Program Revolusi Hijau (Kelorisasi) + sejak tahun 2018, Penguatan AMP-SR dan Superfisi Fasilitatif. > c cD c c � :, 0 4 c "'z U £ Q) ¥ c -¥ 0 c <( c c o 0 c � c :, • CJ) c co c :, .. 5 c Q) 0 c 00 � c 0. Q) 0 .. Q) a .c c .. .. S E % x 0 < % 0 0 c 0 c O c « cr a c « z U
0.<I) e £ £ > 5 9 c a 0 r o > 0 co c c -:, .0 f c c • c £ 0 x c .¥ 0 c < c c 0 0 c z c 2 • en c c •2 � 2 c 0 a. c c • c 0 0 0 � Q) a c c u S F a F .x a < % d 0 0 c c O C « Or co c c 2z 0 a o « c ; 0 » c 0 0 cr o Penyebab Kematian lbu dan Bayi Menurut Survey yang dilakukan oleh Litbangkes Kemkestahun 2016, penyebab Utama yg sering ditemukan pada kematian ibu adalah:
1.Hipertensi Dalam Kehamilan (34%)
2.Perdarahan (27%)
3.Komplikasi non Obstetri (16%)
4.Komplikasi obstetric (12%)
5.lnfeksi pada kehamilan (6%)
6.Kondisi terkait aborsi (4 %)
7.Komplikasi tidak terduga dalam tatalaksana (1%) Survey yang sama - melaporkan 5 penyebab Kematian Bayi Baru Lahir terbanyak disebabkan oleh:
1.Komplikasi Kejadian Intra partum/ saat melahirkan
2.Asfiksia
3.Berat badan lahir rendah (BBLR) dan Prematuritas
4.Kelainan Kongenital
5.Infeksi/ Sepsis Sedangkan 5 Penyebab Kematian pada Balita terbanyak pada survey yg sama, sebagai berikut:
1.Kematian yang terjadi pada Bayi baru Lahir 2 Pneumonia
3.Kelainan Kongenital
4.Diare
5.Kecelakaan & anak Cedera C. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENURUNAN STUNTING DAN AKI-AKB Upaya perbaikan gizi merupakan salah satu target pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDGs) sebagaimana tertuang dalam tujuan kedua yakni mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi yang lebih baik dan mendukung pertanian berkelanjutan. Sejalan dengan itu, pemerintah telah menetapkan stunting menjadi prioritas Nasional. Untuk mendukung pencapaian prioritas nasional dimaksud maka pemerintah telah menetapkan Arah Kebijakan dan Strategi perbaikan gizi dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dimana penetapan target prevalensi balita stunting mencapai angka 14 % pada ; akhir periode. Khusus Bidang Kesehatan, telah ditetapkan kebijakan dan strategi yakni meningkatkan pelayanan Kesehatan menuju cakupan Kesehatan semesta terutama penguatan Kesehatan Dasar (Primary Health Care) dengan mendororng peningkatan upaya promotif dan preventif , didukung inovasi dan pemanfaatan teknologi.dimana strateginya meliputi:peningkatan Kesehatan ibu, anak, KB dan Kesehatan reproduksi, percepatan perbaikan gizi masyarakat dan peningkatan pengendalian penyakit. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur juga mendukung pencapaian prioritas Nasional dalam penurunan stunting dengan ditetapkan prevalensi stunting sebagai lndeks Kinerja Utama (IKU) Daerah sebagaimana tertuang dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) periode tahun 2018-2023 dimana pencapaian target sebesar 10 % pada akhir periode. Arah Kebl]akan Nasional Dua prioritas pembangunan kesehatan nasional adalah meningkatkan kesehatan ibu dan anak melalui upaya penurunan AKI dan AKB, dan meningkatkan kualitas SOM melalui upaya penurunan stunting. Sesuai dengan amanat dari Bapak Presiden y a i t u " Titik dimulainya pembangunan SOM dimulai dengan menjamin kesehatan ibu hamil, kesehatan balita, kesehatan anak sekolah karena merupakan umur emas untuk mencetak manusia Indonesia yang unggul. Jangan sampai ada stunting, kematian bayi, kematian ibu". Dalam mencapai upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak dan penurunan stunting harus dilakukan strategi berupa intervensi spesifik dengan pendekatan siklus hidup yaitu kepada sasaran 1000 HPK (ibu hamil, ibu nifas, ibu menyusui bayi dan anak usia dibawah 2 tahun) dan remaja Strategi tersebut dapat dilihat dalam diagram dibawah ini:
1.Peningkatan kapasitas SOM
2.Peningkatan kualitas program
3.Penguatan edukasi Gizi
4.Penguatan Manajemen intervensi Gizi di puskesmas dan posyandu
5.Peningkatan akses pelayanan kesehatan ibu dan anak
6.Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan
7.Pemberdayaan masyarakat g 9Penguatan tata kelola • c ::, -(/) c c c ::, � ::, c Q) a. c c � c 0 a, 0 � Q) a c c � � 3 € % + .x c < % 0 0 c 0 c c O C % r o c 5 « z o s £ E > 5 9 cs 0 0 tr U gambar 3. lntervensi spesifik dengan pendekatan siklus hidup Pendekatan siklus hidup (10oo HPK + remaja) dengan upaya optimalisasi cakupan hingga go% Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Kualit.as Pelayanan Kesehatan tidai tinteiesi 1V)] dai 0 ,, 4 Penguatan Tata Kelola Peningkatan Akses Pelayanan Kesehatan lbu dan Anak NDONE SIA 2024 INDONESIA 2024 @] . emf em=a@" • eEH,E,ER .. . . 7 Penguatan Edukasi Gizi Penguatan Manajemen Intervensi Gizi di Puskesmas dan Posyandu Peningkatan Kapasitas SDM Peningkatan Kualitas Program Dan perlu upaya optimalisasi cakupan hingga 90% untuk semua indikator terkait dalam intervensi spesifik tersebut. Berikut ini adalah target pencapaian indikator-indiktor sampai dengan tahun 2024: gambar 4. Target pencapaian indikator-indiktor sampai dengan tahun 2024. Arah Kebijakan Pembangunan Kesehatan tahun 2022 bertujuan meningkatnya pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta, terutama keberlanjutan penguatan system kesehatan dan Health Security, penguatan pelayanan Kesehatan lbu dan Anak, KB, dan Kesehatan Reproduksi, pelayanan gizi, pelayanan kesehatan usia lanjut serta pengendalian penyakit didukung dengan upaya promotif dan preventif serta digitalisasi pelayanan kesehatan dan lebih fokus pada 3 pembangunan kesehatan reformasi system kesehatan, percepatan penurunan kematian ibu dan percepatan penurunan 'li, stunting dengan rincian kegiatan sebagai berikut : ::, a d c cu ... c £ ID xc 0 .¥ 0 c < c co 0 0 c • c ::, ... G c c c ::, � 5 c 0 a. •c ... c 0 Q) O � Q) 0 £ c � � 0 ::, c £0 i=(/) -x c < � c c 0 c 0 c c o Q) C: I- 0 c r (/) c 2 c z U a. (/) c c £ > 0 0 � co a 0 r o ... c £ 0 "'c -X 0 • <C l) Reformasi Sistem Kesehatan • Pendidikan & penempatan Nakes • Penguatan Faslitas Kesehatan Tingkat Primer dan Upaya Kesehatan Masyarakat • Peningkatan Kapasitas Rumah Sakit dan Pelayanan Kesehatan Daerah Tertinggal Terpencil dan Kepulauan • Kemandirian farmasi dan alat kesehatan • Keamanan dan ketahanan kesehatan (health security and resilience) • Pengendalian penyakit & imunisasi • Pembiayaan kesehatan • Tehnologi lnformasil, digitalisasi, & pemberdayaan masyarakat • Vaksinasi COVID-19 seluruh penduduk 2) Percepatan Penurunan Kematian lbu dan bayi • Pengembangan system rujukan maternal dan neonatal • Ketersediaan dan kapasitas nakes dalam penanganan gawat darurat maternal dan neonatal • Penguatan deteksi dini factor resiko ibu hamil • Penguatan deteksi dini resiko neonatal • Pemenuhan sarana PONED (Pelayanan Obstetry Neonatal Emergency Dasar) dan PONEK (Pelayanan Obstetry Neonatal Emergency Komprehensif) • Farmasi dan ketersediaan darah setiap waktu • Keluarga Berencana Pasca Salin • Komunikasi, Informasi Edukasi dan pelayanan Kespro Remaja • Komunikasi, lnformasi Edukasi keluarga dalam pemantauan 3) Percepatan Penurunan Kematian dan Stunting • Penajaman intervensi spesifik & sensitif • Ketersediaan obat gizi dan makanan tambahan • Pemantauan tumbuh kembang balita • Edukasi pola asuhan gizi pada balita • Cakupan lmunisasi Dasar Lengkap • Penguatan Tatalaksana gizi buruk • Akses Air Minum dan sanitasi layak • Pendampingan 1000 Hari Pertama Kehidupan dan calon ibu Dalam rangka percepatan penurunan stunting, pemerintah telah menetapkan strategi pelaksanaannya melalui penetapan 5 Pilar Pencegahan Stunting yaitu: 1) Komitmen dan Visi Kepemimpinan; 2) Kampanye Nasional dan Komunikasi Perubahan Perilaku; 3) Konvergensi, Koordinasi, dan Konsolidasi Program Pusat, Daerah, dan Desa; 4) Gizi dan Ketahanan Pangan; dan 5) Pemantauan dan Evaluasi dan menetapkan Kementerian/Lembaga Penanggungjawab upaya percepatan pencegahan stunting,menetapkan wilayah prioritas dan strategi percepatan pencegahan stunting, dan menyiapkan strategi kampanye gasional stunting. 3 c c c co -:, .0 4 c co • c E Q) ¥ cg .¥ 0 c < c c 0 0 c z c 5 � G c cU c 2 � :, c Q) a c c • c a. 0 0 � 0 a c t1l � � 5 j:: CJ) x co < % c 0 c 0 d c 0 Q) c c Cr « c « z 0 s z E > 5 9 cs a 0 r o ·-- - - - - - . . . -- -.t o e" fr # tat + #one 4 £ea.. . .4. G. et. -- • + 0o • L. ..0T74%. Dar L ti non toe.soy) I n Strategi Utama Penurunan Angka Stunting: Pendekatan Multisektor $ dalam Pencegahan Stunting Terintegrasi Pada tataran pelaksanaan pencegahan dan penanganan balita stunting, terdapat dua pendekatan yang digunakan yakni pendekatan lntervensi Spesifik dan lntervensi Sensitif. lntervensi spesifik yaitu upaya-upaya untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara langsung. Kegiatan ini pada umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan. Kegiatannya antara lain berupa imunisasi, PMT ibu hamil dan balita, monitoring pertumbuhan balita di Posyandu. Sasaran utama khusus pada kelompok 1.000 HPK (Ibu Hamil, lbu Menyusui, dan Anak 0-23 bulan) dan kontribusinya sebesar 30%. Sedangkan lntervensi Sensitif lebih diarahkan pada segala upaya untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara tidak langsung. Berbagai kegiatan pembangunan pada umumnya dilaksanakan oleh lintas sector/non-kesehatan. Kegiatannya antara lain penyediaan air bersih, kegiatan penanggulangan kemiskinan, dan kesetaraan gender. Sasarannya adalah masyarakat umum, dan intervensinya tidak khusus pada sasaran 1000 HPK. lntervensi sensitif memberikan kontribusi yang cukup besar yakni 70%. Strategi utama untuk penurunan angka stunting adalah melalui pendekatan multisektor - multi pihak,intervensi terintegrasi serta pendekatan berbasis kelurga beresiko seperti yang tercantum dalam Rencana Aksi Nasional Penurunan Angka Stunting (Oktober 2021). Pendekatan multi sektor dan multiphak artinya perlu keterlibatan multisector dan berbagai pihak dalam mendukung percepatan penurunan angka stunting. Sedangkan intervensi terintegrasi terdiri dari intervensi Gizi Spesifik dan Sensitif . Intervensi gizi spesifik merupakan intervensi intervensi yang secara langsung mempengaruhi pemenuhan gizi dan perkembangan janin dan anak terutama sampai berusia kurang dari 23 bulan. Sedangkan intervensi gizi sensitif adalah intervensi yang secara tidak langsung mempengaruhi kejadian stunting. lntervensi spesifik bertujuan untuk memastikan kecukupan gizi ibu hamil dan anak serta penurunan faktor risiko infeksi. lntervensi sensitif dengan cakupan utamanya meningkatkan kualitas penyiapan kehidupan berkeluarga, perbaikan pola asuh, peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan, peningkatan akses air minum dan sanitasi, keamanan pangan dan bantuan sosial. Pendekatan kel Sektor lain yang sebagai pendorong adalah Kemendagri untuk , Dana desa, PMD. gambar 5. Strategi Utama Penurunan stunting Pendekatan Multi Sektor £ � c :, μ 0 c c C :, � :, c 0 0 - 0 hf c c •<ll £ 0 c -¥ 0) c < C 0 o •0 μ c Cl. Q) 0 � 0 0 c c � � @ 3 S E j:: u c c < % c 0 c 0 o c O C f- " «Cr o c « z " a a c 5 E % » c 0 0 o c c 0 0 c � c � G c c c ::, � ::, c Q) a. c c � c 0 Q) o � 0 a. £ c � � S E ¢ + .M co % 0 0 c 0 c O C e a: <I) c 2 « z 0 •e c £ > 9 c a 0 Gr U xoaitars lrj, produktrvits tntegi advolsi ordinal horizontal da vertical luntabits, regular insentt, legislasi Program leperimpinan pats irvest Mobilisasi sumer day.a domestil medulng Program girl nitif dan pendelt.an Perti da lnanan pagan laring leamnanan sosial Prlmn.bargain anal us. din eehatan mental bu Pemberdya perempua Pertindunga anal edidil ruang lel Ar dn $anits Pel.wan leehatan da A8 Tai bad dewaa Obeitas da peryalot tidal mnular lain.a rber mala da pengasuha (tingiat bu, rmah tag.ga, dan masyaralt ] eta slcolah dan kapitas belaj Pengetaban dan but Poltil da perenintaban epenpan, aapasitars da sumber lean.ga Sowal, elonori, polrtk, dan linglngan hidup (naional dn global) Morbid«ts dan lent di mas.a lain.alelnale intervnigit peltden progrn eehtan rem.j d ii sat prelonepl uplemnen malnan ibu Suplrn milrortrin at lrflal Meryl den malean - plemen diet untul anal Dieriflidiet lebiaan malandan stimuli Penobatan untusk malnutrisi lot Peneghan den pe lot perylit intervensiii dal leaden drrt Kerangka konseptual penurunan stunting terintegrasi mencakup intervensi konvergensi melalui 5 pilar, inervensi spesifik dan sensitif pda sasaran 1000 HPK yang diharapkan akan menhasilkan konsumsi Gizi yang emamadai, pola asuh yang sesuai, pelayanan kesehatan yang berkualitas dan kesehatan lingkungan dan jaminan sosial. Sehingga nantinya akan ada perbaikan Asupan Gizi dan Penurunan lnfeksi yang hasil akhirnya penurunan stunting. Kerangka konseptual tersebut dapat dilihat dalam gambar 4 di bawah ini gambar 6. Framework Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi Sedangkan dalam upaya percepatan penurunan Angka Kematian lbu dan Bayi, pemerintah pusat telah membuat Strategi Nasional sebagai berikut:
1.Penguatan dan peningkatan komitmen dan kepemimpinan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah provinsi, dan Pemerintah Daerah kabupaten/kota;
2.lntensifikasi kegiatan intervensi sensitif dan intervensi spesifik untuk mencapai layanan kesehatan berkualitas untuk ibu hamil dan bayi.
3.Peningkatan peran serta komunitas, pemangku kepentingan, swasta, akademisi, organisasi profesi dan multisektor lainnya dalam percepatan penurunan.
4.Penguatan pendidikan dan pemberdayaan perempuan dalam memperoleh hak kesehatan reproduksi dan kesetaraan gender 5.Penguatan pembiayaan untuk mendukung terlaksananya percepatan penurunan angka kematian lbu dan Bayi 6.Penguatan dan pengembangan sistem, data, teknologi dan informasi, riset dan inovasi gambar 7. Strategi penurunan AKI dan AKB STRATEGI PERCEPATAN PENURUNAN AKI dan AKB TARGET 2) penyelenggaraan tatakelola pelayanan kesehatan lbu dan Bayi yang terintegrasi pada tiga tatakelola yaitu tatakelola program, manajemen dan klinis yang dimulai dari masa kehamilan, proses persalinan dan kelahiran dan paska persalinan dan kelahiran; bu dan barbersarn.a erendagr 2 Perngitan iordna eng orgarwsas protest P0Gt 1pi Pput, n) untul perentan 0MM d penengat kmpetent 3 Penguat peran hit alto dln prnberdyn may.rt dn perurunan A 4 Optmnals dun mortong pert.ten MN, mnprs.l du DA/Delon ntul perurunan AKl huh 20.4 Are A 100 000 Are A $ 1 6 ] 000 kesinambungan dan integrasi pelayanan kesehatan lbu hurt.rt .0pore tti0re d t 0 lb ltMt. de P art - ro e ego (At-gr.g lb le.hes.abed 1 Yb.t Ct de pt du lee. tut Dtdu a. pa dyed.en re. volt Dolt 4 6 . . 4 f l. te er. e e l ... pun Of D 4 t 4 i f$ erbr p v e AC p.an.en ref hr stet fr.rep.at dolt urn bd de p a ll pad4bot Lok I DEA SuAGA £d»A 4@newlrphr.al. (4 bl 4 t u.h fee.Alu INTERVENSI EFEKTF l e . dle per.el.cvr deb 00Ng+ t«et. U TD 4D b 40t (er le re 4 re pr.en et#$ O4 trUT D 404 d b ot denser.RUD 4b i ol ol t vwt 4 3 # #row tpet 5) memantapkan dan Bayi; 3) meningkatkan kualitas manajemen program dan pelayanan rujukan melalui penataan jaringan pelayanan kesehatan lbu dan Bayi; 4) meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan lbu dan Bayi melalui perlakuan khusus bagi ibu hamil dengan penyakit penyerta, pemberian makanan tambahan ibu hamil, layanan bayi sakit, program kesehatan dan tumbuh kembang bayi dan layanan imunisasi; f Untuk mencapai target penurunan AKI dan AKB memerlukan keterlibatan multi sektor dan multi pihak yang akan dilakukan secara intensif dan intervensi spesifik yang secara langsung akan berpengaruh pada AKI dan AKB dan intervensi sensitif yang secara tidak langsung berpengaruh pada penurunan AKI dan AKB. Berikut ini adalah intervensi-intervensi yang diperlukan: