3.Kawasan cagar alam, Suaka margasatwa, taman nasional, 276.666,85 taman wisata alaumn dan ovontai hutan bakau 4, Kawasan lindung lainnya 695.844,47 Sumber ; RTRW Provins NTT tahun 2010-2030 Kawasan peruntukan hutan secara keseluruhan seluas 37,69 persen dari luas daratan sebagaimana dimanfaatkan untuk perlindungan dan untuk hutan produksi dapat dimanfaatkan sebagai perhutanan sosial untuk pengembangan kawasan wisata, pengembangan marungga, pakan ternak, rempah-rempah dan peternakan terpadu sesuai daya dukungnya. Sebaran potensi ekonomi melalui perhutanan sosial pada kawasan hutan produksi terbatas 189.561,06 ha, hutan produksi tetap 280.993,19 ha, hutan produksi tujuan khusus 3.569,18 Ha dan hutan produksi yang dapat dikonversi 111.568,56 Ha. Berdasarkan daya dukung dan daya tampung terdapat 20 jasa sebagai fungsi pengatur, penyedia, pendukung dan budaya yang dapat dioptimalkan pemanfaatannya. Terdapat 20 Klasifikasi Jasa Layanan Ekosistem berdasarkan daya dukung dan daya tampung yaitu: (a) 3 Fungsi penyediaan (provisioning}: pangan, air bersih, serat (fiber), bahan bakar (fluel; (b) 8 Fungsi pengaturan (regulating: pengaturan iklim, pengaturan tata aliran air dan banjir, pencegahan dan perlindungan dari bencana, pemurnian air, pengolahan dan penguraian limbah, pemeliharaan kualitas udara, pengaturan penyerbukan alami, pengendalian hama dan penyakit; (c) 6 Fungsi budaya (cultural: spiritual dan warisan leluhur, tempat tinggal dan ruang hidup (sense of space), rekreasi dan ecotourism, ikatan budaya-adat pola hidup, estetika, pendidikan dan pengetahuan; dan, (d) 3 Fungsi pendukung (supporting: pembentukan lapisan tanah & pemeliharaan kesuburan, siklus hara (nutrient), produksi primer. Daya dukung dan daya tampung wilayah sesuai potensi jasa ekosistem yaitu prioritas satu 1.144.576,58 ha (24,79 persen), prioritas dua 1.738.367,24 ha (37,65 persen) dan prioritas tiga 1.733.874,47 ha (37,56 persen). 4&AM&ARAN UMU ONDS4 DA£RAM [1-6 2.1.2.2 Kawasan Budidaya Potensi sumberdaya alam untuk mendukung pembangunan ekonomi, infrastruktur, prasarana sosial dan pelayanan dasar berada pada kawasan budi daya dan kawasan hutan. Kawasan Areal penggunaan lain (APL) seluas 2.950.239 ha atau 62,31 persen luas daratan dapat dimanfaatkan untuk kawasan peruntukan pertanian tanaman pangan, kawasan peruntukan pertanian hortikultura, kawasan peruntukan perkebunan, kawasan peruntukan peternakan, lahan pertanian pangan berkelanjutan, pariwisata, industri infrastruktur dan permukiman. Potensi pengembangan pariwisata dengan pendekatan area yang mendukung the ring of beauty: 1) Kawasan pariwisata alam: TN-Komodo, TN-Kelimutu, TL-Tujuh Belas Pulau Riung, TL Teluk Maumere, TL Pulau Kepa, TL-Teluk Kupang, Kawasan Pantai Nembrala, Kawasan Pantai Kolbano dan Kawasan Wisata Gunung Mutis; 2) Kawasan Taman Wisata Alam Laut dan pulau-pulau kecil eksotik Teluk Kupang didukung Pulau Semau dan Pulau Kera, Kawasan Taman Wisata Alam Laut Gugus Pulau Teluk Maumere dan pulau kecil sekitarnya Kawasan Taman Wisata Alam Laut Tujuh Belas Pulau Riung; 3) Kawasan pariwisata budaya: Kawasan atraksi Pasola; Kawasan prosesi Jumat Agung Larantuka; Kawasan perburuan ikan paus Lamalera; Kawasan Kampung Adat Bena, Koanara, Tarung, Laitarung, Boti, Namata, Tamkesi; Kawasan Homo Florencis Liangbua, Situs arkeolog Olabula dan Kawasan atraksi seni budaya; 4) Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan: Kawasan Kapela Tuan Ma Larantuka; Kawasan Meriam Jepang dan Tugu Jepang Kota Kupang; Kawasan Gereja Tua Kota Kupang; Kawasan Gua Alam Baumata; dan Kawasan cagar budaya, Kawasan pariwisata buatan pemancingan dan kawasan agrowisata Sesuai posisi geografis wilayah potensi strategis dalam pengembangan wilayah yaitu ; (a) Kawasan strategis nasional, meliputi: Kawasan perbatasan dengan Timor Leste; Kawasan perbatasan laut termasuk lima pulau kecil terluar dengan Negara Timor Leste dan Australia yaitu Pulau Alor, Batek, Dana, Ndana, dan Mengkudu; (b) Kawasan Pos Lintas batas Negara (PLBN) dan (c) Kawasan pengembangan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) III Potensi pengembagan wilayah juga didukung kawasan baru bertumbuh tu o f6AM8ARAN UMUM K0ND/S4 DA£RA4 pg. I yaitu: Kawasan bendungan, Kawasan agrowisata kelor, Kawasan peristirahatan(rest area) eksotik pada jalan Nasional dan Provinsi, Kawasan hutan bakau, Kawasan sakura Sumba. Potensi pengembangan wilayah yang didasarkan pada rencana struktur ruang melalui pengembangan sistem perkotaan Kabupaten/Kota didukung pusat pengembangan wilayah dengan skala yang berbeda sesuai dengan posisi geografis dan perannya dalam wilayah. Berdasarkan fungsinya dalam pengembangan wilayah, maka potensi pengembangannya yaitu : Pusat Kegiatan Nasional (PKN), PKNp; Pusat Kegiatan Wilayah (PKW; dan Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN). 2.1.3. Aspek Kesejahteraan Masyarakat 2.1.3.1 Pertumbuhan PDRB Berdasarkan harga konstan tahun 2021, pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTT terus mengalami peningkatan dan terjadi di seluruh lapangan usaha. Pada tahun 2021 nilai PDRB NTT mencapai Rp.70,5386 miliar dibanding tahun 2018 sebesar 65,929 miliar rupiah. Demikian halnya dengan pertumbuhan nilai PDRB berdasarkan harga berlaku juga mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2021, nilai PDRB NTT berdasarkan harga berlaku menurut lapangan usaha sebesar Rp 110.886 miliar meningkat dibanding tahun 2018 sebesar Rp. 98.930 miliar. Tab»el 2.3 PDRB ADHB-ADHK Menurut Lapangan U%aha di Provins± N'TT Taha 2018-2021 Produk Dorestik Regional Bruto Ata Poduke porestik Regional Bruto Deur Haga (AD'HB} Berlalu Mfenurut At Das«ur Hara Konstan (AD'HK] apangan Usaha Laapangan Usaha Provins! NTT (Miliar Menurut Lapangan Usha Provins R ' NTT(MLiar Ru 2018 2019 2020 2021 2018 2019 2020° 2021 Pertanian, Kehutanan, dan 28.035 29.804 30.370 32.343 17.838 18.496 18.673 19.599 Perikanan Pertambangan dan 1.202 1. 2 50 1 155 1.189 908 939 814 8.29Pen«Lian Industri Pengolahan 1. 2 53 1.405 1.367 1.312 841 918 867 823 Pengadaan Listrik 75 76 85 91 52 52 58 61 dan Gas Pengadaan Air, Pengelolaan 54 57 60 68 43 45 48 53 Sampah, Limbah dan Daur Ulan Konstruksi 10.745 l 1.606 10.454 11.485 7.255 7.576 6.832 7 311 Perdagangan Besar 11.025 12.266 11.888 12 724 7.785 8.380 7.880 8.217 dan Eceran: GAMBARAN UMUM KONDIS/ DAERAN It-8 Poduk Donestik Regional Brute At Poduk Doretik Regional Brute Daar Marga (ADHB] Berlalu Mentrut Atas Dar Harga Konstan (ADHK] Laapangan Usaha Laapangan U%aha Provine4 NTT (MLHaur Menurut Laapang«an Usha Provinsi R ' NTTmMLlar R us t 2018 2019 2020 2021+ 2018 2019 2020 2021 t.::z Transportasi dan 5,459 5.834 4,917 5.058 3.528 3.646 3.203 3.282 Pero Penyediaan Akomodasi dan 757 806 594 613 493 522 382 400 Makan Minum Informasi dan 6.570 7.078 7.923 8.222 5.794 6. 1 1 8 6.850 7.041 Komunikasi Jasa Keuangan dan 4.072 4.307 4.639 4947 2.589 2.672 2.901 2.976 Asuransi Real Estate 2.475 2.480 2.426 2.467 1.658 1.658 1.632 1.681 Jasa Perusahaan 292 306 191 165 175 182 110 94 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan 13.232 14.573 15.191 14.866 8.483 9.175 9603 9.268 Jaminan Sosial Waiib Jasa Pendidikan 9.436 10.246 10.737 10.S98 5.572 5.913 6.025 5.890 Jasa Kesehatan dan 2.151 2.328 2.560 2.864 1.480 1.564 1.633 1.780 Keriatan Sosial Jasa lainnya 2.098 2.267 1.946 1.870 1.434 1.528 1.294 1.233 PDRB 98.930 106.728 106.506 110.886 65.929 69.389 68.810 70.538 Sumber ; BPS NTT_2022 Angla Semetara_ Angla Sacngat Sementara. Tabel 2.4 Persentase PDRB ADHK Menurut Lapangan Usaha di Provinsi N'usa Tenggara Timur Tah un 2018 - 2021 PDRB ADH enurut Lapagan U%aha (futa rupiah] Lapagan Usha [Seri 2013] 2018 2019 2020 2021 Pertanian, Kehutanan, dan 28,34 . 27,93 28,51 29,17 Perikanan Pertambangan dan Penggalian 1,21 1,17 1,08 1,07 Industni Pengolahan 1,27 1,32 1,28 I, 16 Pengadaan Listrik dan Gas 0,08 0,07 0,08 0,08 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur 0,05 0,05 0,06 0,06 u•-- - Konstruksi 10,86 10,87 9,82 10,36 Perdagangan Besar dan Zzz; :zwe 11,14 11,49 11,16 11,48 Transportasi dan Pergudangan 5,52 5,47 4,62 4,56 Penyediaan Akomodasi dan 0,76 0,75 0,56 0,55 Makan Minum Informasi dan Komunikasi 6,64 6,63 7,44 7,41 Jasa Keuangan dan Asuransi 4,12 4,04 4,36 4,46 a G4t49A4 (MUM0ND/54 DA£RA4 [L. I PDR ADHK menarat Lapangan Usaha (juta rupiah) Lapangan Usaha [Seri 2013] 2018 2019 2020 2021 Real Estate 2,50 2,32 2,28 2,23 Jasa Perusahaan 0,30 0,29 0,18 0,15 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan 13,38 13,65 14,26 13,41 Sosial We iib Jasa Pendidikan 9,54 9,64 10,08 9,56 Jasa Kesehatan dan Kegiatan 2,17 2,18 2,40 2,58 Sosial Jasa lainnya 2,12 2,12 1,83 1,69 PDRB 100 10o 100 100 Sumber BPS NTT, 2021;Angla Sementara, Agka Sangat Sementars. Pada tahun 22021, sektor pertanian merupakan sektor terbesar dalam ekonomi Nusa Tenggara Timur. Sektor ini mengkomposisi 29,17% (19,599 triliun), terhadap total PDRB NTT yang pada tahun 2021 berjumlah sebesar Rp. 70.538 Triliun (ADHK). Sektor terbesa.r kedua dalam ekonomi Nusa Tenggara Timur adalah Administrasi Pemerintahan, Pertanahan dan Jaminan Sosial wajib sebesar 13,41%. Sedangkan sektor ekonomi dengan share terkecil dalam ekonomi Nusa Tenggara Timur adalah lapangan usaha Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang yaitu 0,06% disusul Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 0,08%. Tabe1 2.5 Laju Perturbuhan Produl Dorne«ti Regional Brute (PDRB ADH 2010 Menurut Lapangan Usaha di Provinsi NTT (Persen) Tahun 2018 - 2021 Laju Perturbuhan Produk Doestik Regional Brute (PDRB] Menurut Lapangpa U%aha di Lapangan Uaha [Seri 2010] Provinsf NTT (Pere), 2017-2019 2018 2019 2020 2021 pertanian, Kehutanan, dan 2,94 3,69 1,00 4,92 Perikanan Pertambangan dan Penggalian 1,94 3,32 -13,33 1,90 Industri Pengolahan 5,16 9,01 -5,42 -5,10 Pengadaan Listrik dan Gas 9,57 0,82 12,29 4,88 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, 5,47 5,44 6,04 11,34 Limbah dan Daur Ulanr Konstruksi 6,39 4,43 -9,82 7,01 Perdagangan Besar dan Eceran, 7,33 7,66 -5,98 4,27 Re si Mobil dan Se, Motor Transportasi dan Pergudangan 7,93 3,34 -12,16 2,47 Penyediaan Akomodasi dan Makan 12,16 6,43 -27,22 4,79 Minum % ] G A M B A # A N UMUM KONDIS4 DAERA4 I - 1 0 Laju Perturbuhaa Produl Donette Regional Brute [PDRB] Mernrut Lapangan U'aha di Laapagan Usaha [Seri 2010] Provins NTT (Per#el 2017-2019 2018 2019 2020 2021 Informasi dan Komunikasi 4,89 5,59 11,96 2,79 Jasa Keuangan dan Asuransi 3,50 3,22 8,57 2,56 Real Estate 4,85 0,00 -1,54 2,97 Jasa Perusahaan 1,67 3,86 -39,27 -14,67 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial 7,56 8,17 4,67 -3,45 Waiib Jasa Pendidikan 2,41 6,12 1,89 -2,24 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 7,II 5,67 4,38 9,02 Jasa lainnya 6,47 6,55 -15,30 -4,74 PDRB 5,11 5,24 -0,83 2,51 Sumber : Badan Pusat Statistie Poinsj NT2022 ; Angka Sementara ; Angla Sangat Sementara Apabila dilihat dari laju pertumbuhan PDRB, terus mengalami peningkatan secara nominal yaitu pada tahun 2018 sebesar Rp. 65.929 miliar naik menjadi Rp. 70.538 miliar pada tahun 2021, yang berdasarkan laju pertumbuhan tahun dasar 2010 PDRB Provinsi NTT mengalami perlambatan pada tahun 2021 sebesar 2,60 persen dibandingkan pada tahun 2018 yaitu sebesar 5,1l persen. 2.1.3.2 Laju Inflasi Inflasi Provinsi NTT pada triwulan IV 2021 tercatat sebesar 1,67% (yoy), melandai dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 1,74% (yoy). Inflasi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan inflasi Nasional sebesar 1,87% (yoy). Penurunan tekanan inflasi terutama didorong oleh penurunan inflasi dari harga kelompok komoditas makanan, minuman, 8& tembakau yang mengalami inflasi sebesar 1,73% (yoy). Secara keseluruhan tahun 2021, inflasi Provinsi NTT tercatat meningkat dibandingkan dengan inflasi tahun 2020. Hal ini terutama disebabkan oleh kelompok komoditas transportasi yang mengalami inflasi sebesar 4,16% (yoy) setelah pada tahun sebelumnya mengalami deflasi sebesar 4,66% (yoy). Meningkatnya tekanan inflasi mengindikasikan mulai pulihnya perekonomian seiring dengan kondisi pandemi yang lebih terkendali dibandingkan tahun sebelumnya. 4GAMBA#AN UMUM KO0ND/S4 DAERAN I t. 1 I Tab»el 2.6 fndels Harga Konsumen dan Laju fnflasi Nusa Teng&aura Tiraar Menurut Kelorpok Pengeluaran (2012= 100), (2018=100) Tahun 2018-2021 taflasi (%) IHK IHK IHK IHK Tinglat TLaglat Tiaglat Kelor pol Deember Desember Desember Deember Inflasi Inflasi nflai Pengeluaran 2018 2019 2020 2021 Tahon Ta.bun tahon Kalender Kalender Kalender 2019 2020 2021 Makanan, Minuman, dan 144,17 104,21 105,09 105,44 3,68 2,10 0,20 Tembakau Pakaian dan 104,32 105,37 0,98 0,19 Alas Kaki . . Perumahan, Air, Listrik, 131,04 102,48 102,84 1,66 0,32 0,07 Oas dan Bahan Bakar Sandang 122,18 104,73 105,81 4,87 0,95 0,26 Kesehatan 129,04 104,86 107,79 3,16 2,60 0,18 Transportasi . 103,89 103,01 . -1,30 0,00 Informasi, Komunikasi 100,42 100,07 -0,34 0,00 dan Jasa . . Keu Rekreasi, Olahraga dan . 103,15 103,90 . 0,74 0,20 Bidava Pendidikan . 106,21 107,70 . 1,40 0,01 Pendidikan, Rekreasi dan 125,65 . 107,60 3,30 . 0,21 Olah Transpor, Komunikasi 133,78 112,08 -0,40 0,29 dan dasa . . Keu Penyediaan Ma.kanan dan 105,22 1,99 Minuman/ Rest . . . . oran Perawatan Pribadi dan . 105,94 . . 6,1 l . Jasa Lainn+a Nua Teng.gar« 134,7 135,59 . 0,80 0,78 . TLrur Nasional 135,39 131.28 105,68 2,72 1,68 0,13 Surber BPS NTT.Berita Resmi Statistike 2019, 2020, 2021 Dari tabel 2.6. di atas, terlihat bahwa selama tahun 2019, kecenderungan inflasi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur masih mengikuti pola inflasi nasional, artinya bahwa inflasi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur tidak semata-mata diakibatkan oleh tekanan ekonomi internal di Nusa Tenggara Timur sendiri tetapi banyak juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang terjadi secara Nasional, dan jika dilihat dari trend inflasi tahun 2020 hanya 2021 terhihat bahwa angka inflsi mengalami penurunan. 4GAMBARAN UMUM KONDHSI DA£RA [t 12 I Perubahan terjadi pada Kelompok Pengeluaran dimana terdapat penambahan, penghilangan ataupun pemisahan nomenklatur, sehingga angka IHK pada Tahun 2019 dan Inflasi pada November Tahun 2020 semakin terinci, begitu juga yang terjadi pada tahun 2021. Dimana, Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,20 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,19 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,07 persen; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,26 persen; kelompok Kesehatan sebesar 0,18 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,20 persen; kelompok Pendidikan sebesar 0,0l persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,21 persen; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,29 persen. Sementara kelompok transportasi dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan tidak mengalami perubahan. Sedangkan inflasi NTT pada Tahun 2019 sebesar 2,72% jika dibandingkan pada Tahun 2020 hanya sebesar 1,68% dan tahun 2021 sebesar 0,13%. 2.1.3.3 PDRB Per Kapita PDRB Per kapita atas dasar berlaku menunjukkan nilai PDRB per kepala atau per satu orang penduduk dengan nilai PDRB atas dasar harga berlaku. PDRB Perkapita ADHB Provinsi NTT pada tahun 2018 tercatat sebesar Rp. 18,45 juta meningkat menjadi Rp. 19,59 juta pada tahun 2019. Peningkatan ini dipengaruhi oleh produk-produk yang dihasilkan oleh kegiatan ekonomi dan disertai dengan perubahan harga-harga di pasar yang dari tahun ketahun juga cenderung mengalami peningkatan (inflasi). Sedangkan berdasarkan PDRB per kapita ADHK pada tahun 2018 sebesar Rp. 12.27 juta meningkat menjadi Rp. 12,714 juta pada tahun 2019. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel2.7 PDRB dan PDRB Per Kapita Provinsi Musa Tengara Timur Tahun 2017 2020 U r a l «a n Nila] PDR (MILHar Rp] - ADHB - ADHK 2010 90.758,93 62.725,41 98.930,19 106.728,07 106.506,13 65.929,19 69.385,99 68.806,67 PDRB perlapita (Rib Rpl U r a i a n 2017 2018 2019 2020 - ADHB 17.165,45 18.448,13 19.591,07 19.220.097 - ADHK 2010 11.863,41 12.276,77 12.714,42 12.416.851 Perturbuhan PDRB perkapita ADHK 2010 -1,6 3,48 3,56 -2,34 Jumlah penduduk 5.287,30 5.371,52 5.456,20 5.541.394 (000 ongl Sumber Badan Pusat Statistik Provinsi NTT, olahan, 202 2.1.3.4 Indeks Gini (Gini Ratio) Indeks Gini Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2021 sebesar 0,339, yang menunjukkan bahwa "kecenderungan ketimpangan" tidak mengalami perubahan atau dapat dikatakan ketimpangan di NTT tahun 2021 dibandingkan dengan tahun 2019 dan 2020 tidak mengalami perubahan yang signifikan. Jika dibandingkan dengan gini rasio nasional sebesar 0,39, maka indeks Gini NTT Lebih rendah yang mengindikasikan ketimpangan di NTT tidak sedalam ketimpangan yang terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia. Tabel 2.8 Indeks Gini di Provinsi NTT Tahun 2013-2021 Surber: BPS BPS, SurveiSosialEkonomi Nasional (Susenas) Than ndikator 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 Rasio Gini 0,35 0,36 0,34 0,36 0,36 0,36 0,355 0,356 0,339 . 2.1.3.5 Indeks Pembangunan Manusia Indeks Pembangunan Manusia (IPM)/Human Development Index (HDI) digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas manusia. Indikator komponen IPM diperolah dari pengukuran perbandingan dari Angka Usia Harapan Hidup, Angka melek huruf, rata - rata lama sekolah dan Konsumsi per kapita. Untuk mengukur dimensi kesehatan, digunakan angka usia harapan hidup yaitu angkaperkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur. Untuk mengukur dimensi pengetahuan digunakan gabungan I indikator angka harapan lama sekolah (Kombinasi antara partisipasi sekolah, jenjang pendidikan yang sedang dijalani, kelas yang diduduki dan pendidikan yang ditamatkan) dan angka melek huruf (untuk penduduk usia 15tahun ke atas). Adapun untuk mengukur dimensi hidup layak digunakan indikator kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat dari rata-rata besarnya pengeluaran per kapita sebagai pendekatan pendapatan yang mewakili capaian pembangunan untuk hidup layak. Gambar 2.3 IPM NTT ta.hn 2011-2021 65,23 65,19 65,28 64,39 63,73 63,13 62,26 62,67 61,68 60,81 60,24 I 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 IPM NTT terus meningkat yaitu dari tahun 2017 sebesar 63,73 menjadi 65,28 tahun 2021,tumbuh 0,14 persen (meningkat 0,09 poin) dibandingkan capaian tahun2020.Walau [PM NTT terus meningkat, namun secara nasional masih tertinggal. Pada tahun 2017 IPM NTT 63,73 tertinggal jauh dibanding IPM rata-rata nasional yang mencapai 70,81 pada tahun 2021 IPM NTT 65,28, dan IPM rata-rata nasional sudah mencapai 72,29. (BPS, Provinsi NTT dalam Angka 2022) Tabel 2.9 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Provins] NTT Memurut Komponen, Tahun 2015-2021 Than lndilator 2018 20192015 2016 2017 2020 2021 Umur Harapan Hidup (thn) 65,96 66,04 66,07 66,38 66,85 67,01 67,15 Harapan Lama Sekolah 12,84 12,97 13,07 13,10 13,15 13,18 13,20 (HLS] (thn) Rata-rata Lama Sekolah 6,93 7,02 7,15 7,30 7,55 7,63 7,69 (RLS] (thn) Pengeluaran per Kapita 7,003 7,122 7,350 7,566 7,769 7,598 7.554 (PPP(Rp.000 PM NTT 62,67 63,13 63,73 64,39 65,23 65,19 65,28 IPM Ruta-rata Nasional 69,65 70,18 70,81 71,39 71,92 71,94 72,29 Sumber; BPS NTT, 2022 [GAMBA#AN (MUM KONDIS4 DAERAN [1.15 d I 2.1.3.6 Pengeluaran per Kapita Pengeluaran per kapita adalah biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi semua anggota rumah tangga selama sebulan dibagi dengan banyaknya anggota rumah tangga. Jumlah pengeluaran per kapita di NTT terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2019 pengeluaran per kapita masyarakat NTT sebesar Rp 7,769 juta menurun pada tahun 2020 menjadi Rp 7,598 juta dan di tahun 2021 kembali mengalami penurunan menjadi sebesar Rp. 7,554 juta. Tabel 2.10 Jumlah Pengeluaran per Kapita di Provins! NTT Tahun 2019-2021 [MetodeBara] PengeluaranRiil per Kapita Dise s ailn wLlaya.h Meurut Kabapaten/Kot% (Rib Rupiah 2019 2020 2021 Sumba Barat 7586.00 7321.00 7307.00 Sumba Timur 9640.00 9406.00 9354.00 Kupang 7698.00 7526.00 7476.00 TiHor Tengah Selatan 6955.00 6861.00 6839.00 Timor Tengah Utara 6479.00 6364.00 6324.00 Belu 7677.00 7479.00 7431.00 Alo 6958.00 6786.00 6751.00 Lembata 7474.00 7305.00 7257.00 Flores Timur 7770.00 7631.00 7578.00 Sikka 8313.00 8081.00 8021.00 Ende 9315.00 9094.00 9027.00 Ngada 8961.00 8865.00 8819.00 Manggarai 7276.00 7203.00 7133.00 Rote Ndao 6720.00 6539.00 6503.00 Manggarai Barat 7602.00 7468.00 7410.00 Sumba Tengah 6198.00 6108.00 6061.00 Sumba Barat Daya 6594,00 6372.00 6355.00 Nagekeo 8469.00 8309.00 8254.00 Manggarai Timur 5919.00 5818.00 5780.00 Sabu Raijua 5354.00 5265.00 5256.00 Malaka 5998.00 5901.00 5861.00 Kota Ku pang 13592.00 13337.00 13218.00 Nusa Tenggara Timur 7769.00 7598.00 7554.00 Sumter : BPS NTT, 2022 46AM8ARAN UMUM KONDIS4 DA£RAH [ 1. g 2.1.3.7 Usia Harapan Hidup Usia Harapan Hidup (UHH) dapat digunakan untuk menilai status derajat kesehatan. Selain itu menjadi salah satu indikator yang diperhitungkan dalam menilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Gambaran UHH penduduk NTT pada tahun 2020 angka usia harapan hidup sebesar 67,01 yang berarti bahwa anak-anak yang lahir pada tahun 2020 diperkirakan akan hidup rata-rata sampai umur 67 tahun. Tahun 2021 angka umur harapan hidup sebesar 67,15 yang berarti bahwa anak-anak yang lahir pada tahun 2021 diperkirakan akan hidup rata-rata sampai umur 67 tahun. Umur harapan hidup penduduk setiap tahun semakin meningkat namun tidak terlalu signifikan. Tabel 2.11 Urur Harapan Hidup di Provins! NTT Tahun 2015-2021 wllaya.h Uuur Harp.n Hid up Meurut abapaten/Kot% (Ta.bun] 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 Sumba Barat 66,11 66,15 66,20 66,58 66,98 67,08 67,12 sumba Timur 63,88 64,00 64,12 64,45 64,94 65,13 65,16 Kupang 63,17 63,33 63,49 63,86 64,39 64,63 64,91 Timor Tengah Selatan 65,55 65,60 65,65 65,91 66,32 66,42 66,46 Timor Tengah Utara 66,09 66,14 66,19 66,45 66,86 66,96 67,09 Belu 63,01 63,21 63,42 63,81 64,35 64,6 64,89 Alor 60,23 60,35 60,47 60,8 61,29 61,48 61,64 Lembata 65,85 66,02 66,19 66,57 66,97 67,07 67,20 Flores Timur 63,28 64,36 64,45 64,7 65,10 65,20 65,31 Sikka 66,10 66,20 66,310 66,61 67,07 67,24 67,45 Ende 64,37 64,42 64,48 64,75 65,17 65,29 65,43 Ngada 67,32 67,34 67,36 67,59 67,96 68,04 68,12 Mang.garai 64,48 65,66 65,84 66,23 66,77 67,03 67,11 Rote Ndao 62,86 63,13 63,41 63,8 64,34 64,60 64,88 Manggarai Barat 65,98 66,19 66,19 66,58 67,12 67,38 67,46 Sumba Tengah 67,65 67,73 67,74 67,96 68,32 68,38 68,42 sumba Barat Daya 67,08 67,71 67,76 68,02 68,43 68,53 68,57 Nagekeo 66,25 66,31 66,36 66,62 67,03 67,13 67,25 Manggarai Timur 67,27 67,39 67,40 67,62 67,98 68,04 68,07 Sabu Raijua 58,38 58,69 59,00 59,53 60,23 60,64 60,66 Mala.ka 64,15 64,27 64,29 64,52 64,89 64,97 65,01 Kota Ku pang 68,34 68,46 68,58 68,9 69,37 69,55 69,73 Nuse Tegar Tl tar 65,96 66,04 66,07 66,38 66,85 67,01 67,15 Surber : BPS NTT, 2022 ]GA4BARAN UMUM KONDIS4 DAERAN 1. 1 I 2.1.3.8 Angka Kemiskinan Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Penduduk miskin NTT menunjukkan perkembangan yang fluktuatif dari tahun ke tahun. Jumlah penduduk miskin NTT tahun 2016 menjadi 1.160,53 jiwa, menurun tahun 2017 menjadi 1.150,08 dan pada tahun 2018 jumlah penduduk miskin menurun lagi menjadi 1.134,74 jiwa . Sedangkan, Jumlah penduduk miskin di Provinsi NTT pada September 2020 mencapai 1.173,53 ribu orang. Dibandingkan September 2019, jumlah penduduk miskin meningkat 24,3 ribu orang. Sementara jika dibandingkan dengan Maret 2019, jumlah penduduk miskin juga meningkat sebanyak 7,44 ribu orang. Persentase penduduk miskin pada September 2020 tercatat meningkat sebesar 21,21 persen. Pada tahun 2021 Penduduk miskin berjumlah 1.169,31 ribu orang Dalam pengukuran kemiskinan, pendekatan konsep yang digunakan adalah pemenuhan kebutuhan dasar (basic need approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan yang kemudian diukur dalam dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM)] dan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Persentase penduduk miskin pada September 2021 sebesar 20,44 persen, menurun 0,55 persen poin terhadap Maret 2021 dan menurun 0,77 persen poin terhadap September 2020. Jumlah penduduk miskin pada September 2021 sebesar 1.146,28 ribu orang, menurun 23 nbu orang terhadap Maret 2021 dan menurun 27,3 ribu orang terhadap September 2020. Persentase penduduk miskin perkotaan pada Maret 2021 sebesar 8,60 persen, turun menjadi 8,57 persen pada September 2021. Sementara persentase penduduk miskin perdesaan pada Maret 2021 sebesar 25,08 persen, turun menjadi 24,4 persen pada September 2021. Dibanding Maret 2021, jumlah penduduk miskin September 2021 perkotaan naik sebanyak 0,12 ribu orang (dari 118,76 ribu orang pada Maret 2021 menjadi 120,58 ribu orang pada September 2021). Sementara itu, pada periode yang sama jumlah penduduk miskin perdesaan turun sebanyak -· -- - ]GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAN Il-18 24,85 ribu orang (dari 1.050,55 ribu orang pada Maret 2021 menjadi 1.025,70 ribu orang pada September 2021). Garis Kemiskinan pada September 2021 tercatat sebesar Rp437.606, /kapita/bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp344.666,- (78,76 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp92.941,-(21,24 persen). Pada September 2021, secara rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 5,38 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian, besarnya Garis Kemiskinan per rumah tangga miskin secara rata-rata adalah sebesar Rp2.354.320,-/rumahtangga miskin/bulan. Kemudian, persoalan kemiskinan bukan hanya sekadar jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan yang terkait dengan kemiskinan juga sekaligus harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Namun pada kenyataannya, meski jumlah penduduk miskin menurun, indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan justru meningkat. Indeks Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index-PI), merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan. Indeks kedalaman kemiskinan NTT menunjukkan angka yang fluktuatif dari tahun ke tahun. Indeks Kedalaman Kemiskinan (PI) di NTT turun dari 4,16 pada September 2020 menjadi 3,96 pada Maret 2021. Sedangkan, Indeks keparahan kemiskinan (Poverty Severity Index-P2) memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Indeks keparahan kemiskinan di NTT mengalami fluktuasi dalam perkembangannya. Indeks Keparahan Kemiskinan juga turun dani 1,24 menjadi 1,05 pada periode September 2020 sampai Maret 2021. ]GABA#AN UMU KONO4SI DAE RAH pl.19 Tabel 2.12 Indikator Kemiskinan di Provinsi NTT Tahun 2016-2021 Angla Keri«linen (%] dilator 2016 2017 2018 2019 2020 2021 Jumlah penduduk 1,160,53 1.150,08 1 134,74 1.129,46 1.173,53 1.169.31 miskin (ribu jiwa) Garis Kemiskinan 322.947 343,396 354,898 373,922 403,055 415.116 (rupiah/ kapita/ bulan Indeks kedalaman 4,69 3,83 4,16 4,13 4,15 4,79 kemiskinan (PI) Indeks keparahan 1,30 0,96 1,17 1,12 1,24 1,44 kemiskinan (2) Persentase Penduduk 22.58 22,01 21.38 20,62 21,2 2099 Miskin NTT Persentase Penduduk 10.70 10.12 9,66 9,22 10,19 9,71 Miskin Indonesia Surber : BPS NTT, 2022 2.1.3.9 Persentase Balita Gizi Buruk dan Gizi Kurang Gii buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Di Indonesia, kasus KEP (Kurang Energi Protein) adalah salah satu masalah gizi utama yang banyak dijumpai pada balita. Tabel 2.13 Persentase Gizi Buruk dan Gizi Kurang di NTT Tahu 2013-2021 Surber SIPD Provins± NTT, Laporan e.PPGBM 22 kabupaten /kota pd Dinkes pro NTT Februari 2021 Indiletor Pesentase Gii Bruk dan Gii Kurang 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 Persentas¢ gizi 1,I0 1,00 0,96 0,87 0,87 1,9 2,5 5,1 2,4 buruk (%) Persentase gizi 6,90 7,15 4,16 2,50 2,84 6,3 6,9 23,1 17,5 kurang (% . Angka stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur masih tinggi. Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia ($sGI) 2021, masih ada 15 kabupaten di NTT yang berkategori merah dalam kasus stunting. Penyematan status merah tersebut yakni wilayah yang prevalensi stuntingnya masih di atas 30 persen. 15 kabupaten tersebut adalah Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Alor, Sumba Barat Daya, Manggarai Timur, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Belu, Manggarai Barat, Sumba Barat, Sumba Tengah, Sabu Raijua, Manggarai, Lembata dan Malaka. Bahkan Timor Tengah Selatan dan Timor 16AM8ARAN UNUM K0NDS4 DA£RAH [L.20 Tengah Utara memiliki prevalensi di atas 46 persen. Sementara sisanya, tujuh kabupaten dan kota berstatus kuning dengan prevalensi 20 hingga 30 persen, di antaranya Ngada, Sumba Timur, Negekeo, Ende, Sikka, Kota Kupang serta Flores Timur. Bahkan tiga daerah seperti Kabupaten Ngada, Sumba Timur dan Negekeo mendekati status merah. Tidak ada satu pun daerah di NTT yang berstatus hijau yakni berprevalensi stunting antara 10 hingga 20 persen. Apalagi berstatus biru untuk prevalensi stunting di bawah 10 persen. Tabel 2.14 Persentase Baduta dan Balita Stunting, Wasting dan Underweight I NTT Tahun 2016-2021 Kelorpol TT Tahu lndor esi dilator U'er 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2017 Baduta Stunting 32.1 29.8 26.5 22.3 17.1 15.8 20. 1 Wasting 17.5 17.9 7.9 9.4 7.6 7.7 12.8 Underweight 23.0 22.8 12.6 9.4 13 13.6 14.8 Babita Stunting 38,7 40,3 35.4 30.0 24.2 22.0 29.6 Wasting 17.4 15.8 8.3 9.4 7.5 8.0 9. 5 Underweight 28.2 28.3 19.6 19.9 18 18.3 17.8 Surber Studi Status Gii Indonesia (99GI) 2021 2.1.3.10 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tenaga kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja dan menggambarkan kurang termanfaatkannya pasokan tenaga kerja. Sejalan dengan mulai bangkitnya secara perlahan ekonomi di tahun 2021, TPT Provinsi NTT padapada tahun 2021 tercatat 3,77%, mengalami penurunan dari tahun 2020 sebesar 4,28%. Secara spasial, TPT Provinsi NTT Agustus 2021 menempati peringkat ke-tujuh sebagai provinsi dengan TPT terendah setelah Provinsi Sulawesi Tengah (3,75%), Bengkulu (3,65%), Papua (3,33%), Sulawesi Barat (3,13%), Gorontalo (3,01% dan NusaTenggara Barat (3,01%). Sehingga secara Nasional, kondisi TPT Provinsi NTT pada Agustus 2021 lebih baik dibandingkan Nasional yang sebesar 6,49%. Tingkat Partisipasi Angkatan kerja (TPAK] Provinsi NTT pada Agustus 2021 menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun 2020. TPAK pada Agustus 2021 tercatat sebesar 73,78% atau lebih tinggi dibandingkan Agustus 2020 yang sebesar 70,11%. ]GAMBA#AN UNUM 0NDIS DAERA4 1- 2 L 2.1.3.11 Opini BPK Atas Laporan Keuangan Daerah Opini Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah NTT menunjukkan perbaikan. Tahun 2016-2021 secara berturut turut pengelolaan keuangan daerah mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP], sedangkan tahun 2013-2015 mendapat opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Tabel 2.15 Opinl BPK Atas Laporan Keuangan Daera.h di Provins! NTT Tahun 2013-2021 Ta.hon Indikator 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 Opini BP Atas Laporan Keuangan WOP WDP wDP WTP WTP WTP WTP WTP WTP Pemerintah Daerah Surber Badan Keuangan Daerah Provinsi NTT, 2020 2.1.3.12 Skor Pola Pangan Hara pan Pola Pangan Harapan (PPH) atau Desirable Dietary Pattern (DDP) adalah susunan keragaman pangan yang didasarkan pada sumbangan energi dari kelompok pangan utama pada tingkat ketersediaan maupun konsumsi pangan. PPH merupakan instrumen untuk menilai situasi konsumsi pangan wilayah yang dapat digunakan untuk menyusun perencanaan kebutuhan konsumsi pangan ke depan, dengan mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, budaya dan preferensi konsumsi pangan masyarakat. Selain itu, PPH juga dapat dijadikan acuan untuk menentukan sasaran dalam perencanaan dan evaluasi penyediaan khususnya produksi pangan. Tujuan utama penyusunan PPH adalah untuk membuat suatu rasionalisasi pola konsumsi pangan yang dianjurkan, yang terdiri dari kombinasi aneka ragam pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi dan sesuai cita rasa. Skor PPH di NTT terus membaik dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013 PPH NTT 66,20 meningkat tahun 2016 menjadi 73,00 namun pada tahun 2020 mengalami penurunan menjadi 67,9 persen. Tabel 2.16 Skor Pola Pangan Harapan di Provinst NTT TAhn 2013-2020 lndilat or Taha (%4 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Skor PPH 66,2 65,0 71,3 73,0 78,6 69,0 69,2 67,9 4GAMBA#AN UMUM 0N054 DA£RA4 [ . 2 Al 2.1.4. Aspek Pelayanan Umum 2.1.4.1 Pendidikan