Peraturan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahui, memerintahkan pengundangan Peraturan Gubernur ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dittapkandi Kupang Pdin8h r 7 a 2022 i@ii#wra«ow»mf i t @ ? J \ A s $bros Bcorriuu LusKopAT "P Diundangkan di Kupang pada tanggal 1 uti 2022 DAERAH GARA TIMURf JOI LISAPALY Geis" RRTjDAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2022 NOMOR 0 LAMPIRAN : PERATURAN GUBERNUR NUSA TENGGARA TIMUR NOMOR : 8z TAHUN 2022 TANGGAL: I i 2022 GRAND DESIGN PENGEMBANGAN PETERNAKAN PROVINS! NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2021-2028 • BABI PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebijakan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan nasional Tahun 2020-2024, diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan peternak dan keberlanjutan sumber daya peternakan dan kesehatan hewan. Daging, susu dan telur merupakan bahan pangan yang dihasilkan oleh hewan ternak sebagai sumber energy dan protein dan sangat mempengaruhi kualitas kesehatan dan intelejensia masyarakat. Ketersediaan daging sebagai bahan pangan utama sumber protein hewani tidak dapat digantikan oleh bahan pangan lainnya. Daging sapi/kerbau sebagai komoditi pangan strategis asal ternak merupakan komponen penting dalam ketahanan pangan nasional, untuk itu menjadi tantangan bagi masyarakat peternakan untuk membuktikan kemampuannya menyediakan pangan asal ternak dalam jumlah yang cukup dan berkualitas yang baik serta berkesinambungan. Produksi daging sapi nasional tahun 2020 adalah 515.627,74 ton dan produksi daging sapi Provinsi NTT 1 3 . 1 1 6 , 45 ton (BPS Nasional, 2021). Data menunjukkan sumbangsi produksi daging Provinsi NTT terhadap Nasional adalah 2,54% dan dapat dikatakan masih sangat rendah sehingga sangat berpotensi untuk lebih ditingkatkan lagi. Kebutuhan daging sapi dan kerbau di tahun 2021 diperkirakan 696.956 ton, sementara produksi dalam negeri juga diperkirakan sebesar 473.814 ton (ditjennak.pertanian.go.id, 21 Januari 2021). Angka perkiraan kebutuhan daging tersebut mengindikasikan adanya defisit produksi daging sapi Nasional sehingga perlu dilakukan upaya peningkatan produksi selain impor daging. Langkah operasional peningkatan produksi daging nasional yang diemban oleh Kementerian Pertanian saat ini adalah : 1) peningkatan produktivitas ternak sapi lokal; 2) pengembangan pakan ternak; GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 1 « 3) penyediaan bibit sapi/kerbau; 4) kesehatan hewan; 5) kesmavet, pasca panen dan pemasaran; dan (6) regulasi pemerintah. Pembangunan ekonomi daerah NTT terus digalakkan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan penduduknya, ditinjau dari aspek demografi pada tahun 2020 penduduk NTT berjumlah 5.325.566 jiwa (Hasil SP2020). Sektor pertanian, yang mencakup Subsektor peternakan merupakan penyerap tenaga kerja terbesar di NTT, yakni mencapai 51,43%, sebagian besar tenaga kerja tersebut bertempat tinggal di daerah pedesaan dengan menempatkan sub sektor peternakan sebagai New Inisiatif melalui breeding farm dan industri pakan ternak dalam mewujudkan NTT Bangkit 2019 - 2023. Sumbangan subsektor peternakan dan hasil-hasilnya terhadap PDRB NTT atas dasar harga berlaku tahun 2020 mencapai 10.530.450.000.000,- atau 9,89% terhadap total PDRB NTT, dengan tingkat pertumbuhan sebesar 2,12% (BPS Prov.NTT, 2021). Pembangunan bidang ekonomi untuk sub sektor peternakan diarahkan pada upaya pemanfaatan potensi peternakan secara optimal untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat melalui upaya peningkatan pendapatan peternak, pertumbuhan ekonomi dan percepatan perubahan struktur ekonomi serta menjaga kelestariannya untuk kepentingan jangka panjang. Capaian pelaksanaan pembangunan peternakan periode 2018 2023 secara akumulasi integratif, ditunjukkan dengan indikator-indikator makro antara lain dari (a) nilai tukar petani (peternak); (b) produksi dan produktivitas; (c) pendapatan per kapita; (d) konsumsi / pengeluaran rumah tangga untuk pangan dan non pangan; (e) manfaat nilai pendapatan regional jumlah pengeluaran / antar pulau dan (f) Pendapatan Asli Daerah. Pengembangan sistem agribisnis merupakan salah satu strategi pembangunan wilayah yang potensial mengintegrasikan antar sektor dan antar wilayah, namun keberhasilan agribisnis usaha ternak yang dilaksanakan tidak akan terlepas dari peran kelembagaan kelompok peternak itu sendiri. Apabila peran tersebut belum optimal maka pengembangan agribisnis komoditas akan terhambat. Peran kelembagaan kelompok peternak sangat menentukan terhadap keberhasilan GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 2 3GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT adalah usaha yang multi-fungsi: ekonomi, lingkungan dan sosial. jlr pembangunan petemakan, karena diharapkan akan mampu berkontribusi terhadap aksesibilitas petemak terhadap pengembangan sosial ekonomi petemak, serta pasar. Dalam sistem ekonomi pasar, salah satu aspek penting untuk meningkatkan output adalah efisiensi yaitu dengan cara optimalisasi pemanfaatan sumberdaya yang tersedia baik dalam jumlah maupun kombinasi antara berbagai input yang digunakan (Kameo, 2013) Ekspor antar daerah Provinsi NIT terutama adalah temak (sapi, kerbau, dan kuda). Pada tahun 2020, kinerja ekspor temak Provinsi NIT terkontraksi -11,56% (yoy), melambat dibandingkan tahun 2019 yang tumbuh 4,83%. Menurunnya ekspor temak pada tahun 2020 dipengaruhi oleh berkurangnya permintaan sapi terutama di hari raya ldul Adha yang selalu tinggi, semng himbauan Pemerintah untuk melaksanakan penyembelihan kurban di Rumah Pemotongan Hewan dalam rangka mengurangi risiko penyebaran pandemi COVID-19. Realisasi ekspor tenak Provinsi NIT pada tahun 2020 mencapai 95, 1 % dari total kuota ekspor temak tahun 2020. Provinsi Kalimantan Timur dan Jawa Barat menjadi tujuan utama ekspor ternak Provinsi NTT dengan pangsa masing-masing 33,09% dan 27,02% Petemakan berperan sangat penting dalam perekonomian wilayah NIT maupun perekonomian keluarga tani, khususnya petani miskin di pedesaan. Dari sekitar 80% rumah tangga petani yang dominan tinggal di pedesaan hampir seluruhnya memelihara temak dan secara Jangsung ataupun tidak langsung bergantung pada usaha petemakan sebagai sumber uang tunai dan sumber protein hewani keluarga maupun untuk urusan sosial. Pengelolaan temak yang ramah lingkungan seperti pola penggemukan temak sapi di Amarasi Kabupaten Kupang telah turut membantu menghentikan system perladangan berpindah, meningkatkan kesuburan dan produktivitas lahan kering. Disamping masih merupakan bagian prestige bagi masyarakat tradisional, temak yang dimiliki petani adalah juga bentuk tabungan yang sangat berarti ketika petani membutuhkan uang tunai atau ketika musim paceklik. Gambaran diatas menunjukkan bahwa usaha petemakan, di NIT Karena itu pembangunan sub-sektor peternakan mempunyai arti penting bagi pembangunan pedesaan dan sebagai elemen penting dalam upaya penanggulangan kesmiskinan karena sebagian besar penduduk miskin tinggal di pedesaan dan bermatapencaharian dari berusaha tani/betemak. Pembangunan sub sektor petemakan di NTT sampai saat ini mencakup dua peran utama, yakni: 1) turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTT melalui peningkatan pendapatan dari temak dan hasil temak serta perbaikan gizi masyarakat, dan 2) turut memenuhi kebutuhan akan daging nasional dengan pengeluaran temak dan hasil temak bagi masyarakat konsumen di provinsi lain serta dalam rangka memperkecil penggunaan devisa negara bagi import temak dan hasil temak. Produksi ternak di NTT, baik produksi per satuan temak maupun produksi per satuan usaha, per satuan luas serta per satuan waktu, belum mencapai tingkat yang optimal. Selain itu peranan dari produksi yang telah dihasilkan itu secara keseluruhan belum berfungsi optimal sebagai pembentuk kesejahteraan keluarga petemak secara stabil dan nyata baik dalam aspek ekonomi maupun dalam aspek gizi makanan. Pembangunan bidang petemakan Provinsi NTT sebagaimana dalam RPJMD Perubahan 2018-2023 adalah mendukung misi 1 mewujudkan masyarakat sejahtera, mandiri dan adil. Peningkatkan kesejahteraan masyarakat NTT dengan prinsip keterbukaan dan melibatkan semua pihak (inclusive) dan dengan pendekatan berkelanjutan merujuk pada empat aspek pembangunan yaitu aspek ekonomi, aspek sosial, aspek lingkungan, dan aspek kelembagaan. Merujuk kepada prioritas pembangunan daerah untuk peningkatan pendapatan masyarakat petani petemak, dapat dilakukan melalui peningkatan produksi bibit benih pertanian, petemakan dan perikanan yang mampu memenuhi kebutuhan daerah, nasional dan ekspor melalui peningkatan nilai tambah dengan indikator kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDRB. Pengembangan sektor petemakan melalui peningkatan produksi temak tahun 2021 - 2028 di Provinsi NTT lebih difokuskan pada komoditas ternak sapi, babi dan ayam KUB. Kajian dalam upaya menggali potensi peternakan daerah ini terutama pada ketiga komoditas tersebut GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 4 diperlukan untuk menyusun suatu perencanaan atau Grand Design pengembangan peternakan kedepannya. 1.2. Tujuan Maksud dari kajian Grand Design pengembangan peternakan Provinsi NTT Tahun 2021 - 2028 adalah :
1.Merumuskan rencana komprehensif pembangunan peternakan yang mengacu pada Rencana Pembanguan Jangka Menegah Daerah (RPJMD) Provinsi NTT dan sejalan perencanaan pembangunan peternakan nasional Tahun 2021 - 2025.
2.Menyusun dokumen rencana pengembangan peternakan Tahun 2021 - 2028 dengan pengembangan pada pembibitan ternak sapi, babi dan ayam KUB. 1.3. Manfaat Manfaat penyusunan Grand Design pengembangan peternakan Provinsi NTT Tahun 2021 - 2028 adalah: 1 . Tersedianya dokumen perencanaan jangka menengah terkait pembangunan peternakan yang terintegrasi dengan skenario RPJMD Provinsi dan Nasional.
2.Tersedianya dokumen Grand Design pengembangan peternakan yang dapat dijadikan pedoman bagi pemerintah, swasta, stakeholder, masyarakat dan pemangku kepentingan sebagai arah kebijakan dan rencana implementasi bidang peternakan Perovinsi NTT berdasarkan strategi dan rekomendasi yang diperoleh dari hasil analisis berupa sektor - sektor unggulan untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan pemerataan pembangunan. 1.4. Landasan Hukum Landasan hukum serta pedoman yang dijadikan acuan dalam 5GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT penyusunan Grand Design pengembangan peternakan Provinsi NTT Tahun 2021-2028 adalah sebagai berikut: J'S C - 1 . Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
2.Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
3.Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan Perubahannya;
4.Undang-undang Nomor Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Perubahannya;
5.Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal;
6.Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
7.Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah;
8.Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-2024;
9.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, serta Tata Cara Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah;
10.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 70 Tahun 2019 tentang Sistem lnformasi Pemerintahan Daerah; 1 1 . Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 90 Tahun 2019 ten tang Klasifikasi, Kodefikasi dan Nomenklatur Perencanaan Pembangunan dan Keuangan Daerah;
12.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 77 Tahun 2020 tentang 6GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Daerah;
13.Peraturan Daerah Provinsi NTT Nomor 1 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi NTT Tahun 2005 2025; /2
14.Peraturan Daerah Provinsi NTT Nomor 09 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Provinsi NTT dan Perubahannya;
15.Peraturan Daerah Provinsi NTT Nomor 1 Tahun 2 0 1 1 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi NTT;
16.Peraturan Daerah Provinsi NTT Nomor 4 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Peternakan dan Kesehatan Hewan;
17.Peraturan Daerah Provinsi NTT Nomor 1 Tahun 2021 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Provinsi NTT Nomor 4 Tahun 2019 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi NTT Tahun 2018-2023 (Lembaran Daerah Provinsi NTT Tahun 2021 Nomor 001, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi NTT Nomor 0116);
18.Peraturan Gubernur NTT No. 13 Tahun 2019 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Dinas Peternakan Provinsi NTT;
19.Peraturan Gubernur NTT Nomor 7 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Lampiran XI dan Lampiran XXX Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor 65 Tahun 2019 tentang Uraian Tugas Jabatan Struktural pada Perangkat Daerah Provinsi NTT. 1.5. Ruang Lingkup Ruang lingkup dari kajian Grand Design Pengembangan Peternakan Provinsi NTT tahun 2021 - 2028 adalah:
1.Kondisi eksisting peternakan
2.Pengembangan Pembibitan ternak sapi bali.
3.Pengembangan pembibitan ternak sapi sumba ongole.
4.Pengembangan pembibitan ternak sapi persilangan wagyu.
5.Pengembangan pembibitan ternak babi
6.Pengembangan pembibitan ternak ayam KUB
7.Penumbuhan kelembagaan dan agribisnis peternakan.
8.Pengembangan industi pakan
9.Pengendalian kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner. # GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 7 - - - ---- -- ----------------------------- Tabel 1. Populasi Ternak di Provinsi NTT Tahun 2016-2020 Jenis Tahun Ternak 2016 2017 2018 2019 2020 Sapi 984.508 1.007.608 1.027.256 1.087.761 1.188.982 (ekor) Kerbau 134.457 141.075 156.957 175.007 189.972 (ekor) Kuda 112.946 114.879 112.557 109.549 1 1 5 . 1 2 9 (ekor) Kambing 609.367 626.431 637.969 835.614 999.730 (ekor) Domba 64.685 65,422 66.884 64.507 76.532 (ekor) Babi 1.845.408 2.073.446 2.141.243 2.266.222 2.694.222 ekor Unggas 15.702.304 16.997.993 17.687.278 18.251.171 23.491.887 ekor Sumber : Data sektoral Dinas Peternakan Provinsi NTT Tahun 2016-2020 Populasi tertinggi sesuai tabel 1 adalah ternak unggas. Populasi untuk Ternak kecil didominasi oleh ternak babi, sedangkan untuk ternak besar terbanyak adalah ternak sapi. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketiga jenis ternak ini merupakan komoditas unggulan bagi masyarakat NTT. Populasi ketiga jenis ternak ini juga selalu meningkat setiap tahun dengan persentase pertumbuhan yang bervariasi. Pertumbuhan populasi ternak unggas, babi dan sapi tahun 2017 - 2020 terlihat pada Gambar 1 . GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 8 Unggas Babi Sapi 35,00 20,00 10,00 30,00 9,31 15,00 8,00 25,00 / 20,00 6,00 5,89 15,00 10,00 4,00 10,00 5,00 2,00 -2.35 1,95 5,00 2017 2018 2019 2020 2017 2018 2019 2020 2017 2018 2019 2020 Gambar 1. Grafik persentase pertumbuhan populasi ternak Unggas, Babi dan Sapi Pertumbuhan populasi ternak unggas, babi dan sapi sesuai grafik sangat bervariasi dan cenderung tidak stabil setiap tahunnya. Persentasse Pertumbuhan populasi ternak tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain :
1.Angka Kelahiran Upaya peningkatan angka kelahiran (kesuburan) ternak sapi dapat menjadi alat yang ampuh dalam meningkatkan populasi ternak sapi di daerah ini. Kajian terhadap beberapa faktor penyebab penurunan angka kelahiran akan sangat membantu dalam menyusun strategi peningkatan angka kelahiran tersebut. Beberapa penyebab yang mungkin menyebabkan penurunan kesuburan termasuk pemotongan betina produktif, kekurangan pejantan, penyebaran penyakit brucellosis, dan stress nutrisi yang makin meningkat. Hingga saat ini telah banyak program yang telah dijalankan pemerintah diarahkan untuk meningkatkan populasi dan pemerataan pemilikan ternak. Program-program tersebut telah dilakukan bahkan jauh sebelum adanya indikasi penurunan populasi. Berbagai program seperti sapi Kopel, telah menjadi program yang sangat populer dan telah dijalankan selama bertahun-tahun. Walaupun belum terdapat cukup publikasi tentang seberapa besar dampaknya pada peningkatan populasi, namun sedikit tidaknya telah berdampak positif terhadap peningkatan populasi pada beberapa dekade belakangan ini. Namun demikian dampak tersebut mungkin agak kecil mengingat sumber bakalan tersebut berasal GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 9 dari populasi yang ada. Dampak yang lebih besar mungkin pada pemerataan jumlah kepemilikan ternak sapi. Penerapan larangan Pemotongan Betina Produktif juga telah dilakukan dengan berbagai permasalahan yang ditemui. Pembelian betina bunting yang dijual petemak merupakan altematif yang baik. Beberapa pengusaha juga telah membeli betina bunting yang dijual dipasaran, namun demikian hingga saat ini belum menjadi trend secara meluas.
2.Angka Kematian Tingginya tingkat mortalitas merupakan faktor utama yang menyebabkan rendahnya produktivitas ternak di NTT. Sebagai contoh tingkat mortalitas pedet mencapai 35, 1 % jumlah kematian pedet per tahunnya mencapai 66.464 ekor pedet dengan asumsi 192.024 ekor yang dilahirkan oleh sekitar 302.400 ekor betina pada tahun 1998 pada saat populasi sapi di Nusa Tenggara Timur mencapai 720 ribu ekor (Jelantik, 2001a). Berbagai pengkajian dan penelitian yang telah dilakukan mendapatkan beberapa faktor yang menyebabkan tingginya angka kematian temak sapi terutama pedet di NTT. Faktor-faktor seperti lemahnya hubungan induk-anak (Kirby, 1979), kekurangan susu (Wirdahayati dan Bamualim, 1990; Jelantik, 2001a; Jealntik, 2001b), predasi (Jelantik, dkk, 2002) dan peningkatan kebutuhan nutrisi selama ikut menggembala dan kekurangan pakan hijauan selama akhir musim kemarau (Jelantik dkk, 2003, 2004) merupakan faktor yang telah diidentifikasi sebagai penyebab kematian pedet. Berbagai pendekatan yang mungkin dapat diterapkan untuk menekan angka kematian pedet antara lain modifikasi musim kelahiran yang kini jatuh pada periode kekurangan pakan selama musim kemarau ke periode kelimpahan hijauan pakan berkualitas (pertengahan sampai akhir musim hujan) (Toelihere dkk., 1990). Di samping itu, pendekatan lainnya yang 10GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT telah banyak diteliti adalah memberikan pakan suplemen baik kepada induk (Jelantik dkk., 1998; Belli, 2002) maupun langsung kepada pedet (Jelantik, 2001c; Jelantik dkk. 2002, Jelantik dkk., 2003, 2004). Paket � ea strategi suplementasi dan beberapa produk pakan suplemen seperti Pakan Cair Penambah Susu (PCPS) dan Pakan Padat Pemula (P3) (Jelantik, dkk., 2004) telah dihasilkan yang dapat digunakan untuk menekan angka kematian pedet dan meningkatkan laju pertumbuhan pedet. Peningkatan produktivitas sapi Timor nampaknya dapat dilakukan dengan penyapihan dini. Upaya ini akan meningkatkan pengelolaan pada pedet yang akan berdampak pada menurunnya angka kematian, meningkatkan pertumbuhan dan berdampak positif terhadap peningkatan kesuburan. Di samping strategi tersebut di atas, angka kematian pedet sebenarnya secara sederhana dapat ditekan dengan managemen pemeliharaan anak (Jelantik, 2001d) dengan cara menghindarkan pedet untuk ikut menggembala bersama induknya.
3.Pemotongan Ternak Betina Produktif Penjualan temak secara berlebihan dapat secara langsung akan menguras ternak yang ada. Ini terjadi jika laju pengeluaran melebihi laju produksi. Laju produksi basil penelitian dan simulasi saat ini mencapai 12% dari populasi (Jelantik, 2001a) berupa jantan siap ekspor sebanyak 6,9% dan 5,1% betina afkir untuk dipotong. Dari data yang dipublikasikan oleh Littik (2001) nampak bahwa telah sejak tahun 1990'an sebenarnya telah terjadi kelebihan laju penjualan dibandingkan dengan laju produksi ternak jantan. Pengurasan terbesar terjadi pada tahun 1998 dimana jumlah jantan yang dijual hampir 2 kali lipat dari yang mampu diproduksi. Sementara itu seperti sebelumnya disampaikan bahwa pemotongan betina secara berlebihan hanya terjadi selama tahun 2000 saja. Dengan demikian total off-take nampaknya baru melebihi total produksi sejak tahun 1998. Rincian pemotongan ternak tahun 2016 - 2020 (Tabel 2) menunjukkan peningkatan yang cukup berarti terkait dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat akan konsumsi protein hewani. Data pemotongan temak tersebut telah diperhitungkan juga dengan perkiraan pemotongan temak yang tidak tercatat baik di dalam rumah potong hewan (RPH), maupun di luar rumah potong hewan. GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 1 1 I -- ------------------------------ ------� Tabel 2. Pemotongan temak di RPH Tahun 2016-2020 Jenis Terak Tahun 2016 2017 2018 2019 2020 Sapi (ekor) 82.944 84.793 83.112 72.340 87.443 Kerbau (ekor) 8.020 8.053 8.170 8.688 9.373 Kuda (ekor) 4.465 4.573 4.582 3.173 3.487 Kambing (ekor) 139.388 144.840 166.584 192.353 230.939 Domba (ekor) 24.416 24.684 25.560 4.270 5.122 Babi (ekor) 792.295 820.762 834.280 927.879 1.139.254 Sumber : Data sektoral Dinas Peternakan Provinsi NTT Tahun 2016-2020 Pemotongan betina produktif terutama pada temak sapi baik yang tercatat di RPH dan yang tidak tercatat (di luar RPH) sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan populasi. Data pemotongan sapi betina produktif di RPH tahun 2015 - 2020 tetera pada gambar 2. P e r o t o n a n cd R P H s e A y T T T a h u n 2 0 1 5 2 0 0 00 400 300 1 0 0 betina produktif dipotong 392 3 5 7 286 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Gambar 2. Grafik pemotongan ternak sapi betina produktif Grafik pemotongan sapi betina produktif di RPH menunjukkan terjadi penurunan pemotongan dari 472 ekor di tahun 2015 manjadi 55 ekor di tahun 2018. Pada tahun 2019 kembali terjadi peningkatan menjadi 2 1 1 ekor dan terus naik menjadi 392 ekor di tahun 2020. Kondisi ini diakibatkan oleh berbagai faktor antara lain lemahnya pengawasan terhadap penerapan larangan pemotongan temak betina produktif yang diamanatkan oleh undang-undang. Upaya yang pernah dilakukan oleh pemerintah yaitu membentuk tim terpadu dalam pengawasan pemotongan temak betina produktif dan pemberian insentif kepada petemak pemilik sapi betina bunting. 8 GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 12 tr easow=toes
4.Pengeluaran Ternak Usaha agribisnis di bidang peternakan di Nusa Tenggara Timur menunjukkan adanya perkembangan dari tahun ke tahun, baik ditinjau dari segi kuantitas jenis komoditinya maupun kualitasnya. Kondisi ini dapat dilihat dari tataniaga ternak yang diantarpulaukan dari NTT ke luar daerah yang terpantau dan terawasi. Salah satu tugas Dinas Peternakan adalah pengawasan pemasukan dan pengeluaran ternak dan hasil ternak, pasar ternak dan monitoring harga ternak. Dengan adanya pengawasan dimaksud dapat dilakukan pembinaan terhadap pelaku usaha mitra, kelompok tani ternak dan peternak individu. Pengeluaran ternak besar potong sejak tahun 2016 s/d 2020 dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 3. Realisasi pengeluaran ternak besar potong di NTT Tahun 2016 - 2020 T A H U N No i Tama "279IS209I9230.9 Kuota Realisasi Kuota Realisasi Kuota Realisasi Kuota Realisasi Kuota Realisasi I. Sapi (eksr 6$.600 65.235 70.800 66.574 69.950 67.454 69.650 66.222 64.620 62.997 2 Kerbau (ekor) 5.940 4.699 5.410 3.750 4.720 3.857 4.970 3.517 3.470 2.604
3.Kuda (ekor) 5.990 5.695 6.338 5.628 6.075 5.388 5.830 5.519 4.900 3.857 Jumlah 77.530 75.629 82.548 75.952 80.745 76.699 80.450 75.258 72.990 69.458 Sumber : Data sektoral Dinas Peternakan Provinsi NTT Tahun 2016-2020 Secara deskriptif sesuai data pada tabel 3 dapat dikatakan bahwa kuota dan realisasi pengeluaran ternak bervariasi setiap tahun. Kuota pengeluaran ternak sapi, kerbau dan kuda pada tahun 2017 meningkat dibanding tahun sebelumnya namun mulai tahun 2018 sampai tahun 2020 cenderung menurun. Demikian pula halnya dengan realisai pengeluaran sampai dengan tahun 2018 cenderung meningkat namun mulai tahun 2019 terjadi penurunan realisai. Hal menarik yang perlu mendapat perhatian yakni realisai pengeluaran ternak baik itu sapi, kerbau maupun kuda yang selalu tidak mencapai kuota setiap tahunnya. Regulasi penetapan kuota pengeluaran ternak yang telah dilakukan berdasarkan suplwui demand perlu dianalisa kembali. GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 13 2.2. Produksi daging Hasil produksi usaha peternakan rakyat setiap tahun digunakan untuk konsumsi lokal, konsumsi Provinsi lain dan untuk penambahan populasi. Produksi daging di Provinsi Nusa Tenggara Timur selama periode lima tahun terakhir terlihat pada tabel 4. Tabel 4. Produksi daging di NTT tahun 2016 - 2020 Jenis Tahun 2016 2017 2018 2019 2020 Sapi (Kg) 12.441.780 12.285.360 12.466.800 10.851.000 7.350.555 Kerbau (Kg) 1.503.67.5 1.474.87.5 1.531.800 1.629.036 1.069.030 Kuda (Kg) 544.026 549.552 558.370 386.709 80.090 Kambing (Kg) 1.763.257 2.018.130 2.107.288 2.433.268 741.260 Domba (Kg) 311.609 321.666 326.210 54.497 136.390 Babi (Kg) 32.682.169 33.464.681 34.414.050 38.275.012 12.912.220 Ayam Buras (Kg) 11.515.000 11.098.1.50 11.306.390 10.835.070 10.489.150 Jumlah 60.761.516 61.212.414 62.710.908 64.464.592 32.778.695 Sumber : Data sektoral Dinas Peternakan Provinsi NTT Tahun 2016-2020 Produksi daging sesuai data pada tabel 4 menunjukkan trend peningkatan setiap tahun dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 6%. Peningkatan produksi daging dipengaruhi oleh tingkat pemotongan. Produksi daging cenderung berkorelasi positif dengan pemotongan ternak dimana semakin tinggi pemotongan maka produksi daging juga semakin tinggi demikian pula sebaliknya. Produksi daging masih dapat ditingkatkan dengan mengoptimalkan pertumbuhan populasi terutama pada komoditas ungulan sapi, babi dan ayam KUB. 2.3. Kesehatan Hewan Pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan menular merupakan salah satu perhatian utama pembangunan peternakan dalam kerangka peningkatan populasi dan produktivitas ternak, sekaligus menjamin keamanan pangan hewani dan ketentraman konsumen. Penyakit menular utama di NTT antara lain SE, Antrax, Brucellosis, Rabies dan Hog Cholera. 4 GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 14 Upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit hewan menular terus dilakukan baik melalui pengobatan ternak sakit maupun pencegahan tertularnya penyakit pada ternak sehat melalui vaksinasi secara periodik. Tindakan pencegahan terhadap berbagai penyakit tersebut berupa pengalokasian dan distribusi untuk vaksinasi yang dilakukan dalam kurun waktu tahun 2016 hingga 2020 (Tabel 5). Tabel 5. Alokasi Vaksin dan Realisasi Vaksinasi Penyakit Hewan Tahun 2016 - 2020 No. Jenis Vaksinasi Tahun 2016 2017 2018 2019 2020 1 Anthrax : - Alokasi 246.600 50.000 50.000 50.000 50.000 (dosis) - Realisasi 192.619 50.000 73.000 50.000 50.000 2 Brucellosis : - Alokasi 1.650 15.000 8.000 7.500 8.360 (dosis) - Realisasi 1.650 15.000 15.849 7.500 8.360 3 Hog : - Alokasi 228.740 15.860 70.000 50.000 44.750 Cholera - Realisasi 198.541 15.860 29.003 44.750 44.750 4 Rabies - Alokasi 292.180 262.026 255.000 95.000 90.000 (dosis) : - Realisasi 273.983 251.435 226.970 95.000 90.000 5 SE (dosis) : - Alokasi 477.800 7.992 71.500 46.000 24.000 - Realisasi 427.940 7.992 23.450 46.000 24.000 Sumber : Data sektoral Dinas Peternakan Provinsi NTT Tahuun 2016-2020 Sesuai data pada tabel 5, alokasi vaksin bervariasi. Pengalokasian vaksin dapat dikatakan sangat rendah jika dibandingkan dengan populasi ternak yang ada. Pengalokasian vaksin terutama untuk pembebasan pulau Timor dari penyakit brucellosis masih sangat kurang. Demikian juga juga pengalokasian vaksin untuk penanggulangan dan pencegahan penyakit hog cholera pada ternak babi. 2.4. Pasar dan Harga Pemasaran sapi potong oleh peternak biasanya setelah ternak dipelihara/digemukan dalam kurun waktu 6 bulan - 12 bulan, pasar untuk ternak potong sangat berpotensi baik untuk kebutuhan dalam daerah (rumah potong hewan) maupun kebutuhan pasar luar daerah ke beberapa provinsi di Indonesia: Kalimantan Tengah. Kalimantan Selatan, { GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 15 Kalimantan Timur, NTB, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Kepulauan Riau, Riau dan OKI Jakarta. Kebutuhan Sapi potong dalam daerah sebagaimana terlihat pada data pemotongan sapi potong di RPH selama 5 tahun terakhir (Tabel 2). Informasi daftar harga temak sapi potong diambil berdasarkan harga ditingkat produsen (petemak) sedangkan informasi daftar harga daging yang diambil ditingkat konsumen (pembeli) pada beberapa wilayah kabupaten dengan rincian sebagai berikut: 1 . Kabupaten di Pulau Sumba (Kab SBD.Sumba Barat. Sumba Tengah. Sumba Timur), daftar harga diambil di kabupaten Sumba Timur
2.Kabupaten di Pulau Flores (Kabupaten: Lembata, Flotim. Sika, Ende, Nagakeo, Bajawa, Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat), daftar harga diambil di kabupaten Ende
3.Kabupaten di Pulau Timor (Kabupaten: Alor, Malaka, Belu, TIU, TIS, Kupang, Kota Kupang,) daftar harga diambil di Kabupaten Kupang dan TTS
4.Untuk kabupaten di Pulau Rote dan Sabu Raijua, daftar harga diambil di kabupaten Rote Ndao. Tabel 6. Harga Daging dan temak sapi potong di NTT Tahun 2018-2020
1.Pulau Timor 89 981
2.Pulau Sumba 85 000 34 000 89 963
3.PuJau Flores 100 000 35 000 100 000
4.Pulau Rote 78 540 32 915 77 738 31 699 93 342 32 098 34 014 93 044 35 000 35 000 100 524 35 215 33 555 82 615 30 398 Keterangan: HD = Harga Daging HT = Harga Ternak 2.5. Kelembagaan Usaha Peternak Usaha Pembibitan temak di Nusa Tenggara Timur masih dilakukan secara perorangan dengan memanfaatkan tenaga kerja yang berasal dari dalam rumah tangga petemak. Keberadaan kelompok tani temak yang semestinya menjadi tempat berkumpul/ wadah bagi para peternak untuk belajar, bekerja sama maupun berusaha bersama jumlahnya h GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 16 terbatas. Saat ini di masyarakat sudah ada kelompok tani temak, namun kelompok kelompok tersebut penumbuhannya atas dasar bukan karena persamaan usaha maupun tujuan tetapi kelompok yang terbentuk karena salah satu persyaratan untuk menjadi calon penerima bantuan pemerintah. Keberadaan kelompok yang terbentuk karena persyaratan calon penerima bantuan tersebut lama kelamaan akan hilang (tinggal papan nama kelompok) dan bantuan yang diberikan tidak berkembang bahkan akan hilang. Di lain pihak Penumbuhan / pembentukan kelompok tani temak diharapkan menjadi wadah sekaligus solusi bagi masyarakat petemak untuk meningkatkan Pendidikan non formalnya, mengingat Pendidikan formal petemak rendah. Adapun fungsi kelompok bagi petemak adalah: 1) sebagai kelas belajar untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan. Para anggota kelompok agar tumbuh dan berkembang menjadi usaha petemakan yang maju dan mandiri, 2) sebagai wahana kerjasama dalam menanggulangi masalah masalah petemakan yang dialami sperti pakan, Kesehatan hewan dan 3) sebagai Unit Produksi kelompok petemak harus bisa meningkatkan jumlah populasi temak dan meningkatkan kualitas temak menjadi temak unggul. Data kelembagaan petemak tertera pada tabel 7. Table 7. Data kelembagaan petemak di NTT Kelembagaan Ternak No Kab./Kota Kelompok Gabungan Koperasi Petemak Kelompok Ternak 1 KotaKupang 18 3 2 Kupang 98 68 3 TTS 73 22 4 TTU 55 4 5 Belu 26 7 6 Malaka 3 7 Alor 16 1 8 Lembata 17 9 Flotim 3 1 10 Sikka 6 jj GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 17 Kelembagaan Ternak No Kab./Kota 1 1 Ende 12 Ngada 13 Nagakeo 14 Manggarai 15 Manggarai Timur 16 Manggarai- Barat 17 Sumba Timur 18 SumbaBarat 19 Sumba Tengah 20 SBD 21 Rote Ndao 22 Sabu Raijua Jumlah Kelompok Petemak 14 29 12 9 26 11 20 436 Gabungan Kelompok Koperasi Ternak 1 1 1 109 Data pada tabel 7 menunjukkan bahwa dibeberapa kabupaten belum terdata kelompok petemak dan belum terbentuk koperasi temak. Jika 1 kelompok peternak beranggotakan 20 rumah tangga maka jumlah rumah tangga yang tergabung dalam kelompok petemak sebanyak 8.720. Kondisi ini sangat terbuka peluang untuk melibatkan rumah-tangga dalam kelompok-kelompok peternak sehingga dapat tersedia wadah untuk pembentukan kelembagaan petemak guna memajukan usaha. 2.6. Sumber daya lahan Keberadaan sumber daya alam yang sangat besar di Nusa Tenggara Timur berpotensi dalam mendukung pengembagan temak besar potong khususnya sapi potong. Ketersediaan lahan berupa padang rumput/ savana yang sangat luas menjadi sebuah sumber pakan yang melimpah bagi pengembangan temak ruminansia besar seperti sapi, kerbau dan kuda. Sumber pakan untuk temak ruminansia selain berasal dari savana, juga dihasilkan dari lahan kebun, pekarangan, hutan maupun Kawasan pertanian. Data Sumber Daya Alam (Luas lahan sawah, Kebun, Pekarangan, Hutan dan Kawasan Pertanian) di NTT. t) GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 18 Tabel 8. Luas Penggunaan Lahan di NTT Tahun 2019 Lahan Sawah (Ha) Ditanami Padi Setahun Kabat«a/Kot [";;#~j. ssmas a ditanam Nusa Tenggara Timur 124 239 73 742 700 050 881 905 394 700 266 966 128 494 292 888 126 638 181 285 173 191 204 660 162 092 161 497 128 010 294 750 186 918 144 532 141 696 264 293 Total Lahan (Ha) 9 928 128 496 271 465 59 818 72 270 33 459 24 296 9 037 17 317 21 138 14 635 74 023 3 1 3 0 1 34 884 68 125 18 706 17 781 37 378 33 548 Bukan Laban Pertanian (Ha) 54 224 546 405 589 207 324 071 180 427 87 485 265 141 117 532 162 869 149 357 181 683 80 133 116 330 73 346 209 750 160 611 118 277 97 069 215 528 Laban Pertanian Bukan Sawah (Ha) 2 229 38 278 7 095 47 601 10 138 77 719 28 207 1 1 6 063 410 7 284 10 333 18 027 9 590 25 149 21 233 10 8 1 1 14 269 7 550 3 451 69 l 099 2 696 8 342 7 936 13 866 19 780 16 875 7 601 8 474 7 249 15 217 214 034 3 852 726 l 023 240 5 090 000 0 2 340 2 917 2 287 4778 408 2 555 13 280 25 2 311 0 65 50 0 0 l 139 1 092 259 190 l 594 13 22 316 1 718 3985 1 031 3300 2 529 1 060 187 36 288 1 595 2 428 4564 10 500 4 152 11 679 1 248 2 027 2 517 8382 1 048 3 171 34 67479 6 576 6 353 5308 3 640 7 872 18 824 17 285 5224 6962 6082 709 20 531 1 076 3603 3 372 3 301 15 578 5 1 9 6 Ende Ngada Manggarai Rote Ndao Lembata Belu Alor SumbaBarat SumbaTimur Kupang TTS TTU Manggarai Barat Sumba Tengah SBD N 0 16 17 18 Nagekeo 19 Manggarai Timur 20 Sabu Raijua 991 21 Malaka 5373 22 Kota Kupang 363 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Flores Timur 10 Sikka 11 12 13 14 15 Sumber: BPS Pro. NTT 2020 Potensi pertanian lahan sawah 214.034 Ha, dengan tingkat pemanfaatan atau yang ditanami 89.57% atau 191.718 Ha. Potensi limbah yang bisa dihasilkan dari lahan sawah yakni jerami segar 766.872 ton dan gabah kering (bekatul, dedak halus, dedak kasar, sekam) 766.872 ton dengan asumsi perhektar menghasilkan 4 ton limbah jerami segar dan 4 ton limbah gabah kering. Pemanfaatan limbah jerami segar lahan sawah untuk dapat di kosumsi oleh ternak ruminansia 60.029 ekor satuan ternak (1 satuan ternak = 1 ekor sapi dewasa) dengan konsumsi 12,78. Lahan pertanian bukan sawah juga mempunyai potensi sangat tinggi sebagai sumber limbah bahan pakan. Luas lahan pertanian bukan sawah yakni 3.852.726 Ha yang apabila ditanamai jagung mempunyai potensi limbah jerami jagung 49.700.165 ton dan limbah tongkol jagung 46.232.712 ton. Limbah jagung tersebut apabila digunakan sebagai sumber pakan ruminansia dapat memenuhi kebutuhan untuk 7.506.485 satuan ternak. 4 GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 19 2.7. Padang Penggembalan dan Rumah Tangga Pemelihara Ternak Pemeliharaan ternak di NTT masih dominan menggunakan sistim pasture dimana ternak diikat atau digembalakan dipadang penggembalaan. Kondisi ini membuat padang penggembalaan menjadi sangat penting keberadaannya untuk pengembangan peternakan terutama ternak Ruminasia dan tingkat kepemilikan ternak dominan berada dirumah tangga. Luasan padang penggembalaan dan jumlah rumah tangga pemelihara ternak se-NTT tertera pada tabel 9. Tabel 9. Rumah tangga pemelihara ternak dan luas padang penggembalaan kabupaten/kota se-NTT Padang Jumlah Rumah Tangga Peternak No Kabupaten/Kota Penggembalaan RTP) .,.. (Ha) RTP Babi RTP Sapi 1 Sumba Barat 3 635 10 350 463 2 Sumba Timur 215 799 18 309 9 248 3 Kupang 159.526 7 727 29 116 4 TTS 114 396 30 457 50 363 5 TIU 86 339 9 701 (25 422 6 Belu 19 698 10 159 12 549 7 Alor 16 166 1 1 929 1 093 8 Lembata 23 255 3 533 1 260 9 Flores Timur 33 291 2 2 9 7 1 745 10 Sikka 19 389 20 174 5 143 11 Ende 910 8 555 11 640 12 Ngada 7 635 10 698 9 514 13 Manggarai 4 467 14684 10 964 14 Rote Ndao 8 955 4 598 5 199 15 Mangga.rai Barat 169 12 556 3 540 16 Sumba Tengah 352 4 096 1 230 17 SBD 741 21 057 800 18 Nagekeo 16 033 9 056 8 187 19 Mangga.rai Timur 8 828 22 190 4 743 20 Sabu Raijua 910 6 498 884 21 Malaka 4 300 c 15 074 22 Kota Kupang 150 3 751 1 1 11 Jumlah 587.245 262 049 208 294 Sumber: Dinas Peternakan Pro. NTT Tahun 2020, Sensus Pertanian Tahuun 2013 Padang penggembalaan untuk peternakan sapi, kuda, kerbau dan kambing dan domba 587.245 Ha dapat menampung 587.245 ekor sampai 1.174 .490 ekor satuan ternak ( 1 Ha menampung 1-2 ekor satuan ternak). Kondisi ini menggambarkan bahwa luasan padang penggembalaan saja sebagai sumber pakan ternak ruminansia masih sangat kurang dibanding populasi yang ada (Populasi tabel 1). GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 20 loo.a Sesuai data pada tabel 9, jumlah rumah tangga pemelihara temak sapi sebesar 21,83% dan pemelihara temak babi 1 7,36 dari total 1.200.140 rumah tangga di NTT. Kondisi ini dapat diartikan bahwa memelihara temak sangat berpotensi menyerap tenaga kerja terutama skala RT. 2.8. Kebijakan pembangunan peternakan Nasional Sasaran pembangunan jangka menengah 2020-2024 Sesuai arahan RPJPN 2005-2025 adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di berbagai wilayah yang didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing. RPJMN 2020-2024 dilaksanakan pada periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden K.H. Ma'ruf Amin dengan visi "Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong". Visi tersebut diwujudkan melalui 9 (sembilan) Misi yang dikenal sebagai Nawacita Kedua. Selanjutnya untuk menyelaraskan dan mendukung visi pemerintah tersebut maka visi Kementerian Pertanian mendukungnya dengan: "Pertanian yang maju, mandiri dan modem untuk terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong". Selaras dengan kedua visi di atas, visi pembangunan petemakan dan kesehatan hewan 2020-2024 yakni "Terwujudnya petemakan indonesia yang berdaya saing berkelanjutan dalam mewujudkan pertanian Indonesia maju, mandiri dan modern. Dengan misi:
1.Meningkatkan ketersediaan bibit/benih temak yang berkualitas dan berkelanjutan.
2.Meningkatkan ketersediaan pakan yang berkualitas secara berkelanjutan. GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 2 1
3.Mewujudkan kesehatan hewan dalam rangka meningkatkan produktivitas ternak dan mendukung kesehatan masyarakat.
4.Meningkatkan keamanan dan mutu produk hewan serta kesehatan masyarakat.
5.Meningkatkan usaha peternakan, pengolahan dan pemasaran produk peternakan berdaya sain g . Penjabaran visi dan misi tersebut dipetakan pada tujuan dan Indikator tujuan sesuai Renstra Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan sebagai berikut: I. Tersedianya bibit/ benih ternak berkualitas dan berkesinambungan dngan indikator jumlah bibit/benih ternak tersertifikasi yang tersedia (sertifikat).
2.Tersedianya pakan berkualitas dan berkelanjutan dengan indikator indeks ketersediaan pakan berkualitas (indeks).
3.Meningkatnya kesehatan hewan dengan indiaktor Status Kesehatan Hewan (%).
4.Terwujudnya kesehatan masyarakat veteriner nasional dengan indikator jaminan kesehatan masyarakat veteriner (%).
5.Tersedianya produk peternakan yang bernilai tambah dan berdaya saing dengan indiaktor Jumlah produk peternakan yang berhasil dihilirisasi (ton) dan Ekspor produk peternakan (US$) Kuantitatif. Program Nasional pembangunan peternakan dan kesehatan hewan tahun 2020-2024 hasil penjabaran tujuan yang telah ditetapkan adalah Program Pemenuhan Pangan Asal Ternak dan Agribisnis Peternakan Rakyat dengan sasaran program tersebut adalah:
1.Meningkatnya ketersediaan pangan asal ternak.
2.Meningkatnya daya saing komoditas peternakan dan kesehatan hewan.
3.Terjaminnya keamanan mutu pangan asal ternak.
4.Tersedianya sarana peternakan yang sesuai kebutuhan.
5.Meningkatnya luas wilayah yang terbebas dari penyakit hewan menular strategis.
6.Terkendalinya kasus zoonosis pada manusia. GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 22 Sebagai penjabaran arah kebijakan nasional dalam RPJMN 2020 2024, dan Renstra Kementerian Pertanian Tahun 2020-2024, kebijakan petemakan dan keswan diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan petemak dan keberlanjutan sumber daya petemakan dan kesehatan hewan. Dalam rangka mewujudkan: visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan, maka arah kebijakan dan strategi pembangunan petemakan nasional yang ditetapkan oleh Ditjen PKH adalah sebagai berikut: 1 . Penyelenggaraan petemakan yang sesuai dengan Good Breeding dan Good Farming Practises. Good Breeding Practises dan Good Farming Practises adalah pelaksanaan usaha petemakan dibidang pembibitan dan budidaya yang dilakukan secara baik mengikuti standar yang berlaku. Good Breeding Practises dan Good Farming Practises meliputi 4 (empat) aspek yaitu: sarana dan prasarana; proses produksi bibit; pelestarian lingkungan; serta monitoring, evaluasi dan pelaporan. Strategi pelaksanaan dilakukan melalui:
(2020)2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 (I) 02) (3) (4) (5) (6) (7) (8) () (JO) (II) (2) (13) (14) (5) (16) I.I Pembibitan Dinas 98.58 APBD. sapi bali di Peternakan APBN Instalasi Besipae Pembibitan ekor 52 0 0 500 1.500 0 0 0 0 Masyarakat Masyarakat 16,00 Masyarakat ternak sapi , sektor sektor , sektor swasta swasta swasta Pembuatan 50 5 15 Dinas Dinas 10,00 APBD pedok di lahan Ha/unit peternakan, peternakan, swasta l.000Ha sektor sektor swasta swasta Perencanaan paket Dinas Dinas 1,40 APBD. jalan produksi PUPR PUPR Pernbangunan Meter 7.000 7.000 7.000 7.000 Dinas Dinas 28,00 APBD. jalan produksi PUPR PUPR Pembuatan Ha 75 200 150 100 0 0 0 Dinas Dinas 1,3 APBD kebun HMTdi LHK, LHK, APBN 5 GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 90 No Kegiatan Satuan Stakeholders Penanggung Strategis TARGET jawab 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 (I) @2) (3) (9) (5) (6) (7) (8) (9) (JO) (II) (2) (3) (14) (15) (16) lahan seluas masyarakar masyarakat Sektor 525 Ha , sektor , sektor swasta. swasta swasta UNDANA UNDANA Pembuatan ton 281 2.981 8.381 8.381 8.381 8.381 8.381 Dinas Dinas 22,59 APBD. silase 45.166 petemakan, Petemakan ton masyarakat Pembuatan ton 281 2.981 8.381 8.381 8.381 8.381 8.381 Dinas Dinas 11,3 APBD amoniase petemakan, Petemakan, APBN. jerami padi masyarakat Dinas 45.166 ton , dinas Pertanian pertanian Pembangunan unit Dinas Dinas 1,40 APBD. embung 3 unit PUPR, Petemakan APBN Sektor swasta Pembangnan unit Dinas Dinas 0,20 APBD. bak Tampung petemakan, Petemakan APBN Air4 unit Sektor swasta pembelian strow 1.000 4.000 4.000 4.000 4.000 4.000 Dinas Dinas 0,42 APBD. bibit semen petemakan, Petemakan APBN beku 21.000 Ditien GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 9 1 No Kegiatan Satuan Stakeholders Strategis TARGET 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 (/) 0) () (4) (5) (6) (7) (8) (9) (JO) (II) (2) (3) (14) (5) (16) strow PKH Pelatihan orang 42 42 42 42 42 42 Dinas Dinas 2,50 APBD. petugas TB, Peternakan, Peternakan APBN ATR,PKB BBPP, bagi 252 orang Ditjen PKH Bimtek orang 40 40 40 40 40 40 Undana, Dinas 0,60 APBD Manajemen BBPP Peternakan Peternakan kupang, Sapi Ditjen PKH Pelatihan kerja orang 50 50 50 50 50 50 Dinas Dinas 0,32 APBD. lapangan siswa Peternakan, Peternakan, APBN dan mahasiswa Undana Undana Pembangunan Unit Sektor Dinas 2,00 Sektor mini ranch di swasta Peternakan, swasta Oeboi Besipae Sektor 50Ha swasta Penyediaan unit Kementan, Dinas 0,4 APBD, Mesin Chopper Dinas Peternakan, APBN ST-50 peternakan, Dinas kapasitas 9 Dinas Perindag 12 Ton per jam Perindag 2 unit GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 92 No Kegiatan Satuan Stakeholders Penanggung Sumber Strategis TARGET jawab Pendanaan 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028
(1)@2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (II) (2) (13) (14) (IS) (16) Penyediaan unit Kementan, Dinas 0,15 APBD, Mesin Baller Dinas Petemakan APBN besar petemakan 1.2. Pembibitan Dinas APBD. sapi bali di Petemakan APBN instalasi Lili Pengolahan Ha 5 5 5 5 5 5 Dinas Dinas 0,075 APBD, lahanHMT30 petemakan, Petemakan APBN Ha masyarakat , P T, Penyediaan Anakan 25.000 25.000 25.000 25.000 25.00 25.00 Dinas Dinas 1,5 APBD, dan 0 0 Petemakan Petemakan APBN penanaman anakan lamtoro terambah 30 Ha Penyediaan 2 50.000 50.000 50.000 50.000 50.00 50.00 Dinas Dinas 3,0 APBD, dan Stek/ko 0 0 Petemakan Petemakan APBN penanaman ker rumput odot 30 Ha Pembibitan Anakan 120 120 120 120 120 Dinas Dinas 4.8 APBD, temak sapi bali petemakan, Petemakan APBN 600 ekor PT. Pembuatan Ton 630 630 630 630 630 630 Dinas Dinas 1,89 APBD, GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 93 Kegiatan Base TAHUN Perkiraan Sumber No Satuan Stakeholders Penanggung biaya Strategis line jawab Pendanaan TARGET (Milyar)
(2020)2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028
(1)@2) () (4) (5) (6) (7) () (9) (JO) (11) (2) (3) (14) (5) (16) silase peternakan, Petemakan APBN rumput/legumi masyarakat nosa 3.780 ton , PT, dinas pertanian Pembuatan Ton IOO 100 100 100 100 100 Dinas Dinas 0,945 APBD, amoniase petemakan, Petemakan APBN jerami padi masyarakat 3.780 ton , PT, dinas pertanian Pembangunan Meter 5.000 5.000 Dinas Dinas 5,00 APBD, pagar tembok Petemakan Petemakan APBN 10.000 meter Pelatihan orang 2 2 2 Dinas Dinas 0,06 APBD, petugas IB, peternakan, Petemakan APBN ATR, PKB Ditjen PKH Pelatihan orang 2 2 2 Dinas Dinas 0,06 APBD, petugas medis petemakan, Peternakan APBN dan para medis Ditjen PKH Pelatihan kerja orang 10 10 10 10 10 10 10 Dinas Dinas 0,08 APBD, lapangan siswa Petemakan, Petemakan, APBN dan mahasiswa PT PT Bangunan unit 2 Dinas 0,30 APBD GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 94 Kegiatan Base TAHUN Perkiraan Sumber No Satuan Stakeholders Penanggung biaya Strategis line jawab PendanaanTARGET (Milyar)
(2020)2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028
(1)02) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (2) (3) (14) (15) (6) pengolahan Petemakan limbah Kandang unit Dinas Dinas 1,50 APBD, Beranak petemakan Petemakan APBN Kandang Pedet unit 1 Dinas Dinas 0,45 APBD, petemakan Petemakan APBN Penyediaan unit Kementan, Dinas 0,075 APBD, Mesin Chopper Dinas Peternakan APBN ST-50 peternakan, kapasitas 9 -- Perindag 12 Ton per jam 2 unit Penyediaan unit Kementan, Dinas 0,15 APBD, Mesin Baller Dinas Petemakan APBN bszr petemakan 1.3. Pembibitan Dinas APBD. temak sapi bali Petemakan APBN di instalasi Boawae Pengelolaan Ha 10 10 10 10 10 10 UPT, Dinas 0,30 APBD, kebun HMT 10 Kelompok Petemakan APBN Ha Tani Penggaduh, PT, SMK GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 95 Kegiatan Base TAHUN Perkiraan Sumber No Satuan Stakeholders Penanggung biaya Strategis line TARGET jawab Pendanaan
(2020)2021 2022 (Milyar) 2023 2024 2025 2026 2027 2028 () (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (II) (12) (13) (14) (15) (16) Boawae Penanaman& Anakan 50.000 UPT, Dinas 0,20 APBD, pemeliharaan Kelompok Petemakan APBN anakan larntoro Tani terambah Penggaduh, 50.000 anakan PT, SMK Boawae Pembelian Kg 5 5 5 5 5 5 UPT, Dinas 0,001 APBD, benih sorgum Kelompok Petemakan APBN Tani Penggaduh, PT, SMK Boawae Pembibitan ekor 240 Dinas Dinas 2,12 APBD, sapi bali 240 Peternakan Peternakan APBN ekor Pelatihan orang BPPTP Dinas 0,04 APBD, petugas IB, (Ditjen Peternakan APBN PKB,ATR PKH), Dinas Petemakan Bimtek orang 60 60 60 60 60 60 UNDANA, Dinas 2,40 UNDANA, Manajemen Politeknik Peternakan Politeknik Petemakan Wilhelmus, Wilhelmus, SMK SMK GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 96 - +l A, No Kegiatan Satuan Stakeholders Pe ggung biaya Strategis TARGET jawab (Milyar) 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 (I) @2) (3) (9) (5) (6) (7) (8) () (10) (11) (2) (3) (14) (5) (16) Sapi Boawae, Boawae UPT, APBD, APBN Pembangunan unit UPT, Dinas 1,50 APBD, kandang Kelompok Peternakan APBN kelompok Tani Penggaduh, PT, SMK Boawae Penyediaan unit Kementan, Dinas 0,075 APBD, Mesin Chopper Dinas Petemakan APBN ST-50 petemakan kapasitas 9 12 Ton per jam 2 unit 1.4. Pembibitan Dinas APBD. sapi sumba Petemakan APBN, ongole di Provisi Sektor lnstalasi swasta, Kondamaloba KUR Pembuatan Ha 50 50 Dinas Dinas 0,20 APBD, kebunHMT Petemakan, Petemakan APBN 100 Ha Kelompok Tani Penggaduh, GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 97 Kegiatan Base TAHUN Penanggung Perkiraan Sumber No Strategis Satuan line Stakeholders jawab biaya PendanaanTARGET (Milyar)
(2020)2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 (I) () (3) (4) (5) (6) (7) (8) () (10) (I) (2) (3) (4) (15) (6) Pembibitan, Anakan 250.00 250.00 Dinas Dinas 0,20 APBD, Penanaman & 0 0 Peternakan, Petemakan APBN pemeliharaan Kelompok lamtoro Tani Penggaduh, Pembuatan 75 4 Dinas Dinas 15,0 pedok di lahan Ha/unit Petemakan Petemakan 300 Ha Prov Pembuatan Ton 1.575 1.575 1.575 1.575 1.575 1.575 Dinas Dinas 4,725 APBD, silase 9.450 Petemakan, Petemakan APBN ton Kelompok Tani Penggaduh, Penyediaan ekor 300 Dinas Dinas 9,90 APBD, sapi Sumba Petemakan Petemakan APBN Ongole Pelatihan orang I BBPP Dinas 0,04 APBD, petugas IB, (Ditjen Peternakan APBN PKB, ATR PKH), Dinas Peternakan Praktek kerja orang 60 60 60 60 60 60 60 Dinas Dinas 2,40 APBD, lapangan Peternakan, Petemakan APBN mahasiswa dan Per uruan GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 98 l 4 . - + l h No Kegin t I Satuan Stakeholders P ggung Strategis TARGET jawab Pend 2021 2022 2023 2024 2025 2027 2028 (I) 0) () (9 (5) (6) (7) (8) () (IO) (II) (2) (3) (14) (5) (16) siswa Tinggi Pembangunan unit 3 Dinas Dinas 1,50 APBD, kandang Petemakan Petemakan APBN kelompok Penyediaan unit Kementan, Dinas 0,075 APBD, Mesin Chopper Oinas Petemakan APBN ST-50 petemakan kapasitas 9 -- 12 Ton per jam 2 unit 1.5. Pembibitan Dinas APBD. sapi wagyu di Peternakan, Sektor lnstalasi Sektor swasta, Kabaru swasta Penyediaan Kg 173.9 173.93 173.93 173.93 173.930 173.9 173.9 Dinas Dinas 3 , 1 3 APBD, pakan 30 0 0 0 30 30 Petemakan Petemakan, konsentrat ruminansia Penyediaan Kg 235 Dinas Dinas 0,014 APBD, benib HMT Petemakan, Petemakan, Sektor (legume) Sektor Sektor swasta swasta swasta GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 99 No Kegiatan Satuan Stakeholders Penanggung biaya Sumber Strategis TARGET jawab Pendanaan (Milyar) 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 (I) 0) (3) (4 (5) (6) (7) (8) (9) (10) (II) (2) (3) (14) (15) (16) Penyediaan pols 500 Dinas Dinas 0,007 APBD, benih HMT Petemakan, Petemakan, Sektor (Rumput) Sektor Sektor swasta swasta swasta Penyediaan ekor 100 Kementan Dinas 3,50 Sektor ternak sapi Peternakan. swasta, wagyu APBN Penyediaan unit Dinas Dinas 0,02 APBD mesin press Peternakan Petemakan pakan Penyediaan unit 2 Dinas Dinas 0,30 APBD pompa mobile Peternakan Petemakan Penyediaan unit Dinas Dinas 0,54 APBD traktor roda 4 Petemakan Peternakan Penyediaan unit 2 Dinas Dinas 0,03 APBD mesin choper Petemakan Petemakan Pembangunan paket Dinas Dinas 1,20 APBD jaringan irigasi Petemakan Petemakan Pembangunan paket Dinas Dinas 1,60 APBD reservoiir Petemakan Petemakan Pembangunan paket I Dinas Dinas 0,035 APBD instalasi biogas Petemakan Petemakan GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 100 - + l 1, No Kegiatan Satuan Stakeholders Penanggung biaya Strategis TARGET jawab Pendana (Milyar) 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 (I) @) (3) (4) (5) (6) (7) (8) () (JO) (JI) (2) (/3) (14) (15) (16) 1.6. Pembibitan APBD. sapi bali di APBN, kabupaten Sektor Kupang, TTS, swasta, TTU, Belu, Masyarakat Malaka, Rote Ndao, Lembata, Ngada dan Nagekeo Pengolahan Ha 82.375 per tahun Dinas Dinas 1.434,3 APBD. kebun HMT Peternakan, Peternakan, 70 APBN, 494.250 Ha Kabupaten Kupang.24.552, TTS: 1 8. 1 4 1 , TTU: 11.802, Dinas Dinas Sektor Belu: 6.288, Malaka: 7.001, Rote Ndao: 7.043, Pertanian,P Pertanian,P swasta, Lembata: 435, Nagekeo: 2.538 dan Ngada: 4.575 ro/Kab/Kot ro/Kab/Kot Masyarakat a, PT, a, PT, Masyarakat Masy arakat ,Lembaga ,Lembaga perbankan perbankan Sektor Sektor swasta swasta Penyediaan & anakan 329.500.000 Dinas Dinas 12.749, APBD. penanaman Peternakan, Peternakan, 96 APBN, benih lamtoro Kabupaten Kupang: 98,209.112,, TIS: 72.563.900, Pro/Kab/K Pro/Kab/K Sektor 1.974.000.000 "ITU: 47.209.561, Belu: 25.151.211,, Malaka: ota, PT, ota, PT, swasta, anakan 28.003.289, Rote Ndao: 2 8. 1 7 1 . 2 1 1 , Lembata: Masyarakat Masyarakat Masyarakat I. 740.057, Nagekeo: I 0.152.928, dan Ngada: , Lembaga ,Lembaga GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT I O 1 No Kegiatan Satuan Stakeholders Penanggung Sumber Strategis TARGET jawab Pendanaan 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 (/) @) () (4) (5) (6) (7) (8) (9) (JO) (11) (2) (3) (14) (JS) (16) 1.298.070 perbankan perbankan Sektor Sektor swasta swasta Pembuatan Ton 51.375 per tahun Dinas Dinas 153,00 APBD. silase 308.250 Peternakan, Peternakan APBN, ton Kabupaten Kupang: 8.738,, TTS: 10.429, TTU: 5.637, Dinas Provisi dan Sektor Belu: 8.456,, Malaka: 9.020, Rote Ndao: 2.613, Pertanian Kab/Kot swasta, Lembata: 933, Nagekeo: 2.737, dan Ngada: 2.813 Pro/Kab/K Dinas Masyarakat ota, PT, Peternakan, Masyarakat Dinas , Lembaga Pertanian perbankan Pro/Kab/K Sektor ota, PT, swasta Masyarakat , Lembaga perbankan Sektor swasta a Pembuatan Ton 51.375 per tahun Dinas Dinas 153,30 APBD. amoniase Peternakan, Peternakan, APBN, 308.250 ton Kabupaten Kupang: 2.380,, TTS: 1.760, TTU: 1.150, Dinas Dinas Sektor Belu: 610,, Malaka: 680, Rote Ndao: 680, Lembata: Pertanian Pertanian swasta, 50, Nagekeo: 250, dan Ngada: 440 Pro/Kab/K Pro/Kab/K Masyarakat ota, PT, ota, PT, Masyarakat Masyarakat , Lembaga , Lembaga perbankan perbankan 4 GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 102 . 1 , No Kegiatan Satuan Stakeholders Penanggung Strategis TARGET jawab 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028
(1)() (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (JI) (2) (3) (14) (15) (16) Sektor Sektor swasta swasta Pembibitan ekor 240 8.000 per tahun Dinas Dinas 192,00 APBD. Bibit sapi bali Kabupaten Kupang: 11.015,, TTS: 5.608, TTU: 7.402, Peternakan, Peternakan, APBN, di masyarakat Pro/Kab/K Pro/Kab/K Sektor introduksi Belu: 3.917,, Malaka: 5.259, Rote Ndao: 10.261, ota, ota, swasta, pernerintah Lernbata: 36, Nagekeo: 3.760, dan Ngada: 4. 1 1 7 Masyarakat Masyarakat Masyarakat 48.000 ekor , Lembaga , Lembaga perbankan perbankan Sektor Sektor swasta swasta Pelaksanaan IB ekor 8.000 per tahun Dinas Dinas 1,20 APBD. pada sapi bali Petemakan Petemakan APBN, 48.000 dosis Kabupaten Kupang: 11.015,, TTS: 5.608, TTU: 7.402, Pro/Kab/K Provisi dan Sektor Belu: 3.917,, Malaka: 5.259, Rote Ndao: 10.261, ota, PT, Kab/Kota swasta, Lembata: 36, Nagekeo: 3.760, dan Ngada: 4 . 1 1 7 Masyarakat Masyarakat Pemeriksaan ekor 8.000 per tahun Dinas Dinas 1,20 APBD. kebuntingan Peternakan, Peternakan APBN, 48.000 ekor Kabupaten Kupang: 11.015,, TTS: 5.608, TTU: 7.402, Pro/Kab/K Provisi dan induk Belu: 3.917,, Malaka: 5.259, Rote Ndao: 10.261, ota, PT, Kab/Kota Lembata: 36, Nagekeo: 3.760, dan Ngada: 4 . 1 1 7 Masyarakat Pembangunan unit I unit 9 per tahun Dinas Dinas 275 APBD, mini ranch di Petemakan Petemakan Sektor Kabupaten Kupang: 1,, TTS: 1, TTU: 1, Belu: 1,, � GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 1 0 3 Kegin t I Satuan Stakeholders Pen ggung Stra te gi s TARGET jawab 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 (I) @2) () (9) (5) (6) (7) (8) () (JO) (11) (2) (3) (14) (JS) (16) pengembangan Instala Malaka: I, Rote Ndao: I, Lembata: I, Nagekeo: I, dan Provisi, Provisi, swasta sapi bali 55 si Ngada: I Kab/ Kota, Kab/ Kota, unit Besip sektor sektor ae swasta swasta Pelatihan orang 283 per tahun Dinas Dinas 2,788 APBD. pendamping Peternakan, Peternakan APBN, kepada(TLL Kabupaten Kupang: 49,, TT: 65, TTU: 49, Belu: 25, , Malaka: Pro/Kab/K Provisi dan dan 25, Rote Ndao: 17, Lembata:19, Nagekeo: 15, dan Ngada: 19 ota, PT Kab/Kota Mahasiswa) Pembuatan unit 16 9 per tahun Dinas Dinas 14,00 APBD. ernbung 70 Peternakan, Petemakan APBN, unit Kabupaten Kupang: 1,, TTS: 1, TTU: 1, Belu: 1,, Pro/Kab/K Provisi dan Malaka: I, Rote Ndao: I, Lembata:I, Nagekeo: I, dan ota, Dinas Kab/Kota, Ngada: I PUPR Dinas PUPR Penyediaan Unit 6 Dinas Dinas 1,25 APBD. Eksavator Daratan Timor (Kab' Kupang, TTS, TTU, Belu, Peternakan, Petemakan, APBN, untuk Dinas Dinas mobilisasi malaka): 3, Daratan Fkores (Ngada, nagekeo): I, Pertanian Pertanian pengolahan Lembata: I, Rote Ndao: I Pro/Kab/ Pro/Kab/ lahan HMT Kota, Kota, Masyarakat 6 kementan kementan unit Penyediaan Unit 6 Dinas Dinas 8,00 APBD. Tractor roda 4 Petemakan, Petemakan APBN, Daratan Timor (Kab' Kupang, TIS, TTU, Belu, GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 104 Kegiatan Base TAHUN Penanggung Perkiraan Sumber No Satuan Stakeholders biaya Strategis line TARGET jawab Pendanaan (Milyar)
(2020)2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 (I) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (II) (12) (13) (14) (IS) (16) I50 PK 6 unit malaka): 3, Daratan Fkores (Ngada, nagekeo): I, Dinas Provisi dan Lembata: I, Rote Ndao: I Pertanian, Kab/Kota, Pro/Kab/ Dinas Kota, Pertanian, kementan kementan Penyediaan Unit 6 Dinas Dinas 3,00 APBD. Chooper Peternakan Peternakan APBN mobile 6 unit Daratan Timor (Kab: Kupang, TTS, TTU, Belu, Prov dan Provisi dan malaka): 3, Daratan Fkores (Ngada, nagekeo): I, Kab/ Kota, Kab/Kota, Lembata: I, Rote Ndao: I kementan kementan Masyarakat Penyediaan Unit 137 Dinas Dinas 1.37 APBD. chopper mini Peternakan Peternakan APBN 137unit Kabupaten Kupang: 24,, TTS: 32, TTU: 24, Belu: 12,, Prov dan Prov dan Masyarakat Malaka: 12, Rote Ndao: 8, Lembata: 9, Nagekeo: 7 dan IKab/ Kota, /Kab/ Kota, Ngada: 9 kementan, kementan, masyarakat masyarakat Penyediaan Unit 6 Dinas Dinas 6,00 APBD. Mesin baler Peternakan, Peternakan APBN, I silase mobile 6 Daratan Timor (Kab: Kupang, ITS, TTU, Belu, Pro/Kab/K Provisi dan I unit malaka): 3, Daratan Fkores (Ngada, nagekeo): I, ota Kab/Kota I Lembata: I, Rote Ndao: I I I I I Penyediaan 54 Dinas Dinas 6,00 APBD. I Mesin baler Peternakan, Peternakan APBN, I I I I GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 105 - - - - - - --- No Kegiatan Satuan Stakeholders Penanggung biaya Strategis TARGET jawab (Milyar) 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 (I) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (JI) (12) (3) (14) (15) (16) silase kecil 54 Kabupaten Kupang: 6 , TTS: 6, TIU: 6, Belu: 6, Pro/Kab/K Provisi clan Masyarakat unit Malaka: 6, Rote Ndao: 6, Lembata: 6, Nagekeo: 6 dan ota, Kab/Kota, Ngada: 6 Masyarakat Masyarakat Penyediaan Unit 54 Dinas Dinas 2,00 APBD. Mesin Peternakan, Petemakan APBN, pengolah Kabupaten Kupang: 6 , TIS: 6, TIU: 6, Belu: 6, Pro/Kab/K Provisi dan pupuk organic Malaka: 6, Rote Ndao: 6, Lembata: 6, Nagekeo: 6 dan ota, Kab/Kota Masyarakat 54 unit Ngada: 6 Masyarakat Timbangan Unit 9 Dinas Dinas 0,20 APBD. temak elektrik Peternakan, Petemakan APBN, di Pasar Kabupaten Kupang: 1 , , TTS: l, TIU: 1, Belu: 1 , , Pro/Kab/K Provisi dan Temak 9 unit Malaka: l, Rote Ndao: J, Lembata: 1, Nagekeo: 1 dan ota, Kab/Kota Ngada: I Drum Buah 256.875 Dinas Dinas 30,66 APBD. penampungan Petemakan, Petemakan APBN, silase 256.875 Kabupaten Kupang: 43.689,, TTS: 52.144, TIU: Pro/Kab/K Provisi clan buah 28.186, Belu: 42.279, Malaka: 45.098, Rote Ndao: ota, Kab/Kota Masyarakat 13.064, Lembata:4.665, Nagekeo: 13.684 dan Ngada: Masyarakat 14.065. 1.7. Pembibitan Dinas APBD. sapi sumba Petemakan APBN, ongole di Provisi dan Sektor Kabupaten Kab/Kota swasta, Sumba Timur, KUR Sumba Masyarakat Tengah, GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 106 No Kegiatan Satuan Penanggung Sumber Strategis TARGET jawab Pendanaan 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028
(1)(2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (2) (3) (14) (/5) (/6) Sumba Barat Daya clan Rote Ndao Pembuatan Ha 10.000 10.000 per tahun Dinas Dinas 180,00 APBD. kebunHMT Peternakan, Peternakan APBN, 60.000 Ha Kabupaten Sumba Timur.7.792, Sumba Tengah:1.273, Pro/Kab/K Provisi dan Sektor Sumba Barat:330, Sumba Barat Daya 605: ota, Sektor Kab/Kota, swasta swasta Sektor Masyarakat Masyarakat swasta masyarakat Penyediaan & anakan 40.000.000 Dinas Dinas 1.600,00 APBD. penanaman Peternakan Peternakan APBN, benih lamtoro Kabupaten Sumba Timur: 31.167.613, Sumba Pro/Kab/K Provisi dan Sektor 40 juta anakan Tengah:5.090.177, Sumba Barat:1.323.700, Sumba ota, Kab/Kota, swasta Barat Daya 2.418.510: Masyarakat Sektor Masyarakat , Sektor swasta swasta masyarakat Pembuatan Ton 12.600 per tahun Dinas Dinas 37,80 APBD. silase Peternakan, Peternakan APBN, Kabupaten Sumba Timur:3.967, Sumba Tengah:1.658, Pro/Kab/K Provisi dan Sektor Sumba Barat:362, Sumba Baral Daya 6.612 ota, PT, Kab/Kota, swasta Dinas Dinas Masyarakat Pertanian, Pertanian, Masyarakat Sektor Sektor swasta swasta masyarakat GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 107 + +l h' No Kegiatan Satuan Penanggung Strategis TARGET jawab 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 (I) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (II) (12) (13) (14) (IS) (16) pembuatan Ton 12.600 per tahun Dinas Dinas 37,80 APBD. amoniase Petemakan, Petemakan APBN, Kabupaten Sumba Timur.3.236, Sumba Tengah: .885, Pro/Kab/K Provisi dan Sektor Sumba Barat:2.378, Sumba Barat Daya 2.101 ota, PT, Kab/Kota, swasta Dinas Dinas Masyarakat Pertanian, Pertanian, Masyarakat Sektor Sektor swasta swasta masyarakat Pembibitan ekor 2.000 per tahun Dinas Dinas 48,00 APBD. sapi sumba Kabupaten Sumba Timur: 1.272, Sumba Tengah:208, Petemakan, Petemakan, APBN, ongole untuk Pro/Kab/K Pro/Kab/K Sektor diserahkan ke Sumba Barat:54, Sumba Barat Daya 99, Rote Ndao: ota, ota, swasta masyarakat 367 Masyarakat Masyarakat Masyarakat ,Lembaga , Lembaga perbankan perbankan Sektor Sektor swasta swasta Pelaksanaan ekor 2.000 per tahun Dinas Dinas 0,30 APBD. 1B pada sapi Kabupaten Sumba Timur: 1.272, Sumba Tengah:208, Petemakan, Petemakan, APBN, so Pro/Kab/K Pro/Kab/K Sektor Sumba Barat:54, Sumba Baral Daya 99, Rote Ndao: ota, PT, ota, PT, swasta 367 Masyarakat Masyarakat Masyarakat , Sektor , Sektor swasta swasta Pemeriksaan ekor 2.000 per tahun Dinas Dinas 0,30 APBD, GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 108 Kegiatan Penanggung Sumber No Strategis Satuan Stakeholders jawab biaya PendanaanTARGET (Milyar) 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 (I) () (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (2) (3) (14) (15) (16) kebuntingan Kabupaten Sumba Timur: 1.272, Sumba Tengah:208, Petemakan, Petemakan, APBN, Sumba Barat:54, Sumba Barat Daya 99, Rote Ndao: Pro/Kab/K Pro/Kab/K Sektor 367 ota, PT, ota, PT, swasta Masyarakat Masyarakat Masyarakat , Sektor , Sektor swasta swasta Pelatihan orang 332 86 per tahun Dinas Dinas 2,788 APBD. pen damping Kabupaten Sumba Timur:45, Sumba Tengah: 1 1 , Petemakan, Petemakan, APBN, kepada(TLL Pro/Kab/K Pro/Kab/K Sektor dan Surnba Barat: 13 Sumba Barat Daya 17 ota, PT, ota, PT, swasta Mahasiswa) Sektor Sektor swasta swasta Pengembangan Unit 24 mini ranch Kabupaten Sumba Timur: 6, Sumba Tengah: 6, Surnba Barat:6, Surnba Barat Daya 6 Pembuatan unit 10 4 per tahun Dinas Dinas 14,00 APBD. embung Petemakan, Petemakan, APBN Kabupaten Sumba Timur: I, Sumba Tengah: 1, Sumba Pro/Kab/K Pro/Kab/K Barat: 1 Sumba Barat Daya 1 ota, Dinas ota, Dinas PUPR PUPR Penyediaan Unit 2 Dinas Dinas 1,25 APBD. Eksavator Petemakan, Petemakan APBN, untuk Pro/Kab/K Provisi dan mobilisasi Kabupaten Sumba Timur: 1, Sumba Tengah-Sumba ota, Dinas Kab/Kota, pengolahan Dinas GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 109 No Kegiatan Satuan Stakeholders p ggung biaya Sumber Stra te gi s TARGET jawab Pendanaan (Milyar) 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028
(1)02) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (o) (//) (2) (3) (14) (JS) (16) lahanHMT Barat-Sumba Barat Daya: l Pertanian, Pertanian Masyarakat Penyediaan Unit 2 Dinas Dinas 8,00 APBD. Tractor rod a 4 Peternakan, Peternakan, APBN, Kabupaten Sumba Timur: I, Sumba Tengah-Sumba Pro/Kab/K Dinas Sektor Barat-Sumba Barat Daya: I ota, PT, Pertanian swasta, Dinas Prov./Kab/ Pertanian, Kota, Sektor swasta Penyediaan Unit 2 Dinas Dinas 3,00 APBD. Chooper Kabupaten Sumba Timur: I, Sumba Tengah-Sumba Petemakan, Petemakan, APBN, mobile Pro/Kab/K Pro/Kab/K Sektor Barat-Sumba Barat Daya: I ota, ota, swasta, Masyarakat Masyarakat masyarakat , Sektor , Sektor swasta swasta Penyediaan unit 49 Dinas Dinas 0.49 APBD. Chooper mini Kabupateo Sumba Timur: 22, Sumba Tengah: 5, Peternakan, Peternakan, APBN, Pro/Kab/K Pro/Kab/K Sektor Sumba: Barat: 6, Sumba Barat Daya: 8 ota, ota, swasta, Masyarakat Masyarakat masyarakat , Sektor , Sektor GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 1 1 0 • A, No Kegiatan Satuan Stakeholders Penanggung Strategis TARGET jawab 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028
(1)@2) () (4) (5) (6) (7) (8) (9) (JO) (I (2) (3) (14) (5) (16) swasta swasta Penyediaan Unit 2 Dinas Dinas 0.4 APBD. Mesin baler Kabupaten Surnba Timur: I, Sumba Tengah-Sumba Petemakan, Petemakan, APBN, silase mobile Pro/Kab/K Pro/Kab/K Sektor Barat-Sumba Barat Daya: I ota, ota, swasta, Masyarakat Masyarakat masyarakat , Sektor , Sektor swasta swasta Penyediaan Unit 24 Dinas Dinas 0.4 APBD. Mesin baler Peternakan, Peternakan, APBN, silase kecil Kabupaten Sumba Timur:6, Sumba Tengah:6, Surnba Pro/Kab/K Pro/Kab/K Sektor Barat:6 Surnba Barat Daya 6 ota, ota, swasta, Masyarakat Masyarakat masyarakat , Sektor , Sektor swasta swasta Penyediaan Unit 24 Dinas Dinas 2,00 APBD. Mesin Kabupaten Sumba Timur:6, Sumba Tengah:6, Sumba Petemakan, Peternakan, APBN, pengolah Pro/Kab/K Pro/Kab/K Sektor pupuk organik Barat:6 Surnba Barat Daya 6 ota, ota, swasta, Masyarakat Masyarakat masyarakat , Sektor , Sektor swasta swasta Timbangan Unit 4 Dinas Dinas 0,20 APBD. temak elektrik Kabupaten Surnba Timur:!, Surnba Tengah:1, Surnba Petemakan, Peternakan, APBN, di pasar temak Pro/Kab/K Pro/Kab/K Sektor GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 1 1 1 No Kegiatan Satuan Stakeholders Penanggung biaya Sumber Strategis TARGET jawab (Milyar) Pendanaan 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028
(1)(2) () (9 (s) (6) (7) (8) (9) (10) (JI) (2) (13) (14) (5) (16) Barat: I Sumba Baral Daya I ota, ota, swasta, Masyarakat Masyarakat masyarakat , Sektor , Sektor swasta swasta Drum Buah 63.800 Dinas Dinas 7,56 APBD. penampungan Kabupaten Sumba Timur:19.836, Sumba Tengah:.8.292, Peternakan, Peternakan, APBN, silase Pro/Kab/K Pro/Kab/K Sektor Sumba Barat: 1.812, Surnba Baral Daya 33.060 ota, ota, swasta, Masyarakat Masyarakat masyarakat , Sektor , Sektor swasta swasta 1.8. Pembibitan Dinas APBD. sapi Petemakan APBN, persilangan Sektor wagyu di swasta, Kabupaten KUR Kupang, TTS, TTU, Belu dan Malaka Pembuatan Ha 250 250 per tahun Dinas Dinas 4,50 APBD. kebun HMT Petemakan. Peternakan. APBN, Kabupaten Kupang.91, TTS: 67, TTU: 44, Belu: 23, PT, PT, Sektor Malaka: 26, Masyarakat Masyarakat swasta, , Sektor , Sektor Masyarakat swasta swasta GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 1 1 2 Kegiatan Penanggung Sumber No Strategis Satuan TARGET Stakeholders jawab Pendanaan 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028
(1)(2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (ll) (2) (3) (14) (15) (16) Penanaman Anakan 1.000. 1.000.000 Dinas Dinas 40,00 APBD. anakan 000 Petemakan. Petemakan. APBN, lamtoro Kabupaten Kupang: 362.211, ITS: 267.628, ITU: PT, PT, Sektor 174.117, Belu: 92.762, Malaka: 103.281 Masyarakat Masyarakat swasta, , Sektor , Sektor Masyarakat swasta swasta Penyediaan 1030 per tahun Kementan, Kementan, 0,927 APBD. benih/bibit Dinas Dinas APBN, semen beku Kabupaten Kupang: 373, ITS: 276, ITU: 179, Belu: Peternakan. Petemakan. Sektor untuk 96, Mal aka: I 06 , Sektor , Sektor swasta Pemumian swasta swasta bibit sapi Wagyu Pelaksanaan 1030 per tahun Kementan, Kementan, 0,154 APBD. 18 Dinas Dinas APBN, Kabupaten Kupang: 373, TTS: 276, ITU: 179, Belu: Peternakan. Peternakan. Sektor 96, Mal aka: I 06 Masyarakat Masyarakat swasta, , Sektor , Sektor Masyarakat swasta swasta Pemeriksaan 1030 per tahun Dinas Dinas 0,154 APBD. kebuntingan Petemakan. Peternakan APBN, Kabupaten Kupang: 373, ITS: 276, ITU: 179, Belu: 96, Malaka: 106 Pembuatan 9.560 Dinas Dinas 0,029 APBD. silase Petemakan. Peternakan. APBN, Kabupaten Kupang: 1.976, TTS: 2.358, TTU: 1.275, PT, Dinas PT, Dinas Sektor GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 1 1 3 Kegiatan Base TAHUN Penanggung Perkiraan Sumber No Strategis Satuan line Stakeholders jawab biaya PendanaanTARGET (Milyar)
(2020)2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 (J) (2) (3) (4 (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (3) (14) (5) (16) Belu: 1.912, Malaka: 2.039 Pertanian, Pertanian, swasta, Masyarakat Masyarakat Masyarakat , Sektor , Sektor swasta swasta Pelatihan 2 I 3 per tahun Keinentan, Kementan, 1,033 APBD. pendamping Dinas Dinas APBN, kepada(TLL Kabupaten Kupang: 49, TTS: 65, TTU: 49, Belu: 50, Peternakan. Peternakan. dan Malaka: 50 PT. PT Mahasiswa) 1.9. Pembibitan Dinas terak babi di Peternakan instalasi Tarus Penyediaan ekor 20 20 20 Dinas Dinas 0,48 APBD pejantan babi Peternakan Peternakan ras Penyediaan ekor 180 180 180 Dinas Dinas 4,32 APBD induk babi ras Petemakan Peternakan Penyediaan Ton 268 280 280 280 280 280 280 Dinas Dinas 21,024 APBD pakan Petemakan Peternakan Penyediaan Paket I Dinas Dinas 0.40 APBD Vitamin dan Peternakan Peternakan obat-obatan Pembangunan unit 2 2 2 Dinas Dinas 2,00 APBD bak � GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 1 1 4 Kegiatan Base TAHUN Penanggung Perkiraan Sumber No Satuan Stakeholders biaya Strategis line TARGET jawab (Milyar) Pendanaan
(2020)2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 (I) @) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (JO) (11) (2) (3) (14) (15) (/6) penampung Peternakan Peternakan Pembangunan unit I 1 Dinas Dinas 0,20 APBD sumurbor Petemakan Peternakan Jaringan air unit 1 I Dinas Dinas 1,00 APBD Peternakan Petemakan Penyuntikan Ekor 200 3.800 3.800 7.200 11.400 11.400 11.40 11.40 Dinas Dinas 0,393 APBD serum 0 0 Petemakan Peternakan konvalesen Penyutikan ekor 200 3.800 3.800 7.200 11.400 11.400 11.40 11.40 Dinas Dinas 0,393 APBD vaksin Hog 0 0 Petemakan Peternakan Cholera .JO. Pembibitan ternak babi di instalasi Boawae Penyediaan ekor 20 20 Dinas Dinas 0,48 APBD pejantan babi Peternakan Petemakan ras Penyediaan ekor 180 180 Dinas Dinas 4,32 APBD induk babi ras Peternakan Peternakan Penyediaan Kg 125.92 43.800 43.800 43.800 43.800 43.80 43.80 Dinas Dinas 2,190 APBD Pakan 5 0 0 Petemakan Peternakan GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 1 1 5 Kegiatan Base TAHUN Penanggung Perkiraan Sumber No Satuan Stakeholders biaya Strategis line TARGET jawab (Milyar) Pendanaan
(2020)2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 (I) 0) (3) (4) (5) (6) (7 (8) (9) (10) (II) (2) (13) (14) (5) (16) Penyediaan Kg 125.92 43.800 43.800 43.80 43.800 43.800 43.80 Dinas Dinas 2,190 APBD Pakan 5 0 0 Peternakan Peternakan Penyediaan Paket I I I Dinas Dinas 0.40 APBD Vitamin dan Peternakan Peternakan obat-obatan Penyutikan dosis 1 1 5 630 630 630 630 630 630 Dinas Dinas 0,031 APBD vaksin Hog Peternakan Peternakan Cholera Penyuntikan 1 1 5 630 630 630 630 630 630 Dinas Dinas 0,031 APBD serum Peternakan Peternakan konvalesen .11. Pernbibitan APBD, ternak babi di APBN, Masyarakat Sektor swasta, Masyarakat Pembibitan paket 22 22 22 22 22 22 22 Dinas Dinas 8,00 APBD, ternak babi peternakan peternakan Lembaga melalui Prov/Kab/ Prov/Kab/ Perbankan bantuan Kota, Kota, pemerintah/ek Masyarakat Masyarakat osistim , Sektor , Sektor peternakan swasta, swasta, (dalam bentuk Lembaga Lembaga paket : Bibit GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 1 1 6 Kegiatan Base TAHUN Perkiraan SumberPenanggung No Strategis Satuan line Stakeholders jawab biaya PendanaanTARGET (Milyar)
(2020)2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 (]) 0) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (JO) (II) (2) (13) (14) (15) (16) babi, pakan, perbankan, perbankan, kandang, obat obatan dan vitamin, peenjualan) Penyuntikan dosis 2.078. 2.078. 2.078 2.078.6 2.078.69 2.078. Dinas Dinas 68,63 APBN, vaksin Hog 696 696 .696 96 6 696 petemakan petemakan Sektor Cholera di 22 Prov/Kab/ Prov/Kab/ swasta, kabupaten/kota Kota, Kota, Masyarakat Masyarakat Masyarakat , Sektor , Sektor swasta, swasta, Lembaga Lembaga perbankan, perbankan Penyuntikan dosis 2.078. 2.078. 2.078 2.078.6 2.078.69 2.078. Dinas Dinas 68,63 APBN, serum 696 696 .696 96 6 696 petemakan petemakan Sektor konvalesen di Prov/Kab/ Prov/Kah/ swasta, 22 Kota, Kota, Masyarakat kabupaten/kota Masyarakat Masyarakat , Sektor , Sektor swasta, swasta, Lembaga Lembaga perbankan, perbankan 1.12 Pembibitan Dinas Dinas APBD, temak ayam Peternakan Peternakan APBN KUB di GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 1 1 7 No Kegiatan Satuan Stakeholders Penanggung Strategis TARGET jawab Pendanaan 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028
(1)02) (3) (9) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (2) (3) (14) (5) (16) instalasi Tarus Penyediaan ekor 6.000 6.000 6.000 6.000 6.000 6.000 Dinas Dinas 0,27 ayamKUB Peternakan Peternakan Rehap unit Dinas Dinas 0,20 kandang Peternakan Petemakan perneliharaan Pembangunan unit Dinas Dinas 0,70 kandang Petemakan Peternakan Pernbangunan unit Dinas Dinas 1,50 RPU Petemakan Petemakan Pernbelian Buah 180 180 180 180 180 180 Dinas Dinas 0,14 tempat makan Petemakan Petemakan Pernbelian Buah 180 180 180 180 180 180 Dinas Dinas 0,17 tempat minum Peternakan Peternakan Pembelian Paket Dinas Dinas 0,06 vitamin dan Peternakan Peternakan obat 1.13 Pembibitan Dinas Dinas ternak ayam Peternakan. Peternakan di 22 PT Masyarakat kabupaten/ Masyarakat , Lembaga kota se-NTT. , Lembaga perbankan, Sektor GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 1 1 8 Base Penanggung Perkiraan Sumber No Satuan Stakeholders biaya line TARGET jawab Pendanaan (Milyar)
(2020)2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 () @) (3) (4) (5) (6) (7 (8) (9) (JO) ( (2) 013) (14) (JS) (16) Sektor swasta swasta Pembibitan paket 22 22 22 22 22 22 22 Dinas Dinas 4,95 APBD, temakayam Petemakan Petemakan APBN, KUB melalui Masyarakat Masyarakat lembaga bantuan , Lembaga , Lembaga perbankan pemerintah/ek perbankan, perbankan, osistim Sektor Sektor petemakan swasta swasta (dalam bentuk paket : Bibit ayamKUB, pakan, kandang, obat obatan dan vitamin, peenjualan) Inseminasi Ekor 9.800 25.00 25.000 25.00 25.000 25.000 25.000 2,00 APBD, Buatan (18) 0 0 APBN lntroduksi sapi Ekor 100 Pemerintah 3.50 APBD, wagyu di dan Sektor APBN lnstalasi swasta/PT kabaru AB Penyediaan Ekor 1.000 l.000 1.000 1.000 1.000 1.000 Pemerintah 60.00 APBD, GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 1 1 9 Kegiatan Penanggung Sumber No Strategis Satuan TARGET Stakeholders jawab Pendanaan 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 (I) @2) () (4) (5) (6) (7) (8) (9) (1o) (II) (2) (3) (14) (15) (16) pemacek pusat/Prov/ APBN {lntensifikasi Kab/Kota KawinAlam) Penerbitan Setifikat 9.800 26.00 26.000 26.00 26.000 26.000 26.000 Pemerintah 0.5 APBD, surat 0 0 pusat/Prov/ APBN keterangan Kab/Kota layak bibit Klasterisasi Lokasi Pemerintah 1.61 APBD, wilayah bibit dan APBN ternak masyarakat /pemumian /sektor genetik swasta lntroduksi sapi Ekor 13.00 13.000 13.000 13.00 13.000 13.000 Pemerintah 780,00 APBD, betina unggul 0 0 dan Sektor APBN dari luar NTT swasta Pencegahan Paket Pemerintah 1,20 APBD, pengeluaran/ pusat APBN pemotongan Aparat ternak betina penegak, Karantina, RPH, Masyarakat , Pem GRAND DESIGN PETERNAKAN NTT 120