1.Januari 231,00 10 179,89 12 201,48 13 61,30 7 108,63 12 158,42 15
2.Pebruari 184,81 10 120,14 10 263,48 14 72,33 6 137,09 14 157,28 14
3.Maret 205,44 12 159,03 12 319,69 13 71,70 7 167,77 14 166,80 16
4.April 256,23 13 184,81 11 279,63 16 93,00 10 131,30 12 179,26 17
5.Mei 247,59 11 129,67 11 258,33 12 76,00 9 152,30 13 177,89 15
6.Juni 270,39 11 141,33 11 292,01 14 101, 10 9 213,44 15 127,74 14
7.Juli 224,25 10 94,37 8 154,50 8 75,20 7 117,15 8 110,98 11
8.Agustus 188,34 5 40,71 4 88,33 5 39,44 4 61,30 6 46,40 6
9.September 41,60 2 17,86 2 33,00 4 16,25 2 29,89 4 41,44 6
10.Oktober 52,20 4 27,00 2 70,00 4 44,56 5 67,44 7 107,90 9
11.November 60,83 5 68,11 5 119,56 8 57,48 7 60,10 8 158,96 14
12.Desember 176,18 6 160,47 7 190,32 6 52,49 9 115,90 7 165,50 8 Tahunan 2.138,86 99 1.323,39 95 2.270,33 117 760,84 82 1.362,32 119 1.598,57 144 Tabel 5.40.Keadaan Curah Hujan dan Hari Hujan Rata-rata di Kabupaten Konawe Selatan a e u u u ara an e em a an u ara a a-ra a I 1aya a upa en on awe ea an Stasiun Palangga Stasiun Andowengga Stasiun Wundulako Staslun Wolter Stasiun Mowila Monginsidi No. Bulan Suhu Kelembaban Suhu Kelembaban Suhu Kelembaban Suhu Kelembaban Suhu Kelembaban Udara Udara Udara Udara Udara Udara Udara Udara Udara Udara (OC) (%) (OC) (%) (OC) (%) (OC) (%) (OC) (%)
1.Januari 24.40 87,38 24,30 94,62 23,70 89,10 27,22 77,86 32,95 90,75
2.Pebruari 25,60 87,25 25,62 95,33 25,80 91,00 26,86 82,33 32,95 88,75
3.Maret 25,20 83,06 24,94 94,72 26,30 90,30 27,00 89,19 32,75 91,50
4.April 25,00 87,75 25,12 95,47 26,30 89,10 26,49 82,31 33,03 90,90
5.Mei 24,90 87,75 25,29 95,90 23,90 91,20 26,82 92,03 32,60 91,25
6.Juni 22,40 89,64 25,29 95,31 23,20 91,40 26,10 88,84 31,30 92,25
7.Juli 27,40 88,71 26,08 94,74 23,40 90,20 25,51 91,55 32,06 93,00
8.Agustus 26,10 90,20 26,10 95,23 23,90 91,50 25,08 77,22 31,06 92,25
9.September 25,66 89,86 25,66 94,00 23,70 89,42 26,60 87,23 32,15 91,75
10.Oktober 24,53 86,25 24,53 93,23 23,85 90,33 27,46 85,74 31,40 93,25
11.November 24,21 87,11 24,21 93,19 23,70 84,43 27,38 83,58 32,25 90,00
12.Desember 22,89 87,11 22,89 96,24 23,60 84,15 28,34 89,00 32,88 ·91,25 Tahunan 24,86 87,84 25,00 94,83 24,28 89,34 26,74 85,57 32,28 91,41 S Itt Kh KbR tdd K I b bT b 15 41 S h d ------·---------------- .. ·~ l • -zs- Y3VOON3~1saA\V~ns Ia 'IYNOISYN OVXVll WSVA\Yll NVOWSW30.N3d ~OA\SSISl'IYNV .IA &Ya !snyos UID{μ'BO!P 1:1.1aS~ nped Jd'Bp"BqJp gU'BA U'Bt{'BfBS"8tu.Iad -ed'B.Iaqag 'U'B}(dlQal!P t{"BJQl 2tmA U'B.l'BS'BS U'Bp uentru 'JS!tu 'JSfA Jl?nsas JS'BSJU'Bj.10 trsnfru U'Bfedl:!ouad "BAupnfnM.Ia+ -euni 1ew9do 'B.reoas ll'B}f.J'eaJU"BWJP :iad-ep snreq lTiq.;>SJal 'Bf P.;>SJa:i trap ape ~U"BA "BA'Bp..iaqwns ·a.ra~8ua.1 !SaM'BITIS !P sJ8al1UlS tm8unJ18un ll'Bt{'Bqn.1ad trsp u-eunjueqwad IDflWllUfP Jd'Bp'Bqfiuaw urspsp Js8unJ uap s-e~n:i mrau'BS}'('Blad U'BUS"Bq.1aq.1a}[ d-epBqJ~ .resoq trarad ~...Cundwaw 's-e8n+ Ul:313.I'B~uayaAuad'BUBS>fel '8+'8+ trep tt'B'B8-eqwa1a}[ -eμas -eue.res1ud uap -eue.ras 'U'BJ"Bfillue Ul32un~np '-eJsnuem 'BA"Bp.1aqwns JSJPUOJI 'O"B}{'BJI SlJlJpoaro}'( SJS'Bq.1aq ueunqa}'(Jad ll'BS'8M."BJf u-eitreqwaBuad -e.>[jtreJ werea ·uesaM'B}'( UBl'B}'(apuad lf'BJeP13 'BAunl-es tfBres U"BJin}J'BTIP 8u"BA Ul3ll3)lapuad uadop c>}'( ll'B!U'Bl.Iad ueu~UBqwad tmsas}(nSa>f fad"Bouaw ure11:1a ~'Bq.1aa ''BAUUfB[ tremrarsd-trarruarsd uep 'tre.1a-ea 13(1:lda)l ue.tnll3.Iad 'q-eJa-ea ue.1m1u~d 'l~}l.ta.L μe:i.uaw trasn::inda)l 'μaluaw ue.1n+'B.Iad 'uapJsa.td uesn+nda)l 'uap!Sa.Jd ue.tnl'B.Iad •qe::iuμawad ue.rn::i'B.Iad '~uepun-8uepun H.tadas 'rore1.1aq 8uea umxnq uenos uep treseptrst trep s"Bdap.» +ad'ep }l'BPJl ~uei<: uau~traqwad uamaf-euem trel:!U13S}J'BJ;}d urerep qn.rejuacl.tc)q 'ueiiuepun-StrepunJad U'B.Inl'BJc>d ·(i ~1S'BW.JOJU! ~OIOtofal U'B~UBQWcl}lJQd trap uenf'BW8}{ ~.;>S 'μa~au .I'BnJ ue8ue~l3p.1ad sn.re 'reqo18 ms-ed Plns-emaw urerep saqaq ue~ufBs.Iad 'BAUID1:nq.1a:i uppsurss wad.;>S 'ueueA'BJc>d Js~unJ trsp sa8n+ 'BAUW'B{BPW ::,:cns'BULI.:>l trsunqsopad ueu~ueqwad tweues::,:c"BJad d~'Bq.1a::i ql1.ll?8uadlaq l'88ues ([1:?UO!S'BWcllUI) rewe;iS}f9 U'B8Un)J~Ufl JOP[B.J U'B)l'Bdruew Sue.A '!S'BS!Jl3qoro tc : qerepe 'BA:ue.re+uew 0'9>f9){ SlQJpowo){ Sfseq.iaq ueunq;}}'(.Iad uesa.M.'8}'( ue~uaqwa~uad urspsp 'e.re88ua.1 fS9.M.'Blns !SUfAOJd wn:i1n>1Jl.IOH trap ueunqa>J.Iod S'BUJQ 1sSunJ usp S'B~nl U'B'BU'BS}'('Blad d13p-eq.1a::i qn.reguad.taq • B8nf Jl?Wcl:JS}J.J .IOptB.J ad1uaqaq 'S'Bl'BJP fBU.l9lUJ .IOP['Bj ~UJdCUBSJQ ·-eiCuq-eMef~u~~ ~~-eqas s-eSn+ LnDf0Ul3S>feJQW W'BJ'BP SuepJq/eμ~}{ :nun .rmtra fBW.)lUJ JS'BUJp.100}1 'BAU[eW!'.}.dO wn1aa '(t, trap !'BAUJsua::iedwo){ ranses 'B!Sntrnw "BA-ep.1aqwns s-enren}( trap s-e:nsed"B>f '8AU13'.J"B.taw wnraa ·(£ !U'BU'BA"8(ad !SfiunJ trsp se8n+ twetreS'J{B{ed »UBfunuad ~i-eqas mraresaid trap mrares ue8ulUfnp -eiu1-ewJ+do wn1aa ·(i ~"BAUtrn}'('BUBS}l'BUP snrsq 8U"8l s~~nl traqeq u-e8uap UID(8UJpueqJp 'eJSTIU'BW 13A13pJaqwns t{'BlWnf l3AUS"Bll3QJ3l tflS"BW ·(1 : q-erepa 'BAU'B.I'BlUB!P 'UBU'BA'B{ad !S8unJ trap s-e8n::i U'B'BU'BS}'('BJ~ merep ~dep13qJp tUS'Btu 8traA [eWQlUJ Ul3lf9fBS'BW.Iad ·rew»do "B.I'BO~ U'B>[l'BaJUBW!P l'Bd'Bp 'Bp'B 8traA JSU~od re8e 'BAUtreJ'8S8[aluad perkebunan.
8.Meningkatnya kerusakan lingkungan akibat kesalahan pola tanam mengakibatkan erosi/tanah longsor dan pemakaian pupuk kimia serta pestisida yang tidak seimbang mengakibatkan rusaknya kesuburan tanah.
9.Lemahnya status dan luas kepemilikan lahan, mengakibatkan petani tidak dapat mengembangkan areal produksi, sehingga kesulitan untuk meningkatkan produksi dan produktivitasnya.
10.Belum optimalnya pemakaian benih/bibit unggul yang bersertifikat, mengakibatkan tanaman rentan terhadap hama penyakit berdampak produktivitasnya rendah.
11.Petani belum terbiasa dan kurang tertarik menggunakan pestisida nabati dan pengendali hama hayati yang ramah lingkungan, karena hasilnya tidak langsung nampak. • peraturan tersebut, belum sepenuhnya terintegrasi secara sinergis sehingga dapat menimbulkan hambatan dalam pencapaian tujuan pembangunan nasional dan daerah. Beberapa permasalahan yang perlu untuk mendapatkan perhatian dalam pembangunan perkebunan selama periode 5 (lima) tahun dari tahun 2015 sampai dengan 2019, adalah sebagai berikut:
1.Keterbatasan sarana dan prasarana sebagai penunjang/pendukung.
2.Terbatasnya dukungan sumberdaya manusia, dari segi kualitas kompetensinya dalam menyerap/mengadopsi serta menerapkan kemajuan teknologi dan informasi guna memasuki era globalisasi dan liberalisasi pasar.
3.Rendahnya minat generasi muda untuk mengembangkan dan terlibat dalam usaha bidang perkebunan. • 4. Perubahan iklim global, berakibat terjadi perubahan musim, sehingga muncul dan berkembangnya hama tanaman perkebunan yang sulit terkendali.
5.Belum optimalnya pemanfaatan, pengembangan dan pengelolaan lahan kering dengan komoditas perkebunan untuk tujuan konservasi lahan.
6.Terbatasnya permodalan petani perkebunan, berakibat pada masih minimnya tingkat pemahaman dan penerapan dalam proses produksi, pengolahan dan pemasaran produk-produk perkebunan.
7.Lemahnya kapasitas kelembagaan petani perkebunan, mengakibatkan para petani tidak memiliki nilai tawar produk, terhambatnya penyerapan teknologi tinggi dan kurang terkendalinya polausaha tani komoditas
12.Terbatasnya ketersediaan infrastruktur, sarana prasarana, lahan dan air, berakibat pada kesulitan dalam peningkatan produksi, produktivitas komoditas perkebunan.
13.Pemakaian alat mesin perkebunan masih sangat tradisional/ sederhana, sehingga proses penyelesaian pekerjaan membutuhkan waktu lebih lama, kurang mam.pu menyelesaikan pekerjaan dalam. skala besar, serta mutu yang dihasilkan masih rendah. Isu-isu strategis didapatkan berdasarkan hasil analisis internal dan eksternal permasalahan pembangunan perkebunan yang dihadapi selama ini, yaitu kondisi yang menimbulkan peluang dan ancaman dalam kurun waktu 5 (lima) tahun mendatang. Beberapa isu strategis dalam pembangunan perkebunan, yaitu:
1.Masih rendahnya produksi dan produktivitas komoditas perkebunan • rakyat.
2.Belum optimalnya pemanfaatan benih unggul bersertifikat, modernisasi alat mesin dan pembangunan infrastruktur perkebunan dalam upaya peningkatan produksi dan produktivitas komoditas perkebunan.
3.Masih lemahnya kapasitas kelembagaan petani dan kualitas sumberdaya perkebunan.
4.Masih rendahnya penyerapan tenaga kerja di pedesaan dalam rangka mendukung pengurangan kemiskinan dan pengangguran.
5.Belum optimalnya penerapan/ aplikasi pemanfaatan sarana produksi organik.
6.Masih lemahnya daya saing produk perkebunan memasuki pasar global dan jejaring pemasaran baik dalam skala nasional maupun internasional. Sektor ekonomi yang berbasis sumberdaya alamsampai saat ini masih merupakan lokomotif ekonomi daerah dalam menggerakkan roda perekonomian di Provinsi Sulawesi Tenggara. Produk-produk atau komoditas yang dihasilkan dari sub sektor perkebunan, merupakan sebuah kekuatan dalam mewujudkan ketahanan pangan baik dalam aspek nasional, regional maupun aspek lokal. Disisi lain tingkat permintaan global terhadap komoditi tersebut selalu menunjukkan peningkatan dalam setiap waktu. Namun demikian, pengembangan komoditas tersebut dapat menuai beberapa tantangan yang keberadaannya semakin terancam khususnya dalam aspek kuantitas. Beberapa ancaman yang cukup menarik perhatian adalah pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat yang berimplikasi pada peningkatan kebutuhan permukiman yang mengarah pada alih fungsi lahan-lahan produktif sebagai pengembangan komoditas unggulan. Disisi lain, ancaman pengembangan sektor industri dan jasa sangat membutuhkan ruang atau lahan strategis sehingga mengedapkan lahan-lahan produktif pula. Dengan demikian pembangunan ekonomi sebagai tujuan mulia yaitu pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan dapat diwujudkan. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, pengembangan komoditas unggulan diperlukan analisis kekuatan, kelemahan, ancaman dan peluang (SWOT)dari berbagai aspek dalam rangka pengembangan kawasan kakao nasional di Sulawesi Tenggara. Dalam pengembangannya komoditas-komoditas tersebut, dapat pula dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor tersebut merupakan faktor pendorong dan penarik dalam pengembangan komoditas unggulan perkebunan. Dari hasil kajian dan analisis SWOTyang didasarkan pada fenomena yang dilapangan dapat ditemukan beberapa kekuatan dan peluang serta tantangan dan hambatan sebagai berikut : Kekuatan (S):
1.Banyak lahan potensial untuk dikembangkan untuk pengembangan tanaman perkebunan.
2.Lahan perkebunan umurnnya hak milik dengan luas rata-rata ± 1,5 hektar/KK.
3.Daya dukung lingkungan cukup memadai, air, curah hujan dan tanah subur.
4.Prasarana dan sarana transportasi cukup memadai.
5.Umur petani rata-rata tergolong usia produktif dengan pengalaman berusahatani rata-rata lebih 10 tahun.
6.Ada model kelembagaan petani kakao yaitu lembaga ekonomi masyarakat sejahtera (LEM Sejahtera). Kelemahan (W):
1.Umur tanaman sudah melebihi umur produktif, sarana produksi pertanian (saprodi) seperti pupuk, benih unggul, pestisida tidak tersedia setiap saat serta tingkat serangan hama dan penyakit yang hampir tidak bisa dikendalikan oleh petani tanarnan perkebunan sehingga produktivitas tanaman masih rendah
2.Minimnya penanganan pasca panen, serta rendahnya kualitas sumberdaya petani serta minimnya teknologi yang dimiliki oleh petani tersebut.
3.Kualitas SOM rendah sehingga sering drainase lahan kebun kakao masih jelek, pohon pelindung tidak ada dan jika ada tidak dikelola dengan baik, • Berdasarkan hasil identifikasi tentang dimensi kekuatan (S) dan kelemahan (W) serta peluang (0) dan ancaman (T), maka dapat ditemukan titik temu sebagaijawaban dari ke 4 (empat)dimensi tersebut. Pertemuan antara SO
1.Krisis ekonomi global akan mengancam stabilitas harga komoditi ekspor.
2.Perubahan iklim global dan dinamika perkembangan organisme pengganggu tan aman
3.Adanya persaingan dengan sentra produksi lainnya di dalam maupun di luar daerah.
4.Peningkatan pertumbuhan penduduk yang berimplikasi pada peningkatan kebutuhan lahan permukiman yang mengarah pada alih fungsi lahan produktif tanaman perkebunan dan hortikultura.
5.Temuan potensi sumberdaya lainnya bersifat arenawable pada lahan produktif sehingga lahan perkebunan semakin tertekan.
6.Konversi lahan perkebunan terhadap tanaman perkebunan lainnya seperti kelapa sawit.
7.Alih fungsi tenaga kerja perkebunan ke sektor lainnya seperti jasa dan industri. Peluang (0):
1.Kebutuhan produk-produk tanaman perkebunan meningkat baik di pasar lokal maupun pasar regional serta global lebih khusus kita sudah masuk era MEA.
2.Jarak dengan pasar lokal dan pasar antar regional relatif dekat dan dapat dijangkau dengan menggunakan modal transportasi darat maupun laut.
3.Peningkatan inovasi pada sekor industri pengolahan yang berorientasi pada diversifikasi pangan.
4.Kebijakan pemerintah dengan kabinet kerja dengan misi kedaulatan pangan serta kebijakan pemerintah daerah tentang pengembangan komoditas unggulan. Ancaman (Tl: • pemeliharaan tanaman tidak maksirnal dan juga petani masih menanam secara monokultur sehingga petani sangat rentan terhadap kegagalan panen dan income rendah.
4.Database sumberdaya dan perkakaon belum tersedia dan sulit diakses
5.Infrastruktur yang mendukung agroindustri kakao belum tersedia secara baik. .. i PELUANG (0) AllCAMAN( Tt SWOT 1. MEA 1. DINAMIKAEKONOMI
2.MENINGKATNYA GLOBAL DAN NASIONAL PERMINTAAN 2. PERTAMBAHANJUMLAH
3.DIVERSIFIKASI PENDUDUKAN PANGAN 3. PERUBAHAN IKLIM DAN
4.KEBIJAKAN DINAMIKAOPT NASIONAL/PUSAT 4. KONVERSI DAN ALIH FUNGSILAHAN KEKUATAll (S) STRATBGJ (S·O) STRATEGI (S-T)
1.Peningkatan daya saing
1.Dayadukung (keunggulan komperatif 1.Pengembangan benih lingkungan kakao) (Sl ,S2,S3,S4- bennutu(Sl,82,-Tl, T2, T3)
2.Benih unggul 01,02) 2. Peningkatan d.aya dukung
3.Potensi kebun 2 . Peningkatan mutu biji lahan (Sl,S2,S3,S4,S5,S6-
4.Model kelembagaan kakao (Sl,83,SS- T2,T3,T4)
5.Animo petani 01,02) 2. Sosialisasi, Koordinasi,
6.Kebijakan 3. Inovasi produk olahan pelatihan pemerintah d.aerah (S3,S4.SS,S6- (Sl,S2,S3,S4,SS,S6- 01,02,03,04) Tl,T2,T3,T4)
4.Membangun 3. Gerakan pemeliharaan Technopark Basis kebun sehat (S3, 84, SS-Tl, Kakao (Sl,83,84,SS- T2, T3, T4) 02,03,04,05)
5.Pengembangan agroindustri KELEMAHAN (W) STRATEGI (W-0) STRATEGI (W-T)
1.Peningkatan
1.Produktivitas produktivitas (W 1, 1.SLPHT (Wl, W2, W3-T2, T3, rendah W2,W3-02, 03,04) T4)
2.Mutu yang rendah 2. Peningkatan kualita.s 2, Mitigasi (Wl,W2-Tl,T3,T4) 3 . Sdm yang rendah SDM Petani 3.Perbaikan dan
4.lnfrastruktur (Wl,W2,W3) pengembangan
5.Database kakao 3. Peningkatan infrastruktur (W 4-T4) Infrastruktur 4. Pengembangan database Usahatani berbasis IT (WS-Tl, T2, T3,
4.Penyediaan Database T4) Kakao (ketersediaan Website kakao) Wl,W3,W5-01,02,03) dan WO serta ST dan WT, merupakan strategi dalam pengembangan perkebunan, seperti disajikan pada matriks analisis SWOT strategi pengembangan tanaman perkebunan (Tabel6.1.). • • .... No Kabupaten/ Luas area (Ha) Produks Produkti Jumlah vitas petani Kota TBM TM TIM Jumlah i(Ton) (Kg/Ha) (KK)
1.Konawe 3.931 10.816 1.341 16.008 10.172 940.44 17.993
2.Kolaka 5.245 16.462 8.048 29.754 9.760 592.89 21.149
3.Muna 5.103 9.510 920 15.533 12.816 1347.63 22.896
4.But on 910 2.142 317 3.369 719 335.78 5.492
5.Kendari 175 465 121 761 342 735.48 1.306
6.Bau-bau 20 131 19 170 37 283.91 294
7.Konsel 4.864 15.415 37 20.316 9.046 586.83 24.098
8.Bombana 1.950 7.650 645 10.245 6.120 800.00 5.520
9.Wakatobi 2 39 7 47 23 597.40 231
10.Kolut 1.121 73.388 5.055 79.564 75.703 1031.55 26.325
11.Konut 1.198 2.777 294 4.269 590 212.46 4.518
12.Butur 210 1.357 1.640 3.207 279 205.93 4.092
13.Koltim 13.449 42.686 11.077 67.212 33.276 779.56 27.421
14.Konkep 269 2.951 354 3.574 2.632 891.80 3.860 Jumlah Sultra 38.447 185.787 29.875 254.108 161.516 869.36 165.195 • Tabel 7.1. Data Potensi Kakao Sulawesi Tenggara Kakao merupakan komoditi unggulan perkebunan yang berperan penting sebagai sumber devisa negara, sumber pendapatan petani, penciptaan lapangan kerja, mendorong agroindustri serta berperan penting menjaga pelestarian keseimbangan Iingkungan.Seiring dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 50/Permentan/ Ot.140/8/2012 Tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian dan Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 46/Kpts/PD.300/1/2015 Tentang Penetapan Kawasan Perkebunan Nasional, Sulawesi Tenggara hingga tahu 2015 memiliki areal tanam mencapai 254.108 hadengan produksi 161.516 ton yang melibatkan 165.195 kekuarga petani • (Tabet 7.1. dan Tabel 7.2.). Dengan adanya pengembangan kawasan yang berbasis komoditi akan dapat menjamin terpenuhinya ketersediaan pasokan produksi seiring dengan adanya tantangan perkebunan yang semakin berat. 7.1. Strategi Pengemban1an BAB VII. PROGRAM PENGEMBANGAN KAWASAif KA.KAO NASIONAL DI SULAWESJTENGGARA Mensinergikan sumber daya guna meningkatkan produksi,produktivitas, mutu, nilai tambah dan daya saing produk melalui partisipasi aktif masyarakat yang berlandaskan kepada ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi serta didukung dengan tata kelola pemerintahan yang baik. ),, Kebijakan Teknis • Meningkatkan produksi, produktivitas dan mutu secara berkelanjutan melalui pengembangan komoditas dan produk,peningkatan SDM, reform.asi birokrasi, penguatan kelembagaan petani, investas~ dan kem.itraan usaha, sesuai kaidah pengelolaan SDA yang ram.ah lingkungan. Membangun sistem agroindustri terpadu dengan melibatkan berbagai elemen stakeholder mulai dari pemerintah baik provinsi maupun pemerintah kabupaten, perbankan, perguruan tinggi dan badan litbang, lembaga ekonomi, asosiasi serta lembaga pen unjang lainnya. Program kegiatan revitalisasi kakao dilakukan dengan berbagai kegiatan seperti Intensifikasi, rehabilitasi, peremajaan, perluasan dan optimasi kebun, Peningkatan mutu, Pengembangan perbenihan, Pengembangan industri pedesaan, Pemberdayaan petani, Penguatan kelembagaan, Pennodalan kelompok tani, Gerakan pengendalian OPI' serta Pemberdayaan UPP. Peningkatan produksi, produktivitas, mutu dan pengembangan industri kakao berkelanjutan. ),, Kebijakan Umum 7.2. Program Pengembangan Program dan Kebijak.an Pengemhangan Kakao ),, Program • No. Kabupaten/ Kota Realisasi perbaikan kakao (Ha) lntensifikasi Rehabilitasi Peremajaan TOTAL
1.Kolut 8.000 6.600 2.400 16.400
2.Kolaka 6.900 9.800 3.400 21.300
3.Koltim 11.500 14.250 4.850 37.600
4.Konawe 5.100 8.400 3.300 16.800
5.Konsel 3.500 9.800 3.100 16.400
6.Muna 2.700 5.100 2.000 9.800
7.Bombana 1.450 2.600 1.400 5.450
8.Konut 100 100 100 100
9.Buton - 100 100 200
10.Butur - 100 100 200 Jumlah Sultra 52.060 62.200 19.150 133.400 Tabet 7.2. Realisasi Perbaikan Kakao 2009-2015 • em.a un - Vol um Satuan e (ha, Bia ya/ Rencana Anggaran (Rp. Juta) Jumlah KEGIATAN unit, Ha Biaya (Rp.00 2016 2017 2018 2019 (Rp. Juta) paket) 0) Perluasan 8.270 15.000 14.550 34.500 37.500 37.500 124.050 185.00 10.000 450.000 450.000 500.000 450.000 1.850.000 lntensifikasi 0 Rehabiltasi 40.000 11.000 110.000 110.000 110.000 110.000 440.000 Peremajaan 26.000 15.000 97.500 97.500 97.500 97.500 390.000 Beberapa regulasi kebijakan yang juga perlu diperhatikan dalam pengembangan kawasan berbasis komoditi kakao antara laian : • Pemberlakuan SNI wajib untuk produksi biji kakao; • Penyempurnaan Permenkeu dan Permendag tentang penetapan bea keluar (BK) yang besamya tergantung harga terminal menjadi sebesar 15 % bagi ekspor biji kakao non fermentasi; • Menyempurnakan skim kredit program bagi petani; • Perda tentang perwilayahan binaan bagi institusi swasta untuk mencegah persaingan tidak sehat antar pembeli; • Pelepasan/pinjam pakai kawasan hutan untuk lokasi kakao rakyat yang bersinggungan dengan kawasan hutan; 7.3. Rencana Aksi Pengembangan Tabel 7.3. Rencana Biaya Revitalisasi Kakao Sultra Per Tahun Menurut K . tan Tah 2016 2019 Dalam pengembangan kawasan berbasis komoditi kakao di Sulawesi Tenggara perlu diperhatikan pengalaman selama ini dalam Gemas Kakao : • Anjuran pola kawasan terkendala kebijakan Bupati yang cenderung nyebar; • Pola penanganan tidak berkelanjutan. bantuan kepada petani masih terbatas dan hanya tahun pertama dan tahun berikutnya diserahkan kepada petani secara swadaya dan atau pinjaman kredit bank; • Pinjaman kredit KPEN-RPtidak berjalan, karena belum bankable; · • Pola sharing kegiatan antara pusat dan daerah terkendala ketidakmampuan Pemda memberikan dukungan APBD yg memadai untuk kegiatan non fisik (CPCL, Sosialisasi, pelatihan dan pemberdayaan) • Peremajaan tanaman melalui SE kurang direspon petani akibat kurangnya sosialisasi; • • Belum berhasilnya peningkatan mutu, karena masih terbatasnya pembinaan, agroinput, sarana pasca panen dan lemahnya peraturan; • Kelembagaan petani belum berfungsi dengan baik. ; "· a e . . eruasan e 0 u awesi enaaara un - Luas Target lahan Areal Rencana Perluasan Areal Kakao Sultra (Ha) Kabupaten saat ini 2019 (Ha) (Ha) 2016 .2()17 2018 2019 Total Kolut 79.564 - - - - - - Kolaka 29.754 - - - - - - Koltim 67.212 - - - - - - Kon awe 16.088 1.800 200 500 550 550 27.000.000.000 Konsel 20.316 2.320 270 650 700 700 34.800.000.000 Muna 8.697 950 100 250 300 300 14.250.000.000 Muna Barat 11.387 1.100 100 300 350 350 16.500.000.000 Bombana 10.245 750 150 300 150 150 11.250.000.000 Ko nut 4.269 450 50 100 150 150 6. 750.000.000 Buton 3.369 450 50 100 150 150 6. 750.000.000 Butur 3.207 450 50 100 150 150 6. 750.000.000 Sultra 254.108 8.270 970 2.300 2.500 2.500 124.050.000.00 Keterangan : Sasaran kegiatanadalah areal TM dan TBM. baik pada tanaman swadaya mauoun areal perluasan I peremajaan I optimasi I rehabilitasi tahun sebelumnva PERLUASAN AREAL (EKSTENSIFIKASI) Areal kakao di kawasan Sulawesi pada tahun 2014 tercatat 254.108 ha(Statistik Perkebunan Provinsi. 2015). Dukungan masyarakat untuk membudidayakan kakao kembali meningkat seiring dengan perhatian pemerintah pada pelaksanaan Gemas kakao dan meningkatnya harga biji kakao kering di tingkat desa mencapai Rp. 38.000.-/kg pada panen tahun 2014 yang lalu. Potensi lahan juga masih tersedia di semua wilayah sentra pengembangan. Areal perluasan kakao dapat berupa lahan kosong atau lahan- lahan tegalan yang telah ditanami komoditas perkebunan/kehutanan lainnya seperti kelapa, mete, dan sengon. Usulan kegiatan perluasan kakao menurut Kabupaten tahun 2016 s/d 2019 disajikan pada Tabel 7.5. Hingga tahun 2019 ditargetkan seluas 8.270 Ha dengan nilai investasi sebesar Rp. 124.050.000.000-. sehingga pada tahun 2020 luas areal kakao Sulawesi Tenggara mencapai 260.000 Ha. Apabila kegiatan perluasan areal ini dapat dilaksanakan dengan baik dan diikuti dengan kegiatan pemeliharaan tanaman selama periode belum menghasilkan, maka dengan peningkatan produktivitas menjadi ± 2 ton per hektar akan diperoleh tambahan produksi sebesar 8.270 Ha X 2 ton = 16.540 ton atau senilai 16.540.000 kg X Rp. 38.000.- (setara harga biji kakao fermentasi saat ini) = Rp. 628.520.000.000.-/tahun. Catatan khusus untuk alokasi perluasan areal kakao dengan tetap memasukkan kabupaten-kabupaten penunjang. T b 1 7 5 B 1 Ar al Kaka S l . T Tah 2016 2019 • • ... REHABILITASI Kegiatan rehabilitasi ditujukan untuk tanaman menghasilkan yang tidak produktif. Dari total tanaman menghasilkan dikawasan Sulawesi Tenggara pada tahun 2014 tercatat 185.787 Ha. Usulan kegiatan rehabilitasi ini sampai dengan tahun 2019 ditargetkan seluas 40.000 Ha dengan nilai investasi Rp • Tah 2016 2019'Ta e . . n ensi asi 0 uawest enzzara un - Areal Target TM& TBM Areal Rencana lntensifikasi Kakao Sultra (Ha) Kabupaten Saat ini 2019 (Ha) (Ha) 2016 2017 2018 2019 Total Kolut 74.509 60.000 15.000 15.000 15.000 15.000 600.000.000 Kolaka 21.707 26.000 5.000 5.000 5.000 5.000 200.000.000 Koltim 56.135 40.000 10.000 10.000 10.000 10.000 400.000.000 Konawe 14.747 16.000 4.000 4.000 4.000 4.000 160.000.000 Konsel 20.279 20.000 5.000 5.000 5.000 5.000 200.000.00 Muna 7.129 4.800 1.200 1.200 1.200 1.200 48.000.000 Muna Baral 10.394 4.800 1.200 1.200 1.200 1.200 46.000.000 Bombana 9.600 6000 1.500 1.500 1.500 1.500 60.000.000 Konut 3.975 800 200 200 200 200 8.000.000 Buton 3.052 800 200 200 200 200 8.000.000 Butur 1.567 800 200 200 200 200 8.000.000 Sultra 224.234 185.000 45.000 45.000 45.000 45.000 1.850.000.000 INTENSIFIKASI Kegiatan Intensifikasi ditujukan untuk pemeliharaan bagi tanaman yang belum menghasilkan maupun tanaman yang sudah menghasilkan juga bagi tanaman yang telah direhabilitasi, diremajakan atau yang diutuhkan pada tahun sebelumnya. Dari total tanaman belum menghasilkan dan tanaman menghasilkan dikawasan Sulawesi Tenggara pada tahun 2015 tercatat 254.108 ha terdiri dari TBM 38.447 dan TM 185.787 Ha.Usulan kegiatan Intensifikasi ini (Tabel 7.6) sampai dengan tahun 2019 ditargetkan seluas 185.000 Ha dengan nilai investasi Rp l.850.000.000.000.-. Bila dibandingkan dengan kondisi saat ini dengan luas areal 254.108 Ha dengan produktivitas 869.36 kg/Ha hanya diperoleh produksi sebesar 161.516 Ton. Melalui gerakan Intensifikasi diharapkan akan terjadi peningkatan produktivitas ± 2 ton per hektar dan diikuti dengan perbaikan mutu sesuai SNL sehingga dari areal • 185.000 Ha X 2 ton = 370.000.000 kg X Rp. 40.000.-= Rp. 14.800.000.000.000.-/tahun. T b 1 7 6 I t ifik . Kaka S I ... PEREMAJAAN Kegiatan peremajaan ditujukan untuk tanaman tua (tidak produktif). Dari total ta.naman tua di kawasan Sulawesi Tenggara pada tahun 2014 tercatat 29 .875 Ha. Usulan kegiatan peremajaan ini sampai dengan tahun 2019 ditargetkan seluas 26.000 Ha. Dengan nilai Investasi sebesar Rp. 390.000.000.000.- Bila dibandingkan dengan kondisi saat ini dengan luas areal 29.875 Ha dengan produktivitas tanaman yang tidak produktif 100 kg/Ha hanya diperoleh produksi sebesar 2.987.500 kg x Rp. 40.000.- Berarti setara dengan Rp 119.500.000.000.-. Apabila kegiatan peremajaan areal ini dapat dilaksanakan dengan baik dan diikuti dengan kegiatan pemeliharaan tanaman selama periode belum menghasilk:an dan diikuti dengan perbaikan mutu sesuai SNI hingga tahun ke-4. maka akan diperoleh peningkatan produktivitas Jumlah TM Target Ku rang Areal Rencana Rehabilltasl Kakao Sultra (Ha) Kabupaten Produktif 2019 Saat ini (Ha) (Ha) 2016 2017 2018 2019 Total Kolut 73.368 16.000 4.000 4.000 4.000 4.000 176.000.000.000 Kolaka 16.467 3.600 900 900 900 900 39.600.000.000 Koltim 42.686 10.000 2.500 2.500 2.500 2.500 110.000.000.000 Kon awe 10.816 2.400 600 600 600 600 26.400.000.000 Konsel 15.415 3.200 800 800 800 800 35.200.000.000 Muna 4.622 1.000 250 250 250 250 11.000.000.000 Muna Baral 8.832 1.000 250 250 250 250 11.000.000.000 Bombana 7.650 1.600 400 400 400 400 17.600.000.000 Konut 2.777 400 100 100 100 100 4.400.000.000 But on 2.142 400 100 100 100 100 4.400.000.000 Butur 1.357 400 100 100 100 100 4.400.000.000 Sultra 185.787 40.000 10.000 10.000 10.000 10.000 440.000.000.000 440 .000.000.000. -. Bila dibandingkan dengan kondisi saat ini dengan luas areal 185.787 Ha dengan produktivitas tanaman yang kurang produktif 869.36 kg/Ha hanya diperoleh produksi sebesar 161.516 Ton. Melalui gerakan rehabilitasi diharapkan akan terjadi peningkatan produktivitas ± 2 ton per hektar dan diikuti dengan perbaikan mutu sesuai SN!. sehingga dari areal 40.000 Ha X 2 ton = 80.000.000 kg X Rp 40.000.- (setara harga biji kakao fermentasi saat ini) = Rp 3.200.000.000.000.- Tabel 7.7. Rehabilitasi Kakao Sulawesi TenggaraTahun 2016 - 2019 -94~ • • TBM+ Target TM Areal Rencana Pengutuhan Kakao Sultra (Ha) Kabupaten saat ini 2019 (Ha) (Ha) 2016 2017 2018 2019 Total Kolut 74.509 24.000 6.000 6.000 6.000 6.000 90.000.000.000 Kol aka 21.707 6.400 1.600 1.600 1.600 1.600 24.000.000.000 Koltim 56.135 16.000 4.000 4.000 4.000 4.000 60.000.000.000 PENGUTUHAN Kegiatan pengutuhan ditujukan untuk mengutuhkan populasi tanaman kakao dalam satuan hektar mertjadi 1.000 pohon. Kegiatan ini diharapkan dapat mengoptimalkan potensi produksi dengan meningkatnya populasi tanaman. Berkurangnya populasi tanaman kakao petani antara lain disebabkan karena serangan hama penyakit. Ketidak cukupan benih pada saat awal penanaman dan mengganti tanaman yang sudah tua (tidak produktif). Kegiatan pengutuhan ini dilakukan dengan memberikan benih dan sarana produksi lainnya sesuai kebutuhan per kebun petani sasaran dengan volume 250 pohon per hektar. atau sesuai dengan kebutuhan. Table 7.9. Pengutuhan Kakao Sulawesi TenggaraTahun 2016 - 2019 a e . . eremaiaan ao u awesi enaeara'Iahun 16 - 2019 TIR Target saat ini Areal Rencana Peremajaan Kakao Sultra (Ha) Kabupaten 2019 (Ha) (Ha) 2016 2017 2018 2019 Total Kolut 5.055 4.400 1.100 1.100 1.200 1.000 66.000.000.000 Kolaka 8.048 6.700 1.600 1.600 1.600 1.900 100.500.000.000 Koltim 11.077 10.550 2.600 2.600 2.600 2.750 19.500.000.000 Konawe 1.341 1.300 350 350 300 300 19.500.000.000 Konsel 37 - - - - - - Muna 920 816 100 100 150 - 5.250.000.000 Muna Baral 526 400 100 100 100 100 6.000.000.000 Bombana 645 572 100 100 100 100 6.000.000.000 Konut 294 260 100 150 - - 3.750.000.000 Buton 317 280 100 100 100 - 4.500.000.000 Butur 1.640 1.452 350 300 350 350 15.000.000.000 Sultra 29.875 26.000 6.500 6.500 6.500 6.500 390.000.000.000 20Kak s lTbl78 P menjadi ± 2 ton per hektar. sehingga dari areal 26.000 Ha X 2 ton= 52.000.000 kg X Rp 40.000.- (setara harga biji kakao fennentasi saat ini) = Rp 2.oso.000.000.000.- • a e . enga aan aun.R;an ao u awesi enzsara un Areal kakao Target Rencana Pengembangan Kelapa Sebagai Kabupaten TM& Areal TBNI 2019 Naungan Kakao Sultra (80 phnl Ha) Saat Inf (Ha) (Ha) 2016 2017 2018 2019 Total Kolut 74.509 6.000 1.500 1.500 1.500 1.500 14.400.000.000 Kolaka 21.707 2.200 550 550 550 550 5.280.000.000 Koltim 56.135 4.800 1.200 1.200 1.200 1.200 11.520.000.000 Konawa 14.747 1.400 350 350 350 350 3.360.000.000 Konsel 20.279 2.000 500 500 500 500 4.800.000.000 N Tah 2016 - 2019 . 'D Kak S 1dTb 1710 P NAURGAN Kondisi tanaman kakao di kawasan Sulawesi Tenggara saat ini pada umumnya ditanam secara monokultur tanpa naungan. Pada awal penanarnan kakao petani telah menggunakan tanaman gamal sebagai naungan. Namun karena mengalami kesulitan pemeliharaan naungan pada musim hujan maka petani tidak lagi menggunakan tanaman gamal sebagai naungan. Sebagai dampaknya. di musim kemarau tanaman kakao mengalami mati ranting akibat serangan VSD.Naungan dimaksudkan untuk menciptakan iklim mikro yang kondusif bagi tanaman kakao. Bahan naungan yang digunakan adalah tanaman kelapa. sengon. Dengan perlakuan ini diharapkan tanaman kakao dapat berproduksi optimal dan berkelanjutan. Selain itu dengan penggunaan tanaman kelapa sebagai naungan akan menambah sumber pendapatan bagi petani. Kegiatan naungan ini diberikan dengan melakukan penanaman naungan diantara tanaman kakao dengan jarak 9 x 18 atau 12 x 12 Sehingga populasi yang dibutuhkan setara dengan % populasi optimal (70 Pohon). Penggunaan tanaman kelapa sebagai naungan diharapkan dapat meningkatkan produksi kelapa nasional yang cenderung menurun. Konawe 14.747 4.000 1.005 1.005 1.005 1.005 15.075.000.000 Konsel 20.279 2.000 1.382 1.382 1.382 1.382 20. 730.000.000 Muna 7.129 1.600 400 400 400 400 6.000.000.000 Muna Barat 10.394 2.000 500 500 500 500 6.000.000.000 Bombana 9.600 2.000 500 500 500 500 7.500.000.000 Konut 3.975 800 200 200 200 200 3.000.000.000 Buton 3.052 800 200 200 200 200 3.000.000.000 Butur 1.567 400 100 100 100 100 1.500.000.000 Suitt a 224.234 60.000 15.000 15.000 15.000 15.000 225.000.000.000 • Muna 7.129 800 200 200 200 200 1.920.000.000 Muna Barat 10.394 800 200 200 200 200 1.920.000.000 Bombana 9.600 800 200 200 200 200 1.920.000.000 Konut 3.975 400 100 100 100 100 960.000.000 Buton 3.052 400 100 100 100 100 960.000.000 Butur 1.567 400 100 100 100 100 960.000.000 Sultra 224.234 20.000 6.000 5.000 5.000 6.000 48.000.000.000 • < • a e . . n earasr ao+ em uiawesi enaeara un - Areal kakao Target Rencana lntegrasi Kakao Ternak Sultra (Ha) TM& Areal Kabupaten TBM 2019 (sapi= 2 ekor I Ha atau Kamblng = 4 ekor I Ha) Saat ini (Ha) (Ha) 2016 2017 2018 2019 Total KoJut 79.564 4.800 1.200 1.200 1.200 1.200 120.000.000.000 Kol aka 29.754 1.600 400 400 400 400 40.000.000.000 Koltim 67.212 4.800 1.200 1.200 1.200 1.200 120.000.000.000 Konawe 16.088 1.000 250 250 250 250 25.000.000.000 Konsel 20.136 1.200 300 300 300 300 30.000.000.000 Muna 6.836 400 100 100 100 100 10.000.000.000 Muna Barat 8.697 800 200 200 200 200 20.000.000.000 Bombana 10.245 800 200 200 200 200 20.000.000.000 Perkebunan kakao rakyat memiliki potensi limbah bahan organik yang cukup besar berupa kulit buah kakao, hasil pangkasan pohon pelindung dan pangkasan tanaman kakao yang selama ini belum dimanfaatkan, dan justru berpotensi menjadi sumber berkembangnya organisme pengganggu tanaman. Sebagai contoh dari total produksi kakao kawasan Sulawesi Tenggara sebesar 161.516 Ton menghasilkan lebih dari 789.813 ton lirnbah kulit buah kakao. Limbah bahan organik tersebut dapat diolah menjadi pakan temak dan selanjutnya limbah kotoran ternak dapat diolah menjadi bahan baku pembuatan pupuk organik. Selain itu dapat meningkatkan populasi ternak guna mendukung swasembada daging nasional. Kegiatan Integrasi kakao - ternak dilaksanakan dengan pemberian bantuan ternak sapi 2 ekor /Ha atau temak kambing 4 ekor /Ha dengan perbandingan sapi jantan dan betina 1:9 dan perbandingan kambing jantan dan betina 1:5. Pengolahan pakan temak dan Unit Pengolahan Pupuk Organik diberikan paket bantuan temak dan alat pengolahan pakan dan pupuk. Dengan nilai investasi sebesar Rp 400 Triliuan akan menambah populasi temak sapi sebanyak 8.000 ekor atau temak kambing sebanyak 4.000 ekor. Dengan potensi limbah kotoran temak sebagai bahan pupuk organik per tahun mencapai 272.000 ton atau setara dengan Rp 408 Milyar. Dengan perbandingan sapi jantan dan betina 1 :9 diperkirakan terjadi penambahan populasi temak sapi di tahun ke dua akan meningkat 2 kali lipat. T b I 7 11 I t . Kak T ak S I . T Tah 2016 2019 INTEGRASI KAKAO -TERNAK DAN UNIT PENGOLAHAN PUPUK ORGANIK (UPPO) • < • DESA MANDIRI BENIH (DMB) Selama ini petani terbiasa dengan melakukan pengembangan benih • asalan. Pengadaan benih bantuan oleh pemerintah melalui pola kontraktual penuh selama ini terkendala dengan waktu penyediaan benih yang tidak cukup bagi kontraktor sehingga diakhir periode kontraktor tidak mampu menyediakan benih sesuai kontrak. Sehingga ketersediaan benih tidak dapat dipenuhi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan. Program Desa Mandiri Benih (DMB) dilaksanakan dengan melakukan pemurnian kebun-kebun entrees dan fasilitasi penangkar benih di desa sebagai upaya menyediakan benih yang berkualitas, mudah dan murah sekaligus sebagai lapangan kerja baru bagi pemuda desa dan wahana edukasi bagi masyarakat. Kegiatan dilaksanakan dengan pemberian bantuan sarana pembibitan {benih, paranet, polybag dan sarana lainnya) serta kegiatan pelatihan perbenihan. u awesi enzaara un - Areal Target kakao UPPO Rencana Pengadaan UPPO Kakao Sultra (Unit) Kabupaten Saat ini 2019 (Ha) (unit) 2016 2017 2018 2019 Total Kolut 79.564 48 12 12 12 12 9.600.000.000 Kolaka 29.754 20 5 5 5 5 4.000.000.000 Koltim 67.212 40 10 10 10 10 8.000.000.000 Kon awe 16.088 12 3 3 3 3 2.400.000.000 Konsel 20.316 12 3 3 3 3 2.400.000.000 Muna 8.697 4 1 1 1 1 800.000.000 Muna Barat 11.387 4 1 1 1 1 800.000.000 Bombana 10.245 a 2 2 2 2 1.600.000.000 Konut 4.269 4 1 1 1 1 800.000.000 But on 3.369 4 1 1 1 1 800.000.000 Butur 3.207 4 1 1 1 1 800.000.000 Sultra 254.108 160 40 40 40 40 32.000.000.000 Tabel 7.12. Pengembagan Usaha Pengolahan Pupuk Organik (UPPO)Kakao S 1 'T Tah 2016 2019 Konut 4.269 200 50 50 50 50 5.000.000.000 Buton 3.369 200 50 50 50 50 5.000.000.000 Butur 3.207 200 50 50 50 50 5.000.000.000 Sultra 224.243 16.000 4.000 4.000 4.000 4.000 400.000.000.000 KEGIATAN PENGENDALIAN OPT Beberapa tahun terakhir tingkat serangan Organisme Pengganggu Tanaman (hama dan penyakit) pada tanaman kakao sangat tinggi. Kondisi ini menyebabkan menurunnya tingkat produktivitas dan mutu kakao secara drastis, yang menyebabkan kelesuan aktivitas pengelolaan kebun kakao oleh petani. Kegiatan Pengendalian OPT dilaksanakan dengan melakukan kegiatan Sekolah Lapang (SL) Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu dengan melakukan demplot pengendalian OPT yang disertai dengan penyediaan sarana produksi (Pupuk, Pestisida, Gunting Pangkas, Gergaji Pangkas dan Gunting Galah). Usulan kegiatan pengendalian OPT ini sampai dengan tahun 2019 ditargetkan seluas 20.000 Ha dengan nilai investasi Rp 200.000.000.000.-Bila dibandingkan dengan kondisi saat ini dengan luas areal 254.108 Ha dengan Areal Target Rencana Desa Mandiri Benih Kakao Sultra kakao DMB Kabupaten Saat ini 2019 (Unit) (Ha) (Desa) 2016 2017 2018 2019 Total Kolut 79.564 64 16 16 16 16 3.200.000.000 Kol aka 29.754 24 6 6 6 6 1.200.000.000 Koltim 67.212 52 13 13 13 13 2.600.000.000 Konawe 16.088 12 3 3 3 3 600.000.000 Konsel 20.316 16 4 4 4 4 800.000.000 Muna 8.697 6 2 2 2 2 400.000.000 Muna Barat 11.387 4 1 1 1 1 200.000.000 Bombana 10.245 8 2 2 2 2 400.000.000 Konut 4.269 4 1 1 1 1 200.000.000 Buton 3.369 4 1 1 1 1 200.000.000 Butur 3.207 4 1 1 1 1 200.000.000 Sultra 254.108 200 50 50 50 so 10.000.000.000 Tabel 7.13. Pengembangan Desa Mandiri BenihTahun 2016-2019 Nilai investasi Rp 50 Juta setiap paket dipergunakan untuk pembelian biji sebanyak 60.000 untuk kebutuhan benih siap salur sebanyak 50.000 dan pembelian sarana pembibitan lainnya. Hasil yang diperoleh dari usaha pembibitan ini diperkirakan mencapai Rp 350 Juta setiap paketnya atau setara dengan Rp 219.8 Milyar untuk 628 paket dengan total nilai investasi sebesar Rp 31. 4 Milyar. • • • PASCA PANBN DAR MUTO Biji kakao yang dihasilkan petani saat ini, sebagian besar masih bermutu rendah (asalan), karena masih terbatasnya sarana pasca panen dan pengolahan. Kegiatan pasca panen dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kualitas biji kakao melalui bantuan sarana pasca panen dan pengolahan (kotak • fermentasi, lantai jemur, para-para, mesin pengering, pengukur kadar air dan gudang). Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya menciptakan nilai tambah yang cliperolehpetani dalam melaksanakan kegiatan usahatani. Kegiatan pengelolaan pasca panen dan peningkatan mutu diusulkan sebanyak 400 paket dengan nilai investasi Rp 160.000.000.000.- Dengan upaya peningkatan mutu biji kakao melalui kegiatan fermentasi diharapkan terjadi peningkatan harga jual biji kakao. Dari Rp 38.000.-/Kg menjadi Rp 40.000.-/Kg (selisih Rp 2.000.-). Sejalan dengan upaya peningkatan produktivitas maka pada akhir program diharapkan total produksi kawasan Sulawesi Tenggara mengalami peningkatan. a . er enRen tan un 1 - 019 Areal Target Rencana Gerakan kakao Areal Kabupaten Saat lnl 2019 Pengendalian OPT Kakao Sultra (Ha) (Ha) (Ha) 2016 2017 2018 2019 Total Kolut 79.564 6.400 1.600 1.600 1.600 1.600 64.000.000.000 Kol aka 29.754 2.000 500 500 500 500 20.000.000.000 Koltim 67.212 5.600 1.400 1.400 1.400 1.400 56.000.000.000 Konawe 16.088 1.200 300 300 300 300 12.000.000.000 Konsel 20.316 1.600 400 400 400 400 16.000.000.000 Muna 8.697 600 150 150 150 150 6.000.000.000 Muna Barat 11.387 600 150 150 150 150 6.000.000.000 Bombana 10.245 800 200 200 200 200 8.000.000.000 Ko nut 4.269 400 100 100 100 100 4.000.000.000 Buton 3.369 400 100 100 100 100 4.000.000.000 Butur 3.207 400 100 100 100 100 4.000.000.000 Sultra 254.108 20.000 5.000 5.000 5.000 5.000 200.000.000.000 • dali OPTTah 20 6 2T bel 7 14 G akan B produktivitas tanaman yang kurang produktif akibatserangan OPT 300 kg/Ha hanya diperoleh produksi sebesar 30.060 Ton. • a e . . enzem angan n us 11 un - Areal Target kakao lndustri Rencana Pengembangan lndustri Hilir Kabupaten saat ini Hilir Kakao Sultra (unit) 2019 (Ha) (Unit) 2016 2017 2018 2019 Total Kolut 79.564 8 2 2 2 2 2.400.000.000 Kolaka 29.754 5 2 1 1 1 1.500.000.000 Koltim 67.212 9 2 3 2 2 2.700.000.000 Konawe 16.088 4 1 1 1 1 1.200.000.000 Konsel 20.316 4 1 1 1 1 1.200.000.000 Muna 8.697 2 1 - 1 - 600.000.000 Muna Baral 11.387 2 - 1 - 1 600.000.000 Bombana 10.245 4 1 1 1 1 1.200.000.000 Ko nut 4.269 2 - - 1 1 6200.000.000 I d tri HTrTah 2016 2019bTb I 7 16 B PENGEMBANGAN INDUSTRI BILIR Pengembangan agro industri hilir perdesaan dilaksanakan dengan cara menjalin kemitraan dengan Industri. Petani sebagai penyedia bahan baku berupa biji kakao yang sesuai standar SNI. Selanjutnya industri menghasilkan powder yang sebagian dijual kembali kepada petani untuk diolah oleh ibu-ibu rumah tangga menjadi berbagai produk coklat dengan tujuan pasar domestik, sekaligus mengatasi over produksi powder pada industri coklat. . . asea anen 1 u awesi enzaara un - Areal Target Rencana Sarana Pasca Panen Kakao Sultra kakao Kabupaten Saat inl 2019 ( Rp. 40 juta I unit desa ) (Ha) (unit) 2016 2017 2018 2019 Total Kolut 79.564 128 32 32 32 32 51.200.000.000 Kolaka 29.754 48 12 12 12 12 19.200.000.000 Koltim 67.212 108 27 27 27 27 43.200.000.000 Konawe 16.088 28 7 7 7 7 11.200.000.000 Konsel 20.316 32 8 8 8 8 12.800.000.000 Muna 8.697 12 3 3 3 3 4.800.000.000 Muna Barat 11.387 12 3 3 3 3 4.800.000.000 Bombana 10.245 16 4 4 4 4 6.400.000.000 Konut 4.269 8 2 2 2 2 3.200.000.000 Buton 3.369 4 1 1 1 1 1.600.000.000 Butur 3.207 4 1 1 1 1 1.600.000.000 $ultra 254.108 400 100 100 100 100 160.000.000.000 Tah 2016 2019'TD'S 1pTabel 7 15 Sarana P • • • MITIGASI Kegiatan mitigasi ditujukan untuk memulihkan kesuburan tanah (fisik, kimia dan biologi) kebun kakao serta untuk mengurangi dampak negatif cekaman lingkungan. Dari luas lahan kebun kakao dikawasan Sulawesi Tenggara saat ini 254.108 Ha. Usulan kegiatan mitigasi ini sampai dengan tahun 2019 ditargetkan seluas 24.800 Ha dengan nilai investasi Rp 124.000.000.000.-.Kondisi lahan saat ini dengan luas areal 254.108 Ha temyata sebagian lahan kebun kakao mengalami degradasi kesuburan akibat peru bahan lingkungan dengan capaian produktivitas tanaman kurang dari 1 ton/Ha. Melalui gerakan mitigasi diharapkan akan terjadi peningkatan produktivitas ± 2 ton per hektar dan diikuti dengan perbaikan mutu sesuai SNI. • MANAJEMEN PERKEBUNAN RAKYAT, PENINGKATAN SDM, PENGUATAN KELEMBAGAAN TANI DAN PEMBERDAYAAN UPP Manajemen atau tata kelola perkebunan kakao rakyat belum dilaksanakan secara terencana dan berkesinambungan. Kondisi kakao rakyat menghadapi berbagai persoalan (tingginya serangan hama dan penyakit, mutu asalan) yang berdampak pada rendahnya produktivitas dan kurangnya kepastian harga menyebabkan sebagian petani mengganti tanaman kakao • dengan tanaman lain. Untuk mengatasi persoalan ini, diperlukan Iangkah-langkah upaya peningkatan produksi, produktivitas dan efisiensi usaha melalui upaya peningkatan SOM petani dan petugas, penguatan kelembagaan petani serta peningkatan fasilitas Unit Pelayanan Pengembangan (UPP).·Keberadaan UPP di setiap wilayah sentra pengembangan berperan sebagai sentral layanan bagi masyarakat, wahana koordinasi antar berbagai pihak terkait dan menjadi kantor bersama pelayanan terpadu (Mantri Perkebunan, petugas UPP, Pengamat Hama, Penyuluh dan petugas kredit). Kegiatan yang direncanakan berupa pembinaan,pendampingan dan pelatihan petani, peningkatan kapasitas petugas dan penyediaan sarana prasarana UPP. Secara spasial rekomendasi beberapa rencana aksi pengembangan kawasan berbasis komoditi kakao Sulawesi Tenggara tahun 2016 - 2019 disajikan sebagaimana pada Gambar 7 .1 sampai Gambar 7 .12. But on 3.369 - - - - - - Butur 3.207 - - - - - - Sultra 254.108 40 10 10 10 10 12.000.000.000 DATA BASE BERBASIS ICT Database tetang perkakaoan merupakan salah satu komponen yang penting dalam sistem informasi untuk pengembangan kakao di wilayah Sultra sebagai pusat kawasan pengembangan kakao nasional, maupun , dalam rangka mendukung program perkakaoan nasional karena database merupakan basis dalam menyediakan informasi bagi para pemakai khususnya stakeholder yang terkait dengan kakao dan perekonomian daerah, nasional dan global . Databse terdiri dari data yang akan digunakan atau cliperuntukan terhadap banyak user, dari masing-masing user akan menggunakan data tersebut sesuai dengan tugas dan fungsinya serta kepentingannya. Database yang diharapkan adalah data berkaitan dengan perkakaon di Sultra (lahan, iklim, infrastruktur, SDM, ipteks, produksi kakao, kualitas basil dan diversivikasi produk , kelembagaan, produk olahan, pemasaran, publikasi dsb) dapat diakses dengan mudah dan cepat serta akurat untuk mendukung pengembangan agroindustri kakao di $ultra dan perkakaon nasional. Target pengembangan data base berbasis ICT sampai tahun 2019 adalah 457 paket dengan totak anggaran Rp 22.850.000.000,- a e . . 1 Lf.?.aSI re en gem anzan ao un 1 - 2019 Areal Target Rencana Mitlgasl Sultra kakao Mitigasi Ka bu paten Saat ini 2019 (Ha) (Ha) (Ha) 2016 2017 2018 2019 Total Kolut 79.564 4.600 1.000 1.100 1.400 1.100 23.000.000.000 Kolaka 29.754 4.600 1.000 1.100 1.400 1.100 23.000.000.000 Koltim 67.212 4.700 1.100 1.200 1.200 1.200 23.500.000.000 Konawe 16.088 2.500 500 600 800 600 12.500.000.000 Konsel 20.316 2.500 500 600 800 600 12.500.000.000 Muna 8.697 700 100 200 200 200 3.500.000.000 Muna Barat 11.387 1.400 200 400 400 400 7.000.000.000 Bombana 10.245 1.100 300 200 400 200 5.500.000.000 Konut 4.269 900 100 200 400 200 4.500.000.000 Buton 3.369 900 100 200 400 200 4.500.000.000 Butur 3.207 900 100 200 400 200 4.500.000.000 Sultra 254.108 24.800 5.000 6.000 7.800 6.000 124.000.000.000 Kak Tah 20 6bT b 1 7 17 Miti . A al P • • Areal Target Rencana Desa Teknopari< Sultra kakao TBK Kabupaten Saat ini 2019 (Paket) (Ha) (Paket) 2016 2017 2018 2019 Total Kolut 79.564 9 1 2 4 2 6.750.000 Kol aka 29.754 9 1 2 4 2 6.750.000 Tabel 7 .19. Pengembangan Teknopark Berbasis Kakao (TBK) Tahun 2016 - 2019 TECHNOPARK BERBASIS KAKAO Pengembangan teknopark berbasis kakao diharapkan dapat meningkatkan produktivitas tanamanan kakao, mutu basil kakao dan menumbuhkan wirausaha baru khususnya berasis kakoa sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani serta untuk kemajuan dan kemandirian desa. Kegiatan dalam pengembangan teknopark meliputi : penelitian dan aplikasi teknologi, pelatihan dan pendampingan, transfer teknologi serta pengembangan kelembagaan dan berusaha. Untuk pengembangan technopark berbasis kakao di Sultra akan dibentuk pelaksana kelompok kerja technopark yang terdiri dari Balai Diklat Perkebunan, Badan Litbang, Akademisi, Pelaku usaha dan masyarakat (LEM Sejahtera). Target technopark berbasis kakao sampai tahun 2019 adalah 99 paket dengan totak anggaran Rp 74.250.000.000,- a e engem an_gan ata aseTahun 2016 - 2019 Areal Target Rencana Pengembangan Database Sultra kakao Database Kabupaten Saat ini 2019 (Paket) (Ha) (Paket) 2016 2017 2018 2019 Total Kolut 79.564 62 14 16 16 16 3.100.000.000 Kolaka 29.754 48 10 12 14 12 2.400.000.000 Koltim 67.212 73 17 19 18 19 3.650.000.000 Konawe 16.088 54 12 14 14 14 2. 700.000.000 Konsel 20.316 78 18 20 20 20 3.900.000.000 Muna 8.697 30 6 a 8 8 1.500.000.000 Muna Barat 11.387 29 6 8 7 8 1.450.000.000 Bombana 10.245 39 9 10 10 10 1.950.000.000 Konut 4.269 25 1 2 2 20 350.000.000 Buton 3.369 14 2 4 4 4 700.000.000 Butur 3.207 23 5 6 6 6 1.150.000.000 Sultra 254.108 457 100 119 119 119 22.850.000.000 D bbT b I 7 18 P • • NURALAM {)t._ Ill. T t'oTvt ~pA Al) VrA tvA, lYITf Koltim 67.212 9 1 2 4 2 6.750.000 Konawe 16.088 9 1 2 4 2 6.750.000 Konsel 20.316 9 1 2 4 2 6.750.000 Muna 8.697 9 1 2 4 2 6.750.000 Muna Barat 11.387 9 1 2 4 2 6.750.000 Bombana 10.245 9 1 2 4 2 6.750.000 -~onut -4:269 9 1 2 4 2 6.750:000 But on 3.369 9 1 2 4 2 6.750.000 Butur 3.207 9 1 2 4 2 6.750.000 Sultra 254.108 99 11 22 44 r,,22 7 4.250.000.000 GUBERNURSI ~ ~ESI TENGGARA/ I \ l\i .. ,u,'V Gambar 7.1. Peta Rencana Perluasan Kakao Sulawesi Tenggara - 1 ~ • ._._...__.... ..... ,»OIIO-...., ... J ._..,...., • .,.,.._....._.PIIM ..... lC....lll'TM ...... •Dt.~ ~~""'--....-.l~.,.,, • ,,...~ ... .,.....,Ol) Nlf'f'UIINMlltufflAIIU'II 4'l_W~~CM UC,,.Otu.'QO ...... t;IA.AWQI .............. ~'9Jt) .·- ·'·- .-··f·- ltillo.Ml~,...;)l!!l"~U<IM 11l.-.-,......IMll'JQS...a.~ - . .... _ .. ... IJOIIIIIMA ~::.. , ..... ·-lff,.-. ·- __ . .., ~ --· .- - e+ """".,..-: tltl4- •1..na. ur,.. ''"" ••_.. _ .. - -- --- -- - • uauN'TU -·- -Ko"""""~" .... .,._, - --Al_..l ... .... ........... ,-... ..-..::........ .-- • -·- ........... • l:a.NM~'MU -• -- -- -·-.... K«a.'IWW\ .r: - ;,,....·,,,•;..,,=--"'~~'<=o~o='~~,,:.. ..... ---·- "..,,....'fAMMa_,.,.~~~ OMU.I~ ..... ~~ ••cu,..-~ rc••JK• .uQM.. ~ ~t1.lolOl,,IAIU"'-"-IOl•Htt . . a-_ . .- ·-=-.;:: ~ .-.~:·~-~=· "~.- ... ~ ,t~-i:_ ...t=, • - ...~- • • ..,,.. #9'1~- ,c~~-= . . .."""'--- :- .- - ..... - .~ ••• j,.. ··~-UT~ ··~ ... ••• -~;•• •61• .- ... .. -· . ~ ~ .......i-,: .... _ • ,.....,.,-...1:,..,... •""- .- .·- r-: PERATURAN GUBERNUR SULAWESI TENGGARA NOMOR TANGGAL IILAMPI RAN NWtV4JW:IN JU.ffl.1 IUM UWAW HNGIMMHCA.W J/t,NlliJ!IAQOfW.NMMll'DJ""'1CMA.(•.a...-.uJ 81.1o111ER. I ,-..R..,.a...lndtmlliaS.S16000tTthun1Nt 'i F'4Q~~W.,W,Pyw$iih Jcati.MTV ...... •IO...,.
4.Drinu ~lrab...w,,.dJl,iMe.lllalllM9Pww tlkih 'WI,. 2011 ,._. ......,n-,,.201, ,,_ _ • l.datl P..-dllllu!IO !k!r!,1111 Pw\}e"~ ! ··- --......., ..... ........ ..,,._ ~aetm.eJ'I - --KoW..lfflUf' --lulof\Tfr>OlJI - ......... --- -- .._ l(A8',dlA1£N -·- - ...... """' • lbj,O. Pl'OWlll9 -- .............. ·-- -• lb.AcllaKtca,.., ·--.... - _....,_ ..... KMERIHTANO.IUlt IMICN'WOI......... ffHNAM OINAI ... ICQII.WAH~NOlnlUlTUU '"' IA lttMWll,A 1,.:n111mtK1HMt.AO 8WWtSil ~ TAHI.A U1'401• Gambar 7.2. Peta Rencana lntesifikasi Kakao Sulawesi Tenggara ICIC.U"!U.t.fd • ,• ....... ~ ~lAWESISELATAH °"\ Gambar 7.3. Peta Rencana Rehabilitasi Kakao Sulawesi Tenggara ftfrll,......lt~f,.._l'U.Jri•.ti...,.,...H.Wi.,__IIGt.ll IIWC.-o IIMlOIIM e1 JUIA ..... Tlll$MU. f)l~ai.1' .. l(IC MTJATII • - 1 Pr.9R,lpl ..... llldrMMI Sbl1 t'IOOOO"flWt;,n 11H 1.Pw!,,i~---~l"Wilpnl"IM.~ > CM SMW ,._., • .,......,. , OiMIPw~Oln1'tOl1llill,n"°"'Gf.l:!ITflful:.-016 t .._...... XIII .. ... ....... ..... -- - --J(.dt\41T"ll'lll.r KABUPAflN ........... ......... --· -- °"""'lk!IJR4elf~ill\ ...... ._ ........ .......... E .. L£0ENOA • b4**P'mwl~ ·--. --........... ....~ Go•·~"""*' ..... ,- r...- .....-·-r.-1,_.. ·•· PtU MIMA'<MREH.\DIIJftilI.AlW> Htl4~ ltNGCAAI 1'*111 tct1"40HI NMlfllNTM MIMH ~ 1UU.WUt ffMIGAA& ~~NAN MN IIIOSfflCUlf\llU PRO'(,;SUI.AWUI Sl:LATAN ~- 1il1 O'li. E.. Gambar 7.4. Peta Rencana Peremajaan Kakao Sulawesi Tenggara __,,_ " - I P.. ~Ow'li~SUN l.5e0001WIVI1ffl ?Pt9.......,..~~PJt:N!..-. J.t•• 6RN R.tllOIWlllto ... 4.Dtrw "*'-lklnM #'t HQl'IIIMb.19 P!c't $wWtt lWlll'l 2C1S :;........... ,,... ... 201!> •.. KIC MtUA At • ..... "-!r"·--- .. E .. -Kn .. _... .._. - ........ -... -I/Ion, - -- ..._ ............ ....,, ~Tifnl,f ._....,.., Sant:mu,a ·- .... 81*-tTr1G:lf'I ..... ....... 1!11.i"-'?!'0¥itlli ...,__ ----llellll,qiNI --- --- & .. -·- - -YIGI...... ·----('Ttl) - N:'IAMN(A~ff"~~ M.U.UI T~ TMltM:ttft.2t1ll .... QWTMt ......... ~·'UI....Ulfl.S4.,.... ........ WNA&" PlMUIU...,.,. DAN tcHl:fflWLl'UU .. ' \ ~LAWflllSEJ.ATAN ~~ ·- ·' Gambar 7.5. Peta Rencana Penautuhan Kakao Sulawesi Tenaaara ~·"""~l'\NIKA.,....,..,.. ................... U.U.0 ~-~CN ""'-'"""51 ffr'IGGlollA('M:lf.fflt.•l t. ........ ....... -s.- - --...... T- - ....... _ ...... -- __ ...., _._., ... .....KIC.M1UA,,.. • -- -...,_.,.. Md•la,.., -e.-,s.-, ............. -........... ~Pto·M· -- --· -- --- --....... SUtlliffi: 1.P ,-.,. ti....., ln*-M mo. t.ao.cool•ltl.rl 1Nt :IP ~Keb.,p.._.Wi~Pntrrii.a..llla 3.Clw•aRTM""°""IOf!lll'M 4 Olnts~c.n~Ptoir.SuAr9T.,._101$ 6.rMiM~• nm 21111 KJA IV.CM.AKNGl.m.tuNllAkAO McUWT.&1 •~ 1Affl.N zo1-.11:o,, ,_UUHf'AltMl!AMt ..,...ti SULAWUt1..eoAM OIMI ,.,._....,NAN MN MOlffllWI.TUM P!IOV. SUlAWEII TEHGAH PIIQY, ~UlAWHI ~ELATAN \ ' . .... " Gambar 7.6. Peta Rencana Penaadaan Naunaan/PelindunaKakao ~A.. NAJlalU,llfUWAIAII~ ~IIMJIHN.. Ol 81.11.A'oll!HITl!llou.A4 f>h• Hl'I'} Kt¢. .... 1UA1U • SUMAER 1 ~R\lllillln~S..to.oooon,,.,,1911 2~.~t'illl~~ ........ 5'*· I <*• SRTM "-*"' ICI IIWllr" f o.r--P9f~cliMHtltuknP!Ot.lUIINl1W'l..._,20'4 ....... .,..._..~20,, ~ . ... IW,t )(erw,ri -v-... _ ~-s.&IMM .._""" -............. ........ _.....,, """" k--.n,,,..,, -- --..,,. .. _,....,. ...... ...... 11>.1'.<MPttMtili 11>..NUl<.lb..CIII•~ ....... __.. .,... ,.~ OMIIM~'K.OII a.i.te<.can.iM ..... ·~- IA IH-M"Niilll ft·'-~U\il ,.._V.~llllt'R.NG Mt.Mt •t.AWUI f~ti&M INM :io1s-a1• NM:UhNTt.N e.uaut NOYl•a IUU, ... ,...MAIIA OtNAS l'IRQ:.UNIM DiUI HO•fllW&.1'"-.. PROV.SULAWESITENOAH \ ' .'"\ ~-~ - _./ -i~. \ iJ'ROMULAWESISELA:?:AN ... j •""'A.$.···-,# KOMAWI:UTlt~ f"'""".. I ··, l ~,.....·,,, ~,~ .... w. e ' ' ...._. ... .._ -·--- --- ---- ... ;.. _......... -.. --,.,. - - ·~ Gambar 7.8. Peta Rencana Penaembanaan Usaha UPPO .- ·:- " __.. - ~ ·----~--·---·--·4·-- ..... .._..!1.::..~;9:::...-; __ -·~- ~· ... ...- ·(i) ... __ .._ ~-""'·-··---- ------- ---- -9 I I- . ' ...... ---- --~·~...ei.c...-==:: 3--' ...~~-~.--~~ .........~~----~~----~~--""l!----oiiioi.................,~ .. ) ....,,,... 1• ....t,VkU' :.1'1Gi:MW•!a.9ta1~ .. ,u ... Ui Peta Or1entaal ~... -e ..--~--........ Ol'l0~0u•-Q11t.,...,.,i lll,-"' ~... 1'4t ..•J.J,~1o""1,1.. ~ .... 1,, DINASPEIIKEBUNAN DAIIHORTIK1J\.TURA PRO\INSI SULA'MSITiaNGOARA I f PEIIEIIINTAH PRO'v1NSI SULAWESI TENCCAAA ·- Kt!TPANOAN I Peta Orlentasl H \\+E s ·-='•'ic:ili'----="==::::52.·---·~ 1'£1JlKAW- PEIIK£-.-N KAKA0 RAKYAT DI-TENKOI.AKAUTMIA DINAS PERKEBUNANDANHORTIKUL1URA PROVINS I SULAWESI TBIGGARA PEMERINTAHPROV1NSISULAWESITENOGARA ... r ·..-.•-•• 'T'S.. r .--'"""' ,' '· .... '•"'-.. -,-:- . - ,:, . /'" _/·:,.,..-7:_. .. ( ·.: \~ ( '--~ / ,......... . ~II•'-'-=--~•" 9'to,4'. ....... Kl!TEIUNGAN ! ,,_ -- ..... ~ S,.,,,,rt C1I "-'!..U"';1• 1111 "-"' 411be Rt,,.)et OINAS ~ERl<EIIUNNIDAN HORT1KULTIIAA f'R0"1NSI SUI.Al\t:SI TENOQARA 1'£ME!IIHTAHl'RCMNSISULAWESITENCOAAA ·~=4--1----r--, "' ...,L_j___ -t---,-tr~ ·'~ DINAS ,ERKEBUNAN DAN HORTl(ll.J\I RA 1'1101,lNSI SULA\\ES1 TUKIQAAA PEMEIIINTAH PROl,lNSI SULAWESITENOQARA OINAS l'ERKEBUNAH DAN KOIITIICUl.TURA PR0\1NSI SULAMSITENCCARA PEMERIHT Alf PR O\'INSI SULAY,£51 TEHGGARA ' .. )'1:C'S S..'t!>UOl'.11 t --.tt Jlllt' n,. 1 :, o.::i -~·' 11~~ .. GHfJU•l l--& : !:l!l•~6t"-t:>,.."•'t•s~•"..,.'"'"'":J,t Kffl!MNOAN ! ......... .... ~ $1.r,tl Peta Orlentasl ,.,......... -""..... 9·'a~ U-"0-l'IC.,.TV •a_1w_ ....,-v_t1:,,..111 ....=·~·-=,.,-----======~,.......~... FETAICA!IW--(-ICAIUIOAIU(YAT Dl~ICQ.AIIA-UR DIIIAS PERK£BUNM DANHOl!Til(ULTURA PROVINS, SUU.M:SI TENQQARA l'EMERINTAH l'ROVINSI SULAWESI TENGGARA fa,,•--.o• ..,. r.. ------- , ,·•wa+---4-------+-------,f------+- •<o'l,,4-----1--------1---- n:n ----l'-------1---- ' ' \ "''"' --... kaTaUJIOAH I . ·-., ~ SU,p Peta Orientasi P£V. KAW- l'llftllEIIUHAH KAJ<AO RAKYIU DI ~TENl<OI.AKA UTNIA OINAS PERKEBUNANDAN HORTIICULTURA PROVINSISULAWESITEHGGARA PEIERINTAHPROVINSISULAWESITENGOARA -9z1- .. , - - - '~- - \~r r HVNl~~ r /.. .: .. :., ·-·~ ,. ~,.<, <, -1-'.--- ";:r--./ -(,IYA .. t-~.:~~.~~t---f~~~ . [y~:· ... '•, _J_ [) Vll'o'Ol>N3.I ISiWYlnS ISNV.Ollcl wtu,nllWIOH NYO N't'Nn&3lllB• SYHIO """1DII N31_-llCJ .lYAXVtf Ot'M'Y)t fffNrlDMtSd PNf/N#N)I Vl3d -~c-----=~=====------==-,~,=-- uc ......-.:!!.1'1-.,..,-,..,·,,., ~-. 11o....: 11\J....,':I<~ ...Oio,Lk~ IUe ... C W.M ,t1,.1Q;;.,............. iu-.•o.,. : NYDN'flliUilll Y... N-.•'11,HWf •• ,,.-,·,•nq ................... 1~:\ht..i..Cl'f.._lU,Ji,,,,."o•a.•liC .. UD e 0-lcl•e•tM-Clf• .. h •ntl,:-:.1: \ H91 11,j~ I t:1'C»4._ .. ,:,oot. ......... . / I' ---- SU\.Al'\l;SITEHOOARA PEIIERJHTNI PR0\1NSI _ ...... ......... ,::.t, ,lllfll'lalilJa\ :J.«iltt:ri...-dGt»JUll- t.:i : r:.n t-,o;ta,: •,11,"'~r a..,~,.._, ""a-i.• ::1t Kl!Tf.11.tNGAH: Peta Orientaal "Oft.U Tsr .. ,-.. ~"!::•l'I: ..... ;,. e-..~···~ ..T\'C.L.• ~.V .. -,l,..!Nl..,.,.Tll,..a- ... 111 ~1----------------1 T .) ~lt.AWNUtllf PUllDI..NAN KAKM> WUCYA7 ---.J-----~~ dKAl!UPA'IEN*""""E... OINAS PERKEBUNNf OAH HOlmKULTURA PRO\lNSI SU\.All.ESI Tl:NOGAIIA l'EMEIIINTNI PROVINS, 51/lAl'IESITENGOAAA --l--------1--- - ,., ( .......... ,,,._... ,,._,. ......... PEMERINTAH PROVINS! SULAWESI TEHGGARA t.opol , . ""'- •UEESI DINAS PERKEBUHAH IWI HORTIKULTURA .~ PROVINSI SULAWESI TfHGGARA PETA KEGUNMN LAHAN KABUPATEN KOU.KA TIIIUR • ----... ., wt•r ,.... .. u ,. ,. ,. ·~s,..,mooo r .......... T~We«Mlilf ~ON GM 0.00,,1.tOlft OM \ITM °""""~' WIIS... tlM_.UT•-~SUI Peta Orientasi ~ • Alang-i!ang------. ~ z... -- As pal '~ -·°""""" .. __ r Belukar ..... ~ Hutan Bakau Hutan lebat Hutan Sejeflis -~ KaTIIIIAHliAN : ~, - Kebun campuran ( .I.Ntd ........ kNK«MNttl\ ,..... .... kaolif, • .., "'<= ....... L..ahan TerbUka ( --Pemuklman t;'•~ ......... o.. 1 ~ft91a..1 :SOCCIS.P'!~C.-.ectJ Perkebunan :.O..,.IOIIQN~~fl,_,,.»,1 Sawah Semak-semak Tambak Tegalan ,,,..., ......... ......... ""-' ,,.._. ........ ,,,...... ""'"" ,,.._. PEIIERIHTAH PROVINS! SULAWESI TENGGARA ii OINAS PERKEBUNAN DAN HORTIKULTURA PROVINS I SULAWESI TEIIGGARA PffA K.EOUHAAN U.HAH KA& kOl.AlltA UTARA H W+E I • ... • .. 21 ,. ""'6111111 2§0..000 - 'kw!--=- IMl"mr10! ........... · G11oO...-.-iG110ur1,1 ....... - Vw'GS_t!IIM_UTM...ZO"fl-.618 Peta Orientasl ~/, __ _,. ' \. i' ,:--,~ ~ ('.i-:fjl~ 'J. t- ~,,I; Q ~'-':> -4 f-· ... .. lll!Tl!RANOAN I - a.u.~.ameun -- "'"" Bal.NJ<M>ilPtMl(!II '- - ,.__ 1.PMA81ii.ft 1 ~OOOB6d:l.11~tom\MIO.O..N(t'.II01 2o.t.Pq;,.m~11n~lln!Jfl.20tS OBYEK: AJang-alang ?~ Aspal Belukar -Hulan Bakau Hulan Lebat Hulan Sejenls -Kebun campuran .. Lahan Terbuka Pemuk1man Pertcebunan Sawah ~ Semak-semak Tambak Tegalan ,...._,.ro- 1 ~tuWtUlt, 3000 .. ;'!mt"*t-c..e.. ..... fllO! Z.O..f'fo~fl'l«d-l\l..... l\llllalllatw!l2011 KETUtANGAN : - -- -'-t ....... c:::J -- Peta Orlentasl .,_..,.,._ Gl'!I Oco;r•tOHGfllt.11'11 IM)1_1fM.U1l1t_.l111,tt1 911111250000 ·--=~"-=~·-----=====·-·.......~~ PETAJALAN KA8UAt.TENKOi.AKATIMUR DINAS PERl<EBUNAN DAN HORTIKULTURA PROVINS!SULAWl:SITENGGARA PEMERIH'!Mi PROVINS!SULAWESITENGGARA . ~. ..,.. ....:i.s.. 1 •te1"' 11.1a, :,oo,etu• '"*"••G"a,uAl•.O : 0121111p• ... .,,;I'...e .... ~ -,...~ :,o ~-,.. . ..... Ke'Tl!IIANOAN : Peta Ortentasl •-,,-•·•oL.-U.i'IDI' lJta~•--·G-,:.'¥ •-is., ........"1lf_~_,,s 9!0•tUI llf,.Q .. Ott°'li.,.t'(."' """='•'-=------i::::==::::;--....;;». OINA$ rEl'IKE8UNNj OAN HOIITl<III.TURA l'IIOVINSI $UlA\IESI TEHQQARA i::e:·u, t .,,.. ..L _j_ ~----+------1-------4-..-~ ..... ,..,,,..,.,.j._ _;___ PENERINTAK PROVIHSISULAWESITEHGGARA (j OIHAS PERKESUHANOAH HORTIKULTURA PROVINSI SULAWESI TENGGARA PETA JAi.AH KABUPATEN KOL.AKA UTARA N W+E • • ,.. 1 •• 21 "... ... , 2$0DDC> -- rnw:-~ -- Gflo oeoo,111(t;MI Giid UTM 011111111 Hafll.CtU wos_1oe,_UT'M...Z0'11...IIS Peta Orientasl < r-. ) "{.. ' ""' .x, ".;;) (..,....'.;j<"..I r I , ~r;,~~=j'\ ..... > \ ""' Q "i~' -i ..... I> ~ KETIIRANGAN, - -- ....- - ••••.... KICN.lpaon ":. s,,,g.. p.......... -- 1 Pa.RBt ..... 1 z,,oooa..,"~~-tll!O• 70.W~~~·..,.__zg,a, s....., Chi• t ~oA'fJl~t lSO(IOS.Ufflnli,....,110,..,.111NitBIGI 2 0..Ptotr ... P•lotl'*~ e.,,.._..,.._. '*"'201S --.. I~ ··•· a.n....•ec#lt.un SM" • • &111115 l(Cl,OIIC'ft KeTElANOANI Peta Orlentasl 0-=1•1-=-,----=u====i~----·~ PETA JAl.AH KAIIIJIP1'TEN KOLAIIA UTARA DINAS PERKEBUNAN OAN HORTl(Ull\JRA PROVINS! SULAWESI TBIOGARA PEMERINTAH PROVINS! SULAWESI TENGOAAA " --' 11111J111t11a..•, aooo.._.1...,_a....-1(,ltO) Z.0.-,....,.~~l)!wPiJOtl -- -'-.E - K•TIIIIANGAN, "• " ' Peta Orientasl ,_.. ..._ OflCI 0.00,.1 ii 'I O,,e UTU: v.oa.. ,••.u,.....,..,...~,• ...,.... ........ " --=--=-------=====------... .. PETA JALAN KABUPATEN KOLAKA DINA& PERKEBUNAN DAii HORTIK\llTURA PROVINSI SULAWl:SI TENGGARA PEMEIUNlAH PROYINSI SULAWESITENGGAAA ...,...~. 1 t>fU ._Wit, :t-:}:au- t'~""'••Gtttau~ ,-'! : tu•,_~._ .. ,..,..-,-itt•••).'11trur..,.~;n -- - .....~.#-~ Kl!Tl!UNGAN: ....... ,..., "t ... ~ Peta Or1entul IIJll:iite• -~•at!H1.l9";1$, .,... ,._ ;-. 0toyrn•o'!C1.'TV :i.11111 ..,.,_o,.,u_ ••~.ew_ ...,.,,_:, .. ,_111 ....~·-·o:::::,.... ..,=====~"""'......•• DINAS l'ERKEBUNAH OM HOl!Tl(ULTVAA l'RO\INSJ SUU.WESI TENQClAIIA ,.wt;Ct ...,,...-1----i----- ---+----- ...._ . , ,r.-, 8000-..:i .. ~~ tllOl J.0.l'""11ft~~fWIA'IX'll KITIIIANGAN I - - ~ .._ ( Peta Orlentasl ,.._....... ...,.. 0.. Gff1r;I I N~Ont VTII ¥10S.11114.UJ.....,.....,.'1. ........ -- ,. .. 1230.alQ PETAJALAH KADUMTEH KOHAWE8ELATAH DINA& PERIIEBUNAN DAN HORTIKULTURA PROV1H$I SULAWESI TENGGARA PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI TENG~RA a~ 0-~f}; OV" /l " I,, I '- . ! ( ,,,,,..,-- / ,,,._. - IN••K~•"' .:.: •• bfttk ... tti•• Knl!IUINOAN: Pet111 Olientasl DAN HORTIKUlTUIIA DINA$ PERi<E8U~SI TEN~ARAPRO\INSI S SlTEHGQARA1'1.MERINTNI l'ROVINSI SUl.Al'\E 11::·,eot t'J;G'S l!:"t.~"t: •.%'"'°"' --------=t---- -lr"i----- • Peta Orientasl ,_..,..... 1t........... ~.... ••GrN OlrWo.to,i•uaGrwlltM 0...--.w.1 woe_,hf_un.t._ze......,,. .... t:ZI0.000 ·...,~"--==----....i:::====·-·----·.. I ' PETA JALAN t<ABUPATEN KONAWE ~$ PEIU<EBUNAN DAN HORTIKULTURA PROVINSI SULAWESI TEHGGARA PEMERINTAH PROVINS! SULAWESI TENGGARA --, l ' I J t.001.t.t, VIIVOOH3.L 1$3111\Vll\S IS!U.\OIU W IU"111llWIOHNVO INHmmllBtl SYHIQ ~'c•------=~=====-------==-,c,=-- u,-t'o!C-1\.J'-,.,,-u:• •PO:a.: ..... ,:e:: t'\J.~8itl"-!"1,.U...a.lMel,t$ a.t11&*C -~n.~, ....... 14 .,. c¢.d: .»: ~t-~-;-~~~_,::;-.-~~..,...~~~-t-~~~~~· ','---\ : H\IONYlllUDI ••nu'1'l)!ltWj ·••-n.••ftef 11;: ~ .&!f••n.-•1 i.t ..*t•o_. iaUOI• IUO'l o, , .... otio••..i~ ·•• toe t! l ''" • n•• 1 • I 11111 O..:.u- s. r-11•, ....... ,~. I •tta ~ IU-. 1 ;)~~:1 IHt'l ll"C: ..... GHI.Dtt.l 10 : a,,,.,,,. ~,Nr•'"••~-n,_,...~ ta• ...<1 :..:·t """ ...... .... KrTEIIANOAH: Peta Orientul -a- ..... ,\ ..'Ip-.,, ,;;-.~·u·••\o, .... .,,_,.i,_.rtiit_::,-,_i11 --=···-=------c:====--.......·... OINAS PERKEB\JNAII DAN HORTIIIULTVRA PR0\1NSISVUMSI TENOOARA PEMERINTAH PR0\1NSI SVLAMSlTENOCARA - I I I I : I ---- ---- ----- ----- --c:J-·· --··- ~·"""'m.t~__ ... __..... _._ -------o---...__ ........___ -- - -·- ·-- ~;::;;....~. ---:::.-- ................. ·--.....__ ·-- I .. I I I I I (}RI \' ·-- ----- . ...._ __--·-- ---- ---- l<ETERAHGAN --g +· • --- - j C_ • ( ,.... - -· / .f I /' B.I \ IJ ~ -.. ..... ... PEIIERJNTAH PROVINS! SULAWESI TENGGARA Ii OIHAS PERKEBUNAH OAH HORTIKULTURA PROVINS! SULAWESI TENGGARA PETA TANAH KAIIUPATEN KOUIJ<A UTARA ,. w+e 5 • ... 1 " ,, lit ... Slia .. t-250000 -- r...--..~ -Gna Gioc;G,ogr.. Ga, OM U'Tl,I -- wGS_196&_Ul'M.,Z.._s,s Peta Orlentasl . ,J ' "",•, i:,. ' "" x, -~· (='"-·'.(;, :.h~{\ '..>' ,f~ Q~0? -4 .. c- " KETl!RANOAN I - e,.u..w~., ..... a.-~~ ~ -· -......... ,. ......... ....._......,...._... ...) :a.. ...... ,..,,..._a.......,........._..___....... IIMCll.l'l • \ :----...,. '(_,,/ -·- 1 __ K \ \ \ ( (__ - \ J '· 'l. 't (_ flAI '\OVMNl,IIII. --. SATUAN PETA TANAH 15 2 16 3 17 4 18 5 19 6 20 7 21 8 22 9 23 10 24 11 25 12 26 13 27 14 28 • Peta Orientasl w+ s 1..::l~Soc:,,1----M====~lt----a~ PETATAHAH KA-,.TEN Kot.AICAUTARA OINAS PERKEBUNAN OAH HORTll<ULllJRA PROVIHSISUlAWESITBIGGARA PEMERIHTAH PROVINS! SULAWESI TEHOGARA SATUAN PETA TANAH 15 2 3 " 5 7 8 9 __J 10 11 13 27 14 28 i. .. ......... t:1t"1~ UnD'ti! .,,.,.... ........ ' r: PEMERJN'Wi PROVINS! SULAWESI TEHGGARA ~· •OINAS PEIU<EBUNAH DAN HORTIKUlTURA PROY1NSl SULAWl:SI TI:NGGARA PETA TANAH DI KABUPATEN KOLAl<A :!< - .,::". N - "°"""' +( ' .. ., .. ·~ S..•• 11'0.000 --;~ ___ / ....... T--........ : QN' 0.00,.1 Ol t O!III U'fM --~ ~ wos_,.,_utM..,llonoo.!-~s ' - ,. MB. i((JUtJ(A TllAM Peta Orientasl -\ , ~ I Satuan Peta Tanah l \. :.. 14 .:..-J·15 16 1 ~ 17 -. 18 ~------~... ... ffl)tJ,O •19 KITllltAHGAH I - -·-20 ..... __, "= ....... 21 22 _.,.. . _...,,_, ·---~ ....,J_ .._____ ..___a...-_ ..._,__,., 10 23 11 24 12 25 KA&. &O~BANA 13 26 "''"' ........ ,,,....,. ...._. ,,._. ........ P£MERIHTAH PROIIINSI S\JLAWESI TEHOOAAA OCNAS PERKEBUNAN OAN HOlfflKUI.TVRA 1'110\IINSI SUV.WES! TENO<IAAA • -- ............... ._..__~•G• • .................. , ~ ,._, .....,. ._.....,.......,.... 19-., _i.,. ·---· f \... =- ::::...-= ) {_L...11---"e----·---------i ,../ ;{ I'\/ (' ~l •. -· - -, 111'1 Peta Orlentasl ,..,..,. ... IUl'W GNOeoofl,tOll!'ll<lhtllrll' was_1 ... ,.nM....i,,,,._s,.s N W+( • •• .. " ".. a...1-,-,0.000 PETA TAHAH l<ABUAATEH ICOHAWE IELATAH DINAS PERKEBUNAN DAN HORTIKUll\JRA PROVINSI SULAWESI TEHGGAAA PEMERINTAH PROVINS! SULAWESI TENGGARA 40 IATUAN ,.ETA TAHAH ~I " " ., ,, ., .. ,. .. .. .. " .. r • l(AI, ... JAtl. ··~ ~ I " ~10 .. ~ n lt ""3 ,, t__\(/ .. 1). » 61 .. .., ·\ t> ,. .. Kalt .. !II ,H• c:,,. " "'.. .. ' ..,. .. II .. "' .. tO """ .- • • -·------, ol-0' ......,~...._ ..: ......... ~ .._........,_ ,~...,._., ... IOI - - - .... ,MCW"".t•f ...... tau,-.-.., •• ....,.. ,.... '!; ..... KIITl!MNOAN : Peta Olfentul -.0 tUI T'.!11~-,f u...... , 111... 0.. o .. ~.,cro.-. .. na •'li_, •w-~'Tv _o--._11 i ·-=·~·-=>·-----====-----~~ D!NAS PERKEBUNNIOAN HORTIKUI.TUM l'ltO'IINSI SULAIWSI TENOCAM PEl!iRIHT~ PRO~NSISULAWESI TENOOAAA { 4 1 --- ---J ... -:," / '( ' I I ' ..... . .. ~J . -~-- ----------- \ • .. ---- -- --·o• ,,...._, h-------..01.... ~·-·- .. ,.,.........._"" .... ---t;#l'V,l"'"j - -"e - K•TllllANGAH , ~. I Peta Orlentasl ,.,.,,... ~ .......... llt!ffl°"4 GNOtotr'ildll,GfWUTtr, o,.....,.p.,a-. W0.9,.ltM._ut~ .. 5L!I •••n1000 ...~··""""=------======~----..."..·- PETA TANAH DI KABUPATEN KONAWE OINA5 PERl<EBUNANOAli HORTIKUll\lRA ~ SULAWESI TEtlGGARA PEMERJMlAHPROVINS! SULAWESIlfNGGARA ,,,..... "'"""" -- _,... ..,...... SATUAN PETA TANAH 0 31 78 33 79 30 eo it ~ 37 a,.. /. :I< 43 82- ........ 6 ~ ea \ 4S &C 10 50 85 11 53 86 . 13 ~ 87 I .;' IV "' • 811 ; ' 20 eo 00 ' 21 61 . 22 e;z. ? ' 23 83 24 tl5 ~ ....... ~/ ~ ee 26 611 27 71 '- 28 rz 34 2ll 73 .. .: 30 77 ' ,.., ! • • NURALA~ ESt TENGGAAA -=- ,,~ ............. -.- .... 1- .._...~.....---..--------"°"' --- am,~ ,, •··•·· 1.tt1,~ ... . - K2T191ANOAN : Peta Orlentul ~'""' 'fq--~•l. .. ••u_.. ,,. .. .,, 4'1110tep"'ii:ro111_.~ :.&-~ ~ w·u_,,_.._~_:»"•.•11 r. '-='•'c';.......,c:::;::::::;:,;........;"... PETA TANAH 01 KABll'liJEN KOHAWE DIIIAS PERJ<EBUl!Nj DAii HORTIKUlTURA PR0\1NSI SULAIIESI lEIIOQAAA PEMERINTAH PRO',IIIISISULAl'IESllEKOCARA ~ ..... -1-+-=~-"'----'l----t'----~-i...:..._;..c .: C]a, C)a5 LJ116 C]a1 86 c:Js o~ c:J1oc:J CJ11DJ LJ13LJ b1s CJ s ..,., • •