Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 30 Juni 2016 MENTERI KESEHATAN ttd NILA FARID MOELOEK Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 Juli 2016 DIREKTUR JENDERAL PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA ttd WIDODO EKATJAHJANA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2016 NOMOR 1067 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 29 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN MATA DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN PEDOMAN PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN MATA DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN Berdasarkan data global mengenai gangguan penglihatan yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO), saat ini diperkirakan sebanyak 180 juta orang di dunia yang mengalami gangguan penglihatan, 40-45 juta diantaranya buta, 9 diantara 10 dari mereka yang mengalami gangguan penglihatan dan kebutaan tinggal di negara berkembang. Dari jumlah tersebut diperoleh fakta bahwa 80% penyebab kebutaan dan gangguan penglihatan dapat dicegah atau ditangani, dan 50% dari kebutaan disebabkan oleh katarak. Di Indonesia, sesuai hasil Riskesdas tahun 2013 prevalensi severe low vision, kebutaan serta proporsi ketersediaan koreksi refraksi pada penduduk umur ≥ 6 tahun secara nasional tanpa atau dengan koreksi optimal berturut turut adalah 0,9 %, 0,4% dan 4,6 % dan prevalensi katarak adalah 1,8%. Berdasarkan data tersebut, dimungkinkan prevalensi angka kebutaan juga akan semakin meningkat dengan semakin bertambahnya usia harapan hidup rakyat Indonesia. Berdasarkan laporan Biro Pusat Statistik, jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia pada tahun 2025 akan mengalami peningkatan sebesar 414% dibandingkan keadaan pada tahun 1990. Untuk itu, perlu ditingkatkan upaya penanggulangan kebutaan secara aktif dan berkesinambungan karena kebutaan bukan hanya mengganggu produktivitas dan mobilitas penderitanya, tetapi juga menimbulkan dampak sosial ekonomi bagi lingkungan, keluarga, masyarakat, dan negara, terlebih dalam menghadapi era pasar bebas. Selain masalah kebutaan, gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi juga menjadi masalah serius. Apabila keadaan ini tidak ditangani secara sungguh-sungguh, akan terus berdampak negatif pada perkembangan kecerdasan anak dan proses pembelajaran yang selanjutnya akan berdampak mempengaruhi mutu, kreatifitas dan produktifitas individu. Pada akhirnya nanti, akan mengganggu laju pembangunan ekonomi nasional. Upaya untuk mengurangi dampak buruk gangguan penglihatan di Indonesia merupakan tanggung jawab semua pihak yang terkait dengan pelayanan kesehatan mata. Disamping itu, perkembangan di era globalisasi dan informasi menyebabkan meningkatnya tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan mata yang bertanggung jawab, bermutu dan merata. Seiring dengan adanya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), maka pelayanan kesehatan mata juga merupakan bagian tidak terpisahkan dalam pelayanan kesehatan di era JKN. Optimalisasi pelayanan kesehatan mata baik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat primer, sekunder, dan tersier mutlak diperlukan. Optimalisasi pelayanan kesehatan mata menjadi maksimal bila fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan mata mengacu pada pedoman penyelenggaraan pelayanan kesehatan mata dalam hal pemenuhan sumber daya manusia, sarana, prasana, dan peralatan kesehatan, disamping itu juga dilakukan penguatan pada sistem rujukan berjenjang sehingga pelayanan kesehatan bisa lebih terarah dan tidak lagi terjadi penumpukan pasien di salah satu fasilitas pelayanan kesehatan, dan pada akhirnya tercipta kendali mutu dan kendali biaya sesuai dengan falsafah JKN. Berdasarkan hal tersebut perlu disusun pedoman dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan mata di fasilitas pelayanan kesehatan agar terwujud pelayanan kesehatan mata yang bermutu dan dapat menjadi acuan bagi semua pihak yang terlibat dalam pelayanan kesehatan mata serta dapat melindungi masyarakat. B. SASARAN Pedoman penyelenggaraan pelayanan kesehatan mata di fasilitas pelayanan kesehatan disusun untuk digunakan oleh pengambil kebijakan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan fasilitas pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan untuk di terapkan dan dipedomani oleh seluruh tenaga kesehatan yang bekerja pada fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan mata.
1.Pelayanan Kesehatan Mata Primer Pelayanan kesehatan mata primer adalah pemeriksaan dan/atau tindakan medik dasar di bidang kesehatan mata yang dilakukan oleh dokter dan dapat berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya. Pelayanan kesehatan mata primer meliputi: a) Melakukan anamnesis. b) Menjelaskan proses pemeriksaan yang akan dijalani oleh pasien. c) Mengukur dan menentukan tajam penglihatan (visus) dengan atau tanpa koreksi terbaik tergantung pada kondisi pasien. d) Melakukan pemeriksaan segmen depan mata dengan lup dan lampu senter. e) Melakukan pemeriksaan lapang pandang dengan metode konfrontasi atau kampus sederhana. f) Mengukur tekanan bolamata dengan tonometer Schiotz. g) Memeriksa kejernihan media refraksi dan segmen belakang mata dengan oftalmoskop langsung (direct opthalmoscope). h) Memeriksa dan menentukan ada tidaknya kelainan penglihatan warna dengan Tes Ishihara. i) Melakukan perawatan pasca bedah katarak. j) Memeriksa dan menangani penyakit mata luar. k) Melakukan pertolongan pertama pada kedaruratan mata. l) Memberikan penyuluhan kesehatan mata. m) Penyaringan penyakit mata penyebab kebutaan dan gangguan penglihatan (skrining).
2.Pelayanan Kesehatan Mata Sekunder Pelayanan kesehatan mata sekunder adalah pemeriksaan dan/atau tindakan medik spesialistik di bidang kesehatan mata yang dilakukan oleh dokter spesialis mata dan dapat berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya. Pelayanan kesehatan mata sekunder meliputi: a) Melakukan penanganan lanjut terhadap pasien rujukan dari sarana kesehatan primer. b) Melakukan pemeriksaan dan tindakan medik mata spesialistik (sekunder) yang meliputi : 1) Pemeriksaan segmen depan mata menggunakan slit- lamp. 2) Pemeriksaan segmen belakang mata menggunakan oftalmoskop langsung (direct opthalmoscope) dan/atau oftalmoskop tidak langsung (indirect opthalmoscope). 3) Pemeriksaan khusus tonometri, gonioskopi, kampimetri. 4) Pemeriksaan penunjang diagnostik lainnya. 5) Tindakan bedah sedang dan besar. 6) Perawatan pra/pasca bedah. c) Merujuk pasien yang membutuhkan pemeriksaan dan tindakan medik mata subspesialistik (tersier). d) Memberikan penyuluhan kesehatan mata.
3.Pelayanan Kesehatan Mata Tersier Pelayanan kesehatan mata tersier adalah pemeriksaan dan/atau tindakan medik subspesialistik di bidang kesehatan mata yang dilakukan oleh dokter subspesialis di bidang mata dan dapat berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya. Pelayanan kesehatan mata tersier meliputi: a) Melakukan konfirmasi pemeriksaan mata primer dan sekunder pada pasien rujukan. b) Menindaklanjuti pasien rujukan dari sarana kesehatan sekunder dan kasus kedaruratan mata. c) Melakukan pemeriksaan penunjang diagnostik lanjut. d) Melakukan pemeriksaan dan tindakan medik mata subspesialistik. e) Perawatan pra dan pasca bedah subspesialistik. f) Memberikan penyuluhan kesehatan mata. B. BENTUK PELAYANAN
1.Pelayanan Kesehatan Mata Primer a) Kornea, Lensa dan Bedah Refraktif 1) Deteksi katarak, edukasi pasien, dan menjelaskan prognosis tindakan operasi katarak dengan implantasi lensa tanam. 2) Deteksi dini dan pengobatan dini komplikasi pasca operasi katarak: hipopion, hifema, dan peningkatan tekanan intra okular. 3) Memberi pengobatan pasca operasi katarak dan pemberian kacamata untuk pasien afakia dan pseudofakia. b) Glaukoma 1) Case finding, skrining, diagnosis, dan edukasi glaukoma. 2) Melakukan diagnosis dan rencana tatalaksana glaukoma serangan akut dengan medikamentosa. 3) Melakukan diagnosis dan penatalaksanaan glaukoma kronis dengan medikamentosa. c) Vitreoretina 1) Case finding, skrining, diagnosis, dan edukasi kelainan retina. 2) Skrining, diagnosis dan edukasi retinopati diabetik dan degenerasi makula senilis. d) Infeksi Imunologi 1) Case finding, skrining, diagnosis, dan edukasi infeksi imunologi. 2) Penanganan konjungtivitis dan infeksi kelopak mata. 3) Pertolongan pertama pada infeksi kornea, lakrimal, dan orbita. e) Pediatrik Oftalmologi dan Strabismus. 1) Case finding, skrining, diagnosis, dan edukasi katarak kongenital, retinoblastoma, kelainan mata pada bayi prematur, dan mata juling. 2) Pertolongan pertama konjungtivitis infeksi (oftalmia neonatorum). f) Neurooftalmologi Case finding, skrining, diagnosis, dan edukasi kelainan saraf mata berupa gangguan penglihatan secara tiba-tiba (neuritis optik dan toksik neuropati) serta penglihatan ganda. g) Trauma , Rekonstruksi , Okuloplasti dan Tumor 1) Case finding, skrining, diagnosis, dan edukasi tumor mata (benjolan atau massa di kelopak, bola mata menonjol) dan kelainan kelopak mata. 2) Pertolongan pertama pada trauma kelopak/orbita. 3) Pertolongan pertama pada trauma kimia mata. h) Refraksi 1) Case finding, skrining, diagnosis, dan edukasi kelainan refraksi. 2) Koreksi dengan kacamata pada kelainan refraksi ringan. 3) Dapat membedakan gangguan penglihatan karena kelainan refraksi atau Pertolongan pertama pada komplikasi lensa kontak (dengan melepaskan lensa kontak). 4) kelainan organik dengan pin hole. i) Oftalmologi Komunitas 1) Pencegahan Kebutaan ⁻ Menghitung besarnya prevalensi dari suatu set data. ⁻ Menghitung jumlah orang buta dari suatu angka prevalensi. ⁻ Menghitung perkiraan jumlah orang buta. 2) Katarak ⁻ Menghitung perkiraan jumlah orang buta karena katarak. ⁻ Menghitung cakupan operasi katarak. ⁻ Membuat strategi penjaringan kasus katarak ⁻ Monitoring terhadap tajam penglihatan pasca bedah katarak. ⁻ Mengetahui komponen-komponen biaya operasi katarak. 3) Kelainan Refraksi ⁻ Menghitung perkiraan jumlah anak-anak dan orang dewasa dengan kelainan refraksi. ⁻ Membuat strategi skrining kelainan refraksi anak sekolah dan presbiop. ⁻ Membuat cakupan skrining refraksi dan presbiop. ⁻ Pelayanan penyediaan kacamata. 4) Retinopati Diabetik ⁻ Menghitung perkiraan jumlah orang dengan retinopati diabetik. ⁻ Konseling retinopati diabetik. ⁻ Skrining retinopati diabetik. 5) Glaukoma ⁻ Menghitung perkiraan jumlah orang dengan glaukoma. ⁻ Deteksi dini kasus glaukoma. 6) Trakhoma ⁻ Integrasi program kesehatan dasar untuk melaksanakan S (Surgery = tindakan bedah), A (Antibiotic), F (Facial = kebersihan wajah) dan E (Environment = perubahan lingkungan), SAFE strategy.
2.Pelayanan Kesehatan Mata Sekunder a) Kornea, Lensa dan Bedah Refraktif 1) Melakukan operasi katarak dengan teknik ECCE, SICS, dan Phaco. 2) Melakukan persiapan operasi katarak termasuk biometri dan keratometri. 3) Melakukan implantasi lensa tanam monofokal. 4) Melakukan kapsulotomi dengan tindakan YAG Laser. b) Glaukoma 1) Case finding, skrining, diagnosis, dan edukasi kasus glaukoma dengan menggunakan tonometri aplanasi, gonioskopi, perimetri dan OCT. 2) Melakukan tatalaksana glaukoma serangan akut dan kronis dengan medikamentosa. 3) Melakukan operasi iridektomi dengan bedah atau laser. 4) Melakukan operasi trabekulektomi dewasa pada glaukoma tanpa komplikasi. 5) Melakukan operasi ekstraksi katarak dan trabekulektomi pada glaukoma tanpa komplikasi. 6) Melakukan Trans Sclera Cyclo Photocoagulation/ Cyclo Cryo. c) Vitreoretina 1) Case finding, skrining, diagnosis, dan edukasi kasus retina dengan menggunakan oftalmoskop tidak langsung (indirect opthalmoscope), foto fundus, flouresence angiografi, OCT dan USG. 2) Melakukan tindakan fotokoagulasi laser PRP pada retinopati diabetik. 3) Melakukan tindakan fotokoagulasi laser untuk edema makula diabetik serta untuk gangguan retina lain. 4) Melakukan tindakan laser retinopexy pada retinal break. d) Infeksi Imunologi 1) Case finding, skrining, diagnosis dan edukasi kasus infeksi dan immunologi dengan menggunakan slit lamp, oftalmoskop tidak langsung (indirect opthalmoscope), foto fundus, USG, dan pemeriksaan laboratorium sediaan apus. 2) Melakukan work up kasus infeksi kelopak, konjungtiva, intraokuler, dan orbita (laboratorium, CT-Scan, konsultasi ke disiplin lain). 3) Melakukan bedah minor pada infeksi. 4) Melakukan pertolongan pertama dengan injeksi intra vitreal pada endoftalmitis. 5) Melakukan tindakan irigasi aspirasi hipopion dan injeksi intrakameral. 6) Penanganan keratitis, ulkus kornea, skleritis, uveitis, panoftalmitis, dan selulitis palpebra/orbita. 7) Melakukan flap konjungtiva, amnion graft, eviserasi, dan enukleasi. e) Pediatrik Oftalmologi dan Strabismus 1) Case finding, skrining, diagnosis, dan edukasi kelainan mata anak. 2) Case finding, skrining, diagnosis, dan edukasi retinoblastoma dengan oftalmoskop tidak langsung (indirect opthalmoscope), USG dan CT Scan. 3) Case finding, skrining, diagnosis, dan edukasi kasus ROP dengan oftalmoskop tidak langsung (indirect opthalmoscope). 4) Tatalaksana retinoblastoma secara komprehensif (multidisiplin). 5) Tatalaksana ROP dengan Laser Indirect Opthalmoscope (LIO) dan injeksi anti-vascular endothelial growth factor (anti-VEGF) intra vitreal secara komprehensif. 6) Tatalaksana katarak bayi dan anak dengan teknik ECCE, phaco, capsulektomi posterior, dan vitrektomi anterior. 7) Melakukan diagnosa dan terapi ambliopia dengan melibatkan low vision. 8) Tatalaksana strabismus. f) Neurooftalmologi 1) Case Finding. 2) Penanganan kebutaan mendadak. 3) Penanganan kebutaan kronik. 4) Penanganan gangguan gerak bola mata. 5) pemeriksaan warna dengan ishihara. 6) Pemeriksaan ERG dan VEP. 7) Pemeriksaan sensitivitas kontras. 8) Pemeriksaan Visual Field Manual dan automated. g) Trauma, Rekonstruksi , Okuloplasti, dan Tumor 1) Case finding, skrining, diagnosis, dan edukasi kelainan kelopak, lakrimal, dan orbita serta tumor pada kelopak, lakrimal, dan orbita. 2) Melakukan repair laserasi kelopak. 3) Melakukan penanganan dan tindakan operasi pada entropion, ektropion, epiblefaron, dan ptosis. 4) Pengangkatan bola mata dengan/tanpa implan. 5) Rekonstruksi fraktur simpel. 6) Injeksi botox pada esensial blefarospasme. 7) Rekonstruksi soket sederhana. 8) Repair simblefaron. 9) Melakukan blefaroplasti. 10) Injeksi steroid intralesi. 11) Operasi Tumor Kelopak jinak 12) Melakukan orbitotomi anterior pada tumor orbita anterior. 13) Melakukan biopsi tumor kelopak/ orbita anterior. 14) Melakukan eksternal DCR. h) Refraksi 1) Case finding, skrining, diagnosis, dan edukasi kelainan refraksi, anisometropia, ambliopia, dan low vision. 2) Koreksi dengan kacamata pada kelainan refraksi rujukan primer. 3) Koreksi kelainan refraksi dengan lensa kontak lunak spheris, toric. 4) Koreksi kelainan refraksi dengan lensa kontak RGP. 5) Mengobati komplikasi oleh karena pemakaian lensa kontak. i) Oftalmologi Komunitas 1) Pencegahan Kebutaan ⁻ Menghitung besarnya prevalensi dari suatu set data tingkat kabupaten/kota. ⁻ Menghitung jumlah orang buta dari suatu angka prevalensi tingkat kabupaten/kota. ⁻ Menghitung perkiraan jumlah orang buta tingkat kabupaten/kota. ⁻ Membuat rencana kegiatan untuk rencana satu tahun operasional untuk program pencegahan kebutaan pada kabupaten dengan jumlah penduduk satu juta orang. 2) Katarak ⁻ Menghitung perkiraan jumlah orang buta karena katarak tingkat kabupaten/kota. ⁻ Menghitung rata-rata jumlah operasi katarak (CSR). ⁻ Menghitung cakupan operasi katarak. ⁻ Menghitung dan mengomentari hasil tajam penglihatan pasca bedah katarak tingkat kabupaten/kota. ⁻ Membuat dan mengintegrasikan strategi yang cocok untuk mengatasi hambatan dalam memperoleh pelayanan operasi katarak pada program pencegahan kebutaan di tingkat kabupaten/kota. ⁻ Meningkatkan efisiensi unit bedah katarak pada program pencegahan kebutaan tingkat kabupaten/kota. ⁻ Monitoring terhadap outcome tajam penglihatan pasca bedah katarak tingkat kabupaten/kota. ⁻ Mengetahui komponen-komponen biaya operasi katarak. 3) Kelainan Refraksi ⁻ Menghitung perkiraan jumlah anak-anak dan orang dewasa dengan kelainan refraksi tingkat kabupaten/kota. ⁻ Mengevaluasi cakupan dan dampak terhadap skrining di sekolah tingkat kabupaten kota. ⁻ Mengevaluasi pelayanan dalam penyediaan kacamata koreksi. 4) Low Vision ⁻ Menghitung perkiraan jumlah anak-anak dan orang dewasa dengan low vision. ⁻ Penyediaan alat bantu low vision. 5) Kebutaan Pada Anak ⁻ Menghitung perkiraan jumlah anak yang buta karena penyebab yang berbeda. ⁻ Melakukan set-up sistem untuk screening dan pengobatan retinopati prematuritas. ⁻ Membuat strategi pencegahan primer, sekunder, dan tersier untuk mengontrol kebutaan pada anak karena kekeruhan/jaringan parut kornea, katarak, glaukoma, dan retinopati prematuritas. 6) Retinopati Diabetik ⁻ Menghitung perkiraan jumlah orang dengan retinopati diabetik tingkat kabupaten/kota. ⁻ Membuat rencana program pencegahan tingkat primer sekunder dan tersier di tingkat kabupaten/kota. ⁻ Konseling retinopati diabetik di layanan kesehatan mata tingkat sekunder. 7) Glaukoma ⁻ Menghitung perkiraan jumlah orang dengan glaukoma tingkat kabupaten/kota. ⁻ Deteksi kasus glaukoma di layanan kesehatan tingkat sekunder. ⁻ Membuat strategi pencegahan primer, sekunder, tersier untuk tingkat kabupaten/kota. 8) Trakhoma Membuat jejaring dan advokasi dengan lembaga-lembaga dan masyarakat tingkat kabupaten/kota untuk melaksanakan S (Surgery= tindakan bedah), A (Antibiotic), F (Facial = kebersihan wajah) dan E (Environment = perubahan lingkungan), SAFEstrategy.
3.Pelayanan Kesehatan Mata Tersier a) Kornea, Lensa dan Bedah Refraktif 1) Melakukan tindakan operasi katarak pada kasus-kasus sulit dan rujukan. 2) Melakukan implantasi lensa tanam torik dan multifokal. 3) Melakukan prosedur bedah kornea (lasik, transplantasi kornea, dan lain-lain). 4) Melakukan tindakan diagnostik kasus-kasus sulit (anterior OCT, topografi kornea, optikal biometri, OPD scan). 5) Transplantasi kornea dengan teknik penetrating, lamellar, dan DSAEK. 6) Melakukan implantasi lensa untuk bedah refraktif (phakic IOL dan kornea implan). 7) Melakukan Collagen Cross Linking. 8) Rehabilitasi penglihatan dengan keratoprostesis. b) Glaukoma 1) Melakukan diagnosis dan edukasi kasus glaukoma dengan menggunakan tonometri aplanasi, gonioskopi, perimetri, HRT, Anterior OCT, UBM, multifokal ERG, dan OCT. 2) Melakukan tatalaksana glaukoma serangan akut dengan laser iridotomi dan laser iridoplasti. 3) Melakukan penatalaksanaan glaukoma kronik dengan medikamentosa dan laser trabekuloplasti. 4) Melakukan operasi trabekulektomi dewasa pada glaukoma dengan komplikasi. 5) Melakukan operasi combined surgery (fako trabek) dewasa pada glaukoma dengan komplikasi. 6) Melakukan tindakan pemasangan implan glaukoma pada anak dan dewasa (katup Ahmed, Baerveldt, dan implan lainnya). 7) Melakukan tindakan trabekulotomi pada bayi/anak. 8) Melakukan tindakan goniotomi pada bayi/anak. 9) Melakukan tindakan Laser TSCPC/cryo therapy pada kasus glaukoma sulit. c) Vitreoretina 1) Case finding, skrining, diagnosis, dan edukasi kasus retina dengan menggunakan oftalmoskop tidak langsung (indirect opthalmoscope), foto fundus, flouresence angiografi, ICG angiografi, OCT, USG, ERG, dan VEP. 2) Melakukan tindakan fotokoagulasi laser PRP pada retinopati diabetik lanjut. 3) Melakukan penanganan kasus edema makula diabetik disertai penyulit gangguan retina lainnya. 4) Melakukan tindakan injeksi intra vitreal pada kasus retina sulit. 5) Melakukan tindakan bedah buckle sclera dan vitrektomi pada kasus-kasus retina sulit. 6) Melakukan diagnosis dan rencana tatalaksana kelainan makula, age-related macular edema (AMD) dengan tingkat kesulitan tinggi. d) Infeksi Imunologi 1) Case finding, skrining, diagnosis, dan edukasi kasus infeksi dan immunologi pada kasus sulit dengan menggunakan slit lamp, oftalmoskop tidak langsung (indirect opthalmoscope), foto fundus, USG, dan pemeriksaan laboratorium sediaan apus. 2) Melakukan work up kasus infeksi kelopak, konjungtiva, intraokuler, dan orbita (laboratorium, CT-Scan, konsultasi ke disiplin lain) pada kasus sulit. 3) Melakukan bedah minor pada infeksi pada kasus sulit. 4) Melakukan tatalaksana pada endoftalmitis pada kasus sulit. 5) Melakukan tindakan irigasi aspirasi hipopion dan injeksi intrakameral pada kasus sulit. 6) Penanganan keratitis, ulkus kornea, skleritis, uveitis, panoftalmitis, dan selulitis palpebra/orbita pada kasus sulit. 7) Melakukan flap konjungtiva, amnion graft, eviserasi, dan enukleasi pada kasus sulit. 8) Melakukan PCR pada kasus infeksi uveitis. 9) Melakukan Ocular Surface Transplantation pada kasus Ocular Surface Diseases. 10) Melakukan terapeutik dan tektonik keratoplasti. 11) Melakukan periosteal graft dan fascialata graft pada kasus infeksi. e) Pediatrik Oftalmologi dan Strabismus 1) Menilai fungsi penglihatan dengan ERG VEP. 2) Melakukan operasi katarak bayi dan anak dengan penyulit dan rujukan. 3) Melakukan terapi fokal retinoblastoma intra oculer dengan laser dioda. 4) Terapi retinoblastoma dengan penyulit yang memerlukan peranan Departemen lain atau multidisplin. 5) Melakukan terapi ROP dengan penyulit. 6) Melakukan foto fundus dengan RetCam. 7) Menilai fungsi stereoskopi, WFDT. 8) Melakukan tindakan operasi strabismus dengan penyulit. 9) Melakukan deteksi kelainan mata yang bersifat genetik herediter. f) Neurooftalmologi 1) Case Finding. 2) Penanganan kebutaan mendadak. 3) Penanganan amourosis fugax. 4) Penanganan kebutaan kronik. 5) Penanganan gangguan gerak bola mata. 6) penanganan kelainan pupil. 7) pemeriksaan warna dengan ishihara. 8) Pemeriksaan ERG (Electrorinogram) dan VEP (Visual Evoked Potential: full field, pattern dan multifokal) 9) Pemeriksaan warna dengan FM (Fansworth Munsell test), lantoni atau HRR (Hardy Rand and Rittler). 10) Pemeriksaan sensitivitas kontras. 11) Pemeriksaan Hess Screen. 12) Pemeriksaan Visual Field Manual dan automated. g) Trauma, Rekonstruksi, Okuloplasti dan Tumor 1) Rekonstruksi fraktur multipel orbita, termasuk gabungan dengan spesialis lain (THT, bedah saraf, dan bedah mulut). 2) Rekonstruksi semua kelainan kelopak sulit (koloboma, facial cleft, post trauma, oftalmopati graves, dan pascaoperasi eksisi luas tumor ganas). 3) Semua jenis operasi obstruksi sistem lakrimal termasuk dengan mikro dan makro endoskopi bekerjasama dengan THT. 4) Rekonstruksi semua kelainan orbita kongenital/post orbitotomi. 5) Orbital dekompresi. 6) Eksisi luas tumor ganas kelopak. 7) Orbitotomi lateral, anterior, atau kombinasi termasuk biopsi tumor retrobulbar. 8) Blefaroplasti dan mid face lift kosmetik. 9) Rekonstruksi soket kontraktur. 10) Eksentrasi dan extended eksentrasi orbita bekerjasama dengan spesialis lain. h) Refraksi 1) Case finding, skrining, diagnosis, dan edukasi kelainan refraksi, anisometropia, ambliopia, dan low vision pada kasus sulit. 2) Koreksi dengan kacamata pada kelainan refraksi sederhana, kelainan refraksi dengan astigmat pada kasus sulit. 3) Koreksi kelainan refraksi dengan lensa kontak lunak spheris, toric pada kasus sulit. 4) Koreksi kelainan refraksi dengan lensa kontak RGP pada kasus sulit. (misalnya keratokonus, kelainan refraksi dengan astigmat tinggi, dan lain-lain). 5) Mengobati komplikasi oleh karena pemakaian lensa kontak. i) Oftalmologi Komunitas 1) Memberikan pelatihan untuk pelatih petugas untuk semua hal yang tercakup dalam program oftalmologi komunitas tingkat primer dan sekunder. 2) Melakukan advokasi pencegahan kebutaan pada tingkat pembuat kebijakan. 3) Melakukan evaluasi pelaksanaan program kegiatan tingkat primer, sekunder, tersier.
1.Ruang Pada Pelayanan Kesehatan Mata Primer Fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan mata primer harus memiliki ruangan pemeriksaan dengan peralatan kesehatan mata untuk pemeriksaan dan/atau tindakan medik dasar di bidang kesehatan mata.
2.Ruang Pada Pelayanan Kesehatan Mata Sekunder Fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan mata sekunder harus memiliki ruang pelayanan kesehatan mata sebagai berikut: a) Ruangan pemeriksaan khusus mata b) Ruangan rawat inap untuk penderita penyakit mata c) Ruangan untuk tindakan/operasi khusus mata Dalam hal pada fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan mata sekunder tidak memungkinkan untuk menyediakan ruangan tindakan/operasi khusus mata, perlu pengaturan jadwal untuk pelayanan tindakan/operasi mata di ruangan tindakan/operasi yang tersedia pada fasilitas pelayanan kesehatan tersebut.
3.Ruang Pada Pelayanan Kesehatan Mata Tersier Fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan mata tersier harus memiliki ruang pelayanan kesehatan mata sebagai berikut: a) Ruangan pemeriksaan khusus sesuai subspesialistik mata yang tersedia b) Ruangan pemeriksaan dan bedah mata emergency c) Ruangan rawat inap untuk penderita penyakit mata d) Ruangan tindakan/operasi khusus mata e) Ruangan kuliah untuk penyelenggaraan pendidikan B. Peralatan
1.Peralatan Pelayanan Kesehatan Mata Primer Fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan mata primer harus memiliki peralatan kesehatan mata antara lain: a) Trial frame untuk pemeriksaan refraksi b) Buku Ishihara Tes c) Trial lens set untuk Pemeriksaan refraksi d) Lup binokuler (lensa pembesar) 3-5 Dioptri e) Opthalmoscope direk f) Snellen Chart 2 Jenis (E Chart + Alphabet Chart) g) Tonometer Schiotz h) Kartu Tumbling E
2.Peralatan Pelayanan Kesehatan Mata Sekunder dan Tersier PERALATAN DIAGNOSTIK DAN OPERASI TERSIER SEKUNDER KORNEA , LENSA DAN BEDAH REFRAKTIF Peralatan Diagnostik
1.Slitlamp + +
2.Keratometer + +
3.Biometer: A-scan: kontak atau Immersion Optical Master: IOL Master + +
4.Topografi kornea : Video keratografi + -
5.Retinometri + +
6.B-scan ultrasonografi + +
7.Trial lens set + +
8.Trial Frame + +
9.Chart Projector + +
10.Autorefractometer + +
11.Lensmeter + +
12.PD meter + +
13.Lampu senter + +
14.Opthalmoscope direk + +
15.Specular Microscope + - PERALATAN DIAGNOSTIK DAN OPERASI TERSIER SEKUNDER Peralatan bedah yang dibutuhkan agar mampu melakukan tindakan :
1.Bedah Katarak EKEK dengan implantasi IOL + +
2.Bedah katarak Fako dengan implantasi IOL + +/-
3.Bedah Transplantasi tembus kornea + -
4.Bedah Transplantasi lamellar kornea + -
5.Bedah Refraktif kornea. + - PERALATAN SET BEDAH KATARAK DASAR
1.Towel Clamp + +
2.Mosquito forceps + +
3.Caliper + +
4.Wired Eyelid speculum + +
5.Eyespeculum screw controlled + +
6.Superior rectus speculum + +
7.Tenotomy scissors curved + +
8.Hook, V.graefe, 10mm + +
9.Hook, Sinskey, angled + +
10.Razorblade, breadker & holder + +
11.Stitch scissors, sharp + +
12.Scissors, Corneal, 11mm, Right,blunt + +
13.Scissors, Corneal,11mm, left,bulnt + +
14.Scissors, iris,11mm,curved,sharp + +
15.Scissors,Vannas, micro,13 mm, angled + +
16.Scissors, Vannas, bulnt, 9 mm + +
17.Needle holder,heavy,16 mm + +
18.Needle holder, fine 11 mm + +
19.Needle holder, 8 mm curved + +
20.Needle holder, delicate, 7 mm,curved + +
21.Forceps, utilty + +
22.Forceps, iris, collibry + +
23.Forceps,corneal 0,3 mm + +
24.Forceps, fixation, 0,12 mm + + PERALATAN DIAGNOSTIK DAN OPERASI TERSIER SEKUNDER
25.Forceps,tying, 0,3 mm, straight + +
26.Forseps, tying, 0,3 mm, curved + +
27.Forceps, Mc Pherson + +
28.Forceps, Capsulorhexis +
29.Forceps, Biopolar, Mc. Pherson, angled + +
30.Lens loop irrigating, 6 mm,wide + +
31.Lens loop, 5mm wide X 7 mm long + +
32.Spatula, iris, 2 mm-wide, angled + +
33.Spatula, iris, 1 mm-wide, angled + +
34.Spatula,cyclodialysis, 1mm wide, 10 mm long, angled + +
35.Cannules. 1/A,Symcoe + +
36.Cannules, A/C irrigating, 19 Gauge, angled + +
37.Cannules, A/C irrigating, 23 Gauge, angled + +
38.Cannules A/C irrigating,27 mm,angled + +
39.Cannules, Hydrodissection, curved + +
40.ESU/Electrosurgical Unit + +
41.Rotator, IOL + + SET FAKO-EMULSIFIKASI Terdiri dari Set bedah katarak dasar, ditambah :
1.Slit knife keratome disposable, 2,5 mm, angled + -
2.Keratome, Diamond, 3,0 mm. angled + -
3.Crescent knife, disposable, bevel up + -
4.Nucleus Chopper + -
5.Sinskey hook + -
6.Necleus manipulator + -
7.Mesin fako-emulsifikasi (fakoemulsifikasi set): + • Hand – piece, US + - • Hand-piece, I/A Straight + - PERALATAN DIAGNOSTIK DAN OPERASI TERSIER SEKUNDER • Hand-piece, I/A, Curved + - • Hand – piece, I/A, bi-manual + - SET TRANSPLANTASI TEMBUS KORNEA Terdiri dari set bedah katarak dasar, ditambah :
1.Flicringa Fixation Rings ( 10 -18 mm) + -
2.Trephine Hendle, Universal + -
3.Punch,Cottingham + -
4.Base Plug, for Cottingham punch + -
5.Trephine Blade, disposable, (6.0-9,5 mm ) + -
6.Scissors, Corneal section, Right + -
7.Scissors, Corneal section, Left + - REFRAKSI DAN LENSA KONTAK PERALATAN STANDAR UNTUK REFRAKSI Alat Diagnostik :
1.Optotip Snellen / Chart Projector + +
2.Trial Lens Set + +
3.Trial Frame (anak dan dewasa) + +
4.Streak Retinoscope + +
5.Jackson Cross Cylinder + +
6.Lensometer + +
7.Phoropter + +
8.Komputer dan printer + +
9.Refraction lens bar with convex and concave lenses + +
10.Near vision card + +
11.Loose prism + -
12.Low vision diagnostic set + -
13.Autorefraktometer + + Peralatan Standar untuk Pelayanan Lensa Kontak :
1.Optotip Snellen / Chart Projector + +
2.Trial Lens Set + +
3.Trial Frame + +
4.Streak Retinoscope + + PERALATAN DIAGNOSTIK DAN OPERASI TERSIER SEKUNDER
5.Keratometer + +
6.Slit lamp + +
7.Trial Set Lensa Kontak + +
8.Cairan Pencuci, pembasah lensa kontak + +
9.Sarana untuk mencuci trial lense set + +
10.Suction Pipet untuk melepas trial lense set + +
11.Cermin + +
12.Fluorescein Strip + +
13.Magnifier khusus untuk melihat detail lensa kontak + +
14.Burton lamp (untuk menilai fitting pada bayi/anak – anak ) + +
15.Autorefraktometer + + GLAUKOMA Peralatan Diagnostik :
1.Loop dan senter + +
2.Leaflet mengenai glaucoma + +
3.Tonometer Schiotz + +
4.Funduskopi direk + +
5.Slit Lamp + tonometri aplanasi Goldmann + +
6.Funduskopi indirek + +
7.Lensa 20 D + +
8.Lensa 78 D + +
9.Lensa 90 D + +
10.Gonioskopi 3 mirror, gonioskopi 4 mirror + +
11.Perimetri + +/-
12.OCT + +/-
13.Koeppe goniolens + -
14.HRT + -
15.Anterior OCT + -
16.UBM + - PERALATAN DIAGNOSTIK DAN OPERASI TERSIER SEKUNDER
17.ERG + -
18.Pentacam + -
19.Laser argon/Yag + -
20.Lensa Abraham + -
21.Lensa laser suture lysis + - Peralatan bedah :
1.Set trabekulektomi + -
2.Set bedah katarak dasar + -
3.Set fakoemulsifikasi + -
4.Unit TSCPC (transscleral cyclophotocoagulation) + -
5.Glaucoma drainage device + +
6.Set goniotomy + + RETINA Peralatan Diagnostik
1.Slitlamp + +
2.Oftalmoskop (opthalmoscope) + +
3.Indirect ophthalmoscope binocular + +
4.Lensa condensing (78D.90D) + +
5.Foto fundus retina + +
6.Fundus fluorescein angiography + +
7.Indocyanine green fluorescein angiography + -
8.Optical coherence tomography + +/-
9.Electroretinography + -
10.Ultrasonography + +
11.Amsler grid + + Alat Bedah dan alat untuk tindakan :
1.Lensa laser (superquad/quadraspheric/mainster PRP/fokal-grid/area sentralis) + +
2.Unit Fotokoagulasi Laser - slit lamp delivery + + PERALATAN DIAGNOSTIK DAN OPERASI TERSIER SEKUNDER
3.Unit Fotokoagulasi Laser - laser indirect ophthlamoscope (LIO) + -
4.Unit Fotokoagulasi Laser – endophotocoagulation + -
5.Unit Krioterapi + +
6.Set bedah scleral buckling + +
7.Set bedah vitrektomi (termasuk instrumen mikro) + -
8.Mikroskop operasi dengan mounting untuk viewing system dan filter laser + -
9.Panoramic viewing system (temasuk EIBOS, BIOM) + -
10.Mesin vitrektomi + - INFEKSI & IMUNOLOGI TERSIER SEKUNDER Alat diagnostik :
1.Optotip Snellen + +
2.Kartu tes baca + +
3.Trial lens set + Trial frame + +
3.Buku Ishihara –Kanehara + +
4.Tonometer Schiotz + +
6.Obat-obatan diagnostic (midriatikum, anestesi topical + +
7.Senter + +
8.Loop + +
9.Slit lamp + +
10.Oftalmoskop langsung (direct opthalmoscope) + +
11.Oftalmoskop tidak langsung (indirect opthalmoscope) + +
12.Alat Anel test ( sonde, dilator ) + +
13.USG + -
14.Flare-cell meter + -
15.Tearscope + -
16.PCR set + - PERALATAN DIAGNOSTIK DAN OPERASI TERSIER SEKUNDER Alat bedah dan alat untuk tindakan :
1.Peralatan laboratorium mikrobiologi sederhana + +
2.Binocular mikroskop cahaya + +
3.Kimura spatula + +
4.Jarum spuit insulin 1ml + +
5.glass rod + +
6.glass spatula + +
7.Bahan pewarnaan (Gram staining, Giemsa, KOH) + + Peralatan Bedah
1.Speculum, lid retractor, pinset, needle holder, gunting konjungtiva, gunting kornea, vannas, benang vicryl, nylon 10.0,chalazion clamp, curetase, blade, blade holder, cautery optem, epilator, bandage contact lens, sendok eviscerasi + +
2.Set Eviserasi / enulkleasi bulbi +/- DFG: - Gunting conjungtiva, gunting kornea, sendok eviscerasi, benang, conformer + +
3.Set operasi Katarak komplikata pada Uveitis : - set operasi katarak + iris retractor + -
4.Set operasi Keratoplasti : - trephine, gunting kornea kanan kiri,needle holder, pinset kornea, polack pinset, Fileringa ring, + -
5.Set operasi fascia lata dan periosteal graft + -
6.Vitrector + - STRABISMUS Peralatan Diagnostik :
1.Major Amblyoscope/Synophtore + - PERALATAN DIAGNOSTIK DAN OPERASI TERSIER SEKUNDER
2.Maddox Scale + -
3.Prisma Bar vertical dan horizontal + -
4.Loose prisma + -
5.Trial lens set + +
6.Adult and pediatric frame + +
7.Stereotest (Titmus, Randot, Lang, TNO) + +
8.WFDT dengan KM Red Green + +
9.Bagolini lenses + -
10.Retinoscope + +
11.Refraction lens bar with convex and concave lenses + +
12.Red dan White madox rods + +
13.Portable biomicroscope + -
14.Direct and indirect ophthalmoscope + +
15.Visual acuity chart + +
16.Near vision card + +
17.Optokinetic drum + -
18.Fine tooth forceps ( passive duction and estimation of generation muscle force) + +
19.Hees or Lees’ screen + -
20.Netral density filters + -
21.Visuscope or similar device to test fixation pattern + +
22.Perimeter to determine field of single binocular vision + - Peralatan Bedah :
1.Binocular loupe ( alat pembesar ) + +
2.Set bedah strabismus +
3.Lampu operasi + +
4.ESU/Electrosurgical unit + + PEDIATRIK OFTALMOLOGI TERSIER SEKUNDER Alat Diagnostik :
1.Trial lens set, Trial Frame, Chart Projector, Preferential looking, Lea + - PERALATAN DIAGNOSTIK DAN OPERASI TERSIER SEKUNDER chart, Single E, E chart, Cardiff card
2.Lensmeter + +
3.Streak Retinoskope dan Auto Refraktometer + +
4.Slit Lamp / Hand Held slit lamp + +
5.Tonopen dan atau Perkins tonometer + -
6.Oftalmoskop langsung (direct opthalmoscope) dan oftalmoskop tidak langsung langsung (indirect opthalmoscope) (Condensing Lens 20, 30 D) + +
7.Retinal Camera + -
8.1 set alat pemeriksaan anel dan probing (dengan berbagai ukuran) + +
9.USG Mata + -
10.ERG, VEP. + -
11.Binocular loupe + + Alat Operasi :
1.Microscope operasi + +
2.Peralatan operasi katarak + +
3.Mesin Vitrektomi anterior + +
4.Peralatan operasi enukleasi / eviserasi / eksenterasitio orbitae + +
5.Peralatan operasi glaucoma anak : trabeculectomy, trabeculotomy, goniotomy, cycloterapi (cryo/fotocoagulasi) + -
6.Yag Laser + +
7.Diode Laser +
8.Low vision assesment set + REKONSTRUKSI DAN ONKOLOGI MATA Alat Diagnostik:
1.Loop dan senter + +
2.Nirbeiken + + PERALATAN DIAGNOSTIK DAN OPERASI TERSIER SEKUNDER
3.Leaflet-leaflet mengenai tumor mata , kelainan kelopak, kelainan saluran air mata , kelainan orbita . + +
4.Slit Lamp + +
5.Set Anel test + 1 set probe ( Bowman probe ) + +
6.Hertel Ophthalmometer + +
7.Buku Ishihara + +
8.Peralatan diagnostik/poliklinik sekunder. + -
9.Endoskop + - Alat Operasi:
1.Gunting kulit (untuk operasi okuloplastik) tajam dan tumpul + +
2.Gunting konjungtiva + +
3.Gunting enukleasi + +
4.Pinset gigi , ukuran kecil – besar + +
5.Hak 2 gigi, 3 gigi, 4 gigi , hak orbita , retraktor, desmares . + +
6.Sendok eviserasi + +
7.Klem hordeolum dan Curet + +
8.Arteri klem berbagai ukuran + +
9.Duk klem + +
10.Dilatator punctum, 1 set probe lakrimal (bowman probe) + +
11.Rounger, periosteal elevator + +
12.Boor dan 1 set mata boor + +
13.Silicon lacrimal tube + +
14.Implan orbita + +
15.Wire 3.0, 4.0 + +
16.ESU/Electrosurgical Unit + +
17.Peralatan operasi sekunder + -
18.Endoskop dan 1 set peralatan DCR Endoskop + - PERALATAN DIAGNOSTIK DAN OPERASI TERSIER SEKUNDER
19.Gunting dan periosteal elevator iga (untuk Bone graft) + -
20.Stryker saw dan 1 set mata gergaji + -
21.Plate and Screw + - NEURO OFTALMOLOGI Peralatan diagnostik :
1.Loop dan senter + +
2.Snellen Chart + +
3.Diagnostik Set (yang ada oftalmoskopnya) + +
4.Slit Lamp + +
5.Oftalmoskop langsung (direct opthalmoscope) dan oftalmoskop tidak langsung langsung (indirect opthalmoscope) + +
6.Lensa 78 D atau 90 D + +
7.Buku Ishihara + +
8.Kampimetri Goldman + +
9.Kampimetri Komputer (Computerized Campimetri) + -
10.Farnsworth Munsell + -
11.Test Sensitifitas Kontras + -
12.Visual Evoked Respons + -
13.Electroretinogram + - OFTALMOLOGI KOMUNITAS Alat operasi
1.Operasi katarak - mikroskop operasi , alat set katarak, fakoemulsifikasi set, meja operasi, kursi operasi + + - ESU/Electrosurgical Unit + + - Fakoemulsifikasi set dengan vitrektomi anterior + + PERALATAN DIAGNOSTIK DAN OPERASI TERSIER SEKUNDER - blanket warmer, mesin anestesi, monitor anestesi, suction pump + +
2.Operasi katarak dengan operasi mata lainnya