(4)Garam Yang diperoleh karena pelanggaran tersebut pada ayat 1 disita sebagai bukti atau dirampas. Pasal 7. Di samping alat-alat kekuasaan Negara Yang pada umumnya di-wajibkan melakukan penyelidikan dan pengusutan pelanggaran-pelanggaran, Kepala Daerah Swatantra tingkat I termaksud pada pasal 2 dan pejabat Yang dikuasakan olehnya, wajib mengawasi jalannya Undang-undang ini. Pasal 8. Segala sesuatu Yang tidak diatur di dalam Undang-undang ini diselenggarakan oleh Kepala Dareah Swatantra tingkat Yang bersangkutan, jika perlu atas petunjuk Menteri Perindustrian. Pasal II. Undang-undang ini mulai berlaku pada hari diundangkan. Agar ... Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Disahkan di Jakarta pada tanggal 26 Mei 1959. Pejabat Presiden Republik Indonesia, ttd SARTONO. Diundangkan pada tanggal 9 Juni 1959. Menteri Kehakiman, ttd G. A. MAENGKOM. Menteri Keuangan, ttd SOETIKNO SLAMET. Menteri Dalam Negeri, ttd SANOESI HARDJADINATA. Menteri Perindustrian, ttd F.J. INKIRIWANG. LEMBARAN NEGARA TAHUN 1959 NOMOR 38. MEMORI PENJELASAN MENGENAI USUL UNDANG-UNDANG TENTANG PENETAPAN "UNDANG-UNDANG DARURAT No. 25 TAHUN 1957 TENTANG PENGHAPUSAN MONOPOLI GARAM DAN PEMBIKINAN GARAM RAKYAT" (LEMBARAN-NEGARA TAHUN 1957 No. 82), SEBAGAI UNDANG-UNDANG. Sebagaimana diketahui, maka pada waktu tahun-tahun belakangan ini, oleh karena buruknya keadaan iklim, produksi garam Perusahaan Garam Negara dan Soda Negara tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam daerah regi. Juga daerah luar monopoli, yang biasanya dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, pada waktu belakangan ini tidak dapat membikin garam secukupnya sehingga terpaksa terus-menerus meminta bantuan beribu-ribu ton tiap-tiap bulan kepada Perusahaan Garam dan Soda Negara. Berhubung dengan keadaan tersebut diatas, maka untuk sekedar memperbesar produksi garam pada umumnya, dianggap perlu menghapuskan "Zoutmonopolie-Ordonnantie 1941 ", karena dengan demikian, rakyat dimanapun dalam daerah Negara ini akan mendapat kesempatan turut berusaha membikin baram. Jalan ini terpakai ditempuh oleh Pemerintah setelah ternyata dari penyelidikan Jawatan Geologi, bahwa didalam tanah Negara ini tidak terdapat lapisan-lapisan garam yang cukup banyaknya yang memugnkinkan cara pembikinan garam lain dari pada yang lazim sekarang ini. Penghapusan monopoli Pemerintah atas garam itu, tidak berarti bahwa tugas Perusahaan Garam dan Soda Negara sebagai produsen garam akan dikurangkan; hanya dengan hapusnya monopoli maka Perusahaan itu sebagai pelaksana "Zoutmonopolie-Ordonnantie tersebut akan berubah sifatnya dan merupakan Perusahaan Negara yang pada hakekatnya bekerja atas dasar komersiel dan tidak lagi merupakan satu-satunya badan yang berkewajiban bertanggung-jawab terhadap pembikinan dan pembagian garam seperti halnya selama waktu berlakunya "Zoutmonopolie-Ordonnantie 1941", melainkan usahanya disertai oleh usaha rakyat seumumnya. Dengan demikian akan maksud yang utama dari penghapusan monopoli garam itu ialah menambah jumlah produsen garam disamping yang sudah ada pada saat ini. Pelaksanaan Undang-undang ini pada hakekatnya diserahkan kepada Pemerintah Daerah, oleh karena pengawasan dan cara mengaturnya pembikinan garam rakyat tergantung sekali dari keadaan setempat, jika perlu atas petunjuk Menteri Perindustrian. Penambahan suatu ayat baru setelah pasal 2 ayat 3 yang menjadi ayat 4 baru didasarkan kepada kenyataan, bahwa sebelum Undang-undang ini berlaku, dilingkungan jarak 3 km menurut pasal 2 ayat 3 diatas sudah terdapat pegaraman rakyat, hingga berdasarkan pasal 2 ayat 3 itu pegaraman rakyat yang ada dalam daerah tersebut atau dekat pegaraman Pemerintah akan dikeluarkan. Berhubung dengan itu untuk menghindarkan timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan, maka diadakan penambahan ayat 4 baru tersebut. Menurut "Zoutmonopolie-Ordonnantie 1941", pasal 2 ayat 1 daerah monopoli dahulu meliputi Pulau-pulau Jawa dan Madura, bagian-bagian dari Pulau Sumatera seperti Karesidenan Sumatera Timur, Tapanuli, Sumatera Barat (kecuali kepulauan-kepulauannya), Jambi. Bengkulu, Palembang, Lampung, Bangka dan Biliton serta sebagian dari Karesidenan Riau yakni daerah Bengkalis dan Indragiri dan Kecamatan Katemar; seluruh Kalimantan yang termasuk wilayah Republik Indonesia; bekas Karesidenan Menado (Sulawesi Utara dan Tengah). Dalam daerah, yang berada diluar daerah monopoli tersebut diatas, semenjak dahulu pembikinan garam oleh rakyat adalah bebas dan telah menjadi tradisi. Untuk menghindarkan timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan dalam pelaksanaan Undang-undang ini didaerah-daerah tersebut terakhir ini, dipandang perlu diadakan tambahan penjelasan, yaitu bahwa Undang-undang ini hanya berlaku bagi daerah berlakunya "Zoutmonopolie-Ordonnantie 1941" dahulu. Diketahui: Menteri Kehakiman, ttd G.A. MAENGKOM. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA NOMOR 1717