1.Prosedur Kerja Pelayanan Gawat Darurat 24 jam
2.Prosedur Kerja Penerimaan Pasien di IRD
3.Prosedur Kerja Pasien yang akan dirawat
4.Prosedur Kerja Observasi Kegiatan pasien
5.Prosedur Kerja Penanganan pasien datang ke IGD sudah meninggal
6.Prosedur Kerja Pasien menolak untuk dirawat
7.Prosedur Kerja Penanganan Oedema paru
8.Prosedur Kerja Penanganan kegawatan pada hypertensi
9.Prosedur Kerja Penanganan Trauma kepala
10.Prosedur Kerja infark Miokard Akut
11.Prosedur Kerja Pemasangan pipa orofaring
12.Prosedur Kerja Penggunaan ruang Triase
13.Prosedur Kerja Penggunaan ruang tindakan resusitasi
14.Prosedur Kerja Penggunaan ruang tindakan bedah
15.Prosedur Kerja Penggunaan ruang observasi
16.Prosedur Kerja Penggunaan ruang tunggu keluarga pasien
17.Prosedur Kerja Pengadaan alat life saving
18.Prosedur Kerja Pengadaan obat life saving
19.Prosedur Kerja Pengadaan cairan
20.Prosedur Kerja Bahan Habis Pakai
21.Prosedur Kerja Pemasangan infuse
22.Prosedur Kerja Pemasangan kateter folly tetap
23.Prosedur Kerja Therapy syok anafilaktik
24.Prosedur Kerja Penggunaan obat narkotika
25.Prosedur Kerja Membilas lambung
26.Prosedur Kerja Alat rusak 4
27.Prosedur Kerja Perbaikan alat rusak
28.Prosedur Kerja Pemeliharaan alat
29.Prosedur Kerja Pemakaian telepon/aipone
30.Prosedur Kerja Menghubungi dokter konsultan
31.Prosedur Kerja Penggunaan obat narkotika
32.Prosedur Kerja Orientasi petugas baru di IRD
33.Prosedur Kerja Triase
34.Prosedur Kerja Seleksi tentang keluhan
35.Prosedur Kerja Sistem rujukan
36.Prosedur Kerja Rujukan pasien gawat darurat ke rumah sakit lain
37.Prosedur Kerja Pemakaian ambulance
38.Prosedur Kerja Merujuk/memindahkan pasien ke rumah sakit lain
39.Prosedur Kerja Penanganan Bencana masalah dari luar RSUD Mamuju
40.Prosedur Kerja Visite pasien
41.Prosedur Kerja Keputusan tidak melakukan resusitasi jantung paru
42.Prosedur Kerja izin cuti / tidak masuk dinas
43.Prosedur Kerja Pengisian status pasien (Rekam medic)
44.Prosedur Kerja Penanganan Trauma tajam/Tembus thoraks
45.Prosedur Kerja Penanganan trauma urethra
46.Prosedur Kerja Penanganan trauma Tumpul thoraks
47.Prosedur Kerja Penolakan tindakan medis (informed concent)
48.Prosedur Kerja Melakukan serah terima dinas
1.PELAYANAN GAWAT DARURAT 24 JAM PROSEDUR 1. Pasien yang masuk UGD di daftar di loket pendaftaran
2.Pasien di bawa ke triase dan diadakan pemilihan berdasarkan kasus bedah dan non bedah sesuai tingkat kegawatanya.
3.Pasien gawat darurat yang memerlukan penanganan dimasukkan di ruang resusitasi.
4.Pasien gawat darurat dimasukkan keruangan tindakan bedah atau non bedah berdasarkan kasus.
5.Dilakukian observasi pada pasien.
6.Pasien yang memerluan tindakan operasi dibawa keruan operasi
7.Pasien yng memerlukan perawatan lanjut di bawa keruang rawat
8.Pasien yang tidak memerlukan perawatan lanjut diperbolehkan pulang dan dianjurkan control di poliklininik
9.Pasienmg yang meninggal pada saat masuk UGD atau pun meninggal saat observasi di UGD di bawa ke kamar jenasah. 5
2.PENERIMAAN PASIEN DI IGD PROSEDUR 1. Pasien yang masuk UGD didaftar di loket pendaftaran
2.Pasien dibawa ke triase dan diadakan pemilihan berdasarakan kasus bedah dan non bedah
3.Pasien Gawat Darurat dimasukkan ke ruang tindakan bedah atau non bedahberdasarkan kasus
4.Pasien Gawat Darurat dimasukkan di ruang Resisutasi
5.Dilakukan observasi pada pasien
6.Pasien yang memerlukan obsevasi pada pasien dibawa ke ruang rawat lanjut
7.Pasien bedah dan non bedah yang tidak memerlukan perawatan lanjut diperbolehkan pulang dan dianjurkan kontrol ke poliklinik
8.Pasien yang meninggal pada saat masuk UGD maupun dalam observasi di UGD dibawak kekamar jenasa
3.PROSEDUR PASIEN YANG AKAN DIRAWAT PROSEDUR 1. Penangan pasien sesuai prosedur.
2.Dokter jaga UGD di damping Perawat UGD melakukan pemeriksaan kepada pasien.
3.Perawat melakukan pengkajian keperawatan.
4.Dokter menjelaskan kepada pasien / keluarga bahwa pasien memerlukan perawatan selanjutnya (rawat inap).
5.Perawat menulis surat pengantar rawat inap (so) yang meliputi : Nama pasien Umur pasien Status pasien (umum, ASKES Sosial, JAMKESMAS) Tanggal masuk rumah sakit Diagnosa Nama dokter jaga emergency
6.Surat pengantar rawat inap(surat opname) diberikan kepada keluarga pasien untuk mengurus ke medical record dan pemesanan kamarnya
7.Perawat menerima surat izin rawat inap yang sudah ditandatangani oleh keluarga pasien dan petugas medical record
8.Dokter menuliskan resep obat yang diberikan kepada keluarga pasien untuk dibawa kebagian farmasi
9.Dokter menuliskan hasil pemeriksaan dan pengobatan yang diberikan pada lembaran yabg telah disediakan di les pasien
10.Perawat meniliskan tindakan yang telah dilakukan pada lembar keperawatan yang telah disediakan. 6
11.Perawat mengisi ASKEP UGD pada lembar/format yang telah disediakan.
12.Perawat menulis semua status pasien dan nomor registrasi pada buku registrasi pasien UGD.
13.Setelah selesai smuanya, administrasi UGD diselesaikan sesuai status pasien (Umum, ASKES, JAMKESMAS).
14.Perawat UGD menghubungi keperawatan untuk mengecek apakah kamar sudah siap dan pasien boleh diantar keperawatan serta mengimformasikan keadaad pasien serta alat invasiveyang terpasan.
15.Apakah kamar sudah siap perawat UGD mengantar pasien keperawatan sesuai kamar yang telah dipesan.
16.Perawat UGD timbang terimah dengan perawat di perawatan tenteng semua tindakan yang telah dilakukan di UGD,obat-obatan yang telah diberikan dan pesan-pesan lainnya, smua ditulis di file pasien
17.Selanjutnya pasien ditangani dan dirawat perawat di perawatan
4.PROSEDUR OBSERVASI KEGIATAN PASIEN PROSEDUR 1. Pasien gawat darurat setelah dilakukan tindakan di UGD harus diobservasi sampai keadaan pasien menjadi stabil.
2.Perawat emergency mengobservasi pasien selama 5 menit, dan dilakukan sitiap 15 enit, untuk kasus tertentu perawat harus mendampingi terus sampai keadaan pasein betul-betul stabil (untuk pindahkan)
3.Obsevasi mencakup: • Tekanan darah, pernapasan, nadi, suhu, kesadaran. • O2, infuse, peredaran darah, sirkulasi cairan, laboratprium, monitor EKG. • Perfusi perifer.
4.Hasil observasi di catat dan dilaporkan kepada dokter jaga (baik atau buruk): - Mengatasi kadaan shock - Mengatasi kegawatan pernapasan - Mengatasi kegawatan kardiovaskuler sesuai standar prinsip bantuan hidup dasar ( BHD)
5.Hasil observasi, tindakan dan pemberian obat dicatat dalam catatan perkembangan pasien dalam file pasien 7
5.PENANGANAN PASIEN DATANG KE UGD SUDAH MENINGGAL PROSEDUR 1. Pasien ditidurkan dan dilai tanda-tanda kehidupannya dengan cara : • Meraba denyut nadi • Melihat gerakan dada • Memeriksa pupil
2.Dokter melakukan pemeriksaan dan perawat melakukan pemasangan monitor EKG untuk lebih jelasnya dokter dalam memberitahukan kepada keluarga pasien.
3.Perawat merapikan pasien yang sudah meninggal dunia dengan mengatupkan rahangnya dan membalut dengan kassa rollkearah kepala, merapatkan kedua kaki dan tangan dengan cara di ikat.
4.Menutup pasien dengan laken.
5.Perawat mendokumentasikan semua tindakan yang telah dilakukan.
6.Perawat menyerahkan jenasah kepada keluarganya untuk dibawah pulang setelah terlebih dahulu menyelesaikan administrasi di UGD.
7.Perawat menghubungi petugas medical record untuk mobil jenasah.
8.Untuk jenasah yang tidak ada keluarganya, perawat membawanya kekamar jenasah dan menghubungi petugas kamar jenasah, serta memberitahukan keadaan jenasah.
6.PASIEN MENOLAK UNTUK DIRAWAT PROSEDUR 1. Penanganan pasien sesuai dengan kasus oleh dokter dan perawat.
2.Dokter menjelaskan kepada keluarga atau pasien tentang penyakitnya, bahwa pasien memerlukan perawatan selanjutnyayaitu rawat inap, tetapi pasien / keluarga pasien menolak untuk di rawat.
3.Dokter menjelaskan kembali tentang penyakit pasien, dan memberikan resep serta menyarankan untuk control ke polikklinik pada waktu jam kerja.
4.Keluarga pasien / pasien mengisi formulir penolakan untuk dirawat (formulir G) yang telah di sediakan oleh perawat dituliskan nama jelas, tanda tangan, tanggal dan jam, serta nama dan tanda tangan petugas.
5.Formulir penolakan (Formulir G) yang telah ditandatangani disimpan dalam file.
6.Perawat menyerahkan resep obat untuk di tebus di apotik dan memeriksa apakah obat sesuai dengan resep.
7.Sebelum pulang pasien / keluarga pasien menyelesaikan administrasi di UGD sesuai status pasien (Askes, Jamkesmas, Jamkesda, Umum). 8
7.OEDEMA PARU PROSEDUR 1. Pasien diberi posisi setengah duduk bila masih sadar, bebaskan jalan nafas, oxygen. ( pasien diberikan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan).
2.Kaji pola pernapasan pasien, kesadarannya, tekanan darah, nadi, pasang alat spirometri untuk mengetahui SPO2.
3.Dokter memeriksakan keadaan umum pasien dengan didampingi perawat.
4.Pasang infuse dan monitoring intake out put.
5.Pemeriksaan laboratorium: DL, elektrolit, GDS, Ureum, Kreatinin, SGOT/SGPT.
6.Pemberian terapie sesuai penyebab terjadinya odema paru.
7.Pemberian diuretika.
8.Pemeriksaan radiologi : thorakx foto .
9.Pemeriksaan EKG lengkap.
10.Dokter jaga menghubungi dokter spesialis paru dan kardiologi apabila sudah ada dokternya, bila belum ada bias kedokter spesialis interna.
11.Kolaborasi dengan dokter yang merawat untuk pemberian obat selanjutnya.
12.Mengoreksi hasil analisa gas darah.
13.Pasien dipindahkan keperawatan selanjutnya setelah keadaan stabil.
8.PENANGANAN KEGAWATAN PADA HYPERTENSI PROSEDUR 1. SOP Triase.
2.SOP pengkajian pasien emergancy.
3.Pasien diperiksa oleh dokter jaga emergency dan perawat emergency.
4.Diagnostic harus cepat
5.Istirahat total.
6.Monitor tekanan darah setiap 15 menit sampai tekanan darah
7.stabil, kemudian setiap 30 menit selama 2 jam dan selanjutnya monitor setiap 2 jam. Menurunkan tekanan darah dengan target: Tekanan darah sistolic : 165-180 Tekanan darah diastolik : 95-105
8.Memasang saluran intra vena untuk memberikan obat anti hypertensi (sebaiknya obat parenteral) antara lain: Diuretik Beta bloker Alfa bloker Sympatolitic Vasodilator Antagonis kalsium
9.Monitor EKG.
10.Monitor tanda-tanda vital: nadi, suhu, frekuensi pernafasan. 9
11.Photo radiologi.
12.Memonitor perubahan-perubahan neurologis.
13.Memonitor dan mencatat produksi urine.
14.Puasa sampai tekanan darah terkendali dan klinis membaik.
15.Tekanan darah terkendali dan stabil serta klinis membaik maka observasi selanjutnya dilakukan diruang perawatan
9.PROSEDUR PENENGANAN TRAUMA KEPALA PROSEDUR 1. Perhatikan kepala dan leher pasien pada waktu meengankat (bila perlu pasang neck collr sebelum mengankat pasien), batasi mobilisasi.
2.Pasien ditidurkan terlentang, bebaskan jalan napas, beri oxygen
3.Kaji tingkat kesadaran pasien , adanya luka / haematoma pada kepala, perdarahan baik dari mulut, hidung, telinga, muntah, rangsang gerak, pupil, tanda-tanda vital
4.Dokter memeriksa pasien didampingi perawat, dan nilai trauma scale, tingkat kesadaran, neurologis: pupil, refles fatologis, motorik.
5.Atasi pendarahan jika ada.
6.Pasang infus dan pemberian terapi sesuai kasus dan standar pelayanan medic RSUD Propensi Sulawrsi Barat.
7.Pemeriksaan laboraturium.
8.Pemeriksaan radiologi.
9.Pasang NGT bila perlu untuk mengosongkan lambung seta mencegah aspirasi bila muntah.
10.Konsultasi kepada dokter spesialis neurologi sesuai kasusnya, atau dokter bedah bila ada luka.
11.Observasi terus manerus tingkat kesadaran pasien.
12.Tindakan selanjutnya sesuai advis dokter konsulen.
10.SOP INFARK MIOKARD AKUT PROSEDUR 1. Pasien diberikan posisi tidur yang nyaman, dan diberikan penjelasan tindakan yang akan dilakukan (apa bila pasien kesadaran masih baik).
2.Pasien diberikan oxygen (kolaborasi dengan dokter jaga).
3.Perawat melakukan tindakan EKG untuk mengetahui adanya perubahan gambaran EKG yang mengancam jiwa.
4.Pemasangan IVFD.
5.Pemeriksaan laboratorium yang menunjang diagnose.
6.Pemeriksaan radiologi (thorakx foto).
7.Dokter jaga menghubungi dokter kardiologi (bila 10 sudah ada dokter kardiologi), atau dokter konsulen lain yang ditujukan konsulnya oleh dokter jaga.
8.Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat- obatan, sesuai standar. Pelayanan medic RSUD propinsi sulawesi barat.
9.Pasien dapat dipindahkan keruangan intensif setelah keadaan stabil. Amati akan terjadinya perubahan / kelainan yang terjadi pada gambaran EKG, observasi tensi, nadi, pernapasan.
11.PEMASANGAN PIPA OROF ARING PROSEDUR 1. Paramedic mempersiapkan alat
2.Paramedic memberikan penjelasan kepasien dan keluarganya tentang tindakan yang akan dilakukan
3.Pemilihan pipa orofaring dilakukan dengan mengukur panjang alat kira-kira sama dengan panjang dari sudut mulut sampai sudut rahan.
4.Bersikan mulut dari segala kotorang
5.Masukkan alat dengan mengarah ke langit- langit,saat mendekati dinding faring putar alat 180 derajat
6.Alat terpasang dengan benar bila menghasilkan bunyi nafas yang nyaring saat dilakaukan auskultasi paru
7.Ingat untuk memriksa adanya nafas spontang setelah pemasangan alat
12.PROSEDUR PENGGUNAAN RUANG TRIASE PROSEDUR 1. Pasien di dorong masuk keruang triase
2.Pasien dipilah berdasarkan jenis dan tingkat kegawatannya
3.Pasien dipindahkan keruang yang sesuai untuk tindakan yang akan dilakukan
13.PROSEDUR PENGGUNAAN RUANG TINDAKAN RESUSITASI PROSEDUR 1. Pasien di dorong masuk keruang resusitasi
2.Pasien ditindaki sesuai dengan keadaannya
3.Setelah resusitasi dipindahkan ke ruang observasi atau dirujuk
14.PENGGUNAAN RUANG TINDAKAN BEDAH PROSEDUR 1. Pasien di dorong oleh perawat masuk keruang bedah
2.Pasien ditindaki oleh perawat atau dokter
3.Setelah ditindaki pasien dipulangkan, diobservasi, di rawat inap atau dirujuk 11
15.PENGGUNAAN RUANG OBSERVASI PROSEDUR 1. Pasien di dorong oleh perawat masuk keruang observasi
2.Pasien diobservasi 2 – 6 jam Setelah ditindaki pasien dipulangkan, diobservasi, di rawat inap atau dirujuk.
16.PENGGUNAAN RUANG TUNGGU KELUARGA PASIEN PROSEDUR 1. Setelah pasien masuk ke ruangan di UGD
2.Keluarga pasien diarahkan ke ruang tunggu
3.Selama pasien ditindaki keluarga pasien tetap berada di ruang tunggu
4.Setelah pasien ditindaki, keluarga boleh menjemput pasien
17.PENGADAAN ALAT LIFE SAVING PROSEDUR 1. Petugas mencatat alat yang dibutuhkan
2.Memperlihatkan catatan permintaan kepada kepala ruangan
3.Menghubungi bagian farmasi dan bendahara barang dan memperlihatkan daftar penggunaan life saving
4.Petugas farmasi memberikan obat yang diminta
5.Petugas UGD mengecek alat sesuai dengan daftar permintaan
6.Petugas membawa alat life saving ke UGD
18.PENGADAAN OBAT LIFE SAVING PROSEDUR 1. Petugas logistic UGD mencatat obat life saving yang dibutuhkan di UGD
2.Petugas logistic memperlihatkan catatan permintaan alat kepada kepala ruangan UGD dan meminta pertimbangannya
3.Petugas logistic menghubungi bagian farmasi/ apotik dan memperlihatkan daftar permintaan alat life saving
4.Petugas logistic UGD mengecek kembali obat life saving berdasarkan daftar permintaan
5.Petugas membawa obat life saving ke UGD
19.PENGADAAN CAIRAN PROSEDUR 1. Petugas mencatat jumlah dan jenis cairan yang dibutuhkan
2.Memperlihatkan catatan permintaan kepada kepala ruangan
3.Petugas logistic menghubungi bagian farmasi dan memperlihatkan daftar permintaan cairan tersebut
4.Petugas farmasi memberikan cairan yang diminta
5.Petugas UGD mengecek jenis dan jumlah cairan 12 ssesuai permintaan
6.Petugas membawa cairan ke UGD
20.PENGADAAN BAHAN HABIS PAKAI PROSEDUR 1. Petugas logistic mencatat bahan habis pakai yang dibutuhkan
2.Petugas logistic memperlihtkan catatan permintaan kepada kepala ruangan
3.Petugas logistic menghubungi bagian farmasi dan memperlihatkan daftar permintaan bahan habis pakai
4.Petugas farmasi memberikan bahan habis pakai yang diminta
5.Petugas UGD mengecek jenis dan jumlah bahan habis pakai sesuai permintaan
6.Petugas membawa bahan habis pakai ke UGD
21.PEMASANGAN INFUS PROSEDUR 1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
2.Cuci tangan
3.Hubungan cairan dengan infuse set dengan memasukkan kebagian karet atau akses slang kebotol infuse
4.Isi cairan kedalam set infuse dengan menekan ruang tetasan hingga terisi sebagian dan buka klem sloang sehingga cairan memenuhi slang dan udara slang keluar
5.Letakkan pengalas di bawah tempat ( vena ) yang akan dilakukan pengimpusan
6.Lakukan pembendungan dengan tourniquet 10- 12 cm diatas tempat penusukan dan anjurkan pasien untuk menggengam dengan gerakan sirkulasi ( bila pasien sadar )
7.Gunakan sarung tangan steril
8.Desinfeksi daerah yang akan ditusuk dengan kapas alcohol
9.Lakukan penusukan pada vena dengan meletakkan ibu jari dibagian bawah vena dengan posisi lubang jarum menghadap keatas
10.Perhatikan keluarnya darah melalui jarum/surflo, tarik keluar bagian dalam (jarum) sambil meneruskan tusukan kedalam vena
11.Sebelum jarum infuse bagian dalam dilepaskan, tahan bagian atas vena dengan menekan menggunakan jari tangan agar darah tidak keluar, kemudian bagian infuse dihubungkan dengan slang infuse
12.Buka pengatur tetesan dan atur kecepatan sesuai dengan dosis yang diberikan
13.Lakukan fiksasi dengan kasa steril
14.Tuliskan tanggal dan waktu pemasangan infuse serta catat ukuran jarum
15.Catat jenis cairan, letak infuse, kecepatan aliran, 13 ukuran dan tipe jarum infuse, kembalikan alat dan cuci tangan
22.PEMASANGAN KATETER FOLLY TETAP PROSEDUR 1. Paramedic mempersiapkan alat
2.Paramedic memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarganya tentang tindakan medic yang akan dilakukan
3.Paramedic mengganti baju,pakaian bagian bawah di lepas dan dig anti dengan selimut
4.Paramedic mencuci tangan
5.Paramedic memasang celemek\
6.Paramedic memasang handschoen dan melakukan desinfektan pada daerah genitalia dengan betadine
7.Dipasang duk bolong di daerah genitalia pasien
8.Jelly di oleskan secukupnya ke chateter
9.Di masukkan chateter folly secara pelan- pealan dengan mengguanakan pinset sampai keluar cairan urin
10.Disambungkan ke kantong urin dan diisi balon chateter dengan aquades atau larutan NaCl 0,9% sesuai dengan jumlah yang di anjurkan
11.Alat-alat dibereskan dan dibersikan untuk selanjutnya disterilkan kembali
23.TERAPI SYOK ANAFILAKTIK PROSEDUR 1. Pasien ditidurkan dengan posisi flat atau semi trandelenurg
2.Dokter memeriksa pasien
3.Bebaskan jalan nafas, bila sesak berikan oksigen, bila cardiac arrest lakukan kompresi jantung luar, resusitasi cardio pulmoner.
4.Perawat melakukan pengkajian
5.Pasang IV line NaCl 0,9% loading sampai tensi membaik, bila perlu berikan cairan koloid
6.Pemberian ephineprin/adrenalin : Anafilaktik ringan : adrenalin 1 : 1000 (1 mg/ml) atau dosis 0,1 mg-0,25 mg IV atau 0,1 mg-0,5 mg SC (untuk dewasa) anak 0,01 mg/kg BB Anafilaktik berat, selain pemberian obat diatas dilanjutkan dengan infuse 1 mg adrenalin dalam 250 cc Dextrose 5% atau NaCl 0,9% atau intra tracheal atau intra cordite dosis 0,1mg-1 mg. Hal diatas dapat diulangi setelah 5-10 menit, apabila belum berhasil
7.Cortico steroid sebagai terapi adjuvant, dosis dewasa hidrokortison 200 mg IV atau Methylprednison 50 mg IV setiap 6 jam untuk 14 satu–dua hari
8.Antihistamin sebagai terapi adjuvant, dosis dewasa diphenhydramin 50 mg IV atau Cimetidin / Ranitidin 50 mg IV
24.PENGGUNAAN OBAT NARKOTIKA PROSEDUR 1. Perawat melakukan pengkajian keperawatan emergency
2.Dokter melakukan pemeriksaan fisik dan member instruksi secara tertulis pemberian obat
3.Dokter menuliskan resep untuk ditebus diapotik rumah sakit
4.Dokter memeriksa kembali obat yang telah diambil dari apotik apakah sesuai dengan resep atau tidak.
5.Perawat menerima dan melaksanakan instruksi dokter sesuai SOP
6.Perawat melakukan observasi tensi, nadi pernafasan, kemudian melaporkan hasil observasi kepada dokter sebelum memberikan obat tersebut sesuai dosis dan cara pemberiannya
7.Perawat mendokumentasikan pemberian obat ke dalam catatan perkembangan pasien emergency dan daftar obat pada file pasien
8.Perawat mendokumentasikan pemakain dan pemberian obat didalam buku laporan pemakaian obat jenis narkotika di UGD
25.MEMBILAS LAMBUNG PROSEDUR 1. Pasien dan keluarga diberi penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan
2.Pasien dilakukan pemasangan NGT sesuai SOP pemasangan NGT
3.Setelah NGT yakin masuk kelambung pasien,maka cairan dimasukkan dan ditunggu sampai air / cairan tersebut keluar dari lambung ( muntah ) dan di tampung dalam Waskom penumpang
4.Membilas lambung dilakukan berulang kali sampai air / cairan yang keluar dari lambung berwarna jernih/ tidak berbau racun
5.Observasi keadaan umum pasien,tekanan darah,nadi pernafasan dan respon pasien
6.Harus diperhatikan dan di catat jumlah cairan yang masuk dan keluar
7.Catat jenis,warna dan bau cairan yang keluar dari lambung. 15
26.ALAT RUSAK PROSEDUR 1. Instalansi / perawatan /unit melapor tentang kerusakan alt dan barang ke IPRS RSUD provinsi Sulawesi barat
2.Alat/barang yang rusak oleh petugas IPRS dicek kembali kemungkinan bias diperbaiki atau tidak
3.Petugas IPRS mencatat jenis kerusakan
4.Bias alat masih diperbaiki petugas IPRS berkewajiban untuk memperbaiki
5.Bila alt tidak bisa diperbaiki (rusak berat) peetugas IPRS membuat berita acara kerusakan dan menyimpan di gudang tersendiri
6.Petugas IPRS membuat lapooran tentang alat yang rusak dan diketahui oleh kepala IPRS dan
27.PERBAIKAN ALAT RUSAK PROSEDUR 1. Instalasi /perawatan / unit melapor tentang kerusakn alat ke IPRS atau melalui seksi pelayanan
2.Alat yang rusak apabila tidak dapat di tempatkan di IPRS jika memungkinkan dibaa ke seksi pelayana
3.Alat tersebut diperiksa oleh teknisi rumah sakit (IPRS)
4.Jenis kerusakan yang ditemuka, dibuatkan proposl perbaiakan alat di seksi pelayalana atau dilaaporkan kepada direktur
5.Proposal yang disetujui oleh direktur diserahkan kembali kepada teknisi dan dilaporkan ke
6.Alat yang rudak diperbaiki hingga dapat difungsikan kembali
7.Alat yang sudah baik dikembalikan ketempatnya untuk dapat difungsikan kembali
8.Alat yang tidak dapat diperbaiki oleh teknisi Rumah Sakit dikirim ke distributor hingg alat tersebutbbaik dan dapat difungsikan kembali
28.PEMELIHARAAN ALAT PROSEDUR 1. Instalsi / perawatan / unit melapor tentang sudah adanya alat ke IPRS atau melalui seksi pelayanan
2.Alat dan jennies dicacat di buku Bin / kir alat
3.Alat terssebut iperiksa oleh teknisi rumah sakit
4.Dibuatkan proposal pemeliharaan alat dan dilporkan ke Direktur melalui seksi pelayanan dan dilaporkna ke bagian keungan
5.Proposal yang distujui oleh direktur diserahkan kembali ke teknisi untuk pemeliharaan alat
6.Bukti pemeliharaan alat dari kepala ruangan 16 masing-masing
29.PEMAKAIAN TELEPON/AIPHONE PROSEDUR 1. Petugas UGD baik intern / keluar Rumah Sakit telephone / aiphone di gunakan hanya untuk keperluan dinas.
2.Penggunaan aiphone hanya di gunakan dalam dinas di lingkungan RS sendiri
3.Telephone untuk keperluan Rumah sakit (panggilan dokter,petugas On call,Konsul,Rujukan dll).
4.Dokter juga melaksanakan laporan via telephone ke dokter konsulen (spesialis), laporan do Derektur bila di anggap penting misalnya KLB.
5.Petugas agar mencatat pemakaian telephone yang di pergunakan keluar Rumah sakit dalam buku telephone
30.MENGHUBUNGI DOKTER KONSULEN
1.Dokter jaga mengisi lembaran konsulen
2.Dokter jaga menghubungi dokter konsulen lewat telepon
3.Petugas amplop mengantar lembaran konsul ke tempat dokter konsul.
4.Dokter konsul menerima konsul dan membacanya
5.Dokter konsul dating, melihat / memeriksa pasien yang di konsul
6.Dokter konsul menjawab di lembaran jawaban konsul
7.Dokter konsulen memberikan instruksi untuk tindakan / perawatan selanjutnya
31.PROSEDUR ORIENTASI PETUGAS BARU DI IGD PROSEDUR 1. Kepala seksi Pelayanan menyerahkan petugas baru ke kepala IRD
2.Kepala IRD mencatat petugas yang bersangkutan sebagai anggota dan memperkenalkan ke pada petugas IRD yang lain
3.Kepala ruangan memprogramkan jadwal orientasi : o Pengenalan fisik ruangan jadwal orientasi o Pengenalan prosedur pelaksanaan teknis yang berlaku o Pengenalan organisasi
4.Kepala ruangan mengevaluasi program orientasi
5.Menempatkan petugas sebagai pelaksana petugas IRD disertai uraian tugasnya.
32.TRIASE PROSEDUR 1. pasien langsung dibawa ke ruang Triase
2.pasien diseleksi secara cepat dan tepat oleh dokter jaga atau perawat, kemudian diberi label dan di bawa ke ruangan sesuai klasifikasi 17 korban/pasien.