a.PM10
b.Lead
c.SO2 US$ 194 per mikro gram per m3 per rumah tangga
a.US$ 26.5 – US$ 74 per orang per tahun per mikrogram per m3
b.US$ 5.6 – US$ 17.5 per orang per tahun per 0.01 mikrogram per mm3
c.US$ 1.38 – US$ 24.8 per orang per tahun per mikrogram per m3 Smith dan Huang (1995) Dimisalkan bahwa terjadi kontaminasi air bawah tanah oleh jenis pencemar tertentu yang cukup beracun di suatu daerah A di Indonesia. Untuk menghitung koefisien pencemaran jenis yang sama dengan menghasilkan persamaan sebagai berikut: Value = 3.0685 + (0.0665*income) + (0.7878* northwest) Value = pemanfaat nilai langsung dan tidak langsung dari air bawah tanah Income = pendapatan rata-rata per rumah tangga Northwes = variable dummy (1 = northwest, 0 = daerah lainnya) Jika di lokasi lain pendapatan rumah tangga sebesar Rp 35 juta per tahun, dengan memasukan nilai tersebut ke persamaan di atas akan menghasilkan nilai kesediaan membayar (WTP) sebesar Rp 5.4 juta rupiah per rumah tangga per tahun, dikalikan dengan jumlah rumah tangga yang ada, akan diperoleh nilai ganti rugi akibat pencemaran terhadap air bawah tanah. 29
c.Biaya sakit (cost of illness) Metode ini digunakan apabila pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup menimbulkan gangguan kesehatan. Jika pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup mengakibatkan gangguan kesehatan, sehingga penderita tidak dapat bekerja, kerugian dapat dihitung selama yang bersangkutan menderita sakit. Biaya-biaya yang dihitung antara lain: 1) biaya perawatan dokter, obat-obatan dan laboratorium; 2) biaya pengeluaran konsumsi selama sakit; 3) biaya pengeluaran akomodasi ketika sakit; 4) biaya pengeluaran transportasi selama berobat; 5) biaya hilangnya penghasilan; 6) menurunnya nilai produktivitas. Tahapan pelaksanaan metode ini: 1) memastikan bahwa gangguan kesehatan yang dialami benar-benar berasal dari pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup; 2) menyiapkan kuisioner untuk melakukan survei; 3) melakukan survei, terhadap sejumlah responden disekitar lokasi kejadian yang berinteraksi dengan lokasi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup; 4) mengolah hasil survei dengan teknik statistik; 5) mengestimasi nilai rata-rata perindividu para responden lalu diextrapolasi dengan populasi penderita disekitar lokasi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup. 30
1.Pencemaran air permukaan
a.Penghitungan kerugian akibat tidak dilaksanakannya kewajiban pengolahan air limbah. Terdapat banyak jenis teknologi pada Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL), termasuk turunan, variasi dan kombinasinya, yang bisa dipilih berdasar kebutuhan proses dan budget, antara lain secara garis besar pada secondary treatment: 1) Oksidasi dan kolam fakultatif (Oxidation & Facultative Pond) 2) Kolam aerasi (Aerated Lagoon) 3) Proses Lumpur Aktif (conventional activated sludge) 4) Perluasan aerasi, tahap aerasi (Extended Aeration, Step Aeration) 5) Parit oksidasi (Oxidation Ditch) 6) Reaktor unggun bergantian (Sequencing Batch Reactor) 7) Saringan menetes, pengontak biologi berputar (Trickling Filter, Rotary Biocontactor) 8) Reaktor poros dalam, pengolahan vertikal (Deep shaft reactor, Vertread) 9) Membran biorekator (Membrane bioreactor) 10) Teknologi paten dan baru berkembang lainnya
i.Pendekatan penghitungan Penghitungan kerugian lingkungan hidup biaya kewajiban pengolahan limbah menggunakan prinsip biaya penuh yang mencakup energi, bahan kimia, tenaga kerja, biaya pemeliharaan dan depresiasi IPAL atau membangun IPAL baru sesuai dengan kapasitas produksi. CONTOH untuk i: Pabrik A sudah memiliki IPAL, namun kinerjanya tidak baik, sehingga kualitas effluent IPAL melebihi baku mutu. Oleh karena itu penghitungan biaya beban lingkungan dibatasi hanya pada selisih antara effluent dan baku mutu lingkungan. Berbagai jenis teknologi IPAL (beserta turunan dan kombinasinya) secara umum sudah dikenal performa dan karakteristiknya. Penghitungan nilai investasi, biaya operasi dan pemeliharaan berikut ini adalah nilai kerugian yang harus dibayar pihak pencemar (polluter pay principal): Tabel 4.1. Perbandingan Berdasar Studi Evaluasi Berbagai Jenis Teknologi IPAL Pada Tahap Pengolahan Sekunder Kriteria (Criteria) Weight O.P A.L C.A.S O.D SBR WW-0 WW-1 WW-2 WW-3A WW-3B R WS R WS R WS R WS R WS Biaya Modal (Capital Cost) 10 <1 - 1,0 10 3,6 36 5,0 50 1,5 15 Biaya operasional dan pemeliharaan (O & M 10 <1 50 5,0 50 2,4 24 1,7 17 1,0 10 31 Cost) Biaya pendamping dari lokal (Local Share Cost) 10 1,6 16 1,6 16 4,3 43 5,0 50 1,0 10 Kehandalan dan kesederhanaan mekanik (Mechanical Simplicity and Reliability) 8 <1 8 1 8 2 16 2 16 2 16 Kesederhanaan pengoperasian (Operating Simplicity) 8 0,5 4 1 8 2 16 2 16 2 16 Fleksibilitas proses (Operating Flexibility) 5 5 25 3 15 2 10 2 10 2 10 Estetika (Aesthetic) 8 >5 - 5 40 3 24 3 24 2 16 Potensi bau (Odor Potential) 8 >5 - 5 40 3 24 3 24 3 24 Keterbuktian tehnologi (Proven Technology) 5 >5 - 1 5 3 15 3 15 3 15 Kemampuan penyesuaian tehnologi kedepan (Future Technology Adaptability) 5 >5 - 3 15 1 5 1 5 1 5 Kemampuan memenuhi baku mutu (Meet Discharge Standards) 10 >5 - 5 50 2 20 2 20 1 10 Kebutuhan lahan (Space Requirement) 9 >5 - 5 45 2 18 2,5 22,5 1 9 Kemampuan mengolah dengan kualitas keluaran lebih baik (Higher Quality Effluent) 6 >5 - 5 30 3 18 3 18 1 6 Ketahanan pengaruh atau gangguan cuaca (Weather Disturbance) 10 >5 - 5 50 1 10 1 10 1 10 Pelaksanaan konstruksi (Construction Operation) 10 2 20 1 10 1 10 1 10 1 10 Kemampuan ekspansi berikut (Expandability) 7 >5 - 5 35 1 7 1 7 2 14 Keselamatan operator (Operator safety) 10 1 10 1 10 2 20 2 20 2 20 Nilai Pembandingan (Comparative Rating) 392 298 312 207 RASIO (RATIO) 1,32 1 1,05 0,69 O.P : Kolam Oksidasi (Oxidation Pond) A.L : Kolam Aerasi (Aerated Lagoon) C.A.S : Lumpur Aktif Konvensional (Conventional Activated Sludge) O.D : Parit Oksidasi (Oxidation Ditch) S.B.R : Reaktor Curah Bergantian (Sequencing Batch Reactor) R : Nilai Alternatif pada skala 1 sampai 5, dengan nilai 1 terbaik (Alternative Rating (On scale or 1 to 5, with 1 the best) WS : Nilai Beban (Weighted Score) 32 Nilai Investasi dan Biaya Operasional dan Pemeliharaan (O&M Cost): Dengan menggunakan gabungan dua pendekatan perbandingan SEMES dan Kalkulasi Software, diperoleh: ALTERNATIF I: (Apabila pengolahan limbah cair menggunakan teknologi CAS) Nilai Investasi = Rp. 18.140 juta Rincian terlampir Biaya Operasional dan Pemeliharaan = Rp. 3.600 juta Per tahun ALTERNATIF II: (Apabila pengolahan limbah cair menggunakan teknologi AL) Nilai Investasi = Rp. (18.140 x 10/36 ) juta = Rp. 5.040 juta Biaya Operasional dan Pemeliharaan = Rp. ( 3.600 x 50/24) juta = Rp. 7.500 juta ALTERNATIF III: (Apabila pengolahan limbah cair menggunakan teknologi OD) Nilai Investasi = Rp. (18.140 x 50/36 ) juta = Rp. 25.190 juta Biaya Operasional dan Pemeliharaan = Rp. ( 3.600 x 17/24) juta = Rp. 2.550 juta ALTERNATIF IV: (Apabila pengolahan limbah cair menggunakan teknologi SBR) Nilai Investasi = Rp. (18.140 x 15/36 ) juta = Rp. 9.800 juta Biaya Operasional dan Pemeliharaan = Rp. ( 3.600 x 10/24) juta = Rp. 1.500 juta Kesimpulan: Alternatif IV memiliki total nilai investasi dan biaya operasional dan pemeliharaan (O&M Cost) terendah, dan bisa digunakan sebagai acuan menghitung nilai beban pengolahan rata-rata (per Kg selisih BOD) yang harus ditanggung lingkungan hidup, dan yang seharusnya dibebankan ke pihak industri/perorangan yang effluentnya tidak memenuhi baku mutu tersebut. Penghitungan nilai beban lingkungan hidup menjadi: Tabel 4.2 Penghitungan Nilai Beban Lingkungan Hidup INVESTASI NILAI DEPRESIASI/Tahun
a.SDM Rp. 3.387 juta Rp. 113 juta
b.Mechanical & Electrical Rp. 6.413 juta Rp. 641 juta TOTAL Rp. 9.800 juta Rp. 754 juta Biaya operasional dan pemeliharaan per tahun dengan menggunakan Alternatif IV = Rp. 1.500 juta. Jadi, nilai beban lingkungan rata-rata (per Kg selisih BOD) = (Total Nilai Depresiasi/Tahun + O&M Cost/year) 365 x 7.000 M 3 x (387,98 – 90)/1000 Kg/M 3 Rp. (754 + 1.500) juta 365 x 7.000 M 3 x (387,98 – 90)/1000 Kg/M 3 = = 33 Sehingga, apabila digunakan penghitungan mundur beberapa tahun lalu secara langsung (berdasar nilai sekarang, tanpa pertimbangan bunga bank), maka nilai kerugian akibat tidak dilaksanakan kewajiban pengolahan limbah akan terakumulasi menjadi: Tabel 4.3 Nilai Kerugian Lingkungan Hidup Akumulasi Pembuangan Limbah ke Lingkungan Hidup pada Masa Sebelumnya Nilai Kerugian (Rp./Kg BOD) Jumlah Beban (Kg BOD/ Tahun) Rata-rata Akumulasi Kerugian Akibat Tidak Dilaksanakannya Pengolahan Limbah (Rp. juta) Sampai dengan 1 tahun yang lalu 2.960 761.339 2.254 2 tahun lalu 2.960 761.339 4.508 3 tahun lalu 2.960 761.339 6.762 4 tahun lalu 2.960 761.339 9.016 5 tahun lalu 2.960 761.339 11.270 6 tahun lalu 2.960 761.339 13.524 7 tahun lalu 2.960 761.339 15.778 8 tahun lalu 2.960 761.339 18.032 9 tahun lalu 2.960 761.339 20.286 10 tahun lalu 2.960 761.339 22.540 dst. (Jumlah kerugian ini akan bertambah besar bila diikuti terjadinya kerugian lingkungan hidup dan/atau kerugian masyarakat dan/atau biaya pemulihan). ii. Menggunakan prinsip biaya penuh berbasis Unit Pencemaran. CONTOH 1 untuk ii. Parameter-parameter air limbah yang umum digunakan untuk penghitungan biaya pencemaran dan nilai per unit pencemaran untuk setiap parameter adalah sebagai berikut: Tabel 4.4 Nilai 1 Unit Pencemaran Untuk Berbagai Parameter Limbah Cair Parameter Nilai 1 Unit Pencemaran *) COD 50 Kg TSS 50 Kg Oil & Grease 3 Kg Merkuri (Mercury) 20 g Chromium 500 g Nikel (Nickle) 500 g Timbal (Lead) 500 g Copper 1000 g Cadmium 100 g Pestisida dan Herbisida (Pesticides and Herbicides) 100 g Rp. 2.254 juta 761.339 Kg = Rp. 2.960 per Kg BOD 34 *) Nilai 1 unit pencemaran setiap parameter (belum semua parameter air limbah) ditetapkan para ahli berdasar pertimbangan tingkat bahaya dan level toksisitasnya bila dilepas ke lingkungan hidup. Tabel 4.5 Basis Tarif Per Unit Pencemaran Basis Tarif Per Unit Pencemaran Rp. 24.750 Rekapitulasi Harga Prediksi Investasi dan Biaya Operasional Waste Water Treatment Plant (WWTP) (Menggunakan teknologi CAS – Conventional Activated Sludge) Asumsi 1 $US = Rp. 9.100,- (Turnkey Project, C&F JKT) Tabel 4.6 Rekapitulasi Harga Prediksi Investasi dan Biaya Operasional Waste Water Treatment Plant (WWTP) No. Fasilitas & Alat-alat Pengolah Limbah Cair Nilai ($US)
1.Peralatan mekanik untuk sumur pengumpul 2 unit (Mechanical equipment for pump sump 2 units ) 58,000.00
2.Alat bak pengendap pasir (Sand settling basin equipment) 23,430.00
3.Alat pengaduk bak ekualisasi (Equalization basin mixing equipment) 43,300.00
4.Pompa pengangkat air limbah (Lift pump equipment ) 27,710.00
5.Tangki pendistribusian dan tangki pengukur (Measuring tank and distribution tank equipment) 19,100.00
6.Sistem injeksi bahan nutrisi dan bahan kimia (Chemical & nutrient injection system) 45,000,00
7.Reaktor biologi dan peralatan pelengkapnya (Biorector & equipment) 172,800.00
8.Bak pengendap akhir (Final settling basin equipment) 66,000.00
9.Alat pengonsentrat/unggun pengering lumpur dan mesin pengurang kandungan air (Thickener/drying bed equipment & dewatering machine) 142,000.00
10.Tangki disinfeksi dan peralatan (Desinfection tank & equipments) 23,000.00
11.Peralatan tangki air limbah terolah (Treated water tank equipment) 6,620.00
12.Pompa keluaran pelepas air limbah terolah (Discharge pump equipment) 24,200.00
13.Panel pengendali dan otomatis (Control panel & automatic) 47,600.00
14.Instrumentasi (Instrumentation) 61,100.00
15.Pemipaan dan jaringan kabel listrik internal kawasan IPAL [Piping & wiring (internal net at treatment area)] 118,800.00
16.Pipa transmisi dari sumber-sumber air limbah baku ke IPAL dan IPAL ke sungai (Transmission piping from raw waste resources to WWTP & from WWTP to river) 68,000.00
17.Instalasi (Installation) 78,000.00 18 Pekerjaan konstruksi dan sipil (lokal) Civil & structural works (Local item), Tidak/belum termasuk pekerjaan paku bumi (paku bumi), pilihan pada kedalaman 15 m mungkin dibutuhkan) Excluded Piling Piling (optional item assuming 15 m depth) may be needed. 893,060.00 35
19.Pendamping, uji coba dan pelatihan [Commissioning (Local item)] 16,000.00
20.Dokumentasi dari lokal {(Documentation) (Local item)] 3,000.00
21.Peralatan laboratoriun (pengadaan lokal) [Laboratorium equipments (Local item)] 56,572.00
22.Jalan akses ke areal pengolahan (Acces road to treatment area) - TOTAL 1.993,292.00 Dalam Rp. 18.140 juta Biaya Operasional dan Pemeliharaan (O&M Cost) Ketepatan penghitungan prediksi biaya produksi pengolahan air limbah, antara lain:
a.Jenis/tipe sistem pemroses air limbah yang dipilih dan tingkat teknologi otomatisasinya.
b.Kapasitas IPAL dan pola aliran masuk (resiko fluktuasi beban kejut pengolahan sehari-hari).
c.Biaya total tenaga kerja, jumlah dan tingkat keahlian pengelola dan operator.
d.Lokasi IPAL, menyangkut jarak dan transportasi terhadap pusat-pusat penyuplaian (bahan kimia/nutrient, onderdil mesin, listrik & BBM), dll. Total rekapitulasi biaya pengelolaan (O&M Cost = biaya operasional dan pemeliharaan) untuk keseluruhan sistem (belum termasuk sistem pembuangan akhir limbah padat/sludge, jika ada, misal menggunakan (industrial landfill) per tahun sebagai berikut: 1) Tenaga kerja (1 orang pimpinan departemen/instalasi, 1 orang tenaga ahli proses/teknik kimia, 1 orang ahli mikrobiologi, 1 orang ahli ME, 2 orang ahli lab/laboratorian, 1 orang sekretaris, 6 orang middle staff, 12 orang teknisi/operator): Gaji 1 orang pimpinan : Rp. 6.000.000 X 14 bulan = Rp. 84.000.000 Gaji 3 orang tenaga ahli : Rp. 4.500.000 X 14 bulan x 3 = Rp. 189.000.000 Gaji 2 orang laboratorian : Rp. 3.000.000 X 14 bulan x 2 = Rp. 84.000.000 Gaji 1 orang sekretaris : Rp. 2.000.000 X 14 bulan = Rp. 28.000.000 Gaji 6 orang staff : Rp. 2.500.000 X 14 bulan x 6 = Rp. 210.000.000 Gaji 22 orang teknisi : Rp. 1.500.000 X 14 bulan x 22 = Rp. 462.000.000 Sub Total Rp. 1.057.000.000 2) Listrik, Chemical/nutrient dan BBM/Oli, dll. = Rp. 1.883.000.000,- 3) Pemeliharaan Rata-rata = Rp. 660.000.000,- (Semakin bertambah tua usia peralatan WWTP, semakin meningkat biaya repair dan maintenance). TOTAL = Rp. 3.600.000.000,- 36 CONTOH 2 untuk ii Pencemaran Air oleh Industri Tekstil PT. B Data:
1.Baku Mutu Air Limbah untuk Industri Tekstil: Tabel 4.7 Baku Mutu Air Limbah Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-51/MENLH/10/1995 Parameter Kadar Maksimum mg/l Beban Pencemaran Maksimum Tekstil Terpadu Kg/Ton BOD5 85 12,75 COD 250 37,5 TSS 60 9,0 Fenol Total 1,0 0,15 Krom Total (Cr) 2,0 0,30 Minyak dan Lemak 5,0 0,75 pH 6,0 – 9,0 Debit Limbah Maksimum 150 M3/Ton produk tekstil Tabel 4.8. Baku Mutu Air Limbah Berdasarkan Keptusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 10 Tahun 2004 Parameter Kadar Maksimum mg/l Beban Pencemaran Maksimum Tekstil Terpadu Kg/Ton BOD5 60 6 COD 150 15 TSS 50 5 Fenol Total 0,5 0,05 Krom Total (Cr) 1,0 0,10 Amonia Total 8,0 0,80 Minyak dan Lemak 3,0 0,30 pH 6,0 – 9,0 Debit Limbah Maksimum 100 M3/ton produk tekstil
2.Operasional produksi : Tabel 4.9. Operasional Produksi Hari Operasional Dalam Setahun 340 hari Kapasitas Produksi - Ton tekstil/tahun Debit Effluent Limbah Cair ke Lingkungan 75 M3/jam atau 1.800 M3/hari atau 612.000 M3/tahun Tabel 4.10. Unit Pencemaran Parameter Level Pencemaran Aktual *) Beban Pencemaran Netto Tahunan Jumlah Unit Pencemaran COD 1.861 mG/L 581.740 kG 11.635 UP TSS 145 Mg/L 32.300 Kg 646 UP Total 12.281 UP *)Diperoleh dari hasil analisis laboratorium terhadap effluent air limbah (setelah diolah atau belum diolah, dalam kasus ini sudah diolah) yang dibuang ke lingkungan hidup. 37 Beban Pencemaran Netto Tahunan: (Level Pencemaran Aktual – Baku Mutu) x Debit Effluent Limbah Cair Tahunan Jadi, untuk parameter COD, beban pencemaran tahunannya: (1.861 – 150) mg/L x 612.000 m3 = 1.047.132 Kg. Untuk parameter TSS, beban pencemaran tahunannya: (145 – 50) mg/L x 612.000 m3 = 58.140 kG Jumlah Unit Pencemaran (UP): Beban Pencemaran Netto Tahunan, menggunakan: Satuan Unit Pencemaran pada Setiap Parameter Inti Jadi, untuk parameter COD, jumlah unit pencemarannya: 1.047.132 Kg : 50 Kg = 20.943 UP Untuk parameter TSS, jumlah unit pencemarannya: 58.140 Kg : 50 Kg = 1.163 UP Total Unit Pencemaran (UP), untuk 2 parameter COD dan TSS = 22.106 UP (dapat dijumlahkan)
3.Total biaya kerugian lingkungan hidup akibat pencemaran air limbah Tabel 4.11. Total Biaya Kerugian Lingkungan Hidup Akibat Pencemaran Air Limbah Tahun ke 1 s.d Tahun ke 5 Total Unit Pencemaran (UP) 22.106 UP Basis Tarif Per UP Rp. 24.750 Tahun Operasional Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Total Biaya Pencemaran (Rp. juta/tahun) 20% 40% 60% 80% 100% 109 219 328 438 547 Tabel 4.12. Total Biaya Kerugian Lingkungan Hidup Akibat Pencemaran Air Limbah Tahun ke 6 s.d ke 10 Jumlah Unit Pencemaran (UP) 12.106 UP Basis Tarif Per UP Rp. 24.750 Fase Pencemaran Tahun 6 Tahun 7 Tahun 8 Tahun 9 Tahun 10 Total Biaya Pencemaran (Rp. juta/tahun) 100% 100% 100% 100% 100% 547 547 547 547 547 Tabel 4.13. Total Biaya Kerugian Lingkungan Hidup Akibat Pencemaran Air Limbah Tahun ke 11 s.d Tahun ke 15 Jumlah Unit Pencemaran (UP) 12.106 UP Basis Tarif Per UP Rp. 24.750 Fase Pencemaran Tahun 11 Tahun 12 Tahun 13 Tahun 14 Tahun 15 Total Biaya Pencemaran (Rp. juta/tahun) 100% 100% 100% 100% 100% 547 547 547 547 547 38 Tabel 4.14. Total Biaya Kerugian Lingkungan Hidup Akibat Pencemaran Air Limbah Tahun ke 16 s.d Tahun ke 18 Jumlah Unit Pencemaran (UP) 12.106 UP Basis Tarif Per UP Rp. 24.750 Fase Pencemaran Tahun 16 Tahun 17 Tahun 18 Total Biaya Pencemaran (Rp. juta/tahun) 100% 100% 100% 547 547 547 Total kerugian akibat tidak dilaksanakannya kewajiban air limbah = Rp. 8.752 Juta (Jumlah kerugian ini akan bertambah besar bila diikuti terjadinya kerugian lingkungan hidup dan/atau kerugian masyarakat dan/atau biaya pemulihan).
b.Penghitungan kerugian biaya verifikasi dan pengawasan akibat pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup. CONTOH untuk b
1.Penghitungan biaya verifikasi akibat pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup di kota X, adalah sebagai berikut: No. Uraian Kegiatan Biaya Keterangan
1.Tahap Perencanaan:
a.Penggandaan berkas dokumen/izin; b.Biaya komunikasi;
c.Biaya pertemuan untuk melengkapi administrasi sebelum ke lapangan. Rp. 200.000,- Rp. 200.000,- Rp. 10.000.000,- Tergantung banyaknya bahan yang digandakan Mengundang instansi terkait, Ahli, Akomodasi dan konsumsi.
2.Tahap Pelaksanaan:
a.Biaya perjalanan ke lokasi;
b.Biaya ahli;
c.Biaya pengambilan sampel;
d.Biaya hasil analisa laboratorium;
e.Biaya pertemuan untuk mendapatkan nilai kerugian masyarakat, pemerintah dan penyelesaian sengketa. Rp. 20.000.000,- Rp. 2.500.000,- Rp. 5.000.000,- Rp. 10.000.000,- Rp. 30.000.000,- Transport lokal, tiket, lumpsum, airport tax, (tergantung lokasi yang di verifikasi). Honor ahli. 2 staf laboratorium + lumpsum + transport. Parameter yang diuji disesuaikan dengan kasus yang sedang diverifikasi. 3 kali pertemuan, akomodasi, tiket, transportasi lokal.
3.Tahap Evaluasi data dan pembuatan laporan periodik kegiatan verifikasi:
a.Biaya pertemuan dengan ahli dan pemda;
b.Biaya pertemuan dengan perusahaan;
c.Biaya pertemuan dengan pemda, ahli, perusahaan dan masyarakat untuk menyepakati adanya kerugian lingkungan hidupmasyarakat dan pemerintah yang harus dibayarkan oleh perusahaan. Rp. 15.000.000,- Rp. 15.000.000,- Rp. 30.000.000,- Akomodasi dan konsumsi, tiket, transport,. Jumlah Rp. 137.900.000,- 39
2.Penghitungan dan/atau kerusakan lingkungan hidup adalah sebagai berikut: No. Uraian Kegiatan Biaya Keterangan
1.Tahap Perencanaan:
a.Penggandaan berkas hasil verifikasi
b.Biaya komunikasi
c.Biaya pertemuan untuk merencanakan pelaksanaan pengawasan
d.Biaya pertemuan dengan pemda, ahli, perusahaan untuk menyepakati adanya biaya pemantauan lingkungan yang harus dibayarkan oleh perusahaan. Rp. 200.000,- Rp. 200.000,- Rp. 10.000.000,- Rp. 15.000.000,-
2.Tahap Pelaksanaan:
a.Biaya pemantauan pelaksanaan hasil kesepakatan
b.Biaya ahli Rp. 15.000.000 Rp. 100.000.000 Tergantung lokasi kasus Tergantung besarnya kasus yang ditangani
3.Tahap pemantauan hasil pelaksanaan pengawasan:
a.Biaya penggandaan dokumen hasil pengawasan
b.Biaya perjalanan ke lokasi
c.Biaya pertemuan dengan perusahaan. Rp. 500.000 Rp. 10.000.000 Rp. 10.000.000 Jumlah Rp. 260.900.000 Biaya verifikasi dan pengawasan akibat pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup = Rp. 137.900.000,- + Rp. 260.900.000 = Rp. 398.800.000
2.Pencemaran udara
a.Menggunakan metode penghitungan biaya riil dan prinsip biaya penuh. 1) Penghitungan kerugian lingkungan hidup akibat pencemaran udara dengan menggunakan penghitungan biaya riil. Teknologi yang dipilih : Wet Scrubber, menggunakan IPAL sebagai sarana daur ulang air untuk sprayer/nozzles. Tabel 4.15. Penghitungan Biaya Penyusutan/Depresiasi IPAL No. Investasi Unit Price (Rp.) Jumlah Unit Total (Rp.) Depresiasi/ Amortisasi **
1.Wet Scrubber Tank, SS* 190.000.000 1 190.000.000 19.000.000
2.Blower, Coupling Type 30.000.000 1 30.000.000 6.000.000 - Motor Cadangan 5.000.000 1 5.000.000 1.000.000
3.Ducting & Cerobong 126.000.000 Ls 126.000.000 25.200.000
4.Pompa Sirkulasi, Nozzle 6.000.000 4 24.000.000 4.800.000
5.Piping, fitting & valve 4.000.000 Ls 4,000.000 800.000
6.Sumur Bor : 30-40 meter 3.000.000 2 6.000.000 1.200.000
7.- Jet pump + pump house 3.500.000 2 7.000.000 1.400.000
8.IPAL daur ulang air 150.000.000 1 150.000.000 15.000.000 40
9.TPS sludge B3 20.000.000 1 20.000.000 2.000.000 Subtotal 562.000.000
10.Design & Engineering 84.300.000 8.430.000 Total Depresiasi/Tahunan 84.830.000 *) SS = bahan stainless steel, termasuk biaya pondasi & civil work **) Asumsi lifetime : untuk wet scrubber = 10 th ; blower & motor = 5 th ; ducting & cerobong = 5th ; pompa sirkulasi, nozzle = 5th ; piping, fitting & valve = 5 th ; pompa & sumur bor = 5 th ; IPAL daur ulang untuk air wet scrubber = 10 th ; bangunan TPS (tempat penyimpanan sementara) sludge B3 = 10 th ; amortisasi design & engineering = 10 th. Tabel 4.16 Basis Hitungan: Biaya Total Operasional per m3 emisi udara
1.Basis kegiatan operasional wet scrubber = 8 jam/hari (5 hari/minggu)
2.Jumlah emisi udara yang diolah harian = 8 jam x 3.000 M3 = 24.000 M3
3.Kebutuhan Listrik: (blower + seluruh pompa + IPAL daur ulang untuk wet scrubber = (7.500 + 2.000 + 1.200) watt = 10.000 watt
4.Harga listrik Maret 2011 untuk industri = Rp. 730 per kWh
5.Biaya listrik untuk pengolahan per M3 emisi udara = (8 x 10.000) = 80 x harga listrik industri/kWh = Rp. 58.400
6.Biaya listrik untuk pengolahan per M3 emisi udara = Rp. 58.400/24.000 = Rp. 2,43
7.Biaya pemeliharaan tahunan, 5% investasi peralatan = 5% x Rp. 562.000.000 = Rp. 28.100.000
8.Biaya pemeliharaan harian = Rp. 28.100.000/260 (hari kerja per tahun) = Rp. 108.077
9.Biaya pemeliharaan untuk pengolahan per M3 emisi udara = Rp. 108.077/24.000 = Rp. 4,50
10.Kebutuhan bahan kimia = 1,2 Kg/hari
11.Harga bahan kimia/Kg = Rp. 30.000
12.Biaya bahan kimia/hari = 1,2 x Rp. 30.000 = Rp. 36.000
13.Biaya bahan kimia untuk pengolahan per M3 emisi udara = Rp. 26.000/24.000 = Rp. 1,08
14.Tenaga Kerja untuk Wet Scrubber dan IPAL = 2 orang (1 orang teknisi dan 1 orang asisten
15.Biaya tenaga kerja bulanan = 1 x 2.500.000 + 1 x 1.500.000 = Rp. 4.000.000
16.Biaya tenaga kerja harian = Rp. 4.000.000/22 hari kerja/bulan = Rp. 182.000
16.Biaya tenaga kerja untuk pengolahan per M3 emisi udara = Rp. 182.000/24.000 = Rp. 7,58
17.Jumlah sludge B3 yang dihasilkan/hari = 5 Kg
18.Biaya secure landfill per Ton sludge B3 = Rp. 2.000.000 (tergantung jenis limbah B3 dan biaya transportasi).
19.Biaya secure landfill harian = 5/1.000 x Rp. 2.000.000 = Rp. 10.000
20.Biaya secure landfill untuk pengolahan per M3 emisi udara = 5/1.000 x Rp. 2.000.000/24.000 = Rp. 0,42
21.Biaya penyusutan/depresiasi/tahunan = Rp. 84.830.000
22.Biaya penyusutan/depresiasi/harian = Rp. 84.830.000/260 hari kerja/tahun = Rp. 326.269
23.Biaya penyusutan/depresiasi untuk pengolahan per M3 emisi udara = Rp. 326.269/24.000 = Rp. 13,59
24.Biaya Total Operasional untuk = Biaya listrik + biaya = Rp. 29,60 41 pengolahan per M3 emisi udara pemeliharaan + biaya bahan kimia + biaya tenaga kerja + biaya secure landfill + biaya penyusutan/depresiasi = Rp (2,43 + 4,50 + 1,08 +7,58 + 0,42 + 13,59)
25.Biaya total operasional tahunan untuk pengolahan emisi udara = Rp. 29,60 x 24.000 x 260 = Rp. 184.704.000 Jadi, bila industri tersebut tidak melakukan pengolahan emisi udara (wan prestasi) selama 2 tahun, maka jumlah kerugian atas wan prestasi = 2 x Rp. 184.704.000,- = Rp. 369.408.000,- (Jumlah kerugian ini akan bertambah besar bila diikuti terjadinya kerugian lingkungan dan/atau kerugian masyarakat dan/atau biaya pemulihan).
b.Menggunakan prinsip biaya penuh berbasis unit pencemaran: Sebagai studi kasus, estimasi biaya pencemaran emisi udara/gas pembakaran bagase (sebagai sumber energi industri gula) yang cukup dikenal di Indonesia berikut diharapkan bisa memperjelas cara dan teknik penghitungan biaya pencemaran yang harus dibayar pihak pencemar: Hasil Survey Pengukuran dan Analisis Laboratorium: Data jumlah emisi udara: Tabel 4.17. Jumlah Emisi Udara Bahan Bakar Konsumsi (kg/Tahun), misal: Ekses Udara (%), misal: Emisi Udara (M3/tahun), misal: Bagase 495.000.000 30 1.854.646.438 BBM - - - Hasil analisis laboratorium emisi udara: Tabel 4.18. Hasil Laboratorium Emisi Udara Parameter Kunci Level Pencemaran Aktual (mg/M3) CO 1.600 NOx 160 Sox - PM 6.700 Tabel 4.19. Basis Tarif Per Unit Pencemaran dan Prediksi Tahapan Kapasitas Produksi Basis Tarif Per Unit Pencemaran Rp. 24.750 Tahun Aktivitas Produksi (Tentative) Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Prediksi Tahapan Kapasitas Produksi 20% 40% 60% 80% 100% 42 Data Baku Mutu: Tabel 4.20. Baku Mutu Emisi Untuk Jenis Kegiatan Lain (termasuk emisi industri gula): Parameter Batas Maksimum (mg/M3) NON-LOGAM :
1.Ammonia (NH3) 0,5
2.Gas Khlorin (Cl2) 10
3.Hidrogen Khlorida (HCl) 5
4.Hidrogen Fluorida (HF) 10
5.Nitrogen Oksida (NO2) 400
6.Opasitas 35%
7.Partikel (PM) 350
8.Sulfur Dioksida (SO2) 400
9.Total Sulfur Tereduksi (H2S) 35
10.Carbon Monoksida (CO) 800 LOGAM :
10.Air Raksa (Hg) 5
11.Arsen (As) 8
12.Antimon (Sb) 8
13.Kadmium (Cd) 8
14.Seng (Zn) 50
15.Timah Hitam (Pb) 12 Penghitungan Biaya Akibat tidak dilakukannya Pengolahan Emisi: Tabel 4.21 Jumlah Emisi Udara/Gas yang Dilepas (Berdasar Data & Hasil Pengukuran) Bahan Bakar Konsumsi (Kg/Tahun), misal : Ekses Udara (%), misal : Emisi Udara (Ukur) (M3/tahun) Bagase 495.000.000 30 1.854.646.438 BBM - - - Tabel 4.22 Jumlah Unit Pencemaran Parameter Level Pencemaran Aktual (mg/m3) Baku Mutu Emisi (mg/m3) Konsentrasi Netto Emisi (mg/m3) Beban Pencemaran Netto Tahunan (kg) Jumlah Unit Pencemaran (UP) CO 1.600 800 800 1.483.717 3. 709 NOx 160 400 Nil Nil Nil SOx Nil 400 Nil Nil Nil PM 6.700 350 6.350 11.777.005 47.108 Total 47.108 Tabel 4.23. Total Biaya Pencemaran Jumlah Unit Pencemaran (UP) 47.108 UP Basis Tarif Per UP Rp. 24.750 Tahun Aktivitas Produksi (Tentative) Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Prediksi Tahapan Perkembangan Kapasitas Produksi 20% 40% 60% 80% 100% Total Biaya Kerugian (Rp. juta/tahun) 233,2 466,4 699,6 932,7 1.165,9 Jadi, bila industri tersebut tidak melakukan pengolahan emisi udara (wan prestasi) selama 5 tahun pertama, maka jumlah kerugian atas wan prestasi = Rp. (233,2 + 466,4 + 699,6 + 932,7 + 1.165,9) juta = Rp. 3.497.800.000,- 43 (Jumlah kerugian ini akan bertambah besar bila diikuti terjadinya kerugian lingkungan hidup dan/atau kerugian masyarakat dan/atau biaya pemulihan). Bila, seandainya dari tahun ke-1 s/d ke-5, industri tersebut melakukan pengolahan emisi udara (menggunakan IPPU) dengan baik sehingga memenuhi kriteria baku mutu udara, namun pada tahun ke-6 terjadi kerusakan berat pada alat IPPU (sehingga tidak lagi berfungsi) dan perusahaan tak pernah lagi memperbaikinya hingga saat ini (misal tahun ke-9 akhir), maka jumlah kerugian atas kelalaian antara tahun ke-6 s/d ke-9 akhir (4 tahun) = Rp. (4 x 1.165,9) juta = Rp. 4.663.600.000,-
3.Pencemaran air laut CONTOH 1: Penghitungan kerugian lingkungan hidup akibat kecelakaan kapal tanker
a.Aplikasi perubahan kesejahteraan konsumen Dalam kondisi pesisir sebelum terjadi pencemaran sebanyak 200 rumah tangga (RT) di Desa G yang berada disekitar pesisir membeli ikan per kg sebesar Rp. 5.000 dengan keinginan membayar maksimum sebesar Rp. 10.000/ Kg /RT. Pada tingkat harga tersebut rumah tangga mampu membeli sebanyak 10 Kg/minggu/RT atau 40 Kg/bulan/RT. Namun setelah terjadi tumpahan minyak oleh sebuah kapal tangker, mengakibatkan tangkapan nelayan di Desa G berkurang. Hal ini berdampak pada kenaikan harga ikan rata-rata dipasar menjadi Rp. 7.500/Kg. Pada tingkat harga ini setiap RT rata- rata hanya mampu membeli sebanyak 3 Kg/minggu atau 12 Kg/bulan. Dari Kasus di atas, hitunglah kerugian yang ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan X, akibat terjadinya perusakan terhadap Sei. Manau. Data: No. Uraian Keterangan
1.Jumlah RT Desa G : 200 KK
2.Maksimu, keingian membayar (WP) : Rp. 10.000/Kg
3.Harga sebelum sungai rusak (Po) : Rp. 5.000/Kg
4.Jumlah setelah sungai rusak (P1) : Rp. 7.500/Kg
5.Jumlah ikan yang dikonsumsi setelah Sei Manau rusak (Q1) : 12 Kg/bulan
6.Tingkat keparahan dampak (1) : 80% Sko = 0,5 x RT x Po x Qo Sko = Rp. 20.000.000/bulan SK1 = 0,5 x RT x P1 x Q1 SK1 = Rp. 9.000.000.000/bulan Perubahan SK = Sko – SK1 Perubahan SK = Rp. 11.000.000.000/bulan Nilai Kerugian = Perubahan SK x Tingkat keparahan dampak Nilai Kerugian = Rp. 8.800.000/bulan Jadi kerugian yang ditimbulkan akibat pencemaran air laut oleh tumpahan minyak adalah Rp 8,8 juta/bulan. 44
b.Aplikasi perubahan kesejahteraan produsen 1 Jumlah rumah tangga nelayan (RT) = 1.000 RTN
2.Hasil Tangkapan Ikan (Qo) = 200 Kg/RTN/Hari
3.Harga Ikan (Po) = Rp. 1.000/Kg
4.Biaya Penangkapan (Co) = Rp. 500/Kg/RT
5.Total Hari Melaut (Hari) = 20 Hari/bulan Dimisalkan daerah pesisir mengalami pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup dengan data sebagai berikut: 1 Hasil Tangkapan Ikan (Q1) = 100 Kg/RTN/Hari
2.Harga Ikan (P1) = Rp. 1.000/Kg
3.Biaya Penangkapan (semakin mahal) (C1) = Rp. 800/Kg/RT
4.Total hari melaut (tetap) (hari) = 20 Hari/Bulan
5.Tingkat Keparahan Dampak = 70% Kesejahteraan Produsen sebelum pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup:
1.Total Penerimaan = RT x Qo x Po x Hari Melaut
2.Total Penerimaan = Rp. 4.000.000.000/bulan
4.Total Biaya = RT x Qo x Co x Hari Melaut
5.Total Biaya = Rp. 2.000.000.000/bulan
1.Kesejahteraan Produsen = Total Penerimaan – Total Biaya
2.Kesejahteraan Produsen = Rp.2.000.000.000/Bulan Kesejahteraan Produsen setelah pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup:
1.Total penerimaan = RT x Q1 x P1 x Hari Melaut
2.Total penerimaan = Rp. 1.600.000.000/Bulan
3.Kesejahteraan Produsen = Total penerimaan – Total Biaya
4.Kesejahteraan Produsen = Rp. 400.000.000/Bulan
5.Perubahan Kesejahteraan Produsen = Kesejahteraan Produsen sebelum pencemaran– Kesejahteraan setelah pencemaran.
6.Perubahan Kesejahteraan Produsen = Rp. 1.600.000.000/Bulan Nilai Kerugian = Perubahan Kesejahteraan produsen x tingkat keparahan dampak = Rp. 1.120.000.000,00/bulan Nilai Kerugian = Rp. 1.120.000.000,00/bulan Dengan demikian nilai kerugian akibat terjadinya pencemaran diestimasi sebesar Rp. 1,12 milyar per bulan.
c.Aplikasi pendekatan produktivitas Kerugian yang dialami masyarakat akibat pencemaran air laut. Asumsi yang digunakan: 1) Estimasi kerugian masyarakat karena turunnya produktivitas tambak udang windu a). Produksi udang rata-rata (sebelum tercemar)= 2 ton/bulan/tahun b). Produksi udang rata-rata (setelah tercemar)= 0,74 ton/ha/bulan c). Dengan demikian terjadi penurunan produktivitas = 1,26 ton/ha/bulan 2) Harga udang pada saat penelitian adalah (Rp.9.500/Kg) 3) Luas areal tambak yang tercemar 400 ha 45 4) Lama waktu pemulihan = 2 tahun 5) Tingkat keparahan dampak = 80% a). Produksi Udang (a) Produksi rata-rata (sebelum tercemar) (kg/ha/bulan): 2.000,000 (b) Produksi rata-rata (setelah tercemar) (kg/ha/bulan): 740,000 (c) Penurunan produktivitas (kg/ha/bulan) : 1.260,000 b). Penerimaan (harga udang @Rp. 9500)/ha/bulan = Penurunan Produktivitas x harga udang Penerimaan (harga udang @Rp. 9500) Rp/ha/bulan = 11.970.000.000 c). Biaya produksi Rp/ha/bulan : 5.760.000.000 d). Laba kotor Rp/ha/bulan = Penerimaan – Biaya Produksi e). Laba kotor Rp/ha/bulan = 6.210.000,000 Luas Lahan (ha) : 400.000 Nilai kerugian (Rp/bulan) = Laba Kotor x Luas lahan x Tingkat Dampak Nilai Kerugian (Rp/bulan) = 1.987.200.000.000
d.Aplikasi pendekatan biaya pengganti Berikut ini adalah kasus Hipotetik Perusakan Hutan Mangrove. Kawasan hutan mangrove di Pesisir Kota T diyakini memiliki peranan strategis dalam rangka pembangunan berkelanjutan terutama bagi penduduk disekitar kawasan ini. Sayangnya, struktur dan fungsi kawasan hutan mangrove ini mengalami pencemaran akibat tumpahan minyak oleh sebuah kapal tangker. Fungsi ekologi kawasan pesisir hutan mangrove ini yang utama salah satunya adalah tempat bertelurnya sumberdaya perikanan seperti ikan, kepiting dan udang (nursery ground). Diperkirakan untuk dapat pulih dan berfungsi kembali, kawasan ini memerlukan waktu selama 10 tahun. 1) Tempat reproduksi sumberdaya perikanan Asumsi yang digunakan: Kerugian pencemaran dan/atau kerusakan mangrove sebagai tempat reproduksi perikanan di dekati dengan pembangunan rumpon: a). Biaya pembangunan rumpon = Rp. 1 milyar /km b). Panjang pantai ekosistem mangrove 7 km Biaya Pembuatan (Rp/km) = 1.000.000.000,00 Panjang garis pantai (km) = 7,00 Total biaya (Rp) = Biaya pembuatan x panjang pantai Total biaya (Rp) = 7.000.000.000,00 Tingkat Keparahan dampak = 70 % Nilai Kerugian (Rp/tahun) = Total biaya x Tingkat keparahan dampak Nilai Kerugian (Rp/tahun) = 4.900.000.000,00 46 Perhitungan NPV Tahun ke Nilai Parsial 1 4.900.000.000 2 4.900.000.000 3 4.900.000.000 4 4.900.000.000 5 4.900.000.000 6 4.900.000.000
7.4.900.000.000
8.4.900.000.000
9.4.900.000.000
10.4.900.000.000 NPV selama 10 tahun 26.588.593.032,17 Jadi, nilai ganti rugi selama 10 tahun yang dihitung dengan NPV, dengan suku bunga 13 % adalah Rp. 26.588.593.032,17
e.Aplikasi pendekatan biaya perjalanan Misalnya hutan mangrove sebagai obyek wisata, tercemar akibat adanya kecelakaan sebuah kapal tangker. Dari hasil investigasi yang dilakukan diperoleh data sebagai berikut:
1.Rata-rata pengunjung sebelum pencemaran : 1.000/minggu
2.Rata-rata pengunjung setelah pencemaran : 300/minggu
3.Lama wisatawan menginap : 3 hari
4.Tarif Kamar : Rp. 300.000/malam/wisatawan
5.Jarak hotel dengan lokasi mangrove : 75 km
6.Biaya transportasi (pp) : Rp. 700.000
7.Lama Perjalanan : 2 jam
8.Pengeluaran selama di lokasi wisata : Rp. 500.000
9.Lamanya pencemaran : 3 bulan atau 12 minggu Jawab: 1) Penurunan jumlah pengunjung : 700 wisatawan/minggu 2) Biaya penginapan/hotel: Rp. 900.000/wisatawan 3) Biaya transportasi: Rp. 700.000/wisatawan 4) Pengeluaran selama dilokasi wisata: Rp. 500.000/wisatawan Jumlah kerugian setiap minggunya = Jumlah pengunjung x (Biaya penginapan + Biaya transportasi + pengeluaran selama dilokasi wisata) Jumlah kerugian setiap minggunya = Rp.1.470.000.000 Total kerugian selama terjadi pencemaran = jumlah kerugian setiap minggu x lamanya pencemaran. Total kerugian selama terjadi pencemaran = Rp. 17.640.000.000 CONTOH 2: Penghitungan kerugian lingkungan hidup akibat pencemaran air laut Perhitungan ganti rugi untuk pencemaran air laut memang sangat kompleks. Hal ini disebabkan beberapa hal menyangkut banyak jenis pencemaran yang terjadi pada air laut seperti:
a.Tumpahan minyak;
b.Nutrient; 47
c.Bahan kimia organik sintetik;
d.Logam berat;
e.Panas;
f.Sedimen;
g.Masuknya spesies baru. Jika perhitungan kerugian dilakukan untuk setiap jenis pencemaran tentu memerlukan perhitungan yang lebih rumit dan kompleks karena memerlukan data pendukung yang sangat kompleks. Dalam kasus ini diberikan contoh kasus tumpahan minyak yang sering dianggap mewakili jenis pencemaran air laut karena mengandung berbagai komponen yang terjadi baik kimia, biologi dan dampak ekosistem. Banyak metode yang digunakan untuk menghitung kerugian perairan laut akibat tumpahan minyak, namun yang sering digunakan adalah perhitungan berbasis IMO dan CERCLA. Formula perhitungan kerugian pencemaran akibat pencemaran didasarkan dengan menggunakan formula Etkin (2004) didasarkan pada tiga komponen yakni:
a.Biaya respon tumpahan;
b.Biaya kerusakan sosial ekonomi;
c.Biaya kerusakan lingkungan. Biaya respon tumpahan di dasarkan pada formula: Total Response cost = per-gallon response cost x medium modifier x jumlah tumpahan Biaya kerusakan sosial ekonomi didasarkan pada formula: Total Social economic Cost = per-gallon socio-economic cost x socio economic modifier x jumlah tumpahan Sementara biaya kerusakan lingkungan dihitung dengan: Total Environmental Damage Cost = per-gallon environmental cost x 0.5 (freshwater modifier + wildlife modifier) x jumlah tumpahan. Tabel modifier yang digunakan sebagai referensi disajikan berikut ini: Contoh, di suatu daerah terjadi tumpahan minyak (crude oil) sebesar 750 gallon maka komponen kerugian terdiri dari: Biaya spill response = US $ 385 x 1 x 750 = US$ 288750 (asumsi 10% pengurangan secara mekanik) Biaya sosial ekonomi = US$ 300 x 0.75 x 750 = US $ 168750 (asumsi dampak moderate) Biaya lingkungan = US$ 80 x (0.7(0.4)+0.3(1.7)) x 750 =US$ 47400 (asumsi jika perairan digunakan untuk industri (70%) dan wildlife (30%) (lihat table multiple) Total biaya kerugian = US$ 504900 48 Table 4.24: Biaya per galon tumpahan minyak (Per-Gallon Oil Spill Response Costs) Volume (gallons) Mekanik (Machanical)2,4 Dispersan3,4 (Dispersants) Kebakaran In-Situ (In- Situ Burn5) 0% 10% 20% 50% Low High 50% 80% <500 $100 $85 $70 $57 $36 $25 $26 $13 500-1,000 $98 $83 $68 $55 $35 $24 $25 $12 1,000 - 10,000 $97 $82 $67 $54 $34 $23 $24 $11 10,000- 100,000 $87 $72 $59 $41 $26 $18 $18 $9 100,000- 1,000,000 $74 $62 $49 $26 $17 $10 $10 $5 >1,000,000 $31 $26 $17 $12 $11 $6 $7 $3 <500 $440 $386 $335 $310 $140 $89 $125 $64 500-1,000 $438 $385 $334 $309 $139 $88 $124 $63 1,000 - 10,000 $436 $384 $333 $308 $138 $87 $123 $62 10,000- 100,000 $410 $359 $308 $267 $103 $62 $103 $51 100,000- 1,000,000 $179 $154 $128 $103 $59 $54 $72 $41 >1,000,000 $87 $77 $67 $36 $53 $49 $56 $26 <500 $110 $199 $189 $153 $85 $53 $75 $48 500-1,000 $218 $197 $187 $151 $84 $52 $74 $47 1,000 - 10,000 $215 $195 $1$5 $149 $$2 $51 $72 $46 10,000- 100,000 $195 $185 $174 $138 $74 $31 $62 $31 100,000- 1,000,000 $123 $118 $113 $92 $49 $29 $36 $16 >1,000,000 $92 $82 $76 $64 $58 $13 $22 $11 <500 -- $103 -- -- -- -- -- -- 500-1,000 -- $102 -- -- -- -- -- -- 1,000 - 10,000 -- $100 -- -- -- -- -- -- 10,000- 100,000 -- $55 -- -- -- -- -- -- 100,000- 1,000,000 -- $23 -- -- -- -- -- -- >1,000,000 -- $7 -- -- -- -- -- -- Table 4.25: Basis Perhitungan biaya sosio-ekonomi per gallon tumpahan minyak (Socioeconomic Base Per-Gallon Costs For Use) Tipe Minyak (Oil Type) Volume (gallons) Biaya dasar (Base Cost) ($/gallon) Biaya sosial-ekonomi (Socioeconomic) Biaya Lingkungan (Environmental) Hasil destilasi yang mudah menguap (Volatile Distillates2) <500 $65 $4$ 500-1,000 $265 $45 1,000 - 10,000 $400 $35 10,000-100,000 $180 $30 100,000-1,000,000 $90 $15 >1,000,000 $70 $10 Minyak Ringan (Light Fuels3) <500 $80 $85 500-1,000 $330 $80 1,000 - 10,000 $500 $70 10,000-100,000 $200 $65 100,000-1,000,000 $100 $30 >1,000,000 $90 $25 Minyak Berat (Heavy Oils4) <500 $150 $95 500-1,000 $600 $90 1,000 - 10,000 $900 $$5 10,000-100,000 $500 $75 100,000-1,000,000 $200 $40 >1,000,000 $175 $35 Minyak Mentah (Crudes5) <500 $50 $90 500-1,000 $200 $$7 1,000 - 10,000 $300 $80 10,000-100,000 $140 $73 100,000-1,000,000 $70 $35 >1,000,000 $60 $30 49 Table 4.26: Biaya lingkungan per gallon dalam perhitungan model tumpahan minyak (Environmental Base Pet--Gallon Costs For Use in Basic Oil Spill Cost Estimation)Model1 Tipe Minyak (Oil Type) Volume (gallons) Biaya Lingkungan dasar (Base Environmental Cost) ($/gallon) Hasil destilasi yang mudah menguap (Volatile Distillates2) <500 $48 500-1,000 $45 1,000 - 10,000 $35 10,000-100,000 $30 100,000-1,000,000 $15 >1,000,000 $10 Minyak Ringan (Light Fuels3) <500 $85 500-1,000 $80 1,000 - 10,000 $70 10,000-100,000 $65 100,000-1,000,000 $30 >1,000,000 $25 Minyak Berat (Heavy Oils4) <500 $95 500-1,000 $90 1,000 - 10,000 $85 10,000-100,000 $75 100,000-1,000,000 $40 >1,000,000 $35 Minyak Mentah (Crudes5) <500 $90 500-1,000 $90 1,000 - 10,000 $30 10,000-100,000 $73 100,000-1,000,000 $35 >1,000,000 $30 Table 4.27: Koefisien biaya tanggap untuk kategori lokasi sedang (Response Cost Modifiers for Location Medium Type Categories1) Ktaegory Nilai koefisien biaya (Cost Modifier Value2) Perairan terbuka/pantai (Open Water/Shore*) 1.0 Tanah/pasir (Soil/Sand) 0.6 Bebatuan (Pavement/Rock) 0.5 Lahan basah (Wetland) 1.6 Lahan berlumpur (Mudflat) 1.4 Padang rumput (Grassland) 0.7 Hutan (Forest) 0.8 Taiga (Taiga) 0.9 Tundra 1.3 1 Kategori ini didasarkan pada kecenderungan penyebaran atau penetrasi tumpahan minyak pada daerah yang sensitive terkena dampak. (Category in Table 4.27 based on tendency for on spread or deep penetration in area sensitive to impact of response equipment/personnel (higher value). *(Default value). Table 4.28: Ranking sosial ekonomi dan nilai budaya (Socioeconomic & Cultural Value Rankings1) Deskripsi lokasi dampak tumpahan (Spill Impact Site(s) Description Contoh (Examples) Nilai koefisien biaya (Cost Modifier) Value Didominasi oleh daerah dengan nilai sosial ekonomi yang tinggi yang secara potensial atau berdasarkan pengalaman memiliki derajat dampak jangka panjang akibat tumpahan minyak. Perikanan subsisten dan komersial, daerah budidaya ikan 2.0 Didominasi oleh daerah dengan nilai sosial ekonomi yang tinggi yang secara potensial mengalami dampak jangka panjang akibat tumpahan minyak. Daerah wisata, perikanan, rekreasi, perternakan. 1.7 50 Didominasi oleh daerah dengan nilai sosial ekonomi yang sedang yang secara potensial mengalami dampak jangka panjang akibat tumpahan minyak Taman nasional untuk ekowisata/ pemandangan: daerah bersejarah 1.0 Didominasi oleh daerah dengan nilai sosial ekonomi yang sedang yang secara potensial mengalami dampak jangka pendek akibat tumpahan minyak. Daerah pemukiman: Taman kota, jalan raya. 0.7* Didominasi oleh daerah dengan nilai sosial ekonomi yang kecil yang secara potensial mengalami dampak jangka pendek akibat tumpahan minyak. Daerah industri rngan: zona perdagangan, wilayah kota 0.3 Didominasi oleh daerah yang sudah tercemar secara moderat dan berat atau terkontaminasi atau sedikit pengaruh sosial ekonomi dan budaya yang akan mengalami dampak kecil bila terkena tumpahan minyak. Daerah industri berat: tempat pembuangan akhir. 0.1 Table 4.29: Kategori kerentanan perairan tawar (Freshwater Vulnerability Categories) Kategori Nilai koefisien biaya (Cost Modifier Value) Alamiah (Wildlife Use) 1.7 Digunakan untuk air minum (Drinking) 1.6 Digunakan untuk rekreasi (Recreation) 1.0 Digunakan untuk industri (Industrial 0.4 Bahan baku air minum/rekreasi (Tributaries to Drinking/Recreation) 1.2 Tidak terinci (Non-Specific*) 0.9 Cara lain untuk menghitung kerugian tumpahan minyak adalah dengan menggunakan Benefit Transfer dengan menggunakan data kerugian yang telah dihitung oleh dimana jumlah kerugian untuk berbagai komponen ditampilkan pada Tabel berikut: Tabel 4.30 Jumlah Kerugian untuk berbagai komponen Kategori 15% mempengaruhi daerah pasut (15% mempengaruhi daerah pasut) 25% mempengaruhi daerah pasut (25% mempengaruhi daerah pasut) Habitat US$ 5 3939 5050 US$5 643 140 Perikanan tangkap US$ 15 665 931 US$ 15 665 931 Penyu US$ 10 718 795 US$ 10 718 795 Burung-burung laut (Marine birds) US$ 9 482 011 US$ 9 482 011 Rekreasi US$ 7 420 704 US$ 7 420 704 Total US$ 48 680 946 US$ 48 930 581
4.Pencemaran tanah CONTOH: Penghitungan kerugian akibat pembuangan limbah padat:
a.Tidak dilaksanakannya kewajiban pengelolaan limbah B3 Pabrik E, memiliki 2 jenis limbah padat berkategori limbah B3, yakni: sludge dari IPAL dan ash (fly & bottom ash) yang berasal dari boiler. Berdasar penjelasan penanggung jawab Pabrik E jumlah sludge rata- rata yang dihasilkan IPAL per bulan 30 ton, sedangkan ash 240 ton (jumlah ini perlu dicek berdasar neraca massa). Permasalahan: Pabrik E selama 2 tahun terakhir ini diketahui tidak mengelola limbah B3 dengan baik. Sejumlah limbah B3 lebih dari 3 bulan masih tersimpan di TPS (yang berkapasitas penyimpanan sementara total 51 1500 ton), sebagian besar lagi limbah limbah B3 tersebut ditimbun secara terbuka di halaman belakang pabrik. Hasil pulbaket PPNS BPLHD setempat diperoleh informasi dan data kalkulasi sebagai berikut: Akumulasi Limbah B3 Selama 2 Tahun Sludge IPAL Ash – Batubara Jumlah Ton Limbah B3 Total, selama 2 tahun 720 5760 Jumlah Ton Limbah B3 yang Disimpan di TPS 350 1150 Jumlah Ton Limbah B3 yang Ditimbun Terbuka 370 4610 Penghitungan Kerugian Lingkungan: Limbah B3 yang disimpan di TPS berizin selama 2 tahun (melebihi waktu tenggang 3 bulan) tentu saja melanggar peraturan. Bentuk sanksi administratif dan/atau jumlah dendanya ditentukan oleh BLH/BPLHD setempat atau KLH (tidak dimasukkan dalam contoh perhitungan ini). Sedangkan jumlah kerugian lingkungan akibat penimbunan terbuka limbah B3 dapat dirinci sebagai berikut: Penghitungan Total Kerugian Sludge IPAL Ash - Batubara Jumlah Ton Limbah B3 yang Ditimbun Terbuka 370 4610 Prediksi Ton Limbah B3 Tersisa di Penimbunan Terbuka Setelah 2 tahun 110 1300 Jumlah Ton Limbah B3 yang terlepas atau hilang ke Lingkungan 260 3310 I. KERUGIAN AKIBAT TIDAK MEMENUHI KEWAJIBAN PENGOLAH: Alternatif 1, menggunakan data jumlah limbah B3 yang terlepas atau hilang dikalikan dengan biaya pengelolaan limbah B3 oleh pihak ke-3 berizin. Misal: biaya pengelolaan limbah B3 sludge IPAL di daerah tersebut = Rp. 500.000 per ton dan limbah B3 ash-batubara = Rp. 60.000 per ton. Subtotal 260 x Rp. 500.000 = Rp. 130.000.000,- 3310 x Rp. 60.000 = Rp 198.600.000,- Rp. 328.600.000,- Alternatif 2, menggunakan data curah hujan dan run-off water yang berpotensi membentuk air lindi selama gabungan 2 jenis limbah B3 tersebut ditimbun di tempat terbuka di luas wilayah tertentu. Misal: jumlah air hujan di luas wilayah kontak tertentu (1,5 ha, tergantung bentuk dan kondisi lahan) dan menjadi air lindi = 127500 M3. Berasal dari data curah hujan total selama 2 tahun setempat = 8500 mm yang terkontak limbah B3 dalam kurun waktu efektif (24 – 5,6) bulan, yakni 2 tahun dikurangi kemampuan waktu simpan maksimal TPS. Sedangkan biaya pengolahan per M3 air lindi gabungan 2 jenis limbah B3 tersebut (tergantung jenis limbahnya) adalah = Rp. 2.800,- . Subtotal 127500 x Rp. 2.800 = Rp. 357.000.000,- II. KERUGIAN AKIBAT PENANGGULANGAN dan/atau PEMULIHAN: Kegiatan penanggulangan berupa clean-up dan serah terima limbah B3 ke pihak pengangkut atau pengelola limbah B3 berizin. Kegiatan clean-up dilakukan terhadap seluruh timbunan terbuka limbah B3 di belakang pabrik dan terhadap 20 cm lapisan atas lahan tercemar di lokasi tersebut seluas sekitar 2.000 m2
1.Biaya Clean-up:
a.Terhadap seluruh timbunan terbuka campuran limbah B3 yang ada di belakang pabrik = Rp. 564.000.000,-
b.Terhadap 20 cm lapisan atas lahan tercemar seluas 2.000 m2 = (2.000 x 50.000) + (0,2 x 2.000) x Rp. 400.000 = Rp. 260.000.000,- 52 (ditetapkan berdasar survey dan analisis lab). Biaya clean-up per ton campuran limbah B3 di lokasi tersebut misal = Rp. 400.000,-. Biaya stripping kedalaman 20 cm per m2 = Rp. 50.000. Biaya pengangkutan atau pengelolaan per ton campuran limbah B3, misal = Rp. 200.000,-. Subtotal Dibutuhkan kegiatan pemulihan berupa remediasi terhadap sisa-sisa kegiatan clean-up menggunakan tanaman khusus phytoremediasi (kombinasi phragmites, kanna & cattail) selama 3 tahun dengan biaya konstruksi remediasi Rp. 35.000,- per M2 pada lahan tercemar sekitar 1,5 ha (15.000 m2). Biaya operasional dan pemeliharaan per bulan = Rp. 6.000.000, selama 3 tahun. (Pemilihan teknologi remediasi sifatnya kasus per kasus, tergantung berbagai faktor, a.l.: jenis dan jumlah limbah B3, jenis dan kondisi lahan, aksesabilitas ke lokasi pencemaran, potensi dampak pada lingkungan sekitar, budget biaya, ketersediaan teknologi, dsb). Subtotal
2.Biaya pengangkutan atau pengelolaan campuran limbah B3: [(110 + 1.300) + (0,2 x 2.000)] x Rp. 200.000,- = Rp. 362.000.000 Rp. 1.186.000.000,-
1.Biaya konstruksi remediasi = Rp. 35.000 x 15.000 = Rp. 525.000.000,
2.Biaya design & engineering (5 s/d 15% biaya konstruksi, tergantung dimensi kegiatan) = 15% x Rp. 525.000.000,- = Rp. 78.750.000,- Total biaya operasional dan pemeliharaan selama 3 tahun = (Rp. 6.000.000 x 12 x 3) = Rp. 216.000.000,- Rp. 819.750.000,- III. KERUGIAN AKIBAT MEDIA LINGKUNGAN PUBLIK (HAK MILIK NEGARA) TERCEMAR Tidak ditemukan (karena baku mutu sungai setempat belum terlampaui) IV. KERUGIAN AKIBAT HAK MILIK MASYARAKAT (PRIVAT) TERCEMAR, TERMASUK KERUGIAN KESEHATAN DAN SOSEK Tidak ditemukan V. KERUGIAN AKIBAT BIAYA VERIFIKASI KASUS : Lab, Tenaga Ahli, Supervisi, dsb. (tergantung kompleksitas masalah, luasnya dampak pencemaran, jarak lokasi, dll.) Subtotal Biaya langsung berbagai lab & tenaga ahli pada saat penyidikan = Rp. 25.000.000,- Biaya transportasi dan akomodasi = Rp. 20.000.000,- Biaya survey dan langsung tenaga ahli pada saat penghitungan kerugian = Rp. 10.000.000,- Biaya supervisi pelaksanaan selama 3 tahun oleh PPNS dan/atau tenaga ahli = Rp. 120.000.000,- Biaya langsung lainnya = Rp. - Rp. 175.000.000,- TOTAL = I (Alternatif 1) + II + III + IV + V TOTAL = I (Alternatif 2) + II + III + IV + V Rp. 2.509.350.000,- Rp. 2.537.750.000,- Catatan: Nilai total kerugian tersebut belum termasuk: denda administrasi (bila ada) dan biaya serah terima limbah B3 ke pengangkut atau pengelola berizin, yang selama ini masih tersimpan di TPS Pabrik E namun tidak mencemari lingkungan hidup, yakni sludge IPAL = 350 ton dan ash-batubara = 1.150 ton. Komparasi: Berikut adalah komparasi biaya pengelolaan limbah B3 bila dikelola dengan baik dan benar terhadap dan bila tidak. Komparasi Biaya Pengelolaan Per 2 Tahun Sludge IPAL Ash-Batubara Jumlah Ton Limbah B3 Total, selama 2 tahun 720 5760 Jumlah Ton Limbah B3 yang disimpan di TPS 350 1150 Biaya per ton pengangkutan atau pengelolaan oleh pihak ke-3 berizin Rp. 500.000,- Rp. 60.000,- 53 Bila dikelola dengan benar Rp. 360.000.000 Rp. 345.6000.000 Total Rp. 705.6000.000 Bila Tidak dikelola dengan benar Total Kerugian = I (Alternatif 1) + II + III + IV + V Rp. 2.509.350.000,- Rp. 175.000.000 Rp. 69.000.000 Total Rp. 2.753.350.000
b.Penghitungan biaya clean-up/remediasi Penghitungan biaya clean-up/remediasi limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) di pengaruhi banyak hal antara lain:
1.Memerlukan survey dan studi pendahuluan untuk mengidentifikasi kondisi kawasan tercemar dan sekitarnya apakah dekat dengan hunian, fasilitas umum, fasilitas pabrik yang berbahaya, luas cemaran dan kedekatannya sumber-sumber air permukaan (site investigation), maupun karakterisasi jenis-jenis limbah yang mencemari. Termasuk identifikasi kondisi limbah di bawah permukaan tanah, apakah sudah membentuk DNAPL (dense non aquaus phase liquid) yang sulit dimobilisasi keluar atau belum.
2.Tergantung kondisi lahan kawasan tercemar, antara lain: topografi, jenis lapisan tanah dan porositasnya, kedalaman muka air tanah, dan juga kemudahan aksesabilitasnya.
3.Jenis polutan yang mencemari tanah dan air tanah itu sendiri, antara lain: sifat kimia-fisiknya, konsentrasi, heterogenitas dan komposisinya (bila merupakan campuran dari sekian banyak limbah).
4.Jenis teknologi clean-up/remediasi yang kemudian dipilih. Bila teknologi pengolahan air limbah yang sudah dikenal (beserta turunan dan kombinasinya) berjumlah sekitar 100 jenis, pengolahan emisi udara/gas berjumlah sekitar 25 jenis, maka peralatan treatment untuk clean-up hingga saat ini berjumlah tidak kurang 500 jenis.
5.Tingkat kebersihan (clean-up) yang akan dituju dan dicapai apakah mengikuti: standar baku mutu nasional, mutu kondisi lahan sebelumnya, pembersihan hingga kedalaman muka air tanah atau lebih dalam lagi atau hanya sekedar pembersihan limbah di atas tanah permukaan saja (stripping).
6.Faktor-faktor alam lainnya, misal: curah hujan (run-off water), kecepatan angin (vaporable material), intensitas dan lamanya penimbunan. Meskipun sangat tidak mudah melakukan penyederhanaan penghitungan biaya pencemaran kegiatan clean-up lingkungan hidup tercemar, namun pendekatan berikut bisa digunakan sebagai gambaran awal penghitungan biaya clean-up: Informasi resmi biaya penanganan limbah secara secure landfill saat ini maksimal sekitar US$ 250 (tergantung kategori limbah B3, berdasar tarif PPLI). Artinya, dengan menambahkan biaya keruk (stripping), angkut dan transportasi, atau biaya gali dan timbun (dig and refill), juga biaya identifikasi situ dan karakterisasi limbah B3, serta biaya administrasi lainnya (termasuk biaya recovery korban pencemaran limbah B3 dan biaya perkara, dsb.), maka biaya 54 penanganan limbah B3 bisa diprediksi dalam jangkauan yang pantas untuk wilayah Indonesia. Meskipun penghitungan berbasis full cost treatment tergantung kasus per kasus tetap merupakan yang terbaik dan fair. Berikut contoh biaya penuh dari EPA-USA menggunakan teknologi bioventing: Tabel 4.31 Tehnologi Tanah menggunakan Ventilasi Biologi/Bioventilasi (Soil Technology Bioventing) Tehnologi Tanah Ventilasi Biologi/Bioventilasi Parameter Skenario A Skenario B Skenario C Skenario D Area kecil (small site) Area luas (large site) Mudah (easy) Sukar (difficult) Mudah (easy) Sukar (difficult) Tipe Instalasi (Type of Installation) Sumur tegak (vertical well) Sumur tegak (vertical well) Sumur tegak (vertical well) Sumur tegak (vertical well) Tipe Tanah (Soil Type) Pasir-debu/pasir bercampur lumpur (Sand- Silt/Sand-Clay Mixture Pasir- debu/pasir bercampur lumpur (Sand- Silt/Sand- Clay Mixture Pasir- debu/pasir bercampur lumpur (Sand- Silt/Sand-Clay Mixture Pasir- debu/pasir bercampur lumpur (Sand- Silt/Sand-Clay Mixture Tingkat aman (Safety Level) D D D D Area permukaan yang terkontaminasi [Surface Area of Contamination (SF)] 450 450 9.000 9.000 Dasar kedalaman yang terkontaminasi [Depth to base of contamination (ft)] 5 5 5 5 Volume yang terkontaminasi [Contaminated (cubic feet)] 2.250 2.250 45.000 45.000 Volume yang terkontaminasi [Contaminated (cubic yards)] 83 83 1.667 1.667 Penggalian (Drilling) Avg well depth (ft) 5 5 5 5 Tipe formasi (formation type) Tingkat aman (Safety Level) D D D D Diameter sumur [Well diameter (in)] 2 2 2 2 Metode penggalian (Drilling method) Hollow stem Hollow stem Hollow stem Hollow stem Bahan konstruksi sumur (Well contruction Material) PVC Schedule 40 PVC Schedule 40 PVC Schedule 40 PVC Schedule 40 Avg. # of soil samples per well 1 1 1 1 Kepentingan untuk kontaminasi (Contaminant of interest) SVOCs SVOCs SVOCs SVOCs Extraction Well Spacing (ft) 35 22 35 22 # of Vapor Extraction Wells 1 2 10 24 Avg. Vapor Flow Rate per well (CFM) 3.0 1.5 3.0 1.5 Total Vapor Flow Rate (CFM) 3.0 3.0 30.0 36.0 Biaya Bioventilasi (Bioventing Marked-up Costs) $16.547 $18.919 $5.336 $9.141 Biaya tambahan (Additional Cost): Operasional dan pemeliharaan (O&M) $40.237 $40.237 $53.954 $53.954 Biaya operasional dan pemeliharaan per tahun (Years of O&M) 2.0 2.0 5.0 5.0 Remedial design $2.317 $2.649 $5.336 $9.141 Biaya total (Total Marked-up Costs) $59.101 $61.805 $100.334 $139.266 Biaya per cubic foot (Cost per cubic foot) $26 $27 $2 $3 Biaya per m3 (Cost per cubic meter) $928 $970 $79 $109 Biaya per cubic yard (Cost per cubic yards) $709 $742 $80 $84 55 1) Apapun jenis teknologi clean-up yang kemudian akan dipilih dan digunakan, jumlah total biaya penanganannya (berarti penghitungan Biaya Pencemaran) hendaknya tidak lebih mahal dari biaya rekapitulasi pada poin no. 1. 2) Penghitungan biaya pencemaran, hanyalah sebuah pendekatan sederhana untuk dipakai pada tahapan awal ini. Namun, sesungguhnya biaya kerugian lingkungan hidup (menyangkut lingkungan hidup dan kesehatan) bisa jauh lebih tinggi dari biaya pencemaran. 3) Berbeda dengan kasus-kasus pencemaran air limbah di sungai atau pencemaran emisi udara/gas, dimana limbahnya pada masa-masa berikut tidak memungkinkan lagi ditangani secara efektif karena sudah terlarutkan air sungai dan/atau terbawa ke laut (untuk kasus limbah cair), serta terbawa angin dan udara atmosfir (untuk kasus limbah emisi), maka untuk kasus-kasus pencemaran limbah B3 ke dalam tanah atau air tanah, apalagi bila terbentuk DNAPL, maka limbah-limbah B3 tersebut bisa terus ada dalam jangka waktu lama (puluhan tahun), karena dilepaskan ke lingkungan hidup secara perlahan-lahan secara akumulatif. Untuk alasan itu, sebagian besar dana hasil pembayaran Biaya Pencemaran tersebut, hendaknya sebagian besar tetap harus dikembalikan ke lingkungan hidup untuk clean-up dan perbaikan.
5.Kerusakan lingkungan akibat pembakaran hutan dan lahan
a.Penghitungan gas rumah kaca hasil kebakaran lahan Terjadi kebakaran lahan di PT.BCD di Desa Nanga Seberuang, Kecamatan Semitau, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, dengan data yang diperoleh dari lapangan adalah sebagai berikut: A = Areal yang terbakar adalah 100 ha = 1,0 km2 B = Muatan bahan bakar rata-rata adalah 40 ton/ha = 4.000 ton/km2 E = Efisiensi pembakaran adalah 0,5 Total massa dari gambut yang dikonsumsi pada saat kebakaran berlangsung di PT. BCD di Desa Nanga Seberuang, Kecamatan Semitau, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat adalah sebagai berikut: M = 1,0 km2 x 4.000 ton/km2 x 0,5 = 2000 ton Nilai karbon yang dihasilkan dari kebakaran yang terjadi adalah sebagai berikut: M (C) = 0,45 x 2000 ton = 900 ton karbon Nilai CO2 (Karbon dioksida) yang dilepaskan ke atmosfir selama proses kebakaran berlangsung adalah sebagai berikut: M (CO2) = 0,5 x 0,7 x 900 ton = 315 ton CO2 56 Nilai emisi gas jenis lain adalah sebagai berikut: CH4 = 1,04 % x 315 ton CO2 = 3,276 ton CH4 NOx = 0,46 % x 315 ton CO2 = 1,449 ton NOx NH3 = 1,28 % x 315 ton CO2 = 4,032 ton NH3 O3 = 1,06 % x 315 ton CO2 = 3,339 ton O3 CO = 18,5 % x 315 ton CO2 = 58,275 ton CO Total Bahan Partikel (TBP) yang dilepaskan selama kebakaran berlangsung adalah sebagai berikut: TBP = 160 ton/1000 ton x 2000 ton = 320 ton Contoh : Penghitungan kerugian Berdasarkan informasi dan melalui investigasi di lapangan maka penghitungan kerugian akibat kebakaran lahan di PT.BCD di Desa Nanga Seberuang, Kecamatan Semitau, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, seluas 100 ha adalah sebagai berikut:
b.Kerugian lingkungan hidup: 1) Penyimpanan air Sebagai pengganti fungsi lapisan permukaan sebagai penyimpan air yang rusak maka perlu dibangun tempat penyimpanan air buatan dengan cara membuat reservoir buatan. Reservoir tersebut harus mempunyai kemampuan menyimpan air sebanyak 650 m3 /ha. Karena gambut yang rusak adalah seluas 100 ha maka reservoir yang dibuatpun untuk seluas areal tersebut dengan perincian sebagai berikut: 2) Biaya pembuatan reservoir Untuk menampung air 650 m3/ha diperlukan reservoir berukuran lebar 20 m x panjang 25 m x tinggi 1.5 m. Biaya pembangunan diasumsikan per m2 = Rp.100.000,- Per hektar lahan yang hilang, diperlukan biaya: = [(2 x 1.5 m x 20 m) + (2 (2,5 m x 1.5 m x 25 m) + (20 m x 25 m)] x Rp.100.000/m2 = 635 m2 x Rp. 100.000/m2 = Rp.63.500.000/ha Untuk lahan yang hilang seluas 8 ha, diperlukan biaya pembuatannya: = Rp.63.500.000/ha x 100 ha = Rp. 6.350.000.000. Biaya pemeliharaan reservoir = Rp.100.000.000/th x 15 th = Rp. 1.500.000.000 Biaya yang dibutuhkan untuk membangun dan memelihara reservoir buatan tersebut adalah Rp.7.850.000.000. 57 3) Pengaturan tata air Biaya pengaturan tata air didasarkan kepada kepada biaya yang dikeluarkan per ha dalam pengaturan tata air yaitu sebesar Rp. 30.000 per ha, sehingga biaya yang harus dikeluarkan untuk pengaturan tata air seluas 100 ha adalah sebesar: Rp.30.000/ha x 100 ha = Rp.3.000.000. 4) Pengendalian erosi Biaya pengendalian erosi akibat dari lahan yang terbakar didasarkan pada besaran penghitungan Pangestu dan Ahmad