1.Risiko adalah ancaman timbulnya kerugian
2.Risiko adalah probabilitas timbulnya kerugian
3.Risiko adalah ketidakpastian
4.Risiko adalah penyimpangan aktual dari yan 4
5.Risiko adalah probabilitas suatu hasil akan berbeda dari yang diharapkan. Economist Intelligence Unit mengartikan risiko bisnis sebagai ancaman bahwa suatu kejadian atau tindakan akan secara buruk mempengaruhi kemampuan organisasi untuk mencapai tujuan bisnis dan melaksanakan strateginya secara berhasil. Risk Management Standards Australia dan Selandia Baru (ASjNZS) 4360: 1999 mendefinisikan risiko sebagai "Peluang terjadinya sesuatu yang akan berdampak pada pencapaian tujuan. Risiko diukur dalam besaran konsekuensi dan kemungkinan terjadinya." Sementara Ernst & Young mendefinisikan risiko bisnis sebagai "Kejadian atau tindakan yang secara buruk dapat mempengaruhi kemampuan organisasi untuk memaksimalkan 'nilai' stakeholder dan pencapaian tujuan bisnisnya." Dalam konteks pencapaian tujuan organisasi, risiko memiliki pengertian yang sangat spesifik. Risiko didefinisikan sebagai sebuah konsep yang menggambarkan ketidakpastian dalam mencapai tujuan dan sasaran organisasi. Organisasi didirikan dengan tujuan menciptakan nilai bagi para stakeholder melalui interaksi dengan lingkungan (pelanggan, pemasok, pemerintah, teknologi, dan sebagainya). Nilai diciptakan dengan mengkonversi sumberdaya (manusia, keuangan, harta baik berwujud maupun tidak berwujud) menjadi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan pelanggan atau pengguna jasa organisasi. Mengingat banyaknya pengertian dan penafsiran berbeda tentang istilah risiko, maka organisasi yang hendak mengembangkan manajemen risiko menjadi bagian integral dari aktivitas bisnis, harus menciptakan kesamaan bahasa (common language) sebagai acuan dalam mendefinisikan suatu indikasi risiko tertentu. Kesamaan bahasa risiko dituangkan dalam sebuah model risiko, yakni daftar komprehensif risiko-risiko yang mungkin timbul mengancam pencapaian tujuan organisasi. Kesamaan bahasa sangat penting untuk menyamakan persepsi di antara berbagai pihak yang berbeda dalam organisasi guna membahas risiko-risiko yang dihadapi organisasi. B. Manajemen Risiko Pokok-pokok pikiran yang melandasi manajemen risiko adalah bahwa setiap organisasi, apakah organisasi yang berorientasi laba, nir-Iaba, ataupun instansi pemerintah, keberadaannya dimaksudkan untuk menciptakan dan 5 meningkatkan nilai bagi para stakeholdemya. Dalam pelaksanaan kegiatan operasinya, setiap organisasi menghadapi ketidakpastian, dan tantangan bagi manajemen adalah menentukan seberapa besar ketidakpastian yang siap diterima oleh organisasi dalam upaya menciptakan dan meningkatkan nilai. Ketidakpastian mendatangkan baik risiko maupun peluang, yang berpotensi mengikis atau memperbesar nilai. Manajemen risiko menyajikan suatu kerangka bagi manajemen untuk menghadapi ketidakpastian, risiko dan peluang yang terkait, sehingga dapat meningkatkan kapasitasnya membangun nilai secara efektif. Tidak ada organisasi yang beroperasi pada suatu lingkungan bebas risiko, dan manajemen risiko tidak menciptakan lingkungan semacam itu. Tetapi, manajemen risiko akan memungkinkan manajemen bekerja secara lebih efektif dalam lingkungan yang penuh dengan risiko. Integrasi merupakan karakter manajemen risiko modern. Manajemen risiko terintegrasi memerlukan sebuah kerangka yang memungkinkan organisasi untuk mengidentifikasi, mengantisipasi, dan secara efektif merespon beragam peristiwa yang dapat mempengaruhi kemampuannya memenuhi strategi dan mencapai tujuan. Tidak ada model manajemen risiko yang berlaku untuk semua, setiap organisasi harus merancang sebuah kerangka yang dibangun sesuai bisnis, sektor industri, struktur organisasi, tujuan dan toleransi risikonya. Kerangka manajemen risiko yang digunakan oleh suatu organisasi bersifat spesifik. Artinya, akan lebih baik jika manajemen suatu organisasi mengembangkan kerangka manajemen risiko yang sesuai dengan kegiatan operasi atau proses bisnis organisasi yang bersangkutan. Tetapi, manajemen dapat juga mengadopsi kerangka manajemen risiko yang telah dikembangkan oleh badan-badan penyusun standar seperti Standar Bersama Australia dan Selandia baru yang telah mengembangkan Risk Management Standards AS/NZS 4360, Committee of Sponsoring Organization (COSO) yang telah mengembangkan Enterprise Risk Management, dan sebagainya. Berikut akan disajikan kerangka manajemen risiko Risk Management Standards Australia/New Zealand (AS/NZS 4360): 6 TETAPKANKONTEKS Konteks Stratejik Konteks Organisasi Konteks Manajemen Risiko Kembangkan Kriteria Tentukan Struktur Tetapkan Tingkat Risiko P A N T A U 0 A N T E L A A H Ya Tidak IDENTIFIKASI RISIKO Apa yang dapat terjadi? Bagaimana terjadinya? EVALUASI RISIKO Bandingkan dengan Kriteria Susun Prioritas Risiko ANALISIS RISIKO Tentukan Pengendalian yang Ada Tentukan Tingkat Kemungkinan Taksir Risiko o A N K o N 5 U L T A 5 I K A N K o M U N I K A 5 I K A N TANGANI RISIKO Identifikasi Opsi-Opsi Penanganan Evaluasi Opsi-Opsi Penanganan Pilih Opsi-Opsi Penanganan Siapkan Rencana Penanganan Implementasikan Rencana Gambar 1 Kerangka Manajemen Risiko AS/NZS 4360: 1999 Risk Management Standards Australia dan Selandia Baru AS/NZS 4360 mendefinisikan manajemen risiko sebagai budaya, proses, dan struktur yang diarahkan kepada manajemen yang efektif atas peluang-peluang yang potensial dan pengaruh-pengaruh yang merugikan. Sedangkan proses manajemen risiko didefinisikan sebagai aplikasi yang sistematis atas kebijakan manajemen, prosedur dan praktik-praktik untuk tugas-tugas penetapan konteks, identifikasi, analisis, evaluasi, penanganan, pemantauan dan pengkomunikasian risiko. 7 Berikut uraian mengenai tahap-tahap proses manaJemen risiko menurut Standar ASjNZS 4360:1999 :
1.Menetapkan konteks Menetapkan konteks stratejik, organisasi dan manajemen risiko di mana keseluruhan proses akan berjalan. Kriteria sebagai bahan evaluasi risiko harus ditetapkan dan struktur analisis harus didefinisikan. Proses terjadi dalam kerangka kerja konteks stratejik, organisasi dan manajemen risiko. Tahapan ini perlu dilakukan untuk mendefinisikan parameter dasar di mana risiko harus dikelola, dan untuk menyediakan pedoman bagi keputusan dalam kajian manajemen risiko yang lebih terinci. Tahapan ini menentukan lingkup bagi keseluruhan proses manajemen risiko. Istilah "konteks" di sini berarti lingkungan atau segala hal yang berkaitan dengan upaya manajemen dalam rangka mengelola risiko-risikonya.
a.Penetapan Konteks Stratejik Konteks stratejik merumuskan hubungan antara organisasi dengan lingkungannya, serta mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancamannya. Konteks stratejik mencakup aspek keuangan, operasional, persaingan, politis (persepsijpandangan publik), sosial, budaya, dan aspek hukum dari fungsi-fungsi organisasi. Dalam pengertian konteks stratejik termasuk pula identifikasi stakeholder intern dan ekstern, dan mempertimbangkan tujuan-tujuan mereka, memperhatikan persepsi mereka, dan membentuk kebijakan komunikasi dengan pihak-pihak tersebut. Langkah ini difokuskan pada lingkungan di mana organisasi beroperasi. Organisasi harus berusaha menentukan unsur-unsur yang penting yang dapat mendukung atau merongrong kemampuannya mengelola risiko- risiko yang dihadapi. 8
b.Penetapan Konteks Organisasi Sebelum kajian manajemen risiko dimulai, diperlukan pemahaman terhadap organisasi dan kemampuannya, di samping sasaran dan tujuannya serta strategi yang dijalankan untuk mencapainya. Langkah ini penting karena alasan-alasan berikut: • Manajemen risiko berlangsung dalam konteks sasaran, tujuan dan strategi organisasi yang lebih luas. • Kegagalan untuk mencapai tujuan organisasi, aktivitas spesifik, atau proyek, juga merupakan risiko yang harus dikelola. • Kebijakan dan sasaran organisasi membantu mendefinisikan kriteria untuk memutuskan apakah risiko dapat diterima atau tidak, dan • Meletakkan dasar bagi opsi penanganan risiko.
c.Penetapan Konteks Manajemen Risiko Sasaran, tujuan, strategi, lingkup dan parameter aktivitas, atau bagian organisasi di mana proses manajemen risiko diterapkan, sumberdaya yang diperlukan dan catatan yang harus dibuat, harus ditetapkan. Proses tersebut haru,s dilaksanakan dengan pertimbangan penuh terhadap perlunya keseimbangan biaya, manfaat dan peluang. Menentukan lingkup dan batas-batas penerapan proses manajemen risiko meliputi: • Mendefinisikan aktivitas dan menetapkan tujuan dan sasarannya. • Mendefinisikan luas cakupan kegiatan dan waktu pelaksanaannya. • Mengidentifikasi semua kajian yang dibutuhkan dan lingkupnya, tujuan dan sumberdaya yang diperlukan. Sumber-sumber risiko generik dan area dampaknya dapat memberikan panduan untuk hal ini. • Mendefinisikan luas dan kelengkapan aktivitas manajemen risiko yang harus dilaksanakan. Isu-isu spesifik yang juga dapat didiskusikan termasuk hal-hal berikut: • Peran dan tanggungjawab dari berbagai bagian organisasi yang berpartisipasi dalam pengelolaan risiko. • Hubungan antara aktivitas suatu bagian dengan bagian-bagian organisasi lainnya. 9
d.Mengembangkan Kriteria Evaluasi Risiko Kriteria perlu ditentukan dalam rangka melakukan evaluasi risiko. Keputusan berkenaan dengan akseptabilitas dan penanganan risiko dapat didasarkan pada kriteria: operasional, teknikal, finansial, legal, sosial, kemanusaiaan dan lain-lain. Pada umumnya kriteria ini tergantung pada kebijakan intern organisasi, tujuan, sasaran dan kepentingan stakeholder. Kriteria juga dapat dipengaruhi oleh persepsi intern dan ekstern serta dipengaruhi oleh hukum yang berlaku. Meskipun kriteria risiko awalnya dikembangkan sebagai bagian dari pembentukan konteks manajemen risiko, tetapi selanjutnya dapat dikembangkan dan disaring, ketika risiko-risiko tertentu teridentifikasi dan teknik analisis risiko tertentu dipilih, artinya kriteria risiko harus berhubungan dengan jenis risiko dan cara menyatakan tingkat risiko tersebut.
e.Mendefinisikan Struktur Langkah ini menyangkut pemisahan aktivitas ke dalam beberapa unsur. Unsur-unsur tersebut menyediakan kerangka yang logis bagi identifikasi dan analisis yang membantu menjamin bahwa risiko-risiko yang signifikan tidak terabaikan. Struktur yang dipilih tergantung pada sifat risiko dan lingkup aktivitas.
2.Mengidentifikasi Risiko Mengidentifikasi apa, mengapa dan bagaimana sesuatu dapat timbul sebagai dasar untuk melakukan analisis lebih lanjut. Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi risiko-risiko yang harus dikelola. Bagian ini sangat kritikal, karena risiko yang potensial jika tidak teridentifikasi pada tahapan ini tidak akan dianalisis lebih lanjut. Identifikasi komprehensif dengan menggunakan proses sistematis yang terstruktur baik, harus mencakup semua risiko, baik risiko yang berada dalam kendali organisasi maupun risiko yang di luar kendali organisasi. Pada intinya, langkah identifikasi risiko dilakukan untuk menggali dan menemukan jawaban terhadap 2 (dua) pertanyaan berikut: "apa yang dapat terjadi?" dan "mengapa dan bagaimana hal itu terjadi?". 10
a.Apa yang Dapat Terjadi Penggalian yang dilakukan akan menghasilkan suatu daftar komprehensif mengenai peristiwa yang dapat mempengaruhi setiap un sur. Daftar ini kemudian dipertimbangkan secara lebih rind dalam identifikasi apa yang dapat tetjadi.
b.Bagaimana dan Mengapa Tetjadi Setelah mengidentifikasi daftar peristiwa, selanjutnya perlu untuk mempertimbangkan sebab-sebab dan skenario yang mungkin. Ada banyak cara suatu peristiwa dapat terjadi. Yang penting adalah tidak ada sebab signifikan yang terlewatkan.
c.Perangkat dan Teknik Pendekatan-pendekatan yang digunakan untuk mengidentifikasi risiko, meliputi daftar simak (checklist), pertimbangan berdasarkan pengalaman dan catatan, bagan arus, brainstorming, analisis sistem, analisis skenario dan teknik rekayasa sistem.
3.Menganalisis Risiko Menentukan pengendalian yang ada dan menganalisis risiko dalam batasan konsekuensi dan tingkat kemungkinan, dalam konteks pengendalian tersebut. Analisis harus mempertimbangkan luasnya konsekuensi yang potensial dan seberapa mungkin konsekuensi tersebut terjadi. Konsekuensi dan tingkat kemungkinan dapat dikombinasikan untuk mendapatkan suatu tingkat risiko yang diestimasi. Tujuan analisis risiko adalah untuk memisahkan risiko-risiko kecil yang dapat diterima dari risiko-risiko besar, dan menyediakan data untuk membantu dalam evaluasi dan penanganan risiko. Analisis risiko mencakup pertimbangan mengenai sumber risiko, konsekuensi dan tingkat kemungkinan timbulnya konsekuensi. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsekuensi dan tingkat kemungkinan dapat diidentifikasi. Risiko dianalisis dengan mengkombinasikan estimasi terhadap konsekuensi dan tingkat kemungkirian dalam konteks tindakan pengendalian yang ada. 11 Suatu analisis risiko pendahuluan dilaksanakan sehingga risiko-risiko yang sarna atau risiko-risiko berdarnpak rendah dapat dikecualikan dari kajian mendalam. Risiko-risiko yang dikecualikan, jika mungkin, harus didaftar untuk memperlihatkan kelengkapan analisis risiko. • Menentukan Pengendalian yang ada Menentukan pengendalian yang ada meliputi aktivitas-aktivitas identifikasi pengelolaan, sistem teknik dan prosedur yang ada untuk mengendalikan risiko dan penaksiran kekuatan dan kelemahannya. Perangkat yang digunakan dalarn menentukan ada tidaknya pengendalian layak digunakan, di sarnping pendekatan seperti inspeksi dan teknik control self-assessment (CSA). • Konsekuensi dan tingkat kemungkinan Besaran konsekuensi suatu peristiwa, jika harus tetjadi, dan tingkat kemungkinan peristiwa beserta konsekuensi terkait, ditaksir di dalam konteks pengendalian yang ada. Konsekuensi dan tingkat kemungkinan dikombinasikan untuk menghasilkan tingkat risiko. Konsekuensi dan tingkat kemungkinan dapat ditentukan dengan menggunakan analisis statistik dan kalkulasi. Sebagai altematif, jika tidak tersedia catatan masa lalu, estimasi subyektif dapat dilakukan untuk mencerminkan tingkat keyakinan dari individu atau kelompok, bahwa peristiwa atau outcome tertentu akan tetjadi. • Untuk menghindari bias subyektif, sumber informasi yang tersedia dan teknik-teknik terbaik harus digunakan ketika menganalisis konsekuensi dan tingkat kemungkinan. Sumber-sumber informasi dapat diketahui dari: • Catatan masa lalu; • Pengalarnan yang relevan; • Praktik dan pengalarnan industri; • Literatur umum yang relevan; • Uji pemasaran dan riset pasar; • Eksperimen dan prototype; • Model ekonomi, rekayasa atau model lainnya; • Pertimbangan spesialis dan pakar. WAGUB 12 Teknik-teknik analisis risiko yang digunakan meliputi: • Wawancara terstruktur dengan para pakar dalam area yang menjadi perhatian. Wawancara terstruktur artinya wawancara dilakukan dengan daftar pertanyaan yang telah disiapkan terlebih dahulu; • Penggunaan kelompok pakar multi-disiplin, misalnya teknik Delphi; • Evaluasi individu dengan menggunakan kuesioner; • Pembuatan model dengan menggunakan komputer atau model-model lain', • Penggunaan fault trees dan event trees. Jika memungkinkan, tingkat keyakinan atas suatu estimasi mengenai tingkat risiko harus dimasukkan. Jenis-jenis Analisis Analisis risiko dapat berupa analisis kualitatif, semi kuantitatif, kuantitatif atau kombinasi di antaranya, tergantung pada informasi risiko dan data yang tersedia. Tingkat kerumitan dan biaya dari analisis-analisis tersebut dalam urutan menaik, adalah kualitatif, semi-kuantitatif dan kuantitatif. Praktiknya, analisis kualitatif sering digunakan pertama kali untuk mendapatkan indikasi umum mengenai tingkat risiko. Selanjutnya mungkin perlu dilakukan analisis kuantitatif yang lebih spesifik. Detailnya, jenis-jenis analisis terse but adalah sebagai berikut: 1) Analisis Kualitatif Analisis kualitatif menggunakan istilah atau skala deskriptif untuk menggambarkan besaran konsekuensi yang potensial dan tingkat kemungkinan bahwa konsekuensi akan terjadi. Skala terse but dapat diadaptasikan atau disesuaikan dengan keadaan, dan uraian yang berbeda dapat digunakan untuk risiko yang berbeda. Analisis kualitatif digunakan: • Sebagai suatu aktivitas penyaringan awal untuk mengidentifikasi risiko-risiko yang memerlukan analisis lebih rind; • Ketika tingkat risiko tidak memungkinkan dilakukan analisis yang lebih penuh karena faktor waktu dan sumberdaya; atau • Ketika data numerik tidak memadai bagi suatu analisis kuantitatif. 13 2) Analisis Semi-kuantitatif Dalam analisis semi kuantitatif, skala kualitatif seperti diuraikan di atas diberi nilai tertentu. Angka yang dialokasikan kepada masing- masing uraian tidak harus mengandung hubungan yang akurat dengan besaran sebenarnya dari konsekuensi dan tingkat kemungkinan. Angka-angka dapat dikombinasikan dengan salah satu dari sekian formula yang disajikan oleh sistem yang digunakan untuk keperluan prioritisasi, dicocokkan dengan sistem yang dipilih untuk menunjuk angka-angka dan mengkombinasikannya. Tujuannya untuk memperoleh prioritisasi yang lebih rind dari pada yang biasanya diperoleh dalam analisis kualitatif, tidak untuk memberikan nilai realistis suatu risiko seperti dihasilkan dalam analisis kuantitatif. Analisis semi kuantitatif harus digunakan secara cermat, karena angka-angka yang dipilih dapat merefleksikan hubungan yang tidak wajar, yang dapat menghasilkan outcome yang tidak konsisten. Analisis semi kuantitatif mungkin tidak mampu membedakan secara tepat risiko-risiko, terutama yang memiliki konsekuensi atau tingkat kemungkinan yang ekstrim. Terkadang layak untuk mempertimbangkan bahwa tingkat kemungkinan terdiri dari dua unsur, biasanya merujuk kepada tingkat kemungkinan sebagai frekuensi eksposure dan probabilitas. Frekuensi eksposure adalah luasnya area di mana sumber risiko terdapat, sementara probabilitas berarti kesempatan bahwa jika terdapat sumber risiko, konsekuensi akan mengikuti. Perhatian harus dipusatkan ketika terjadi situasi di mana hubungan antara kedua unsur tidak sepenuhnya independen, misalnya terdapat hubungan yang kuat antara frekuensi eksposure dengan probabilitas. Pendekatan ini dapat diaplikasikan dalam analisis semi kuantitatif dan kuantitatif. 3) Analisis Kuantitatif Analisis kuantitatif menggunakan nilai angka (bukan menggunakan skala deskriptif seperti digunakan dalam analisis kualitatif dan semi 14 kuantitatif) baik untuk konsekuensi maupun tingkat kemungkinan, dengan menggunakan data dari berbagai sumber. Kualitas analisis tergantung pada akurasi dan kelengkapan nilai numerik yang digunakan. Konsekuensi dapat diestimasi dengan pembuatan model outcome dari suatu atau beberapa peristiwa, atau dengan ekstrapolasi hasil kajian eksperimen atau data masa lalu. Konsekuensi dapat dinyatakan dalam satuan moneter (mata uang), kriteria teknik (satuan pengukuran) atau masalah manusiawi (kematian/ cedera) atau kriteria lainnya. Dalam beberapa kasus, diperlukan lebih dari satu nilai numerik untuk menentukan konsekuensi pada waktu, tempat, kelompok atau situasi yang berbeda. Tingkat kemungkinan biasanya dinyatakan sebagai probabilitas, frekuensi atau kombinasi antara eksposure dan probabilitas. Cara menyatakan tingkat kemungkinan dan konsekuensi serta cara mengkombinasikan keduanya untuk menyajikan suatu tingkat risiko, akan berbeda sesuai jenis risiko dan konteks di mana tingkat risiko tersebut digunakan. Apabila beberapa estimasi yang dibuat dalam analisis kuantitatif tidak tepat, maka analisis sensitivitas harus dilakukan untuk menguji pengaruh perubahan dalam asumsi dan data.
4.Mengevaluasi Risiko Evaluasi risiko merupakan pembandingan antara tingkat risiko yang ditemukan selama proses analisis dengan kriteria risiko yang ditetapkan sebelumnya. Dalam evaluasi risiko, tingkat risiko dan kriteria risiko harus diperbandingkan dengan menggunakan basis yang sama. Evaluasi kualitatif mencakup pembandingan tingkat risiko kualitatif terhadap kriteria kuantitatif, dan evaluasi kuantitatif mencakup pembandingan tingkat risiko numerik terhadap kriteria yang dapat dinyatakan dalam angka tertentu, seperti kematian, frekuensi atau nilai uang. Hasil dari evaluasi risiko adalah daftar prioritas risiko untuk tindakan lebih lanjut. 15 Tujuan organisasi dan terbukanya peluang yang dapat diperoleh dengan mengambil risiko juga harus dipertimbangkan. Keputusan harus memperhatikan luasnya konteks risiko dan mencakup pertimbangan toleransi risiko yang ditanggung oleh pihak-pihak selain organisasi yang mendapatkan manfaat dari padanya. Jika hasilnya risiko-risiko masuk dalam kategori rendah atau risiko yang dapat diterima, maka risiko-risiko terse but diterima dengan sedikit penanganan lanjutan. Risiko-risiko yang rendah atau dapat diterima harus dipantau dan ditelaah secara periodik untuk menjamin bahwa risiko-risiko terse but tetap dapat diterima. Jika risiko-risiko tidak masuk dalam kategori rendah atau risiko yang dapat diterima, risiko-risiko terse but harus diperlakukan dengan menggunakan satu opsi atau lebih yang diuraikan berikut ini.
5.Menangani Risiko Risiko-risiko yang rendah atau dapat diterima harus dipantau dan ditelaah secara periodik untuk menjamin bahwa risiko-risiko tersebut tetap dapat diterima. Jika risiko-risiko tidak masuk dalam kategori rendah atau risiko yang dapat diterima, risiko-risiko terse but harus ditangani dengan menggunakan satu opsi atau lebih. Penanganan risiko meliputi pengidentifikasian opsi untuk memperlakukan risiko, menaksir opsi tersebut, menyiapkan rencana penanganan risiko dan mengimplementasikan rencana dimaksud. • Identifikasi Opsi Penanganan Risiko Opsi-opsi penanganan risiko tersebut tidak bersifat mutually-exclusive (satu risiko satu opsi) atau satu opsi cocok untuk semua kondisi risiko. Opsi-opsi risiko meliputi: 1) Menghindari risiko Menghindari risiko dapat dilakukan dengan memutuskan untuk tidak melanjutkan aktivitas yang akan mendatangkan risiko. Penghindaran risiko dapat terpikir secara tidak wajar karena sifat keengganan risiko, yang merupakan kecenderungan banyak orang (seringkali dipengaruhi oleh sistem intern organisasi). 16 Ketidakwajaran penghindaran risiko dapat meningkatkan signifikansi risiko lainnya. Keengganan berisiko dapat mengakibatkan: • Keputusan untuk menghindari atau mengabaikan risiko diambil tanpa memperhatikan informasi yang tersedia dan biaya yang dikeluarkan untuk menangani risiko tersebut; • Kegagalan untuk memperlakukan risiko; • Meninggalkan pilihan kritikal danl atau keputusan yang tergantung pada pihak lain; • Penangguhan keputusan yang tidak dapat dihindari oleh organisasi; dan • Pemilihan opsi karena opsi tersebut menggambarkan risiko secara potensial rendah, tanpa memperhatikan manfaatnya. 2) Mengurangi tingkat kemungkinan Opsi mengurangi tingkat kemungkinan dapat dilakukan dengan: • Audit dan program peningkatan ketaatan; • Persyaratan kontrak yang komprehensif; • Penelaahan formal terhadap persyaratan, spesifikasi, rancangan, rekayasa dan operasi; • Inspeksi dan pengendalian proses; • Manajemen investasi dan portofolio; • Manajemen proyek; • Perawatan yang bersifat preventif; • Jaminan kualitas, manajemen dan standar; • Penelitian dan pengembangan, pengembangan teknologi; • Pelatihan terstruktur dan program-program lainnya; • Supervisi; • Pengujian; • Penyelarasan organisasi; dan • Pengendalian secara teknik. 3) Mengurangi konsekuensi Opsi mengurangi konsekuensi dapat dilakukan dengan: • Perencanaan kontinjensi; • Penyelarasan kontrak; 17 • Persyaratan kontrak yang komprehensif; • Bentuk rancangan (design features); • Rencana pemulihan akibat bencana; • Rintangan rekayasa dan struktural (engineering and structural barriers); • Perencanaan pengendalian kecurangan; • Meminimalkan eksposure terhadap sumber risiko; • Perencanaan portofolio; • Kebijakan dan pengendalian penentuan harga; • Pemisahan atau relokasi suatu aktivitas atau sumberdaya; • Hubungan masyarakat; dan • Pembayaran eks-grasia. Pengurangan konsekuensi dan tingkat kemungkinan mempertimbangkan pengendalian risiko. Pengendalian risiko mencakup penentuan manfaat akan adanya pengendalian yang baru dalam kaitannya dengan efektivitas pengendalian yang ada. Pengendalian dapat meliputi efektivitas kebijakan, prosedur atau perubahan-perubahan fisiko 4) Memindahkan risiko Penanganan ini melibatkan pihak lain untuk menanggung atau membagi beberapa bagian risiko. Mekanismenya meliputi penggunaan kontrak, penutupan asuransi dan struktur organisasi seperti kemitraan dan usaha patungan. Memindahkan risiko kepada pihak lain, atau memindahkan risiko fisik ke tempat lain, akan mengurangi risiko bagi organisasi asal, tetapi mungkin tidak menurunkan keseluruhan tingkat risiko bagi masyarakat. Ketika risiko dipindahkan seluruhnya atau sebagian, organisasi yang memindahkan risiko mendapatkan risiko baru, jika organisasi tersebut tidak mengelola risiko secara efektif. 5) Menahan risiko Setelah risiko dikurangi atau dipindahkan, mungkin masih terdapat risiko residual yang tertahan. Rencana harus disusun untuk WAGUB 18 mengelola konsekuensi dari risiko semacam ini jika terjadi, termasuk pengidentifikasian cara membiayai risiko. Risiko dapat juga tertahan karena kelalaian, misalnya teIjadi kegagalan dalam mengidentifikasi dan/ atau memindahkan secara layak atau penanganan risiko lainnya. • Menilai Opsi Penanganan Risiko Opsi harus dinilai berdasarkan luasnya pengurangan risiko, dan besarnya manfaat tambahan atau peluang-peluang yang tercipta, dengan memperhatikan kriteria yang dikembangkan dalam butir Mengembangkan kriteria evaluasi risiko. Sejumlah opsi dapat dipertimbangkan dan diaplikasikan baik secara individual atau dalam kombinasi. Pemilihan opsi yang paling layak meliputi keseimbangan biaya implementasi masing-masing opsi dengan manfaat yang diperoleh darinya. Seeara umum, dalam menentukan biaya penanganan risiko perlu mempertimbangkan manfaat yang diperoleh. Jika risiko dapat dikurangi seeara signifikan dengan pengeluaran (biaya) yang relatif keeil, maka opsi semaeam itu harus diimplementasikan. Opsi lanjutan untuk penyempumaan mungkin tidak ekonomis dan memerlukan pengujian pertimbangan apakah opsi terse but dapat dibenarkan. Keputusan harus memperhatikan perlunya pertimbangan yang hati-hati terhadap risiko yang jarang teIjadi tetapi berdampak besar, yang mungkin memerlukan tindakan pengurangan risiko yang tidak dapat dibenarkan berdasarkan landasan ekonomi yang ketat. Seeara umum, dampak merugikan suatu risiko harus dibuat serendah mungkin dan dapat dipraktikkan seeara memadai, tanpa memperhatikan kriteria absolut. Jika tingkat risiko tinggi, tetapi peluang-peluang yang dapat dipertimbangkan dapat diperoleh dengan mengambil risiko, seperti penggunaan teknologi baru, penerimaan terhadap risiko terse but harus didasarkan pada suatu penaksiran terhadap biaya penanganan risiko, dan biaya untuk mengoreksi konsekuensi potensial dibandingkan peluang yang dihasilkan dengan mengambil risiko. 19 Dalam banyak kasus, keeil kemungkinan satu opsi penanganan risiko akan menjadi solusi lengkap bagi masalah tertentu. Sering organisasi memperoleh manfaat substansial dengan mengkombinasikan beberapa opsi, misalnya mengurangi tingkat kemungkinan risiko, mengurangi konsekuensinya, dan memindahkan atau menahan risiko residual. Contohnya adalah penggunaan kontrak yang efektif dan pembiayaan risiko yang didukung dengan program pengurangan risiko. Jika biaya kumulatif pengimplementasian seluruh penanganan risiko melebihi anggaran yang tersedia, reneana harus seeara jelas mengidentifikasi urutan prioritas penanganan masing-masing risiko residual yang harus diimplementasikan. Pengurutan prioritas dapat ditentukan menggunakan beberapa teknik, termasuk rangking risiko dan analisis biaya-manfaat. Penanganan risiko yang tidak dapat diimplementasikan dalam batas anggaran yang tersedia harus menunggu sampai tersedianya sumberdaya keuangan lebih Ianjut, atau jika karena alasan beberapa atau keseluruhan penanganan yang tersisa dirasa penting, suatu alasan harus dibuat untuk mengamankan pembiayaan tambahan. Opsi penanganan risiko harus mempertimbangkan bagaimana risiko dirasakan oleh pihak-pihak yang terpengaruh, dan eara yang paling layak dilakukan adalah berkomunikasi dengan pihak-pihak tersebut. • Menyiapkan Reneana Penanganan Risiko Reneana yang dibuat harus meneakup dokumentasi ten tang bagaimana opsi yang terpilih akan diimplementasikan. Reneana penanganan harus meliputi identifikasi penanggungjawab, jadwal, outcome yang diharapkan dari penanganan, anggaran, ukuran kineIja dan proses penelaahan yang harus dijalankan. Reneana juga harus meneakup suatu mekanisme untuk menaksir implementasi penanganan terhadap kriteria kineIja, pihak yang bertanggungjawab dan tujuan-tujuan lain, dan untuk memantau tahap- tahap pengimplementasian yang kritikal. Idealnya, dalam pengimplementasian reneana penanganan, penanggung jawab terhadap penanganan harus dipikul oleh pihak yang paling dapat 20 mengendalikan risiko. Penanggung jawab harus disepakati di antara para-pihak pada kesempatan pertama. Keberhasilan pengimplementasian rencana penanganan risiko memerlukan suatu sistem manajemen yang efektif yang merinci metode-metode yang dipilih, menentukan penanggung jawab dan penanggung gugat terhadap tindakan, dan memantau sesuai kriteria yang ada. Jika masih terdapat risiko residual, suatu keputusan harus diambil untuk menentukan apakah akan menahan risiko tersebut, atau mengulangi proses penanganan.
6.Memantau dan Menelaah Memantau dan menelaah kinerja sistem manajemen risiko dan perubahan-perubahan yang mungkin mempengaruhinya. Sangat penting untuk memantau risiko, efektivitas rencana penanganan risiko, strategi dan sistem manajemen yang disusun untuk mengendalikan pengimplementasian. Risiko dan efektivitas tindakan pengendalian perlu dipantau untuk meyakinkan bahwa perubahan kondisi tidak mengubah prioritas risiko, karena sedikit sekali risiko yang bersifat statis. Pemantauan terus-menerus sangat penting untuk meyakinkan bahwa rencana manajemen tetap relevan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kemungkinan dan konsekuensi suatu outcome mungkin berubah, sarna seperti faktor-faktor yang mempengaruhi kesesuaian dan biaya berbagai opsi penanganan. Oleh karena itu perlu secara reguler dilakukan pengulangan siklus manajemen risiko. Pene.laahan merupakan bagian integral rencana penanganan manajemen risiko.
7.Mengkomunikasikan dan Mengkonsultasikan Mengkomunikasikan dan mengkonsultasikan dengan pihak-pihak yang berkepentingan baik intern mapun ekstern jika mungkin, pada setiap tahapan proses manajemen risiko dan fokus pada proses secara keseluruhan. 21 Komunikasi dan konsultasi merupakan pertimbangan penting pada setiap langkah proses manajemen risiko. Sangat penting untuk mengembangkan suatu rencana komunikasi dengan stakeholder baik intern maupun ekstern pada tahap-tahap awal proses. Rencana tersebut harus mengarah pada isu-isu menyangkut risiko itu sendiri maupun proses untuk mengelolanya. Komunikasi dan konsultasi meliputi dialog dua arah di antara para stakeholder dengan upaya yang terfokus pada konsultasi, ketimbang arus komunikasi satu arah dari pengambil keputusan kepada para stakeholder lainnya. Komunikasi intern dan ekstern yang efektif sangat penting untuk meyakinkan bahwa penanggungjawab pengimplementasian manajemen risiko dan pihak-pihak lain yang berkepentingan memahami dasar pengambilan keputusan dan mengapa tindakan-tindakan tertentu diperlukan. Persepsi terhadap risiko dapat berbeda karena perbedaan asumsi dan konsep serta kebutuhan, isue dan perhatian stakeholder sehubungan dengan risiko atau isue yang dibahas. Stakeholder mungkin membuat pertimbangan terhadap akseptabilitas suatu risiko berdasarkan persepsi mereka terhadap risiko. Karena stakeholder dapat memiliki dampak signifikan terhadap keputusan yang diambil, maka sangat penting untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan persepsi mereka terhadap risiko, persepsi mereka terhadap manfaat, serta memahami dan mendalami alasan -alasan yang me1andasi. Manajemen risiko yang dilaksanakan seCara efektif dan wajar dapat memberikan manfaat bagi organisasi, yakni: • Membantu pencapaian tujuan organisasi . • Mencapai kesinambungan pemberian pe1ayanan kepada stakeholder, sehingga meningkatkan kualitas dan nilai organisasi. • Mencapai hasil yang lebih baik berupa efisiensi dan efektivitas pelayanan, seperti: meningkatkan pelayanan kepada publik dan atau meningkatkan penggunaan sumber daya yang lebih baik (masyarakat, informasi, dana, dan peralatan). I 22 • Memberikan dasar penyusunan rencana strategi sebagai hasil dari pertimbangan yang terstruktur terhadap unsur kunci risiko . • Menghindari biaya-biaya yang mengejutkan, karena organisasi mengidentifikasi dan mengelola risiko yang tidak diperlukan, termasuk menghindari biaya dan waktu yang dihabiskan dalam suatu perkara . • Menghindari pemborosan, dan membuka peluang bagi organisasi untuk memberikan pelayanan yang terbaik. • Mencapai pengambilan keputusan yang terbuka dan beIjalannya proses manajemen. • Meningkatkan akuntabilitas dan governance. • Mengubah pandangan terhadap risiko menjadi lebih terbuka, ada toleransi terhadap kesalahan tapi tidak terhadap kekeliruan yang disembunyikan. Perubahan pandangan ini memungkinkan organisasi belajar dari kesalahan masa lalunya untuk terus memperbaiki kineIjanya . • Organisasi akan lebih fokus dalam melaksanakan kebijakan- kebijakannya sehingga dapat meminimalkan 'gangguan-gangguan' yang tidak dikehendaki. Proses Manajemen Risiko di atas, terutama mulai dari tahap Identifikasi Risiko hingga Penanganan Risiko secara teknisj detail akan dibahas dalam Bab III Risk Assessment.
c.Tingkat Kedewasaan (Maturitas) Implementasi Manajemen Risiko Kondisi lingkungan internal dan eksternal organisasi yang selalu berubah- ubah mengharuskan Manajemen Risiko di implementasikan dan dikembangkan secara terus menerus. Terdapat banyak model pengukuran tingkat kedewasaan (maturitas) Implementasi Manajemen Risiko. Dalam lampiran disajikan salah satu model pengukuran yang dipublikasikan oleh CAl India yang dapat dipakai oleh pihak internal organisasi (manajemen) maupun oleh Satuan Pengawas Internal (APIP). 23 A. Perencanaan Tujuan kegiatan perencanaan adalah sebagai berikut : • Mempersiapkan segala hal yang terkait dengan pelaksanaan Risk Assessment. • Tercapainya hasil RA secara optimal. • Meminimalisir kesalahan dan ketidakefisienan pelaksanaan RA. Ruang lingkup perencanaan meliputi: • Penentuan fokus grup (Tim Pendamping) • Penentuan ruang lingkup Assessment (Strategik, Organisasi, Proyek) • Penentuan waktu pelaksanaan RA • Aktivitas yang akan dilaksanakan 24 B. Pelaksanaan Pemahaman Bisnis Tujuan dilakukannya pemahaman bisnis adalah sebagai berikut : • Dipahaminya kondisi internal dan eksternal organisasi. • Diketahuinya tujuan organisasijfungsi sebelum mengidentifikasi risiko yang akan menghambat pencapaian tujuan . • Dipahaminya seperangkat kriteria risiko sebagai dasar untuk menentukan peringkat risiko pada saat mengevaluasi risiko. Ruang lingkup pemahaman bisnis mencakup hal-hal sebagai berikut: • Pemahaman konteks stratejik organisasi; Meliputi aktivitas perumusan hubungan antara organlsasl dengan lingkungannya baik lingkungan internal maupun eksternal. Dalam pengertian stratejik termasuk pula identifikasi stakeholder, mempertimbangkan tujuan, ekspektasijharapan dan persepsi mereka serta membentuk komunikasi dengan pihak-pihak tersebut. • Pemahaman proses bisnis organisasi; • Risk Appetite (Selera Risiko) Selera risiko (risk appetite) adalah tingkat risiko yang dapat diterima oleh suatu organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan. • Toleransi risiko Toleransi risiko adalah tingkatan variasijpenyimpangan re1atif yang dapat diterima terhadap pencapaian sasaran. • Pemahaman kriteria evaluasi risiko. Kriteria Pengukuran: Yaitu ukuran kriteria yang digunakan untuk menentukan besaran ukuran dari suatu risiko (baik likelihood maupun konsekuensi) dalam skala Likert 1 s.d 5. Contoh ukuran kriteria lihat Lampiran .... 25 Identifikasi Risiko Prosedur identifikasi risiko dapat dilakukan dengan langkah-Iangkah sebagai berikut: o Menentukan Tujuan Kegiatan/Program/Organisasi o Menentukan Peristiwa Risiko o Menentukan Penyebab Risiko o Menentukan Dampak Risiko o Menentukan Pengendalian yang ada Hasil Identifikasi Risiko berupa Register Risiko, formulir nya dapat dilihat pada lampiran 2. Analisis Risiko dan Evaluasi Risiko Analisis risiko merupakan suatu proses pengukuran yang sistematis untuk menentukan seberapa sering suatu peristiwa risiko mungkin teIjadi dan seberapa besar dampak yang ditimbulkan dari peristiwa tersebut. Tujuan analisis risiko adalah untuk memahami risiko yang penting untuk dikelola secara aktif dan menyediakan data untuk membantu menentukan prioritas penanganan risiko. Evaluasi risiko merupakan langkah lanjutan dari analisis risiko dan merupakan proses pembandingan antara level risiko yang diperoleh selama proses analisis dengan kriteria risiko yang ditetapkan sebelumnya. Evaluasi terhadap risiko dilakukan dengan tujuan untuk menentukan prioritas risiko sehingga dapat diketahui risiko mana saja yang perlu mendapat perhatian segera dan penanganan risiko lebih lanjut. Penentuan prioritas risiko dilakukan dengan membandingkan risiko terestimasi dengan kriteria risiko yang telah diperoleh pada tahapan pemahaman bisnis. Hasil dari evaluasi risiko adalah daftar prioritas risiko yang memerlukan tindakan lebih Ianjut. Prosedur untuk melakukan analisis dan evaluasi risiko adalah sebagai berikut:
1.Memahami Kriteria Ukuran Risiko Setelah risiko diidentifikasi, kegiatan selanjutnya adalah menetapkan tingkat risiko. Untuk memutuskan ke dalam mana suatu tingkat risiko 26 harus digolongkan, maka harus dipahami terlebih dahulu kriteria ukuran likelihood maupun dampak terjadinya risiko. Kriteria untuk rating/ skala likelihood risiko dan dampak terjadinya risiko diusulkan oleh pihak yang berwenang (pada Pemerintah Daerah sebaiknya ditetapkan me1alui Peraturan Kepala Daerah).
2.Mengestimasi Likelihood Terjadinya Risiko. Estimasi likelihood risiko dilakukan dengan menggunakan tabel kriteria pengukuran risiko yang sudah diperoleh pada tahap pemahaman bisnis.
3.Mengestimasi Konsekuensi Risiko Estimasi Konsekuensi risiko dilakukan dengan menggunakan tabel kriteria pengukuran risiko yang sudah diperoleh pada tahap pemahaman bisnis.
4.Menilai Efektivitas Pengendalian Risiko yang Ada Dalam memperkirakan besarnya dampak negatif yang dapat ditimbulkan (bila risiko terjadi) dan perkiraan tentang besarnya likelihood terjadinya risiko harus dipertimbangkan terlebih dahulu efektivitas pengendalian risiko yang ada pada organisasi. Dengan demikian, level risiko yang diukur likelihood dan dampaknya adalah level risiko setelah mempertimbangkan efektivitas pengendalian risiko yang ada.
5.Mengukur Risiko dengan Menggunakan Model Risiko Standar. Besarnya risiko secara prinsip dapat diukur dengan melihat seberapa besar likelihood risiko tersebut terjadi dan seberapa besar dampaknya terhadap pencapaian target kinerja organisasi yang telah ditetapkan, dapat dirumuskan sebagai berikut : Risiko = Likelihood x Konsekuensi 27 Dengan cara melakukan analisis likelihood dan dampak dari risiko tersebut akan dapat diketahui besarnya risiko yang akan menjadi hambatan dalam pencapaian target organisasi secara keseluruhan. Tingkatjbesarnya risiko diperoleh dari hasil perkalian likelihood dan dampak, tingkat risiko yang tertinggi adalah bernilai= 25 (5X5), sedang tingkat risiko yang terendah adalah bernilai= 1 (lX1).
6.Evaluasi Risiko Setelah berhasil mengkuantifikasi jumlah likelihood dan konsekuensi dari setiap peristiwa risiko, kemudian dilakukan evaluasi risiko berdasarkan level risiko dari yang mempunyai nilai terbesar sampai dengan terkecil. Contoh Level Risiko dikelompokkan menjadi 4 (empat), yaitu :
a.Risiko Ekstrim : nilai > 15 s.d 25
b.Risiko Tinggi : nilai > 10 s.d 15
c.Risiko Sedang : nilai > 5 s.d 10
d.Risiko Rendah : nilai 1 s.d 5 Rincian analisis dan evaluasi risiko lihat lampiran 3.
7.Membuat Peta Risiko. Risiko yang telah disortir ditampilkan dalam bentuk peta risiko. Peta risiko dibuat secara terpisah berdasarkan masing-masing unit kerjaj direktoratj korporat. Peta risiko digambarkan melalui kombinasi sumbu horisontal yang menunjukkan besaran likelihood dan sumbu vertikal yang menunjukkan besaran dampak (lihat lampiran 4).
8.Membuat Daftar Prioritas Risiko Dengan menggunakan daftar risiko dan peta risiko yang telah disusun, dibuat suatu keputusan atau konsensus final tentang risiko mana yang dapat diterima atau tidak dapat diterima. Risiko yang tidak dapat diterima akan menjadi prioritas perhatian manajemen. Risiko dikatakan dapat diterima bila :
a.Level risiko rendah sehingga tidak perlu penanganan khusus;
b.Tidak tersedia penanganan untuk risiko; 28
c.Biaya penanganan untuk pengendalian lebih rendah dari manfaat yang diperoleh bila risiko tersebut terjadi;
d.Peluang dari suatu risiko tersebut lebih besar dibandingkan dengan ancaman dari risiko tersebut. (Risiko Regulasi yang menguntungkan);
e.Risiko yang terjadi tidak mempengaruhi dari pencapaian tujuan organisasi. Jika hasil evaluasi risiko masuk dalam kategori rendah atau risiko yang dapat diterima, rnaka risiko tersebut diterima dengan sedikit penanganan risiko lanjutan. Risiko yang rendah atau dapat diterima harus dipantau dan ditelaah secara periodik untuk menjamin bahwa risiko tersebut tetap dapat diterima. Apabila hasil evaluasi risiko menunjukkan bahwa risiko tidak masuk dalam kategori rendah dan tidak dapat diterima, maka risiko tersebut harus ditangani secara aktif dengan satu atau lebih opsi penanganan risiko. Penanganan Risiko Tujuan yang ingin dicapai pada tahap penanganan risiko adalah untuk menentukan opsi penanganan risiko dengan tepat yaitu yang paling efektif dan efisien dan dapat diimplementasikan untuk mengurangi likelihood dan atau dampak atas risiko yang belum dapat diterima pada tahap evaluasi risiko, dengan mempertimbangkan adanya kendala-kendala dalam memperlakukan risiko terutama dari aspek ketersediaan danaf anggaran. Opsi risiko meliputi : 1) Menghindari Risiko Menghindari risiko dapat dilakukan dengan memutuskan untuk tidak melanjutkan aktivitas yang akan mendatangkan risiko, dengan memilih alternatif aktivitas lain yang dapat diterima, yang dapat memenuhi sasaran organisasi, atau memilih alternatif lain yang proses dan metodologinya mempunyai risiko yang lebih rendah. Penghindaran risiko yang tidak wajar berupa keengganan untuk melakukan suatu kegiatan dapat menimbulkan dan meningkatkan risiko lainnya. 29 Keengganan berisiko dapat mengakibatkan: • Keputusan untuk menghindari atau mengabaikan risiko tanpa memperhatikan informasi yang tersedia dan biaya yang akan dikeluarkan untuk menangani risiko terse but bila terjadi; • Kegagalan untuk menangani risiko; • Penyerahan pilihan kritis dan atau keputusan kepada pihak lain; • Penangguhan keputusan yang tidak dapat dihindari oleh perusahaan; • Memilih suatu pilihan karena secara potensial merupakan risiko terendah tanpa menghiraukan manfaatnya. 2) Mengurangi Tingkat Likelihood Terjadinya Risiko Opsi mengurangi tingkat likelihood dapat dilakukan antara lain dengan: • Melakukan audit dan program peningkatan pengendalian internal; • Membuat persyaratan kontrak yang komprehensif; • Melakukan inspeksi dan pengendalian proses; • Manajemen investasij Proyek; • Melakukan perawatan yang bersifat preventif; • Melaksanakan jaminan kualitas, manajemen dan standar; • Pelatihan terstruktur; • Supervisi; • Pengujian; • Penataan organisasi. 3) Mengurangi Dampak Risiko Opsi mengurangi dampak risiko dapat dilakukan antara lain dengan: • Membuat rencana kontinjensi; • Menyelaraskan kontrak; • Membuat persyaratan kontrak yang komprehensif; • Membuat rancangan (design features); • Menyusun rencana pemulihan akibat bencana; • Menyusun rencana pengendalian kecurangan; • Meminimalkan eksposure terhadap sumber risiko; • Menyusun rencana portofolio; • Memisahkan atau merelokasi suatu aktivitas atau sumberdaya secara terpisah; • Melakukan hedging piutangjhutang. 30 4) Memindahkan Risiko Opsi memindahkan risiko dapat dilakukan de:ngan melibatkan pihak lain untuk menanggung atau membagi beberapa bagian risiko. Mekanismenya meliputi penggunaan kontrak, penutupan asuransi dan struktur organisasi seperti kemitraan dan usaha patungan. 5) Menerima Risiko Setelah risiko dikurangi atau dipindahkan, mungkin masih terdapat risiko tersisa (residual risk). Risiko ini diterima tanpa penanganan lebih lanjut. Opsi penanganan risiko tidak bersifat mutually-exclusive (satu risiko satu opsi) atau satu opsi cocok untuk semua kondisi risiko. Secara umum, biaya penanganan risiko harus sepadan dengan manfaat yang diperoleh. C. Pelaporan Pelaporan hasil risk assessment merupakan kegiatan terakhir dari risk assessment setelah kegiatan pelaksanaan risk assess met di lapangan dilakukan. Pe1aporan merupakan pertanggungjawaban hasil kegiatan risk assessment yang dilakukan oleh Tim Risk Assessment kepada manajemen perusahaan yang diwujudkan dalam bentuk Laporan Hasil Risk Assessment. Kegiatan pelaporan dilakukan mulai dari penyiapan laporan risk assessment, penandatanganan laporan risk assessment sampai dengan pendistribusian laporan hasil risk assessment kepada Pimpinan Organisasi. Bentuk/format Laporan Hasil Risk Assessment dapat dilihat pada lampiran ... 31 BABIII DOKUMENTASI MANAJEMEN RISIKO A. Tinjauan Umum Strategi pengelolaan risiko bisa terdiri dari lebih dari satu opsi penanganan seperti yang telah disebutkan dalam bab terdahulu, tergantung sifat risiko yang dikelola. Manajemen risiko harus dimulai pada tahap pereneanaan strategis dari suatu aktivitas yang diusulkan dan dilaksanakan seeara terus-menerus sepanjang umur proyek atau aktivitas. Strategi pengelolaan risiko harus menggambarkan analisis yang dilakukan dan berorientasi pada risiko aktivitas usaha. Untuk meyakinkan bahwa strategi pengelolaan risiko diimplementasikan dan dijalankan sesuai dengan rene ana, harus dilakukan suatu pendekatan yang terstruktur yang meliputi penyusunan reneana pengelolaan risiko, register risiko dan tools yang lain untuk pemantauan dan pelaporan. B. Dokumentasi Manajemen Risiko dan Risk Assessment Segala sumberdaya perlu dikerahkan untuk menerapkan dan memantau strategi pengelolaan risiko dan reneana tindakan risiko. Penerapan tersebut meliputi tahap-tahap sebagai berikut: • Penyusunan sasaran kineIja • Tanggungjawab spesifik • Alokasi dan pengendalian sumberdaya • Jadwal dan peristiwa-peristiwa penting yang spesifik • Pemantauan kemajuan dan peneapaian • Pemberian bantuan atas penyelesaian masalah-masalah. Untuk kebanyakan aktivitas, dokumentasi strategi pengelolaan risiko harus menjadi bagian integral dari reneana pelaksanaan aktivitas. Untuk aktivitas- aktivitas signifikan permulaan bisnis baru, reneana tindakan risiko harus termasuk dalam proposal modal atau reneana bisnis. 32 Dokumen strategi pengelolaan risiko harus mencakup : • Penjelasan atas konteks, meliputi penjelasan atas kegiatan aktivitas, ruang lingkup, permasalahan, stakeholder, tujuan, kriteria dan faktor-faktor kunci keberhasHan . • HasH-hasH risk assessment, termasuk penjelasan atas peristiwa-peristiwa risiko (risks events), tingkat signifikansi dan tingkat kemungkinan dan daftar prioritas risiko . • Opsi pengurangan risiko, keuntungan dan kerugiannya, juga biaya dan manfaatnya. • Tindakan pengurangan risiko yang disarankan, termasuk pernyataan atas manfaat (why)dan kendala-kendalanya (risiko residual). • Rencana, meliputi kegiatan yang diusulkan (what) tanggungjawab (who) kebutuhan sumberdaya (how) waktu (when) pelaporan (hasH) kegiatan pemantauan dan penelaahan (apakah tindakan penanganan risiko efektif dan efisien). C. Rencana Tindakan Risiko (Risk Action Plan/RAPI Rencana tindakan terhadap risiko (risk action plan/R.APj disusun untuk menjabarkan penerapan strategi penanganan risiko secara lebih rinci. RAP ini harus dibuat dan dikembangkan untuk setiap jenis risiko yang terpilih. Bentuk atau format RAP biasanya berupa checklist yang disajikan dalam bentuk table atau rencana manajemen yang lebih komprehensif tergantung dari kompleksitas ukuran penanganan risiko dan hubungannya dengan proyek atau aktivitas bisnis yang lain. Dalam menyusun RAP untuk masing-masing risiko harus mempertimbangkan kesiapan staf untuk terjadinya suatu peristiwa risiko. Harus dipertimbangkan juga aturan dan tanggung jawab pada masa krisis dan strategi untuk mengatasi konsekuensi potensial terhadap segi finansial, operasional, dan dampaknya terhadap manusia. Komunikasi risiko dengan stakeholder intern dan ekstern harus juga merupakan pertimbangan dalam menyusun rencana tersebut. D. Register risiko Register risiko adalah sebuah alat bantu untuk mengelola dan memantau risiko yang memiliki sifat kesinambungan. Setiap risiko individual harus didaftar untuk memudahkan penelusuran statusnya dan menyediakan suatu indikasi 33 risiko residual. Rincian tiap risiko individual harus dimasukkan dalam database register risiko yang mencatat informasi sebagai berikut: • Identifikasi nomor risiko • Uraian yangjelas tentang peristiwa risiko • Kerangka pengendalian yang digunakan • Analisis tingkat kemungkinan dan konsekuensi potensial dengan mempertimbangkan pengendalian • Evaluasi atas kepentingan organisasi yang dinyatakan sebagai prioritas yang disetujui. • Tingkat risiko inheren apabila pengendalian tidak bekerja sesuai dengan yang diinginkan • Ketua tim atau manajer yang bertanggung jawab penuh terhadap setiap risiko • Ringkasan tindakan penanganan risiko yang diusulkan atau yang diambil • Status pengelolaan risiko • Tanggal memasukkan risiko • Tanggal revisi terakhir • Alasan dilakukannya revisi • Nama personil yang mengajukan revisi Pada tiap jenjang manajemen didalam organisasi, harus ditunjuk staf atau pegawai yang ditugaskan untuk menyelenggarakan register risiko yang berisi daftar risiko yang relevan dengan area yang menjadi tanggungjawabnya. E. Pemantauan, Audit, dan Penelaahan Implementasi yang efektif atas RAP memerlukan pemantauan dan pene1aahan atas kemajuannya secara teratur untuk menentukan apakah tingkat penanganan risiko yang diperlukan telah dicapai, apakah tindakan korektif lebih lanjut diperlukan dan apakah risiko telah dapat dike1uarkan dari database. Risiko yang baru mungkin teridentifikasi dalam proses review yang terus menerus dan rencana tindakan risiko yang baru juga dikembangkan dan ditambahkan dalam register risiko. Teknik pemantauan meliputi hal-hal sebagai berikut: • Manajemen risiko harus menjadi agenda yang rutin dalam setiap workshop review proyek. Daftar pengawasan untuk risiko yang bersifat major atau signifikan harus direview dan apabila perlu di update. 34 • Survey atas risiko dan hasilnya, harus digunakan dalam aktivitas jangka panjang untuk merevisi daftar major, moderate dan risiko minor untuk membuatkan reneana tindakan risiko yang baru dan untuk merevisi daftar pengawasan. Tanggung jawab untuk melaksanakan survey dan frekuensinya harus disebutkan seeara spesifik dalam strategi penanganan risiko . • Audit yang bersifat reguler dan sedang berjalan menyediakan suatu kesempatan bagi penanggungjawab atas masalah risiko-risiko bisnis untuk menentukan apakah implementasi seeara detail atas proyek atau aktivitas bisnis telah memenuhi kinerja yang ditetapkan. F. Pelaporan Proses pelaporan harus ditentukan untuk menjaga agar manajemen selalu mendapatkan informasi atas kemajuan aktivitas pengelolaan risiko. Alasan- alasan untuk membuat laporan hasil pengelolaan risiko adalah: • Akuntabilitas dan auditabilitas, sehingga manajer bertanggung jawab atas keputusan yang diambil • Sebagai sumber informasi untuk kegiatan dimasa mendatang. • Sebagai eatatan atas evaluasi pasea penyelesaian aktivitas. Suatu evaluasi atas risk assessment dan proses manajemen risiko harus digabungkan dalam suatu laporan hasil review atas penyelesaian seluruh aktivitas. Melalui mekanisme ini perusahaan dapat memantau kinerjanya dengan mengaeu pada manajemen risiko dan membangun pengalaman kolektif untuk meningkatkan kinerja seeara keseluruhan. • Sarana komunikasi di antara tim Manajemen Risiko dan penelusuran proses manajemen risiko . • Sarana komunikasi dengan stakeholder intern. Hal ini penting agar pengguna terakhir atau pemilik memahami risiko dan tindakan yang telah dilakukan dalam proses perumusan strategi. • Sarana komunikasi dengan stakeholder ekstern seperti penyedia dana dan penutup asuransi. Sering mereka ingin mengetahui risiko residual yang masih tersisa setelah tindakan manajemen diambil dan hasil-hasil yang buruk setelah reneana tindakan penanganan risiko diimplementasikan. • Sebagai alat due diligence apabila terjadi masalah di waktu yang akan datang yang memerlukan bukti bahwa risiko telah diidentifikasi dan ditangani. Tindakan apa yang telah diambil, bagaimana, mengapa, oleh siapa, 35 bagaimana tindak lanjutnya dan juga bagaimana pemantauan dan penelaahan yang dilakukan. Penugasan Risk Assessment sebagai awa11angkah konkrit pengimplementasian manajemen risiko menghasilkan Laporan Hasil Risk Assessment dengan format pelaporan sebagaimana dapat dilihat pada lampiran 5. 36 • Dukungan dan komitmen penuh dari manajemen dan staf Eksekutif organisasi harus mendefinisikan dan mendokumentasikan kebijakan mengenai manajemen risiko, termasuk tujuan dan komitmen terhadap manajemen risiko. Kebijakan manajemen risiko harus relevan dengan konteks strategi dan sasaran, tujuan dan sifat operasi perusahaan. • Ketersediaan informasi dan proses yang mudah dipahami Manajemen harus menjamin bahwa kebijakan mengenai manajemen risiko terse but dapat dipahami, diimplementasikan dan dipelihara oleh setiap tingkat organisasi. • Tanggungjawab dari pelaksanajpemilik kegiatanjpemilik risiko Perlu adanya tanggungjawab, wewenang dan hubungan yang kondusif antar pegawal yang melaksanakan dan memverifikasi pekerjaan yang mempengaruhi manajemen risiko. • Kondisi sekarang dan rencana atas kondisi yang diinginkan Adanya perumusan mengenai kondisi sekarang dan kondisi yang direncanakan tercipta dengan pengimplementasian manajemen risiko. Hal ini ditujukan untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. • Sumberdaya yang memadai untuk mendukung pelaksanaan manajemen risiko. Perusahaan harus mengidentifikasi kebutuhan sumberdaya dan menyediakan sumberdaya yang memadai, termasuk penugasan pegawai yang terlatih untuk manajemen, pelaksanaan pekeIjaan, dan verifikasi aktivitas termasuk penelaahan intern. • Komunikasi dan pelatihan yang berkelanjutan Perlu adanya komunikasi dan pelatihan yang berkelanjutan terhadap tindakan sebagai berikut: \ 37 • untuk mencegah atau mengurangi dampak yang merugikan dari suatu risiko • penanganan terhadap risiko sampai tingkat risiko yang dapat diterima • Identifikasi dan dan pendokumentasian atas setiap masalah yang berhubungan dengan manajemen risiko • rekomendasikan atausolusi yang ditentukan melalui saluran yang ditunjuk • verifikasi terhadap implementasi solusi • komunikasi dan konsultasi yang terus-menerus baik dengan pihak intern maupun ekstern • Praktik yang sehat dan profesional Pegawai melaporkan adanya risiko yang mungkin terjadi didalam bagiannya secara apa adanya (obyektif) dengan penuh tanggung jawab untuk mengelola risiko tersebut dengan sebaik-baiknya. • Sarana untuk mengukur hasil yang dicapai Perlu dibuat suatu benchmark untuk mengukur kinerja sistem manajemen risiko dan dilaporkan kepada manajemen organisasi untuk ditelaah dan dijadikan sebagai dasar melakukan perbaikan. • Penegakan Peraturan Perlu adanya suatu ketentuan yang mengatur tentang keharusan untuk melaksanakan manajemen risiko, contohnya melalui Surat Keputusan Menteri BUMN,dan lain-lain. • Pemantauan yang berkesinambungan Eksekutif perusahaan harus menjamin adanya pemantauan dan penelaahan bahwa sistem manajemen risiko dilaksanakan secara teratur pada interval tertentu, yang cukup untuk secara terus-menerus menjamin kesesuaian dan efektivitas sesuai persyaratan dalam pedoman, dan sesuai pernyataan kebijakan dan tujuan manajemen risiko organisasi. Catatan atas penelaahan terse but harus dipelihara. Adapun Pelaksanaan penugasan risk assessment dapat terlaksana dengan baik bila didukung oleh faktor-faktor sebagai berikut: • Dukungan dan komitmen penuh dari manajemen dan staf 38 Dukungan dan komitmen ini tidak saja berasal dari tim risk assessment tetapi juga dari manajemen dan staf perusahaan (perusahaan yang diases). • Transparansi informasi Manajemen dan staf perusahaan harns menjamin bahwa semua informasi dan kebijakan telah disampaikan secara benar dan lengkap . • Tanggungjawab dari pelaksanajpemilik kegiatanjpemilik risiko Perlu adanya tanggungjawab, wewenang dan hubungan yang kondusif antar pegawai yang melaksanakan dan memverifikasi pekerjaan yang mempengaruhi manajemen risiko . • Komunikasi yang baik antara tim risk assessment dan pemilik kegiatanjpemilik risiko Tim risk assessment selalu menciptakan komunikasi dua arah sehingga dapat memperoleh informasi yang lengkap dan mutakhir . • Tehnik-tehnik risk assessment. Tersedianya panduan dan teknik-teknik risk assessment guna memudahkan tim risk assessment dalam melaksanakan tahapan-tahapan risk assessment, sehingga menjamin kualitas hasil risk assessment. • Sumber daya yang memadai untuk pelaksanan risk assessment Personil yang terlibat dalam penugasan risk assessment tidak saja harns kompeten dan memiliki integritas yang tinggi tetapi juga memiliki kreativitas. Disamping itu untuk meningkatkan kemampuan assessment perlu didukung dengan program pelatihan baik berupa pengetahuan teknis maupun pemahaman bisnis perusahaan. • Sarana untuk mengukur hasil yang dicapai Perlu dibuat suatu standar kinerja untuk mengukur dan mengendalikan kualitas (quality assurance) atas pelaksanaan asesmen risiko. • Monitoring Tindak Lanjut Tim risk assessment berkewajiban untuk memonitor pelaksanaan rekomendasi yang telah diberikan oleh tim sebelumnya guna meyakinkan bahwa rekomendasi perbaikan telah dilaksanakan oleh perusahaan. Lampiran 1 Check List Penilaian Kematangan Manajemen Risiko Ceklist Penllaian Tingkat Kematangan Manajemen Risiko No. Uraian Skor fO-21
1.Tujuan organisasi terdokumentasi dan dipahami dengan baik
2.Manajemen telah memahami risiko dan tanggung jawab atas risiko terse but
3.Proses identifikasi risiko telah ditetapkan dan dipatuhi
4.Sistem skoring untuk penilaian risiko telah ditetapkan
5.Seluruh risiko telah dinilai dengan sistem skoring yang telah ditetapkan
6.Respon atas risiko telah ditetapkan dan diimplementasikan
7.Risk appetite telah ditetapkan dengan sistem skoring
8.Risiko telah dibagi tanggung jawabnya dan didokumentasikan dalam risk register
9.Manajemen telah menetapkan model pemantauan atas proses, respon dan action plan risiko.
10.Risk register di-update secara periodik II. Manajer melaporkan kepada pimpinan puncak bila terdapat risiko yang belum ditekan pada tingkat yang dapat diterima
12.Kegiatan yang bersifat proyekjprogram selalu dinilai risikonya
13.Uraian tanggung jawab menetapkan risiko, menilai risiko dan mengelolanya termasuk dalam uraian tugas dan tanggung jawab pegawai
14.Manajer memberikan jaminan efektifitas pengelolaan risiko
15.Setiap manager dinilai kineIjanya dalam mengelola risiko Jumlah Keterangan Skor: 0= tidak ada 1 = ada hanya sebagian atau belum diterapkan 2 = ada dan telah diimplementasikan Hasil penilaian kemudian diakumulasi dan menghasilkan skor total. Lampiran I Check List Penilaian Kematangan Manajemen Risiko Kategorisasi Risiko berdasarkan skor penilaian kematangan risiko Nilai Kategori o - 7 Risk Naive 8 - 14 Risk Aware 15 - 20 Risk Defined 21 - 25 Risk Managed Di atas 26 Risk Enabled Berdasarkan hasil penilaian terse but di atas, dapat diambil sirnpulan sebagai berikut.
1.Risk naive / Initial, berarti organisasi belurn rnernbangun rnanajernen risiko sarna sekali atau sudah ada rnanajernen risiko namun rnasih sangat lernah. Belurn narnpak adanya kornitmen rnanajernen baik terhadap pernbangunan rnaupun penerapan rnanajernen risiko. Selain itu terdapat indikasi pengendalian internal organisasi belurn rnernadai.
2.Risk aware / Repeatable, berarti organisasi relatif sudah rnernbangun rnanajernen risiko namun belurn diterapkan atau penerapannya belurn rnernadai, selain itu pengendalian internal organisasi belurn beIjalan dengan baik.
3.Risk defined berarti organisasi relatif sudah rnernbangun rnanajernen risiko narnun penerapannya rnasih banyak kelernahan. Pengendalian internal organisasi sudah relatif beIjalan baik.
4.Risk managed berarti organisasi sudah rnernbangun rnanajernen risiko dan telah diterapkan dengan baik rneskipun rnasih terdapat beberapa kelernahan dalam pelaksanaannya. Pengendalian internal organisasi juga relatif telah rnernadai.
5.Risk enabled / Optimised, berarti organisasi sudah rnernbangun rnanajernen risiko dan telah diterapkan dengan baik. Pengendalian internal organisasi juga relatif telah rnernadai. Lampiran 212-2 Nama Sub Judull Kolom Cara Penglsian Nama Oraanisasi Oiisi denaan nama oerusahaan vana akan melakukan identifikasi risika Bidang I Program I Kegiatan Oiisi dengan nama unit ke~a yang akan melakukan identifikasi risiko. Unit kerja dimungkinkan pada tingkat Organisasi, Program, Kegiatan teraantuna Dada scooe oekeriaan identifikasi risiko di oraanisasi Sasaran I Tuiuan Oiisi denQan sasaran atau tuiuan dari unit keria vanQ melakukan identifikasi risiko, vaitu Kev Perfonmance Indicator (KPI) tahun berialan. Indikasi risiko Oiisi dengan uraian gejalalkondisilmasalah yang dapat menunjukkan adanya suatu peristiwa risiko yang dapat diamati melalui 4 (empat) hal yaitu;
1.Masalah di masa lalul periode be~alan yang mengindikasikan keberadaan suatu risiko pada periode be~alan
2.Perubahan selama periode be~alan yang mengindikasikan keberadaan suatu risiko pada periode be~alan 3.Tingkat kerum~an atas suatu proses operasi yang kompleks 4.Hal-hal vana diidentifikasi oleh oara Dakar vana menaindikasikan keberadaan suatu risiko Dada oeriode berialan. Nama risiko dan pernyataan risiko Oiisi dengan nama risiko dan penjelasan singkat dari nama risiko atau suatu keadaan yang akan timbul dan menghambat pencapaian sasaran/tuiuan unit keria. Sebab risiko Oiisi dengan penyebab yang menimbulkan peristiwa risiko yang bersumber dari ekstemal maupun internal. Penyebab dimungkinkan diisi lebih dari satu faktor. Uncontrollablel Controllable Oiisi dengan UC (uncontrollable) bila penyebab timbulnya peristiwa risiko bersumber dari ekstemal unit ke~a. Oiisi dengan C (controllable) bila oenvebab timbulnva oeristiwa risiko bersumber dari internal unit keria. Oampak Oiisi dengan akibat yang ditimbulkan karena adanya peristiwa risiko yang harus ditanggung oleh manajemen, seperti; kecelakaan ke~a, kerusakan Iinokunaan kehilanaan reoutasiloelanoaan dan keruaian finansial. Oamoak dimunakinkan diisi lebih dari satu faktor. Pengendalian Risiko yang Ada Pengendalian risiko meliputi serangkaian aktivitas - yang berbeda seperti persetujuan, otorisasi, verifikasi, rekonsiliasi, penelaahan kine~a operasi, keamanan aktiva dan pemisahan tugas-tugas. Pengendalian risiko terhadap Sistem Infonmasi mencakupi pengendalian urn urn dan pengendalaian aplikasi. Kolom ini diisi dengan uraian pengendalian risiko yang ada tersebut. Tingkat Likelihood Oiisi dengan tingkat likelihood te~adinya peristiwa risiko. Pemberian nilai diberikan dengan bobot yang diklasifikasikan menjadi 5 (lima) kategori, ya~u: - Nilai 1 bila peristiwa risiko jarang te~adi - Nilai 2 bila peristiwa risiko kemungkinan kecil te~adi - Nilai 3 bila peristiwa risiko kemungkinan sedang te~adi - Nilai 4 bila peristiwa risiko kemungkinan besar te~adi - Nilai 5 bila oeristiwa risiko hamoir oasti tefiadi. Tingkat Oampak Oiisi dengan tingkat dampak yang ditimbulkan dafi pefistiwa fisiko. Pemberian nilai diberikan dengan bobot yang diklasifikasikan menjadi 5 (lima) kategori, ya~u: - Nilai 1 bila pefistiwa risiko berdampak tidak signifikan terhadap sasaran/tujuan organisasi. - Nilai 2 bila pefistiwa fisiko berdampak rendah/sebagian kecil terhadap sasaranltujuan organisasi. - Nilai 3 bila peristiwa risiko berdampak menengah/cukup luas terhadap sasaranltujuan organisasi. - Nilai 4 bila pefistiwa fisiko berdampak besarlluas terhadap sasaran/tujuan organisasi.. - Nilai 5 bila oefistiwa fisiko berdamoak dahsvatisanQat luas terhadao sasaran/tuiuan orQanisasi. Level Risiko Oiisi denoan nilai oerkalian bobot likelihood denaan bobot damoak. Nomor Urutan Prioritas Risiko Oiisi denaan nomor urutan level risiko dari terbesar samoai denaan terkecil meruoakan urutan orioritas risiko untuk ditanaani. Pedoman Risk Assessment Nama Organisasi Bidangl Programl Kegiatan Sasaran I Tujuan CONTOH REGISTER RISIKO Lampiran 2/1-2 Nama Risiko dan Pengendalian Risiko Tingkat Tingkat Nomor Urutan No Indikasi Risiko No Sebab Risiko UC/C Dampak Level Risiko Prioritas Pernyataan Risiko yang Ada Likelihood Dampak Risiko TIT 72f f3\ (4) IS) (6) (7) (8) (9) 110\ 11) = (9)xll0 (12) 1.Kompleksitas Ekstemal: Lingkungan UC
2.Perubahan alam,perekonomian, politik, sosial,teknologi
3.Masalah Intemal: SOM, alur C
4.Pendapat pakar proses,infrastruktur, teknologi Keterangan : UC (Uncontrollable) = Sebab risiko bersumber dari ekstemal organisasi C (Controllable) = Sebab risiko bersumber dari intemal organisasi Oisusun oleh : Oireviu oleh : Tanggal: Tanggal: A. Ukuran Likelihood CONTOH KRITERIA RISIKO Lampiran 3/ 1-4 Skala Uraian Penielasan 1 Jarang Risiko mungkin teIjadi hanya pada kondisi tidak normal. Probabilitas terjadinya di bawah 20%. 2 Kemungkinan Risiko mungkin terjadi pada beberapa keeil waktu. Probabilitas terjadinya diatas 20% samoai dene:an 40%. 3 Kemungkinan Risiko dapat teIjadi pada beberapa waktu. sedang Probabilitas terjadinya di atas 40% sampai dene:an 60%. 4 Kemungkinan Risiko akan mungkin teIjadi pada banyak besar keadaan. Probabilitas teIjadinya di atas 60% samoai dene:an 80%. 5 Hampir pasti Risiko dapat teIjadi pada banyak keadaan. Probabilitas teIjadinya di atas 80% sampai 100%. B. Ukuran Dampak Level Uraian Penielasan 1 Tidak - Kerugian finansial perusahaan sampai dengan signifikan RD. 500 iuta dalam 12 bulan periode - TeIjadinya penyakit dan keeelakaan keIja yang dapat diatasi dene:an tindakan P3K - TeIjadinya pelanggaran prosedur/peraturan lingkungan hidup, menimbulkan akibat yang tidak berarti dan tidak menimbulkan orotes - Kehilangan reputasi atau timbulnya publisitas ielek di line:kune:an internal perusahaan - TeIjadinya keluhan pelanggan dan disampaikan seeara lisan 2 Rendah - Kerugian finansial perusahaan sebesar Rp 500 juta sampai dengan Rp. 1 milyar dalam 12 bulan periode - TeIjadinya penyakit dan keeelakaan keIja yang dapat diatasi dengan bantuan medis berobat jalan - TeIjadinya pelanggaran prosedur / peraturan lingkungan hidup, menimbulkan akibat yang berarti dan menimbulkan protes (bukan tuntutan/tindakan hukuml Lampiran 3/2-4 - Kehilangan reputasi atau timbulnya publisitas jelek di media lokal dalam satu kabupaten / kota - TeIjadinya keluhan pelanggan dan disampaikan secara tertulis sebanyak 1 kasus sampai dengan 4 kasus. 3 Menengah - Kerugian finansial perusahaan di atas Rp 1 milyar sampai dengan Rp. 2 milyar dalam 12 bulan periode - TeIjadinya penyakit dan kecelakaan keIja dan dibutuhkan bantuan medis rawat inap di rumah sakit - TeIjadinya pelanggaran prosedur/peraturan lingkungan hidup, menimbulkan akibat yang berarti dan menimbulkan tuntutan/tindakan hukum - Kehilangan reputasi atau timbulnya publisitas jelek di media lokal dalam satu orooinsi - TeIjadinya keluhan pelanggan dan disampaikan secara tertulis sebanyak di atas 4 kasus sampai dengan 7 kasus 4 Besar - Kerugian finansial perusahaan di atas Rp 2 milyar sampai dengan Rp. 4 milyar dalam 12 bulan periode - TeIjadinya penyakit dan kecelakaan keIja dan menimbulkan kematian - TeIjadinya pelanggaran prosedur / peraturan lingkungan hidup,menimbulkan akibat yang cukup berarti dan menimbulkan tuntutan/tindakan hukum - Kehilangan reputasi atau timbulnya publisitas jelek di media nasional - TeIjadinya keluhan pelanggan dan disampaikan secara tertulis sebanyak di atas 7 kasus sampai dengan 10 kasus 5 Dahsyat - Kerugian finansial perusahaan di atas Rp. 4 milyar dalam 12 bulan oeriode - TeIjadinya penyakit dan kecelakaan keIja dan menimbulkan kematian serta mengancam penutuoan ooerasi oerusahaan - TeIjadinya pelanggaran prosedur/peraturan lingkungan hidup,menimbulkan akibat yang sangat berarti, menimbulkan tuntutan/tindakan hukum, dan mengancam penutupan operasi perusahaan. - Kehilane:an reoutasi atau timbulnva oublisitas Lampiran 3/ 3-4 jelek di media internasional - Terjadinya keluhan pelanggan dan disampaikan secara tertulis sebanyak lebih dari 10 kasus
c.Ukuran Gabungan Likelihood dan Dampak Ukuran gabungan likelihood dan dampak atau Level Risiko diperoleh berdasarkan perkalian level likelihood dengan dampak. Level risiko tertinggi bernilai 25 (5 x 5) sedangkan level risiko terendah bernilai 1 (1 xI). Level Risiko dikelompokkan menjadi 4 (empat), yaitu : SKOR LEVEL URAIAN <5 Rendah Dapat diterima, tidak diperlukan tindakan penanganan 5 - 10 Sedang Tidak diterima, diperlukan tindakan tindakan pengelolaan jika ada termasuk tersedianya sumber daya 11 - 15 Tinggi Tidak Diterima, Diperlukan tindakan 16 - 25 Ektrim Tidak Diterima, diperlukan tindakan segera Risiko dikatakan memiliki tingkat yang dapat diterima bila :
1.Level risiko rendah sehingga tidak perlu penanganan khusus
2.Tidak tersedia penanganan untuk risiko
3.Biaya penanganan termasuk biaya asuransi lebih tinggi dari manfaat yang diperoleh bila risiko tersebut diterima
4.Peluang dari adanya risiko tersebut lebih besar dari ancamannya
5.Risiko yang terjadi tidak mempengaruhi dari pencapaian tujuan perusahaan. lampiran 4 PETA RISIKO Nama Kegiatanl Programl Organisasi: '" . i ; : C) , 00) :c:~ I .•. ~ I Hampir past