MEMUTUSKAN: Dengan membatalkan segala ketentuan yang bertentangan dengan peraturan ini; Menetapkan : Peraturan Pemerintah tentang Gaji Pegawai Negeri Sipil Republik Indonesia tahun 1968 (P.G.P.S.-1968). GAJI-POKOK DAN PENGHASILAN-PENGHASILAN LAINNYA. A. UMUM. Pasal 1.
(1)Pegawai Negeri Sipil, untuk selanjutnya disebut pegawai, diangkat dalam pangkat-pangkat tersebut dalam lampiran A peraturan ini dengan pemberian gaji-pokok yang termuat dalam daftar-gaji dalam lampiran B, ditambah dengan tunjangan- tunjangan menurut peraturan ini.
(2)Pengangkatan dalam suatu pangkat termaksud dalam ayat. (1) diatas ini, dilakukan untuk menjalankan tugas-tugas pekerjaan dalam jabatan Negeri yang disediakan untuk pangkat yang bersangkutan.
(3)Nama jabatan bagi tugas pekerjaan dalam jabatan Negeri yang diperlukan oleh masing-masing Departemen/Lembaga ditentukan oleh Menteri yang bersangkutan setelah mendengar Kepala Kantor Urusan Pegawai dan dengan memperhatikan ketentuan- ketentuan yang berlaku mengenai jabatan itu.
(4)Untuk diangkat dalam suatu pangkat menurut peraturan ini, calon yang bersangkutan harus berusia sekurang-kurangnya 18 (delapan belas) tahun dan setinggi-tingginya 40 (empat puluh) tahun pada saat pengangkatannya serta serendah- rendahnya tamat Sekolah Dasar VI tahun.
(5)Kepada mereka yang dipekerjakan sebagai calon-pegawai dalam masa percobaan diberikan gaji-pokok-bulanan sebesar 80% (delapan puluh perseratus) dari gaji-pokok ditambah tunjangan-tunjangan yang dapat diberikan menurut peraturan ini. B. GAJI POKOK. Pasal 2. Gaji-pokok-permulaan. Kepada yang diangkat dalam suatu pangkat menurut peraturan ini diberikan gaji-pokok-permulaan menurut ruang/golongan gaji yang ditentukan untuk pangkat itu, kecuali dalam hal-hal yang dimaksudkan pada pasal 5 peraturan ini. Pasal 3. Penetapan gaji-pokok pada waktu kenaikan pangkat. Kepada pegawai yang diangkat dalam suatu pangkat termasuk ruang/golongan-gaji yang lebih tinggi daripada ruang/golongan- gaji menurut pangkat lama, diberikan gaji-pokok dan masa-kerja- golongan dalam ruang/golongan-gaji baru yang segaris dengan gaji- pokok dan masa-kerja-golongan dalam pangkat lama Pasal 4. Penetapan gaji-pokok pada pengangkatan dalam pangkat lebih rendah. Kepada pegawai yang diangkat dalam suatu pangkat termasuk ruang/golongan-gaji yang lebih rendah daripada ruang/golongan gaji menurut pangkat lama, diberikan gaji-pokok dan masa-kerja- golongan dalam ruang/golongan-gaji baru yang akan diperoleh seandainya ia terus menjabat pangkat baru itu. Pasal 5. Penetapan gaji-pokok dengan menghargai masa/pengalaman kerja.
(1)Penetapan gaji-pokok dapat menyimpang dari ketentuan- ketentuan pada pasal 2 peraturan ini:
a.jikalau ada alasan-alasan yang cukup untuk mengangkat pegawai yang berpengalaman dengan memberikan masa-kerja golongan,
b.pada waktu pengangkatan seorang yang mendapat pensiun atau tunjangan yang bersifat pensiun, baik yang diberikan sebagai bekas pegawai Negeri, bekas pegawai daerah Swatantra maupun sebagai bekas anggota ABRI, menjadi pegawai bulanan, maka kepadanya disamping pensiun atau tunjangan yang bersifat pensiun termaksud diberikan gaji-pokok-bulanan atas dasar sesuatu ruang/golongan gaji sesuai dengan masa-kerja-golongan,
c.pada waktu pengangkatan seorang yang mendapat pensiun atau tunjangan yang bersifat pensiun, baik yang diberikan sebagai bekas pegawai Negeri, bekas pegawai daerah Swatantra, maupun sebagai bekas anggota ABRI, menjadi pegawai Negeri, maka kepadanya apabila pemberian pensiun atau tunjangan yang bersifat pensiun tersebut dibatalkan, diberi gaji-pokok menurut suatu ruang-golongan-gaji sesuai dengan masa-kerja-golongan yang dihitung menurut ketentuan tentang masa-kerja- golongan termuat dalam pasal 17 peraturan ini.
(2)Penetapan gaji-pokok termaksud ayat (1) pasal ini dilakukan sebagai berikut:
a.apabila pangkat pegawai termasuk golongan/ruang-gaji yang sesuai dengan ijazahnya, maka kepadanya diberikan gaji-pokok sesuai dengan masa-kerja-golongan yang dihitung dalam golongan/ruang-gaji itu;
b.apabila pangkat pegawai termasuk golongan/ruang-gaji yang lebih tinggi daripada golongan/ruang-gaji menurut ijazahnya, maka kepadanya diberikan gaji-pokok dan masa-kerja-golongan yang terletak segaris dengan masa- kerja-golongan yang dihitung dalam golongan/ruang-gaji sesuai dengan ijazahnya;
c.apabila pangkat pegawai termasuk golongan/ruang-gaji yang lebih rendah daripada golongan/ruang-gaji menurut ijazahnya, maka kepadanya diberikan gaji-pokok yang sesuai dengan masa-kerja-golongan yang dihitung dalam golongan-ruang-gaji yang lebih rendah itu.
(3)Gaji-pokok menurut sesuatu ruang-gaji peraturan ini yang dapat ditetapkan berdasarkan ketentuan-ketentuan ayat (1) dan (2) pasal ini adalah setingggi-tingginya sebesar gaji- pokok maksimum setelah dikurangi dengan 2, (dua) kenaikan- gaji-berkala 3 (tiga) tahunan. Pasal 6. Kenaikan gaji berkala.
(1)Kenaikan-gaji-berkala diberikan jika dipenuhi syarat- syarat:
a.menurut daftar penilaian pelaksanaan pekerjaan (conduite staat) bagi yang bersangkutan menunjukkan kemampuan kerja, kerajinan dan kepatuhan (disiplin)- kerja dengan nilai "cukup" dan
b.mencapai masa-kerja-golongan yang ditentukan untuk kenaikan-gaji-berkala itu.
(2)Pemberian kenaikan-gaji-berkala menurut ayat (1) pasal ini ditetapkan 2 (dua) bulan sebelum kenaikan-gaji-berkala itu berlaku.
(3)Jika yang bersangkutan belum memenuhi syarat tersebut pada ayat (1) huruf a diatas ini, maka kenaikan-gaji-berkala itu ditunda paling lama untuk waktu 1 (satu) tahun. Jika sehabis waktu penundaan tersebut yang bersangkutan belum pula memenuhi syarat termaksud, maka kenaikan-gaji-berkala itu ditunda lagi tiap-tiap kali paling lama untuk 1 (satu) tahun.
(4)Jika tidak ada alasan lagi untuk penundaan pemberian kenaikan gaji itu, maka kenaikan-gaji-berkala diberikan mulai bulan berikutnya masa penundaan dan masa penundaan itu ikut dihitung penuh untuk kenaikan-gaji-berkala berikutnya. Pasal 7. Kenaikan gaji istimewa.
(1)Kepada pegawai yang menurut daftar penilaian pelaksanaan pekerjaan (conduite-staat) menunjukkan kemampuan kerja dan kerajinan dengan nilai "amat-baik", dan kepatuhan (disiplin)-kerja dengan nilai "baik", sehingga ia patut dijadikan teladan, dapat diberikan kenaikan gaji-istimewa dengan memajukan saat kenaikan gaji yang akan datang dan saat-saat kenaikan gaji-berkala selanjutnya dalam pangkat yang dijabatnya saat-pemberian penghargaan ini.
(2)Pemberian kenaikan-gaji-istimewa dilakukan oleh atau dengan persetujuan Menteri yang bersangkutan. C. TUNJANGAN-TUNJANGAN. Pasal 8. Ketentuan-ketentuan umum tentang tunjangan.
(1)Disamping gaji-pokok kepada pegawai diberikan tunjangan- tunjangan yang berkenaan dengan :
a.jumlah keluarganya,
b.tingkat kemahalan hidup,
c.tugas-tugas yang menjadi kewajibannya,
d.tanggung jawab pimpinan jabatan.
(2)Tunjangan-tunjangan yang berkenaan dengan tugas-tugas yang menjadi kewajiban pegawai termaksud ayat (1) huruf c diatas ini hanya diberikan untuk tugas-tugas kewajiban yang terletak di luar pekerjaan sehari-hari atau yang dilakukan di luar waktu kerja yang berlaku baginya. Pasal 9. Tunjangan keluarga.
(1)Kepada pegawai yang beristeri/bersuami diberikan tunjangan isteri/suami sebesar 5% (lima perseratus) dari gaji-pokok sebulan, dengan ketentuan bahwa jika suami-isteri kedua- duanya pegawai Negeri, tunjangan ini hanya diberikan kepada pegawai yang gajinya tertinggi.
(2)a. Kepada pegawai yang mempunyai anak dan/atau anak angkat yang berumur kurang dari 18 (delapan belas) tahun dan tidak kawin atau belum pernah kawin, diberikan tunjangan anak sebesar 2% (dua perseratus) dari gaji- pokok sebulan untuk tiap-tiap anak,
b.Tunjangan anak bagi anak-angkat diberikan hanya untuk seorang anak. Pasal 10. Tunjangan-kemahalan-daerah.
(1)Kepada pegawai yang berkedudukan di suatu daerah yang angka index kemahalannya lebih besar daripada angka index kemahalan daerah tertentu yang ditunjuk sebagai dasar (standard), dapat diberikan tiap bulan tunjangan-kemahalan daerah yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan setelah mendengar Kepala Kantor Urusan Pegawai dan Kepala Biro Pusat Statistik.
(2)Tunjangan-kemahalan daerah dihitung berdasarkan persentasi yang sama dan setinggi-tingginya berjumlah 10% (sepuluh perseratus) dari gaji-pokok ditambah tunjangan-keluarga. Pasal 11. Tunjangan pangan/sandang.
(1)Apabila dianggap perlu berhubungan dengan tingkat kemahalan bahan-bahan pokok keperluan hidup, kepada pegawai yang digaji menurut golongan gaji I ruang a s/d ruang d peraturan ini dapat diberikan tunjangan pangan/sandang dalam bentuk bahan (in natura) atau berupa uang berdasarkan harga pangan/ sandang yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Swatantra tingkat I yang bersangkutan.
(2)Pemberian tunjangan pangan/sandang termaksud ayat/(1) pasal ini diatur oleh Menteri Keuangan setelah mendengar Kepala Kantor Urusan Pegawai. Pasal 12. Tunjangan khusus.
(1)Kepada Pegawai yang gaji pokoknya kurang dari Rp.1.000,- (seribu rupiah) sebulan, diberikan tunjangan khusus sedemikian besarnya sehingga jumlah gaji-pokok ditambah tunjangan khusus menjadi Rp 1.000,- (seribu rupiah).
(2)Batas Rp 1.000,- (seribu rupiah) termaksud ayat (1) pasal ini tiap-tiap 6 (enam) bulan sekali disesuaikan dengan harga rata-rata bahan-bahan pokok kebutuhan hidup minimal yang berlaku bagi seluruh wilayah Republik Indonesia.
(3)Perubahan batas Rp 1.000,- (seribu rupiah) termaksud pada ayat/(2) pasal ini ditetapkan oleh Menteri Keuangan setelah mendengar Kepala Kantor Urusan Pegawai dan Kepala Biro Pusat Statistik. Pasal 13. Tunjangan pelaksana. Kepada pegawai yang digaji menurut golongan gaji II, III dan IV peraturan ini diberikan tunjangan pelaksana sebesar 20% (dua puluh perseratus) dari gaji-pokok sebulan. Pasal 14. Tunjangan-jabatan-pimpinan.
(1)Kepada pegawai yang mengepalai suatu kesatuan-organisasi atau memimpin suatu kesatuan/regu-kerja dapat diberikan tunjangan-jabatan pimpinan sebesar 20% (dua puluh perseratus) dari gaji-pokok sebulan.
(2)Jabatan-jabatan pimpinan termaksud ayat (1) pasal ini ditentukan oleh Menteri yang bersangkutan setelah mendengar Kepala Kantor Urusan Pegawai. Pasal 15. Tunjangan-tunjangan lain.
(1)Dalam hal luar biasa atau jika ada alasan-alasan yang kuat, maka selain tunjangan-tunjangan tersebut dalam pasal 8 s/d 14 peraturan ini dapat diberikan tunjangan lain.
(2)Jika tunjangan lain termaksud pada ayat (1) pasal ini berlaku untuk pegawai pada umumnya, maka tunjangan itu diberikan menurut Peraturan Pemerintah.
(3)Jika tunjangan itu hanya berlaku untuk pegawai-pegawai tertentu, maka pemberiannya ditetapkan oleh Menteri yang bersangkutan, setelah mendapat persetujuan Menteri Keuangan dan Kepala Kantor Urusan Pegawai. SYARAT PENGANGKATAN. Pasal 16.
(1)Syarat-syarat minimal untuk pengangkatan pertama dalam suatu pangkat tersebut lampiran A peraturan ini ditentukan dalam aturan-aturan khusus yang berkenaan dengan pangkat itu.
(2)Kenaikan pangkat pegawai tiap-tiap kali dipertimbangkan untuk pengangkatan dalam pangkat yang setingkat lebih tinggi yang lowong setelah pegawai menjabat pangkatnya sekurang- kurangnya 4 (empat) tahun dan ditetapkan pada tanggal 1 April atau tanggal 1 Oktober.
(3)Kenaikan pangkat pegawai dipertimbangkan berdasarkan : a.kemampuan kerja, b.kerajinan, c.kepatuhan (disiplin) kerja, d.hubungan-kerja-sama, e.prakarsa (inisiatif), f.kepemimpinan, khusus untuk pegawai yang menjabat jabatan pimpinan, g.ujian-dinas untuk pengangkatan dalam pangkat-pangkat tertentu, dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan tentang giliran untuk kenaikan pangkat menurut peraturan yang berlaku.
(4)Penilaian mengenai syarat-syarat termaksud huruf a s/d e ayat
(3)pasal ini didasarkan atas nilai yang ditetapkan dalam daftar penilaian pelaksanaan pekerjaan (conduite-staat).
(5)Syarat-syarat pengangkatan dan syarat-syarat untuk kenaikan pangkat termaksud ayat (1) s/d (4) pasal ini dapat ditambah dengan syarat-syarat yang khusus diperlukan untuk jabatan- jabatan tertentu menurut keputusan Menteri yang bersangkutan.
(6)Dengan menyimpang dari syarat-syarat yang ditentukan dalam ayat (1) s/d (5) pasal ini, dapat dipertimbangkan pemberian kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi: a.sebagai penghargaan bagi pegawai yang akan mengakhiri masa- jabatannya dengan hak pensiun dan yang selama 5 (lima) tahun terakhir dalam pangkat yang sama senantiasa melakukan tugas-tugas jabatannya dengan baik; b.sebagai penghargaan bagi pegawai yang meninggal dunia dalam dan karena dinas, atau c.sebagai penghargaan luar biasa bagi pegawai yang sekurang- kurangnya 2 (dua) tahun terus-menerus memperlihatkan prestasi-kerja yang luar biasa baiknya.
(7)Kenaikan pangkat sebagai penghargaan termaksud ayat/ (6) pasal ini ditetapkan oleh Menteri yang bersangkutan setelah mendengar Kepala Kantor Urusan Pegawai.
(8)Dengan ijazah pendidikan tersebut dalam aturan-aturan khusus pada daftar pangkat lampiran A peraturan ini dipersamakan ijazah atau tingkat sesuatu pendidikan yang menurut keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ditetapkan sederajat dengan ijazah pendidikan termaksud. MASA-KERJA-GOLONGAN. Pasal 17.
(1)Dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan pada ayat (3) Pasal 5 peraturan ini, sebagai masa-kerja-golongan untuk menetapkan gaji-pokok menurut peraturan ini dihitung penuh: a.masa-kerja sebagai pegawai, kecuali masa selama berada di luar tanggungan keuangan Negara; b.masa-pengalaman selama menjalankan kewajiban berbakti sebagai tentara pelajar menurut ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1949; c.masa-pengalaman selama aktif berjuang/melakukan tugas : - dalam masa Revolusi fisik antara 17 Agustus 1945 sampai 27 Desember 1949; -dalam perjuangan pembebasan Irian-Barat sejak 19 Desember 1961 sampai dengan 1 Mei 1963 di dalam kesatuan- kesatuan bersenjata; - dalam operasi-operasi/pertempuran dalam kesatuan-kesatuan bersenjata di masa perjuangan Dwikora.
(2)Sebagai masa-kerja-golongan untuk menetapkan gaji- pokok menurut peraturan ini, dihitung untuk 2/3 (dua pertiga) pengalaman bekerja pada Swasta yang tiap-tiap kali tidak kurang daripada 6 (enam) bulan berturut-turut.
(3)Pengalaman-bekerja dan masa-pengalaman yang belum/ tidak dapat dibuktikan dengan keterangan-keterangan yang tidak dihitung.
(4)Dalam menghitung pengalaman-bekerja dan masa-pengalaman menjadi masa-kerja-golongan, maka pecahan bulan dihapuskan. UJIAN-DINAS. Pasal 18.
(1)Ujian-dinas tingkat I s/d tingkat III termaksud dalam pelbagai aturan khusus pada daftar pangkat lampiran A peraturan ini diatur oleh Menteri yang bersangkutan setelah mendengar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Kantor Urusan Pegawai dan Direktur Lembaga Administrasi Negara.
(2)Dikecualikan dari: a.ujian-dinas tingkat I, ialah pegawai yang berijazah S.L.T.A. atau ijazah yang lebih tinggi; b.ujian-dinas tingkat II, ialah pegawai yang berijazah Sekolah Tinggi tingkat Sarjana. SUSUNAN PEGAWAI. Pasal 19.
(1)Susunan jumlah dan pangkat-pangkat pegawai (formasi) tiap-tiap tahun ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk tiap-tiap kesatuan organisasi Pemerintahan.
(2)Jumlah pegawai dalam pangkat-pangkat menurut susunan termaksud ayat (1) pasal ini tidak boleh lebih daripada jumlah yang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ditetapkan untuk masing-masing pangkat, dengan ketentuan bahwa pangkat- pangkat yang lowong dapat diisi oleh pegawai dengan pangkat yang lebih rendah sebanyak lowongan itu.
(3)Susunan jumlah dan pangkat-pangkat pegawai yang diusulkan oleh Menteri yang bersangkutan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ditetapkan setelah mendengar Kepala Kantor Urusan Pegawai dan Menteri Keuangan. PENGHASILAN PEGAWAI DALAM HUBUNGAN KERJA LUAR BIASA. Pasal 20.
(1)Jika dianggap perlu dapat diangkat pegawai dalam ikatan-dinas untuk waktu terbatas, yang pengangkatan dan kedudukannya ditetapkan menurut peraturan khusus.
(2)Untuk menyelenggarakan pekerjaan yang bersifat sementara dan terbatas waktu penyelesaiannya atau jenis pekerjaan yang tidak dapat diserahkan kepada pegawai yang digaji menurut peraturan ini, dapat diangkat pegawai-bulanan dengan pemberian penghasilan yang ditetapkan oleh Menteri yang bersangkutan setelah mendengar Kepala Kantor Urusan Pegawai dan Menteri Keuangan. ATURAN-ATURAN PERALIHAN. Pasal 21. Penyesuaian. Penyesuaian dari peraturan-gaji lama ke dalam peraturan-gaji ini diatur dengan Keputusan Presiden.